
"Halo semuanya bagaimana kabarnya..?"
"Baik Tuan. Kami semua baik-baik saja Tuan."
"Wah dari semua wajah kalian yang kelihatannya berseri-seri ini, Tentunya telah jelas sekali memang kalau kalian sedang baik-baik saja, sehingga seandainya kalian mengatakan sedang tidak baik pun, maka akan ketahuan dengan jelas kalau kalian sedang berbohong, sebab pancaran wajah kalian yang begitu berseri-seri akan menunjukkan hal yang lain.
Nando, Erik, Riston, Halim, Amanu serta jagoan kita Very, sepertinya kehidupan begitu indah ya berjalan belakangan ini..?"
"Ah Tuan bisa saja, kami justru sudah merasa begitu bersalah sebab tidak bisa menghadiri pernikahan Tuan. Tapi Tuan bukannya tidak menuntut kami malah menganggap itu hal yang biasa saja.
Kami merasa jadi malu Tuan, padahal kami sudah melatih diri bagaimana caranya untuk mengucapkan kata permintaan maaf. Bagaimana cara menyampaikannya dan menjelaskannya dengan baik."
"Nando, Riston dan kalian semuanya..! Kalian itu bukan orang yang lain bagiku, kalian itu bukan orang jauh, kalian itu sudah seperti bagian tubuhku yang lain. Kalian semua itu adalah adik-adikku, jadi kalian itu tidak perlu apa istilahnya ya.? Mencari-cari kata yang tepat untuk meminta maaf, mencari perhatian dan lain sebagainya, itu tidak perlu. Aku sangat tahu dan paham serta sudah sangat hafal dengan watak adik-adikku ini.
Aku sayang pada kalian semuanya dan aku tentunya tidak akan begitu mempermasalahkan soal ketidak hadiran kalian itu, justru yang aku perlukan dan aku pikirkan saat ini adalah, bagaimana agar kalian dan kita semuanya bisa bahagia. Kalian sudah merasakan bagaimana bahagianya setelah berumah tangga, maka kalian doronglah teman-teman kalian yang jomblo-jomblo lainnya, supaya mereka juga mencari pasangannya.
Agar hidup mereka lebih punya tujuan, lebih bermakna dan lebih berarti mereka rasakan.
Sebab kalau kita sudah punya pasangan hidup dan berumah tangga, punya tanggung jawab, maka seolah-olah rasanya semua kerja keras kita itu sangat bermanfaat. Selain itu tentu kita akan punya semangat yang lebih, yang memacu diri kita untuk terus berubah menjadi sosok yang lebih baik, dari diri kita sebelumnya.
Tapi mari kita tutup pembicaraan soal itu, jadi tidak ada istilah permintaan-permintaan maaf lagi, yang ada dengan melihat kalian saja aku sudah sangat bahagia rasanya.
Tidak berjumpa seminggu lebih itu, sudah seperti satu tahun saja bagiku. Seringkali dalam beberapa tempat yang aku lalui dan di saat-saat sedang makan atau sarapan di rumah ini, aku akan melihat dan memandang ke tempat atau kursi-kursi yang biasa kalian duduki dan berkata itu kursi yang sama yang biasa di duduki oleh adik-adikku, sambil mengingat wajah kalian satu persatu.
Hanya aku yang tahu betapa rindunya hatiku, untuk melihat kalian kembali berada di kursi-kursi itu dan syukurnya sekarang kalian sudah ada di hadapanku, maka bagaimana mungkin aku tidak bahagia.? Aku tidak perlu hal yang lainnya lagi, ayo mari kesini semuanya, kalian peluklah Abang kalian ini."
Baik Nando, Very, Riston, Amanu dan Halim juga Erik sudah seperti adik yang bertahun-tahun tidak berjumpa dengan abang mereka, mereka dalam keadaan berderaian air mata, berhamburan kepada Haris.
Mereka adalah orang-orang kuat terlebih para pengawal Haris, adalah sosok pasukan berani mati, tetapi di depan kasih sayang kelembutan, serta perhatian Haris mereka tak ubahnya seperti anak ayam bertemu induknya.
