Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _134 : Musyawarah singkat keluarga Haris


__ADS_3

Waktu terus berjalan adzan maghrib pun berkumandang dan semua orang yang ada di villa milik Haris menunaikan ibadah shalat maghrib, kecuali para wanita yang sedang berhalangan.


Selesai menunaikan shalat Maghrib, satu persatu anggota keluarga Haris mulai berkumpul di ruang pertemuan keluarga.


Mereka mulai mengisi tempat duduk yang ada disana, seiring waktu berjalan akhirnya semua orang sudah hadir dan menampakkan wajahnya masing-masing.


"Sepertinya semuanya telah hadir di sini, sehingga kita bisa memulai hal ini lebih cepat."


Ayah dari Diana sebagai mertua pertama Haris, mulai membuka percakapan.


"Apa tidak sebaiknya kita makan malam dulu Ayah.?"


"Tidak usah usah Diana, sekarang saja. Toh ini juga tidak lama, sebab pada prinsipnya kita semua sudah sama-sama tahu dan sudah bersepakat kok, untuk melakukan acara pesta itu.


Tadi Ayah dan Papa juga Papimu sudah membahas hal ini juga, dengan santai kami sudah membicarakan segala sesuatunya di taman belakang dan kami semua sudah sepakat tentang hal ini, tidak ada yang perlu dibahas lebih lanjut.


Paling kita hanya akan membahas tentang kapan dan dimana kita akan melangsungkan acaranya."


"Hmm.. Ternyata begitu. Bagaimana menurut Abang, dimana sebaiknya kita akan melangsungkan pestanya..?"


Diana pun akhirnya melemparkan pertanyaan pada suaminya, karena ingin melihat apa tanggapan serta jawaban dari Haris terkait hal itu.


"Sebenarnya Abang sendiri lebih menyerahkan hal ini kepada Papi dan Mami serta Dek Shasmita saja dek Diana, termasuk pada Papa, Mama serta Ayah dan juga Ibu tentunya.


Tanpa terkecuali dek Diana dan dek Kirana berdua juga tentunya, karena inipun adalah sekaligus merupakan pesta kita semua.


Apakah kita akan langsungkan acara ini di rumah dek Shasmita atau di gedung khusus yang menyewakan tempat untuk menggelar pernikahan, atau di salah satu Hotel kita atau bahkan juga di villa ini saja. Semuanya Abang serahkan kepada barisan orang tua kita dan kalian bertiga saja. Tapi kalau memang Ayah, juga Papa dan Papi serta ketiga sosok Ibu kita, inginnya di sini atau di Villa kita yang ada di desa S, juga tidak apa-apa.


Hanya saja memang keistimewaannya kalau kita adakan acara itu di tempat ini, seperti yang kita lihat bersama, ketika Adek Diana dan Kirana sakit, bisa kita semua lihat bagaimana banyaknya kita menerima kunjungan.


Tentunya akan ada begitu banyak tenaga yang bisa membantu kita di sini, sebab warga di sini pada prinsipnya juga sudah menganggap kita sebagai bagian dari keluarga mereka.


Selain itu tempat ini juga tidak jauh dari lokasi Rumah sakit yang merupakan tempat di mana dek Shasmita bertugas. Artinya kalau kita langsungkan acara pernikahan di sini, sekaligus itu juga akan memperkenalkan serta mempromosikan Rumah Sakit kita ke khalayak ramai, dimana mereka yang akan datang seharusnya akan begitu banyak."


"Ya itu benar Bang. orang-orang yang datang yang merupakan rekan-rekan bisnis maupun kolega kita, begitu juga rekan-rekan satu profesi dari dek Shasmita bahkan mungkin pejabat daerah, yang sudah tahu keberadaan Rumah Sakit kita ini dan ikut terlibat dalam peresmian maupun pengurusan izinnya serta yang kenal baik dengan dek Shasmita juga pasti akan datang."


Kali ini Kirana mantan manager Hotel Nurul Haris yang ada di kota P yang buka suara.


"Nah itu benar dek Kirana. Bagaimana menurut Adek Shasmita..?"


