Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _92 : Pabrik pengalengan ikan


__ADS_3

[Sistem]


"Ding...!


Misi terpicu tuan, oleh karena sesuatu yang sampai begitu mempengaruhi perasaan hati tuan."


"Misi apa itu sistem...?


[Sistem]


"Kali ini misinya adalah mendirikan pusat pengolahan dan pengalengan ikan tuan, untuk kepentingan ekspor luar negeri tuan."


"Wah dapat ikan darimana, di lahan perkebunan begini sistem...?"


[Sistem]


"Tuan barangkali tuan lupa, kalau tuan itu punya armada kapal penangkap ikan, sebanyak 10 unit tuan dan lokasi tuan berada sekarang adalah, wilayah pantai timur yang dekat dengan laut tentunya.


Anda hanya perlu mengarahkan kapal-kapal itu agar membongkar muatan di tempat ini tuan, dengan mendirikan dermaga pribadi yang sederhana sebelumnya.


Kemudian nanti hasil tangkapan itu akan disortir, mana yang layak sebagai ikan untuk kepentingan ekspor dan mana yang bisa dijual di pasar lokal, seperti biasanya tuan.


Untuk ikan diluar kepentingan ekspor akan dijual seperti biasa, ikan ikan bisa diantar ke tempat lain, melalui jalur yang ada di daerah ini tuan.


Bukankah jalur ini sudah biasa dilalui oleh mobil-mobil dengan muatan berat yang membawa hasil perkebunan sawit selama ini tuan...?


Jadi dengan sendirinya jalur ini sudah memotong perjalanan yang cukup jauh ke pinggiran kota S sebagai kota pelabuhan yang ada selama ini tuan."


"Wah jauh sekali pengamatan dan penilaianmu sistem, aku bahkan tidak terpikir sampai ke sana.


Berarti selain meningkatkan kwalitas pendapatan para anak buah kapal (ABK) yang aku miliki, aku juga bisa menghidupkan sektor mata pencaharian bagi warga lokal di sekitar sini.


Selain itu mobil angkutan ekspedisi yang aku miliki, tidak harus selalu menunggu adanya pesanan dari pihak lain, karena selain menunggu pesanan pihak lain seperti biasanya, angkutan itu juga sudah punya penghasilan dan jadwal harian tetap, yang bisa menjadi sumber tetap pula bagi para anggotaku di sana."


[Sistem]


"Benar sekali tuan, tapi di luar daripada apa yang tuan sebutkan itu, pada prinsipnya yang paling penting bagi sistem adalah, bisa mewujudkan hal yang membuat hati tuan menjadi begitu terhanyut memikirkannya.


Yakni untuk bisa memajukan dan meningkatkan taraf hidup warga lokal yang ada di sekitaran desa ini tuan, sehingga dengan tersampainya tujuan dan cita-cita tuan itu, tuan bisa merasa bahagia karenanya"


"Seperti biasa kau memang yang terbaik sistem.


Aku hanya bisa mengatakan kalau aku makin mencintaimu sistem."


[Sistem]


"Senang sekali rasanya mendapatkan pujian dari anda tuan, sedikit banyaknya sistem sekarang sudah memiliki emosi yang terikat dengan perasaan tuan.


Yang mana dengan itu sistem, akan merasa senang apabila tuan menjadi senang dan sistem akan menjadi marah, bila terjadi peristiwa seperti kasus si mandor tengil yang bernama Erfan itu tuan."


"Ah kalau itu, jangan terlalu kamu pikirkan sistem, kita hanya sekedar memberinya pelajaran, agar dia sadar.


Setelahnya nanti apabila dia sudah menjalani hukumannya kelak, apabila dia datang kemari, kita akan sambut dia sebagai saudara dan akan kita berikan jalan, berupa mata pencaharian yang halal, sehingga dia tidak harus menipu seperti yang selama ini dia lakukan.