Mereka berenam kemudian memeluk Haris secara bergantian, merasa tak ingin ketinggalan Juli yang sudah merupakan adik angkat dari Haris juga berlari memeluk Abang yang sudah seperti abang kandung baginya itu, sambil memeluk dia menangis tersedu-sedu.
"Hei ada apa ini..? Adik kecilku baru saja pergi beberapa hari, tiba-tiba setelah berjumpa kembali dengan abangnya dia malah menangis menjadi-jadi begini. Hei Nona..! Kita tidak mengantarmu pergi ke pulau dewata yang sudah terkenal keindahannya itu, untuk pulang dengan keadaan menangis seperti ini. Ayolah jangan menangis lagi..!"
"Maafkan Juli Bang. Juli tidak bisa datang tepat waktu."
"Sudahlah. Abang tidak melihat itu sebagai kesalahan. Namun kalau kalian masih memaksa dengan merasa kalau itu adalah sebuah kesalahan, maka dengarkanlah kalau aku sudah memaafkan dan tidak memperdulikannya.
Bagiku yang terpenting adalah adik-adikku telah kembali dengan selamat dan mereka kembali dengan perasaan yang bahagia. Itu sudah sangat berarti dan merupakan kado terindah bagiku hari ini."
Haris bermaksud menyudahi pembicaraan itu, tapi tak disangka wanita-wanita yang lainnya juga ikut berlari memeluk Haris yang dimulai dengan Puspa, Wulan, Hanum dan juga istri dari Erik dan Nando yang memang kakak beradik yang merupakan putri Pak Herlambang itu.
Walau masih baru mengenal Haris, tetapi kata-kata Haris yang sangat dalam itu sangat menyentuh hati mereka dan mereka bisa melihat ketulusan dalam setiap kata yang diucapkan oleh Haris, terlebih mereka sebelumnya telah menikmati segala fasilitas mewah yang semua itu dengan mudah bisa mereka rasakan, hanyalah atas nama sosok pria yang bernama Haris yang sedang ada di hadapan mereka saat ini, karenanya mereka juga tidak sungkan-sungkan, ikut larut dalam gelombang lautan emosi yang sama, baik dari suami maupun anggota kelompok mereka yang sama-sama pergi berhoneymoon ke pulau dewata itu.
Karena hal itu Haris juga kembali harus mengucapkan ucapan-ucapan yang bisa mendamaikan hati mereka semua.
Selanjutnya suasana sudah semakin membaik dan semua orang sudah merasa kalau kesalahan mereka itu telah terbang bagai abu, karena sama sekali memang Haris tidak pernah menganggap mereka salah. Maka mereka kemudian mulai mengambil tempatnya masing-masing.
"Apakah Bos Darman dan Bos Jhon sudah datang Komandan Wilson.?"
"Belum Tuan. Saya belum melihat kedatangan Bos Darman dan juga Bos Jhon, tapi tadi waktu saya telepon beliau berdua memastikan akan datang bersama keluarganya. Sepertinya ada sesuatu hal yang menghambat mereka Tuan."
"Ya, mungkin saja mereka ada sedikit urusan keluarga Wilson. Kalau begitu sambil sambil menunggu mereka, tidak salah kalau kita bakar sendiri saja jagung-jagung itu. Sepertinya dibakar biasa juga enak kok, seperti tadi saat di ladang. Apalagi bila dimakan dengan banyak orang seperti ini, tentu makin enak.
Ya walaupun memang kalau ada Bos Jhon itu bakalan lebih enak sih."
"Benar Tuan, eh itu Bos Jhon dan Bos Darman sudah datang Tuan. Mobilnya sudah masuk.
Panjang umur baru saja di teringati, mereka sudah datang Tuan."
"Ha..ha..Akhirnya datang juga. Kalau begitu mari kita serahkan pada ahlinya, biarkan Bos Jhon yang meramu segala sesuatunya, tapi buat yang lain juga harus ikut membantu Bos Jhon, jangan dibiarkan sendiri Komandan Wilson."
"Siap Tuan. Semua bakalan aman Tuan."
