Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _50 : Adik angkat


__ADS_3

"Tok... tok..tok."


[Pintu di ketok]


"Pak direktur!"


"Ya, silahkan masuk bu."


"Halo siang pak direktur juga ibu."


Ucap kirana dan dokter Sashmita.


"Selamat siang juga Kirana dan bu dokter.


Silahkan masuk bu!"


Haris yang di dampingi istrinya Diana menyambut kedatangan Kirana dan dokter Sashmita di ruang tamu Royal suite type Family Room miliknya.


Ke empatnya kemudian beramah tamah sejenak, sebelum masuk pada inti acara pertemuan itu.


"Dokter maaf saya akan bertanya beberapa hal, tolong dokter jangan salah faham."


"Apakah ada sesuatu yang salah, pak direktur?"


"Bukan, bu dokter, yang saya ingin tanyakan apakah dokter sudah memenuhi syarat baik itu pelatihan, pelayanan maupun apa sajalah dari berbagai hal, yang diperlukan untuk menjadi seorang direktur rumah sakit.?"


"Saya terus terang saja, sudah memenuhi syarat pak. Tapi ya itu, sangat sulit untuk bisa mendapatkan tempat sebagai seorang direktur dalam sebuah rumah sakit pak.


Sebagian besar teman teman sejawat, temasuk saya sendiri mungkin tidak akan punya kesempatan untuk itu?"


"Apakah itu begitu sulit bu dokter?"


"Sangat pak, persaingan untuk sampai ke kursi itu sangat berat he he.


Kenapa bapak begitu tertarik dengan hal itu?"


"Ya saya ingin tahu saja bu', sebab ada beberapa teman dokter, yang mengeluhkan direktur utama mereka.


Dan mereka mendorong saya untuk membangun sebuah rumah sakit di suatu lokasi di tempat kita ini.


Jadi saya merasa perlu untuk mempertimbangkannya."


"Oh itu niat yang bagus pak, di teruskan saja."


"Tapi saya tidak punya seseorang yang saya tahu, maupun saya lihat punya semangat untuk memikul tanggung jawab sebesar itu, yakni untuk menjadi direktur utama di rumah sakit yang nanti akan saya bangun.


Apakah ibu Sashmita berkenan memikul tanggung jawab sebagai direktur utama, kalau saya misalnya membangun sebuah rumah sakit?"


Jantung dokter Sashmita berdegup kencang, siapa yang tidak ingin menduduki posisi itu?


Yang benar saja, bahkan dia sangat mendambakannya, itu adalah mimpinya sejak lama, sejak terjun dan berkecimpung didunia kedokteran.


Namun berkaca dari pemilik hotel dan klinik sebelumnya, yakni sebelum Haris kemudian membeli hotel dan klinik yang menjadi tempat dokter Sashmita membagi waktunya selain tugasnya di rumah sakit dan praktek di rumah pribadinya.


Dokter Sashmita sama sekali tidak pernah berkhayal banyak hal, dari pemilik klinik itu apalagi tawaran sebesar itu.


"Halo bu dokter?"


"Ah.... maaf direktur!


Saya tanpa sadar, tiba tiba kepikiran biaya pembangunan sebuah rumah sakit, yang mencapai angka ratusan miliar itu."


"Ah kalau masalah biaya ibu dokter jangan pikirkan, biarkan itu menjadi bahagian saya tapi kalau urusan suntik menyuntik saya angkat tangan hahahh...


Tentunya harus yang benar benar seorang dokter yang duduk disana. bukan?


Saya sudah tanya tanya dan banyak mencari tahu juga sih, dari media online, kira kira berapa biaya yang dibutuhkan untuk membangun sebuah rumah sakit.


Saya dapati angka Rp 400 M, untuk biaya pembuatan atau pembangunan rumah sakit type B dan Rp 800 hingga 1M, untuk biaya pembangunan rumah sakit tipe A


Jadi saya memilih membangun tipe A yang berbiaya sampai 1 triliun itu, cuma karena saya memang ingin nanti suasananya lebih maju, bagus dan menyenangkan, jadi saya akan alokasikan dana satu sampai satu setengah triliun.


Bagaimana apa ibu siap memikul tanggung jawab itu?"


"Deghhhh..."


Jantung bu dokter semakin kencang adrenalin di tubuhnya semakin terpacu.


Ini saatnya inilah kesempatan itu jangan ragu, kata itu menjadi bisikan di hatinya dengan kuat.