Barangkali selama ini karena keterbatasan ekonomi yang ada di sini, lalu dia cukup lemah pula dalam hal menanggung penderitaan itulah, yang mendorongnya sehingga berbuat demikian.


Namun apapun ceritanya manusia itu bisa berubah sistem.


Apabila keadaan di hati mereka menjadi baik, maka mungkin dia akan menjadi baik.


Sebaliknya apabila seseorang terlanjur menjadi buruk, sepertinya memang perlu terapi hukuman untuk menyadarkannya."


[Sistem]


"Baiklah tuan selama anda tidak mempermasalahkannya dan itu tidak mengusik perasaan anda, maka sistem juga akan tenang-tenang saja menghadapi orang itu dan tidak akan mengejarnya."


"Ya itu bagus sistem.


Saat ini aku sedang berada di kedai dan mungkin orang-orang ini sudah heran dengan keadaanku yang seperti ini, aku akan kembali fokus ke dunia nyata sistem."


[Sistem]


"Baik tuan silakan tuan, jangan lupa nanti tuan pergi ke pantai yang masih alami di tempat ini tuan, selain warga lokal jarang ada orang yang datang kemari tuan, tempat ini belum terekspos tuan."


"Baik sistem."


"Pak Haris...!"


"Iya pak Kusno ada apa..?"


"Maaf saya lihat tadi bapak, termenung cukup lama pak.


Apa yang bapak tadi pikirkan Pak...?"

__ADS_1


"Hmm.. Ya aku sedang berpikir, bagaimana caranya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat yang ada di sini pak Kusno.


Tentu kalau hanya dengan lahan sawit kita yang ada, itu tidak bisa memfasilitasi semua kepentingan warga desa ini, untuk memperoleh hidup yang lebih baik.


Jadi aku punya pemikiran lain, seperti mendirikan pabrik pengalengan dan pengemasan ikan ekspor di tempat ini, sehingga nantinya akan banyak menyerap tenaga kerja dari warga lokal.


Selain itu, limbah dari pengolahan ikan itu pula bisa kita olah menjadi pupuk, di tangan orang yang tepat.


Sehingga pupuk itu pula bisa kita pakai, untuk meningkatkan kwalitas hasil produksi kebun kita dan bila masih ada lebihnya, kita bisa menjual ke petani-petani lainnya."


Haris menjelaskan secara ringkas pada pak Kusno selaku bahagian dari warga desa yang ada di tempat itu, saran dan masukkan yang memang dia terima tadinya dari sistem, seolah itu adalah buah pemikirannya.


Meskipun aslinya, apa yang dia sampaikan itu sebenarnya adalah ide yang Haris terima dari sistem, lewat misi yang Haris terima itu.


Pak Kusno merasakan bahwa sosok pimpinan barunya ini adalah pribadi yang luar biasa, di mana dia berpikir Haris ini sebenarnya sudah cukup nyaman dan enak serta berkecukupan hidupnya, kalaupun dia hanya mementingkan dan memikirkan dirinya sendiri, tapi alih-alih berbuat begitu, Haris malah memilih untuk memikirkan orang lain.


Bagi Kusno itu adalah sesuatu hal yang spesial dan luar biasa, yang tidak dimiliki oleh semua orang.


Tak lama setelah pembicaraan mereka, suami pemilik kedai kopi tempat Haris dan rombongannya minum saat ini, yang merupakan warga desa itu juga, datang menjumpai pak Kusno dan rombongan Haris, setelah pulang dari kebunnya.


"Selamat siang pak Kusno."


"Eh selamat siang pak Imran, mari duduk."


"Wah jarang ya kita jumpa pak."


"Iya cukup lama kita tidak berjumpa pak Im,.ada berapa bulan ya...?


Beberapa hari belakangan ini, saya kurang sehat pak Imran, ditambah juga, ya pekerjaan di kebunlah biasa, hehehe."


"Iya begitulah, saya aja baru pulang dari ladang nih pak.


Oh ya ini siapa...?


kok sepertinya saya baru melihat bapak ini...?"


