Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _104 : Master VS Master


__ADS_3

Setelah Nando datang dengan membawa mobilnya, Haris dan kedua istrinya menaiki mobil, dan mengiringi mobil ambulans yang membawa Beni menuju klinik di area Hotel mereka.


Nando juga membawa salah seorang petugas Hotel bersamanya, yang kemudian membawa mobil yang sebelumnya dipakai Haris ke rumah sakit itu.


Di dalam perjalanan, Haris menghubungi petugas mereka dari Kaya dan jaya bersama group yang ada di kota K, yang sebelumnya merupakan pimpinan dari ketiga pengawalnya saat ini.


[Memanggil Wilson]


"Halo Tuan Haris Apa kabar Anda Tuan...?"


"Kabar Kami disini baik-baik saja Pak Wilson.


Oh ya bagaimana keadaan di sana...? Apakah semuanya berjalan dengan baik...?"


"Benar Tuan. Semua di sini berjalan cukup baik.


Bagaimana dengan kinerja Riston, Amanu dan juga Halim Tuan...?"


"Bagus. Mereka cukup baik dan aku senang dengan kinerja mereka."


"Ah syukurlah kalau Tuan merasa senang, tapi ada beberapa temannya di sini yang juga sempat meminta, agar mereka juga bisa dipekerjakan disana Tuan.


Ya saya hanya bisa mengatakan, kita tunggu kabar nanti, semoga Tuan Haris bisa memperkerjakan lebih banyak orang, soalnya memang di sini sedang menumpuk Tuan.


Ya beginilah suka dukanya Tuan, jika bertugas di bahagian pengadaan jasa pengawalan dan pengamanan group kita, cukup membuat pusing kepala juga tuan.. hahaha.


Soalnya mereka saat ini banyak yang tidak dipakai tenaganya Tuan."


"Begitukah Pak Wilson..? Iya begitulah Tuan."


"Wah kalau begitu bagus sekali, soalnya di sini juga kita sedang perlu beberapa penjaga keamanan lagi.


Ada berapa jumlah mereka di sana yang tidak ada kegiatannya...?"


"Kurang lebih ada sekitar 30 orang tuan, tepatnya 32 oranglah tuan."


"Oh apakah semuanya pria...?"


"Kalau tuan ingin sebagian petugas itu pengawal wanita, kita bisa saja menyertakan beberapa pengawal wanita Tuan."


"Baiklah kalau begitu pak Wilson, kalau ada Saya minta 35 orang lagi, kalau bisa dengan komposisi 25 pria dan 10 orang wanita.


Apakah ada kira-kira pak Wilson...?"


"Baik, tentu ada tuan, Saya akan mengurus semuanya."


"Kalau begitu, saya akan merepotkan Pak Wilson."


"Tidak juga Tuan, saya tidak akan menjadi repot karena hal itu Tuan.


Justru saya merasa terbantu karena Tuan. Sebab saya tidak akan terlalu pusing lagi, menghadapi berbagai keluhan mereka disini."


"Oh ya bagaimana kabar petugas yang berjaga di hotel Kirana Pak Wilson, mereka masih terus berjaga disana bukan...?"


"Masih Tuan, masih terus Tuan. persis seperti yang Tuan minta, tiga orang setiap harinya berjaga di sana.


Mereka terus kita pergilirkan secara bergantian."


"Baiklah Saya senang mendengarnya, kalau memang memungkinkan untuk ditugaskan 5 orang, sebaiknya Pak Wilson tambah saja petugasnya menjadi 5 orang.


Selain itu saya juga akan mengirimkan sedikit bonus bagi mereka, yang sudah berjaga di sana selama ini.


Tolong Pak Wilson nanti kirimkan nomor rekeningnya, agar saya transfer.


Tidak banyak Pak Wilson hanya berkisar 500 juta, mudah-mudahan para pengawal kita yang ada di sana bisa berbagi, walaupun hanya sedikit bagi tiap orangnya."


"Oh terima kasih Tuan Haris, itu bukan jumlah yang sedikit lagi Tuan mereka akan sangat terbantu dengan uang itu.


Sebenarnya Tuan tidak perlu melakukan itu, karena gaji mereka juga sudah cukup tinggi, tapi karena memang Tuan sudah berniat, baiklah saya akan menyalurkannya nanti.


