Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _136 : Pernikahan adik dan pengawal Haris


__ADS_3

Setelah pembicaraan tentang lamaran Erik dan juga Nando yang sudah diterima oleh mertua keduanya yang merupakan orang yang sama, yakni Pak Herlambang, karena pertimbangan kemungkinan akan banyak serta membludaknya tamu undangan yang datang, maka pernikahan Haris yang sedianya ditetapkan bersamaan dengan pernikahan Nando dan juga Very akhirnya dibatalkan.


Kemudian ditetapkan kalau Nando Very dan juga Erik akan menikah pada hari dan di tempat yang sama, yakni minggu depan secara bersamaan di hotel Nurul Diana Haris_14, sedangkan Haris yang akan menikah dengan dokter Shasmita sebelumnya memang telah dijadwalkan dilangsungkan pada minggu berikutnya, setelah selesainya pesta pernikahan Erik, Very dan juga Nando.


Atau dengan kata lain dua minggu sejak dari sekarang.


Baik nando, Erik dan juga Very merupakan bintang, yang saat ini banyak dibicarakan di kalangan barisan pengawal dan petugas pengamanan milik Haris. termasuk 100 personil pengamanan yang bermarkas di kota P tempat keberadaan markas pusat.


Saat Haris sedang duduk bersantai di depan pelataran villanya, Riston yang datang bersama Halim dan Amanu menghampiri Haris.


"Tuan bolekah kami ikutan.?"


"Apa maksudmu Riston.? bicara yang jelas."


"Hmm..! Saya dan juga Halim beserta Amanu, juga sudah mendapatkan kesepakatan dengan Puspa, Wulan dan juga Hanum untuk menjalani bahtera rumah tangga Tuan."


"Wah...! Luar biasa, jadi sudah ada yang bisa menaklukkan hati Puspa dan Wulan juga Hanum..?


Ayo sebutkan siapa dengan siapa Riston..!"


"Saya dengan Puspa Tuan, Halim dengan Wulan dan Amanu bersama Hanum."


"Mantap. Lalu apa kalian ingin menikah di hari yang sama..? Apakah orang tua Puspa dan Wulan serta Hanum sudah tahu..?"


Sudah tuan bahkan kami sudah membicarakannya dengan mereka melalui video call langsung dan kami telah mendapat restu dari mertua kami masing-masing."


"Bagus. Sangat bagus..haha. Kalau begitu pernikahan kalian akan dilangsungkan di hotel bintang 5 milik kita yang di kota P, yakni hotel yang belakangan kita beli itu.


Apakah mertua kalian akan setuju begitu atau akan kita buat pernikahan di tempat lain..?"


"Kami telah menceritakan bagaimana proses Nando Very dan juga Erik Tuan. Jadi orang tua kami akhirnya bertanya, apakah kami akan mendapatkan hal yang sama, begitu pertanyaannya Tuan."


"Lalu apa yang kamu katakan Riston..?"


Saya mengatakan, kalau saya akan bertanya dulu pada Tuan."


"Kenapa tidak kamu jawab Riston..? Abang kan sudah mengatakan, kalau Abang tidak akan membeda-bedakan kalian. Ya sudah nanti kalian lakukan panggilan lagi, katakan pada ayah dan ibu kita kalau apa yang diterima oleh Erik, Nando serta Very juga akan diterima oleh kalian bertiga, yakni orang tua dari Wulan, Puspa dan juga Hanum akan beroleh hal sama."


"Baik Tuan, terima kasih Tuan."


Riston lalu membungkukkan badannya, yang di ikuti oleh Halim dan Amanu.


"Hei..hei.! Apa yang kalian lakukan.?" Kemudian Haris mengangkat Riston dan memeluknya, demikian juga pada Halim dan Amanu.


"Selamat ya akhirnya kalian juga menemukan jodoh kalian bertiga. Kalau begitu persiapkan fisik dan mental kalian ha..ha. Karena yang akan kalian hadapi ini adalah kesatria wanita, tentu tugas kalian akan lebih berat daripada Nando dan juga Erik. Kamu paham kan Riston..? Hahaha.


"Ah Tuan ada-ada saja."


