Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _143 : Suasana pesta pernikahan


__ADS_3

Keramaian segera tidak bisa dihindari. Dalam waktu singkat lokasi pesta pernikahan antara Haris dan istrinya telah dipadati oleh para tamu undangan.


Puluhan teratak dengan jajaran kursi yang sengaja disediakan di tempat yang tadinya merupakan lahan-lahan kosong yang terdapat pada areal seluas 2 hektar, telah disulap menjadi lokasi pesta pernikahan di area Villa milik Haris yang segera dipadati oleh para tamu undangan yang telah berdatangan.


Para pengawal harus bekerja extra ketat, mengawal dan mengontrol keadaan.


Wedding venue yang akhirnya sengaja dipilih dan di desain dengan tema pernikahan outdoor itu, memungkinkan bagi setiap tamu undangan menjadi lebih mudah untuk bergerak dengan leluasa, karena lokasi tempat di gelar nya acara itu cukup lapang sebab terdapat di luar ruangan.


Selain itu baik Haris dan ketiga istrinya, nantinya akan terlihat cukup jelas oleh semua tamu undangan dari setiap sudut kecuali dari bahagian belakang panggung.


"Wah panggungnya megah sekali, meja ViP yang diperuntukkan bagi pengantin dan keluarganya, juga begitu indah dan mewah penuh ornamen-ornamen dengan cita rasa tinggi."


"Tentu saja. Apa kamu lupa ini adalah acara Tuan besar Haris.?"


Tamu undangan dari kalangan para petinggi-petinggi di unit usaha milik Haris tidak bisa tidak berdecak kagum, serta tidak sabar untuk tidak mengulas soal kemewahan pelaminan Haris.


"Eh.. ngomong-ngomong, adakah yang tahu keberadaan Tuan Haris.?"


"Kabarnya sih masih melakukan prosesi akad nikah di dalam Villa itu."


"Ih rasanya bahagia sekali kalau aku jadi seperti Tuan Haris."


"Hmm... jangan mimpi kamu Gugun..!"


Para karyawan/ti yang telah tiba lebih awal daripada karyawan/ti lainnya, mulai berbincang-bincang sesama mereka.


Tak lama setelahnya, Haris telah tiba di panggung pelaminan megah itu bersama istrinya Diana, Kirana dan Shasmita, yang sudah tampil layaknya raja dan ratu sebuah kerajaan besar.


Pernikahan yang mengambil konsep umum dan tidak mengusung konsep adat itu, tampak mewah dan elegan.


Haris begitu tampan dan gagah dengan balutan jas mahal yang dikenakannya, begitupula ketiga istrinya terlihat seperti bidadari dengan gaun pengantin yang super mewah yang di desain spesial hanya untuk kalangan atas dengan harganya yang selangit itu.


"Bagaimana perasaan kalian bertiga sekarang..?"


"Gugup, senang, bangga dan takut pada saat bersamaan Bang."


"Takut apa dek Diana...?"


"Takut pada keramaian dan setiap pandangan orang yang tertuju pada kita inilah Bang."


"He..he kenapa takut..? Ini pesta kita, berada di tempat kita dan dikelililngi oleh keluarga serta orang-orang kita.


Nikmati saja, jangan takut dek Diana."


"Ya ini tentunya suasananya sedikit terasa berbeda dong Bang, meski memang kenyataannya ini berada di tempat kita dan dikelilingi oleh orang-orang kita, Kirana juga merasakan semua yang dikatakan oleh Kak Diana lho."


"Oh ya..? Santai saja dek Kirana, ini hari bahagia buat kita semua, semua sudah di atur oleh orang-orang kita, jangan terlalu khawatir."


"Bu dokter gimana..? Gugup jugakah..?"


"Abang pakai nanya lagi, tanganku sampai dingin malah ini. Tapi aku sedikit lebih lega sih, sebab akhirnya aku sudah resmi jadi istri dari pria yang sangat aku cintai."


"Ha..hah selamat bergabung dek Shsmita yang cantik."


"Terimakasih ya kakakku berdua yang begitu cantik dan manis."


"Sudah ah, para orang tua kita sudah pada berdatangan itu. Masuk mode kalem dan lugu semua."


