
Baik Nawir maupun Andri sangat senang dengan kehadiran Haris.
Ini adalah hari yang sangat mereka nantikan, sejak mulai memutuskan untuk memegang stir mobil.
"Bang Haris!"
"Wah Nawir, cerah betul wajahnya hari ini hehe.
Gimana sudah lancar bawa mobilnya?"
"Bisalah bang."
"Mantap"
"Kalau Andri, sudah bisa juga?"
"Yakin bisa bang"
"Widihh paten bener ah."
"Ya udah kalian cari cari informasi mobil apa yang kalian suka yang di kisaran harga 200 jutaan, sudah bisa itukan?"
"Bisa kalilah baang!"
Kedua pemuda yang merupakan adik dari Haris dan Diana itu begitu semangat menjawab secara bersamaan pertanyaan dari Haris.
"Ok mantap."
Hari itu cukup panas, Haris merasa sangat gerah.
Sehingga dia lebih memilih untuk duduk di luar.
"Bang, kok ngak duduk di dalam?"
"Panas dek, sepertinya rumah ibu harus dipasangi AC deh."
"Duh yang udah biasa kena AC hehe."
"Nggak ini luar biasa panasnya, memang kelewatan."
"Oh mungkin karena mau hujan itu bang.
Ayolah bang masuk.
Nggak enak ayah, seperti di cuekin."
"Oh bapak sudah bangun?"
"Iya sudah dibangun, karena kita datang."
"Ya udah ayo kita masuk!"
"Assalamu 'alaikum."
"Wa 'alaikum salam warahmatulloh.
Masuk Ris kok di luar?"
"Iya pak, tadi sudah masuk ke rumah cuma gerah bawaan harinya, jadi keluar lagi hehe.
Bapak kok sampai dibanguni?
Padahal ngak buru buru."
__ADS_1
"Ngak apa apa, bapak juga sudah rindu sama Nurul."
"Adikmu sudah ngak sabaran mau dapat mobil baru tuh Ris."
"Ha..hahah iya pak, Haris sudah bilang biar mereka pilih sendiri mobilnya, anak mudakan beda seleranya."
Haris duduk di sofa yang ada di ruangan tamu.
"Nak Haris sudah tahu cerita tentang si Jhon..?
Ibu mertua Haris ikut berbicara.
"Sudah bu' kok ibu kok tahu tentang si Jhon?"
"Itulah cerita yang belakangan ini ramai dibicarakan orang orang di kampung ini Ris."
"Oh begitu ya bu?"
"Iya! Ibu tahu Haris dan Darman pasti bakal kesana, mengingat dia adalah teman dekat kalian.
Tapi ibu sarankan kalian bawa pihak berwajib, ada informasi dari istrinya dia sebenarnya tidak gila, tapi dibuat seolah menjadi orang gila."
"Lho ada informasi seperti itu bu?"
"Iya, makanya ibu khawatir kalian kenapa napa nantinya disana"
"Oh ya sudah, kalau begitu Haris pergi menemui keluarga si Jhon dulu kalau begitu."
Haris pergi menuju rumah mertua temannya si Jhon yang berada di ujung desa.
Ketika Haris tiba, penghuni rumah itu sedang duduk duduk di bawah pohon rambutan, yang ada di depan rumah itu.
Melihat mobil yang bagus meminggir dan berhenti di depan rumahnya, mertua Jhon memperbaiki posisi duduknya
"Eh... nak Haris selamat siang.
Kirain siapa, mobilnya bagus banget Ris
Mari masuk."
"Disini aja pak,bu'.!"
"Eh ngak bisa begitu dong, namanya tamu itu ya harus di hormati.
Ayo ayo walaupun rumah bapak jelek, setidaknya masih bisa untuk tempat kita duduk, mari mari nak Haris."
"Ah bapak seperti saya ini orang lain saja."
"Ya justru karena bukan orang lainlah, kita masuk."
Haris tidak bisa mengelak lagi dan terpaksa ikut masuk ke dalam rumah, walau cuaca yang cukup panas hari itu, sangat membuat tubuh terasa gerah.
Maaf kalau bapak terkesan memaksa nak Haris masuk, sebab bapak yakin kedatangan nak Haris ada hubungannya dengan keadan menantu bapak si Jhon bukan?"
"Iya pak makanya Haris datang, mau menanyakan seperti apa sebenarnya keadaan si Jhon sekarang."
"Ya karena itu kita bicaranya di dalam saja, agar tidak perlu di dengar oleh orang lain."
