Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _101 : Bos besar.


__ADS_3

Haris terus berbicara kepada sistemnya terkait rencana tentang pendirian yayasan dan juga pabrik pengalengan ikan.


Setelah cukup lama membahas hal itu, Haris kemudian menyudahi percakapannya dengan sistem dan beristirahat tidur dengan pulas, pada malam hari itu, sampai kemudian pagi hari datang menjelang.


Saat fajar telah menyingsing dan matahari pagi telah menampakkan kehadirannya, dengan nuansa yang masih sejuk berlatarkan suasana hari yang cerah itu, Haris memulai kegiatannya dengan menghubungi bawahannya.


[memanggil Ridwan]


"Halo selamat pagi."


"Halo Tuan, selamat pagi Tuan..!"


"Pak Ridwan."


"Ya Tuan Haris."


"Saya minta bapak siapkan tim penasehat hukum, atau lawyer dan juga orang-orang kita yang biasa mengurusi segala sesuatu hal, yang berkaitan dengan perizinan atau operasional perusahaan.


Saya mau mendirikan pabrik pengalengan ikan di daerah pantai Timur, yang berlokasi di lahan kebun yang baru kita beli.


Jadi tolong Pak Ridwan nanti bersama anggota tim kita yang lainnya, untuk menelusuri kepengurusan perizinan maupun segala sesuatu hal yang diperlukan dalam urusan pendirian pabrik pengalengan ikan kita tersebut.


Kemudian yang kedua adalah, pembentukan kepengurusan dan izin untuk mendirikan sebuah yayasan kemanusiaan.


Soal tempatnya nanti kita bisa bicara lebih lanjut.


Yang jelas kedua hal itu sangat penting untuk saat ini kita lakukan."


"Baik Tuan siap Tuan."


"Jadi kali ini akan agak sibuk kita ini Pak Ridwan."


"Oh tidak apa-apa tuan, justru saya senang kalau ada kegiatan begini, sehingga bertambah lagi pengalaman dan juga ada pergerakan otak tuan."


"Ya baiklah.


Pak Ridwan memang paling bisa diandalkan kalau urusan demikian.


Kalau begitu Pak Ridwan untuk masalah nama dan data-data yang perlu diisi, nanti bapak bisa hubungi saya lebih lanjut, nanti kita bisa bertemu dan membahasnya lebih lanjut."


"Kalau begitu kami akan coba jejaki, untuk pendirian pabrik pengalengan ikan itu, terlebih dahulu Tuan.


Seperti apa dan bagaimana planning yang akan kita jalankan ke depannya."


"Iya baiklah saya akan menunggu kabar dari Pak Ridwan."


"Baik Tuan Siap Tuan."


"Bagus kalau begitu Pak Ridwan, saya akan tutup dulu panggilannya, karena saya juga ada urusan lain di sini."


"Ya Tuan silahkan Tuan."


"Oke selamat pagi Pak Ridwan."


"Selamat pagi juga Tuan."


[Menghubungi dokter Shasmita]


"Halo Dokter Shasmita."


"Ya Halo tuan. Ada apa Tuan...?"


"Begini dokter, itu teman saya yang bernama Jhon yang sakit dan kemarin dirawat di desa S, saat ini sedang menginap dan bermalam di hotel kita.


Jadi saya minta dokter Shasmita menugaskan seseorang, untuk memeriksa keadaannya dan merawatnya lebih lanjut.


Selama masih berada menginap di hotel ini, kemudian kalau masih perlu penyembuhan lebih lanjut nantinya, seperti biasa dokternya yang akan datang ke desa S saja."


"Baik Tuan.


Oh ya Tuan..."


"Iya, ada apa dokter...?"


"Terkait pendirian rumah sakit itu, sudah semakin ada banyak perkembangannya tuan.


Mungkin dalam beberapa bulan lagi ke depannya, rumah sakit itu akan mendekati tahap penyelesaiannya tuan.


Saya punya usul tuan, Bagaimana kalau pengerjaan rumah sakit itu dikerjakan secara bertahap.


Artinya untuk beberapa bangunan yang memang telah siap agar segera bisa difungsikan saja, sehingga lebih cepat kita bisa memberikan manfaat kepada masyarakat Tuan."


