Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _117 : Kekhawatiran Papa mertua dan kerjasama baru


__ADS_3

Haris dan keempat orang yang bersamanya masih terus berada di kedai milik Kules, yang merupakan kedai langganan Haris sejak dahulunya.


Warga masyarakat yang merupakan pengunjung di kedai kopi itu, sangat antusias dengan ide dan rencana yang disarankan oleh Haris sehingga pembahasan mereka cukup serius tentang hal itu.


Hari semakin meninggi dan saat Haris beserta empat orang lainnya bermaksud hendak meninggalkan kedai itu, seorang wanita datang dengan membawakan kue sambil bertanya-tanya pada seseorang yang berada di dekat pintu kedai tentang nama pemilik kedai kopi.


Melihat wanita itu adalah wanita yang Haris kenal dan Haris bantu saat berada di desa H, Haris segera berucap.


"Iya Bu ini kedainya.


Kedai Bang Kules yang saya maksud. Sejak hari ini Ibu titip saja kuenya di sini."


"Oh ternyata Masnya kebetulan ada di sini, jadi saya tidak sulit lagi harus menjelaskannya."


Wanita itu sangat bahagia melihat keberadaan Haris di sana.


"Ya sudah. Ibu titipkan saja langsung di sini biar saya nanti yang menjelaskan kepada bang Kules. Habis ini mau ke mana lagi Bu..?"


"Saya mau ke kedai satunya lagi Mas, yang Mas sebut di desa P ya Mas namanya..?"


"Iya Ibu di desa P warung Wak Maklin, nanti disana jelaskan saja secara ringkas, kalau kue ini saya yang pesan dan pihak kedai tidak perlu membayar apa-apa.


Katakan saja kalau semuanya saya yang akan membayar."


"Iya Mas. Terima kasih Mas."


"Sama-sama Ibu. Mana si kecil nggak ikut hari ini Bu..?"


"Oh iya Mas, hari ini sengaja karena belum tahu tempatnya si kecil tidak saya ikutkan."


"Oh ya sudah kalau begitu, silakan Ibu langsung saja menuju ke tempat itu ya Bu."


"Iya Mas terima kasih Mas."


"Nggak usah berulang kali ucapan terima kasihnya Bu."


"Iya he..he. permisi Mas, permisi semuanya..!"


Wanita itupun kemudian pergi setelah menurunkan dan memberikan kue yang merupakan pesanan Haris.


"Oh ya Bang Kules, ibu itu akan terus datang mengantar kue setiap harinya, nggak perlu dibayar semuanya sudah saya bayar tiap bulannya.


Ya hitung-hitung untuk membantu ekonomi si Ibu dan keluarganyalah Bang Kules, jadi nanti semuanya para pengunjung digratiskan saja Bang Kules tidak usah bayar kuenya, di atur saja bagaimana baiknya pembagiannya, jumlahnya 100 setiap harinya."


"Wah makin enak lagi nih, ada beragam pilihan pula lagi."


Para pengunjung yang mendengarkan dialogh antara Haris dan pemilik kedai kopi itu semakin bersemangat.


"Semuanya tenang nanti akan saya bagikan, jadi yang tertib saja kita semuanya. "


Kules yang tidak ingin terjadi kegaduhan karena berebut makanan saat Haris berada di sana segera dengan sigap dan cekatan langsung membagi-bagi kue itu dan mengedarkannya kepada para pengunjung yang ada di sana.


Haris kemudian pergi bersama empat orang lainnya, mereka meninggalkan kedai itu dan dilepas dengan penuh senyum keramahan dan tawa gembira dari para pengunjung yang ada di kedai kopi tersebut.


"Eh ada panggilan."


Haris yang mendapati handphone miliknya berbunyi saat berjalan bersama dengan yang lain menuju villanya, segera melihat nama si pemanggil yang tertera di layar handphone miliknya dan ternyata itu adalah panggilan dari Riston.


[Panggilan dari Riston]


"Halo Bang..! Kami semua sudah sampai di hotel, tadi saya di hubungi oleh Master Lim katanya mau membicarakan sesuatu hal yang penting dengan Abang."


"Oh ya sudah nanti berikan saja nomor telepon Abang dan katakan supaya langsung menghubungi Abang saja."


"Baiklah Bang, lalu apa yang harus kami lakukan sekarang Bang..?"


