Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _127 : Membludaknya pengunjung


__ADS_3

"Wah luar biasa. Ternyata yang datang mengunjungi Bos Haris itu begitu banyak, dari sini saja bisa kita lihat seperti apa sosok Bos Haris ini. Hal ini menandakan begitu baiknya manusia yang satu ini.


Aku rasa belum bahkan tidak ada keramaian, yang sampai mencapai jumlah ini sebelumnya terjadi di Desa kita ini, meski saat terjadi pesta adat sekalipun."


"Iya betul Pak Mak Lin, manusia membeludak begini datang berbondong-bondong. Kabarnya aku dengar malah, inipun baru perwakilan perwakilannya.


Selanjutnya akan datang langsung orang-orang dari tempat-tempat yang sudah diwakili itu. Belum lagi Fauzan mengatakan kalau para keluarga dan staf dari 13 hotel bintang 5 milik Tuan Haris berikutnya, juga akan datang. begitu pula para staf dan juga seluruh dokter-dokter yang ada di rumah sakit milik mereka itu akan datang kemari."


"Ha..ha memang luar biasa Bos Haris ini, sudah seperti presiden yang sedang berkunjung ke Desa saja pak Samsul."


"Iya. Sungguh aku sampai seperti tidak lagi mengenal sosok Tuan Haris ini. Padahal pak Mak Lin tahu sendiri, seperti apa dia dahulunya."


"Ya. Bos Haris ini dahulunya adalah salah seorang dari kita, bahkan kehidupan ekonominya terbilang lebih sulit dari kita. Beruntungnya dia punya saudara yang bisa menjadi pijakan atau batu loncatannya, sehingga bisa mencapai apa yang dia raih hari ini."


"Benar sekali pak Mak Lin. Terkadang ada rasa malu juga, mengingat kita tidak begitu baik dahulu padanya seperti sikapnya pada kita saat ini."


"Ya itu memang benar pak Samsul, makanya saya pribadi nggak pernah berani minta padanya, kecuali apa yang Bos Haris sendiri berikan."


Samsul dan Mak Lin terus membahas keadaan Haris, karena melihat keberadaan manusia yang datang berjubel itu.


Baik keluarga Diana maupun keluarga Kirana juga tidak habis pikir, dengan antusias orang-orang yang datang untuk menunjukkan rasa simpati dan juga dukungan mereka bagi Haris, yang mengalami musibah atas apa yang menimpa kedua istrinya itu.


Mereka tahu sosok Haris cukup besar di hati orang-orang itu, tapi tidak menyangka sampai sebegitunya. Keluarga Shasmita juga tidak ketinggalan juga ikut datang menjenguk, setelah Shasmita memberitahukan keadaannya pada keluarganya secara panjang lebar.


Shasmita sudah menjelaskan dan menceritakan hubungannya dengan Haris, walau di awal keluarganya begitu terkejut dan sangat tidak setuju atas pilihan Shasmita, tetapi setelah bersikeras dan mengancam tidak akan menikah kalau tidak di izinkan, keluarganya akhirnya menyerah dan tidak punya pilihan.


"Pi setelah Mami melihat kenyataan seperti apa keadaan Haris yang sebenarnya, Mami justru semakin salut dan merasa kalau pilihan putri tercinta kita ini barangkali tidak salah adanya."


"Benar Mi, Papi juga mulai merasakan hal itu. Haaahh.. Entahlah anak gadis sekarang sangat sulit menurut pada orang tua.


Kalau boleh sebenarnya Papi lebih suka putri kita menikah dengan pria yang belum beristri, tapi Shasmita putri kita sudah bersikeras, mau bagaimana lagi.?"


"Sudahlah Pi, toh putri kita yang akan menjalaninya. Dia pasti sudah mempertimbangkan segala sesuatunya dengan baik."


"Ya pada prinsipnya kita orang tua ini hanya bisa menyerahkannya kepada putri kita, kalau memang hal inilah yang akan membuat dia bahagia, maka kita tidak punya pilihan lain. Putri kita itu bagaimanapun adalah wanita yang berpendidikan tinggi dan tentunya dia bukan wanita yang cukup bodoh sehingga tidak bisa mempertimbangkan baik buruknya apa yang dia putuskan.


Namun begitupun Papi masih ingin bicara tentang banyak hal pada si Haris itu, tapi orang-orang begitu banyak datang tanpa henti."


"Pasti ada saatnya nanti Pi."


