
Pada saat pagi hari, Haris dan juga kedua istrinya dikawal oleh para pengawalnya pergi menuju kota P
"Nando kamu bawa saya dan nyonya berdua.
Biar Riston dan yang lainnya bawa mobil sendiri."
"Siap tuan...!"
"Very, kamu dan Riston bersama temannya pergi ke desa S, jemput Bos Jhon beserta keluarganya, lalu kamu yang membawanya.
Tapi kamu akan dibantu mereka bertiga nantinya, mengangkat dan menurunkan bos Jhon."
"Baik tuan..!"
"Riston, Amanu dan Halim, aku punya seorang sahabat dekat selain Darman, yang sudah seperti keluarga bagiku.
Dia saat ini sedang sakit, kakinya patah, jadi aku ingin sering-sering membawanya keluar untuk melihat dunia luar ini, agar semangatnya untuk sembuh itu bisa terbangun kembali dengan cepat.
Aku sangat menyayanginya, sebagaimana aku menyayangi keluargaku sendiri, kalau kalian merasa bahwa kalian juga bahagian dari keluargaku sekarang, maka tolong bantu aku dan bantu Very untuk mengurusnya.
Apakah kalian keberatan...?"
"Oh tidak tuan, kami tidak keberatan sama sekali tuan.
Keluarga tuan adalah keluarga bagi kami, malah kami sangat bahagia tuan sudah berkenan, menganggap kami sebagai keluarga."
"Baiklah.! .Aku senang sekali mendengarnya.
Tapi dia itu sedang sakit sekarang, tentu ada hal-hal yang mungkin tidak menyenangkan bagi kalian nantinya.
Jadi kalau kalian keberatan dengan hal itu katakan saja, aku tidak akan memaksa kalian melakukan sesuatu yang tidak kalian inginkan."
"Kami sangat faham bos kami sangat faham Tuan dan kami tidak akan keberatan dengan itu."
"Baiklah kalau begitu kita berpisah sekarang, untuk bertemu lagi nantinya.
Very silahkan pimpin jalan di depan, pergilah ke desa S dan jemput Bos John aku sudah menghubungi Darman, supaya dia menyampaikan kepada keluarga John, untuk bersiap-siap.
Jadi seharusnya kalian tidak akan terlalu lama menunggu nantinya."
"Baiklah Tuan, kami akan berangkat."
Mobil Very yang berada di depan mobil para pengawal Haris, kemudian pergi untuk menjemput John di desa S
"Baiklah kita juga berangkat sekarang.
Ayo Nando jalankan mobilnya."
"Baik Tuan."
"Siap Tuan...!
Puspa dan Wulan juga mengatakan kesiapannya, bersamaan dengan Nando.
Haris yang di bawa oleh Nando, sedangkan para pengawal istrinya yang membawa mobil sendiripun akhirnya berangkat menuju kota P untuk bertemu dengan Edi.
Edi adalah pemilik warung atau kedai kopi di sebuah perbukitan eksotis yang ada di pinggiran kota P.
Setelah menempuh satu jam perjalanan, maka Harispun telah tiba di depan Hotel milik mereka, yakni Hotel Nurul Haris yang merupakan Hotel kedua yang Haris miliki, dari keseluruhan 14 hotel miliknya yang telah ada saat ini.
Pada prinsipnya semua hotel Haris dikelola oleh para bawahan yang profesional di bidangnya, termasuk untuk mendapatkan hotel yang lain juga Haris memanfaatkan kinerja para bawahannya.
Haris terus mendorong supaya bawahannya berbenah diri, untuk naik kepada posisi yang lebih tinggi dan juga mendorong untuk mencari beberapa hotel lagi kedepannya.
"Bang kami tidak langsung masuk ke hotel dulu yah, aku dan kak Diana serta Puspa dan Wulan mau pergi ke salon buat perawatan.
Bolehkah bang...?"
"Ya tentu boleh.