"Ha..ha..ha..! Ya aku hanya bercanda saja Riston. Dalam berumah tangga itu, perlu pertimbangan yang matang dan perlu kesamaan pemikiran. Aku tidak ingin kalian ini, hanya karena tertarik melihat Erik, Nando dan juga Very lalu kemudian ikut-ikutan.


Artinya kalian memang betul-betul harus mempertimbangkannya dengan matang, ya Riston dan kau juga Halim serta Amanu.!"


"Kami sudah mempertimbangkannya baik-baik Tuan."


Amanu dan Halim kemudian menjawab bersamaan.


"Ya syukurlah aku turut ikut berbahagia buat kalian. Nah kalau begitu aku akan menelepon Rossa Manager Hotel kita, agar dia bisa bekerja sama dengan Manager Hotel kita yang satu lagi yang ada di kota P, untuk mempersiapkan segala sesuatunya yang diperlukan.


Jangan lupa katakan kepada ayah dan ibu kita, serta mertua kalian bertiga supaya segera secepatnya datang kemari bersama keluarga. Tidak perlu bawa apa-apa, katakan segala sesuatunya akan diatur sedemikian rupa di sini."


"Baik Tuan, terimakasih Tuan."


Akhirnya baik Riston, Amanu maupun Halim tersenyum puas. Senyuman yang begitu indah tercermin dan mengembang di wajah mereka bertiga.


Mereka merasa kalau Haris ini ternyata benar-benar tidak membeda-bedakan antara mereka bertiga dengan Nando dan juga Very maupun Erik.


"Kalau begitu kami akan pamit undur diri Tuan."


"Ya pergilah sampaikan apa yang perlu disampaikan."


"Baik Tuan."


Baik Riston, Amanu maupun Halim, kemudian pergi meninggalkan Haris dengan senyum yang masih tersimpul di bibir ketiganya.


Mereka berjalan menuju gedung tempat mereka bertugas.


"Aku tidak menyangka bakal lancar begini teman-teman, sedikitpun tidak ada kulihat raut wajah keberatan maupun rasa risih di wajah Tuan kita teman-teman."


"Ya itu betul, tampak sekali bagaimana Tuan begitu bahagia dan kebahagiaan itu tampak begitu tulus. Aku tidak tahu harus bagaimana kita membalas jasa kebaikan Tuan ini."


"Ya satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah, dengan kesetiaan Amanu."


"Itu benar teman-teman. Satu-satunya hal yang kita miliki, yang asli merupakan milik kita hanyalah kesetiaan. Oleh karenanya, kita telah melihat bagaimana kesetiaan secara timbal balik telah diperlihatkan oleh Tuan, maka kesetiaan yang sama harus kita tanamkan dalam diri kita maupun istri kita kedepannya. Bahkan anak-anak kita kelak, jika kita dikaruniai anak oleh Tuhan."


"Ya itu benar, kesetiaan adalah harga mati bagi kita, selaku pengawal Tuan dan keluarga beliau."

__ADS_1


Ketiganya kemudian memasuki gedung tempat mereka bermarkas dan bertugas di kawasan Villa Desa P, tempat hunian Haris saat ini. Tidak butuh waktu yang lama bagi yang lain, untuk segera mengetahui rencana pernikahan dari Riston, Halim maupun Amanu dan semua teman-temannya mengucapkan selamat.


Mereka semua seperti biasanya, akan bahagia untuk kebahagiaan teman mereka dan akan ikut bersedih, pada kesedihan teman-temannya. Kesetiakawanan begitu kental terjalin dalam diri mereka, membuat mereka merasa sudah seolah seperti satu tubuh, satu kesatuan utuh sebagai tameng dan juga pedang di saat yang sama, bagi Haris dan keluarganya.


Haris sendiri telah memberitahukan rencana pernikahan 6 pengawal utamanya kepada Rossa. dan Rossa segera bergerak cepat melaksanakan segala arahan dan juga perintah dari Haris, sehingga tidak ada satu hal pun yang terlewatkan.