Dia takut untuk menunjukkan sikap ragu, ataupun merasa khawatir kalau Haris sempat melihat adanya keraguan dalam dirinya, sehingga dengan cepat dia berkata dengan mantap "Siap pak Haris, saya siap memikul tanggung jawab itu!"

__ADS_1


"Baik tapi lokasi yang saya miliki itu di desa , apakah ibu tidak masalah dengan itu?


Jangan langaunh ibu pikirkan soal pendapatan dulu, saya tidak buru buru kalau soal itu."


"Itu tidak masalah pak, seiring waktu keberadaan rumah sakit itu yang akan memicu kemajuan di tempat itu.


"Baik kalau begitu, akan kita mulai rencana baik itu."


"Terima kasih bapak mempercayakannya kepada saya, segala sesuatunya akan saya perjuangkan dengan semua potensi terbaik dalam diri saya pak."


"Tapi saya minta satu hal dokter, jangan pernah Rumah sakit kita nantinya, sampai menolak pasien hanya karena dia tidak punya biaya."


"Saya berniat tidak akan mengedepankan bisnis dalam pengoperasian Rumah sakit milik saya."


"Baik! selama itu bapak yang menginginkannya, maka tentunya hanya akan berjalan demikian.


Bapak adalah CEO-nya kami hanya akan mengikuti arahan bapak."


"Kalau begitu pembahasan kita untuk urusan itu, telah selesai sampai disitu dan tinggal pelaksanaanya.


Seterusnya maaf nih bu' dokter kalau saya tidak datang ke klinik, tapi malah memanggil ibu kemari.


Tapi memang pembicaraan kita ini harus di bahas di tempat yang tenang.


Namun yang tidak kalah penting dari itu, saya sebenarnya juga mau meminta dokter memeriksa istri saya, soalnya dia ada perubahan baru belakangan ini.


Apakah itu ada kaitannya dengan si Nurul yang akan punya adek lagi atau bagaimana?"


"Oh kalau begitu langsung saja saya akan memeriksanya pak, mari bu!"


"Iya dokter."


Dokter Sashmita dan Diana pergi ke tempat tidur, untuk memeriksa keadaan Diana.


"Ah Kirana!"


"Iya pak direktur."


"Jadi saat ini sudah ada 4 hotel baru yang akan kita beli dan masuk pada jajaran hotel Nurul Haris nantinya.


Saya minta kamu betul betul mempersiapkan penggantimu dengan baik, jika nantinya kamu akan berangkat ke salah satu hotel itu."


"Pak bolehkah saya minta satu hal?"


"Saya sangat ingin menjadi GM di sebuah hotel bintang lima tentunya, tapi kalau boleh saya minta tidak keluar dari wilayah ini pak."


"Alasannya?"


"Alasannya saya punya orang tua yang sudah tua pak, mereka tidak akan bisa jauh dari saya dan mereka juga tidak pula bisa tinggal dengan saya nantinya, di salah satu tempat itu"


"Maksudmu kau ingin turun dari jabatanmu agar bisa tetap bersama dengan orang tua begitukah?"


"Deghhhh.."


Jantung Kirana sang GM di hotel Nurul Haris hampir saja lepas, keringat dingin menjalar di tubuhnya.


Tentu bukan ini yang Kirana inginkan, dia tahu pimpinannya ini orang baik, jadi dia berharap suatu kabar yang baik tadinya.


Kabar baik yang sama bahagianya seperti yang bu dokter baru saja terima itu, agar juga bisa terjadi padanya.


Haris menatap dengan serius menanti jawaban, Kirana membeku di tempatnya dia merasa seolah di pukul dengan palu besar dan masuk ke dasar bumi.


"Bodohnya! Aku memang bodoh.


Apa yang aku pikirkan?


Apakah hotel ini milik ayah atau keluargaku sehingga aku bisa berbuat sesuka hatiku?


Kalau sudah begini, bagaimana keluar dari situasi ini?


Padahal jabatanku ini masih baru.


Oh Tuhan bantu aku melalui masa kritis ini.


Hati Kirana semakin berkecamuk, ingin rasanya dia buang air kecil ditempat itu saat itu juga, tapi tentu itu adalah hal bodoh yang sama sekali tidak bisa dilakukannya.


Keringat menetes dari dahi Kirana.


"Kenapa kamu tidak menjawab?"


"Itu ..itu! Maaf pak, saya hanya salah bicara."

__ADS_1


"Ha...ha.ha..hahahh..hahahh"


Haris tertawa kencang membuat Kirana merasa begitu bersalah dan sangat bodoh atas ucapannya tadi.