Saya akan membagikannya kepada mereka."


"Ya kalau begitu nanti pak Wilson jangan lupa mengirimkan nomor rekeningnya, sekaligus saya juga akan menitipkan sedikit nanti buat anak-anak ya Pak Wilson yang ada disana, jadi totalnya saya akan mengirim 700 juta."


"Terima kasih Tuan.


Tuan memang sangat dermawan dan baik hati, seperti apa yang saya pernah dengar dari Amanu, Riston dan juga Halim Tuan."


"Ha..ha..ha Jadi mereka juga sudah memuji-muji saya di belakang ya pak Wilson...?"


"Ya bukan memuji-muji sih Tuan, tapikan memang begitu kenyataannya."


"He..he Baiklah, karena saya juga disini masih ada urusan lain dan mungkin pak Wilson juga begitu, akan sibuk dengan berbagai kegiatan disana.


Saya sudahi dulu panggilan ini ya Pak Wilson, titip salam buat seluruh para pengawal keamanan kita yang ada disana dan tentunya khususnya bagi keluarga Pak Wilson yang ada di rumah."


"Baik Tuan baik.


Saya mewakili keluarga sebelumnya juga mengucapkan terima kasih atas perhatian dan juga hadiah yang akan Tuan kirimkan."


"Ya sama-sama pak Wilson, kalau begitu bila memungkinkan, pak Wilson sudah bisa langsung berangkatkan saja 35 pengawal kita itu nanti malam, sehingga mereka bisa sampai disini besok pagi."


Baik Tuan semua akan saya kerjakan dan akan saya urus serta arahkan secara langsung nanti Tuan."

__ADS_1


"Wah baiklah Pak Wilson, saya tidak lagi akan mengganggu waktu Pak Wilson, kalau begitu kita sudahi perbincangan ini sampai di sini, di lain waktu kita akan berbincang kembali."


"Ya Tuan. Kalau begitu selamat siang tuan."


"Selamat siang Pak Wilson, semoga dalam waktu dekat kita bisa bertemu.


Baiklah,saya tutup teleponnya ya Pak Wilson."


"Baik Tuan silahkan Tuan."


[Panggilan berakhir]


Haris dan rombongan yang mengikuti mobil ambulans dari belakang, kemudian sampai di halaman klinik milik Haris.


Beni lalu diturunkan dari ambulans dengan Emergency Bed/Brankar, kemudian disambut oleh para dokter yang sudah menunggu di sana.


Segera setelahnya Beni mendapatkan penanganan dari dokter ahli, yang telah disiapkan oleh dokter Shasmita, yang memang telah dihubungi oleh Diana sebelumnya.


"Kak Butet...!"


"Ya dek Haris."


"Jadi kak Butet jangan terlalu khawatir lagi, para dokter ahli kita nanti akan merawat Bang Beni dengan sebaik-baiknya.


Lihat itu si Jhon juga bagaimana parahnya dulu, sudah seperti orang lumpuh, tapi sekarang sudah sembuh totalkan dan sehat seperti sedia kala.


Perawatan di tempat kita ini sangat baik, walaupun cuma Klinik begini.


Adek Diana serta Kirana akan ikut menemanai kakak disini nantinya.


Aku harus kembali ke kantor ekspedisi untuk memantau dan melihat seperti apa keadaan selanjutnya nanti.


Selain itu Kalau Papa dan Mama sudah datang, jangan lupa kalian hubungi aku nanti, agar aku bisa datang kemari."


"Iya dek Haris pergilah."


"Iya pergilah Bang, tapi Abang hati-hati lho bang jaga diri baik-baik, jangan-jangan para berandalan itu nanti akan datang lagi membawa teman-temannya.


Kenapa tidak hubungi polisi saja sih Bang...?"


"Jangan khawatir dek Diana, para pengawal kita itu adalah ahli bela diri.


Walau mereka selama ini nampak diam tersenyum dan seperti orang biasa saja, tetapi sebenarnya mereka itu orang-orang yang terampil dan terlatih secara profesional.


Mengenai aparat berwajib, nanti saja Abang pertimbangkan, sebab kalau para berandalan ini sudah berani dengan terang-terangan menyerang begitu brutal di siang hari, artinya memang karena ada kekuatan yang besar di belakang mereka.