"Ya aku percaya itu Wilson. Oh ya Wilson begini, aku punya rencana terkait markas musuh kita yang berada di kota H itu, sebaiknya di daerah sana juga kita jadikan lokasi markas kita berikutnya."
"Maksudnya Tuan.?
Masalahnya orang-orang kita yang ada di sini itupun kan juga sudah cukup Tuan. Artinya mereka sudah dibagi-bagi begitu pas, malah kadang-kadang untuk yang ikut jaga di kantor atau Markas pusat pun sudah sedikit orangnya Tuan, jadi bagaimana kira-kira agaknya kalau harus dibagi lagi Tuan.? Mohon pendapat Tuan."
"Iya aku juga tahu itu Wilson, tapi begini lho maksudnya. Kita buat pembagian, anggota yang ada saat ini yang merupakan anggota bebas kita, di luar pengawal yang memang selalu berada di ring satu itukan ada 100 orang.?
Bagaimana kalau yang 100 orang itu nanti 50 orang kita tempatkan ke kota H sedangkan yang 50 lainnya tetap di kota P, tapi dengan catatan kita datangkan 100 orang personel pengawal baru lagi, dimana yang 100 orang baru ini 50 nya nanti akan ke kota H dan 50 sisanya nya akan berada di kota P.
Jadi agar 100 pengawal yang baru ini tidak gamang dan akan ada yang membimbing mereka, tentang apa-apa yang harus dilakukan nanti di sini."
"Oh jadi maksud Tuan kita akan merekrut 100 orang pengawal baru lagi Tuan.?"
"Ya begitulah Wilson."
"Tidakkah itu pemborosan Tuan..?"
__ADS_1
'Tidak..tidak.! Itu tidak atau bukan pemborosan, bahkan mungkin kalau tambang emas kita yang baru saja kita bayar lahannya di lembah Bukit Tombayaha itu sudah mulai kita kelola, malah personel yang ada sekarang bisa jadi akan kurang. Pembayaran lokasi yang akan kita jadikan sebagai tambang emas yang masih berupa lahan kosong berkisar ±50 hektar itu telah tuntas, di mana lahan itu nantinya masih berpotensi untuk bisa kita perluas dengan membayar lahan milik warga lainnya di sekitar area itu."
Aku yakin Komandan Wilson, karena lokasi tambang emas itu masih berada dalam area wilayah tanah ulayat desa ini, maka masyarakat kita juga akan lebih mudah untuk diarahkan nantinya.
Sepertinya mereka itu tidak akan bertahan apalagi menolak untuk memberikan lahannya untuk kita lepaskan, sebab pada akhirnya nanti hasil dan manfaat serta kebaikannya, itu juga justru akan kembali kepada mereka juga."
"Wah jadi kita juga sudah punya tambang emas Tuan.?"
"Ya itu baru lahan Wilson, tapi segera akan kita kelola.
Kenapa aku berpikir bahwa 100 orang tambahan pengaman itu bahkan masih kurang ya..? Tapi ya nanti saja itu kita atur secara bertahap saja. Selanjutnya soal markas di desa H itu, aku juga berniat nanti kita buat saja usaha di sana, Apakah itu hotel atau usaha lainnya.
Tapi bila memungkinkan kita buka lahan perkebunan sawit baru di sana, beserta pabrik PKS-nya, sebab dari cerita teman-teman yang pernah tinggal di sana, daerah di sekitar yang berbatasan dengan Kota H itu masih seperti keadaan di pantai wilayah Timur, dimana masih banyak tanah-tanah kosong atau hutan yang merupakan lahan masyarakat, tetapi belum dikelola secara maksimal."
"Wah kabar yang sangat manis itu Tuan."
"Kenapa begitu komandan Wilson.?"
"Bagaimana ya Tuan. Saya karena memang sudah pernah menjadi komandan atau ketua satuan pengawal dan pengamanan di kota K, saat berada di markas satuan pengamanan Kaya dan jaya bersama group milik kita, jadi banyak teman-teman lama itu yang sampai hari ini, sering meminta kepada saya supaya diikutkan bekerja di sini.
