Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _103 : Masalah di kantor Ekspedisi


__ADS_3

Baru saja Haris hendak merebahkan dirinya di kursi santai yang ada di ruangan tamu Villanya, seorang wanita dengan terburu-buru dan nafas yang tersengal-sengal mendobrak pintu cukup keras dan masuk ke ruang tamu.


Hal itu membuat baik Diana maupun Kirana, merasa sangat terkejut.


Wanita itu tidak lain adalah istri dari Beni dan juga kakak kandung dari Diana.


"Lho, Kak Butet...?


Kok kakak datang terburu-buru begini...?


Seperti orang ketakutan lagi. Ada apa kak..?"


Diana langsung menyerbu kakak kandungnya itu, dengan berbagai macam pertanyaan.


Masih dalam keadaan nafas yang tersengal-sengal, Butet untuk sejenak sempat terdiam tanpa bicara.


Sambil mengambil nafas dengan berat dan panjang Butet berusaha menenangkan dirinya.


Setelah merasa cukup tenang, dengan lemah berlinangan air mata, Butet kemudian mulai berbicara.


"Diana... Haris...! Tadi kakak ditelepon dari kantor Ekspedisi tempat Abangmu bekerja.


Katanya disana abang baru saja dipukuli, oleh dua orang yang tak dikenal sampai babak belur berlumuran darah.


Sekarang abangmu sudah dilarikan oleh bawahannya ke rumah sakit, Itulah kenapa Kakak datang kemari dengan terburu-buru."


"Apaaaa....!"


Secara serentak baik Haris, Diana maupun Kirana yang mendengar penjelasan dari Butet begitu terkejut dan tersentak dengan kabar itu.


"Kenapa bisa begitu kak...?


Kenapa Abang Beni sampai dipukuli begitu...?"


"Kakak juga nggak tahu lho Diana, lagian juga tadi yang menelepon itu sangat terburu-buru dan suaranya juga bergetar ketakutan begitu."


"Sialan...! Siapa yang berani macam-macam dengan keluargaku...?


Kalau begitu aku akan langsung pergi kesana."


"Bang...! Adek ikut ya bang...!"


Diana segera merengek meminta untuk ikut, demikian juga Kirana sama seperti Diana juga meminta ikut.


Tidak ketinggalan sama seperti Diana dan Kirana, Butetpun meminta hal yang sama.


Melihat ketiganya yang tampak penuh harap, Haris tidak tega untuk menolaknya, sehingga mengamini permintaan mereka.


"Baiklah kalau begitu kalian bersiap-siaplah sebentar.


Puspa...Wulan...!!


Kalian juga bersiap-siaplah dan jangan lupa hubungi Amanu Riston dan juga Halim, untuk menyiapkan mobil.


Kita akan berangkat semuanya ke sana."


"Baik Tuan."


Baik Wulan maupun Puspa, dua pengawal yang ditugaskan Haris untuk menjaga kedua istrinya, kemudian pergi bergegas mengganti pakaian mereka.


Tak lupa Puspa menghubungi tiga pengawal Haris lainnya.


"Dek Kirana, sampaikan dan kabarkan juga kepada Nando Kejadian ini, supaya mereka jangan lagi datang kemari.


Katakan saja untuk menunggu di hotel, Nanti setelah kita melihat situasinya, kalian berdua nanti di pijatnya di sana saja ya dek.


Jangan lupa Papa dan Mama juga beritahu, kalau kita tidak disini lagi.


Siapa tahu, mungkin kita juga nanti bakal bermalam di hotel malam ini."


"Iya bang."


"Oh ya Kak Butet, enggak usah beritahukan Ibu dulu ya kak, kasihan nanti Ibu jadi sedih."


"Iya kakak belum beritahukan hal ini pada ibu kok.


Kakak juga khawatir kalau kabar ini diberi tahu sama Ibu, nanti Ibu jadi cemas dan sedih.


Makanya setelah mendengar kabar Ini, kakak tadi berangkat dari rumah, langsung saja kemari, tanpa singgah menemui Ibu lebih dulu."


"Ya begitu lebih bagus.


Ayo semuanya bersiap-siap, kita akan segera berangkat."


