
"Tuan selamat pagi Tuan. Apakah Tuan sudah bangun..?"
Mendengar suara Wulan yang memanggil dari balik pintu di luar kamarnya, Haris menyahut dan segera berjalan untuk membukakan pintu.
"Ya ada apa Wulan ?
Kenapa kamu pagi-pagi begini sudah datang kemari..?"
"Saya diminta oleh Tuan Wicaksono untuk memanggil Tuan bersama Nyonya berdua, semua orang sudah menunggu di ruang makan Tuan. Kata beliau lebih enak kalau sarapan bersama."
"Oh begitu. Terima kasih Wulan. Sebenarnya tadinya kami sudah akan turun tetapi ternyata kamu lebih cepat datang kemari, pergilah lebih dulu, katakan pada semuanya bahwa sebentar lagi kami akan turun, katakan kakakmu tidak bisa terlalu buru-buru."
"Baiklah Tuan,saya paham. Saya akan menyampaikan kepada semuanya."
Wulan lalu pergi meninggalkan ruangan kamar besar milik Haris dan menuruni anak tangga untuk tiba ke lantai bawah yang menjadi tempat ruang makan keluarga.
"Itu tadi siapa Bang..?"
"Oh itu Dek Wulan, katanya dia disuruh sama papa untuk menjemput kita kemari Dek, agar sarapan bersama.
Papa dan yang lainnya merasa nggak enak kalau tidak sarapan bersama kita."
"Oh kalau begitu ayo kita segera turun yuk Bang. "
"E...eh tidak usah buru-buru jalannya, perlahan-lahan saja."
Ayo kita turun sekarang. Oh ya Dek Nurul mana Adik Diana..?"
"Nurul sama Ibu, Bang. Nurul sekarang karena neneknya juga ada di sini, malah lebih suka sama nenek dan kakek daripada ikut sama kita."
"Begitu ya, bagus juga itu Adek jugakan jadinya tidak terlalu berat untuk menjaga Nurul dengan keadaan Adek yang seperti ini.
Abang tadi malam sangat pulas lho tidurnya, apakah ada di antara kalian yang bangun kemarin pada saat malam.?
Adek Kirana bangun nggak kemarin malam..?"
"Enggak Bang, sama kok. Kirana juga tertidur lelap. Kak Diana juga tidur pulas, tadi kami sudah membicarakan hal itu, yakan Kak..?
"Iya haha lelap."
"Jadi ceritanya memang nggak ada yang terbangunlah kita ya..? TV masih nyala yang nonton sudah pada molor.
Ya sudah yuk, semua orang sudah menunggu."
Haris dan kedua istrinya lalu dengan perlahan turun dari lantai atas villanya menuju ruangan makan yang ada di lantai bawah, tempat semua orang sudah menunggu.
Saat sampai Diana menyapa semua orang, yang sejak tadi sudah menunggu mereka itu
"Pagi semuanya..!"
"Pagi juga Diana Kirana dan juga Haris."
Pak Wicaksono ayah dari Kirana menjawab dan membalas sapa salam dari Diana istri Haris
"Wah kenapa semuanya tidak sarapan duluan saja, masa masih menunggu dari tadi..?"
"Kami barisan kakek dan nenek ingin sarapan bersama semua cucu-cucu kami, makanya tunggu kalian saja ha..ha..ha."
"Ah papa bisa saja..!
Ya sudah, ayo kita sarapan semuanya."
Akhirnya semua orang kembali menikmati hidangan dan minuman yang sudah ditata rapi dan terhidang di atas meja besar, tempat semua orang bisa mengambil apa yang mereka mau.
Sambil menikmati sarapannya masing-masing anggota keluarga Haris itu kembali bercerita tentang berbagai hal.
Hati Diana sangat senang melihat semua itu dengan bibir yang berhiaskan dengan senyuman manis, Diana menatap kepada Haris.
"Bang keluarga kita semakin bahagia dan harmonis saja ya, kehidupan kita sekarang semakin semarak, apalagi saat para orang-orang tua kita bisa hadir dan tinggal bersama kita disini.
