Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter_152 : Status baru Linda di sekolah


__ADS_3

"Wah hebatnya mobil Bugatti La Voiture Noire dan Bugatti Veyron Super Sport ini Tuan. Jadi apakah Tuan akan akan berangkat dengan mengendarai mobil ini Tuan.?"


"Yah kali ini aku akan mengendarai mobil ini bersama istriku Diana dan kedua istriku yang lainnya, akan menaiki mobil Bugatti Veyron ini Wilson.


Adapun kamu dan Nando serta yang lainnya akan menaiki dua mobil lainnya, termasuk para pengawal wanita kita juga harus bersiap-siap pada dua mobil lainnya Wilson."


"Kami sudah bersiap-siap Tuan."


"Lalu siapa yang akan mengawal istriku nanti di sana Wilson.? Sebab kedua istriku akan berpisah dengan kita karena keduanya akan pergi ke salon."


"Kami akan lakukan pengawalan berlapis Tuan. Selain pengawal wanita yang keseluruhannya akan berangkat, tim kita yang di ketuai oleh Riston juga akan mengawal dan memantau dari jarak yang cukup jauh guna menjaga keselamatan Nyonya, sebagai pendukung tim pengawal wanita sehingga Nyonya tidak harus merasa risih dan terkekang karena merasa terlalu diawasi bila kami terlalu dekat nantinya Tuan."


"Baik. Itu pengaturan yang bagus Wilson. Aku akan memeriksa kesiapan para istriku ke dalam, mulailah mengarahkan teman-teman kita yang lain, supaya bersiap-siap berangkat."


"Baik Tuan."


Haris lalu pergi ke ruangannya di lantai atas, untuk memeriksa ketiga istrinya apakah sudah siap untuk berangkat. Saat Haris akan memasuki ruangannya, ketiga istrinya sudah keluar.


"Lho kenapa Abang naik lagi, apa ada yang tertinggal.?:


"Tidak. Aku hanya memastikan apakah kalian sudah siap saja dek."


"Sudah kami sudah siap kok Bang, ayo kita berangkat."


"Hmm..Tunggu sebentar. Jadi begini Dek. Dek Shasmita nanti akan menaiki mobil yang lain bersama Dek Kirana, sedangkan aku dan Dek Diana akan menaiki mobil yang sama, karena mobil yang akan kita naiki ini di desain memang hanya memuat dua seat atau dua kursi di tiap mobilnya.


Sesampainya di hotel kita akan berpisah sebab bukankah Dek Diana dan Kirana akan pergi ke salon..? Aku bersama Dek Shasmita akan pergi ke sekolahnya Linda, untuk mendaftarkannya.


Oh ya Dek Shasmita apa perlengkapan sekolah Linda sudah dipersiapkan semua.?"


"Tadi sudah Shasmita tanyakan Bang dan menurut salah seorang anggota manajemen Hotel kita, yang sengaja Shasmita tugaskan, semua keperluan untuk sekolah Linda sudah beres. Kita hanya tinggal membawanya ke sekolah."


"Kalau begitu tidak ada lagi masalah. Mari kita turun ke bawah dan berangkat."


Haris beserta tiga istrinya kemudian turun ke bawah, lalu mereka memasuki mobil. Baik Shasmita maupun Haris terpisah di dua mobil yang berbeda.


Sedangkan Wilson dan 5 orang yang bersamanya berada dalam satu mobil, kemudian Nando juga bersama 5 orang bersamanya di mobil lain.


Selain mereka juga ada dua mobil pengawal wanita, sehingga jumlah keseluruhan mereka yang berangkat adalah 6 mobil.


Perlahan iringan mobil itu keluar dari villa, mulai merayap di jalanan desa dan setelah mencapai Jalan Raya, ke-6 mobil itu meluncur dengan cepat menuju kota P.


"Komandan Wilson..!"


"Ya ada apa Zidan.?"


"Tidak biasanya Tuan kita memakai mobil mewah begitu Komandan Wilson. Bahkan aku sendiri baru kali ini melihat mobil itu."