Ayah dan Ibu dari dokter Shasmita, begitu bingung dengan pilihan anak gadisnya itu. Sebab mereka belum tahu betul seperti apa dan bagaimana seluk beluk tentang Haris dan segala hal yang terkait dengannya.


Sementara di luar, manusia masih berjubel datang dari segala arah


"Wah Fauzan..! Itu Bos Jhon juga datang."


Beberapa warga Desa P yang melihat kedatangan Jhon yang telah mereka kenal sebelumnya, kemudian mendekati si Jhon teman Haris itu.


"Rombongan ini siapa dan dari mana Bos Jhon.?"


"Eh Bang Tono, ini teman-teman aku Bang dari Persatuan keluarga ABK kapal penangkap ikan milik tuan Haris dari wilayah Timur.


Di belakang juga ada Bang Roni yang membawa keluarga dan pekerja pabrik pengalengan ikan.


Lalu dibelakang juga ada Darman yang membawa anggotan dari keluarga perkebunan sawit.


Tadinyakan kita dihubungi mereka, minta untuk dipandulah bertemu dengan Bos Haris"


"Hmmm..pantasan begitu panjang antriannya hehe, kapan lagi kita pergi ke Pantai di kota S, sambil menginap di hotel Haris yang ada disana, Bos Jhon.?"


"Wah Bang Tono masih ingat saja kenangan kita, ya nanti akan ada saatnya itu Bang, ya sudah ya Bang mau lanjut dulu, sudah ada pergerakan di antrian depan."


"Oke Bos Jhon hehe, makin subur badannya sekarang."


"Bisa saja Bang Tono, ayo Bang..!"


"Oke lanjut Bos Jhon."


Warga desa P semakin terkejut tidak henti-hentinya manusia datang berduyun-duyun yang banyak dari mereka tentu tidak dikenal oleh warga desa P, begitu ramai sampai warga harus ikut turun tangan, menertibkan keadaan dan membantu mengatur arus lalu lintas, agar jangan sampai macet.


Warga yang berdagang di desa itu juga ketiban rezeki, semua dagangan mereka laris manis dan ludes diserbu para pengunjung yang membeli berbagai jenis dagangan mereka.


"Dame kalau begini Desa kita tampak menjadi hidup dan semarak ya..?"


"Ya benar Bang Irsan, orang-orang yang berdatangan ini kabarnya juga banyak berbelanja di warung sayuran milik warga."


"Wah luar biasa memang Dame. Menurut pengawal Haris tadi sewaktu Abang dan mereka sama-sama membeli rokok, ini katanya yang datang belum semua, kalau semuanya datang secara bersamaan, bakalan akan lebih ramai, berjubel dan akan terasa begitu sempit Desa kita ini hehe."


"Pastilah Bang Irsan, ini saja para pengawal Dek Haris, harus bekerja mengatur segala sesuatunya. Katanya semua di atur siapa yang datang dan siapa yang harus pulang, baru ada ruang bagi yang baru datang."


"Luar biasalah memang. Sepanjang hidupku di Desa kita ini baru kali inilah aku menyaksikan ada seorang manusia yang seperti Haris ini modelnya. Dahulu aku masih ragu-ragu untuk memanggilnya sebagai Tuan. Tapi hari ini mataku terbuka ternyata yang aku lihat selama ini belumlah semuanya. Orang ini memang luar biasa.


Banyak sebenarnya orang yang kaya tapi mungkin tidak atau belum ada dan kalaupun ada sudah sangat jarang, ada orang yang begitu baik dan perduli serta dermawan seperti Adik Haris ini, sehingga manusia sudah seperti semut yang mengerumuni gula saja, datang mengunjunginya."


"Betul sekalilah apa yang Bang Irsan sebut, ya kita tahu dan bukan barang atau cerita baru lagilah itu.


Bagaimana Dek Haris membantu warga selama ini, bukan miliaran lagi yang dia berikan tapi puluhan miliar sudah yang dia keluarkan buat Desa dan warganya ini."

__ADS_1


"Iya sih Dame, tetapi apapun ceritanya tetap saja memang aku masih terkejut. Aku tidak menyangka bahwa level si Tuan Haris ini sudah sampai ke titik ini.


Bayangkan bagaimana kalau semakin lama dan semakin banyak dia membantu orang lain."


Tidak terhitung banyaknya pembicaraan-pembicaraan warga tentang Haris, hari itu. Termasuk seperti Tono, Dame teman Haris di Desa itu dan juga teman bicaranya yakni Irsan yang juga sudah memperoleh bantuan perehaban rumah oleh Haris.