Harispun kemudian mengganti pakaiannya.


Dengan memakai celana jeans dan jaket kulit beserta sepatu sport dan topi yang menutupi kepalanya, Haris telah siap dan menunggu istrinya di depan, sambil berbicara dan memberikan arahan kepada tiga orang pengawalnya.


Sejak menaikkan level kemampuan dan kualitas tubuhnya, Haris lebih tenang dalam menghadapi berbagai hal, termasuk kabar mendadak seperti yang baru didengarnya saat ini.


Dengan pikiran yang jernih dia bisa menguasai keadaan dengan baik.

__ADS_1


"Ayo Bang Kita berangkat sekarang, tapi nanti di depan rumah mamak, kita singgah untuk mengambil Nurul ya Bang.


Mana tahu nanti kita bermalam, kasihankan Nurul ditinggal disini."


"Iya. Ayo kebetulan Very juga sedang pergi membawa Darman liburan, jadi hanya kita saja yang berangkat."


"Haris bersama kedua istrinya lalu menaiki mobil para pengawal istri Haris, sedangkan ketiga pengawalnya yang lain memimpin jalan di depan.


Setelah mengambil Nurul Putri kesayangannya, tak lupa Diana menitipkan pesan ke ibunya agar ibunya sering-sering datang ke Villa.


Bila perlu menginap disana, apalagi selama mereka tidak ada disana.


Diana juga mengingatkan ibunya, agar jangan lupa memberitahukan pada petugas yang khusus merawat dan mengurusi kebersihan Villa itu, kalau mereka sudah pergi.


"Jangan lupa ya Mak, sampaikan pada petugas kebersihannya, supaya kebersihan Villa terus terjaga."


"Iya kamu nggak usah khawatir, nanti Mamak sampaikan, ayah dan Mamak nanti juga akan menginap dikamar yang memang sudah kalian tunjuk, sebagai kamar Ayah dan Mamak itu.


Tapi kenapa kalian tiba-tiba secara mendadak pergi begini...?


Apa ada terjadi sesuatu...?


"Oh bukan apa-apa Mak, kebetulan memang Abang ada urusan mendadak aja.


Selain itu Papa dan Mama dek Kirana juga sudah berangkat dari kota K menuju kesana, tapi mungkin nanti kami juga akan kemari kok sama Papa dan Mama, setelah beristirahat di hotel untuk melepas lelah."


"Oh ya sudah kalau begitu, berangkatlah."


"Baik Mak, kami berangkat dulu, sampaikan pada Ayah."


"Iya nanti Mamak akan sampaikan."


Mobil Haris bersama pengawalnya kemudian melesat membelah jalanan, menuju kota P.


Setelah satu setengah jam lebih berkendara, Mereka kemudian tiba di lokasi kantor Ekspedisi milik Haris, yang memang berada di pinggiran kota P itu.


Haris langsung saja turun dari mobilnya dan masuk ke dalam kantor kemudian disapa para petugas di sana.


"Selamat siang tuan..!"


"Selamat siang semuanya.


Bagaimana kabar kalian, apakah semuanya sehat...?"


"Kabar kami baik Tuan. Alhamdulillah, kami semua sehat.


Tapi seperti yang Tuan dengar, sempat ada terjadi insiden pemukulan dan penganiayaan di tempat ini, bersyukurnya tadi kami mendapat informasi dari teman kita yang ada rumah sakit.


Selain itu Pak Beni juga tadi berpesan, agar keluarga khususnya istri beliau Ibu Butet, jangan terlalu khawatir beliau sudah baikan dan tidak apa-apa."


"Alhamdulillah syukurlah kalau begitu, tapi apa sebenarnya yang terjadi...?


Kenapa sampai begitu...?


Apakah pihak kita melakukan kesalahan...?


"Iya sebenarnya ini kesalahan petugas di lapangan tuan, orang itu mengirimkan paket berupa barang dan merasa dirugikan karena menurut mereka barang yang sampai ke tujuan, rusak."


"Iya tapikan ada asuransinya, kitakan bisa mengganti, kenapa main pukul, kenapa main kekerasan...?"