Aku suka keadaan ini Bang, semoga kita selalu bersama untuk waktu yang lebih lama."
"Ya kita hanya perlu mengikat semua pemberian Tuhan ini dengan rasa syukur Dek, ayo habiskan sarapanmu."
Untuk beberapa lamanya keadaan menjadi cukup damai dan tenang serta bahagia bagi keluarga Haris.
Tidak ada hambatan maupun rintangan atau gangguan yang berarti yang diterima oleh Haris dan keluarganya, waktu demikian itu berlangsung selama beberapa bulan ke depannya.
Baik Diana maupun Kirana sudah melahirkan putra dan putri yang sangat cantik, Diana melahirkan anak laki-laki yang sangat tampan rupawan.
Sedangkan Kirana dikaruniai sepasang anak kembar yang merupakan anak laki-laki tampan dan anak perempuan yang sangat cantik dan manis.
Kehadiran 3 orang anggota keluarga baru Haris itu, semakin menambah semarak dan melengkapi kebahagiaan, serta menambah semangat bagi semuanya.
"Tuan. Selamat pagi Tuan..!"
"Wah Manager Sudharta, selamat pagi, kenapa Manager tidak memberi kabar, kalau akan datang."
"Maaf tuan saya sengaja tidak memberitahu Tuan untuk memberikan kejutan, bahkan tadi sewaktu di depan, saya sudah minta tolong ke Nando, mantan bawahan saya di hotel untuk tidak memberi tahu kedatangan saya.
Kalau saya tidak kenal dengan Nando, sepertinya sangat sulit masuk kemari ya Tuan..?"
"Haha ya begitulah keadaannya sekarang Pak Manager Sudharta, Tapi itukan untuk orang yang tidak dikenal, tentu berbeda kalau untuk sesama kita, pak Manager.
Ayolah masuk, kelihatannya ada sesuatu hal yang begitu ingin Anda sampaikan Manager Sudharta.!"
"Ah Tuan memang paling bisa membaca pikiran saya. Oh ya Tuan.! pak Anthony, Pieter, Herlambang Budi dan Juanda juga Rixon menitipkan salam untuk saya sampaikan kepada Anda, katanya Tuan sepertinya sudah lupa kepada mereka."
"Hahaha jadi teman-teman kita itu sudah sempat berpikir begitu ya..?
Tidak juga, saya tidak pernah lupa kepada yang namanya teman, hanya saja memang beberapa saat belakangan ini begitu banyak kegiatan dan kesibukan, sehingga belum terpikir kesana.
Katakan saja ada saatnya nanti kita semua akan bertemu lagi. Oh ya apa sebenarnya yang ingin Manajer sampaikan.?"
"Ah bagaimana mau memulainya ya Tuan.? Sayapun bingung.
Jadi begini Tuan, sayakan punya mertua di daerah kota P, saya punya adik ipar yang merupakan adik kandung dari istri saya.
Selama ini adik ipar saya itu memang sudah berkecimpung di dunia perpolitikanlah ceritanya Tuan, lalu kali ini dia punya niat yang sangat kuat untuk maju menjadi salah satu kandidat bakal calon walikota.
Ya sebagai keluarga, kami semua tentunya hanya bisa mendukung, sembari memberi nasehat yang baik. Tetapi yang namanya orang tua tentu keinginan untuk mendukung anaknya itu jauh lebih besar dari saya yang cuma Abang iparnya ini Tuan, selain itu saya juga cukup realistis.
Beberapa hari belakangan ini, mertua saya itu terus meminta tolong kepada saya untuk, berbuat apa yang bisa saya perbuatlah Tuan, baik itu menghubungi para kolega, teman termasuk Tuan sebagai pimpinan saya di pekerjaan.
Intinya ya kami sekeluarga melalui saya yang mewakilinya datang untuk menengadahkan tanganlah Tuan, untuk meminta dukungan, bagaimana caranya agar adik ipar saya ini bisa ikut berjuang dalam kontestasi pencalonan kali ini."
"Hmmm...! Ini berita yang bagus Pak Manajer sudharta."