Selanjutnya dia bergidik ngeri. seolah tidak kenal lagi dengan sosok pria di depannya, yang tadinya dia anggap begitu baik itu.


"Baiklah karena kau baru saja diangkat, maka aku beri kesempatan waktu lagi bagimu, dua bulan ini setelah itu ucapkan selamat tinggal dari tempat ini."


Dokter Sashmita begitu terkejut begitu juga Diana, ketika mendengar ucapan Haris, tetapi mereka tidak berani berkata apapun.


Kirana menangis tidak lagi bisa membendung air matanya, apa yang dia takutkan sudah terjadi, semua sudah hancur dia sudah jatuh padahal baru saja diangkat pada posisi yang telah lama di idam idamkannya.


Betapa malunya.


Orang tuanya sudah terlanjur membanggakannya di daerah tempat tinggal mereka.


Lalu bagaimana kini dia akan menjelaskannya?


Saat sekarang hati Kirana begitu berkecamuk.


"Heiii... kenapa kau malah menangis, bukankah kau tidak ingin jadi GM hotel bintang lima?"


Tangisan Kirana semakin kuat tubuhnya bergetar dan terisak


Melihat itu Haris datang dan memeluknya.


Seketika Kirana merasakan kehangatan dan kedamaian pada tubuhnya, yang sudah dipenuhi oleh keringat dingin sejak tadi.


"Heiii..! Jangan menangis lagi, yang aku maksud itu bukan memecatmu, tetapi memindahkankanmu pada hotel bintang lima, yang akan kita beli atau kita bangun di sekitar wilayah ini juga.


Aku suka perhatianmu pada orang tua kita, begitulah seharusnya seorang anak.


Aku adalah anak paling kecil di keluargaku dan aku tidak punya adik, tapi sekarang aku ingin punya adik perempuan, maka aku akan mengangkatmu sebagai adikku dan kau harus setuju.


Sekarang pergilah peluk kakakmu karena saat ini dialah pimpinanmu di hotel ini, dia adalah direktur utama di hotel ini."


Kirana merasa sedikit khawatir dan takut melihat Diana yang menyaksikan kontak fisik suaminya memeluk Kirana di depannya tadi.


"Apakah kau tidak mau menjadi adik perempuan kami?"


Melihat senyum tulus yang dia lihat dan dapati pada Diana, Kirana kemudian berlari dan memeluk Diana


"Kakak.....!"


"Adik, aduh bajumu sudah begitu basah, abang sih bercandanya keterlaluan nih.


Kirana sejak hari ini kami adalah kakak dan abangmu, besok kau harus bawa ayah dan ibu kita kemari kakak ingin mengenalinya."


"Iya kak."


Kirana menyanggupi permintaan Diana


"Oh ya kirana! besok temen abang dan istrinya yang baru saja selesai melakukan operasi usus buntu, akan menginap disini untuk 5 minggu ke depan atau sampai sembuh, jadi tolong kamu atur tempat dan juga makanan khusus buat kakakmu itu.


Darman nama abangmu itu adalah penolong abang dan sudah seperti saudara kandung bagi abang, kalau bukan karena pertolongannya aku sudah lama mati karena hanyut tenggelam di sungai, jadi sebagaimana abang adalah abangmu, maka perlakukanlah dia juga sebagai abangmu dan istrinya sebagai kakakmu juga."


"Iya bang nanti Kirana atur."


"Bagus".


Oh ya bu dokter, saya juga meminta bantuan dokter untuk mengatur siapa yang harus memantau dan memeriksa keadaan istri teman saya itu nantinya, ya bu dokter Sashmita.!"


"Baik pak."


"Baiklah kalau begitu sudah selesai semua apa yang Harus saya sampaikan bu dokter."


"Baik pak, kalau begitu saya akan pamit banyak hal yang masih harus di kerjakan dan mengenai istri bapak, memang sedang hamil dan ini masuk bulan pertama."


"Alhamdulilah terima kasih atas kabar baik ini dokter."


"Selamat ya kak!"


"Iya dek Kirana, sana ganti baju sudah basah semua ini, memanglah abang ini."


"Ha...ha..ha..haha...haahh.


Namanya adik ya harus di jahili.


Baiklah bu' dokter saya tidak akan menyita waktu bu dokter lagi."


Kirana dan dokter Sashmita keluar dari kamar Royal suite dan kembali mengurusi urusan masing masing.

__ADS_1


Adapun Kirana langsung masuk kamar mandi di ruangannya, sebab sejak tadi sudah begitu tersiksa, menahan kebelet pipisnya, karena hebatnya ketakutannya akan dipecat.


__ADS_2