Mereka setiap kita berhubungan lewat panggilan telepon, selalu meminta supaya saya minta tolong pada Tuan, agar mereka bisa diterima juga bertugas bersama kita.
Banyak sekali yang begitu Tuan, sampai-sampai saya begitu pusing memikirkan hal itu belakangan ini."
"Wah itu malah harusnya membuat kita senang dan bukannya pusing Wilson. Kalau ada kabar begitu artinya semakin banyak lagi orang-orang yang akan bisa kita tolong, tapi masalahnya mereka profesional tidak Wilson.? Jangan sampai kita terima yang asal mau bekerja saja, tapi sebenarnya mereka tidak punya basic kemampuan kalau untuk pekerjaan itu."
"Oh mereka sangat terampil kalau soal itu Tuan, mereka juga cukup profesional dan memang sudah meniti karir di bidang itu. Ya walaupun selama ini kita berbeda Bos atau pimpinan, maupun wilayah kerja, tapi pada beberapa event-event tertentu, kita juga sering kok memakai jasa mereka."
"Kalau memang demikian itu sudah bagus, artinya tidak ada masalah soal itu."
"Jadi apakah sudah bisa saya informasikan soal penerimaan itu kepada mereka Tuan..? Dan kira-kira berapa Tuan batas penerimaannya."
"Untuk tahap pertama ini, sampaikan saja kita butuhnya 100 orang atau kalaupun ada 150 orang tidak apa-apa, tapi yang jelas nanti kita butuh sekitar 200 orang lagi."
"Tapi apakah itu tidak memberatkan keuangan kita Tuan..?"
"Kalau soal uang Wilson, kamu jangan khawatir sebagaimana mudahnya kita menghirup nafas, seperti itulah mudahnya kita menghasilkan uang saat ini, kamu dan yang lainnya sudah merasakan bagaimana kalian itu cukup sejahtera dan terpenuhi semua kebutuhannya bukan.? Itu artinya karena kita memang ada uang yang cukup bagi semuanya.
Apalagi kalau mereka itu juga nantinya akan bekerja pada unit-unit usaha kita juga yang memang menghasilkan uang.
Jadi tidak ada masalah soal itu."
"Ya katakan saja dan jangan begitu gamang, apalagi kalau tambang emas kita itu nanti sudah berproduksi, bakal tidak akan kekurangan uang kita itu Wilson dan malah mungkin kita akan mandi uang itu komandan Wilson.
Pernah tidak kamu mandi uang sebelumnya komandan Wilson..?"
"Sebelumnya belum pernah Tuan, tapi kalau Tuan yang sudah mengatakannya, saya yakin kita memang akan bisa begitu he..heh."
"Ya...ya..ya kamu sangat realistis Komandan Wilson. Baiklah kalau begitu aku akan menyapa barisan orang tua kita sekarang."
"Baik Tuan. Silakan Tuan."
Baru saja Haris akan pergi, tiba-tiba Darman dan Jhon sudah memanggilnya dan kedua bersahabat ini menarik Haris yang merupakan sahabat mereka sejak lama itu, ke tempat yang cukup jauh dari semua orang.
"Hei ada apa ini teman-teman..? Sepertinya ada hal yang begitu penting yang ingin kalian bicarakan dan tidak ingin didengar oleh orang lain."
"Itu benar. Sebelumnya maafkan kami Ris, kalau kali ini kami tidak bisa mengikuti keinginanmu."
"Maksudnya bagaimana.? Coba jelaskan.!"
"Terkait peralihan kerja dari perkebunan, yang kemudian akan merambah dunia perhotelan itu, setelah kami pikir-pikir dan kami musyawarahkan tadi sebelum datang kemari, sehingga kami sampai terlambat begini. Sepertinya kami tidak bisa menerima itu Ris.
Ya kau tahu sendirilah teman, kita ini sejak awal adalah orang-orang yang selama ini memang bergerak dan beraktivitasnya itu tidak jauh-jauh dari hutan, jadi untuk kemudian mengganti habitat menjadi bidang perhotelan, itu bagi kami terus terang sangat berat dan Itu bukan lagi hal yang kami inginkan dan cita-citakan Ris."
