Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _44 : Akhir dari masalah


__ADS_3

"Luar biasa bos kita bang Nando, bagi bagi duit satu jeti seorang.


Kita tadi gajinya berapa sebulan bang? 10 untuk berdua ya?


Lumayan di hotel cuma 3 jutaan."


"10 juta untuk berdua, gundulmu...!


10 juta seorang dong."


"Hahhh 10 juta seorang?


Bakal kaya dong kita?


Mimpi apaaaaaa aku semalam?"


"Paling mimpi minum pil tambah darah untuk ibu hamil, yakan Ver?"


'Ah bang Nando ngak lucu ahhh."


"Aha hahah... iya iya, becanda lho Ver."


"Abang kapan sih kenal pak direktur?"


"Kalau kenal pertama sih, waktu kerja di hotel lama.


Pak direktur saat itu di usir oleh asisten manager wkwkwk."


"Ah yang bener bang?


Asisten itu pasti sudah di pecatlah yakan?"


"Ngak. Tapi di turunkan jabatan. Receptionis hotel namanya mbak Wina masih gadis lho Ver, langsung disuruh menggantikannya, karena direktur puas dengan keramahannya.


Sekarang kabarnya, sudah jadi GM karena GM lama sudah jadi General manager (GM) di hotel bintang lima super mewah di kota M.


GM lama itu adalah pak Hartono bos lama abang, yang tadi di telpon bos kita dan di suruh nyari 10 hotel bintang lima lagi."


..."Luar biasa ya bang...!"...


"Kalau kita kerjanya bener, nanti kita bisa rekomendasikan adik atau siapapun saudara kita Ver, makanya kita jangan neko neko."


"Iya bang...!"


...------...


"Dek ....!"


"Ya bang, Haris bilang mobil yang kita pakai ke Medan itu akan jadi milik kita lho"


"Ah yang bener bang?"


"Iya.."


"Nanti si Yunita, merajuklah."


"Ngak akan, mereka juga akan dibelikan mobil yang sama, Roni di suruh belajar bawa mobil sama abang, jadi abang ngak boleh narik sewa dulu."


"Oh baguslah bang, si Haris pengertiannya itu orangnya, nanti pasti abang dikasih duit karena mengajari mereka."


"Sudah diberipun..! Ini ada ATM untuk adek satu dan abang satu, isinya Rp 200 juta di masing masing kartunya."


"Benar bang?"


"Bener, dan si Andri juga Nawir, juga akan abang ajari bawa mobil, nantinya mereka juga bakal di beliin mobil baru untuk mereka masing masing."


"Wah luar biasa, kita sudah jadi orang kaya berarti bang?"


"He he.. sudahlah.


Mobil ada uang ada rumah bakal menyusul, warga aja dibangunin rumah masa kita abang dan kakaknya ngak, sekali Nisa ngomong sama om dan bibinya, dah selamat datanglah rumah baru.


Makanya Dek bilanginlah biar abang kerja sama si Haris, tuh yang tadi pemuda yang dua orang itu tuh, yang berdiri dekat mobil itu aja sudah kerja sama Haris gajinya Rp 10 juta seorang tiap bulan.

__ADS_1


Ayo dek bilanglah, abang segan kalau mau mintak."


"Ngak usahlah bang, ngak usah dibilanginpun kalau abang mau ngerjain apa yang Haris suruh, sudah dianggapnya kerjanya abang itu sama dia.


Tapi abang jangan pulak gengsi disuruh suruh, karena abang merasa sebagai abangannya."


"Ngaklah, waktu di hotel aja abang ngak ragu manggil dia bapak Haris, pokoknya bilang aja biar abang tenang ngak was was, kita butuh pengakuan bukan?"


"Ya sudah biar adek bilangin bentar...ssstttthh.


Ris....!"


Butet yang didesak oleh suaminya, akhirnya buka suara pada Haris.


"Apa kak?"


"Abangmu ajak kerjalah Ris sama kau."


"Lho...! Kan memang sudah kerja? sudah Haris minta malah, bang Beni ngajari si Andri sama Nawir bawa mobil.


Kakak juga kalau bisa belajar dong bawa mobil, kalau nanti sudah bisa Haris beliin mobil juga lho...!"


"Ah bener Ris?"


"Benerlah masa bohong?"


"Jadi tigalah mobil orang kakak nanti, Ris?"


"Ya kalau kakak ngak mau tiga balikin aja dua."


"Yeee enak aja sudah dikasih, mau diminta balikin lagi."


"Haa..hahahah kan tadi kakak yang ketakutan punya mobil tiga."


"Makasih ya Ris kau memang adek kakak yang paaaaaasaling baek."


Butet bangkit berjalan ke arah Haris dan memeluknya di depan orang banyak, matanya yang sedari tadi berembun tidak kuat lagi menahan, sehingga air mata yang hangat tumpah ruah, menunjukkan fluktuasi perubahan emosi dalam dirinya.


Yunita yang melihat itu, tak mau ketinggalan juga bangkit dan memeluk serta mencium Haris adik kesayangan mereka.


"Sudah woi woi...! Habislah lakik ku nanti kelen buat....woi...woi.......!!


"Ha...ha...ha..ha..ahhhahahahhh


Wkwkwkwkkwkkkwwkwkkwkwk


Ikikikikkiikikikiikikikikikikikk


Ekekeekekeekekekekekeekekek


Buakakakakakakakakaakkakak


Awok...wok🤭...................!!!!!!!!!!!!"


Mendengar itu sontak semua orang tertawa, dengan berbagai jenis varian tawa.


Bahkan para suami dari kakaknya, bersama warga juga mertua dan bibi Diana, tertawa geli melihat kecemburuan yang begitu kentara terlihat di sikap Diana.


