
"Apa Pak Syukur sering sarapan di tempat ini Pak.?"
"Tidak Tuan. Belum tentu satu bulan sekali, paling kalau ada panen besar buah pinang baru kita dan keluarga akan membeli sarapan di sini, itupun belum pernah makan ditempat, seperti sekarang Pak."
"Apa karena Bapak tidak suka rasa makanannya atau bagaimana..?
"Bukan karena tidak suka Tuan, tapi harganya memang terlalu mahal untuk saya. Kalau untuk rasanya saya sih sebenarnya suka kok Pak, eh maksud saya Tuan. Tapi ya itu tadi, harganya memang lumayan mahal.
Makanya harus ada panen Pinang besar, baru bisa beli sarapan untuk sekeluarga, itupun biasanya karena memang dibayari sama toke pinangnya ."
"Oh begitu ya..? Sudah kalau memang Pak Syukur suka dengan rasa masakannya, ke depannya Pak Syukur akan bisa sering-sering sarapan di sini kalau memang mau.
Selama ini berapa penghasilan Bapak dari kebun itu..?"
"Ya tidak menentulah Tuan tergantung hasil kebun, tapi ya sebanyak-banyaknya hasilnya, tetap saja itu tidak seberapa, karena kami juga harus menyisihkan bagian dari pemilik kebun.
Terkadang beliau itu datang, maka saya akan berikan bahagian hasil kebunnya, begitu Tuan."
"Oooh.. Kalau begitu Sejak hari ini, ini hari apa ya..?"
"Ini hari Rabu Tuan"
"Hari Rabu ya. Jadi sejak hari ini bapak akan saya gaji 5 juta/bulan kedepannya. Bagaimana apa Bapak senang atau jumlah itu masih kurang..?"
"I... itu sudah banyak sekali Tuan, saya tidak pernah punya uang penghasilan dari hasil kebun sebanyak itu, untuk satu bulan.
Apa itu tidak berlebihan Tuan, lagi pula saya jugakan sudah tua dan tidak bisa berbuat banyak hal.?"
"Sudah, itu sudah termasuk sedikit kok, nanti seiring waktu setelah Hotel itu punya penghasilannya sendiri, gaji bapak akan naik. Selain itu anak-anak bapak juga nanti bisa bekerja di Hotel kita, kalau memang mau."
"Aduh Terima kasih Tuan. Entah apa gerangan mimpi saya semalam, sehingga saya bisa dipertemukan dengan manusia baik seperti Tuan."
"Ya itulah namanya takdir dan rezeki Pak Syukur. Sehari yang lalu mungkin Pak Syukur masih berpikir bahwa penderitaan ini tiada akhir dan tidak ada kesudahannya bukan..?
Nah ternyata sejak hari ini akan berubah kok.
Jadi jangan pernah putus asa dan jangan pernah hilang semangat ya Pak Syukur.
Terkadang Tuhan menunda atau memperlambat sedikit rezeki yang akan datang dari waktu yang kita harapkan, adalah untuk memberi rezeki yang lebih besar dan lebih baik serta lebih berpengaruh untuk merubah kehidupan kita, ke arah yang lebih baik.
Maka sebenarnya kita tidak boleh berpikir kalau rezeki pemberian Tuhan itu terlalu lama datangnya, atau terlambat datangnya, hanya karena tidak datang sesuai dengan waktu yang kita harap dan tetapkan sendiri Pak.
Tetapi seharusnya kita berpikir dan merenung kalau-kalau barangkali kita lah, yang terlalu lama datang, atau terlalu lambat datang dalam memenuhi perintah Tuhan.
Oh ya pak Syukur bisa tidak bawa sepeda motor..?"
"Oh ya bisalah Tuan, tua-tua begini saya juga dulunya mantan pembalap kok Tuan, walau cuma di tingkat kampung-kampung sih Tuan he..he..he.