"Hmm....Jadi begitu, lalu bagaimana teman-teman? Apa yang kalian inginkan.?"
"Ya kalau boleh dan kalau memang diizinkan kami minta bagaimana agar supaya kami tetap bertahan di lokasi lama saja Ris, karena sedikit banyaknya kami sudah terikat dengan tempat dan juga teman-teman sesama pekerja. Selain itu kita juga secara bersama-sama sudah membangun segala sesuatunya disana."
"Itu benar Ris, apa yang dikatakan oleh Darman itu benar. Kami sendiri di bidang perkapalan saat ini kapal penangkap ikan kita yang tadinya berjumlah 14 unit, sudah bertambah menjadi 20 unit sesuai dengan apa yang bos Haris atur, di mana sebahagian dari uang-uang penghasilan kita selama ini, kemudian kita kumpulkan dan kita belanjakan lagi untuk membeli kapal penangkap ikan yang lain, begitu juga dengan Darman lahan itu secara perlahan sudah semakin luas dan telah banyak lahan-lahan milik warga yang tadinya kosong dan tidak mampu mereka kembangkan, sudah kita beli dan juga kita masukkan ke dalam area perkebunan sawit yang ada di wilayah pantai Timur sekarang.
Ya intinya kami sudah nyamanlah di tempat itu, kami paham kau tentunya ingin membuat kami temanmu ini menjadi lebih besar dan menjadi lebih maju sehingga bisa senang dan bahagia.
Namun dari kami sendiri, kami merasa disinilah kami bisa bahagia dan kami sudah merasa cukup besar pada usaha itu teman, selain itu Kalau boleh kami juga tidak ingin jauh-jauh darimu. Bagaimana kira-kira teman..? Begitupun kalau kau tidak bisa menerimanya, kami tidak bisa berbuat apa-apa Ris, kecuali hanya akan menerima apa yang kau putuskan nantinya."
"Haha...Kalian sudah menyebutkan apa yang aku perlukan teman, yang aku perlukan adalah bagaimana agar kedua temanku ini bisa merasa bahagia dalam menjalani kehidupan ini, bisa merasa besar dan tidak lagi harus menundukkan kepala pada dunia ini.
Kalau memang kalian senangnya di sana, baiklah kita putuskan kalian akan tetap bertahan di sana. Tapi karena Fauzan memang sudah terlanjur kita beritakan untuk menjadi pimpinan, maka hal itu juga tidak boleh mengecilkan hatinya.
Tadinya aku memang berencana untuk membuka lahan perkebunan di sekitaran wilayah kabupaten yang berbatasan dengan kota H, yang letaknya itu sebenarnya tidak begitu jauh dari kota P, hanya berkisar dua setengah atau 3 jam perjalanan arah ke ibukota M, jadi nanti kita arahkan saja Fauzan bersama Pak Samsul ke sana, sekalian juga akan kita bangun PKS-nya disana.
Intinya itu bukan masalah yang besar. Hanya aku memberikan Itu semua tidak gratis, ada syarat yang harus kalian penuhi utamanya kau Bos Jhon."
__ADS_1
"Kalau boleh tahu apa syarat itu temanku Haris.?
Apakah syarat itu cukup berat untuk kami jalankan.?"
"Tidak. Seharusnya itu cukup ringan, jelasnya seharusnya itu tidak cukup berat, kalau kalian ingin tahu syaratnya, kalau kalian berdua bisa melihat mobil pick up yang dipenuhi dengan jagung jagung itu bos Jhon, maka kalian berdua dan anggota kita yang lainnya, harus membakar atau memanggangnya menjadi begitu lezat, sehingga bisa kita nikmati pada malam hari ini sebagai bahan cemilan, untuk menjalani malam ini dengan penuh kebersamaan."
"Ha..ha..ha kau hampir saja membuat jantungku copot temanku Haris, aku pikir syarat apa tadinya, kalau hanya memanggang itu jangankan satu mobil pick up itu satu mobil truk pun akan aku panggang, asalkan dibolehkan bertahan di pekerjaan lama."