"Sudah kalian istirahat saja dulu, nanti siang Abang juga akan datang ke sana."


"Baiklah Bang kalau begitu kami akan beristirahat."


"Ya katakan pada semuanya untuk beristirahat dengan baik, kerja kalian sangat bagus.


Akan ada bonus yang nanti dibagikan kepada kalian semua."


"Ha..ha..ha siap Bos. Terima kasih sebelumnya."


"Ya istirahatlah dengan baik."


"Siap Bos."


[Panggilan berakhir]


"Jadi mereka sudah sampai Ris..?"


Beni yang mendengar pembicaraan Haris dan Riston membuka percakapan.


"Iya Bang Ben. Katanya Riston dan yang lainnya sudah sampai di hotel.


Syukurlah mereka baik-baik saja semuanya, jadi pengamanan di kantor ekspedisi nantinya bisa lebih di intensifkan juga dimaksimalkan.


Begitu pula di hotel kita, selain itu mungkin nanti atau besok aku juga akan menghubungi Wilson kembali, aku berniat akan mendirikan satuan khusus pengamanan seluruh tempat-tempat usaha milik kita, yang terdiri dari 100 orang di luar dari jumlah yang sudah ada saat ini.


Sehingga harapannya tidak terjadi lagi kasus seperti yang menimpa Abang sebelumnya nantinya."


"Oh sangat baik kalau begitu Ris."


"Ya harus semakin baik Bang, kita harus mempertimbangkan segala hal."


"Jadi Abang kapan boleh kembali bekerja Ris..?"


"Abang rasa bagaimana..?


Apa Abang sudah siap nih bekerja kembali..?"


"Ya, Abangkan merasa sudah sehat Ris, kalau memang boleh mulai besok abang mau langsung kerja saja."


"Kenapa tidak boleh..?


Bukankah Abang Bosnya di sana, kalau Abang merasa sudah bisa ya sudah bekerja saja, memang kalau kita berdiam diri di rumahpun akan suntuk jadinya."


"Iya makanya itu Ris."


"Ya sudah bagaimana Abang rasa baiknya saja. Abang Roni nanti bantu Haris untuk mengurusi tentang pembuatan usaha peternakan dan budidaya ikan yang akan kita bangun di desa ini ya Bang Ron.


Bang Roni agak longgarkan nanti kerjanya..?"


"Iya siap Ris, bisalah Abang nanti mengatur schedule nya agar tidak sampai mengganggu pekerjaan Abang yang lain."


"Baik kalau begitu sudah aman tuh, Haris juga inikan sedang punya tugas, mau mendirikan satuan khusus pengamanan itu, jadi harus mengurusi beberapa hal seperti mencari gedung yang tepat, mengelola dan mengatur orang-orangnya dan sebagainya.


Kita bagi tugaslah ceritanya nih.


Selain itu Darman dan Jhon sendiri jugakan bakal sibuk di wilayah pantai Timur, jadi kita semua harus bersemangatlah semuanya."


"Oke Ris kau bosnya, kita semua siap kok dan sangat bersemangat. Bukan begitu kawan-kawan..?"


Beni mengatakan hal itu dengan maksud ditujukan kepada Roni dan juga Darman serta John, kelimanya kemudian tertawa bahagia dan sambil terus berjalan menuju villa kediaman Haris.


Tidak butuh waktu lama sehingga mereka kemudian sampai di depan villa itu dan duduk di pelataran Villa, sambil menanti hidangan yang akan mereka santap bersama pada pagi hari itu."


Hari yang tadinya cerah tampak seperti meluntur, sehingga suasana desa terlihat mendung karena gumpalan awan yang tersusun di atas langit Desa itu.

__ADS_1


Tidak lama asisten rumah tangga yang ada di villa itu, segera memanggil Haris dan keempat yang lainnya untuk menuju ke ruang makan keluarga, sebab di sana makanan telah terhidang dan semua orang sudah hadir menempati tempat duduknya masing-masing.


"Baiklah semuanya..! Mari kita makan bersama."


Diana istri pertama Haris lalu memberikan kata-kata pembuka, sehingga semua orang kemudian mengambil dan mulai menikmati makanannya masing-masing.


"Haris kamu punya waktu yang luangkah...? Papa mau bicara sesuatu hal padamu."


