
"Aduhh semuanya!
Kenapa kita harus memikirkan hal hal yang berat seperti itu sih?
Mohon perhatiannya semua, aku sangat mencintai isteriku dan tidak mau memikirkan hal ini. Ayo kita nikmati kebersamaan kita sebagai keluarga.
Kita telah begitu banyak melewati hal-hal yang kurang ena, beberapa tahun belakangan ini.
Aku ingin kemurahan rezeki yang Tuhan karuniakan ini, membuat kita menjadi lebih akrab sebagai keluarga, membuat kita lebih pandai untuk menyikapi hidup ini dengan kebahagiaan.
Diana ayo dek! Sediakan makanannya, Nawir Andre! Ayo ditulis jenis mobilnya.
Mobil apa yang akan kita beli untuk kalian?"
"Sudah bang! ini bang, jenis dan nama mobilnya sudah ada di kertas ini."
"Bagus. Anggap saja mobilnya sudah ada di depanmu saat ini.
Abang pesan nanti dulu ya!"
Haris seperti orang yang beruusaha sangat keras, untuk mencoba menghindar dari sesuatu.
Dia seolah panik dan tidak mau menerima, satu hal yang tidak dia sukai.
"Untuk sementara kita pikirkan yang lain dulu ya dek Nawir dan Haris."
"Iya, lagian butuh waktu jugakan bang untuk memesannya."
"Bagus. Adek adek abang semuanya memang penuh pengertian.
Mengenai rumah kak Butet dan rumah Kak Yunita, kakak berdua pengennya di mana dibangun rumahnya?"
"Sepertinya di sini aja lah dek Haris, kalau yang di kampung, biar rumah yang biasa itu ajalah.
Rumah kakak yang sekarang kakak tempatikan rumah sewa, jadi kalau pergi ke kampung itu sesekali kalau rindu kakak dan abangmu akan akan pergi ke sana saja dan tetap menginap di rumah sewa kakak itu.
Tapi untuk rumah kami sendiri biarlah di kampung ini saja, biar kami lebih mudah untuk melihat dan memeriksa Ibu ya kan bu?"
"Bagus juga, kalau ibu sih terserah kalian saja yang penting selagi ada rezeki begini ya disimpan sebahagaian dan di dimanfaatkan sebahagiannya.
Tapi suami kalian jugakan masih punya orang tua, jadi jangan juga diabaikan.
Kalau nak Beni dan Romi pengen rumahnya di bangun di kampung orang tuanya, Butet dan Yunita harus ikut,
Kalian itu istri, harus ikut sama suaminya masing masing, selama itu memang hal hal yang baik yang dibenarkan oleh keyakinan ataupun tidak begitu melanggar budaya kita."
"Iya jadi bagaimana bang?
__ADS_1
Kita bangun disini atau di kampung abang?"
Beni dan Roni bingung, siapa yang tidak ingin punya rumah sendiri, di kampung kelahirannya sendiri?
Siapa pula yang tidak ingin punya rumahnya sediri dan dekat dengan orang tua juga anggota keluarganya yang lain?
Tapi mereka cukup sadar diri uang itu berasal dari Haris dan persaudaraan mereka dengan Haris, terpaut karena istri istri mereka, yang menjadi kakak dari istri Haris.
Karenanya mereka cukup bingung, meski pada akhirnya mereka harus mengalah, untuk membangun rumah itu di desa mertuanya saja.
Haris yang melihat kebingungan itu, lalu tersenyum dan berkata..
"Kenapa Harus bingung? dan kenapa harus membeda bedakan, antara ibu mertua kita yang disini dan ibu kandung dari abang berdua.
Cari tempatnya di kampung abang masing masing, kita bangun disini dan di kampung abang juga, artinya abang dan kakak langsung punya rumah masing masingnya dua seorang."
Begitu Haris mengucapkan itu semua orang termenung dan terbodoh untuk sesaat, sampai kemudian mereka bersorak dan berhamburan memeluk Haris.
"Dek Diana, melihat rencanamu mengizinkan Haris untuk menikah lagi, seperti yang baru saja ibu ucapkan, seharusnya kau tidak boleh melarang kakak berdua untuk memeluk dan mencium adik ipar kami sendiri, hanya karena kaminbahagia, dengan alasan kau cemburu."
Yunita yang terkenal paling lantang dalam berbicara, mempertanyakan dengan tegas, karena takut kalau-kalau Diana akan melarang mereka untuk mencium si Haris yang merupakan adik iparnya seperti biasanya.
Dia protes sejak awal pada Diana dan itu di dengar oleh semuanya, termasuk suami mereka yang baru saja berpelukan dengan Haris karena begitu bahagianya.