[Riston memanggil]


"Ayah..! Tuan Haris mengatakan kalau Ayah dan Ibu tidak perlu memikirkan apa-apa terkait keperluan dan kepentingan Riston yang akan menikah ini. Ayah dan Ibu juga diharapkan oleh Tuan bisa segera datang dan tinggal di sini saja. Hotel milik Tuan akan disediakan sebagai tempat tinggal Ayah dan Ibu juga beberapa keluarga dekat kita yang nantinya akan ikut datang."


"Wah beruntungnya hidupmu Nak. Tidak sia-sia kamu mengikuti Tuan Haris itu Riston. Bekerjalah dengan baik Nak tunjukkan kesetiaanmu. Kita akan sangat jarang menemukan orang yang baik seperti Tuan Haris itu."


"Ya karena itulah Ayah, Riston berharap Ayah dan Ibu juga sebisanya segera melapangkan dan meluangkan waktu untuk bisa segera datang kemari, agar Tuan bisa melihat keseriusan kita."


"Iya, Iya Nak. Ayah dan ibu akan segera berangkat, mungkin besok kami akan berangkat. Hari ini biarkan kami menyelesaikan segala urusan kami di sini dulu."


"Ya baiklah Ayah, kami akan menunggu di sini dan Riston akan menceritakannya kepada Tuan Haris nanti."


"Sampaikan juga salam Ayah dan Ibu kepada Nak Haris, Riston...!"


"Baik Ayah, kalau begitu Riston akan menutup panggilannya."


"Ya tutuplah."


"Selamat siang Ayah."


"Selamat siang Riston, jaga dirimu baik-baik baik nak.


"Baik Ayah. Wassalamu 'alaikum."


" Wa 'alaikum salam warahmatulloh."


[Panggilan berakhir]


Begitulah Riston maupun Halim dan Amanu juga saling memberitahukan perkembangan berikutnya kepada orang tua mereka masing-masing. Tak ketinggalan baik Puspa, Wulan dan juga Hanum, juga memberikan kabar terbaru kepada keluarganya, sehingga beberapa diantara orang tua dari keenam anak itu, telah ada yang berangkat menuju kota P ke hotel Nurul Diana Haris_14, tempat yang dikhususkan sebagai tempat menginap bagi mereka, sembari menunggu hari pesta pernikahan dan juga hari setelahnya.


...**********...


[Panggilan dari Wira, petinggi kaya dan Jaya Bersama group]


"Halo Tuan Haris."


"Ya Halo. Ada kabar apa Pak Wira.?"


"Begini Tuan, kami ingin memberitahukan perkembangan terbaru tentang situasi korporasi kita yang semakin baik.


Saat ini ada beberapa pemegang saham mereka yang mulai goyah dan menyatakan diri ingin bergabung dengan kita.


Saya merasa perlu menyampaikan hal ini kepada Tuan, sebagai pemegang saham mayoritas atau terbesar di korporasi kita, bagaimana kira-kira sikap kita Tuan.?"


"Pak Wira soal manajemen di lapangan, tentu itu tidak termasuk dari bagian urusan saya. Tapi mengingat pada saat rapat pemegang saham, kita juga sudah menentukan rekomendasi dan juga target, dimana target itu salah satunya adalah keluar sebagai pemenang dalam persaingan bersama konsorsium Maroko.


Jadi kalau memang dengan hengkangnya para pemegang saham di konsorsium Maroko yang ingin bergabung dengan korporasi kita itu bisa lebih menekan pihak konsorsium Maroko. Maka jangan ragu ambil saja langkah itu.


Terima saja mereka dan berikan mereka paket penawaran yang baik. Bila perlu naikkan kembali nilai saham kita, dua kali lipat, sehingga untuk mempertahankan keberadaan sahamnya yang telah ada masing-masing pemegang saham harus menaikkan jumlah investasi mereka.


Terlebih jika memang pemegang saham 25% yang ada di korporasi kita tidak berkenan atau berkeberatan untuk membagi atau melepas saham mereka."


"Baik Tuan kalau begitu saya dan para petinggi lainnya sudah mendapatkan masukan dan arahan tentang, langkah apa yang harus dilakukan.


Akan tetapi apakah hal itu nantinya tidak akan memberatkan Tuan sebagai pemegang saham terbanyak atau apakah Tuan ingin melepas beberapa saham milik Tuan..?"