Kebetulan dahulu sewaktu muda saya juga pernah bekerja di mesin penggilingan padi Tuan, jadi untuk mengantar beras-beras warga yang telah selesai digiling, kalau yang sedikit-sedikit itu mengantarnya pakai sepeda motor Tuan, apalagi untuk mengantar ke rumah-rumah warga yang jauh dari jalan.
Disitulah awal mula saya belajar bawa sepeda motor."
"Ha..ha...ha ternyata pak Syukur ini pemain juga ya dulunya. Ya sudah kalau memang begitu, supaya Pak Syukur lebih mudah berangkat ke lokasi lahan kita yang ada di Bukit, Pak Syukur naik sepeda motor saja nantinya, tapi jangan kencang-kencang bawa motornya.
Saya akan belikan sepeda motor yang baru. ingat Pak Syukur jangan bermalam di sana sendiri, jangan lagi terlalu berpatokan atau mengandalkan pendapatan serta nafkah keluarga pada hasil tanaman sayur yang ada disana. Kalau memang ada diambil, dirawat baik-baik, tapi kalau tidak ada sekalipun, Bapak jugakan tidak perlu khawatir sebab sudah punya penghasilan tetap sendiri.
Bapak tidak perlu harus berjaga-jaga dan bermalam lagi di sana seperti yang lewat-lewat."
"Aduh Terima kasih banyak Tuan, sekali lagi Terimakasih."
"Ya baik. Kalau begitu bagaimana kalau sekarang kita jumpai istri dan anak Bapak di pasar Pak.?"
"Baiklah Tuan."
Haris kemudian pergi ke pasar tradisional, ke lokasi penjualan sayur milik keluarga Syukur. Setibanya di lokasi lapak penjualan sayur anak dari Pak Syukur, yang sebenarnya cuma berjualan di tanah dengan hanya dilapisi plastik terpal itu, Haris sangat sedih dan miris melihatnya.
Namun karena Haris juga buru-buru, sebab hari telah mulai meninggi sedangkan dia harus pergi ke rumah Jendral Gunawan.
Maka Haris mengatakan kepada istri Pak Syukur untuk membagi-bagi saja sayurannya secara gratis, pada orang lain dan Haris nanti yang akan membayarnya.
"Jadi Bu, ini sayurannya dibagikan saja ya, hitung-hitung cari langganan. Biar saya nanti yang bayar semua sayurnya."
"Tapi Pak..?"
"Sudah tidak apa-apa Bu' beliau ini Tuan Haris majikan baru kita."
"Ya itu benar Bu' sejak hari ini Pak Syukur ini sudah bekerja bersama saya. Lahan kebun yang Bapak dan Ibu jaga selama ini, itu sudah akan dijual oleh pemiliknya kepada saya dan di sana nanti akan dibangun hotel.
Selanjutnya nanti Pak Syukur akan menceritakan semuanya kepada ibu dan juga ini Adik siapa namanya Dik..?
"Nama saya Timbul Pak. Oh ya, jadi nanti Bapak Syukur akan bercerita panjang lebar dengan Adik Timbul, soalnya saya masih ada urusan lain. Jadi saya harus buru-buru, tapi sebelumnya ada sesuatu yang akan saya tunjukkan kepada Pak Syukur ibu dan juga Dek Timbul dan anak gadis yang 2 ini, ayo sekarang bagikan sayurnya kemudian kita akan pulang.
Anton, Erik dan Halim, Coba kalian bantu Pak Syukur untuk membagi-bagikan sayuran ini ke warga yang lewat."
"Siap Tuan."
Ketiga pengawal Haris ditambah 3 orang anak pak Syukur kemudian dengan cepat segera menghabiskan sayur-sayur yang memang tidak seberapa itu, untuk kemudian mereka pulang ke rumah yang merupakan rumah sewa tempat tinggal Anak Pak Syukur bersama keluarganya tinggal.