"Iya, tapi saya sebenarnya kurang yakin Tuan..! Bagaimana ya Tuan, selain dari cuma punya ilmu dan pengalaman yang baik dalam berkarir di instansi pemerintahan selama ini, adik saya ini tidak punya apa-apa Tuan.
Jaringannya juga tidak banyak, orang-orang yang dia kenal juga bukan dari kalangan atas, tapi entah kenapa dia begitu yakin pasti ada jalan dan merasa kalau tidak jadi pimpinan sepertinya tidak akan bisa merubah sistem yang ada sekarang.
Intinya dia bercita-cita untuk merubah kota P menjadi lebih baiklah Tuan.
Bagaimana kira-kira menurut Tuan..?"
"Wah saya sih sama seperti Manajer akan turut mendo'akan dengan do'a terbaik."
"Kalau boleh tahu berapa mereka yang akan ikut dalam kontestasi ini..? Soalnya saya ini memang terbilang malas juga Pak Sudharta mengikuti hal-hal yang berbau politik begini.
Saya ini orangnya simpel dan sederhana, tidak mau terlalu ambil peduli dengan yang namanya urusan-urusan politik, saya hanya sibuk jadi pengusaha membangun bisnislah istilahnya."
"Iya saya sangat paham itu Tuan, saya juga begitu. Tapi ya namanya jurusan tiap-tiap orang itu berbeda ya Tuan. Adapun adik ini, itulah memang jurusannya, di sanalah dia rasa jalan hidupnya Tuan.
__ADS_1
Terkait pertanyaan Tuan, kalau tidak salah saya dengar mereka yang akan maju itu ada tiga kandidat bakal calon Tuan.
Salah satunya adalah yang saat ini sedang menjabat, kemudian adik saya lalu ada salah satu calon lagi, kalau saya tidak salah merupakan kerabat dari seseorang yang berasal dari daerah ini juga Tuan.
Ada seseorang yang katanya kampungnya dari wilayah ini, seorang pejabat wakil rakyat juga saat ini tetapi saya tidak tahu persis itu adik atau abangnya pejabat yang berasal dari daerah ini.
Tapi yang jelas saudara kandungnyalah yang akan ikut maju kali ini dan selama ini saudara kandungnya itu juga memang menjabat di pemerintahan."
"Oh jadi begitu ya, saya juga tidak tahu siapa yang manajer sebutkan itu."
[Sistem]
Tuan. Sistem merasa pejabat yang dimaksud itu adalah orang yang merupakan kerabat dari paman pria yang dulu menyekap dan juga menganiaya teman tuan yang bernama si Jhon itu."
"Oh ya.?
Ya aku jadi ingat sekarang, iya betul.
Betul sekali sistem. Ada seorang pejabat dari wilayah kita ini tepatnya dari desa yang berada di atas gunung sana.
Hmm... Jadi sepertinya mereka sangat ingin untuk bangkit lagi."
[Sistem]
"Tuan sistem rasa kali ini kita harus mendukung adik, dari salah seorang Manager Hotel milik Tuan ini."
"Apakah menurutmu itu perlu sistem..? Soalnya aku tidak begitu suka dengan hal-hal yang berbau politik ini."
[Sistem]
"Tuan kita tidak mesti ikut terlalu jauh, kita hanya perlu membantu dan mendukung dari segi pendanaan saja. Ini akan menjadi misi Tuan berikutnya, sistem akan menyediakan dana tak terbatas untuk terlaksananya misi ini.
Selain itu Tuan juga masih perlu untuk meningkatkan sistem kepada tingkatan super mewah dan Tuan memerlukan banyak poin untuk itu, semakin besar suatu misi maka akan semakin besar juga poin yang Tuan dapatkan dari sistem.
Seperti poin pembangunan rumah warga di desa P kemarin, apalagi misi kali ini lebih besar , dimana cakupan wilayahnya adalah berupa sebuah daerah yang dibawahi oleh seorang walikota begini Tuan."
"Wah jadi artinya mau tak mau aku harus terlibat kali ini sistem.?"
[Sistem]
"Ya benar sekali Tuan. Menurut saya itu tidak ada salahnya dan bukan juga merupakan sesuatu hal yang buruk Tuan.