Keadan untuk sesaat menjadi begitu canggung.
"Jadi kak Nit dan kak Butet mengira aku cemburu beneran?
Ngak lho kakakku berdua, aku melakukan itu justru hanya untuk menjaga hati kedua abang iparku, yakni suami kalian berdua.
Aku khawatir mereka berdua, merasa tersakiti melihat sikap istri istri mereka pada suamiku, itu saja kok."
"Oh kalau itu jangan khawatir dek Diana, itu sudah izin dari suaminya masing masing dan tidak ada masalah."
Bantah Butet atas dugaan hati Diana.
"Kalau begitu hantam" Ucap Diana dan semua orang tertawa karenanya.
"Bagus-bagus, ayah dan ibu senang melihat kalian putra putri serta menantu ibu dan ayah, begitu akur dan saling pengertian.
Jangan lupa juga hal itu disyukuri kepada Tuhan."
Ayah Diana yang sedari awal tadi hanya diam dan menyimak, tampak membuka suaranya kali ini.
"Oh ya nak Haris bagaimana kabar temanmu si Jhon sekarang?"
"Itu saya juga kurang tahu pak, makanya mungkin nanti saya akan menghubungi mertuanya juga sama istrinya, agar tahu sudah seperti apa?
__ADS_1
Karena Darmanpun nggak ada memberi tahu soal itu, di samping itu Haris juga sudah sepenuhnya menyerahkan semua urusan si Jhon dan semua hal yang terkait dengan keluarganya pada si Darman pak.
Sebab katanya nggak enak kalau dia tidak bekerja atau berbuat sesuatu apapun untukku.
Aku merasa lucu juga awalnya dengan si Darman, tapi aku menghormati perasaannya, kalau memang itulah yang membuat dia merasa berguna dan berbahagia dengan itu , ya Haris sebagai teman yang baik akan mengikutinya saja pak."
"Bagus kalau begitu kamu tunda saja keinginanmu, yang ingin pergi ke rumah mertua si Jhon dan menanyakan kabarnya, tetapi tunggu saja kabar dari si Darman."
"Baik pak, sepertinya memang lebih baik begitu."
"Tapikan Darman juga istrinya sedang sakit nak Haris?"
Ibu mertua Haris ikut bertanya.
"Iya bu' ibu memang benar, tapi bagaimanalah ya bu, Darman memang tidak muncul karena istrinya juga sakit itu.
Masing-masing kita saat ini punya masalahnya sendiri, juga punya problemnya serta punya cobaan yang harus dihadapi dan dipikul masing masing.
Namun begitupun namanya kita bersahabat ya rasa berbagi itu tetap ada, cuma memang begitu, sering juga detailnya kita terlambat tahu tentang keadaan teman.
Seperti sekarang Haris ingin tahu kabar si Jhon tapi khawatir kalau Haris bertanya langsung pada mertua si Jhon nanti si Darmannya merasa tidak berguna pulak, jadi ya mau tidak mau tinggal tunggu laporan dia sajalah.
Tetapi Haris yakin kalau itu sesuatu yang sangat penting, Darman juga pasti akan langsung respon serta memberi tahu segera pada Haris."
"Ya baiklah kalau begitu nak Haris.
Ibu dan Diana serta Yunita dan Butet akan beres beres di dapur dulu.
Ayo para wanita kita semua ke dapur sekarang. Kita siapkan makanan kita.
Hari ini kita makan besar, ibu lihat ikannya sangat besar-besar dan sudah seperti makanan raja-raja.saja."
"Bang Mardan sengaja memberikan itu bu, Dia memang sengaja memberikan paket istimewa katanya heheheh.
Mardan itu sebenarnya orang yang baik bu. Hanya saja selama ini, Haris takut untuk mendekat kepadanya, takut kalau kalau orangnya yang merupakan orang besar dan orang berduit itu, tidak mau berteman dengan Haris yang dulu.
Harusnya kita itu dekat, tapi bahkan untuk minta tolong sekalipun saat Haris sangat butuh dahulunya Haris takut.
Tapi sebenarnya dia orangnya baik, bukan hanya dari keadaannya yang sekarang.
Bahkan dari cerita-cerita kawan, bang Mardan ini orangnya memang baik.
Namun memang begitulah banyak orang-orang baik, yang kita bahkan tidak punya rezeki darinya."
"Ya baiklah nak Haris, ibu dan yang lainnya beres beres di dapur dulu."
"Iya bu silahkan, Haris juga mau ke warung kopi sebentar."
__ADS_1
Akhirrnya semua orang pergi dengan urusannya masing masing