Tetapi sebelum sampai di rumah sewa anak Pak Syukur itu, Haris mengajak keluarga Pak Syukur dengan dua putrinya yang masing-masing kalau masih bersekolah sesuai usianya, seharusnya yang paling kecil merupakan anak kelas 3 SMP dan kakaknya semestinya duduk di bangku kelas 1 SMA.
"Kita mau ke mana Tuan..?"
__ADS_1
"Kita mau masuk ke rumah besar ini dulu Pak Syukur, ada sesuatu yang mau saya tunjukkan."
"Lho Ini bukannya rumah Haji Mukhlis Tuan..?"
"Hmmm.... Saya tidak tahu persis soal itu Pak Syukur, tapi yang jelas sejak hari ini rumah ini akan menjadi tempat tinggal baru keluarga Pak Syukur nantinya."
"Jadi Tuan....! Apa Tuan sudah menyewa rumah ini buat keluarga saya, tapi ukuran rumah ini terlalu besar Tuan. Kalau begini bagaimana saya bisa mencicil sewanya kepada Tuan dari gaji saya nantinya..?"
"Siapa yang bilang Pak Syukur harus mencicil sewanya kepada saya..? Dan yang perlu Pak Syukur ketahui rumah ini tidak disewa, tapi sudah saya beli secara kontan dan kedepannya rumah ini akan menjadi tempat tinggal Pak Syukur sekeluarga.
Ayo kita masuk, untuk melihat-lihat ke dalam."
Haris lalu membawa keluarga Pak Syukur yang sudah gemetaran karena hampir tak kuasa membendung rasa haru dalam dirinya, masuk ke dalam rumah, yang selama ini merupakan rumah yang kosong. Rumah itu satu-satunya rumah yang paling besar di daerah itu dan terlihat paling megah dari yang lainnya.
"Jadi begini Pak Syukur." Haris kembali memulai pembicaraan setelah mereka mulai duduk di lantai yang ada di ruang tamu.
Saya masih akan pergi untuk satu urusan, jadi ke depannya mungkin kita tidak akan bertemu selama dua atau tiga minggu ke depan, tapi kalau memang Pak Syukur punya kebutuhan lain atau sesuatu hal untuk dilaporkan, Bapak bisa menghubungi nomor saya, saya akan meninggalkan nomor saya nantinya di sini.
Soalnya mungkin dua atau tiga hari ke depan, saya akan berangkat ke Jepang dan paling tidak mungkin akan ada dua minggu di sana. Jadi Pak Syukur berkegiatan saja seperti biasa, tidak usah terlalu capek.
Seperti yang saya katakan tadi, sejak hari ini Pak Syukur akan saya gaji 5 juta/bulan nah ini ada uang 100 juta buat bapak Syukur dan keluarga.
Ini tidak termasuk gaji ya Pak, Bu'.
Ini untuk biaya Bapak sampai sebulan ke depannya dan rumah yang hari ini kita duduki ini, selamanya akan menjadi milik Bapak seutuhnya untuk seterusnya.
Karena kami telah membeli rumah ini khusus untuk diberikan kepada Bapak, jadi bapak dan keluarga sekarang sudah punya rumah sendiri dan inilah rumahnya."
Seperti tidak percaya Syukur dan keluarganya yang mendengar ucapan Haris itu, seperti mendengar petir berbunyi menggelegar di siang bolong di hari yang sangat terik.
"Tu..Tuan...! I..ini..Ta tapi Tuan."
"Sudah tidak apa-apa Pak Syukur, saya tahu Oak Syukur pasti terkejut, tapi memang beginilah faktanya.
Ini adalah rezeki Bapak pemberian Tuhan kita buat Bapak sekeluarga.
Saya tidak punya waktu banyak untuk menjelaskannya, seperti yang saya katakan tadi, Pak syukur inikan sudah merupakan anggota saya, maka saya berkewajiban untuk memakmurkan dan membahagiakan orang-orang yang sudah menjadi anggota saya.