"Ya baiklah sistem kalau begitu kaulah yang menentukan."
[Sistem]
Baik Tuan kalau begitu sistem telah terpicu.
'Ting' misi berikutnya yang akan Tuan lakukan adalah, mendukung segala bentuk pendanaan, dalam kontestasi pemilihan walikota kali ini."
"Ya aku bisa berkata apa lagi sistem..? Tidak ada ucapan lain selain menerima misi itu.
Apalagi kalau sudah kamu yang memutuskan sistem."
[Sistem]
"Tenang saja Tuan, ini juga karena ada hubungannya dengan kebaikan Tuan dan juga keluarga Tuan.
Apabila Adik manajer Tuan berhasil menjadi pemimpin nomor 1 di kota P, tentunya yang pertama akan banyak hal positif yang bisa kita raih, khususnya dalam hal yang berkaitan dengan pengembangan bisnis kedepannya
Yang kedua ini juga menutup harapan bagi musuh untuk bisa berbuat lebih jauh kepada kita.
Ingat yang kita bicarakan sebelumnya Tuan, kita harus memastikan musuh-musuh kita tidak berkutik di hadapan kita Tuan."
"Iya aku paham dengan itu sistem.
Kalau begitu aku akan menyatakan dukungan kita ini dan kita sudahi dulu pembicaraan ini sistem."
[Sistem]
"Tuan kenapa saya melihat Tuan sepertinya sedang melamun.?"
Manager sudharta yang melihat sikap Haris tidak sabar untuk tidak menanyakan hal itu, dia sedikit merasa kalau Haris sedang mempertimbangkan apa yang dia sebutkan sebelumnya, namun begitupun dia masih merasa kurang pasti, karenanya dia ingin memastikannya dengan bertanya.
"Hmmm... Manajer Sudharta.! Apakah kamu yakin bahwa adikmu ini adalah orang yang baik.?"
"Saya yakin dengan itu Tuan. Sepanjang yang saya kenal dan yang saya tahu, bukan hanya karena dia adik saya tapi memang karena dia itu adalah orang yang baik.
Disamping itu teman-temannya juga mengenal adik ipar saya ini, sebagai sosok yang baik.
Kalau boleh tahu kenapa Tuan menanyakan hal itu.?"
"Bukan apa-apa. Saya ini orang yang sangat menghargai kebaikan, Kalau dia benar-benar baik seperti yang Manager katakan, walaupun saya sebenarnya orangnya tidak terlalu suka dengan politik, saya siap kok membantunya.
Tapi saya tidak bisa berbuat banyak hal, paling saya hanya akan membantunya dari segi pendanaan saja."
Mendengar kalimat dari Haris, Sudharta merasa beban yang di pundak dan kepalanya yang diberikan oleh mertuanya seolah-olah telah lepas seluruhnya.
Kalau bukan karena hendak menjaga sikapnya di depan Haris, hampir saja dia melompat karena begitu kegirangan.
"Tuan benarkah Tuan mau membantu demikian..? kalau begitu saya mewakili keluarga untuk pertama kalinya dan lebih dahulu mengucapkan banyak terima kasih Tuan.
Saya akan menyuruh adik saya itu untuk datang menghadap Tuan, bila perlu bapak mertua saya juga akan datang kemari menemui Tuan dan berbicara tentang banyak hal, agar Tuan menjadi lebih yakin."
"Ah itu sebenarnya tidak begitu perlu Pak Sudharta, sebagai salah seorang manajer di hotel milik saya.
Tentunya saya kenal betul siapa Pak Sudharta dan saya yakin apa yang Pak Sudharta katakan."
Akan tetapi kali ini saya yang memohon Tuan. Saya mohon Tuan sudi menyisihkan waktu untuk berkenan menemui mereka, sebab agak sulit juga bagi saya untuk menjelaskan kalau Tuan tidak berkenan menemui mereka."
"Ya baiklah, kalau memang itu persoalannya silakan saja, pintu terbuka lebar bagi Pak Sudharta dan keluarga, tapi jangan Pak Sudharta mengira saya belum yakin, karena terus terang saja yang saya kenal itu adalah Pak Sudharta kalaupun saya akan mengenal mereka itukan karena dari Pak Sudharta.