"Itulah yang kami bingung tuan, saya rasa ini tidak hanya sekedar masalah sederhana seperti itu tuan, tetapi memang seperti ada suatu hal yang disengaja Tuan."


"Maksudnya...?"


"Saya kok merasa yang disasar ini sebenarnya adalah usaha kita Tuan, bukan hanya sekedar masalah barang rusak.


Soalnya mereka juga mengintimidasi banyak para petugas kita."


"Oh jadi begitu...? Coba sini, berikan data si pengirim, saya akan memeriksanya nanti.


Tetapi sebelumnya, kami akan pergi dulu ke rumah sakit menjenguk pak Beni."


"Baik Tuan, sebentar Tuan."


Sepanjang memeriksa data yang dipakai oleh si pengirim, Haris dan semua orang yang berada di dalam kantor


Ekspedisi Antar Kota- PT Jaya Utama Transport- Pengangkutan Pengiriman Barang miliknya, mendengar kegaduhan di bagian gudang, tempat paket dan barang-barang biasa akan dinaikkan ke dalam mobil pengantar.


Dengan sigap para pengawal Haris, segera berlari menuju ke tempat terjadinya keributan yang diikuti oleh Haris dan para istrinya yang menyusul dari belakang.


"Hei ada apa ini...?"


Riston bertanya pada petugas Ekspedisi yang ada disana.


"Tidak tahu Bang orang orang ini, tiba-tiba saja datang lantas main pukul.


Ya namanya kita dipukuli tanpa tahu salah apa, tentu kita melawan Bang.


Selain itu mereka juga membawa senjata, berupa kayu pemukul Bang."


Mendengar hal itu, Riston Amanu dan Halim, dengan insting mereka yang menangkap ada hal yang tidak beres, langsung saja menggempur dan menghajar para perusuh itu.

__ADS_1


Meski jumlah mereka lebih dari 10 orang tetapi di hadapan ahli bela diri, terlebih jumlah mereka ada tiga orang, maka para perusuh itu dengan mudah dapat dipukul mundur, sampai babak belur.


Saat Haris dan istrinya tiba, para perusuh itu telah dapat dibekuk dan didudukkan di sudut gudang tersebut.


Mereka semua tertunduk lemas, setelah dihajar habis-habisan, oleh tiga pengawal Haris yang memang selama ini telah lama berpuasa, tidak memukul para bandit seperti mereka.


"Amanu Riston dan Halim, apa sebenarnya yang terjadi disini...?"


"Begini Tuan...! Menurut para petugas kita, yang bekerja di bagian gudang ini, ke-13 orang ini tiba-tiba saja datang, lalu tanpa bicara, langsung memukuli para petugas kita, sehingga para petugas kita membela diri dengan melawan.


Itulah suara keributan yang sempat kita dengar tadi dari dalam kantor."


"Oh, jadi ternyata mereka ini para berandalannya.


Apakah mereka ini ada hubungannya dengan yang memukul Bang Beni...?"


"Menurut para petugas kita tadi, memang diantara orang-orang ini ada yang mereka kenal sebagai orang yang sebelumnya datang bersama orang-orang yang memukul Bos Beni Tuan."


"Baik kalau begitu interogasi mereka, sampai mereka mengaku, siapa yang menyuruh mereka kemari.


Tangani dengan baik, jangan kasih ampun kalau mereka tidak mengaku.


Mereka yang sudah memulai kerusuhan ini, maka kita tidak akan mundur selangkahpun, menghadapi manusia-manusia semacam ini."


"Baik Tuan...! Kami akan melaksanakan apa yang Tuan katakan."


Setelah mengatakan hal itu dengan tegas, Haris yang tidak ingin kedua istrinya beserta kakak iparnya melihat kejadian selanjutnya, yang tentu akan sangat keras.


Mengajak mereka meninggalkan tempat itu dan bermaksud pergi mengunjungi Beni ke rumah sakit.


Haris juga memerintahkan agar Puspa dan Wulan tinggal serta berjaga di kantor Ekspedisi Antar Kota- PT Jaya Utama Transport- Pengangkutan Pengiriman Barang itu.


"Puspa dan kamu Wulan sebaiknya kalian tinggal saja disini dan tidak usah ikut ke rumah sakit, sebab aku khawatir teman-teman dari orang-orang itu masih akan datang dan mencoba membuat ulah lagi di sini."