"Aku hanya bercanda soal itu temanku Jhon, sebenarnya itu bukanlah sesuatu yang harus disebut dengan syarat begitu, itu tidak lebih hanya caraku untuk meminta kalian menyajikan jagung bakar atau jagung panggang yang enak bagi kita semua malam ini."
"Siap siap bos Haris, kami pahamlah itu, perintah siap dilaksanakan, bukannya begitu Darman.?"
"Ya benar Jhon. Kita paham kok siapa teman kita Haris ini he..he..heh."
"Baiklah teman-teman, tadi sebelum kalian tarik kemari aku sejatinya hendak menegur para orang tua di keluarga kita, sebab akan sangat jarang kita punya waktu yang cukup untuk bertegur sapa pada mereka belakangan ini. Kalau begitu, aku akan ke sana dulu menyapa mereka dan selanjutnya aku nanti akan bergabung dengan kalian disini teman-teman."
"Baiklah Tuan Haris. Sambutlah para orang tua kita itu, kebetulan juga ayah mertua kami juga ikut datang tadi."
"Justru karena itu, kita harus menyambut mereka. Kalau kita tidak menyambutnya secara khusus seolah-olah kita itu tidak menghargai keberadaan mereka."
"Kau selalu menjadi terbaik teman kami Haris."
"Sama saja teman, kalian berdua adalah teman yang terbaik dari semua teman yang pernah aku miliki di dunia ini. Jadi aku akan pergi dulu teman-teman. Selamat bekerja."
"Silakan teman. Kami akan mengurus segala sesuatunya di sini."
Haris begitu bahagia sebab teman-temannya itu mau menyuarakan isi hati mereka dan tidak ragu, sehingga Haris tidak harus mengorbankan perasaan mereka hanya untuk mengikuti kemauannya.
Setelah tahu keadaannya begitu, Haris merasa lega dan tidak lagi merasa kurang atau masih merasa kurang dalam hal berbuat untuk kebahagiaan teman-temannya, sebab kalau ternyata memang itulah yang membuat mereka bisa bahagia, lalu apa hak Haris untuk menarik mereka dan memindahkan mereka dari sana.
Haris kemudian beramah tamah pada semua orang, setelah sebelumnya dia merasa sudah menjalani malam penuh rencana. Haris menyapa dengan hormat serta bercengkrama, menyimak beberapa hal yang disampaikan oleh barisan orang tua di keluarganya, dimana hal itu cukup menahannya beberapa saat lamanya, di kumpulan barisan orang-orang tua dari keluarga maupun yang terkait dengan keluarga mereka itu.
Pada malam hari itu Fauzan yang memang tinggal di desa yang sama dengan Haris, di desa P, ikut datang dan Haris lalu menjelaskan semua hasil pembicaraannya dengan Jhon maupun Darman.
Bersyukurnya Fauzan juga sangat memaklumi hal itu dan menyatakan kesiapannya untuk membuka lahan baru di daerah H, sesuai apa yang diinginkan oleh Haris.
"Bagi Fauzan itu tidak masalah sama sekali Bang. Sama saja apakah mau di kota H atau di pantai timur, selama Abang yang menjadi Bos dan pimpinannya, Fauzan sangat siap bahkan meski itu di luar provinsi sekalipun."
"Abang bangga padamu Fauzan, sekaligus berterima kasih atas kemaklumanmu pada apa yang menjadi keinginan dan keputusan dua teman kita itu."
"Ya Fauzan juga memahami hal itu Bang dan memang Fauzan juga bisa melihat bagaimana Bang Darman ataupun Bang Jhon selama ini, begitu mencintai pekerjaan mereka."
"Syukurlah dek kalau kau bisa memahaminya, artinya tidak ada lagi masalah dalam hal itu. Sebenarnya kalian semua bisa saja tetap berada di situ, tapi aku ingin kalian semakin makmur dan kerajaan bisnis kita ini semakin meluas.
Kalau begitu sejak besok mulailah pergi ke daerah kota H, dengan beberapa tim maupun anggota pengawal kita untuk mulai mencari lahan atau lokasi yang cocok serta ideal, untuk nanti kita jadikan sebagai lahan perkebunan maupun pabrik kelapa sawit itu."