Mertua Haris menyempatkan diri bertanya pada Haris di sela sela acara makan itu


"Ada kok Pa, Haris akan berada di sini sampai siang, tapi siang nanti Haris mungkin akan pergi ke hotel kita yang ada di kota P untuk mengurus sesuatu, tapi Haris kembali kemari kok nanti dan bakal bermalam disini juga bersama semuanya.


Apa ada sesuatu hal yang penting yang mau Papa bicarakan...?"


"Ya ini sebenarnya hanya masalah kecil saja Ris, terkait hotel kita yang ada di kota K, hanya saja memang perlu waktu khusus juga untuk membicarakan itu."


"Ya sudah Pa, nanti selesai makan Papa ceritakan saja semuanya ke Haris, agar nantinya bisa kita atasi semuanya."


"Baik. Kalau begitu kita ceritanya nanti selesai makan saja."


"Iya Pa."


Acara makan pagi berlanjut dengan penuh canda tawa dan suasana yang santai serta penuh keakraban. Masing-masing orang kini sudah merasa semakin dekat satu sama lainnya melebihi kedekatan mereka sebelumnya, mereka sudah merasakan bahwa mereka semua adalah satu keluarga yang sama.


Selesai makan Haris kemudian membawa Papa mertuanya, ke sebuah pondok yang berada di tengah-tengah taman halaman belakang Villa nya yang juga bersebelahan dengan kolam renang.


"Nah kita bicara di sini aja ya Pa. Ada masalah apa Pa..?"


"Oh ini terkait masalah Hotel kita yang di kota K itu lho Haris. Jadi mamamu mengatakan sama Papa, kalau sebaiknya Papa dan Mama itu sekarang tinggal di sini saja, berhubung karena keadaan Kirana yang juga sedang mengandung begitu, jadi ya Papa mengatakan kepada mamamu supaya menanyakan hal ini dan memusyawarahkannya pada Haris.


Bagaimana kira-kira pendapat nak Haris..?"


"Bagus, Haris setuju sekali itu Pa, itu saran yang bagus.


Dari dulu malah Haris itu sudah mengatakan ke Dek Kirana supaya Papa dan Mama itu nggak usah kerja lagi ngurus Hotel.


Biarkan Haris nanti yang handle semuanya dan lagian kita punya banyak orang-orang kita yang bisa mengurus itu kok Pa.


Ya sudah Papa tenang saja, nanti pokoknya Hotel kita yang ada di sana, biar Haris yang menempatkan seseorang untuk mengatur semuanya disana. Papa bisa tenang di sini bersama Mama menemani dek Kirana tanpa harus khawatir sesuatu apapun."


"Itulah yang ingin Papa sampaikan ke mamamu sejak awal. Sebenarnya Papa tadinya sudah berencana mau mencari waktu yang agak santai saja untuk menjelaskan itu, tapi mamamu orangnya nggak sabaran, terus bertanya ke Papa.


Sudah bagaimana Pa..?


Apa kata nak Harisnya..? begitu, jadi tadi sekalian saja Papa tanya dan sampaikan mumpung juga mamamu ada bersama kita semua."


"He he Papa tidak usah risau lagi kalau soal itu."


"Iya tapi Papa juga ada satu pertanyaan lain nih Haris."


"Ada apa lagi ya Pa..?"


"Tadi malam saat kita sedang berkumpul dan buat acara makan malam bersama itu, Papa lihat para pengawal begitu serius tidak seperti biasanya dan pengawalan di gerbang Villa juga begitu ketat.


Sebenarnya apa yang terjadi Ris, apakah ada sesuatu hal yang begitu merisaukan..?"


"Oh tidak ada Pa, itu memang sudah prosedurnya begitu, karena kita sekarang sudah punya pengawal yang cukup jadi mereka juga ingin serius dan profesional dalam bekerja.


Tidak ada salahnya juga kan Pa, kita berhati-hati..?


Sebab bagaimanapun sudah pernah terjadi seseorang yang tidak dikenal sama sekali, tiba-tiba memukul Bang Beni di tempat kerjanya di kantor ekspedisi.


Jadi para pengawal kita itu sudah menerapkan satu protokol keamanan."


"Oh jadi seperti itu ya..?


Terus terang Papa sekarang orangnya mudah sekali khawatir dan panik, semenjak keadaan Kirana yang begini terus terang hal itu jugalah yang mendorong Papa dan Mama sehingga memutuskan untuk menyerahkan urusan Hotel itu ke Nak Haris saja.