"Iya aku juga baru kali ini melihat mobil yang harganya kalau tidak salah sekarang sudah mencapai 300 M itu Zidan. Hanya saja memang tidak biasanya Tuan suka memakai sesuatu yang begitu mewah sampai berharga ratusan miliar seperti itu.


Sepertinya ada tujuan di balik penampilan Tuan kali ini."


"Apa Komandan, 300 M..? Gila..! apa ada mobil semahal itu..?


Hmm.. Sepertinya apa yang Komandan sebutkan itu sangat mungkin sekali komandan. Apa Tuan sedang galau ya..? he..he


Orang kaya kalau lagi galau dan gabut tingkahnya kan suka aneh-aneh."


"Tidak ada istilah galau bagi Tuan kita Zidan. Tapi sebenarnya kalau Tuan yang memakainya itu sangat pantas kok Zidan, akan sangat berbeda kalau kita yang memakainya."


"Ha..ha..ha Tuan Wilson bisa saja mau membandingkan kita dengan Tuan, tentu tidak akan pernah sama kalau kita yang memakainya, walaupun masih terlihat gagah sih."


"Ya kau benar sekali Zidan."


[Panggilan seseorang dari kota K _ panggilan diterima]


"Halo selamat pagi Tuan Wilson."


"Pagi juga Putra. Ada apa Putra.? Aku sedang menyetir ini, Putra."


"Oh apakah aku mengganggu Tuan Wilson.?"


"Sebenarnya tidak terlalu Putra, karena aku juga memakai headset. Tapi aku sedang dalam perjalanan tugas, tidak bisa bicara lama-lama nantinya."


"Oh kalau begitu aku akan menelpon nanti saja Tuan Wilson."


"Tidak apa-apa, sampaikan saja sekarang. Apa ada sesuatu yang sangat perlu.?"


"Ya ini masih terkait seperti hal-hal yang lewatlah Tuan Wilson.


Mengenai apakah belum ada posisi yang bisa diisi di sana, soalnya kami dan beberapa teman-teman, sudah cukup lama juga menganggur di sini Tuan Wilson.


Terakhir kami bekerja itu adalah dua bulan yang lalu, sementara Tuan tahu sendirilah kalau sudah berkeluarga begini uang keluar pun tidak bisa tidak, harus ada setiap hari. Sudah menjerit nih Tuan Wilson."


"Oh kebetulan sekali Putra, hari ini dan di pagi ini ada kabar yang sangat baik buat kalian. Apakah kau ingin mendengarnya sekarang atau kita tunda nanti saja Putra..?"


"Sekarang sajalah Tuan. Jangan buat saya makin penasaran, apalagi kalau itu adalah kabar yang baik Tuan Wilson."


"Ya jika demikian, simak baik-baik kabar baik yang mau aku sampaikan.


Sebenarnya tadinya aku mau menghubungi kalian, tapi ya sudahlah, sekarang di sini saja aku sampaikan. Aku sudah membicarakan hal ini secara khusus bersama Tuan tadi malam, jadi Tuan mengatakan kalau memang Tuan masih membutuhkan 100 tenaga satuan pengawal atau satuan pengamanan untuk bisa bekerja bersama beliau.


Dengan catatan kalau memang dengan jumlah yang 100 itupun masih ada teman kita yang belum atau tidak mendapatkan bagian pekerjaan, Tuan juga masih bisa menerima yang lainnya. Untuk gelombang pertamanya ini 150 orang, kemudian gelombang kedua nanti 50 orang lagi."


"Ah yang bener nih Tuan Wilson.? Jangan main-mainlah Tuan Wilson. 200 itu bukan jumlah yang sedikit lho Tuan."


"Kamu ini memanglah Putra selalu kebiasaanmu begitu, kalau kamu tidak yakin dengan ucapanku kenapa kau harus bertanya.?


