
"Hai kalian berdua!
Pergilah, bosku akan duduk di tempat ini, tempat ini adalah tempat favoritnya."
"Plakk.."
"Hei kau menamparku?"
Darman yang memang tidak lebih hebat dari Haris dalam mengelola emosi, tersinggung dengan ucapan seorang pemuda yang datang bersama mobil sport barusan, karenanya dia menampar pemuda itu di hadapan Haris.
"Apakah belum jelas?"
"Plak..plak..plak plak plak."
"Apa kau tidak akan menanyakan lagi apakah lima tamparan ini adalah tamparan, agar aku memberikanmu sepuluh tamparan lagi?"
Darman menekan pemuda itu dengan dominasinya.
"Kk...Kau..?"
Pemilik warung kopi yang melihat dari ruangannya, terkejut sambil tersenyum dengan keberanian dua orang ini.
Dia juga penasaran bagaimana mereka akan menyelesaikannya.
"Yang mana bosmu?"
Darman bertanya pada pemuda yang ditamparnya
"Aku, ada apa? kau juga akan menamparku?"
"Ha..hah kau terlalu cantik untuk di tampar, jadi aku tidak akan melakukannya."
"Brengsek.."
Saat pemuda yang disebut anak pejabat itu memukul Darman, sama sekali Darman bergeming dan pemuda itu memegang tangannya karena kesakitan.
"Kau itu cuma timun muda nak, sedang aku adalah kulit durian.
kau memukulku maka tubuh halusmu yang akan hancur, bila aku yang memukulmu maka kau juga yang akan remuk.
Pergilah pulang dan pakai daster ibumu."
"Ha..ha..ha..hah..hahahaah.
Itu benar nak, walau temanku ini tidak pernah belajar bela diri, namun dia adalah pria dengan bakat alami yang sangat pandai bertarung.
Kau perlu jadi Harimau untuk, bisa duduk di kursi ini, atau kalau tidak kau harus jadi orang yang sangat kaya, mobil 1 M milikmu sama sekali belum cukup."
"Ha..ha..hhah Lalu menurutmu kau lebih kaya?
Aku tidak melihat kenderaan disini kecuali sepeda motor butut itu dan kau menganggap mobil sport 1 M itu, lebih buruk dari milikmu Hahahah luar biasa."
[Sistem]
"Apa saya harus keluarkan mobil tuan disini?"
"Jangan disini sistem, apa tidak bisa di tempat yang sedikit jauh saja dan bawa kemari Sistem?"
[Sistem]
Gampang tuan, sistem adalah sistem tercanggih yang ada di bumi ini, walau tuan belum membuka semua potensinya."
"Baik mari kita lakukan."
[Sistem]
"Siap tuan"
"Haaaaha haa... kalian lihat orang ini ?
Dia mulai tersadar akan keadaannya."
Pemuda itu mengira Haris telah terbodoh karena fokus pada sistem tadi.
"Hmmm.. kau terlalu percaya diri, untuk ukuran seorang anak yang hanya menengadahkan tangan, pada orang tuanya nak.
Lihat mobilku yang 40x lipat lebih mahal dari milkmu."
__ADS_1
Haris menunjuk mobil Bugattinya yang baru datang, dengan metode yang hanya bisa difahami oleh sistem.
Semua orang yang ada disana tercengang melihat mobil Haris, tidak terkecuali Darman dan pemilik warung kopi.
"Dalam hal kenderaan kau sudah kalah, harta apalagi, kekuatan?
Seperti yang temanku sebutkan, pulanglah dan pakai lotion mu nak!"
"Ha..ha... Nak, kalau kau merasa jadi bos hanya karena kelebihan jajanmu, maka lupakan saja anak muda, bos sebenarnya ada di depanmu yakni tuan Haris."
Darman memberikan pemahaman pada anak pejabat yang sombong itu.
"Hmmm.... Anak muda! Bangunlah kerajaanmu sendiri baru kau boleh membanggakan dirimu kelak, saat ini kaubahkan tidak layak untuk masuk kompetisi persaingan denganku."
Pria anak pejabat itu benar benar merasa malu dan tertampar dengan posisinya, setelah Haris mengucapkan hal itu
Handphone Haris berbunyi
[Panggilan masuk]
"Halo Tuan Haris."
"Halo juga manager Hartono, apa ada yang perlu?"
"Tuan sepuluh hotel bintang lima yang anda minta dicari untuk di beli, sudah dapat semuanya tuan."
"Bagus, artinya kita akan punya 14 hotel.
Dimana saja hotel baru itu manager?"
"Ada di delapan kota yang ada di provinsi ini dan dua di kabupaten tuan.?"
"Artinya di kota tempatku sekarang berada juga ada ya GM Hartono?"
"Ada tuan.
Namanya hotel Bintang."
"Tuan ingin mereka datang ke hotel Diana beach resort atau ke hotel Nurul haris milik tuan.?"
"Saya lebih dekat kepada hotel Nurul haris jadi arahkan mereka kesana saja.
Lalu berapa harga yang mereka tawarkan pak Hartono?"
"Rata rata berada di kisaran harga 100 miliar tuan, memang sesuai standart harga saat inilah tuan."
"Bagus, kalau begitu aku akan menunggu, kau sudah bekerja dengan baik manager, kau pantas diberi bonus."
