
Saat sedang menikmati sarapan pagi yang lezat telepon genggam Haris berbunyi.
"Siapa dek ?"
"Manager Wina bang."
"Ya sudah angkat dan tanya ada apa?"
"Halo... Wina, ini saya bu' Diana."
"Oh ini ibu...!
Bu' maaf ya bu kalau Wina mengganggu, Wina mau mengucapkan banyak terima kasih karena sudah di percayakan menjadi General manager di hotel ibu dan bapak, Wina janji akan berbuat yang terbaik."
"Oh ya Wina, saya juga senang kamu akhirnya bisa menduduki jabatan itu, bapak banyak cerita soal kamu sejak pengusiran itu."
"Ah iya bu, itu awal pertama Wina kenal bapak dan dipercayakan jadi asisten ."
"Ya sudah, kamu barangkali ada sesuatu yang mau disampaikan kepada bapak."
"Iya bu'.
Wina jadi ingin berjumpa dengan ibu, pasti ibu sangat cantik, terima kasih ya bu."
"Hmmm bisa aja kamu Win, Wina yang cantik masih segar he he, ya udah ini bapak."
"Bang...!"
Haris mengambil HP-nya dari istrinya
"Ya... ada apa Win? kita lagi sarapan ini."
"Aduh maaf ya pak direktur, sudah mengganggu."
"Ngak apa apa, apa ada yang perlu Win?"
"Ini pak, sebelumnya saya berucap terima kasih, sayakan sekarang sudah jadi GM, lalu siapa yang akan jadi assisten manager pengganti saya pak? Maksudnya bolehkah saya angkat sendiri pak direktur?"
"Ya kamu boleh angkat orang yang kamu percayai, saya percayakan padamu buktikan rasa terima kasih kalian lewat kerja nyata."
"Baik pak,terima kasih banyak pak.
Saya tidak gamang lagi sekarang, kalau begitu Wina pamit pak, semoga hari bapak sekeluarga menyenangkan."
"Ya terima kasih ya Win, bapak tutup sekarang."
[telepon berakhir]
Belum sampai meletakkan HP-nya HP itu berbunyi kembali.
"Halo Fauzan, ada apa Fauzan."
"Bang maafkan Fauzan ya bang, maafkan kami semua warga desa ya bang."
"Kenapa Fauzan kok kamu nangis dan minta maaf?"
"Maaf bang, Rumah dan kebun abang dibakar sekelompok orang tadi malam."
"Apaaaaaaaa?????"
Sarapan di tangan Haris tumpah dan terjatuh ke bawah.
Diana terkejut melihat reaksi Haris.
"Ada apa bang?"
Haris mengangkat tangannya, dan melihat wajah istrinya pertanda meminta Diana diam sejenak.
Fauzan menjelaskan semuanya dari awal sampai akhir.
"Begitulah jadinya bang sekarang, sawit kita tinggal tunggul bang, fauzan sedih bang semua warga dan teman teman disini mengucapkan maaf yang sebesar besarnya sama abang karena tidak bisa menjaga rumah abang, padahal abang sudah sangat baik sama semuanya."
"Ya sudah tidak apa apa Fauzan, rumah bisa kita bangun lagi, tapi abang menyayangkan adanya korban luka yang begitu banyak apalagi jadi sampai perang kampung begitu."
"Iya bang. Masalahnya para perusuh itu malah berbohong pada warga desanya, dengan mengatakan kalau mereka di keroyok, akhirnya sebahagian warga desa mereka mengamuk lalu terjadilah perang antar pemuda desa kita dan desa mereka, nasib baik saat itu masih ada pihak berwajib di tempat, sehingga tidak sampai ada korban jiwa, sehingga perusuh itu bisa segera diamankan petugas.
Padahal sawit kita sudah waktunya panen bang, mana besok mau pekan lagi."
