Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _55 : Hampir saja


__ADS_3

Setelah seharian berkeliling melihat dan bercerita tentang banyak hal, termasuk singgah di beberapa tempat, baik Haris dan Darman sudah puas melepas rindu mereka.


Setelah perpisahan panjang kedua sahabat, yang telah melewati waktu penuh derita dan kepahitan hidup di masa lalu itu, kini mereka akan memasuki babak baru yang seharusnya itu jauh lebih bahagia daripada cerita di masa lalu.


"Terima kasih untuk segalanya Haris temanku, aku tidak bisa memberi apa apa untukmu tapi kau berikan segalanya untukku, uang rumah, kehormatan di mata mertua dan orang orang juga pandangan penuh penghargaan dari dunia ini."


"Teman, tidak ada apapun yang kuberi padamu, aku bukanlah sang pemberi, buktinya aku tidak atau belum bisa memberi kepada semua orang, apa yang kau dapat adalah rezekimu.


Setiap kita punya rezekinya masing masing dan rezeki tidak pernah salah alamat.


Andai rezeki kita berada di tempat jauh sekalipun, dia akan mendapat jalan untuk sampai kepada kita.


Sebaliknya andai kita tidak punya rezeki pada tempat yang terdekat sekalipun, kita akan di buang menjauh dari yang bukan rezeki kita itu.


Bahkan rezeki ayam tidak akan bisa kita makan, itu terbukti ketika nasi sudah berada di mulut dan tinggal telan namun sesaat kemudian kita tersedak, hingga akhirnya nasi berhamburan kepada pemilik asli rezekinya yaitu ayam."


"Haris temanku kau juga guru bagiku teman, guru dalam kehidupan ini.


Kita pernah berada di tempat dan situasi yang sama, dengan jalan keluar yang kita coba jalani bersama, tapi pemahamanmu akan kehidupan lebih matang, engkau melihat apa yang aku tidak bisa melihatnya dan engkau bisa merasa apa yang tidak bisa aku rasa."


"Hei jangan begitu sobatku Darman!


Lihatlah hasilnya, sama bukan?


Kita berada di mobil yang sama atap yang sama dan pemahaman yang sama walau aku lebih dulu melihat mengetahui dan meraihnya, namun sebagai teman engkau akan beroleh hal yang sama."


"Itu hanya karena kemurahan hatimu teman, hal itu bisa saja tidak akan pernah sama dan akan selalu berbeda tapi kau lebih memilih membuatnya sama."


"Begitukah?


Lalu bagaimana bìsa aku bisa membuatnya sama?


Siapa yang menggerakkan hatiku, untuk membuatnya sama?


Tentu kita akan menjawab Tuhan bukan?


Artinya Tuhanlah yang memberinya untukmu sebab itu memang rezekimu teman."


"Hahhh temanku Haris, kenapa kau tidak biarkan saja aku menang kali ini teman."


"Ha..hahahah baiklah kau yang menang teman...hahaa


Jangan terlalu dipikirkan, dinikmati saja hidup ini.


Darman! Aku pasti akan dimarahi kali ini, istiku tidak punya teman sedangkan istrimu ada ibu yang menemaninya teman.


"Tetap saja aku juga bakal dimarahi Ris haha.ha... kita merasa hebat di luaran tapi masih takut dimarahi oleh istri."


"Haahah...betul Man wkwkwkwk.


Akhirnya sampai juga, tapi ini sudah begitu malam.



"Baiklah temanku Haris sampai berjumpa besok."


"Ya aku yakin besok akan begitu lama bangun Man."


Keduanya melangkah masuk, melewati lobby hotel dan berpisah di lantai tempat kamar Darman berada.


Haris lanjut ke atas.


"Begitu masuk ke kamarnya, Haris terkejut melihat Kirana sudah tertidur di sofa, tubuhnya yang seksi dan padat serta pakaian yang ketat jelas menunjukkan segala lekuk tubuhnya.


Haris memahami kalau sepertinya istrinya, meminta Kirana untuk menemaninya karena Haris tidak ada.


"Ah anak ini, apa dia tidak tahu potensi yang dia miliki?


Tubuh ini tidak boleh Terbuka begini."


Haris mengangkat tubuh Kirana ke tempat tidur satu lagi di kamar royal suite itu.


Dan menyelimuti tubuh kirana di ruang Ber-AC itu dan mematikan lampu.


"Bang Haris.!"

__ADS_1


"Kirana, kau belum tidur?"


"Aku baru bangun bang."


"Oh maaf kalau abang mengangkatmu terlalu keras."


"Bantu antar aku ke kamarku bang, aku takut karena sudah terlalu malam."


"Baiklah, apa kakakmu memintamu menemaninya?"


"Ya kakak takut katanya, belum biasa sendiri disini."


"Oh begitu, ayo abang temani kau."