Hotel Nurul Haris yang ada di kota P adalah milik kita, begitu juga dengan hotel Nurul Haris berbintang 5 lainnya yang lokasinya berada di jalan jalur provinsi menuju ibukota provinsi M, juga Hotel kita yang punya.
Jadi kalau seumpama Pak Syukur susah menghubungi saya karena saya sibuk nantinya atau karena ada gangguan jaringan dll, untuk urusan apa saja pun bapak bisa melapor ke Manager kita yang ada di sana. Tapi sebelumnya laporkan dulu kepada bagian keamanan kita, sampaikan kalau bapak adalah orang kita juga.
Selain itu mungkin nanti sebentar lagi bapak akan mendapatkan sepeda motor baru yang saya janjikan, saat ini dua orang pengawal kita yakni Riston dan Haris yang sebelumnya mengurus pembelian rumah ini, sekarang sedang pergi membelinya ke showroom terdekat."
"Tu..Tuan terima kasih banyak Tuan. Saya tidak tahu harus bagaimana lagi mengucapkannya, apa yang Tuan berikan ini sudah terlalu banyak bagi kami sekeluarga Tuan."
"Tidak. Tidak seperti itu, sebenarya ini belum terlalu banyak, tetapi penderitaan yang Pak Syukur alami selama inilah yang sudah terlalu banyak. Maka pelan dan perlahan keadaan akan berubah, Tuhan kita akan memberkati keluarga Pak syukur dengan kelapangan, kecukupan dan juga kedamaian kedepannya."
"Aamiin."
Sepeda motornya dipergunakan dengan baik ya Pak Syukur. Bapak tidak harus pergi ke sana setiap hari, pergi sesekali saja kalau mau panen sayur.
Terus ini adik-adik ini harus lanjut sekolahnya ya Pak, ingat jsngan lupa sekolahnya nanti harus dilanjutkan dan didaftarkan kembali.
Nanti mengenai biaya-biayanya lapor saja ke Manager Hotel kita, saya akan suruh dia untuk memperhatikan kebutuhan sekolah mereka berdua ke depannya.
Jadi Bapak sekarang tenang saja, hidup yang baik, jangan lupa ibadah dan bantu do'akan saya sekeluarga serta kita semuanya."
Tak tahan lagi mendengar semuanya dan merasakan kebaikan Haris yang begitu tulus, melimpah pada keluarga mereka,
kelima orang anggota keluarga Pak Syukur yakni dua Putri dan satu anaknya yang sudah berkeluarga itu, kemudian bersujud bersimpuh di hadapan Haris.
"Eh jangan begitu Pak, tidak boleh ya, tidak boleh kita bersujud kepada sesama manusia, kita cukup bersujud kepada Tuhan saja, kalau bapak sekeluarga merasa terbantu dengan hal ini cukup Bapak sekeluarga do'akan saya itu saja.
"Terima kasih Tuan..! Beribu-ribu terima kasih."
"Ya, alamatkan saja rasa terima kasih Bapak sekeluarga lewat sujud-sujud Bapak dan doa-doa terbaik Bapak kepada Tuhan kita, jangan lupa selipkan nama saya diantara do'a-do'a baik Bapak dan Ibu.
Do'akan kita semua sehat-sehat, tambah rezeki, hidup berkah dan dijauhkan dari segala bala."
"Ya Tuan, akan saya lakukan itu. Tapi tetap saja saya sangat berterima kasih Tuan."
"Ya sudah ya Pak Syukur, kalau begitu saya pergi sekarang.
Riston dan kalian semua ayo kita pergi."
"Baik Tuan..!"
Haris lalu berdiri dan hatinya begitu lega, begitu terasa segar dan sejuk seperti ada hawa dari air es yang dituangkan ke dalam dadanya. Apa yang dirasakan oleh Pak Syukur sekeluarga, tidak kurang hal yang sama juga dirasakan oleh Haris.