"Hei kalian bicara apa.? Semangat sekali bicaranya.!"


"Ah Pak Samsul mengejutkan saja, dari mana Pak Samsul.?"


"Dari Villa milik Tuan Haris jadi sudah waktunya bertukar, makanya kami keluar lagipula ini rencana juga mau nyari kedai buat minum. Tapi katanya semua kedai sudah penuh diserbu pengunjung."


"Oh kalau kami sudah dari tadi keluar Pak Samsul."


"Iya Tono, saya juga tadinya niatnya mau cepat tapi di tahan sama Bos Haris hehe."


"Itulah yang kami bicarakan dari tadi Pak Samsul tentang sosok Haris ini yang menjadi magnet bagi semua orang. Kalau pak Samsul sendiri bagaimana menurut Pak Samsul keadaan yang ditimbulkan sosok Haris ini..?"


"Oh kalau soal itu yang kau tanya Irsan, yang jelas kalau saya pribadi. Saya selalu mendo'akan supaya Bos Haris ini sehat selalu dan berumur panjang.


Manusia seperti ini sudah sangat langka, kalau boleh jujur sebenarnya kita semua di Desa ini sudah berhutang banyak hal pada Bos Haris ini.


Berhutang segalanya, berutang harta, berhutang kebaikan, kehormatan berutang rasa terima kasih, ah komplitlah pokoknya.


Secara pribadi, saya sendiri kalau bukan karena Bos Haris ini mungkin ibu saya, ah entah sudah bagaimanalah Irsan dan juga kalian Tono dan Dame


Biaya pengobatan ibu saya itu bukannya murah, kalau hanya mengandalkan gaji normal saya yang bekerja di perkebunan sawit, dibandingkan dengan biaya yang harus di keluarkan untuk pengobatan, pastinya tidak akan pernah sebanding.


Tapi semua beban saya menjadi ringan, semua biaya perobatan dan kebutuhan ibu saya bahkan seluruh perobatan keluarga saya, di handle semuanya tanpa kecuali.


Semua dijamin oleh Bos Haris, sehingga bahkan mulut saya ini sekarang tidak akan sanggup untuk menyebut namanya saja, tanpa ada tutur Bos atau Tuan di depan namanya sebagai tambahannya, memang luar biasalah."


"Ya. Kalau itu memang benar pak Samsul, aku juga setuju, jadi bagaimana mungkin kita tidak berdo'a agar supaya Dek Haris ini panjang umur..?"


Tono menguatkan ucapan Samsul.


"Lho kenapa Pak Samsul menangis.?"


"Entahlah Irsan, tiba-tiba air mata ini rasanya tak terbendung kalau mengingat semua jasa-jasa Tuan Haris ini kepada keluarga saya dan diri saya pribadi. Tidak salah dahulu saya menjual kebun sawit itu kepadanya, sehingga saya memiliki tempat yang cukup baik di hatinya di antara banyak orang yang dikenalnya.


Makanya ketika ada musibah begini menimpa istrinya yang tentunya membuat hatinya sangat susah, sakit rasanya hati saya ini tidak bisa membalas seperti kebaikan yang dia berikan kepada saya dan keluarga."


"Ya. mungkin perasan semacam itu jugalah yang mendorong sehingga orang-orang yang datang begini banyak ini, rela sampai antri untuk menemuinya sekedar untuk menunjukkan rasa simpati dan turut bersedih pak Samsul."


"Ya itu benar..!"


"Memangnya ada kabar apa lagi Irsan..?"


"Hehe Bang Dame, tadi Pak Mak Lin berkata padaku kalau.. ih..! aku sendiri sangat terkejutlah mendengar kabar Ini tadinya.


Kabar ini datang dari istri pak Mak Lin yang tadi pagi datang menjenguk ke Villa Bos Haris, katanya ternyata Direktur Utama yang ada di rumah sakit baru di Desa kita itu adalah calon istri Bos Haris berikutnya yang ketiga.


Orangnya begitu cantik. kata istri pak Mak Lin pada pak Mak Lin yang kemudian menceritakan hal ini pada saya tadi, calon istri ketiga Bos Haris yang begitu manis, ayu dan baik hati serta lembut itu ternyata sudah menggratiskan semua biaya perobatan bagi siapapun warga desa P kita ini, yang sakit kalau akan berobat ke rumah sakit baru yang ada di sana itu.


Bayangkan coba betapa komplitnya sudah kebaikan Bos Haris pada kita.! Apa ada satupun dari warga desa kita sepanjang keberadan Desa ini yang sanggup melakukan hal itu pada semua warga..?"


