Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _83 : Menjenguk si Jhon.


__ADS_3

Ketika malam menjelang, Darman datang ke rumah mertua Haris untuk menemani Haris pergi ke ujung desa, menjumpai si Jhon di rumah mertuanya.


"Berangkat kita sekarang Ris...?"


"Iyalah Man apalagi..?


Nanti mau pulang lagi ke kampung."


"Oh Siap kalau begitu bos...!"


"Oh ya Very kamu hubungi Nando dan katakan kepadanya untuk mengantarkan Riston Halim dan siapa lagi itu satu lagi namanya..?


Lupa pula...."


" Bang Amanu tuan."


"Oh iya Amanu, sampai lupa pula aku namanya.


Jadi katakan pada Nando supaya mengantarkan mereka ke Villa dan minta tolong carikan, kamar yang sesuai buat mereka.


Katakan juga kalau kita nanti akan datang belakangan, suruh Nando menemani mereka di sana."


" Siap tuan!"


Mendengar peracakapan Haris dan Darman tadinya, Very merasa ingin ikut menjenguk Jhon.


Sebab dia mengikuti kisah si Jhon sejak awal, mulai dari drama pemasungan Si Jhon dan temannya, termasuk juga ikut menjadi saksi mata, saat pembebasan Jhon dan temannya.


"Aku boleh ikut nggak bos..?"


"Kok kamu nanya boleh atau enggak, kan memang kamu sopirnya..?


Kamu bagaimana sih Very...?"


Very menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal, Dia sadar akan pertanyaan bodohnya.


Setelah menyampaikan segala apa yang Haris perintahkan pada Nando, Very menyiapkan mobil dan ketiganya berangkat melesat ke rumah mertua si Jhon, di ujung desa.


Very yang pada sore tadi sudah diperintahkan oleh Haris untuk membelikan banyak jajanan makanan dan minuman di pekan, segera membawa apa yang dibelinya untuk keluarga John.


John begitu terharu dan dia sempat menangis, melihat kedatangan sahabat lamanya itu.


"Hariiiiiiiiis, sahabatku.!"


"John...! sudah kamu nggak usah bangkit John..!


Biar aku yang datang kesana."


"Haris.... Haris....!


Man..! si Haris sudah datang melihatku Man.


Benar ucapanmu, dia tidak lupa Man...!"


"Iya Jhon, bukankah sudah kubilang tempo hari.?"


"Haris aku rindu sama kau teman, sudah lama kita nggak jumpa.


Selama ini karena kemiskinan yang begitu parah dan kemalangan yang aku jalani, kupikir kita hanya akan bisa berjumpa lagi di surga nantinya.


Ternyata masih ada kesempatan, buat berjumpa di dunia ini."


"Iya Jhon aku juga rindu, makanya aku datang kemari sama si Darman sekarang."

__ADS_1


Air mata si Jhon tumpah ruah.


Harispun tidak bisa menahan air mata yang sejak tadi telah menggenang, sehingga tanpa bisa dikuasainya air matanya juga ikut tumpah, menetes jatuh ke lantai rumah mertua si Jhon.


"Aku senang Ris hidupmu sekarang sudah baik dan mapan, tapi kau tetap ingat teman-temanmu yang miskin seperti aku ini."


"Hei jangan bicarakan soal kemiskinan John kau dan Darman tidak ada di antara kalian yang akan miskin seperti dulu lagi.


Sebagaimana aku punya harta kekayaan ini, maka aku juga akan membuat kalian kaya.


Ini uang sakumu 100 juta rupiah, sama seperti yang aku berikan kepada si Darman saat pertama kali bertemu.


Ini cuma uang saku, nanti setiap bulannya aku akan memberikan kalian gaji 10 juta/orang dan kita hanya akan bekerja santai saja, tidak perlu terlalu kerja keras seperti dahulu, sampai dikejar-kejar monyet dan harimau hanya sekedar untuk mencari pengisi perut yang sejengkal ini."


"Ha..hahahahhahhh....!


Ayah, Ibu Haris masih ingat semua kenangan kami sewaktu di hutan dulu, ini benar-benar masih Haris temanku yang dahulu.


Dia tidak berubah sama sekali, dia masih Haris yang kukenal.


Mirna istriku ini temanku Haris, teman setiaku, sahabat karibku bersama si Darman."


Jhon terus berkata kepada semua orang, membanggakan Haris temannya yang setia kawan itu.


John lalu berusaha untuk memeluk Haris dan Darman, tapi dia tidak bisa bangkit karena kedua kakinya yang masih dibalut dengan perban dan penyangga itu, sehingga masih begitu kaku.


Haris yang tahu keadaan dan keinginan John, lalu mendekat memeluk si John temannya itu, demikian juga Darman memeluk mereka berdua.


Untuk beberapa saat mereka tetap berpelukan, disaksikan semua orang yang ada di rumah itu.


Mereka melihat persahabatan sejati dari ketiga anak manusia yang pernah senasib dan sepenanggungan ini.


"Jhon..! Dahulu orang orang di kampung ini, begitu menghina kita, begitu merendahkan kita, begitu tidak memandang kita begitu mengucilkan dan menjauhkan kita.


Sekarang orang hanya akan mengenal Si Jhon, Darman dan Haris yang berbeda.


Sudah kau jangan menangis lagi Jhon, dokter akan datang memeriksa dan memantau keadannmu, ada kami dua temanmu yang bisa kau andalkan.


Orang yang melakukan ini padamu, akan menyesal pernah berurusan dengan kita.