Disaat semua begitu riang tertawa dengan geli, tiba tiba warga menjadi senyap.


Yunita dan kerabat Haris heran dan ikut berhenti tertawa, hati mereka bertanya tanya apa yang salah, sehingga warga menjadi begitu serius, bahkan terlihat kemarahan terpancar di wajah semua orang, baik kecil maupun besar tua maupun muda laki laki maupun perempuan, semua terlihat dengan mimik wajah yang sama, garang, marah dan siap meledak.


Untuk sesaat keadaan menjadi begitu hening, seolah ada iblis yang lewatt sambil bermain lato lato.


Karena begitu hening, suara langkah seorang wanita terdengar begitu jelas, berjalan menginjak sebahagian tikar warga yang memang di gelar di jalan.


Dia menggendong satu anaknya yang terlihat dari usianya belum berhenti menyusu dan menuntun dua anaknya yang lain, yang masih kecil kecil.


Sampai di depan Haris, ibu itu bersujud simpuh di kaki Haris dan menangis pilu meminta maaf dengan begitu tulus.


"Maafkanlah kakak sekeluarga dek Haris, kakak dan suami kakak sudah mendapatkan balasan dan akibat perbuatan abangmu.


Kasihanilah kami dek Haris yang baik hati, anak anak kakak yang tidak berdosa ini belum makan sejak tadi sampai sekarang, tidak ada yang mau menjual apapun pada kami.

__ADS_1


Kakak tidak bisa pergi jauh, tubuh kakak sudah ngak kuat.


Semua badan kakak terasa sakit akibat menanggung kemarahan warga, sebahagian ibu ibu warga ikut menjambak dan memukuli punggung kakak.


Atas nama kemanusiaan, tolonglah kakak Ris, kakakpun tidak tahu menahunya perbuatan abangmu ini, tapi kami semua kena akibatnya.


Kakak cuma orang luar yang miskin, tidak punya kerabat di kampung ini, tolonglah dek...toloooooonnnggggg kakak."


Kedua anak wanita itu yang melihat ibunya menangis, dengan nalurinya yang polos jadi ikut menangis.


"Nawir...!"


"Ya bang."


"Coba cari di mobil apa ada makanan yang bisa dimakan dek."


"Di plastik biru itu dek Nawir di tempat duduk kakak, ada makanan dari hotel bawa kemari.


"Iya kak, bang sebentar Nawir ambil."


Setelah makanan di bawa, Haris membukanya pelan dan mendudukkan kedua anak kecil di depannya dengan pelan, lalu tersenyum manis dan berkata sambil menghapus kepala keduanya


"Makanlah nak, makan yang banyak."


Tanpa merasa malu karena begitu lapar, kedua anak itu juga langsung makan dengan lahap.


Diana mengambil satu tempat lagi dan memberinya ke wanita itu.


"Kakak juga makanlah kak"


Wanita itu memakan nasinya dalam keadan berladung air mata.


Emosi di hatinya yang melimpah membuat tubuhnya begitu bergetar, tidak mengira bahwa perlakuan yang jauh lebih lembut, justru dia terima dari korban langsung perbuatan suaminya.


Haris mengambil HP-nya dan terlihat menelepon seseorang dan berkata


"Lepaskan pemilik warung kopi dari desa saya itu pak, urus bagaimana caranya...!


Keluarganya sudah datang minta maaf."


"Baik tuan..!"


Terdengar suara menyanggupi dari seberang sana.


"Jadi kakak sudah saya maafkan, tidak ada dendam diantara kita.


Maaf karena masalah ini anak anak kakak, yang tidak bersalah jadi ikut menjadi korban.


Ini ada uang lima juta, bukan hasil nyembah setan lho kak, nanti kakak takut pula membelikannya takut jadi tumbal...!"


Belum selesai Haris bicara wanita itu menagis dengan merauang dan mengambil uang itu.


"Ngak ngak lah dek...! Kakak ngak yakin itu, itu cuma fitnah yang hanya dihembuskan oleh orang kampung sebelah karena iri, dan abangmu dengan bodohnya mempercayainya


Haris orang baik kakak jadi malu karena semua ini, terima kasih ya dek, terima kasih semuanya, kebaikan Haris ngak akan kakak lupa.


Kalau Haris minta kakak meninggalkan abangmu sekarangpun, kakak ngak akan ragu untuk pulang ke keluarga kakak."


"Itu tidak perlu kak, abang hanya sedang salah jalan, mungkin Haris kurang memperhatikannya dibanding warga yang lain selama ini, mudah mudahan setelah ini abang jadi orang yang baik.


Bapak ibu semuanya kita semua hapus semua kebencian dari hati kita yah, jangan lagi ada dendam kedepannya.


Biarkan kakak ini dan keluarganya hidup damai bersama kita sekarang


Saya tidak mau dengar ada berita perlakuan yang buruk lagi pada mereka, masalah ini sudah selesai sampai disini, kita semua bersaudara yang ada di desa ini.


Tolong kakak ini sudah sakit semua badannya, mungin ada tulang yang patah atau keseleo.


Jadi yang bisa ngusuk saya minta tolong kakak ini dirawat , agar kakak ini di kusuk sampai sembuh, masalah biayanya nanti saya yang akan menanggulanginya.


Seorang wanita yang memang dikenal ahli urut maju dan menyatakan kesediannya.


"Ya sudah ya kakak, jangan khawatir lagi, rumah kakak juga akan ikut dibangun baru nanti,sebab saya dengar sudah hancur karena kemarahan warga."

__ADS_1


"Huuu...uuuu.uuuuuuuu"


[menangis]


__ADS_2