Itulah kenapa Abang sangat konsentrasi dengan masalah ini."


"Iya tapi tetap saja adek khawatir dengan keadaan Abang.


"Iya Abang akan jaga diri, kalian jangan terlalu banyak berpikir, kalau begitu karena memang petugas therapis yang dibawa oleh Nando juga sudah datang, sebaiknya kalian pergilah ke kamar kita, agar mendapatkan pijatan therapi di sana.


Setelah selesai nantinya, kalian temanilah Kak Butet disini ya Dek...!


Nggak apa-apakan kalian Abang tinggal dulu disini...?"


"Nggak apa-apa Bang."


Adek Kirana, kenapa kamu dari tadi Abang perhatikan diam saja...?


Jangan terlalu khawatir, Abang akan menjaga diri kok."


"Bang sebenarnya rahasia yang mau Kirana sampaikan sama Abang sebelumnya itu adalah, Kirana sekarang sudah hamil 1 bulan Bang.


Sebenarnya Kirana mau memberitahukan Abang nanti, setelah Papa dan Mama datang, tapi Kirana menjadi takut kalau terjadi sesuatu pada Abang.


Makanya Kirana sebutkan saja sekarang, agar supaya Abang menjaga diri dengan baik, ingat ada anak dan istri Abang yang menunggu di rumah.


Kak Diana, Aku, Nurul putri kita dan dua anak abang yang ada dalam kandungan kami ini, menunggu Abang, pulanglah dengan selamat."


"Wah kenapa kamu tidak memberitahukan sebelumnya...?


Baiklah, jangan khawatir...! ini hanya masalah biasa Dek.


Abang juga tidak mungkin tidak menjaga diri, selain itu suamimu inikan juga ahli bela diri, master malah hehehe.


Kalau hanya cecunguk seperti mereka, 100 orang sekali datangpun bisa abang kalahkan.


Ya sudah jangan terlalu khawatir, kalau begitu nanti abang tidak akan berlama-lama di sana, Abang hanya datang untuk memantau sebentar saja."


"Baiklah Bang, tapi tetap saja abang harus hati hati."


"Iya. Senyum dong...!


Meski cemberut begitu, tetap cantik sih istri abang, tapi kalau senyumkan seperti memberi restu dan kekuatan bagi Abang."


Kirana dan Diana akhirnya tersenyum, mendapat pujian dari suami mereka.


Haris tanpa ragu kemudian mengecup kening istrinya dan mencium perut Kirana yang telah mengandung anaknya.


Haris juga melakukan hal yang sama kepada Diana, karena memang tidak ingin membeda-bedakan.


"Kalau begitu Abang berangkat sekarang ya, Diana ... Kirana...!"

__ADS_1


"Iya Bang."


"Kak Butet, Haris pergi melihat keadaan kantor kita sebentar ya...!"


"Iya Ris, pergilah tapi seperti yang kakak bilang tadi, kamu harus balaskan orang-orang itu.


Kakak enggak terima, suami kakak dibuat begini."


"Iya tenang saja Kak, Mereka pasti akan membayarnya.


Baiklah semuanya kalau begitu aku dan Nando akan pergi sekarang."


Setelah itu Haris dan Nando berangkat kembali ke kantor Ekspedisi.


Sesampainya di kantor ekspedisi, Haris dan Nando mendapati dan melihat keadaan cukup lengang, tidak ada keributan seperti sebelumnya sehingga relatif aman dan nyaman.


[Sistem]


"Tuan...!"


"Ya Sistem, apakah ada yang mencurigakan...?"


[Sistem]


"Kali ini musuh mengirimkan seorang Master beladiri tuan.


Pria tua yang memakai pakaian hitam motif naga itu, adalah seorang Master beladiri Tuan.


Tampaknya mereka penasaran, kenapa anggota mereka tidak kembali."


"Bagaimana kekuatannya dibandingkan diriku...?"


[Sistem]


Secara teknik tuan dan pria itu, memiliki tingkatan teknik yang sama, yakni berada di kelas Master bela diri yang sama.