Siapapun yang ada di belakangnya, tidak akan bisa menolongnya.


Ancaman hukuman terberat sudah menantinya, bukti bukti dan saksi kalau dia pernah menghilangkan nyawa warga desa sudah kuat.


Semuanya sudah ada yang mengurusnya buat kita.


Kita akan cabut duri yang selalu menyakiti daging kita dan membakar habis duri itu.


Menurut para Lawyer kita, kasus ini sudah menjadi perhatian publik.


Tidak ada yang akan bisa bermain-main dalam kasus ini, kau tenanglah teman..! Pikirkan pemulihan dirimu, supaya kita bisa bepergian bertiga lagi seperti dahulu."


"Iya Jhon setiap aku keluar bersama Haris selalu terasa kurang tanpa adanya Kehadiranmu.


Kami selalu membicarakanmu dan membahas tentang perkembanganmu.


Kedepannya kita bertiga si pendatang melarat ini, akan selalu pergi bersama atau berbagi tugas tapi bukan lagi sebagai pendatang melarat, seperti yang semua orang sematkan kepada kita, selama ini.


Telah ada yang menjadi tuan besar dari salah seorang pendatang melarat ini dan orang tidak bisa lagi memandang remeh kepada kita berdua, karena tuan yang besar itu adalah teman akrab kita sendiri.


Percayalah aku sudah melihatnya sendiri dan bahkan merasakannya.


Kita akan bisa menegakkan kepala sejak hari ini, sampai kedepannya, cepatlah sembuh sobat...!

__ADS_1


Cepatlah sembuh kami menanti kehadiranmu."


Darman begitu emosional ketika menyebutkan kalimat-kalimatnya terhadap John, tubuhnya sampai bergetar menahan rasa emosional yang ada di dalam dirinya.


Haris kemudian menepuk pundaknya dan memeluk sahabat akrab ini untuk menenangkannya.


Haris masih sempat meraskan tubuh Darman berguncang.


Tak bisa dipungkiri, sebenarnya baik Haris Darman maupun John jiwanya sudah sempat terguncang selama ini, atas perlakuan semua orang kepada mereka.


"Sudah.. sudah..!


Kita jangan merawat-rawat kesedihan. jangan lagi mengingat-ingat segala penderitaan di masa lalu.


Kedepannya kita akan tunjukkan kepada orang-orang yang merendahkan kita, bahwa beginilah nasib orang yang direndahkan itu kini, sudah menjadi kaya dan mulia, tetapi sedikitpun mereka tidak membalas.


Sedikitpun mereka tidak menjadi sombong dan sedikitpun, mereka tidak malah memandang orang lain rendah, seperti mana mereka dahulu dipandang rendah oleh orang lain.


Kita akan tampar mereka dengan berbagai macam kebaikan, sehingga mereka akan malu terhadap perilaku dirinya sendiri di masa lalu dan jera untuk berbuat seperti itu lagi, seumur hidupnya ke depannya terhadap orang lain."


"Bapak bangga denganmu Ris, bapak ingin persahabatan kalian ini akan terus langgeng sampai mati, jangan pernah kalian bertengkar-tengkar dan jangan pernah kalian sampai pecah kongsi."


"Tidak akan pak, jangan khawatir.


Persahabatan kami ini, bukan lagi seumur jagung, semua sudah teruji dalam beberapa kali keadaan kritis antara hidup dan mati.


Mana tadi makanan dan minumannya Ver..!


Bawa semua kemari.


Abang tidak mau lagi menjaga dan merawat rawat kesedihan ini, Ayo kedepannya kita semua hidup bahagia..a


Ayo keluarkan dan hidangkan semua makanan dan minumannya, pada semua orang."


Sesuai dengan arahan Haris maka orang-orang di rumah itu menukar topik pembicaraan.


Berikutnya apa yang mereka bicarakan adalah hal-hal yang menyenangkan dan hal-hal yang menimbulkan aura dan semangat positif bagi semua orang.


Kebahagiaan menjadi lebih semarak, dengan hadirnya berbagai macam makanan dan minuman yang sengaja Haris pesankan, untuk dibeli oleh Very sore tadi di pekan.


Setelah berbicara cukup panjang lebar dengan berbagai topik dan juga pembahasan, Harus kemudian pamit izin pulang kepada pemilik rumah, yakni mertua John.


Haris kembali memeluk John dan memberikan semangat agar dia tetap semangat dan fokus pada pemulihan dirinya dan juga semangat untuk bisa kembali sehat seperti sedia kala.


'Baiklah John sahabatku, aku dan Darman permisi pulang dulu, besok-besok kita akan berjumpa lagi.


Kami masih harus kembali ke desa P, tempat tinggalku, sebab besok pagi-pagi sekali masih ada urusan yang harus kami urus ada kebun sawit milik kita yang akan kami tinjau besok, jadi cepat-cepatlah sembuh.


Pada kesempatan lainnya, kau sudah harus ikut bersama kami."


"Semangat ya Jhon....!


Semangat dong sobat."


Darman juga ikut memberikan kata-kata semangat.


"Iya bang Jhon..!


Abang harus semangat.


Nggak lupa Very juga mengucapkan supaya abang semangat."


Very tidak mau ketinggalan.

__ADS_1


Setelah berpamitan pada semua orang, mereka lalu kembali ke rumah mertua Haris dan segera berkemas sebentar, sebelum kemudian pergi menuju menuju villa milik Haris di desa P.


__ADS_2