Biasalah Haris naluri seorang ayah, Haris juga tahukan bagaimana perasaan itu, sebab cucu Papa si Nurul juga sudah ada."


"Iya Pa Terima kasih ya Pa, Haris faham kok, tapi Papa nggak usah khawatir lagi, dibiasakan saja memang begitulah keadaannya sekarang, termasuk dek Kirana dan Diana saat ini, kalau mau kemanapun itu akan ada Puspa dan Wulan yang mengawalnya beserta 5 pengawal wanita lainnya.


Harispun tidak ingin mereka kenapa kenapa Pa, makanya Haris juga melakukan hal itu."


"Ya sudah kalau begitu, Papa semakin tenang sekarang. Kalau begitu bagaimana kalau sekarang kita kembali berkumpul bersama yang lain..?


Papa juga ingin cerita banyak hal kepada Pak Slamet itu, dia orangnya enak untuk diajak bicara hahaha.


Kamu kenal di mana Pak selamat itu Ris..?"


"Oh itu dulu Pa, waktu Haris masih menjadi guru honor di sebuah sekolah swasta, saat itu Haris kehilangan gaji bulanan Yang baru Haris terima, sedangkan Haris dan putri Papa Dek Diana, tidak punya apa-apa lagi tidak punya uang sepeserpun saat itu untuk membeli perbekalan rumah tangga.


Haris sudah meminta tolong kepada pihak Yayasan untuk meminjam sejumlah uang, yang nantinya uang itu akan dipotong dari gaji Haris tiap bulannya, tapi oleh pihak yayasan Haris ditolak mentah-mentah.


Nah dengan berlinangan air mata Haris memberanikan diri meminjam kepada Pak Slamet itu Pa dan belum selesai Haris bicara, Pak Slamet itu sudah pamit pergi ke dalam kamarnya, kemudian datang dengan memberi uang miliknya sejumlah uang gaji Haris yang hilang.


Dengan begitu tulusnya Pak selamet mengatakan kalau uang pemberiannya itu tidak perlu dikembalikan.


Pak selamet ikhlas mau menolong, itulah yang membuat Haris tidak bisa melupakan Pak Slamet itu sampai sekarang pa."


"Iya apa yang kamu lakukan sudah benar nak Haris, orang-orang yang baik dan jasa-jasa kebaikan mereka memang tidak boleh dilupakan begitu saja.


Kita harus pandai-pandai berterima kasih, Papa salut sama kamu nak Haris, kamu masih muda tapi telah begitu bijaksana.


Tidak malu Papa mengatakan kalau Papa itu sebenarnya setelah kejadian di hotel K dahulunya, juga sudah banyak belajar dari Nak Haris.


Banyak nasehat-nasehat dan petuah-petuah Haris yang Papa amalkan meski itu Papa dapatkan dari Kirana ataupun Diana dan yang lainnya."


"Hmm.. Papa terlalu memuji Haris. Sebagai orang tua yang lebih banyak makan asam garam kehidupan, tentu Papa jauh lebih bijak dari Haris."


"Haha.. Ya itu satu lagi ciri khasnya, kamu begitu pandai menghormati orang tua dan begitu pandai menempatkan dirimu. Papa suka sama kamu Ris.


Ya sudah kalau begitu kita kembali saja bergabung dengan yang lainnya."


"Baiklah Pa, ayo kita pergi bergabung dengan yang lainnya sekarang."


Pertemuan Haris dan pembicaraan singkat khusus antara keduanya telah selesai, baik Haris maupun Papa mertuanya merasakan pertemuan dan pembicaraan singkat itu, begitu berarti dan begitu berharga.


Haris mendapatkan pengakuan yang baik dari mertua atau orang tua dari istri yang begitu dicintainya, kemudian mertuanyapun mendapatkan kepastian dari Haris tentang apa yang dia dan istrinya risaukan selama ini.


"Sepertinya Papa dan Abang begitu serius bicaranya. Ada apa sih Bang..?"


Diana istri Haris yang mendapati Haris berada di kamarnya setelah pembicaraan dengan mertuanya, menanyakan hal itu kepada Haris.


"Oh adik melihat Abang dan Papa tadi bicara di halaman belakang ya dari atas sini..? Itu bukan soal apa-apa lho dek, Papa dan Mama minta izin ke kita kalau mereka itu mau tinggal bersama kita. Mau memantau keadaan dek Kirana setiap waktunya.