Pergilah, aku akan menunggu bang Edi, teman yang ingin aku temui itu di sini saja, sambil menunggu kedatangan John nantinya.
Kalian perginya naik mobil Puspa aja ya, karena aku bersama Nando beserta John, mungkin akan pergi ke warung bang Edi nanti."
"Ya nggak apa apa mantap.!
Makasih ya abang sayang."
Setelah ucapan itu terdengar, dua kecupan bibir wanita yang begitu cantik dan anggun itu mendarat di pipi Haris kiri dan kanannya, pada saat yang bersamaan.
Nando sempat melihat dari kaca, namun dia mendapati mata Haris sedang memandang tajam padanya, akhirnya dia membuang wajahnya mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Dasar bodoh kenapa juga mata ini tiba tiba memandang persis terarah pada tuan dan nyonya, sialan."
Nando merasa serba salah dan jadi salah tingkah.
__ADS_1
"Kami pergi sekarang ya Bang..!"
"Iya itu si Nurul hati-hati lho dek, jangan karena sibuk perawatan, nanti Nurul terbengkalai."
"Iya lho bang, kan ada Puspa dan Wulan.
Kami akan gantian nanti menjaganya."
"Ya sudah pergilah."
"Terima kasih ya abang sayang.
Adik berdua pergi dulu ya."
"Iya!"
Kedua istri Harispun segera berangkat ke salon, untuk menerima perawatan yang akan memanjakan keduanya.
Baik Kirana maupun Diana, di layani oleh pihak salon dengan baik.
Tampilan keduanya kini semakin bersinar dan semakin menonjol kecantikannya.
"Puspa Wulan, sinikan Nurul dan kalian juga pergi sana perawatan."
"Ah tidak usah nyonya, kami begini saja tidak usah dirawat."
"Eh tidak usah panggil panggil Nyonya, panggil aku kakakmu saja, aku sudah menganggapmu sebagai adikku, jadi sebagai adik kamu harus menurut kepada kakakmu, sudah sana perawatan."
"Ta..tapi Nyonya...?"
"Kakak! bukan nyonya dan tidak ada tapi tapian, ayo perawatan biar makin cantik."
Awalnya baik Puspa maupun Wulan menolak, tetapi kemudian hanya bisa menurut, ketika Diana dan Kirana tetap memaksa.
Akhirnya kedua wanita itupun mendapatkan perawatan yang memanjakan kaum hawa itu, dan hasilnya juga sedemikian cantik dan indahnya.
...----------------...
Haris merasa tidak betah sendiri, akhirnya pergi untuk duduk di kedai seberang jalan di depan hotelnya.
Belum lama berada di sana Handphonenya berbunyi.
[Rosa Memanggil]
"Halo tuan.."
"Ini Tuan saat ini di depan saya ada seorang bapak, bernama Pak Edi.
Menurut beliau, sudah janji mau bertemu dengan Pak direktur, mereka sekarang ada di sini."
"Oh ya, memang sudah janji.
Oke Rossa kamu bilang sama Pak Edi supaya datang menjumpai saya.
persis ada di seberang jalan depan hotel kita.
Saya sedang minum kopi.
Oh ya Rossa...!"
"Iya tuan...!"
"Apa Pak Edi ada bawa anak perempuan...?"
"Oh iya ada ini Pak putrinya, anak gadis."
"Oh ya sudah, anak gadisnya itu dibawa ke dalam, ganti pakaiannya dengan pakaian hotel kita yang bagus.
Kalau kamu nggak ada waktu, siapa yang sedang tidak bertugas di situ coba kamu suruh ajari dan bimbinglah, bagaimana caranya supaya dia bisa menjadi ikut sebagai karyawati kita di sana, bekerja sebagai resepsionis dahulu dia awal mulanya ini.
Tolong ya Rossa, saya mengandalkan kamu."
"Iya siap.
Siap Tuan siap."
