Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _114 : Malaikat yang menyamar


__ADS_3

Selesai mandi Haris keluar dan memakai pakaiannya, Dia mendapati kedua istrinya sudah ada di kamar mereka, yang berada di lantai paling atas itu.


"Abang sudah pulang rupanya bang..?"


"Sudah, tadi adek dari mana.?"


"Nggak ke mana-mana lho Bang, cuma dari kamar ibu saja. Ibu tadi menanyakan berita tentang perkembangan pencarian orang yang melukai Bang Beni dan juga kondisi kantor tempat kerjanya, yang telah dilakukan perbaikan.


Ibu tanya soal keamanan para pekerja Bang."


"Oh begitu, lalu mana Nurul dek..?"


Nurul tadi nggak mau ikut Bang, mau ikut sama neneknya aja katanya, ya sudahlah Adek biarin saja dia ikut sama ibu, Adek tinggalkan Nurul di sana."


"Oh ya sudah.! Bang Beni bagaimana..? Mereka juga di sinikan..?"


"Iya Bang. Biarlah Bang.


Beberapa hari ini mereka disini agar Bang Beni lebih pulih kepercayaan dirinya."


"Iya sih, Abang juga berpikirnya begitu, Oh ya nanti malam kalau kita makan malam, sepertinya kurang lengkap ya kalau tidak ada gulai ikan jurungnya.


"Iya betul Bang bagaimana kalau Abang bilang sama Nando untuk menjemput gulai ikan jurung ke rumah makan Bang Mardan..?


Apalagikan Papa dan Mama juga sedang ada di sini, jarang-jarang lho Bang Papa dan Mama makan ikan jurung kalau masakan dari Rumah makan Bang Mardan.


Mungkin belum pernahpun."


"Iya sih dek Diana, ya sudah kalau begitu biar alAbang sendiri saja yang menjemputnya soalnya Nando agak banyak juga pekerjaannya belakangan ini, kasihan juga dia."


"Terserah Abang saja, apa Abang tidak bersama pengawal kita...?"


"Tidak apa-apa Abang bisa jaga diri kok."


"Ya sudah deh terserah Abang saja."


Haris kemudian turun dari lantai atas villanya kemudian masuk ke dalam garasi mobilnya.


Haris sejenak berpikir hendak mengeluarkan mobil Bugatti La Voiture Noire seharga 255,9 miliar rupiah miliknya, yang belum pernah dipakainya sebelumya sejak mendapat hadiah misi poin yang diperolehnya.


Tapi dia kemudian berpikir, kalau itu terlalu berlebihan hanya untuk dipakai menjemput lauk ke Rumah makan.


Haris akhirnya memutuskan untuk memakai mobil Bugatti Veyron Super sportnya.


Begitu Haris mengeluarkan mobilnya dari bagasi, dia melihat sosok Darman yang baru saja datang dan menuju ke arahnya.


"Eh Man, kok datang sore sore begini Man..?"


"Iya bos, mau melapor."


" He..he melapor, ya sudah Aku juga mau pergi nih menjemput lauk ke rumah makan Bang Mardan, kamu ikut yuk, kita sambil cerita di jalan saja."


"Oke siap bos."


Darman lalu membuka pintu mobil, masuk dan duduk di samping Haris yang memegang kemudi.


Keduanya lalu meluncur membelah jalanan, menuju rumah makan milik Mardan yang berada di lokasi wisata alam di Desa H.


"Bagaimana cerita Man.? Sudah seperti apa perkebunan kita yang di sana...?"


"Alhamdulillah semua beres kok Bos."


"Ah tidak usah panggil Bos aku merasa jadi jauh sama Kau Man."


"He..he, semuanya sudah lebih teratur dan lebih tertib sekarang Ris.


Pembangunan rumah karyawan kita juga juga sudah hampir selesai semuanya."


"Pabrik pengalengan ikan itu bagaimana..?


Kau pernah nggak meninjau kesana...?"


"Iya pernah sih sama si John, melihat-lihat kesana. Pabrik itu juga mungkin tidak akan lama lagi sudah siap.


Sedangkan untuk pabrik kelapa sawitnya aku lihat sudah mulai pengerjaannya."


"Bagaimana para karyawan kita, makin semangatkah bekerjanya apa malah menurun atau biasa saja Darman.?"


"Ya syukurnya, mereka mengatakan kalau keadaan mereka pada pemilik yang sekarang ini jauh lebih bagus, daripada keadaan mereka dan apa yang mereka terima di hari-hari yang lalu Ris.