"Apa yang Abang dan Kak Kirana katakan itu benar adanya dan sedikit banyaknya Shasmita juga sudah tahu gambarannya, seperti dari apa yang terlihat kemarin, dimana gelombang kehadiran para kerabat maupun kolega kita yang kemarin menjenguk Kak Diana juga Kak Kirana yang sedang sakit, begitu banyak.


Tapi seperti yang Abang katakan sebelumnya, tentu ujung dari musyawarah ini juga akan kita serahkan pada pendapat serta pertimbangan dari barisan para orang tua kita saja, namun dari Shasmita pribadi Shasmita yakin segalanya akan lebih besar lagi kali ini, karena ini sifatnya adalah kemeriahan yang tentunya akan lebih banyak mengundang kehadiran orang yang datang.


Begitupun Shasmita juga merasa perlu untuk mendengarkan pendapat dari Papi dan Mami yang sedari tadi belum bicara apapun soal ini, bagaimana menurut Papi dan Mami..?"


Ayah dokter Shasmita yang mendapati pertanyaan dari putri kesayangannya itupun akhirnya juga ikut bersuara.


"Pertama Papi pada prinsipnya setuju saja dengan usul Nak Haris, untuk menggelar dan melangsungkan acara itu di sini saja.


Yang kedua Papi juga tahu betul, kalau ini juga merupakan Pesta kita bersama, jadi tidak cocok juga kalau hal ini hanya ditanyakan kepada Papi dan Mami saja.


Selain itu, yang ketiga. Kalau kita langsungkan pesta itu katakanlah di salah satu hotel yang ada, tentu akan ada begitu banyak orang-orang kita yang terhalang dan tidak bisa menjangkau dan menghadiri acara itu, sehingga seolah ada jarak antara kita dan mereka, padahal para warga-warga itu kalau Papi tidak salah lihat menurut apa yang Papi perhatikan dan juga dari cerita yang Papi dengar dari semuanya termasuk Nak Haris barusan, semua warga di sini juga sudah menganggap Nak Haris itu sebagai bagian dari keluarga mereka, bahkan telah dianggap sebagai pahlawan mereka, oleh karena itu Papi dan Mami satu suara, setuju saja kalau acara itu akan kita gelar dan langsungkan di sini saja, namun begitupun Papi dan Mami akan menunggu jawaban dari Ayah serta Ibu dan juga Papa dan Mama kalian."


Setelah Ayah dan Ibu dari dokter Shasmita selesai mengucapkan kalimatnya, maka mata semua orang kali ini tertuju kepada Ayah mertua Haris dari Diana dan juga Kirana.


Ayah Diana sendiri melihat kepada Ayah dan Ibu dari Kirana.


"Bagaimana Pak Wicaksono dan juga Ibu..?"


"Itu sudah baik, saya setuju dengan usul dan pendapat dari Pak Zuhandi beserta Ibu, yang merupakan Papi dari putri kita Shasmita."


Pak Wicaksono menjawab singkat, pertanyaan yang ditujukan padanya.


"Kalau begitu kita sudah sepakat saya sendiri mewakili orang tua dan juga seluruh keluarga dari Diana menyatakan setuju dengan usul dari kedua orang tua dari Nak Kirana dan juga Nak Shasmita, yang bagiku dan istri juga sudah seperti putri kami sendiri, artinya kita tidak ada lagi perbedaan soal dimana lokasi acara itu akan dilangsungkan.


Maka barangkali tinggal hanya menentukan kapan waktunya yang terbaik saja, kalau boleh memberi usul aku pribadi meminta acara itu kita langsungkan dua minggu kedepan saja, sebab agar ada cukup waktu bagi Diana dan juga Kirana untuk memulihkan diri. Kita semua tentu tahu seperti apa parahnya kondisi mereka sebelum ini, walaupun kemudian mereka sudah diobati tapi sebagai orang tua aku masih khawatir dan merasa mereka juga tentu masih butuh waktu istirahat yang cukup, sehingga nantinya pada hari H-nya ketika pesta itu digelar, tentu akan memakan serta membutuhkan energi yang lumayan banyak."