"Baik Bang, Fauzan siap melaksanakannya Bang."
"Ya sudah itu saja mungkin yang sangat mendesak untuk Abang sampaikan, selebihnya mari kita nikmati kebersamaan pada malam hari ini.
Abang mungkin akan pergi dulu bergabung dengan Abangmu si Darman dan si Jhon yang sedang sibuk membakar dan memanggang di sana, jangan sampai kesannya seolah-olah mereka itu seperti kita pekerjakan saja malam ini, dimana kita dan yang lainnya adalah Tuannya. Abang juga perlu menyapa dan membantu bantu mereka walaupun sedikit di sana."
"Siap Bang."
Haris menepuk pundak Fauzan dan sangat bangga kepadanya. Sebaliknya Fauzan sangat kagum dengan sosok Haris yang sudah dianggapnya sebagai Abang, teladan dan panutannya itu. Perlahan Haris berjalan menuju lokasi pembakaran jagung atau tempat pemanggangan ikan dan juga ayam yang sepertinya telah ada yang mulai matang itu. Setelah beberapa saat beramah tamah di sana, atas desakan Jhon dan Darman Haris kemudian pergi dan bergabung bersama istrinya, terlebih-lebih Shasmita yang merupakan istri ketiga yang baru saja dinikahinya.
"Bang sebaiknya Abang jangan pergi jaih-jauh dan tetap dekat dengan Shasmita. Soalnya tadi Shasmita di tegur sama Mami karena katanya kurang perhatian dan membiarkan Abang keluyuran."
"Ha..hah lucu sekali, pantasan Mami dari tadi selalu melihat ke arah kita, kalau begitu biarkan Abang menciummu."
Shasmita begitu terkejut saat pipinya yang cantik dengan aroma yang harum itu, di cium oleh Haris di hadapan semua orang, sehingga wajahnya memerah karena malu, tapi disaat yang sama justru ibunya tersenyum bahagia dan mengeluarkan jempol untuk Shasmita.
Selanjutnya dalam pembicaraan mereka, tidak jarang Haris memeluk manja Shasmita terutama saat mereka telah berkumpul sesama barisan kaum muda di keluarga Haris.
Haris menunjukkan kemesraan dan kasih sayangnya pada ketiga istrinya, utamanya pada Shasmita istri barunya terlebih saat berada dalam pantauan orang tuanya, sehingga hal itu membuat kedua orang tua Shasmita sangat bangga dan merasa sangat beruntung memiliki menantu seperti Haris.
"Lihat Pi akhirnya putri kita itu, bisa juga hilang sikap kakunya pada suaminya."
"Ah Mami, biar saja Putri kita dengan sifatnya, toh Nak Haris juga suka dengan sikapnya yang begitu."
"Mami khawatir lho Pi putri kita kalah dari dua madunya dalam beroleh perhatian Haris."
"Jangan terlalu risau Mi, menantu kita itu, modelnya tidak seperti yang Mami khawatirkan.
Dia itu orang besar dan Orang besar itu punya caranya sendiri untuk menunjukkan sikapnya dan lagi Nak Haris akan suka jika dari ketiga istrinya itu, memiliki sifat dan watak serta bawaan mereka masing-masing dan tidak harus sama sifatnya."
"Baiklah jika Papi merasa dan mengatakan begitu, Mami sudah menjadi sedikit lebih tenang."
Malam terus berlanjut, pada akhirnya keluarga Haris dari barisan para orang tuanya dan terutama mereka yang baru saja menikah, telah kembali ke peraduannya masing-masing. Hanya tinggal tersisa para pengawal-pengawal, yang masih bertahan bergadang di luar.
Saat pagi hari tiba, Haris telah bersiap-siap untuk berangkat dan dia telah mengeluarkan hadiah Point sistem sebelumnya, berupa mobil mewah yang harganya ratusan miliar dan belum pernah dipakainya itu, dari ruang Inventory ke dalam garasi mobil yang luas miliknya.
__ADS_1