Jadi mereka dalam bekerjapun jauh lebih bagus, lebih giat dan semangat juga lebih bertanggung jawab serta lebih disiplin dengan kita."


"Bagus deh kalau begitu, Fauzan, Pak Samsul dan kawannya yang lain-lain bagus enggak kerjanya..?"


"Oh bagus Ris, apalagi Fauzan dia itu sangat bertanggung jawab dia yang super sibuk mengawasi semuanya.


Bagus sekali deh pokoknya kerjanya, teman-temannya juga ngak ada dari mereka yang main-main dalam bekerja."


"Oh, kalau begitukan semangat kita mau nambah lahan lagi.


Hmmm.. sudah sampai kita Man."


"Wah cepat betul ya Ris..?"


"Cepatlah mobil mahal hahahahah. Kamu sudah bisa belum bawa mobilnya biar kita beli Man."


"Meraba-raba Ris, belum pas."


"Ya sudah nanti kita beli aja mobilnya biar kau lebih semangat belajarnya Man, nanti biar aku bilang sama si Nando supaya kalian berdua sama-sama pergi ke showroom, untuk melihat mobil mana yang kau suka."


"Terima kasihlah ya Ris aku nggak tahu lagilah Ris bagaimana mau membayar jasa-jasamu."


"Wuidih jasa-jasamu wkwkwk.


Sudahlah.! kau cocok kali jadi pemain drama Man.


Ayo Man kita beli lauk, untuk makan malam bersama nanti malam.


Nanti malam kau datang ya Man, sama orang rumahmu dan anak-anak semua, kalau bisa bawa juga bapak dan ibu mertua sekalian.


Atau kalau kau segan kau belikan ajalah ini lauk untuk mertua, apa kira-kira yang disukai oleh mertuamu kau pesanlah, biar mertuamupun makin suka sama kau Man hehehe."


"Sepertinya aku ajak ajalah mereka nanti malam Ris, karena beberapa saat yang lalu pernah juga bapak mertua nanya. 'Man Kau pernah masuk villanya si Haris..?' Aku jawab ya pernahlah Pak, Kenapa rupanya Pak..!


Jadi aku mikir Ris, pertanyaan mertua gitu, apa jangan-jangan mertua juga pengen masuk kesana, makanya penasaran gitu.


Jadi nanti malam kalau memang boleh, Aku bawa ajalah orang itu Ris."


"Ha..ha..hah kaunya pula Man, nggak pernah kau bawa bapak mertua ke rumah.


Sering-seringlah bawa main-main waktu senggang, untuk kita juganya villa itu makanya dibangun, itu sebabnya kamarnya di buat banyak begitu.

__ADS_1


Supaya bisa keluarga kita lebih mendekatkan hubungan, udah kau bawa aja nanti malam sekalian nginap di sana aja, beberapa hari ini.


Apalagi, mertuaku atau Papanya istriku si Kirana, lagi disini. Kadang kasihan juga papa mertua itu nggak ada kawannya cerita, kalau ada temannyakan jadi rame, jadi enak.


Kau jangan sungkan-sungkan Man, kita inikan memang bersaudara."


"Iyalah Ris tapi nggak diundang si Jhon Ris, nanti nggak enak pula dia tahu awak diundang kok dia enggak diundang, kan heran pula dia nanti."


"Ya makanya nanti kau sampaikan ajalah sama Si Jhon biar kumpul kita semua nanti malam, sekalian bakar-bakar ikan kita di sana nanti tambahnya.


Si Jhon kan jago itu manggang-manggang ikan, memang dari hotelpun nanti bakalan datangnya makanan, tapikan enak juga kalau ada yang masak masak di tempat gitu."


"Okelah Bos siap Bos."


"Iya tapi ini beli aja dulu untuk lauk sore ini, kalau nunggu makan malam nantikan lama lagi ceritanya, habis Isya baru kita mulai."


"Iya juga ya Ris, ya sudahlah kalau gitu aku pesan jugalah, jangan salahkan kalau aku mesannya nanti kebanyakan."


"Enggak apa-apa, pesan aja berapa banyak yang kau mau Man, nggak ada istilah kebanyakan, sekalian kau pesan jugalah untuk si Jhon."


"Oh kalau begitu nanti kita langsung ke rumahnya ajalah Ris habis beli lauk ini, sekalian bilangin sama dia langsung, supaya datang nanti malam sama mertuanya, jadi akupun nggak susah-susah nanti bawa-bawa lauk yang untuk orang itu."