Jadi saya sebenarnya sudah cukup yakin, tapi seperti yang sudah Manager katakan saya juga maklum, kalau begitu nanti di waktu-waktu senggang bawa saja mereka kemari, namun
sebelumnya Pak Sudharta harus menelepon menghubungi saya terlebih dahulu, jangan seperti ini tiba-tiba secara mendadak datangnya."
"Iya Tuan, saya minta maaf soal kedatangan kali ini, tapi ini murni memang karena saya ingin mengejutkan Tuan."
"Ya sudah kalau begitu kita hentikan pembicaraan soal itu, saya ingin bercerita tentang sudah seperti apa perkembangan hotel."
"Baiklah Tuan. Akan saya jelaskan."
Mendengar Haris yang telah mengatakan hal itu, Sudharta kemudian berhenti membicarakan soal pencalonan adiknya dan tanpa banyak ditanya tentang berbagai hal, Sudharta lalu menjelaskan seluruh pencapaian-pencapaian serta target berikutnya yang ingin dia raih sebagai salah seorang Manajer di hotel super mewah bintang 5 milik Haris, yang ada di kota M yang merupakan ibukota provinsi itu.
Perbincangan mereka berjalan beberapa jam, kemudian merasa tidak ingin banyak menyita waktu Haris, Sudharta pamit untuk permisi pulang dan Harispun mempersilakannya.
"Tuan.!"
"Wilson. Ada apa.?"
"Begini Tuan.
Tadi saya dihubungi oleh Albert, katanya besok kita ada jadwal pertemuan bulanan di kantor keamanan pusat, apa Tuan bisa hadir..?"
"Ya. Katakan saja kita akan hadir."
"Baik Tuan."
"Oh ya Wilson, apa kau melihat Nando dan very..?"
"Kalau tidak salah mereka berdua, ada di balai usaha perikanan warga Tuan.
Apa saya harus memangil mereka Tuan.?"
__ADS_1
"Oh tidak usah, kita kesana saja bersama Riston, kebetulan aku juga sejak acara pembukaan 6 bulan lalu, aku belum penah kesana.
Ayo panggil Riston agar kita kesana."
"Baik Tuan."
Haris, Wilson dan Riston, serta Amanu juga Halim pergi menuju lokasi usaha perikanan warga yang lokasinya sebenarnya bisa di tempuh berjalan kaki itu.
Tapi Haris tetap memilih mengendarai mobil.
"Wah tempat ini semakin teduh saja."
Haris merasa Takjub dengan penataan Tumbuhan di sekitar rumah sederhana, yang merupakan tempat berkumpul warga di balai usaha perikanan tersebut.
"Ah Tuan besar datang, kenapa tidak memberitahu kami terlebih dahulu, mari Tuan kita masuk dulu untuk duduk sambil minum kopi."
"Ya. Bagaimana semuanya pak Runggik..?
Apa semuanya baik-baik saja.?"
"Semuanya baik-baik saja Tuan. Tidak ada masalah, seluruh anggota kita juga semakin kompak dan sampai saat ini tidak ada sedikitpun tampak perselisihan."
"Ya baguslah, itu yang paling utama yakni kebersamaan. Kalau kita akur tidak ada pertengkaran dan perpecahan, maka rezekipun akan mengalir dengan deras.
Saya senang mendengarnya."
"Mari masuk dulu Tuan."
"Ayo duduk Bos."
"Wah ada Tuan besar rupanya.
Ayo teman-teman mana kopi untuk Tuan besar kita.?"
Semua warga yang merupakan anggota Balai perikanan yang hari itu terkena jadwal rutin yang secara berkala bergantian untuk merawat dan juga menjaga usaha perikanan mereka, tampak begitu antusias menyambut kedatangan Haris.
Wajah semua orang begitu berseri, menyambut sosok yang merupakan pahlawan ekonomi keluarga mereka itu.
Tanpa diminta beberapa warga kemudian mengambil beberapa ekor ikan dan udang jenis udang Tiger berukuran super kemudian secara sigap dan juga cekatan memanggang ikan dan udang di halaman rumah sederhana itu, untuk disajikan kepada Haris.