Ya sudah lupakan saja kalau begitu, anggap kita tidak pernah membicarakan hal ini"


"Aduh..aduh Maaf..maaflah Tuan Wilson ha..ha..ha Anda seperti tidak tahu saya saja. Maaf kalau saya salah bicara, bukan apa-apa Tuan, hal ini membuat saya sangat terkejut dan bahagia campur aduk, apalagi membayangkan reaksi bahagia teman-teman yang lainnya nanti, saat berita ini disampaikan.


Pikiran saya juga sempat melayang membayangkan sebesar dan sekuat apa sosok beliau, sehingga butuh begitu banyak orang.


Tapi waktunya itu bagaimana Tuan.? Kapan atau tepatnya masih lama lagikah..?"


"Tidak perlu menunggu. Kalau memang kalian butuh bekerja cepat, itu tidak lama. Kalau kalian bisa sampai hari ini, hari inipun kalian sudah bisa langsung bekerja.


Tuan ini selain merupakan sosok yang besar dan kaya juga sangat baik, salah satu alasan beliau mau menerima kalian adalah agar kalian bisa bekerja dan beroleh nafkah.


Jadi saranku Putra. Aku tidak akan menyampaikan kepada yang lainnya lagi, kalau memang kamu bisa mengumpulkan 100 atau 150 orang itu . Kaulah yang aku tunjuk untuk mengatur segala sesuatunya disana untuk urusan mengumpulkan dan mengkoordinir teman-temanmu itu nantinya dan urusan lain yang dibutuhkan disana.


Tapi utamakan teman-teman yang memang sudah kita kenal dekat, atau paling tidak yang sudah pernahlah bekerja bersama-sama dengan kita, dalam misi tugas di Kaya dan jaya bersama group dulu, saat mengamankan titik-titik lokasi pembangunan hotel maupun mengawal aset aset kaya dan Jaya Bersama group.


Agak-agak berumur juga tidak apa-apa kalau bersama Tuan. Tuan kita ini orangnya baik, jadi tidak harus seperti di perusahaan dengan standar umur yang ketat dan sebagainya, yang penting karakter orangnya baik.

__ADS_1


Jadi kalau memang masih ada teman-teman kita dari generasi-generasi yang seumuran seperti kita, dahulukan saja mereka Putra. Kalau memang sudah tidak ada lagi baru masukkan yang muda-muda."


"Baik Tuan Wilson, semuanya sudah jelas. Kalau begitu Tuan Wilson seperti yang Anda katakan, ini benar-benar angin surga bagi kami.


Anda orang yang baik. Jadi kalau kami sudah siap besok pun kami sudah bisa berangkat ya Tuan.?"


"Ya malah kalau bisa kalian segera berangkatlah secepatnya, Tuan orangnya tidak suka hal yang bertele-tele, lagipula agar supaya kalian lebih cepat ditempatkan di lokasii kerja, karena Tuan juga akan membangun dan mengembangkan kerajaan bisnisnya di sini."


"Kalau begitu saya tidak akan mengganggu Anda lagi. Apalagi anda sedang menyetir. Terima kasih Tuan Wilson sudah mau membantu kita yang di sini, padahal kalau Tuan Wilson mau bisa saja Tuan memanggil yang lain."


"Ya bagaimanapun teman itu adalah teman Putra. Kau tahu sendiri pekerjaan kita ini poin utamanya adalah kesetiaan, jadi tentu aku tidak mau mengambil secara acak orang-orang yang belum kita kenal sebelumnya."


"Baiklah Tuan kalau begitu akan saya sampaikan kepada teman-teman dan kami akan memusyawarahkan bagaimana caranya untuk kami bisa segera sampai di sana Tuan, Anda juga sangat paham dan tahu, karena lama tidak bekerja telah membuat kami semua cukup bermasalah dengan keuangan."


"Tidak perlu. Kalian tidak perlu memusyawarahkan bagaimana caranya kalian sampai kemari. Satu-satunya yang perlu kalian kerjakan itu adalah, kalian berkumpul tentukan waktunya, siapkan semua orang nanti mobil yang akan datang menjemput kalian semua yang penting kabari kapan kalian siap."


"Sesimpel dan semudah itukah Tuan Wilson..?"