"Baik kalau begitu, saya sampaikan saja sekarang ya tuan, apa yang sudah tuan sebutkan kepada Pak Edinya."
"Ok saya tunggu disini."
"Iya baik Tuan."
"Bapak....!
Bapak Edi...!
__ADS_1
"Iya bu, maaf saya sibuk bicara sama anak saya tadi."
"Bapak disuruh datang ke itu pak, kedai di seberang jalan depan Hotel kita ini pak.
Nah Pak direktur lagi duduk di situ, sedang minum kopi kata pak Direktur tadi dan untuk adik ini siapa nama adiknya...?
Julia mbak."
"Oh Julia ya, nama yang indah."
"Terima kasih mbak eh ibu maksud saya."
"Oh ya Bapak dan Julia, perkenalkan saya GM Rossa, pimpinan semua staff yang ada di hotel ini.
Tadi tuan pemilik hotel ini sudah mengatakan, kalau untuk Julia, katanya di sini saja.
Mungkin untuk pertama kalinya dek Julia melihat lihat dulu di sini, bagaimana cara kita meladeni tamu.
Intinya Julia sudah diterima oleh tuan Haris dan sekarang dek Julia, ikuti salah seorang staff kita untuk berganti pakaian khas dari hotel kita ini dan sedikit di makeup, mungkin ya.
Ngak apa apakan adek Julia...?"
"A..apa...?
Ayah Julia langsung diterima bekerja disini..?
Bekerja sebagai salah seorang resepsionis...?"
"Apa benar begitu bu'..?
Edi merasa kurang percaya dengan pendengarannya.
"Iya pak! itu yang tuan sampaikan tadi, mungkin ya beberapa hari ini adeknya akan dilatih dulu ya, tidak langsung masuk melayani di depan begini."
"Terima kasih ya bu' sudah terima anak saya untuk bekerja di sini."
"Pak direktur, Tuan Haris yang menerimanya langsung Pak, kami hanya melaksanakan perintah beliau.
Berterima kasihlah padanya."
"Iya Bu.!
Ibu apa tadi bu...?
Saya tidak tahu namanya."
"Oh saya GM Rosa Pak General Manager Rossa."
Oh iya Bu Rossa ya..?
Maaf saya kurang tahu menyebutkan lengkapnya, maklumlah bu' saya tidak pernah masuk-masuk Hotel sebelumnya."
"Iya Pak enggak apa-apa.
Baik Pak itu tuan sudah menunggu Pak, nanti terlalu lama."
"Oh ya benar, itu dek Haris.
Saya ke sana dulu ya bu'.
Julia, Bapak pergi dulu ya nak kamu tinggal di sini sama itu, Ibu Rossa Ibu manajer."
"Alhamdulillah ya ayah, Julia langsung diterima."
"Iya itukan sudah ayah bilang, kalau dek Haris teman ayah itu sudah janji.
Ayah sudah bilang kalau direktur Haris itu teman ayah, tapi kamu kurang percaya."
"Iya ayah Julia salah.
"Ya sudah ayah temui tuan direktur Haris nanti beliau menunggu terlalu lama lho ayah.'
"Iya ayah berangkat sekarang, terima kasih bu' saya pergi menemui direktur Haris sekarang."
"Baik bapak silahkan..!
Ayo adik Julia, kita ganti pakaiannya dulu."
"Iya bu manager."
Begitu bahagianya Edi maupun putrinya, akan goresan suratan hidup yang mereka terima di hari itu.
Kembali lagi hari-hari tuan Haris diisi dengan kegiatan baik yakni untuk membahagiakan hati orang lain.
Edi kemudian pergi menyeberang jalan untuk menemui Haris.
__ADS_1
Sedangkan putrinya Julia dibawa masuk ke dalam, untuk berganti pakaian.
Juga mendapatkan beberapa penjelasan, tentang tugas serta tata cara pekerjaannya ke depannya nanti.