Sampai saat ini acara pesta pernikahan itu berjalan lancar, tamu undangan merasa sangat puas atas suguhan beragam jenis makanan dan juga minuman kualitas atas, yang merupakan hidangan standart hotel super mewah dan juga berbagai jenis buah-buahan terbaik produk impor.


Satu persatu tamu undangan di persilakan memberikan ucapan selamat pada mempelai.


"Selamat ya Tuan Haris dan juga Ibu."


"Terima kasih Jendral Gunawan dan ibu, di sela-sela kesibukan masih berkenan untuk datang menghadiri hari bahagia kami ini."


"Ah mana mungkin saya sampai berani tidak hadir, bisa-bisa saya nanti akan di blacklist dari daftar kolega Tuan Haris ha..ha..ha."


"Jendral bercandanya ada-ada saja, ha..ha..ha."


"Biar jangan terlalu tegang Tuan Haris, usaha untuk menjaga agar tetap awet muda he.he."


"Iya Jendral, saya paham kok."


"Oh ya Tuan Haris, mungkin saya tidak bisa berlama-lama disini. Saya dan istri masih ada jadwal kegiatan lain yang harus kami ikuti, selain itu saya juga masih harus menjenguk orang tua yang sedang sakit parah di kota P, saya hanya bisa mengucapkan selamat sekali lagi dan turut berbahagia atas kebahagiaan Tuan Haris sekeluarga."


"Iya terima kasih jenderal, lain waktu saya ingin bicara spesial juga dengan Jenderal.


Tapi kalau boleh tahu apa penyakit orang tua kita Jenderal..?"


"Biasalah Tuan Haris, namanya sudah orang tua, tapi memang ada penyakit jantung juga Tuan Haris, itu sebabnya makin memperparah keadaannya.


Baiklah kalau begitu kami Permisi itu Tuan Haris."


"Mari Jenderal, saya akan mencari waktu nantinya, barangkali saya punya obat yang mujarab untuk menyembuhkan penyakit orang tua dari Jenderal nantinya."


"Benarkah Tuan Haris, Anda punya obatnya..?"


"Ya. Saya mungkin bisa membantu menyembuhkan orang tua kita Jenderal, saya akan bersengaja meluangkan waktu nanti."


"Wah, ini kabar yang sangat membahagiakan sekali bagi kami Tuan Haris, saya akan sangat menunggu kedatangan Anda."


"Ya tidak apa-apa Jenderal Gunawan. Saya akan menyempatkan waktu, mungkin besok lah saya akan datang, tepatnya besok siang saya akan datang melihat orang tua kita dan memberikan pengobatan terbaik untuk beliau Jenderal, tapi pengobatan ini sedikit berbeda nantinya, metode pengobatannya adalah akupuntur tapi nanti Anda akan langsung bisa melihat hasilnya pada hari itu juga."


"Baiklah saya mana bisa tidak percaya kalau sudah Tuan Haris yang mengatakannya. Saya akan menantikan Tuan besok kalau begitu.

__ADS_1


Sekarang saya permisi pamit pulang Tuan Haris dan Bapak ibu semua."


"Iya Jendral Gunawan, terimakasih."


Semua mertua Haris menyahut sapaan Jenderal Gunawan, yang telah permisi pamit pulang, pada mereka.


"Sama-sama pak, Tuan Haris ni adalah teman baik saya juga kok."


Jenderal Gunawan sambil menyapa semua anggota keluarga Haris kemudian menyalami mereka dengan penuh hormat.


Setelah Jenderal Gunawan selesai, satu persatu para tamu-tamu undangan mulai bergantian mendatangi Haris dan istrinya untuk memberikan ucapan selamat.


"Selamat berbahagia Tuan. Semoga sakinah mawaddah warohmah."


"Ah Tuan Michael, terimakasih sudah menyempatkan diri datang ke desa kami ini."


"Mana bisa tidak datang Tuan.? Tuan adalah tulang punggung korporasi kita di Kaya dan jaya bersama group ha..ha..ha."


"Ha..hah Tuan Michael bisa saja. Tapi ya sekali lagi terima kasih Tuan."


"Baiklah Tuan Haris, sama-sama, sukses terus Tuan."


Satu persatu para petinggi Kaya dan jaya bersama group secara bergantian mengucapkan selamat kepada Haris tidak terkecuali Wira yang selama ini sering berkonsultasi dengan Haris.