"Kalau memang telah ada ruangan yang telah siap sepenuhnya, boleh saja dokter silakan saja.


Ya seperti yang Dokter katakan, biarkan saja rumah sakit itu terus beroperasi dan pembangunannya jalan terus begitu."


"Iya begitu maksud saya Tuan, walaupun pelayanan yang bisa kita jalankan masih seperti tingkat pelayanan rumah sakit biasa tuan, namun saya yakin itu sudah sangat banyak sekali manfaatnya bagi masyarakat, terlebih apabila mereka tidak perlu harus pergi ke tempat atau rumah sakit yang jauh untuk bisa berobat.


Apalagi kemarin kita memang bersengaja untuk memfokuskan beberapa bangunan paling depan yang merupakan bagian IGD itu untuk diprioritaskan terlebih dahulu selesai tuan.


Tapi tentu sebelumnya kita juga harus sudah mulai memesan alat-alat yang diperlukan Tuan."


"Baik kalau begitu dokter, silahkan nanti dokter tinggal berikan datanya kepada saya, apa saja peralatan-peralatan medis ataupun mesin yang kita butuhkan nantinya.


Silahkan tulis dan rincikan semuanya, agar segera kita pesan supaya Rumah Sakit kita bisa segera beroperasi."

__ADS_1


"Terima kasih Tuan, kalau begitu saya dan teman-teman akan musyawarah dan berembuk, karena setiap dokter nantinya tentu punya keperluannya tersendiri, apalagi dokter ahli kita.


Karenanya kami akan merumuskan dan memusyawaratkannya terlebih dahulu, kemudian hasilnya nanti akan kami serahkan kepada Tuan."


"Baik!


Kalau begitu saya hanya akan menunggu hasil musyawarah bu dokter dan teman-teman yang lain."


"Kalau begitu saya permisi Tuan Haris, saya akan lanjut bekerja."


"Oh iya silahkan bu dokter.


Tolong ya jangan sampai lupa, dokter yang memang bisa menangani teman saya seperti yang kita bicarakan tadi."


"Tentu Tuan.


Saya akan mengaturnya, saya akan memanggil dokter spesialis yang nantinya akan bertugas di rumah sakit kita, di mana beliau itu adalah dokter spesialis ahli Ortopedi.


Selain itu Tuan, tampaknya saya semakin sulit untuk bisa menyembunyikan identitas Tuan, apakah saya tidak boleh menyebutkan nama Tuan ketika ada orang-orang nanti yang menanyakan tentang pemilik Rumah Sakit tersebut Tuan."


"Oh katakan saja Rumah Sakit kita itu milik istri saya, Diana dan Kirana.


Biar saja nama mereka yang muncul ke permukaan."


"Baik Tuan, kalau begitu saya merasa sudah lega dan lebih leluasa kalau Tuan sudah memberikan izin, memberikan nama untuk konfirmasi beberapa pertanyaan teman-teman media yang menanyakan pemilik Rumah Sakit itu."


"Ya baiklah, dokter Shasmita..! Saya tidak akan mengganggu dokter lagi, mungkin juga dokter punya kegiatan lain, maka kita sudahi sampai di sini ya bu dokter."


"Iya Tuan, terima kasih atas arahannya.


Nanti akan segera kami kerjakan."


"Baiklah bu dokter salam buat rekan-rekan dokter lainnya. Selamat pagi bu dokter Shasmita."


"Pagi juga Tuan."


[Panggilan berakhir]


Waktu berjalan sebagaimana mestinya, tak terasa telah ada satu bulan, sejak Haris berada di hotel miliknya yang ada di kota P.


Dalam kurun waktu satu bulan itu, Haris terus berpindah tempat.


Beberapa kali Haris dan keluarganya pergi ke desa P dan menginap disana dan juga ke Desa S desa istrinya Diana dan juga mertua Haris.


Terlebih Villa miliknya yang ada disana juga telah selesai dibangun.


Demikian juga keadaan Jhon sudah pulih seperti biasanya, karenanya Dia sudah mulai menjalankan aktivitasnya, pergi ke perkebunan milik Haris bersama Darman.