"Oh beliau Ini bos saya pak Imran, beliau ini pimpinan saya di kebun.


Kebun tempat saya bekerja itu, sudah dijual oleh pemilik lama pak Kusno.


Beliau inilah yang membeli lahan tersebut, ya kenalanlah pak Imran dengan bos saya, karena memang tujuan bapak Haris kemari itu ya untuk mengenal dan saling menyapa pada warga di desa kita."


"Iya perkenalkan pak, nama saya Haris pak, pak Imran tadi ya namanya...?"


"Oh iya pak Imran Sudah lama tinggal di desa ini pak...?"


"Wah kalau saya di desa ini, memang sudah sejak lahir, di sini pak Haris."


"Oh begitu ya, jadi bapak sekarang berapa usianya pak...?"


"Kalau usia saya sih usianya baru 55 tahun sih pak Haris."


"Lho 55 tahun, kok masih dibilang baru pak...?"


"He..he..he..!


Ya begitulah cara penyebutan yang tiba-tiba terpikir di hati saya pak Haris, biasalah pak Haris namanya juga orang kampung, ya maklumlah kualitas bahasanya pak Haris.


"Sama kok pak, saya juga dari desa, desa saya ada di desa S pak Imran, nggak jauh kok dari sini kira-kira 2 jam setengah lah kalau kita naik mobilnya santai."


"Oh ya dekat lah pak Haris kalau Dldesa S saudara saya ada juga pak Haris sebelah sana, tapi naik lagi ke atas sana desanya."


"Iya begitulah pak Imran memang dekat, apalagi kalau jalan kita ini lebih bagus paling cuma satu jam setengah sudah sampai kesana."


"Makanya ketika bapak bilang orang kampung, ya sama Kita orang kampung pak he..he..he.


Jadi tadi pak Imran, baru dari ladang nih pak..?


Apa ada usaha tanaman muda juga ya pak disana...?


"Bukan pak Haris, saya kebetulan sebagai usaha tambahan ada ternak sapi juga pak, sedikit sih ya hitung-hitung buat tabunganlah pak."


"Oh begitu ya pak.


Jadi bapak ada sapi yang mau dijual dong, ini pak...?"


"Oh ya adalah pak Haris, namanya kita ternak sapi itu ya mau dijual pak Haris, memangnya pak Haris mau beli..?


Mau memelihara sapi gitu pak, buat ditaruh di kebun...?


Bukan maksud saya itu kalau memang ada yang mau dijual ya saya mau beli dua ekorlah gitu, supaya bisa dipotong dan dagingnya itu dibagi-bagi ke warga sini.


Ya hitung-hitung sebagai salam perkenalanlah pak.

__ADS_1


Pak Haris ini luar biasa, baru saja di sini sudah mau motong sapi, sampai dua lagi.


Perasaan pemilik kebun sebelumnya itu, sejak lama di sini sekalipun tidak pernah potong lembut.


Betulkan pak Kusno...?"


"Iya betul pak Imran, tapi kalau bos saya sekarang memang luar biasa.


Baru saja tadi kami bicara disini tadi, kalau bos saya pak Haris ini, sudah berniat mau memajukan desa kita ini, mau buat pabrik pengolahan dan pengalengan ikan di sini."


"Lho ikannya dari mana pak kalau mau buat di sini...?


"Kalau soal itu kebetulan saya inikan punya 10 kapal penangkap ikan juga pak, jadi kalau rencananya mulus cumakan kita harus urus izin dulu dari pemerintah daerah sini, terus warga desa setuju nggak..?


Sebabkan tidak semua niat baik itu, bisa berterima di hati semua orang.


Kalau nanti rencana kita ini lulus otomatiskan akan banyak menyerap tenaga kerja dari warga di sini, sekaligus ikan yang biasanya langka di desa ini akan jadi melimpahlah pak.