Kamukan tahu sendiri dek Kirana itu Putri kandung satu-satunya yang Papa dan Mama miliki, ya jadi wajarlah mereka agak risau dan khawatir begitu, sehingga ingin terus bisa melihat dan memastikan keadaan Putri kesayangannya itu.


Apa bedanya kita dengan Nurul Putri kita."


"Oh Adek kira ada masalah apa Bang, kok begitu seriusnya. Apa Papa merasa ada yang salah terkait perlakuan kita pada Dek Kirana ya..?


Adek tadinya sempat mikirnya begitu Bang."


"Iya cukup serius tadi. Papa sudah bilang mau cari waktu yang santai untuk bercerita dengan Abang, tapi mama orangnya nggak sabaran terus mengejar Papa dengan berulang kali bertanya apakah sudah ditanyakan ha..ha..ha, biasalah orang tua.


Oh ya dek, Adek Kirananya mana..?"


"Tadi waktu Abang pergi bersama Papa untuk membicarakan hal itu, Adek Kirana pergi ke kamar Mama untuk menemani Mama di sana Bang."


"Oh ya sudahlah kalau begitu, Dek mungkin nanti siang Abang akan pergi ke Hotel lho Dek. Riston dan kawan-kawannya sudah datang.

__ADS_1


Marlon juga sudah tewas kamu tidak perlu khawatir lagi dan Abang sendiri pergi kesana ingin bertemu Master Lim urusan bisnis, selepas itu Abang juga hendak membentuk satuan pengamanan yang nantinya akan menjaga usaha-usaha kita agar kasus yang terjadi pada Bang Beni tidak akan terjadi lagi menimpa kepada siapapun lagi."


"Ya bagus itu Bang. Abang atur sajalah bagaimana baiknya, Abangkan tahu kalau Adik ini orangnya nggak pinter-pinter amat.


Adek mengandalkan suami Adik yang cerdas ini saja."


"Hahah..! Tumben kamu mengatakan Abang cerdas, apakah ada maunya...?


Masih siang lho."


"Ih Abang ini, Diana bicara apa adanya salah nanti bicaranya yang lain lagi juga salah, bagaimana sih...?"


"He..he Abang cuma bercanda kok, kalau tidak mau begitu ayolah kita berkumpul lagi dengan yang lainnya, Abang tadinya cuma mau mengambil sesuatu kemari."


"Ayo Bang, masa Abang mau begitu saat ada begitu banyak orang yang menanti kehadiran kita disana, lagian Adek capek lho Bang."


"Hehe ya Sudah kita turun saja ke bawah, untuk bergabung dengan yang lainnya.


Kebersamaan keluarga Haris berlanjut sampai siang hari, kemudian setelah jam makan siang selesai, Haris segera pergi bersama dengan Darman dan juga John yang minta ikut.


Mereka menaiki kendaraan yang dibawa oleh Nando, mereka pergi tanpa pengawalan karena Harus mengutamakan pengawalan pada keluarganya di Villa.


Sesampainya di kota P Haris segera bergegas menuju hotel dan menemui Riston dan yang lainnya yang sudah menunggu di ruangan keamanan yang berada di lantai dasar Hotel, bersebelahan dengan bagasi mobil pribadi milik Haris.


"Kenapa Master Lim tidak menanyakan dan menghubungi Abang Riston..?"


"Iya tadi setelah saya sampaikan, Master Limnya takut mengganggu Bos katanya.


Nanti saja bicara langsung. Siang ini Master Lim beserta Tuan besarnya akan datang ingin melihat dan berkenalan langsung dengan Tuan katanya."


"Oh begitu rupanya, )


Lalu bagaimana dengan keadaan kalian, apakah kalian baik-baik saja...?"


"Kami semua baik-baik saja bos, kami sehat tanpa kekurangan suatu apapun."


"Baiklah itu kabar yang sangat bagus."


Berselang beberapa saat master Lim yang Haris kenal lewat pertarungan persahabatan yang pernah mereka lakukan datang bersamaTuan besarnya.


"Halo selamat pagi tuan Haris perkenalkan saya Prawirawan dan saya rasa Tuan sudah tahu sosok yang datang bersama dengan saya ini."