Akan tetapi secara pengalaman bertarung, orang tua itu memiliki pengalaman lebih banyak daripada tuan, namun dari kekuatan tubuh serta dari kemampuan pikiran, tentunya Tuan jauh lebih tangguh darinya.


Oleh karenanya, kalau Tuan melakukan laga tanding dengannya, Saya melihat peluang kemenangan bagi Tuan itu cukup terbuka, karena seiring waktu, daya tahan orang tua itu akan menurun drastis dan Tuan akan bisa mengalahkannya dengan mudah.


Tetapi kalau Tuan dengan keunggulan pikiran Tuan yang lebih baik dan lebih jenius itu, bisa mendapatkan celah yang tepat, Tuan bisa menumbangkannya dalam waktu yang cepat."


"Kalau begitu aku akan menjajal kemampuan Pak Tua itu. Oh ya sistem, tolong kirimkan uang sejumlah Rp700 juta ke rekening yang dikirimkan oleh pak Wilson tadi."


[Sistem]


Baik Tuan, sistem akan memprosesnya untuk Tuan.


"Baiklah aku akan mengajak pria tua itu laga tanding sekarang."


Haris lalu menemui Pak tua itu.


"Selamat siang Tuan.


Perkenalkan saya Haris, saya melihat Tuan adalah seorang Master beladiri.


Maukah Tuan memberikan arahan kepada saya, dalam hal beladiri...?


Saya mengundang Tuan untuk bertarung beberapa jurus, mudah-mudahan dengan pertarungan itu, Saya berharap bisa mendapatkan pencerahan."


Pak Tua yang sedari tadi memantau dan memperhatikan lokasi kantor milik Haris, begitu tertegun mendengar ucapan Haris barusan, bagaimana mungkin Haris bisa mengetahui kemampuannya yang seorang Master itu, sedangkan mereka belum bertempur atau tidak pernah saling melihat kemampuan masing-masing.


Maka Pak tua itu berpikir bahwa Haris ini bukan orang sembarangan, hanya Master yang bisa mengetahui Master.


Bahkan dia sendiri tidak mengetahui kemampuan Haris yang seorang Master, artinya penglihatan Haris lebih tajam darinya, karenanya dia bersedia untuk bertanding secara jujur dan adil.


"Tuan Haris, Saya termasuk orang yang sangat menghormati ilmu beladiri, terus terang Saya begitu tertarik dengan ucapan anda, mari kita bertanding secara jujur dan adil."


"Baik silahkan Master, kita ke lahan kosong disana."


Haris dan Pak Tua itu kemudian pergi ke tanah kosong, yang tidak jauh dari lokasi kantor milik Haris, yang terletak di pinggiran kota itu.


Keduanya kemudian memasang kuda-kuda dan mulai saling serang.


Keberadaan keduanya yang saling jual beli pukulan, menarik perhatian orang lain sehingga datang mengerumuni lokasi itu untuk menonton.


Tidak terkecuali Puspa dan Wulan serta tiga pengawal Haris lainnya, juga sudah berada di tempat menikmati pertandingan tingkat tinggi itu.


"Sialan pria muda ini, tampak masih kurang berpengalaman dalam bertarung, tapi pikirannya begitu kuat membaca seranganku sehingga selalu gagal.


Tidak dibawah tidak diatas, pertahanannya sangat kuat, tenagaku bisa habis kalau begini."


Pria tua itu sangat frustasi ketika berpuluh serangannya, yang ditujukan ke titik-titik tertentu milik Haris, hanya berakhir dengan memukul ruang yang kosong.


"Hmmm... Aku akan membabat kakinya, kemudian meluncur menerjang kepalanya."


"Hiyaaaa....!!!"


Pria tua itu menyapu kaki Haris berulang kali dengan tendangan berputar, dalam keadaan berjongkok.


Setelah beberapa saat dia menendang tanah dengan kaki kirinya yang tertekuk, sehingga tubuhnya melompat keudara sambil bersalto, dengan posisi kaki diatas dan kepalanya dibawah.


Pria tua itu kembali menyapu bahagian kepala Haris, masih dengan gerakan tendangan memutar dan kedua tangannya yang dengan cepat mencoba memukul tubuh bahagian bawah.

__ADS_1


"Haaahhh...! Sial kali ini aku gagal membaca serangan pria tua ini."


__ADS_2