Haris beserta 5 pengawal setianya kemudian masuk ke dalam mobil dan segera berangkat pergi menuju ke rumah Jenderal Gunawan.
"Bagaimana bapak bisa berkenalan dengan Tuan Haris itu Pak.?"
"Iya siapa beliau sebenarnya dan di mana bapak mengenalnya..?"
Timbul anak dari Pak Syukur dan juga istrinya mulai merasa penasaran, begitu juga dengan istri Pak Syukur serta kedua putrinya yang lainnya.
Maka akhirnya pak Syukur pun menjelaskan awal pertemuan mereka dengan Haris dan segala hal yang telah dibicarakan oleh Haris kepadanya.
Keluarga itu begitu khusuk mendengar dan menyimak dengan hening, semua hal yang diceritakan oleh sosok kepala keluarga di rumah tangga mereka.
__ADS_1
Setelah selesai menjelaskannya, semua anggota keluarga itu mengucap syukur bahagia atas berkah anugerah pemberian Tuhan, Yang Maha pengasih lagi Maha penyayang.
...*****...
Kalian lihat tadi itu Riston juga kalian semuanya. Ada masih begitu banyak orang-orang yang keadaannya seperti Pak Ahmad syukur itu di luar sana, dimana mereka semua itu sangat menantikan bantuan dan uluran tangan dari orang-orang seperti kita. Maka harta ini akan lebih bagus kalau berada di tangan kita, daripada berada di tangan musuh kita, yang barangkali saja kemungkinan besarnya, sangat ingin untuk mencaplok dan mengambil alih segala sesuatunya dari kita.
Maka kita harus sedaya mampu dan sekuat tenaga, mempertahankan bahkan terus mengembangkan segala pencapaian atau apa-apa yang telah kita lakukan hari ini."
"Ya benar Tuan. Kami sangat yakin kalau kita bisa melaluinya Tuan. Bukankah Tuan kami ini adalah sosok besar, yang sangat luar biasa.
Kami yakin itu 100%."
"Ha..ha..ha aku suka rasa optimis semacam itu Amanu. Begitulah seharusnya kita harus optimis dan jangan cepat pesimis, apalagi mudah berputus asa."
"Iya itu benar Tuan. Ada begitu banyak orang-orang yang masih menanti uluran tangan Tuan dan menanti untuk diperbaiki kehidupannya oleh Tuan. Apakah Tuan tidak tahu bagaimana orang-orang lain menyebut Tuan di belakang Tuan..?"
"Maksudmu bagaimana Halim..?"
"Aku pernah mendengar orang-orang lain berbicara tentang Tuan di belakang Tuan. Mereka mengatakan kalau Tuan adalah orang yang sangat sangat baik dan Tuan mereka beri gelar sebagai bapaknya orang-orang miskin Tuan."
"Waduh gelar itu sangat besar dan terlalu berat sekali Halim. Padahal masih banyak orang-orang miskin di luar sana yang belum bisa kita jangkau, tapi ya semoga gelar dan nama itu menjadi do'a agar kita memang bisa benar-benar menjadi bapaknya orang-orang miskin, sekaligus pengayom, pelindung dan juga penjaga mereka."
"Iya itu benar Tuan.
Tuan kita sebentar lagi sudah akan sampai Tuan."
"Ya baiklah ini adalah pengobatan terakhir. Aku meminta waktu sebentar agar kalian membiarkan aku diam sejenak, aku ingin mengumpulkan Hawa murni untuk nanti aku alirkan kepada Pak Drajat."
"Baik Tuan, silakan Tuan." Para pengawal Haris pun kemudian mengerti apa yang disebutkan oleh Haris.
Padahal Haris sendiri hanya sedang ingin berkomunikasi dengan sistemnya.
[Haris]
"Sistem..! Apakah ada ramuan khusus untuk tambahan penyembuhan penyakit Pak Drajat ini dalam sistem dan bagaimana caranya aku bisa mendapatkannya..?"