Kirana bangkit dan berjalan, ingin rasanya dia di papah tetapi Haris tidak melakukannya, melainkan hanya mengikutinya dari belakang.


Kirana kesal dengan sikap Haris yang menurutnya dingin. Tapi dia tidak kehabisan akal begitu masuk ke kamarnya dia menjatuhkan tubuhnya.


"Gedebukk."


"Eh Kirana, kau kenapa terjatuh."


"Aku terlalu ngantuk bang."


"Ayo bangkit, sudah dekat."


"Sepertinya kakiku perih sekali untuk digerakkan bang."


"Apa kau tidak bisa berjalan."


"Tidaaaak."


Ucap Kirana dengan manja.


Haris mengangkatnya dengan perlahan. Kirana menikmati interaksi fisik yang dia inginkan dari tadi.


"Bagaimana kakimu, apa kau tidak akan bisa berjalan besok?"


"Bisa bang, aku punya obat keseleo yang disemprotkan itu."


"Dimana, biar abang semprotkan."


Haris memegang kaki kirana yang mulus dan jenjang dengan selembut mungkin, lalu menyemprotkannya obat pereda nyeri.


"Akkhhhh... Kirana berteriak dan merenggangkan kakinya."


Haris berpaling dan jantungnya menjadi berpacu, tanpa sengaja dia tadi melihat sesuatu yang putih disana.


"Baiklah abang akan pergi Kirana, seharusnya kakimu akan sembuh, setelah besok."


"Abang akan pergi?"


"Yahh.. nanti kakakmu terbangun, dia akan ketakutan karena tidak ada teman."


"Baiklah, tolong abang kunci pintunya dari luar dan masukkan kartunya dari bawah pintu."


"Baiklah."


Haris pergi dari sana dengan jantung yang berpacu.


"Anak ini tidak menjaga dirinya.


Jika aku lebih lama sedikit lagi saja berada disini, bisa bisa terjadi kecelakaan .... Sialan!"


"Apa itu tadi?


Apa dia tidak memakainya?"


Haris menggigil membayangkan hal itu.


Dia memasuki kamarnya dan segera menguncinya.


Sesampainya di dalam kamar, Haris memikirkan apa lagi kebaikan yang harus di cetuskannya besok hari.


"Abang sudah pulang?"

__ADS_1


"Eh kau terbangun dek?"


"Iya, mana dek Kirana?"


"Dia sudah pulang tadi?"


"Lho kenapa?"


"Kok kenapa? kan memang ini kamar kita bukan kamar dia?"


"Abang salah!"


"Salah apa.?"


"Harusnya jangan angkat dia jadi adik?"


"Lalu."


"Jadikan dia istrimu."


"Deghh."


"Apa dia melihat semuanya ?


gawatt."


Haris semakin takut atas pembicaraan itu.


Lama dia menatap istrinya namun tidak ada sedikitpun jejak kemarahan disana.


"Kau kenapa sih dek?"


"Ngak apa apa.


Abang yang kenapa, kok sepertinya panik?"


"Ah ngak kok, panik kenapa?


Maksud adek tadi abang salah mengangkat dia sebagai adik kenapa?"


"Ha..hahhah dia seru orangnya bang, baik lagi.


Kalau dengan dia adek mau kok bang, abang nikah lagi...heheh."


"Kau itu kenapa sih dek?


Kepalamu terbentur sesuatu ya?"


"Tidaak!


Tidak sama sekali.


Adek memang suka aja sama dia seperti Lisa orangnya bang."


"Ah ada ada aja, udah ah abang mau bobo' ngantuk."


"Sialan, apa apaan kedua wanita ini?"


Haris menolak untuk memikirkan hal itu dan memilih untuk tidur dengan nyenyak.


"Bang! adek tahu abang belum tidur, pokoknya pertimbangkan yang adek bilang."


Diana terus mengoceh sedangkan Haris sudah terlelap dalam tidurnya.


"Ihhh abang ini, sudahlah datangnya lama begitu datang langsung tidur pulak."


Malam itu menjadi selimut bagi semua orang, apakah yang di gubuk atau di gedung yang megah, yang punya banyak uang atau yang sama sekali tidak berpunya, malam setia membagi selimutnya bagi mereka semua tanpa pilih kasih.


Seorang wanita cantik dengan tubuh yang begitu memabukkan bagi siapapun pria yang memandangnya menggigil di kolam renang yang dingin, dia merasa begitu gagal dalam hidup.


"Apakah aku sejelek itu?


Apakah aku sama sekali tidak punya daya pikat?


Apakah aku? arggghhh...."

__ADS_1


Dia bangkit dan kembali ke tempat tidurnya, Wanita cantik tinggi semampai dengan kulit putih mulus dan lembut itu, merasa begitu tersiksa karena cinta buta yang tadi sempat bergelora di hatinya.


Hal itu begitu menyiksa, membuatnya hampir tidak bisa mengawal diri.


__ADS_2