"Selamat ya Tuan Haris atas pernikahan Tuan. Sudah begitu lama kita tidak berjumpa dan akhirnya pada momen bahagia ini, saya bisa datang menyambangi langsung ke rumah Anda."


"Wah Pak Wira, pasti Anda harus bersusah payah datang kemari di sela-sela kesibukan yang ada."


"Ah tidak juga Tuan, mana ada istilah susah kalau untuk urusan Tuan."


"Baikah Terimakasih pak Wira."


"Sama-sama Tuan, bapak ibu semua, saya mungkin tidak bisa menyalami semuanya satu persatu, salam hormat dari saya Wira, saya ini adalah bawahan Tuan Haris."


"Lebih tepatnya mitra kerja dong, pak Wira."


Haris membetulkan ucapan Wira yang menyebut dirinya sebagai bawahan Haris saat beramah tamah dengan seluruh keluarga Haris itu.


"Iya terima kasih Pak Wira sudah datang mengunjungi kami di sini, maaf kalau ada hal-hal yang kurang berkenan dalam penyambutan kami." Pak Wicaksono Ayah dari Kirana yang kebetulan posisinya lebih dekat dengan Wira, sebab berdiri tepat di depannya, membalas keramahtamahan Wira dengan keramahtamahan yang sama.


Satu persatu akhirnya seluruh para petinggi Kaya dan jaya bersama group telah selesai memberikan ucapan selamat dan mereka telah kembali ke tempat duduknya masing-masing.


Para Tamu undangan yang telah selesai memberi ucapan selamat, kemudian menikmati berbagai macam hidangan, yang segera langsung disuguhkan para waiter/s hotel yang sengaja ditugaskan di sana.


"Tuan. Hidangan apa yang ingin anda nikmati saat ini..?


"Hmmmm.. Apa saja sepertinya enak kok."


"Baiklah Tuan, kalau begitu kami akan segera menghidangkannya untuk Anda."


"Anda ingin menikmati hidangan dengan menu apa Tuan..?"


"Saya orang hotel juga mbak, sudah biasa makan dengan menu hotel, mungkin saya pilih hidangan tradisional saja bolehkah."


"Oh tentu boleh Tuan. Kalau begitu saya akan arahkan teman saya yang membawa menu tradisional datang kemari."


"Baik terima kasih Mbak."


"Wanita itu segera mengambil telepon selulernya dan menghubungi temannya, untuk membawa pesanan berupa hidangan menu tradisional.


Kemudian waiters itu permisi kepada orang yang tadi ditawarkannya hidangan dan beralih kepada tamu undangan yang lain.


Tak berapa lama temannya yang membawa hidangan dengan menu tradisional pun datang dan menyuguhkan hidangan dengan penuh senyum keramahan terbaik yang pernah ditemukan orang di permukaan bumi ini.


"Wah konsepnya menarik juga ya..? Aku kalau menikah juga ingin seperti ini saja ah."


"Hmmmm... Dapat dipastikan dompetmu harus sangat tebal dan uangmu harus tidak berseri, agar bisa mewujudkan mimpimu di siang bolong ini ha..ha..hah."


Teman dari pria yang merupakan staf di salah satu Hotel milik Haris itu bercanda ringan dengan teman yang berada di sampingnya.


"Iya ha..ha..hah. tidurku sepertinya terlalu miring sehingga meracau di siang bolong."


Para pengunjung dan tamu undangan sangat takjub melihat jumlah puluhan waiter/s yang hilir mudik membawa benda yang mirip seperti meja berjalan itu dengan menu yang sangat beragam.


Semua orang bisa menikmati apa saja yang mereka inginkan dan tinggal meminta kepada para waiter/s yang lewat dari gang yang memang sengaja disediakan di antara kursi pengunjung.


Hanya saja terjadi satu situasi yang cukup menarik, di mana orang-orang dari dunia perhotelan akan memilih menu tradisional atau makanan-makanan biasa, sedangkan orang-orang biasa akan berebut memilih hidangan hidangan hotel, yang sangat jarang atau bahkan tidak pernah mereka nikmati sebelumnya


Tamu undangan terus secara bergantian mendatangi Haris dan keluarganya.