"Oh itu benar Irsan, itu benar. saya juga termasuk orang yang hadir langsung disana mendengar itu, saat tadi mau menemui Haris sebelum dia akhirnya keluar dari ruangan tempat keberadan istrinya, khusus untuk menemui kaum Bapak atau pengunjung pria."


"Wah intinya memang belum adalah warga kita yang seperti itu ya Pak Samsul.? Mana ada yang sanggup berbuat begitu.


Enggak pernah adalah. Sekaya apapun warga yang pernah ada di Desa ini, nggak pernah ada yang sanggup berbuat seperti yang Dek Haris perbuat itu. termasuk pemimpin desa sekalipun."


"Ya aku malah lebih terkejut kalau dokter itu akan menjadi istri ketiga dek Haris. Bener nih Pak Samsul nggak salah dengar Pak Samsul..?"


"Benarlah, masa salah dengar sih Tono.? Memang bener. Katanya ibu-ibu sih, Bu dokter calon istri ketiga Bos Haris, yang juga merupakan Direktur Utama Rumah Sakit itu, nggak kalah cantik sama dua istri Haris yang lain. Walaupun istri Bos Haris yang dua itu juga memang sudah seperti bidadari kelihatannya hehe.


Kabarnya setelah istri pertama dan keduanya ini sembuh, mereka akan melakukan pernikahan dan pesta besar-besaran.


Entah bagaimana lagi nanti ramainya suasana Desa kita."


"Wah semoga saja pestanya jadi dilaksanakan di Desa kita ini pak Samsul, agar warga Desa kita ketiban untung dan juga manfaat, sehingga Desa kita ini juga semakin dikenal, semakin bertuah dengan sosok keberadaan Haris yang seperti ini."


"Wah saya baru tahu itu, saya yakin mungkin banyak warga yang belum tahu itu."


Salah seorang warga lain, yang juga mendengar perbincangan beberapa warga P itu kemudian memberikan pendapatnya


"Banyak juga sih Wahyu, karena ada begitu banyak tadi ibu-ibu di desa ini yang mendengar itu, saat mereka pergi menjenguk istri Haris, karena memang hal itu juga diumumkan terang-terangan tadi oleh istri pertama dan kedua Haris."


"Wah luar biasa sosok Dek Haris itu, aku angkat tanganlah dua tangan, ya sudahlah mulai sekarang juga aku akan mengakui dan menyebut dek Haris itu sebagai Tuan Haris.


Ampunlah memang ha..hah."


"He.heh baru mengaku kau Wahyu..?"


"Iya betul Pak Samsul. Kalau ini memang mengakulah aku, angkat tanganlah memang.


Banyak orang yang bisa beristri banyak, tapi sembunyi-sembunyi bukan seperti ini, dimana malah istrinya yang mencarinya dan mengumumkannya. Ampunlah pokoknya ampun juragaaaan..hahah."

__ADS_1


Para pengunjung terus berdatangan, pulang dan pergi secara bergantian, untuk menjenguk istri Haris.


Rata-rata semua pengunjung yang datang, sangat betah berada di villa milik Haris itu, tetapi oleh para pengawal dengan santun dan dengan penuh hormat mereka diminta untuk segera pulang, karena akan ada gelombang pengunjung lainnya yang datang.


"Begini banyaknya manusia, sudah seperti semut saja jalanan kita menjadi begitu sempit dan padat luar biasa, sekali lagi luar biasa Tuan kita ini Riston.!"


Bahkan barisan para pengawal Haris, tidak luput dari keheranan dan rasa takjub mereka, terhadap banyaknya pengunjung yang datang.


"Ya makanya saya sangat bersyukur Pak Wilson, dahulunya kami Bapak rekomendasikan ke sosok besar seperti Tuan Haris ini."


"Ah jangan panggil saya bapak lagilah Riston. Panggil saja saya Abang atau saudara atau apalah, karena sekarang kita sudah sama saja, yakni sebagai bawahan Tuan Haris."


"Mana bisa begitu Pak Wilson. Andakan mantan Bos kami juga."


"Kalau kamu menganggap aku mantan bosmu maka turuti apa yang aku katakan Riston."


"Baiklah kalau begitu, tapi mungkin aku masih harus membiasakan diri untuk memanggil Abang."


"Iya itu lebih baik."