"Oh...! Pandai kau ya Man, jadi nggak capek lagi gitukan maksudnya.?


"Ha..hahh tahu aja si Bos besar."


"Ya sudah gitupun jadi, memang nggak enak juga sih kalau dia diundang lewat perantaraan gitu yakan.?


Okelah sama sama aja kita nanti, kerumah si Jhon, habis itu baru aku antar kau ke depan pintu rumahmu jadi kaukan nggak perlu keringatan lagi, kecapean bawa laukmu yakan Man..?"


"Ngohahahahah... Makin mantap lagi kudengar itu Bos..hehe."


"Ya sudahlah kau sajalah yang pesan makanannya Man, Aku mau jalan jalan ke doorsmeer yang ada di sana.


Perkirakan saja berapa banyak yang kita perlukan nanti malam, jangan takut kalau masalah biayanya berapapun kita bayar, bila perlu sampai habis isi Rumah makan ini he..he


Soalnya akupun lagi pusing mau menghabiskan uang ini."


Darman kemudian pergi menemui istri Mardan si pemilik Rumah Makan yang duduk di meja kasir, Darman sudah akrab dengan pemilik tempat dimana mereka biasa makan setelah pulang dari kebun sawit itu.


Lalu dia memesan banyak lauk untuk keperluan acara makan malam bersama mereka nantinya, sedangkan Haris pergi ke doorsmeer yang berada tidak jauh dari Rumah makan itu untuk melihat-lihat keadaan di sana.


"Eh Bang Haris tumben nih baru ini nampak kemana saja selama ini...?"


"Iya nih Budiman, agak sibuk nih selama ini.


Gimana banyak dapat hari ini cucianya..?"


"Sepi Bang, musim hujan sedikit yang nyuci. kederaan.


Duduk bang Haris...!"


"Iya terima kasih Budiman.


Kak teh manisnya satu ya..!"


"Iya Bang, bentar ya Bang, dibuatin."


"Iya Kak, kau nggak minum nih Budiman..? pesanlah mau minum apa..?"


"Aduh udah minum terus aku Bang dari tadi, udah gembung perutku ini malahan.


Makan yang belum Bang."


"Itulah tadi Bang.


Sudah kubilang sepi cucian Bang, nanti nggak ada pula yang mau di bawa ke rumah kalau makan sekarang.


Tunggu dapat duit dululah Bang baru makan."


"Waduh di mana-mana yang didahulukan itu makan dulu Budiman, ya sudah makanlah yang banyak sana, Abang yang bayar nanti.


Mau makan disana atau disini saja, kalau disini Kau jemputlah kesana makanannya, bawa kemari.


Jangan takut kau Budiman, nanti abang yang bayar makanannu sekalian Abang mau nitip jugalah sikit nanti buat istri dan anak-anakmu di rumah."


"Aduh Bang terima kasihlah ya Bang, betul ini Bang..? Soalnya udah lapar juga aku rasa ini Bang."


"Iya betullah Budiman..! enggak mungkin main-main, sudah sanalah.


Makan itu harus didahulukan Budiman."


"Iyalah Bang kalau begitu Aku makan disana sajalah Bang biar tenang, apalagi nggak terlalu harus ngejar setoran lagi di sini, sehingga harus buru-buru beradu sama teman, apalagi kalau memang Abang ada niat mau nitipkan buat adik Abang di rumah."


"Ada tenang saja kau Man, kalau untuk 5 juta nanti Abang kasihlah sama Kau, tapi jangan mengeluh jangan mengupat karena merasa sedikit, segitu dulu nanti-nanti ada rezeki Abang kasih lagi."


"Aduh 5 juta Bang...? jadi kenyang aku mendengarnya saja Bang.


Terima kasihlah ya Bang, sudah banyak kalituh Bang."


"Sudah Man, jangan bilang banyak kali nanti Abang kurangi, nyesal kau. Sudahlah sana makan, kalau nggak makan, nggak Aku kasih."


"Oh iya..iya Bang."


Pria yang kesehariannya bekerja mencuci kendaraan di doorsmeer itupun berlari untuk makan ke rumah makan.


Dia merasa kurang cepat untuk mendapatkan uang Lima juta yang dijanjikan oleh Haris, sementara orang-orang yang ada di sana terbengong dengan pembicaraan Haris dan Budiman.


"Bang masa Budiman saja yang dikasih Bang, kamipun juga susah Bang nyuci di sini, kasih jugalah kami Bang berapapun jadi."