__ADS_1


Mendengar hal itu baik orang tua dari Shasmita maupun Kirana sepakat dengan usul yang di sebutkan oleh ayah mertua Haris dari Diana itu. Akhirnya pembicaraan mereka selesai malam itu dan kemudian tak lama hidangan pun digelar di tempat itu.


Chef keluarga dan asisten keluarga Haris yang sudah kembali bekerja, kemudian mulai menata dan menghidangkan hidangan makan malam. Setelah segala sesuatunya terhidang, Very datang membawa calon mertuanya yang merupakan ayah angkat Haris yakni orang tua dari Juli dan Nawir.


"Wah kelihatannya kami datang terlambat nih sepertinya..!"


"Eh Ayah, Ibu...! Kenapa baru datang sekarang..?"


Haris menyambut Om dan juga bibi dari istrinya Diana, yang sudah Haris anggap sebagai orang tua angkatnya.


"Ah tidak apa-apa nak Haris, Bapak tadi hanya kebetulan singgah ke rumah adiknya Bapak saja dan mereka menahan kami cukup lama di sana, sehingga ya mau tak mau kami jadi terlambat begini datangnya."


"Belum terlalu terlambat kok Pak, ayo kita makan bersama."


Haris mempersilahkan orang tua angkatnya itu untuk duduk dan kemudian beramah tamah dengan mereka, akhirnya seluruh anggota keluarga Haris termasuk para orang-orang yang dekat dalam lingkaran keluarganya, ikut makan pada malam yang berbahagia dan bersejarah itu.


Mereka semua tampak bahagia, kehangatan begitu terasa di ruangan itu dan semua hati orang penuh dengan kasih sayang serta penuh dengan rasa kebersamaan yang rasanya sudah cukup langka untuk mendapati keadaan yang demikian itu di luaran lingkaran keluarga Haris untuk ukuran seorang pria yang beristri tiga seperti Haris.


"Oh ya besok kalau tidak ada halangan mertua dari saudara kita Nando akan datang, jadi mari kita sambut dengan baik dan penuh keramahan."


Haris membuka topik tentang Nando


"Oh ya benar begitu Nando..?" Ayah Diana tersenyum ke arah Nando.


"Sebenarnya saya sendiri tidak tahu apakah mereka mau menerima saya atau tidak pak, hanya saja Tuan mendorong saya untuk segera menunjukkan keseriusan pada wanita yang memang saya sukai itu."


"Kenapa begitu..? Memangnya kamu baru kenal dengannya Nando..?"


"Tidak Pak, sebenarnya cukup lama juga, karena ya kebetulan saya juga satu sekolah dengan wanita itu, tapi karena memang keadaan ekonomi keluarga saya yang kurang mapan selama ini, sedangkan mereka termasuk orang yang ya, termasuk keluarga yang berkecukupanlah di daerah saya Pak, jadi saya seperti tidak pernah dianggap begitu Pak."


"Wah seru nih ceritanya hehe. Tapi itukan dulu lho Nando, kalau sekarang ya enggak begitu juga dong.


Kalau begitu besok kamu undang datang kemari, biar kita tunjukkan bagaimana keadaan dan juga sikap kita semua, yang satu keluarga besar ini.


Bapak yakin dengan melihat perlakuan kita nantinya, hati calon mertuamu itu akan luluh juga."


"Wah terima kasih ya Pak. Kalau begitu besok saya akan mencoba membawa mereka kemari, mudah-mudahan mereka berkenan."


"Baiklah kalau begitu pak, akan saya coba besok, tapi saya tidak janji hasilnya mereka akan mau."


"Ya coba saja dulu, jangan mudah putus asa."


Mertua Haris dari Diana terus menyemangati Nando.


"Kamu sendiri bagaimana Very..? Apa kamu sudah mengatakan kepada ayah tentang hubunganmu dengan Juli.?" Setelah masalah Nando selesai dibahas, Haris kemudian mengarahkan bola kepada Very yang membuat Very cukup terkejut dan menjadi gelagapan.