Sampai di malam hari rombongan yang datang untuk menjenguk Diana maupun Kirana begitu banyak, bahkan setelah Haris meminta para pengawalnya untuk membatasi waktu pertemuan bagi pengunjung dengan kedua istrinya, dan itupun hanya wanita yang diperkenankan masuk,


sedangkan pengunjung pria, hanya akan menemui Haris.


Pada waktu jam 9 malam keadaan sudah kembali menjadi lebih sunyi, seperti keadaan normalnya.


Waktu jenguk malam sebagai waktu berkunjung terakhir, tadinya adalah waktu yang diatur bagi orang-orang yang tempat tinggalnya paling terdekat dari desa tempat Haris saat ini berada.


Dan mereka semua telah mendapat gilirannya.


"Bang..! Diana capek lho Bang, Diana tidur ya Bang.!"


"Iya Kirana juga capek Bang, begitu banyak orang yang datang mengunjungi."


"Iya padahal itupun Abang sudah mengatur agar semuanya tidak menjumpai Adek berdua, tapi mau bagaimana lagi, kasihan juga mereka sudah jauh-jauh datang, kalau sampai tidak diizinkan bertemu."


"Iya kami tidak mengeluh kok Bang, hanya saja memang badan ini sudah sangat capek, boleh ya Bang kami tidur..?"


"Ya sudah tidurlah sayang."


Haris kemudian mencium kening kedua istrinya dan


menyelimuti kedua istrinya itu dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Tanpa menunggu waktu yang lama, keduanya langsung terlelap dalam tidur pulas mereka.


Haris meminta izin kepada ayah dan ibu mertuanya, untuk menemui keluarga Shasmita yang sejak tadi siang sudah datang dan bermaksud untuk menemui Haris walaupun sebelumnya Haris telah menemui mereka, tetapi pertemuan mereka itu sangat singkat dan sangat terbatas.


Karenanya Haris ingin bicara lebih banyak kepada mereka, sebab bagaimanapun keluarga dokter Shasmita akan menjadi mertua Haris kedepannya."


"Dek Shasmita, menurutmu apakah Papi dan Mami sudah tidur.?"


"Tidak Bang Papi dan Mami belum tidur, ini malah kami dari tadi terus chattingan Bang.


Kenapa Bang..?"


Shasmita yang baru saja datang dari dapur, untuk menyimpan piring bekas makan malam dan juga obat Diana dan Kirana, tidak mendengar Haris yang telah permisi kepada kedua Ibu mertuanya, untuk menemui orang tua dokter Shasmita.


"Abang ingin bertemu Papi dan Mami, Abangkan belum sempat bicara banyak hal pada Papi dan Mami. Bagaimana kalau sekarang Abang menemui Papi dan Mami..?


Apa kira-kira tidak mengganggu Dek.?"


"Tidak Bang, malah barusan tadi Papi dan Mami bertanya, apa masih belum selesai orang yang datang mengunjungi, soalnya Papi dan Mami juga mau bicara katanya.?"


"Oh sempurna kalau begitu, ya sudah kalau begitu kita pergi sekarang.


Yuk kita ketemu sama papi dan Mami di ruang keluarga saja ya.!"


"Ya sudah, kalau begitu Abang pergi saja dulu ke ruang keluarga, agar Sasmita menjemput Papi dan Mami.


.


"Ya pergilah menjemput beliau berdua langsung, supaya lebih terhormat jangan melalui HP begini."


"Ya Pergilah Dek Shasmita."


Shasmita lalu pergi menjemput Papi dan Maminya. Haris sendiri sudah menunggu di ruang keluarga yang memang dikhususkan untuk sebagai tempat pertemuan keluarga itu.


Haris mengatur suhu udara di ruang itu lewat pengatur udara, juga membaca pesan dari manajer Sudharta, yang mengatakan kalau adiknya sudah tiba dari luar kota dan besok pada pagi hari akan datang menemui Haris.


Harispun mengatakan kesediaannya untuk menemui Manager Sudharta dan juga adik iparnya yang merupakan calon walikota P itu


Tidak lama setelah Haris membalas pesan dari manajer Sudharta, baik dokter Shasmita dan Papi juga Mami, sudah memasuki ruangan tempat untuk bertemu yang diatur dan dijanjikan oleh Haris.


Haris segera berdiri, menyambut calon mertuanya. Kemudian dia menyalami keduanya sambil mencium tangan mereka penuh hormat, sambil mempersilahkan ayah dan ibu dokter Shasmita untuk duduk.


Shasmita sendiri mengambil tempat duduk di dekat Haris, yakni di sisi kanannya.

__ADS_1


__ADS_2