"Ya. Selamat pagi Tuan Prawirawan dan juga Master Lim, apa kabarnya..?


Selamat datang di tempat kami, silakan duduk Tuan dan Master."


"Terima kasih Tuan Haris, haha sudah begitu lama saya mendengar cerita tentang Anda tapi baru hari ini kita berkesempatan untuk bisa bertemu.


Ternyata Tuan Haris ini masih sangat muda dan penuh energi, tapi sudah begitu sukses. Mungkin saya nanti harus belajar banyak hal dari Tuan Haris."


"Ah tuan p


Prawirawan bisa saja. Tuan terlalu memuji saya


Saya ini orang yang biasa saja kok Tuan, ya selain bekerja keras kekuatan do'alah yang saya andalkan."


"Ya...ya Tuan ternyata juga begitu rendah hati hehe."


Baik Haris dan juga Prawirawan serta Master Lim kemudian berbasa-basi sebelum masuk kepada bagian yang paling serius, yang merupakan agenda pertemuan mereka hari itu.


Mereka saling beramah tamah serta saling berusaha menanamkan kesan yang baik pada sosok yang mereka ajak untuk berinteraksi.


Tak lama sesudahnya makanan dan minuman berbagai macampun telah terhidang di meja tempat mereka menggelar pertemuan itu.


"Baiklah Tuan Prawirawan dan master Lim, sambil sambil bercerita ini hidangan sudah terhampar di hadapan kita semua. Saya rasa tidak ada salahnya kalau kita sambil mencicipi apa yang ada, maaf kalau barangkali apa yang disuguhkan ini tidak sesuai dengan selera tuan dan juga Master Lim."


"Ah tidak begitu Tuan Haris, hidangan yang disuguhkan ini sudah sangat baik, rasanya pasti juga begitu enak hahah."


"Ya terima kasih kalau Tuan merasa begitu, baiklah ayo kita sambil sambil bercerita kita nikmati apa yang sudah terhidang ini."


"Ya iya Tuan Haris."


Semua orang yang ada di Meja itu kemudian makan santai bersama, Haris memperlakukan tamunya dengan begitu hormat dan sebagai pihak yang datang untuk meminta bantuan Prawirawan merasa terkesan dengan sikap dan juga perlakuan yang dia terima dari Haris, dimana hal itu sangat berbeda dengan sikap Marlon yang bertindak sesukanya dan kurang menjaga adab.


"Barangkali tidak ada salahnya kalau kita masuk ke acara atau agenda pertemuan kita hari ini.


Mungkin nanti master Lim bisa menjelaskannya, saya akan menjadi pendengar yang baik dan akan menyimak segala sesuatunya."


"Terima kasih sebelumnya Tuan Haris jadi sama seperti yang dahulu pernah kita bicarakan saat berada di kantor ekspedisi milik Tuan, sesuai prediksi kami Marlon sudah dalam proses menarik seluruh kepemilikan sahamnya dari perusahaan melalui orang-orangnya yang dia berikan surat kuasa, jadi mungkin kalau saham itu sudah dikeluarkan akan ada ketidakstabilan dalam sistem keuangan perusahaan tambang yang sedang kita kelola.


Oleh karenanya dengan kekhawatiran itu mengingat kita sebelumnya sudah pernah membicarakan hal ini termasuk nominal angkanya, maka kali ini tujuan saya dan Tuan besar datang kemari adalah untuk menyampaikan hal itu kepada Tuan Haris.


Bagaimana kira-kira pendapat Tuan...?"


"Oh ya, saya sangat ingat betul pembicaraan kita saat itu master Lim, jadi intinya saya juga tidak akan lari dari apa yang pernah saya ucapkan.


Saya bersedia menggantikan posisi Marlon untuk menanamkan saham di perusahaan itu, tapi kalau boleh tahu apakah Master Lim dan Tuan prawirawan tahu keberadaan Marlon sekarang...?"


Mendengar ucapan dari Haris Tuan Prawirawan yang tadinya sempat menahan nafas menunggu jawaban dari Haris, dengan cepat dan mudah segera bisa bersikap normal kembali, karena pada prinsipnya ternyata Haris adalah orang yang memegang janji.


"Tuan Haris kalau masalah Marlon mungkin biar saja saya yang menjawabnya."


Prawirawan mengambil alih pembicaraan untuk menjawab pertanyaan Haris seputar Marlon dari Lim yang sedianya akan menjawab.


