
Darman dan istrinya sudah masuk ke hotel, Haris turun untuk menyapa mereka dan beramah tamah pada sahabat kentalnya ini.
Very kamu dan bapak jemput anak anak abangmu si Darman ya..!
"Siap pak direktur."
"Sekalian nanti mampir sebentar ya, lihat perkembangan pembangunan Villa di desa."
"Iya pak direktur, siap."
"Kamu mau istirahat dulu atau bagaimana man?"
Mana tahu kau mau merokok, disini ada tersedia khusus ruangan merokok Man, ngak boleh merokok di sembarangan tempat seperti diluaran, agar pengunjung lain tidak terganggu."
"Kita cari kedai pinggir jalan yok Ris, sekalian cerita."
"Boleh juga, ya sudah permisi sama istrimu dulu, agar nanti jangan kecarian."
Darman masuk ke kamar dan berpamitan pada istrinya, untuk keluar.
"Bang ini benar hotelnya Haris dan Diana?"
"Iya mereka kayakan dek?"
"Iya bang, kita disini berapa hari bang?"
"Mungkin kita akan disini 5 sampai 6 minggu, atau sampai kau sembuhlah dek kata Haris.
Dek, abang sama Haris mau keluar dulu ya, mau cerita beberapa hal sekalian mau merokok disini ngak boleh merokok di sembarang tempat , soalnya."
"Iya bang ada ibu kok."
"Bu Darman pergi dulu ya bu!"
"Iya, jangan lupa tentang rumah itu Man, bilangkan ke Haris."
"Darman belum berani membahas itu bu'.
Lagipun Haris sudah mengatakan kalau tunggu Siti sehat dulu bukan?
Darman pergi dulu, nanti Haris terlalu lama menunggu."
Darman keluar dari kamarnya.
Baru saja dia dan Haris akan melangkah pergi, tiba tiba ibu mertua Darman keluar dan memanggil Haris.
"Nak Haris....!"
Haris dan Darman menoleh ke belakang.
"Ya bu."
"Iya bu'.
Ibu butuh sesuatu?"
Haris mendatangi Ibu mertua Darman, ke dekat pintu kamar mereka.
"Ah.. begini lho nak Haris.
Kitakan ngak mungkin lama lama disini dan Siti bisa semangat begini, itu disebabkan Darman sudah menjanjkan rumah buat dia.
Menurut ibu alangkah baiknya selagi disini, rumah mereka sudah dikerjakan.
Kalau bisa pas nati keluar dari sini, sudah masuk rumah baru.
Bagaimana menurut nak Haris?"
Darman dan istrinya yang mendengar itu, begitu malu atas prilaku ibunya.
Namun Haris malah sebaliknya.
"Ide bagus bu, cuma itukan belum ada tanahnya, apa ibu tahu ada orang yang mau jual tanah?"
"Ada nak Haris.
Tanah yang persis disamping ibu, mau di jual oleh pemiliknya."
"Sempurna! Kalau begitu nanti ibu telepon bapak, agar menanyakan harga tanah itu ya bu!".
"Iya nak, nanti ibu telepon."
"Ya sudah kami pergi dulu ya bu."
__ADS_1
"Ya.. hati hati nak Haris."
Haris dan Darman berlalu dari tempat itu dan turun ke lobby hotel.
"Abang...!"
"Ya Kirana?"
"Ayah dan ibu bakal jadi datang hari ini."
"Oh.. baguslah kalau begitu, jangan bolehin pulang dulu yah.
Abang mau cerita panjang lebar dan banyak hal nantinya.
Tapi sekarang abang masih ada urusan"
Wanita wanita cantik dari departemen Front office, menutup mulut mereka dengan telapak tangannya masing masing, terkejut dengan perkembangan terbaru ini, sapaan Kirana yang biasanya memanggil Haris direktur berubah menjadi abang.
Haris yang faham akan isi pikiran para pegawainya memeluk Kirana dan berkata "Hei... kalian jangan berpikir macam macam, Kirana ini adalah adik angkatku sekarang dan orang tua kami akan datang, jadi kami akan bercerita banyak hal "
Kirana yang dipeluk Haris gelagapan, darahnya berdesir dan dia menjauhkan tangannya tak mau membalas dekapan Haris, sehingga seolah dia hanyalah seorang adik yang sedang dimanja kakak laki lakinya,.
Berbanding terbalik dari itu, di dalam hatinya Kirana merasakan hal berbeda, yang jauh daripada apa yang terlihat.
"Oh abang Haris kau hanya akan menyiksaku dengan semua ini.
Lepaskan aku, tidak tidak jangan lepaskan! Aku masih ingin berada di dekatmu.
Ayah ibu kenapa semua jadi begini.?"
Kirana terus berperang dalam hatinya.
Kini para wanita itu juga terkejut dengan keberuntungan Kirana, yang diangkat sebagai adik oleh direktur mereka.
Mereka tidak sadar kalau Kirana yang dipeluk Haris di depan orang banyak, justru merasa jiwanya bergetar, dia tidak pernah sedekat itu pada pria setelah dewasa, kini dadanya menempel di dada bidang milik Haris untuk kedua kalinya.