Baik, siap Tuan...!


Tuan apa yang harus kami lakukan, kalau mereka datang nanti tuan."


Haris yang tahu maksud dari pertanyaan kedua pengawal istrinya itu, langsung menjawab tanpa ragu dan dengan tegas


"Kalau mereka masih datang dan bermaksud untuk membuat keributan disini, lawan saja terus.


Bila perlu patahkan tangannya."


Haris memerintahkan pengawalnya yang dia tahu tingkat bela dirinya, lebih hebat dari ketiga pengawal lainnya itu.


"Baik Tuan, kalau begitu kami akan bertindak sesuai yang Tuan perintahkan.


Kebetulan juga sudah begitu lama kami tidak berolahraga seperti ini."


Wajah Puspa dan Wulan begitu berseri, mata mereka seketika menjadi menyipit dan tajam serta tampak seolah ada cahaya melintas di anak mata keduanya.


Haris lalu pergi bersama kedua istri dan kakak iparnya Butet, menuju Rumah Sakit dengan mengendarai mobil milik pengawal istrinya tersebut.


Setelah menempuh perjalanan berkisar 20 menit, rombongan Haris segera tiba dan setelah menanyakan kepada petugas, Haris dan istrinya langsung menuju ke ruangan tempat Beni dirawat.


"Ya ampun...! Begitu bejat sekali orang-orang itu, begitu tega mereka memukuli suamiku, sampai seperti ini."


Butet merasa begitu sedih dan tidak tega, melihat keadaan suaminya, yang wajahnya penuh memar dan tubuh yang penuh lebam kebiruan serta bibirnya pecah.


Termasuk perban yang juga menempel di Tempurung kepala Beni.


Matanya terlihat redup dan sayu, tubuhnya juga terlihat begitu lemah.


"Dek Haris...! jangan lepaskan para badj!ngan itu, aku ingin mereka mendapatkan balasan yang setimpal, atas apa yang telah mereka lakukan kepada Abangmu."


"Iya Kak, Aku pastikan mereka akan mendapatkan itu, kakak jangan khawatir, tidak hanya mereka bahkan sosok yang menyuruh para badj!ngan ini, juga akan aku hancurkan sedemikian rupa."


Haris lalu mengurus agar Beni segera bisa dipindahkan ke klinik yang ada di dekat hotelnya, untuk bisa mendapatkan perawatan yang lebih intensif dengan dokter ahli yang dia miliki.


Meski rumah sakitnya telah mulai beroperasi, tetapi lokasinya yang jauh berada di desa P, membuat Haris lebih memilih Beni, untuk dirawat di dekat hotel miliknya.


Selain akan lebih mudah mereka lihat dan kunjungi, terlebih lagi Ayah dan ibu Kirana juga akan datang kesana.


"Jadi Bang Beni akan dipindahkan ke klinik kita saja bang...?"


Diana bertanya kepada Haris.


"Iya karenakan di klinik kita itu juga fasilitasnya bagus, kemudian selain itu kita juga punya beberapa dokter ahli, yang memang sudah direkrut oleh dokter Shasmita untuk bekerja di Rumah Sakit kita yang sudah mulai beroperasi di desa.


Ditambah lagi Papa dan Mamakan mau datang, jadi itulah sebabnya Abang memilih Bang Beni dirawat di klinik saja, tidak di desa tempat Rumah Sakit kita yang baru."


Baiklah. Terserah Abang saja, lalu bagaimana dengan keadaan kantor...?"


Tenang saja, Puspa dan Wulan juga ketiga pengawal kita yang lain, akan bisa menyelesaikan masalah disana, perlu Adek tahu Puspa dan Wulan itu, jauh lebih hebat daripada Amanu Riston dan Alif, kemampuanya, walaupun mereka wanita.


Keduanya jauh lebih kuat dari ketiga pengawal lain.


Selain itu Abang juga berencana untuk mendatangkan 20 pengawal, ahli beda diri lainnya."


"Baiklah Bang, kalau begitu kita pergi sekarang, jangan sampai papa dan mama menunggu."

__ADS_1


__ADS_2