"Selamat ya bu dokter Shasmita atas pernikahannya bersama Tuan Haris. Semoga sakinah mawadah warohmah dan juga semoga cepat diberi momongan."


"Iya Terimakasih rekan-rekan sejawatku, terima kasih atas semua do'a-do'a baik dan juga keringanan langkahnya mengunjungi kami disini."


Beberapa orang dokter wanita yang datang dan naik ke panggung dan menghampiri Haris serta ketiga istrinya secara bersamaan, memberikan ucapan selamat, terkhusus bagi Shasmita yang merupakan teman sejawat dokter mereka, yang juga merupakan kepala Rumah Sakit tempat mereka bekerja.


"Selamat ya Tuan Haris, ibu berdua juga, kami ucapkan selamat atas hari bahagianya.


Semoga senantiasa keluarga Bapak dan Ibu harmonis selalu kedepannya dan berada dalam suasana penuh bahagia "


"Iya. Terima kasih ya atas waktunya ibu-ibu dokter yang baik hati, sudah menyempatkan waktu hadir di sini."


Haris menjawab ucapan dari para dokter itu.


"Iya bu dokter semua, terimakasih khusus dari saya Diana dan juga Kirana adik saya."

__ADS_1


"Iya Tuan Haris dan juga Ibu Diana dan Kirana, kami juga berterima kasih sudah disambut dengan baik dan diperlakukan dengan begitu ramah.


Ngomong-ngomong makanannya juga enak-enak lho Tuan dan Ibu, kami tadi karena melihat memang masih banyak yang antri untuk mengucapkan kata-kata selamat, sengaja memilih menikmati hidangan terlebih dahulu tadi ha..ha..ha."


"Ya tidak apa-apa ibu-ibu, itu adalah hal yang sangat baik, daripada harus berdiri antri tentu lebih baiknya ya makan dulu, sembari menunggu keadaan menjadi lebih sunyi."


"Aduh bu dokter Yuni, pakai di sebutkan lagi rahasia kita tadi, he..he..he."


"Ha..hah.. Tidak apa-apa lho dokter Alma, karena tanpa diberitahu pun mungkin Tuan Haris sudah melihat kita tadi, mana saya makannya nambah lagi tadi ha..ha..ha.


Ya sudahlah, kami permisi ya Tuan Haris dan juga Ibu serta dokter Shasmita."


"Iya.. Mari bu silakan."


Suasana menjadi begitu ceria dan penuh canda tawa, saat teman-teman Shasmita datang menyampaikan ucapan selamat, yang disertai dengan candaan dan tingkah lucu mereka.


"Hei lihat siapa yang datang..! bro Anthony, Pieter, Herlambang, Budi dan bro Juanda juga Rixon.


Lama tidak bertemu."


"Ha..hah sangat lama brother Haris, sejak pertemuan pertama dan terakhir kita ketika melakukan transaksi jual beli hotel yang kini di tangani oleh Manager Hartono dan Manager Sudharta itu.


Kami pikir Brother Haris sudah tidak mengingat nama kami lagi, ternyata masih ingat."


"Mana mungkin tidak diingat, sekali teman adalah selamanya teman.


Kalau Brother semua tidak buru-buru pulang, sepertinya kita harus pergi berkeliling daerah ini.


Di tempat kita ini juga ada pantai yang sangat eksotis dan begitu indah."


"Ha..ha..ha Brother Haris, meskipun kami tidak buru-buru pulang, tetap saja Brother tidak boleh jauh-jauh pergi ke mana-mana, Karena setelah selesainya pesta ini pasti Brother akan ber honeymoon ha..ha..ha."


"Hmm... Brother Juanda ternyata bisa melawak juga."


"Baiklah Brother Haris selamat atas pernikahanmu, kami tidak bisa berlama-lama di panggung ini. Ada begitu banyak lagi orang yang sudah antri di sana, kasihan mereka kalau harus terlalu lama menunggu."


"Baiklah terima kasih Brother ku semua. Terima kasih atas keringanan langkahnya sudah datang ke acara kami hari ini. Semoga sehat selalu kita semua."


"Ya sama-sama Brother Haris sekali teman, maka selamanya teman dan sesama teman tak perlu ungkapan terima kasih.


Kalau begitu kami akan pergi sekarang."