Wanita itu bisa mencium aroma parfum kwalitas tinggi milik Haris yang membius dan seolah membawanya terbang jauh ke angkasa.
Dia tidak tahu apakah hubungan ini akan menjadi rahmat, atau siksa baginya.
Kirana sudah jatuh cinta untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pada seorang pria yang salah yakni pria yang mengangkatnya sebagai adik angkatnya.
Sebelumya dia adalah wanita yang sangat sulit didekati oleh pria manapun, kalau terkait hubungan khusus semacan ini.
"Ah... abang Haris kau telah dua kali melewati tembok batasku, aku sudah terlanjur mencintaimu, maafkan aku kakak Diana, oh Tuhan bagaimana ini.
aku mencintainyaaaaaaaa..........!!!
Kirana terus berteriak dalam hatinya dan berjuang berperang untuk mempertahankan kesadarannya, sampai kemudian dia menyadari kalau Haris sudah melepaskan pelukannya.
"Abang akan kemana?"
"Oh mau jalan jalan bentar dengan Darman, ini teman yang abang ceritakan kemaren."
"Oh Hai bang Darman."
"Ya dek...?
Siapa Ris?"
"Kirana bang."
Kirana merapatkan tangannya di dada, pertanda hormat.
"Aku hanya ingin disentuh oleh bang Haris saat ini bukan pria lain.
Kirana membathin dalam hatinya.
"Ya adek Kirana ya, salam kenal."
"Salam kenal kembali bang."
"Ya sudah kita pergi Man, oh ya Kirana, di hotel kita ini ada kenderaan yang buruk ngak?
Sepeda motor lama gitu?"
"Oh tadinya masih banyak sih bang pegawai kita yang pakai, cuma semenjak kenaikan gaji 100% itu, adek lihat semua sudah pakai yang baru sekarang."
"Oh begitu ya.! Sayang sekali?
"Memangnya buat apa bang?"
"Ah lagi pengen naik sepeda motor yang begitu aja sih hahahahh."
__ADS_1
"Abang lucu yang lain suka yang baru abang malah suka yang lama."
"Ha..hahaahahh, mau bagaimana lagi dek kalau suka itukan ngak harus sama seperti orang orang.
Kalau suka ya suka aja, ngak perduli orang mau bilang apa."
"Ya benar bang seperti aku yang mulai suka padamu, aku ngak akan perduli pada yang lain.
Tapi kenapa kau tidak menyukaiku saja bang?
Kenapa kau malah menjadikan aku adikmu?."
Pikiran Kirana terus menjalar dan hatinya terus berkata kata.
" Hei kok malah bengong?
Masa segitunya sih, herannya?"
"Ah abang lucu sih.
Tapi dimana ya, ada sepeda motor begitu? oh bentar bang."
"Hendri.....!"
"Ya bu' manager."
Kirana memanggil seseorang karyawannya yang lewat.
"Kamukan tinggal sekitar sinikan Hendri, kamu tahu ngak seseorang yang punya sepeda motor yang buruk ?"
"Ada bu, dirumah saya."
"Tapi ngak rusakkan?
Ini buat direktur lho, jangan pula nanti direktur sampai mendorong."
"Oh ngak bu' walau kereta lama tapi masih Topcer.... heheh."
"Bagus bawa kemari ya."
"Iya bu, harap tunggu sebentar."
Pria itu segera pergi kerumahnya menjemput sepeda motor buruk milik keluarganya
"Aduh Ris, bentar ya tasku yang kau berikan kemaren, tadi asal aku letakkan saja, nanti ibu lihat pula bisa gawattt..!"
Darman berjalan cepat sebelum Haris menjawab.
Sambil menunggu Haris duduk di bangku taman, Kirana berjalan ke arah mobil Bugatti milik Haris, yang terparkir di parkiran khusus direktur.
"Bang..! Mobil abang bagus ya.!"
" Kenapa kamu ingin make?"
"Kirana ngak bisa bawa mobil bang."
"Lho! kok General manager, ngak bisa bawa mobil?
Belajar dong.
Kok ngak belajar bawa mobil selama ini.?"
"Kirana takut bang.
Takut dekat dengan laki laki."
"Ha..hahaah... iya juga sih, bahaya kalau buat wanita yang cantik sempurna seperti kamu, belajar bawa mobil ke sembarang orang.
Ya udah, nanti abang yang ajarin.'
"Emang adek cantik bang?"
"Cantiklah kalau bukan adek abang, barangkali abangpun akan suka."
"Kenapa abang ngak sukain Kirana aja.?"
"Ha...hahahahaahh.. kamu ini, sudah ah."
Haris menyentuh hidung Kirana dengan lembut dan kembali ke tempat duduknya semula.
"Tapi benar ya bang, abang janji akan ajari Kirana bawa mobil."
"Bener..! cerewet amat sih hahahhah."
__ADS_1
Tak lama setelah Darman datang, pria yang di tugaskan Kirana mencari sepeda motor buruk juga datang.
Haris bersama Darman langsung pergi ke sebuah warung di puncak perbukitan, di sebuah desa pinggiran kota.