Warga di sini mungkin akan seringlah nanti makan ikan he he, itu hitungan sederhananya pak, tapi poin pentingnya secara ekonomi, yaitu tadi penghasilan warga desa akan bertambah, kemudian pembangunan akan meningkat.


Kemudian tentu jalan kedesa kita inipun nanti bisa kita perbaiki kita rawat secara bertahap begitu pak."


"Hebat..sangat hebat, kalau semua bisa terwujud, saya yakin desa ini akan maju dan tidak lagi tertinggal dari desa lainnya pak."


"Nah benar itu pak.


Ditambah, kalau memang masih ada lahan yang kosong saya mau tambah juga lahan yang sudah ada.


Di perkebunan kita itu juga, warga bisa yang bidangnya di kebun, masih bisa kita terima beberapa orang karyawanlah begitu pak? apalagi kalau nanti kita dapat lahan baru, otomatiskan akan banyak lagi menyerap tenaga kerja."


"Wah luar biasa.


Luar biasa pak, wah ini gagasan yang menurut saya spektakuler ini pak."


"Ada saja Pak Imran ini.


Yang kita sebut itu hal sederhana pak, kok dibilang spektakuler pak....?


"Iya bagi bapak itu hal sederhana pak, tapi bagi kami warga di sini itu sudah seperti angin surga itu pak, aduh pak mudah-mudahan cepat terealisasi ya pak.


Oh ya ngomong-ngomong sapinya tadi jadi nggak pak...?"


"Iya jadilah pak, besoklah bapak datangkan sapinya, biar pak Kusno sama pak Balyan sebagai perwakilan dari kebun yang datang kemari, untuk menyaksikan pemotongannya.


Siapa ya yang bisa memotong sapi di sini pak...?"


"Oh ada beberapa warga disini pak yang memang bisa."


"Bagus kalau begitu pak, jadi biar saya yang mengeluarkan dan menanggung biaya pemotongannya semua."


"Wah enggak usah pak, itu biar kami yang swadaya aja...?"


"Sudah biar saya yang nanggung pak, enggak apa-apa kok, kalau memang bapak mau bantu sekalian saja kalau bisa, bapak bantu juga pak Kusno nanti untuk bercerita kepada Pak kepala desa tentang ide saya yang tadi itu, yakni untuk membangun pabrik pengemasan dan juga pengalengan ikan itu.


Ya kita jaminlah kalau masalah limbah, akan bereslah itu pak, kalaupun limbah ikan itu ada.


Nantinya itu tidak akan seberapa, kalau pun ada itu nanti akan kita olah lagi menjadi pupuk kandang, untuk kepentingan kebun kita gitu loh pak.


Selain itu saya juga ingin membangun rumah ibadah atau sekolah swasta di sini, karena saya lihat sekilas tadi rumah ibadah yang ada di desa inikan kondisinya sudah memprihatinkan juga pak.


Nanti kita bangun yang bagus, berkeramik biar semarak desa ini pak.


Mungkin kalau sudah begitu, sayapun akan membangun rumah juga nanti di sini, sebagai rumah persinggahan, apabila sedang berada di tempat ini."


"Itu cocok sangat cocok, luar biasa nggak sia-sia saya pulang tadi cepat-cepat dari kebun, rupanya mau jumpa sama pak Haris dan menerima kabar yang luar biasa ini pak."


"Ya sudah kalau begitu berapa harga sapinya pak..?"


"He..he kalau itu biasa saya jual 14juta/ekornya pak."


"Ya sudah Ini uang 30 juta untuk 2 ekor sapinya dan juga biaya pemotongannya itu 2 juta pak, diterima ya pak."


"Upah potong 1 juta/ekor itu banyak sekali pak Haris."


"Nggak kok pak."


"Iya terima kasihlah pak."


"Iya pak, ohya saya kepingin melihat keadaan pantai dan laut disini."


"Oh mari pak, biar saya ikut mengantarkan."


Akhirnya Haris dan rombongannya pergi meninjau pantai itu

__ADS_1


__ADS_2