"Saya sudah menyampaikannya Tuan dan Ayah juga setuju."


"Apakah benar begitu Ayah.?"


"Iya Very sudah menyebutkannya, mau bagaimana lagi Haris.? Bapak juga sudah menanyakan kepada adikmu yang katanya juga memang sudah menerima Very."


"Bagus kalau begitu kita bisa tetapkan juga hari baik untuk pernikahan mereka. Tapi mungkin kita menetapkannya menunggu bagaimana kabar dari Nando dulu besok, kalau sudah dapat positifnya pernikahan Nando dan Verry bukannya lebih baik kita langsungkan bersamaan saja atau bahkan nanti bersamaan dengan pernikahan kami juga, bagaimana Ayah..?"


"Wah cocok juga itu, kenapa Bapak tidak sampai terpikir ke sana..? tapi ialah kita tuntaskan dulu masalah Nando."


"Baik kalau begitu sudah ditentukan. Nah buat kalian Riston, Amanu dan juga Halim, serta kamu Anton juga Erik dan yang lainnya, termasuk kamu Puspa dan Wulan juga 10 orang anggota pengawal wanita yang lainnya kalau kalian juga sudah memiliki calon, sebaiknya jangan ragu-ragu untuk menyampaikannya.


Jangan khawatir semua pengawal kita yang akan menikah, itu tidak akan menanggung semua biaya pernikahannya kecuali mahar yang memang harus diberikan oleh pasangannya kalau laki-laki. Selain itu biaya pesta akan ditanggung oleh Bos perusahaan ha..ha..ha."


Haris kembali menyampaikan hal yang pernah dia bahas dengan Nando kepada yang lainnya dengan tegas dan jelas meski di ujungnya Haris sedikit bercanda, sehingga teman-teman Nando yang tadinya masih setengah-setengah percaya, menjadi lebih yakin setelah mendengar langsung kalimat itu diucapkan oleh Haris.


Sedangkan para pengawal wanita yang benar-benar masih merasa baru dengan berita itu, cukup terkejut dengan kabar tersebut yang bagi mereka seperti berita mendadak itu.


"Ya sudah kalau begitu mungkin malam ini, itu saja dulu yang kita bicarakan, sekarang masing-masing dari kita sudah boleh untuk beristirahat ke ruangannya masing-masing."


Haris segera menutup pertemuan itu dengan kalimat yang singkat, setelahnya orang-orang pun mulai bubar yang dimulai dari para barisan orang tua, yakni ke-3 pasangan ayah dan ibu mertua serta calon mertua Haris.

__ADS_1


"Wah ternyata kabar itu memang benar adanya, Nando tidak sedang bergurau."


"Benar sekali Riston, ada rasa yang berbeda jika mendengar langsung begini dari Tuan."


Para pengawal pria milik Haris yang berjalan pulang menuju tempat mereka, kembali tertarik dengan pembahasan itu, yang sempat membuat mereka heboh pada sore hari tadinya.


Sementara itu Haris, kembali ke kamarnya bersama kedua istrinya dan juga Shasmita yang diajak oleh Diana dan Kirana.


"Ternyata cukup cepat juga musyawarahnya."


"Kamunya saja sih dek Shasmita yang bawaannya resah dan gelisah terus, apalagi saat Raja tidak kelihatan hehe.."


Diana menggoda Shasmita yang sudah masuk bersamanya ke ruangan besar milik mereka, yang memang di desain seperti ruangan berkelas presidensial suite di hotel bintang lima itu.


"Ah Kak Diana, masih saja menggodaku.


Ya aku akui memang aku cukup gugup sih, aku begitu takut terjadi hal yang tidak di inginkan. Syukurnya kekhawatiranku tidak terjadi."


"Apa yang harus di khawatirkan..? Para orang tua kita juga cukup dekat dan saling pengertian, malah ternyata sebelumnya mereka sudah membicarakannya tadinya.


Kalau Kirana sih tidak khawatir sebenarnya karena yakin kalau tidak akan ada masalah yang berarti soal itu.


Hanya memang kepergian Abang tadi tidak biasanya, itu saja."