"Sambil bercerita silakan dinikmati Tuan, ini adalah ikan yang baru saja kami ambil dan kami panggang serta udang yang merupakan komoditas super yang kita miliki Tuan."
"Wah niatnya tadinya hanya mau melihat-lihat, ternyata sampai di sini disambut dengan rezeki seperti ini ha..ha..ha.
Apa tidak merugikan nih kedatangan kami kalau begini..? Nanti berkurang pula hasilnya."
"Ah tidak merugikanlah Tuan, berapalah itu Tuan, dibanding apa yang Tuan berikan kepada kami."
"Iya Bos Haris, sudah wajar Bos juga ikut merasakannya, bukankah ini semua juga milik Tuan."
"Benar Tuan, ayo Tuan silakan Tuan dinikmati, saya tidak tahu apa hasil panggangannya itu sebagus yang dipanggang oleh si Jhon yang memang sudah terkenal di desa kita, tapi setidaknya ada bahan cemilanlah Tuan sambil bercerita hahah."
Pria yang memanggang ikan itu dan beberapa warga anggota Balai usaha perikanan lainnya, saat mengatakan hal itu dan ketika mempersilakan Haris untuk mencicipi, sangat berharap Haris merasa senang dengan apa yang mereka sajikan hari itu.
"Baiklah kalau begitu saya tidak akan ragu-ragu lagi. Ayo ayo semuanya, temani saya memakan ini, tidak mungkin ikan sebanyak ini saya sendiri yang menghabiskannya bukan..?"
Ini begitu banyak ayo sambil sambil cerita kita semuanya harus memakan ini, Wilson, Riston, Halim dan Amanu kalian juga harus ikut ayo makan."
"Wah terima kasih Tuan."
Dengan tanpa merasa ragu semua orang ikut makan bersama Haris.
Mereka semua yang hadir, bercerita tentang banyak hal, terkait usaha perikanan yang sedang digalakkan oleh Haris melalui warga desa S, yang merupakan Desa mertuanya itu.
"Dari semua cerita yang aku dengar aku menangkap kalau usaha perikanan yang sedang kita galakkan ini cukup berhasil, tetapi kalau memang benar ada kecemburuan dari warga lain yang tidak ikut menjadi anggota karena keterbatasan tempat, sepertinya sudah wajar untuk kita mencari tempat lainnya."
"Apakah maksud Tuan akan membuat lokasi lainnya, Tuan Haris.?"
"Iya itu yang aku maksud. Kalau memang ada lahannya agar kita bangun kembali yang baru, sebab sejak awal kita mendirikan usaha ini, bukan untuk memilih dan memilah orang-orangnya.
Aku benar-benar ingin semua pria atau kepala rumah tangga yang ada di desa kita ini, bisa mendapatkan income atau pendapatan yang akan menaikkan keadaan ekonomi keluarganya dari usaha ini."
"Kalau begitu Tuan, sepertinya tanah yang berada di seberang parit pengairan sawah itu bisa kita bebaskan Tuan.
Saya sudah pernah cerita dengan pemiliknya, katanya kalau untuk usaha perikanan, siapa tahu kalau memang kita masih mau mengembangkan usaha perikanan lagi, dia bersedia melepas lahannya dengan catatan dua anggota keluarganya bisa masuk menjadi anggota usaha perikanan ini."
"Wah jangankan dua anggota keuarganya, target kita nantinyakan agar semua warga bisa ikut dalam usaha ini.
Kalau begitu Pak Runggik tanyakan saja kepada pemiliknya, berapa harga yang dia minta untuk melepaskan lahan ini, supaya kita langsungkan pembuatannya dalam Minggu ini juga.
Karena makin cepat makin baik.
Agar dia lebih tertarik katakan saja 4 anggota keluarganya boleh jadi anggota usaha ini, dengan catatan ke empat orang itu sudah punya rumah tangganya masing-masing."
"Wah makin mantap itu Tuan. Saya yakin dia tidak akan sanggup menolak, kalau begitu saya akan menanyakannya, mungkin nanti malam kami akan bertemu di kedai Kules, atau kalau perlu saya akan bersengaja datang ke rumahnya."