"Tidak. Sama sekali hal itu tidak akan memberatkan saya dan kalau memang pelepasan saham itu membuat dinamika korporasi kita lebih baik dan lebih segar jangan ragu ambil saja langkah itu dan koordinasikan kepada manajer Hartono bagaimana tahapannya."


"Baik Tuan, kalau begitu saya tidak akan mengganggu waktu Tuan lebih banyak lagi. Kalau begitu saya akan menutup panggilan ini semoga hari Tuan menyenangkan dan semoga Tuan sekeluarga, juga diberikan kesehatan."


"Ya, begitu juga anda Pak Wira. Anda sudah bekerja begitu keras untuk korporasi kita, sampaikan salam saya kepada dewan direksi dan juga dewan komisaris kita yang lainnya."


"Baik Tuan, akan saya sampaikan. Selamat siang Tuan."


"Selamat siang Pak Wira."


[Panggilan ditutup]


"Abang lagi bertelepon dengan siapa..?"


"Oh itu tadi Pak Wira Dek Kirana. Pak Wira dari korporasi kaya dan Jaya Bersama group, kita lagi membahas soal keadaan korporasi kita yang semakin baik.


Ekspansi hotel-hotel kita yang semakin meluas dan juga menggurita, sudah mengalahkan rival atau lawan maupun saingan bisnis kita selama ini, yang berusaha untuk mengambil alih atau setidaknya menyaingi kerajaan bisnis perhotelan kita."


"Wah kabar baik itu bang."


"Ya begitulah. Oh ya kakakmu Diana kemana.?"


"Kak Diana tadi lagi istirahat di kamar sama anak-anak, kebetulan tadi Kirana dipanggil sama mama jadi ya selesai bertemu Mama, karena Kirana mendengar suara Abang dan melihat Abang disini, jadi sekalian saja datang kemari.

__ADS_1


Bang..! tadi Kirana mendengar kabar Puspa Wulan dan Hanum mau menikah ya, bersama Riston, Halim dan juga Amanu."


"Begitulah Dek. Ya sudahlah biarkan saja, agar mereka merasa hidup mereka itu semakin lebih berarti dan mereka lebih semangat menjalani kehidupan ini kedepannya."


"Iya syukur juga sih, kalau Wulan menikahnya itu dengan sesama pengawal kita. Coba kalau mereka menikah di tempat lain, tentu mereka mungkin tidak akan bisa bersama kita lagi ya Bang.?"


"Itu benar Dek Kirana. Tapi sebenarnya sama saja kok, kalaupun mereka kemudian mau menikah dimana.


Nomong-Ngomong bu dokter kita ke mana ya..? Enggak kelihatan dari tadi."


"Oh tadi dokter pergi sebentar ke rumah sakit, katanya ada beberapa hal yang mau dia urus disana."


"Oh begitu rupanya. Dek bagaimana kesehatanmu saat ini.?"


"Wah kalau itu Kirana sudah lupa Bang, bahkan Kirana seolah-olah tidak pernah sakit sebelumnya."


"Jadi sama sekali tidak ada rasa sakit lagi..?"


"Tidak ada sama sekali Bang. Benar-benar tidak ada, malah Kirana merasa begitu sehat badan terasa ringan dan penuh semangat. Sebenarnya Abang belajar di mana sih cara mengobati begitu Bang.?"


"Ah itu panjang ceritanya dek Kirana, kalaupun diceritakan akan sulit dek Kirana pahami. Intinya Abang punya seseorang yang memberkati Abang dengan pengetahuan pengobatan itu.


Ke depannya mudah-mudahan kita akan menjadi lebih sehat semuanya."


"Iya Kirana juga berharap begitu kok Bang.


Dan mengenai tabib Maksum, beliau juga sudah tahu keadaan Kirana dan Kak Diana, kebetulan tadi papa memberitahunya.


Jadi tabib Maksum sekarang sedang pergi menemui orang-orang yang berobat padanya, kalau waktunya lapang, bakalan datang tuh nanti-nanti katanya kemari.


Hmmm... Teringatnya kemarin malam Abang sedang apa sama Kak Diana.?"