"Ya sudah jangan pikirkan itu lagi, besok atau nanti malam abang akan pulang, kirimkan nomor rekeningmu siapa tahu abang besok terlambat pulang atau baru pulang besok, nanti si Evi ngak belanja pulak."
"Aduh bang, abang sudah kemalangan malah masih memikirkan Fauzan."
"Jangan bilang begitu Fauzan kau sudah berusaha sebisanya menjaga rumah dan kebun kita, lagian kau sudah abang anggap sebagai adik abang sendiri, sudah kirim saja jangan membantah, ini perintah...!"
"I....i.. ya bang....hiks..hiks.."
[menangis]
__ADS_1
"Sudah jangan menangis, jangan menyalahkan diri sendiri.
Ini sudah takdir, bersyukurnya abang dan keluarga tidak ada di tempat ."
"Iya bang, terima kasih bang."
"Ya sudah ya Fauzan."
[telepon berakhir]
"Ada apa bang?"
"Sabar ya dek, rumah dan kebun kita di bakar oleh orang dari desa sebelah."
"Apa?????
Bang itu rumah pertama yang kita bangun bang...hu..u..uuuu."
[menangis]
"Iya abang tahu, sudah adek jangan menangis."
"Tapi bang..................."
Diana segera menelpon ibu dan ayahnya, dia menceritakan keadaan rumahnya yang terbakar.
Semua anggota keluarganya bergegas datang ke kamarnya.
Haris membiarkan istrinya melakukan apa yang dia mau, agar hatinya tenang dan kabut dihatinya segera reda.
Haris sendiri cukup terpukul, dimanapun dia berada selama ini ingatannya selalu pada rumah sederhananya itu, kini rumah itu telah terbakar Habis hanya menyisakan bentuk dan kenangannya di lubuk hati Haris yang terdalam.
Ya benar apa yang Diana katakan itu adalah kenyataan, itu adalah rumah pertama mereka.
Cuaca di pagi hari yang masih sejuk pada ruangan berAC itu tidak menghalangi pipi Haris menjadi hangat karena aliran air mata yang begitu deras.
Diana tahu suaminya hanya menahan diri agar dia tidak terlalu sedih.
Haris membelakanginya dan menatap ke luar, melihat pemandangan kota dari ketinggian kamar tempat mereka menginap.
Diana datang dan memeluk Haris dari belakang.
"Bang adek sedih bang."
Haris menghapus air matanya dan membalik.
"Ya sudah, kita akan melewati ini.
"Kenapa mereka begitu jahat pada kita bang?
Kitakan sudah baik selama ini?"
"Itu bukan warga desa kita dek?"
"Lalu?"
Haris lalu menceritakan kronologi kejadian dari awal sampai akhir, sesuai cerita Fauzan.
"Ya sudah kita pulang pagi ini aja ya bang."
"Adek yakin?"
"Iya kasihan warga bang, mereka terluka karena kita."
"Ya sudah kalau begitu kita siap siap berkemas."
Pada saat berikutnya semua anggota keluarganya sudah hadir disana.
Setelah haris menjelaskan segalanya, mereka semua akhirnya berkemas.
Haris mengurus proses Check out dan membayar semua biaya lalu berangkat dari sana.
Nawir, Andri dan Beni serta Roni matanya berembun dan memeluk Haris, mengucapkan kata kata sabar.
"Terima kasih semuanya, ya sudah kita pulang.
Andri, Haris...! kalian adalah pria di keluarga kita, kalian berdua harus sungguh sungguh belajar bawa mobil, sampai mahir sama abang Beni, kedepannya kelak kita akan sering bepergian begini, biar banyak supir.
Abang janji begitu kalian pandai bawa mobil, masing masing akan dibelikan mobil langsung saat itu juga."
"Bener bang?"
Nawir berteriak
"Iya, masa bohong."
"Asyiik"
__ADS_1
Andri tersenyum sumringah.
Kedua mobil keluarga melesat membelah jalan meninggalkan ibukota provinsi.