"Oh iya sebenarnya saya juga mau ngasih kalian juga kok, ada berapa kalian semua."


"Kami ada 5 orang nih Bang yang nyuci anggota tetap di sini, sama si Budiman jadi 6 oranglah Bang."


"Ya sudah kalian berlima juga dapat 5 juta seorang, tapi syaratnya makan dulu disana, kalau enggak makan enggak dikasih."


"Betul nih Bang..?"


"Betullah, apa harus ditunjukkan dulu duitnya baru yakin...?


"Yakin kami Bang kalau Abang yang bilang yakin kami Bang."


"Ya sudah makan sana."


Kelima orang pencuci kendaraan itupun berlari mengikuti jejak Budiman untuk makan di rumah makan milik Mardan.


Haris begitu senang melihat senyum-senyum bahagia yang terpancar dari ke Enam orang yang dijanjikannya uang tersebut, Haris merasa kedatangan dirinya ke tempat itu menjadi berarti.


Setelah cukup lama duduk di sana sambil menonton televisi, yang memang disediakan oleh pemilik usaha doorsmeer, itu tak lama seorang wanita dan seorang anak kecil perempuan yang di bawanya datang ke kedai pemilik kedai itu.


"Aduh bu' Kuenya masih banyak ini, lebih dari separuh ini belum laku dari tadi pagi, padahal kuenya masih bagus bagus lho bu'.

__ADS_1


Soalnya memang yang cuci kenderaanpun sedang sepi, nggak banyak orang yang datang, jadi para pekerja disinipun orang itu nggak ada duit mau jajan.


Merekapun berpikir kalau mau jajan, kalau begini terus bisa rugilah Ibu nantinya, habis modal.


Kalau nggak stop aja dulu kuenya ya Bu'.


"Janganlah Bu, jangan disetop. Biarlah saya tiap hari nitip kue di sini, mungkin jumlahnya saja dikurangi.


Ya namanya juga dagang Bu' kalau lagi ada rezeki habis, kalau lagi sepi ya sepi mau bagaimana lagi."


Pemilik kedai dan doorsmeer itu kemudian menyambut kedatangan ibu yang datang bersama anaknya. Pemilik kedai kopi merasa tidak enak dan merasa kasihan karena si Ibu itu pasti rugi total kalau penjualannya hanya seperti hari itu.


Karenanya dia mengusulkan agar kuenya dihentikan saja untuk sementara tidak dititipkan.


Mendengar pembicaraan itu dan melihat muka sayu yang ditunjukkan oleh ibu yang menitipkan kuenya disana membuat Haris merasa iba, hatinya terenyuh menyaksikan hal itu dan terasa perih.


"Oh ya Bu' ada berapa lagi kuenya...?


"Ini Mas, ada 50 lagi kuenya campur-campur, masnya mau beli ya..?"


"Ya saya borong semuanya bu' berapa satunya Bu..?"


"Satunya Rp1.000 mas."


"Oh seribu ya, berarti kalau 50 lagi 50 ribu dong...?"


"Iya Mas."


"Ibunya nitip kue setiap hari di sini..?


"Iya Mas, ada juga sih di tempat lain, ada tiga tempat yang saya titipi."


"Oh begitu..? Masih sanggup lagi nambah kuenya..? maksudnya bikin lagi buat di titip di tempat-tempat lain lagi gitu.


Satu antar ke kampung saya di desa S, tiga desa daei sini, nanti titip aja di kedai kopi milik Bang Kules, biar nanti saya yang bayar sama ibu, bayar bulanan aja nggak usah minta duitnya sama Bang kules.


Artinya nanti orang di tempat itu biar gratis aja makannya."


"Boleh Pak berapa pak kuenya..?"


"Ya 100 biji aja/harinya. satu hari berartikan Rp100 ribu ya, kalau 1 bulan berarti 3 juta yakan Bu..?"


"Iya Mas."


Nah kalau ya udah titip sana nanti biar saya kasih ibunya 3 juta/bulan, kalau Ibu masih sanggup ada satu kedai lagi tapi agak jauhan dari sini di Desa P, warung kopi Wak Maklin, kalau Ibu masih mau nambah buat Kuenya di sana juga titip 100 jadi 3 juta juga sebulannya.


Walaupun 28 hari hitung 3 juta saja, saya nanti yang bayar berarti saya kasih sama ibu Rp 6 juta/bulan."


"Mau..maulah Mas, Terima kasih Mas.