"I..Itu kata dek Diana kamu tahu, malah kamu katanya yang nyuruh.


Benar nggak sih.?"


"Iya memang benar sih, ya artinya nanti malam giliran Kirana dong, jangan sampai Abang beralasan."


"Ha..ha Istriku yang cantik ini rupanya mulai pandai nakal deh. Tentu tidak akan ada alasan, tenang saja."


Kirana kemudian tersenyum dan meraih tangan Haris dan melingkarkannya di pinggangnya yang ramping itu.


"Ayo kita ke atas, tidak enak nanti ada yang melihat kita begini."


"Kenapa..? Kan Kirana memang istri Abang..?"


"Iya itu betul dek tapi coba kalau Ayah, Papa atau papi yang melihat kita, malu dong dek."


"Iya sih Bang, Kirana mengira Abang khawatir pada para pengawal wanita kita."


"Bukan mereka tapi barisan orang tua kita. Ya sudah yuk ke lantai atas yuk.!"


Haris dan Kirana kemudian menyusul Diana yang berada di ruangan kamar mereka yang ada di lantai atas.


Hari berjalan sebagaimana mestinya. Hari pernikahan 4 pengawal dan 2 ajudan Harispun tiba.


Prosesi pernikahan berjalan penuh hikmat. Para undangan segera datang dan memberikan do'a selamat pada seluruh mempelai.


Utamanya Haris yang merupakan tokoh utama dalam kehidupan mereka.


"Selamat ya Very dan adikku tercinta Juli, semoga keluarga kalian sakinah mawaddah warahmah."


"Terima kasih untuk semuanya Bang." Juli memeluk Haris yang sudah seperti Abang kandung sendiri bagi dirinya. Juli memeluk Haris sambil menangis sesenggukan.


"Hei..! Kenapa menangis di hari bahagia ini.? Tersenyumlah. Abang mengurus segalanya untukmu justru agar kau bahagia dan penuh senyum bukan untuk menangis."


Haris mengusap air mata di pipi Juli dan mengecup punggung tangan Juli adiknya itu. Haris kemudian dipeluk oleh ayah dan ibu angkatnya, yang merupakan Om dan Bibi dari istrinya Diana itu.


Berikutnya secara bergantian Haris memberikan ucapan selamat pada Nando, Riston, Halim dan Amanu serta Erik juga istri mereka.


"Selamat ya Riston atas pernikahanmu, begitu juga denganmu Puspa. Semoga kehidupan pernikahan kalian selalu diberkahi dengan kebahagiaan, semoga sakinah mawaddah warahmah ya Riston."


"Ya, terima kasih Tuan."


"Jangan panggil Tuan, di hari yang sakral ini Riston. panggil aku sebagai Abangmu, kita sedang tidak berada dalam tugas bukan.?"


"Iya Bang terima kasih Bang. Terima kasih atas semuanya, apa yang kami berikan belum apa-apa dengan apa yang sudah Abang berikan kepada kami semua."


"Jangan terlalu hitung-hitungan, kan sudah kukatakan kalian semua itu adalah anggota keluargaku dan kalian semua adalah adik-adikku, karenanya tidak ada perhitungan antara Abang dan Adik bukan begitu pak.?"


Haris tersenyum dan menyalami orang tua Riston juga ibunya, yang disambut penuh kehangatan dari orang tua Riston.


Haris juga melakukan hal yang sama kepada orang tua Puspa, yakni ayah dan ibunya. Hal yang sama Haris lakukan kepada Nando, Halim,Amanu dan Erik.


Para tamu undangan dari segenap karyawan-karyawati seluruh unit usaha milik Haris, yang memang diwajibkan datang, secara bergantian memenuhi ruangan Hotel Nurul Diana Haris-14, yang sengaja dipilih menjadi tempat digelarnya pesta pernikahan dari orang-orang terdekat Haris itu.

__ADS_1


Semua orang begitu bahagia, semua orang tampak begitu bersemangat, tidak terkecuali para pengawal Haris lainnya yang merasa sudah sangat terjamin dengan apa yang telah disampaikan dan dijanjikan oleh Haris pada mereka semua.


__ADS_2