"Sepertinya bersengaja datang ke rumahnya itu lebih bagus Pak Ruggik, supaya pembicaraannya bisa lebih maksimal dan tidak begitu banyak didengarkan orang lain."
"Baiklah Bos, kalau begitu saya akan ke sana nanti."
Haris dan 4 pengawalnya serta Nando dan Very yang sudah lebih dahulu ada di sana, bertahan di tempat itu sampai sore hari.
Suasana yang sejuk pemandangan yang indah serta mata yang dimanjakan dengan berbagai jenis ikan usaha warga, yang bergerak lincah kesana kemari, benar-benar membuat Haris dan keempat pengawal setianya itu betah berada di tempat itu
Sejenak Haris terpikir untuk membuat kolam yang sama, di salah satu sudut halaman belakang Villanya yang memang masih luas, agar bisa menjadi tempat hiburan dan juga tempat melepas penat para pengawal-pengawalnya yang bertugas di villa itu.
"Baiklah Pak Runggik dan semuanya, hari sepertinya sudah semakin sore. Tidak lama lagi akan menjelang malam, kalau begitu saya dan yang lainnya, akan pamit pulang.
Jangan lupa Pak Ruggik, nanti malam tanyakan saja pemilik lahan yang berada di seberang Parit yang mengairi sawah di hilir Desa itu, sebab kalau lahan itu selain memang kita tidak perlu membangun jalur pengairannya lagi karena sudah tersedia, lahan itu juga tentunya lebih praktis, lebih dekat bersamaan dengan tempat ini untuk dijaga."
"Iya benar Tuan. Tempat itu merupakan tempat yang paling strategis, selain itu di ujung sana juga ada Tower telepon seluler, jadi jaringan juga mantap disini untuk berkomunikasi, saluran air juga mantap dan dekat pula ke jalan raya.
Memang betul-betul spesial Tuan lokasinya, selain itu pembuangan air juga bisa langsung kembali ke sungai yang di bawah sana, melalui tebing yang sudah ada jalur buanganya itu."
"Ya makanya, kalau memang dia berkenan itu sudah bagus. Baiklah semuanya kami pergi sekarang ya."
"Iya Tuan.
Oh ya Tuan, ini ada beberapa kilo udang Tiger campur ikan yang tidak sempat dipanggang tadi semuanya Tuan. Nanti di Villakan ada koki khusus, yang akan memasaknya.
Tentu bila koki Tuan yang memasakanya akan lebih lezat dan lebih enak lagi, dari apa yang ada di sini tadi Tuan"
"Wah kalau begini kedatangan kami ini akan membawa kerugian bagi semuanya ya, sudah bawa saja ke rumah agar dinikmati oleh keluarga bapak-bapak di rumah
Bapak-Bapak ini adalah orang-orang yang baik."
"Ah Tuan jangan membuat kami merasa malu Tuan. Ini semuakan milik Tuan juga, kami hanya orang-orang yang menumpang rezeki dari Tuan. Kalau bukan karena kebaikan Tuan, kami tidak akan mendapatkan semua ini Tuan.
Tolonglah terima Tuan."
"Baiklah kalau begitu, kalau begitu saya mengucapkan banyak terima kasih. Nando kamu saja yang bawa ya."
"Siap Bos."
Seorang warga yang merupakan orang yang memberikan udang tiger dan beberapa ikan sungai yang sengaja dia pilih itu segera menyerahkannya kepada Nando.
Melalui cerita Nando, pria itu jadi tahu betul kalau Haris dan istrinya adalah penggemar gulai ikan jurung. Oleh karenanya dia memang berinisiatif untuk memberikannya.
"Baiklah kalau begitu kami akan pergi, semuanya sampai jumpa lagi ya."
"Ya sampai jumpa lagi Tuan Haris sering-seringlah mengunjungi kami kemari kalau ada waktu."
"Oke baiklah."
__ADS_1
Haris bersama para pengawalnya lalu kembali menuju villa untuk beristirahat sebab hari sudah menjelang malam.