"Benar Kak Kirana, aku juga sebenarnya itulah inti dari kekhawatiranku."


"Hahhh sudahlah Dek Kirana dan juga dek Shasmita, yang jelas kita semua sudah tahu alasan sebenarnya, jadi tidak ada masalah apa-apa lagi sekarang.


Oh ya Dek Kirana entah kenapa sejak diobati oleh suami kita, aku merasa tidak mudah lelah sekarang dan ini pun mataku sama sekali tidak mengantuk.


Biasanya kalau sudah jam segini, badan ini pasti sudah mau pangsan saja bawaannya."


"Iya bener Kak Diana. Tadinya aku juga mau mengatakan hal itu tapi Kak Diana sudah mengatakannya lebih dulu.


Aku juga merasa begitu, terasa tubuh ini begitu ringan."


"Benarkah.? Apa benar begitu kak Diana dan Kak Kirana..?"


"Itu benar dek Shasmita, sebaiknya kamu juga nantinya berobat pada suami kita."


Shasmita merasa penasaran dengan apa yang diucapkan oleh Diana dan Kirana, menurutnya itu adalah sesuatu yang aneh, padahal baru saja keduanya sakit dan diobati.


Sebagai dokter, Shasmita cukup paham betul bagaimana atau seperti apa dan berapa lama waktu yang diperlukan bagi seseorang yang menderita penyakit seperti yang mereka berdua derita, untuk masa pemulihannnya.


Bahkan dia yang tidak sakit sebelumnya sudah merasa lumayan lelah hari itu. Sambil berpikir Shasmita tanpa sadar sudah terlelap dalam tidurnya dan Diana beserta Shasmita yang menyadari hal itu tersenyum dan memaklumi keadaan Shasmita yang memang belum pernah mendapatkan pengobatan atau perawatan kesehatan dari Haris seperti mereka.


Dengan penuh kasih Kirana menyelimuti tubuh Shasmita yang sudah tidur terlelap dengan begitu pulasnya itu dan dia melanjutkan pembicaraannya dengan Diana.


"Melihat sosok ini aku jadi teringat saat aku juga belum jadi istri Bang Haris kak Diana."


"Hehe, karena keberadaan Shasmita di kamar ini, suami kita memilih untuk tidur di kamar yang lainnya. Aku sangat kagum dengan pribadi suami kita itu dek Kirana.


Tiba-tiba aku ingin bersamanya, bagaimana kalau aku menemaninya saja malam ini dek Kirana..?"


"Ha..hahah Kakak halus sekali bahasanya, ya aku faham kok, pergilah."


"Terima kasih adekku Kirana yang cantik, kamu cantik deh."


"Ah Kakak bisa saja, pergilah temani suami kita."


Dengan penuh senyum yang indah Diana segera melangkah menuju kamar tempat Haris berada.


Semua orang di Villa yang besar itu telah terlelap dan tertidur di tempat peraduannya masing-masing, ketika malam semakin larut.


Hanya tersisa Haris dan Diana yang sedang memadu kasih itu yang masih terjaga, berikut para pengawal pria yang mendapatkan giliran bertugas jaga pada malam itu, beserta para Satpam yang juga tidak tidur, di saat yang lainnya telah beristirahat dengan tenang, dalam dekapan malam yang gelap dan penuh kedamaian.


Villa Haris yang gagah dan tinggi menjulang itu, menjadi simbol kesejahteraan di kampung P, sekaligus menjadi cerminan tulang punggung, yang menjamin ketersediaan bantuan dan juga dukungan yang bisa warga desa P peroleh dari Haris.

__ADS_1


Kedudukan Haris yang tinggi bagaikan raja, membuatnya terlihat pantas untuk berada pada Villa huniannya yang mirip dengan sebuah istana kerajaan, yang berada di tengah-tengah rakyatnya itu.


Ada begitu banyak warga desa yang memilih bergadang dan tidak tidur untuk menghabiskan waktu mereka di beberapa kedai-kedai kopi yang memang buka selama 24 jam di desa itu.


__ADS_2