Walaupun pabrik pengalengan ikan itu masih dalam tahap pengerjaan, tetapi Jhon sudah mulai mengatur manajemen 10 kapal yang menjadi bagian tugasnya.


Wakilnya merupakan mantan bawahan dari suami Wina, yang merupakan manajer hotelnya yang berada di kota S.


Pada suatu pagi


"Assalamu 'alaikum."


"Wa walaikum salam.


Eh kau Man, silahkan masuk."


"Ya."


"Ada apa Darman pagi-pagi sudah datang begini...?


Nggak biasanya."


"Ah begini Bos Haris, beberapa hari ini, mobil kita punya kendala.


Warga pemilik kebun yang ada di sekitaran jalan menuju lokasi pabrik kelapa sawit (PKS) merasa keberatan, dengan armada kita yang melewati jalan mereka.


Padahal selama ini sudah kita berikan kontribusi, untuk biaya perawatan jalan, selama ini kita bisa lewat dengan bebas dan aman seperti biasanya.


Tetapi nampaknya belakangan ini, mereka kembali berulah mencari masalah, mereka menaikkan tarif yang lumayan tinggi untuk bisa melewati jalan itu, jadi para supir kita mengeluh karena terkadang mereka terpaksa harus memakai uang pribadi mereka.


Selain itu teman-teman kita warga desa di wilayah Pantai Timur juga punya usul, bagaimana kira-kira kalau kita dirikan saja PKS kita sendiri di daerah pantai Timur itu bos Haris...?


Mengingat di sana juga ada ribuan hektar sawit masyarakat, sehingga seperti apa yang mereka katakan, tidak perlu harus jauh-jauh lagi untuk menjual tandan buah segar(TBS)."


"Sebenarnya kalau untuk masalah uang lewat, aku tidak mengambil pusing, artinya berapapun yang mereka minta dalam batas kewajaran penuhi saja dan sesuaikan uang jalan bagi para supir kita, karena pada prinsipnya kita juga sering mengeluarkan uang untuk membantu masyarakat.


Namun kalau memang untuk kepentingan masyarakat banyak, seperti yang diusulkan oleh warga desa di wilayah pantai Timur itu.


Tidak apa-apa dan bukan masalah kalau nanti kita akan bangun pabrik PKS milik kita sendiri, tapi sebelumnya tentu harus ada kajian dan juga penjejakan sebelumnya untuk itu.


Namun menurut hematku, seharusnya itupun tidak terlalu sulit.


Sampaikan saja ke warga yang bertanya, bahwa kita memang sudah punya rencana untuk mendirikan PKS itu.


Oh ya bagaimana dengan rumahmu Man...?"


"Alhamdulillah berkat Bos Haris, rumah itu sudah selesai berdiri kokoh dan besar.


Benar saja memang Bos Haris, kalau kita punya rumah punya pekerjaan yang lumayan bagus, apalagi punya sedikit penghasilan.


Orang-orang yang merupakan warga di desa ini juga, sudah mulai berlomba-lomba sekarang untuk merapat mendekati kita.

__ADS_1


Hal yang sama juga aku perhatikan terjadi pada teman kita si Jhon.


Mungkin kalau untuk Bos Haris mereka segan, karena rumah ini selain memang dikelilingi pagar, juga memiliki pos penjagaan.


Kalau tidakpun, mungkin mereka akan saban hari datang kemari hahaha."


"Ya sudahlah, biarkan sajalah begitu Darman, begitulah cara dunia bekerja mau kita apakan lagi...?


Alhamdulillah syukuri saja, yang penting kita berusaha untuk terus memberikan manfaat pada warga desa kita disini, apalagi disini jugakan adalah desa tempat kelahiran istri kita.


Sedangkan di desa lain yang merupakan tempat lahan usaha kita saja, tidak lupa kita bantu masyarakatnya."


"Wah bos besar memang hatinya sangat mulia, entahlah tampaknya aku memang harus banyak belajar kepada bos Haris hahaha."


"Sudahlah Man ini bukan waktunya bekerja bukan...?