"Baiklah Brotherku semua, silakan."


Para tamu undangan terus datang untuk bersalaman dan mengucapkan kata-kata selamat bagi Haris dan juga istrinya.


Semua kursi telah hampir penuh, tetapi gelombang tamu undangan masih terus berdatangan. Para panitia yang mengurusi tamu undangan, segera mengarahkan pengunjung yang telah selesai makan untuk memberikan kesempatan pada tamu-tamu yang lainnya baru datang berkujung, utamanya bagi para tamu biasa.


Adapun para tamu-tamu istimewa, sama sekali tidak ada arahan untuk mengatakan mereka bergantian dengan tamu yang lainnya, hal itu disebabkan rata-rata dari mereka tidak bertahan cukup lama di sana, sebab mereka adalah orang-orang besar yang sangat sibuk dan waktunya sangat sempit untuk berdiam diri di satu tempat, tidak seperti para undangan yang lainnya.


...*************...


"Pusat ke tim regu ring 5, bagaimana situasi disana..?"


"Regu 5 kepada pusat. Keadaan di sini sepenuhnya berada di bawah kendali kita Komandan Wilson. Para target telah bisa kita endus dan saat ini mereka telah kita pukul mundur dengan sangat keras, mereka saat ini sedang berada dalam pengepungan dan beberapa dari mereka bahkan telah menyatakan menyerah.


Namun sebagiannya tampaknya masih menimbang-nimbang, apakah akan terus melakukan perlawanan ataupun menyerah Tuan."


"Baik kerja yang bagus Ketua tim, kalau begitu terus berikan mereka tekanan dan jangan kasih ruang untuk bisa memberikan perlawanan.


Namun bila memungkinkan, tetap berikan mereka penawaran yang baik."


"Baik Komandan, perintah Anda akan segera kami laksanakan."


"Ya jangan lupa terus terhubung dan jangan sampai kehilangan kontak."


"Siap komandan."


"Pusat kepada tim satuan khusus pemburu. Bagaimana keadaan di sana.?"


"Lapor Komandan satuan pengamanan. Markas musuh telah berhasil kita hancurkan Tuan. Musuh telah kocar-kacir oleh serangan mendadak kita yang mengejutkan mereka.


Beberapa dari mereka telah berhasil kami tahan saat ini, rekan-rekan tim pemburu lainnya masih terus menyisir lokasi tempat larinya komplotan perusuh pihak Marlon yang bermarkas di tepian kota H ini tuan."


"Baiklah tampaknya tidak ada masalah yang cukup berarti yang harus kita hadapi, selesaikan semua sampai ke akar-akarnya, berikan penawaran yang baik bagi mereka yang mau menyerah dan habisi segera mereka yang enggan bekerjasama dan tidak mau menurunkan senjatanya."


"Baik Komandan, perintah segera kami laksanakan."


"Ya cepatlah selesaikan tugas di sana tim, siapapun yang menyerah bawa mereka ke markas Pusat, lalu lakukan pengawasan yang baik, kemudian secara bergantian datanglah ke desa P. Bagaimanapun kita juga harus memberikan ucapan selamat bagi Tuan dan Nyonya bukan..?"


"Ya. Tentu semestinya begitu Tuan."


"Baik. Tuntaskan kalau begitu.


Hidup Tuan Haris.


Hidup satuan pengaman."


"Hidup...Hidup..Hidup...!!"


[Suara teriakan mengucapkan semboyan]


Mendengar kalau mereka harus segera memberikan ucapan selamat kepada Haris, seluruh anggota tim satuan khusus pemburu kemudian semakin bergerak cepat mendesak dan melumpuhkan musuh dalam waktu singkat.


Sebagian komplotan Marlon yang menolak menyerah dan terus melakukan perlawanan, akhirnya dihabisi dengan rentetan peluru dari senapan laras panjang yang dimiliki oleh satuan khusus pemburu, yang merupakan satuan pengaman milik Haris itu.

__ADS_1


Sisanya berkisar 50 orang yang menyerahkan diri segera diamankan dengan diikat tangan mereka ke belakang, kemudian diangkut dengan mobil khusus milik satuan pengaman, untuk dibawa ke markas pusat mereka yang terletak di kota P.


__ADS_2