"Terima kasih tuan, tapi mana saya berani tuan, yang tuan beri saja sudah lebih dari cukup tuan."
"Baik, apa ada yang lain lagi, pak Hartono?"
"Oh ya saya hampir lupa tuan, minggu depan ada rapat pemegang saham Kaya dan jaya bersama group tuan.
Sebagai pemegang saham 17% dengan aset senilai 1,7 Triliun tuan juga diundang pak Wira untuk bisa hadir atau mengirimkan perwakilan tuan."
"Baik kalau begitu, kau akan mewakili aku untuk hadir pak Hartono?"
"Tapi tuan?"
"Pak Hartono?"
"Siap tuan, saya akan pergi tuan.
Saya tadinya hanya akan menyebutkan keinginan beliau agar tuan bisa hadir."
"Manager Hartono sampaikan rasa maaf saya, saat ini ada banyak hal yang harus saya urus, termasuk sebuah Rumah sakit tipe A asumsi anggaran 1,5 T.
Belum lagi tentunya sekarang harus menunggu pemilik ke sepuluh hotel yang akan menjual hotelnya tersebut."
"Baik tuan, akan saya sampaikan tuan, maaf saya menyela tuan tadinya."
"Baik kalau begitu, panggilan ini akan saya tutup GM Hartono."
"Baik tuan, terima kasih banyak."
__ADS_1
[Panggilan berakhir]
Semua yang ada disana tercengang dengan isi percakapan Haris dan bawahannya.
"Miliar, triliun ? Apa orang ini begitu rendah hati sehingga dengan aset begitu banyak, dia masih saja mau datang ke warung sederhana ini?
Namanya Haris, nama hotel di pusat kota Nurul Haris, hah apakah dia pemiliknya?"
Edi pemilik warung kopi mulutnya menganga memikirkan ini.
Pihak anak pejabat, mundur teratur satu persatu, dan berlalu dari sana.
Pria macam apa itu bahkan ayahnyapun tidak bisa menjamah orang dengan kekayaan sefantastis itu.
"Bang Edy....!"
"Ya pak Haris."
"Hei, panggilan itu tidak cocok di lapangan dan tidak akrab seperti yanh abang sebutkan sebelumnya."
"Ini ada Rp 20 juta dan abang buat ke modal atau apa sajalah yang abang rasa perlu."
"Ta.... tapi pak, eh dek Haris, i..ini terlalu banyak."
"Baik kalau begitu saya tambah satu juta lagi, apakah masih terlalu banyak.?"
"Tidak ini sudah cukup."
"Ha.hahh bang Edi, aku suka nasehat abang soal bertani di makan burung, beternak dimakan biawak dan yang lainnya tadi.
Lagiankan kita sudah berteman dan aku sangat suka berbagi, pada teman temanku.
Jadi terima saja uang ini, anggap saja buah kesabaran abang Edi menghadapi anak anak yang selalu meminta minta itu, selama ini.
"Terima kasih pak."
"Eittt...Aku akan malas dan tidak akan pernah datang kemari, jika abang Edi masih memanggil pak, aku akan mengartikannya sebagai penolakan berteman."
"Ah maafkan abang dek Haris, aku hanya merasa kecil sekarang di depanmu, karena perbedaan yang begitu jauh."
"Ha..hahah jangan begitu bang Edi, daki dunianya semua harta ini, daripada merasa kecil lebih baik mendekat dan berteman.
Siapa tahu abang punya anak, adik atau saudara yang mau kerja di hotel Nurul Haris atau hotel Bintang yang akan kita beli nanti, kan lumayan, abang cukup bilang dek Haris adek abang satu ya, kan aman kalau kita berteman...hahahhahah
Jadi bagaimana, kita berteman atau tidak ini?"
"Ahhh.... aku jadi malu dek Haris, bolehkah aku memelukmu?"
"Bagaimana Man, boleh atau tidak?"
"Peluk aja bang Edi, kalau sama bos kita Haris jangan di tanya tanya soal yang begituan ... ahahhahahahh."
Akhirnya Edi memberanikan diri, untuk memeluk Haris dan merasakan ketulusan serta keakraban, pria yang tampan bernama Haris itu.
"Jadi kami mau pamit dulu ini bang Edi, lain waktu kita bertemu lagi, oh ya saya titip kereta itu ya bang, tadi sudah saya kirim pesan SMS buat anggota saya supaya menjemputnya."
"Oh oke oke...! Aman itu dek Haris."
"Baik kami pergi sekarang.
Yok Man!"
"Ayo bos, bang Edi kami pamit ya!"
"Iya dek Darman.
Hati hati di jalan."
Haris dan Darman pergi melesat dengan mobil baru Haris, terkadang mereka harus sangat pelan karena keadaan jalan yang kurang cocok, bagi kenderaan mewah milik Haris.
"Luar biasa pak Haris itu, mimpi apa aku bisa berkenalan dengan orang seperti itu.?
Ah putri tertuaku akan bisa mendapat kerja nih, setelah selesai pendidikannya, Haris sudah secara langsung menawarkannya.
Dan ini Rp 21 juta, waduhhh inikah yang bernama rezeki tak disangka sangka itu?
Edi termenung untuk waktu yang begitu lama.
__ADS_1