"Iya bapak betul pak."
Handphone Haris kembali berbunyi
[Panggilan masuk]
__ADS_1
"Ya Man."
"Kau dimana Ris, kami sudah dekat."
"Oh aku di ujung desa ini Man, kalian langsung kemari aja di rumah bapak Sannif mertua si Jhon, lagian mobilku nampak kok di pinggir jalan nantinya."
"Oh ya sudah kami akan segera sampai."
[Panggilan berakhir]
"Ah pak, jadi terpotong tadi, jadi seperti apa permasalahannya pak?"
"Hahh jadi ini sebenarnya ini masih merupakan praktek praktek feodalisme nak Haris.
Keadaannya persis seperti kita di desa ini100 tahun yang lalulah, kalau mendengar penuturan para orang tua tua kita terdahulu, yang dahulunya desa ini juga pola pikir masyarakatnya sangat feodal.
Hanya saja kita yang lebih dekat kepada jalan raya ini, lebih cepat untuk sampai pada pemikiran terbuka dan maju.
Berbeda dengan kita di desa ini, di desa si Jhon pemikiran feodal itu masih terjaga utuh, sehingga peraturan adalah peraturan si tuan tanah yang ada disana.
Nah dengan si tuan tanah itulah, si Jhon terjebak punya masalah nak Haris."
"Lalu bagaimana dengan cerita pemasungan, yang banyak dibicarakan banyak orang itu pak?"
"Ya itulah, buah dari pemikiran merasa paling berkuasa itu nak.
Si Jhon bersama temannya pergi menjala ke sebuah sungai, jadi mereka menemukan suatu tempat yang mirip seperti lubuk dan merekapun menjala disana.
Ada seseorang disana yang mengaku sebagai penjaga kebun yang melihat Si Jhon beserta temannya menjala di tempat itu
Orang itu tampak ramah baik dan sedikitpun tidak ada terlihat sikapnya, melarang atau memberitahu si Jhon maupun kedua temannya, untuk menjala di tempat itu.
Mereka begitu senang hari itu dengan tangkapan ikan yang cukupbanyak.
Tidak ada hal yang terasa aneh sama sekali, namun masalah datang ketika baru saja mereka masuk ke desa.
Mereka tiba tiba di kepung dan dikeroyok oleh sekelompok orang, karena di tuduh mencuri ikan si tuan tanah dan dikurung di sebuah gubuk.
Merasa tidak bersalah si Jhon berontak dan melawan, sehingga terjadilah baku hantam yang kedua kalinya.
Jumlah yang sejak awal memang tidak seimbang, ditambah si Jhon beserta temannya juga sudah lelah karena seharian menjala ikan, mereka kalah dan ketiganya di pasung lalu disebut telah gila sampai sekarang itu sudah ada satu bulan.
Semua itu diketahui saat putri bapak datang kesana mengantarkan makanan buat si Jhon, lalu semua diceritakan oleh si Jhon pada putri bapak.
Yang paling menyakitkan saat akan mengantarkan makanan ke esokan harinya, putri bapak hampir saja diperkosa beramai rama,i oleh para penjaga yang hari itu memang datang kesana.
Istri teman si Jhon bahkan sempat di lecehkan di tempat itu, beruntung masih bisa melarikan diri dan menghilang masuk ke kerumunan, yang saat itu sedang ada pekan kecil disana,
Sejak saat itu yang menqgantarkan makanan adalah anak anak, itupun mengintip intip kapan para bawahan si tuan tanah itu, tidak ada disana.
Dan tiga hari yanga lalu utusan si tuan tanah datang kepada istri ketiganya yang ditahan, bahwa suami mereka akan dilepaskan dengan catatan masing masing mereka bersedia menemani si tuan tanah tidur selama seminggu, kan gila itu si badj!ngan itu.
Mendengar itu baik Haris maupun Darman bergetar hebat, menahan emosi yang tertahan yang tak bisa dilepaskan.
Istri si Jhon menangis dan meraung mengingat semua hal yang membuatnya trauma, juga khawatir keadaan suaminya yang telah dua hari, tidak diantar makanannya
Ibu mertua si Jhon juga menangis dan tiga orang anak si Jhon juga demikian.
"Brengsek itu orang yang sama kemaren yang menggangu temanku mengajar.
Kali ini akan kul!bas habis bandj!ngan itu."
Haris begitu emosi kali ini dan bertekad menghabisi dominasi pria sumber masalah itu.
__ADS_1