"Jadi menurut informasi yang kami dengar, selain Marlon ini memang sudah menjadi buruan polisi dia ini ternyata juga terlibat persaingan dan peperangan antar kelompok barangkali, sehingga ada sekelompok orang yang sebagian mereka itu cukup terlatih, dimana kabarnya sedang memburu Marlon sampai ke beberapa tempat.


Pertama sekali kami melihat mereka memburunya adalah saat ada dua orang mata-mata kita yang mengikuti Marlon ke tempat persembunyiannya, walau sempat kehilangan jejak kedua mata-mata kita itu kemudian menemukan satu lokasi yang dijadikan sebagai tempat persembunyian oleh Marlon yang ternyata berselang beberapa waktu ada sekelompok orang yang melakukan penyerangan ke tempat itu, selebihnya kami tidak tahu lagi bagaimana perkembangannya, karena saat itu dua orang mata-mata kita juga segera menyingkir dari lokasi sebab khawatir disangka sebagai orang-orangnya Marlon.


Tapi ya apapun itu pada prinsipnya kami tidak lagi peduli bahkan, seandainya dia mati sekalipun sebab dosanya sudah terlalu banyak, bahkan belakangan ini terkuak suatu rahasia yang mana seperti dugaan kami, sangat besar kemungkinan bahwa dialah yang membunuh abang saya yakni ayahnya sendiri.


Oleh karena itu saya pribadi khususnya dan kami sekeluarga pada umumnya sudah tidak menganggap Marlon ini lagi sebagai bagian dari keluarga."


"Oh begitu ternyata, sangat disayangkan sekali ada anak sedurhaka itu.


Baiklah tuan Prawirawan kalau soal hubungan kerja kita, Tuan jangan khawatir saya akan menanamkan saham di perusahaan yang dibangun oleh keluarga Tuan itu.


Semoga nanti kerja sama kita berjalan dengan baik kedepannya."


"Baik terima kasih Tuan Haris, saya sangat bahagia sekali dengan rencana kerjasama kita ini, mungkin selanjutnya nanti pihak dari perusahaan akan menghubungi orang-orang Tuan Haris soal penyerahan saham itu, intinya saya sangat berbahagia dan saya sangat berterima kasih, kedepannya saya ingin hubungan kita semakin dekat lagi kedepannya.


Berhubung saya juga masih ada kegiatan lain, saya yakin Tuan Haris juga punya kesibukan tersendiri, maka saya tidak akan menyita waktu Tuan lebih banyak lagi.


Selesai ini kami akan segera pamit undur diri Tuan, untuk melanjutkan kegiatan di perusahaan."


"Baiklah Tuan Prawirawan dan master Lim, terima kasih atas kedatangan dan kunjungan anda berdua. Iya benar memang saya juga ada suatu urusan yang cukup mendesak untuk saya kerjakan, oleh karenanya saya juga memahami apa yang Tuan Prawirawan sampaikan, kalau begitu pembicaraan terkait hal itu apakah sudah bisa kita sudahi sampai di sini saja..?"


"Ya semuanya sudah cukup jelas dan tuntas Tuan Haris, Hanya tinggal menunggu langkah selanjutnya. Kami harapkan kalau bisa apa yang kita bahas ini realisasinya bisa dilangsungkan segera."


"Iya Tentu saya juga inginnya begitu Tuan Prawirawan, kapanpun pihak perwakilan perusahaan Tuan datang, maka saya akan memberikan uang tersebut."


"Baiklah Tuan Haris, kalau begitu kami permisi pulang selamat pagi menjelang siang dan sekali lagi terima kasih Tuan Haris."


"Iya sama-sama Tuan sama-sama, saya juga mengucapkan terima kasih Tuan sudah mempercayakan saya sebagai mitra kerja dan juga relasi bisnis di sana.


Mohon juga Tuan berkenan banyak-banyak membimbing saya soal itu, saya juga awam soal pertambangan itu."


"Ah kalau itu Tuan jangan khawatir, kami akan melakukan yang terbaik.


Baiklah Tuan kalau begitu kami pamit pergi sekarang."


"Ya silakan Tuan."

__ADS_1


Pertemuan Haris dengan Prawirawan dan juga orang kepercayaannya master Lim berakhir sampai di situ.


__ADS_2