Ini adalah hari libur jadi jangan panggil bas Bos lagi. Bagaimana, apa kegiatan kita hari ini...?


Apa kamu punya rencana untuk berlibur atau kegiatan apa hari ini...?


Mau jalan jalan bersama keluarga barangkali...!"


"Iya Bos. Itulah salah satu tujuanku datang kemari, aku mau permisi pergi ke kota S dan mungkin akan bermalam dua hari disana bersama keluarga, rencananya mau menginap di hotel juga.


Kalau dibolehkan sih."


"Hahaha kenapa tidak kau katakan sedari tadi, kenapa pula tidak boleh...?


Pergilah bagaimanapun keluarga itu harus diutamakan, apalagi satu bulan belakangan ini kaukan tidak pernah beristirahat dan mengambil cuti teman.


Pergilah..! Seperti yang pernah aku katakan, ini bukan lagi waktu untuk kita berjibaku harus begitu sibuk seperti dahulunya.


Lagian disana juga ada Pak Samsul ada Fauzan bukan..? Jadi mereka bisalah mengendalikan keadaan.


Ya sudah berliburlah tiga hari ini, kita juga tidak terlalu sibuk kok, sampaikan juga pada si Jhon barangkali dia juga mau liburan."


"Baiklah Bos memang tidak ada duanya, mungkin aku nggak berpanjang kata lagi Bos Haris, mau siap-siap supaya agak lebih lama waktunya bersantai di sana, inipun tadi anak-anak sudah tidak sabaran mau berangkat."


"Iya pergilah man..!


Oh ya satu lagi Man, kau belajarlah bawa mobil Man, biar kita belikan mobil untukmu nanti."


"Oh iya siap Bos Haris.


Sampai lupa itu jugalah yang mau aku tanya, masalah mobil.


Aku masih mau memakai jasa Very untuk pergi kesana, mengantarkan keluarga, apakah boleh...?"


"Boleh dong Man.


Bawa saja Very, aku menyarankanmu belajar bawa mobil bukan berarti aku tidak membolehkannya, tetapi agar kamu merasa lebih leluasa saja nantinya."


"Ya baiklah bos, nanti aku akan belajar bawa mobil sama Very atau Fauzan.


Kalau begitu aku pamit sekarang."


"Ya baiklah nanti aku akan hubungi Wina untuk menyediakan tempat bagi kalian.


Jangan bayar biaya apa-apa nanti di hotel kita sana, toh itu juga Hotel milik kita."


"Baik siap bos."


"Hahah bas Bos lagi kau bilang Darman.


Ya sudahlah pusing pula aku dengar ucapqn bas Bosmu terus."


"Haha ya memang Boslah, oke Bos aku pamit ya."


"Oke selamat jalan dan hati-hati di jalan, apa kau butuh uang Man...?


"Siap bos aku pergi sekarang, kalau masalah uang masih ada kok ini.


Uangku nggak pernah keluarpun jadinya...heheh.


Uang yang 100 juta dulupun, belum sempat dipakai ini sampai sekarang."


"Ya sudah kalau begitu Pergilah."


Darman akhirnya pergi dari rumah Haris, sambil mengajak Very untuk membawanya ke kota S tempat yang dia dan keluarganya pilih liburan selama 3 hari ini.


Merasa bosan duduk sendirian, Haris kemudian pergi ke pos penjagaan yang ada di dekat gerbang Villa miliknya.


Dia dan penjaga disana bercerita tentang banyak hal, setelah itu Haris pergi keluar menuju kedai kopi milik Bang Kules langganannya sejak lama.


Haris berencana untuk berinteraksi dengan beberapa pengunjung kedai kopi yang ada di tempat itu.


"Wah Bos besar kita datang, kasih tempat....!"


"Hahaha terima kasih teman-teman. Ayo semuanya minumlah sepuasnya, mau apa saja silakan ambil, ada yang mau rokok mau minum, atau mau gorengan ambil saja.


Biar nanti semua saya yang bayar, kalau bisa seluruh dagangan bang Kules harus habis sampai siang ini."


"Wah siap bos besar, luar biasa hahah."


Warga disana sangat bahagia ketika mendengar ucapan Haris.

__ADS_1


__ADS_2