Ya Allah nggak nyangka dapat rezeki seperti ini. Terima kasih ya Mas."


"Iya nggak apa-apa bu'.


Ya sudah kalau begitu ini tadi Rp 50.000 ya...?"


"Iya mas."


"Nah ini ada 5 juta buat ibunya, buat modal nih saya beri, mudah mudahan berkah.


Lalu untuk bayar kue yang bulanan itu, Rp 6 juta ya tadi ya dua tempat..?


Untuk langganan dua kedai kopi itu jadi saya beri ibu 11 juta, rinciannya pemberian saya Rp 5 juta tambah Rp 6 juta jadi totalnya Rp 11 juta."


Mendengar begitu ringan dan lancarnya Haris mengucapkan itu, sambil memberikan uang ke wanita itu, ibu penjual kuepun itupun tersungkur ketanah, dia merasa lemas lalu menangis penuh bahagia.


Anaknya yang mengira ibunya entah kenapa-kenapa, ikut menangis.


Melihat itu ibunya memeluknya mengatakan kalau ibunya sedang bahagia, ibunya tidak sedih.


"Kita sudah punya uang nak, ibu nggak sedih tapi lagi senang, Om ini orangnya baik, memberi kita uang yang banyak. "


Mendengar penuturan ibunya, anak itu kemudian berhenti menangis dan tersenyum ke arah Haris yang membuat Haris menjadi seperti merasakan kelapangan di dalam dadanya.


Pemilik kedai itupun terbengong melihat Haris dan tidak menyangka peristiwa ini akan terjadi.


Setelah ibu itu berdiri ke-6 orang yang tadinya Haris suruh makan di rumah makanpun telah datang, mereka buru-buru takut Haris pergi meninggalkan mereka.


Haris tersenyum lalu memberikan uang yang diambil dari ruang inventorynya 5 juta/orangnya sehingga Haris mengeluarkan uang total 41 juta di tempat itu saat itu juga.


Ke-6 orang ini bersama ibu penitip gue saling melihat satu sama lain dan kemudian air mata mereka membasahi pipinya masing-masing dan semuanya datang mencium tangan Haris tapi Haris tidak mau tangannya dicium dan dia menariknya seketika.


"Eh nggak usah begitu, kita hanya sedikit berbagi rezeki saja ya, nanti kedepannya saya akan memberi dan membagi rezeki lagi buat semuanya.


Do'akan saja kita sehat semuanya, usaha semakin lancar umurnya berkah ya semuanya..!"


"Iya Mas Iya..."


"Iya Bang, terima kasih Abang orang baik Bang."


Mereka berlomba-lomba untuk menjawab ucapan Haris.


Tak lama kemudian handphone Haris berbunyi. Darman dari rumah makan mengatakan kalau pesanan mereka telah siap dan dia menghubungi Haris.


"Iya Man, sebentar ya Man.


Budiman dan semuanya, Ibu juga saya pamit pulang, semoga secepatnya nanti kita akan bertemu lagi.


Pergunakan uang itu sebaik-baiknya, diberi sama keluarga jangan dihambur-hamburkan.


Ibu juga ya Bu, jangan lupa kalau ibu mau Ibu bisa titipkan kue yang 100 biji itu di dua kedai yang saya sebutkan itu, jadi saya akan kasih Ibu nanti 6 juta setiap bulannya.


Ini kartu nama saya, kalau sudah selesai satu bulan ini, hubungi saya biar saya kasih lagi 6 juta untuk pembayaran kue berikutnya.


Tapi kalau Ibu nggak mau, atau mau buat usaha lain, ya sudah duit yang saya kasih ke Ibu pegang saja buat ibu."


"Mau kok mas ibu mau.


Agar ibu punya langganan tetap."


"Ya sudah bagus kalau begitu. Baik udah ya semuanya saya pergi dulu.


Kak ini Kak uang teh manisnya."


Haris kemudian meletakkan uang Rp100.000 di bawah gelas teh manis minumannya dan diapun berjalan keluar menuju rumah makan untuk kembali ke desanya.


Semua orang yang berada di kedai itu termasuk si pemilik kedai, begitu tertegun melihat Haris yang telah pergi meninggalkan mereka.


"Apakah orang itu masih manusia ataukah Dia sebenarnya malaikat yang sedang menyamar...?


Itulah yang terbersih dalam hati semua orang.

__ADS_1


Bahkan Budiman yang selama ini sudah mengenal Haris sejak masa susahnya dibuat pangling dengan sikap Haris itu.


__ADS_2