[Sistem]
"Itu mudah saja Tuan. Anda cukup mengambilnya di ruang inventory pengobatan. Di sana telah ada beberapa ramuan khusus tapi hanya untuk beberapa macam penyakit, yang salah satunya akan cocok dengan Pak Derajat dan juga Pak Nurdin."
[Haris]
"Oh ya..? Lalu apa aku tidak harus membayarnya dengan poin sistem."
[Sistem]
"Tidak Tuan. Karena pada prinsipnya untuk sistem pengobatan itu sendiri, selalu ada beberapa ramuan obat khusus untuk keperluan membantu beberapa penyakit tertentu, yang akan membantu orang lain tanpa misi.
Karena apa yang akan Tuan lakukan ini adalah bagian dari sikap sosial kemanusiaan, yang tujuannya murni untuk membantu orang lain dan Non misi, Maka sistem menyediakannya secara cuma-cuma tanpa misi Tuan."
[Haris]
Ada begitu banyak hal yang belum aku ketahui tentang engkau sistem. Tapi apapun itu kau adalah yang terbaik sistem, berkat darimu kita bisa membantu banyak orang lain, baik itu penyelesaian tentang keluhan penyakit mereka, maupun juga perbaikan kualitas sosial ekonomi mereka."
[Sistem]
"Iya, tapi itu juga berkah kebaikan hati Tuan. Jika sistem berada pada sosok manusia yang berbeda, belum tentu sistem akan berfungsi seperti yang ada pada Tuan. Tugas sistem pada prinsipnya adalah untuk membuat Tuan bahagia dan karena memang Tuan bahagia dan senangnya adalah dengan membantu orang lain, maka hal itulah yang kemudian menjadi prioritas serta alur kinerja sistem.
Intinya Tuan jualah, sebenarnya yang merupakan pahlawannya."
[Haris]
"Ha..ha..ha kau memang sangat pandai untuk menyenangkan hatiku sistem. Kau sangat tahu perasaanku.
[Sistem]
Tentu saja Tuan. Karena bukankah sistem sekarang sudah merupakan bagian dari diri Tuan.?"
[Haris]
Ya kau benar sistem.
Kalau begitu, tidak ada lagi yang perlu aku khawatirkan sistem. Aku akan fokus pada dunia luar sekarang sistem.
[Sistem]
"Silakan Tuan."
[Haris]
"Hah... Akhirnya selesai juga."
"Apakah sudah selesai Tuan.? Secepat itukah..?"
Para pengawal Haris cukup terkejut karena baru saja Haris mengatakan akan mengumpulkan energi Hawa murni, tetapi belum berapa lama dia berdiam diri sekarang Haris mengatakannya telah selesai.
"Ya memang secepat itu. Apakah kalian tidak yakin..? Baiklah kalau begitu kalian serap saja, aku tahu kalian juga cukup lelah setelah kita berlari-lari pagi naik bukit, panen jeruk, mengurus pembelian rumah, membeli sepeda motor dan lain-lain.
Sedangkan kalian tadi malam tidak cukup tidur karena ternyata masih melakukan rapat terbatas, karenanya sekarang kalian serap energi yang akan aku masukkan ke dalam tubuh kalian."
Haris kemudian mengeluarkan dan mengedarkan energi hawa murni, yang sebenarnya selalu ada stoknya melimpah dalam dirinya, untuk disalurkan kepada kelima pengawalnya, yang sangat dia sayangi.
__ADS_1
Kelimanya tidak mau menyia-nyiakan waktu, mereka sangat tahu arti dari perkataan Haris, karenanya mereka segera menyerapnya dan seketika tubuh mereka menjadi segar bugar kembali dan terasa ringan.
Dengan tubuh yang terasa ringan seperti kapas, kelimanya keluar dari mobil, lalu Riston membukakan pintu mobil untuk Haris dan segera mereka semua bergegas memasuki ruangan tamu rumah orang tua Jendral Gunawan.