Sebelumnya mereka memesan jasa mobil taxi pengantar paket untuk membawa satu mobil penuh oleh oleh buat warga.
Setelah melakukan perjalanan selama dua belas jam, akhirnya mereka sampai pada pukul delapan malam.
Mereka memutuskan menginap di hotel milik mereka yang ada di kota dan menunggu saat pagi hari tiba.
Karena begitu lelah dalam perjalanan semua orang tertidur pulas.
Pada pagi hari, Kirana asisten managernya Sudartha yang sudah tahu kalau pimpinannya ada disitu, datang menghadap saat pihak Haris sedang melakukan Check out.
Kirana berlari tergesa gesa setelah pintu lobby hotel dia masuki.
"Rossa...! Apa yang kau lakukan?
Beliau tuan kita pemilik hotel ini..!"
Rossa terkejut selama ini dia hanya mendengar kisah kisah seram seperti ini, tak disangka pagi ini hal itu mengenai dirinya.
"Pak direktur maaf saya baru tahu kedatangan anda, setelah pak GM Sudharta tadi menelepon."
"Pa..pak direktur Rossa minta maaf, tadi Ross..."
"Sudah jangan terlalu kalian pikirkan, oh ya Kirana...!
"Saya pak direktur.!!"
"Pak GM Sudartha, akan mengurus hotel bintang lima kita yang di kota M, jadi sejak hari ini ke depannya kamu yang akan jadi GM disini, faham?"
"Fa.. faham pak direktur, terima kasih pak direktur sudah mempercayai saya."
"Selain itu, kau juga harus mendidik dan mempersiapkan asistenmu untuk menggantikanmu kelak, saat ini hotel kita baru ada empat, dua bintang tiga dan dua bintang lima, saya berencana akan membeli beberapa hotel lagi sampai jumlahnya puluhan, sehingga kemanapun saya pergi ada hotel tempat menginap disana.
Jadi kau tidak akan pindah ke hotel bintang lima seperti pak GM Sudarta, sebelum kau bisa melepas asistenmu menjadi GM di tempat ini, kamu faham..?
"Iya pak...! Kirana faham pak."
"Nah kau latih dan didik si Rossa ini jadi asisten managermu, aku suka keramahan dan profesionalitasnya.
Aku sangat menghargai sebuah karakter yang baik, jadi kalian semua yang bertugas di hotel ini, berlombalah berbuat yang terbaik dengan karakter yang baik pula, bukan jadi penjilat.
Siapa yang kinerjanya baik, bisa jadi kalian akan jadi pimpinan di hotel kita berikutnya, jadi berbuatlah yang terbaik.
Oh ya Kirana, berikan kenaikan gaji100% bagi semuanya, termasuk dirimu, sejak saat ini."
"Siap pak direktur."
"Terimakasih direktur."
Petugas hotel yang ada di sana semua tersenyum riang.
Ok, tunjukkanlah terima kasih kalian lewat kinerja yang bagus.
"Baik pak direktur."
Ucap semua pekerja hotel.
"Pak direktur..!"
"Eh Nando, kamu sudah disini?"
"Iya pak direktur."
"Wah kebetulan, saya masih capek baru dari kota M, kamu bisa bawa mobil?"
"Bisa pak direktur?"
"Baik, kamu izin sama pimpinan departementmu agar kita berangkat."
Haris langsung keluar dari lobby hotel.
"Baik pak direktur."
Saat Nando akan pergi permisi.
"Sudah Nando pergi saja bawa direktur, jangan sampai direktur menunggu lama.
Saya yang akan memberitahukannya nanti."
"Baik bu GM, terima kasih saya permisi."
"Rossa kamu ikut ke ruangan saya."
"Iya bu GM."
__ADS_1
Duh Rossa selamat ya Ross, aduh kita kapan ya dapat rezeki bagus begitu?
Semua pekerja menjadi bertekad untuk berkerja lebih baik lagi apalagi sekarang gaji mereka sudah naik 100% dari sebelumnya.