"Hei kau nanti akan sangat terkejut sendiri Putra dan kau akan sangat bersyukur seumur hidupmu, bahwa kau pernah menerima telepon ini.


Tuan kita ini orang yang baik hati, Dermawan, setia kawan dan tidak terlalu membesarkan dirinya. Beliau juga sangat sayang kepada bawahan, kami semua saja di sini dianggap sebagai adik-adiknya atau saudara-saudaranya."


"Baiklah...baiklah Tuan. Saya semakin merasa ingin melompat saja rasanya, agar supaya cepat sampai ke sana."


"Ya begitulah kalau kau sendiri Putra, tapi ini ada 100 orang yang akan ikut bersamamu bahkan kalau ada 150. Jadi ini adalah ujian pertama bagimu. Aku ingin melihat bagaimana kinerjamu dalam hal ini, sebab di sini juga akan ada ketua-ketua grup atau regu nantinya dan aku masih menjadi komandan dari semua satuan pengawal yang ada di sini, sama seperti posisiku ketika berada di kota K.


Kalau kau lulus dalam ujian ini, maka aku akan mempercayakanmu sebagai ketua grup nantinya."


"Tenang saja Tuan Wilson, kalau soal begitu Tuan tahulah bagaimana kalau saya yang mengarahkan dan memberi komando nanti."


"Ya baiklah kalau begitu kita sudahi sampai di sini Putra, aku tunggu kedatangan kalian semua."


"Siap, siap komandan Wilson."


[Panggilan berakhir]


Jadi ternyata Tuan masih ingin menambah personel kita lagi komandan Wilson..?"


Zidan yang sedari tadi menyimak dan mendengar pembicaraan Wilson dan juga Putra melalui saluran telepon, ingin memperjelas hal itu pada Wilson.


"Iya sebab Tuan ingin membuka lahan perkebunan sawit di kota H Zidan dan kau juga sudah mendengar semuanya aku malas kalau harus menjelaskannya berulang kali, lagi pula kau nanti akan tahu sendiri kok.


Wilson terus bercerita banyak hal yang lain kepada teman-temannya, sedangkan Haris juga asyik bersenda gurau bersama Diana istrinya, sambil bermostalgia mengingat-ingat memori perjalanan kehidupan mereka dari semenjak menjadi orang biasa yang bukan siapa-siapa.


Sedangkan Kirana tak henti-hentinya menggoda Shasmita, yang mana mereka berada dalam satu mobil yang sama


Hanya saja Shasmita tidak lagi terlalu canggung seperti biasanya, malah dia sudah mulai bisa membalas candaan Kirana, yang merupakan istri kedua Haris l.


Setelah menempuh seluruh jarak perjalanan yang memisahkan antara desa P dan kota P, Haris akhirnya tiba di hotel milik mereka dan mendapati kalau Linda yang ditemani keluarganya sedang menunggu di lobby hotel.


"Halo selamat pagi Putri Om yang cantik.! Bagaimana apa kita akan berangkat pagi ini.?"


"Halo Om. Iya Om Linda sudah bersiap-siap dari tadi menunggu Om dan Tante datang."


"Oh jadi ini ya Bang yang namanya Linda itu.?"


"Iya inilah Dek Diana si Linda." Tidak lama setelah Haris berbicara dengan Linda di lobby hotel, Kirana dan Shasmita juga sudah tiba.


"Halo sayang kenalkan Tante namanya Diana, Tante juga istri Om nya Linda lho, Tante istri pertama dan ini Tante Kirana istri keduanya Om dan yang Linda temui kemarin itu, yang sudah menganggap kamu seperti putrinya itu namanya adalah tante Shasmita tante yang ketiga.


Jadi Om mu yang ganteng dan tampan ini punya istri 3 lho Linda, artinya Linda sekarang punya 3 Tante atau anggap saja sebagai Ibu angkat. Jadi ke depannya jangan takut ya sayang, Jangan takut-takut lagi. Tante sudah dengar semua cerita dari Tante Shasmita, bagaimana perlakuan teman-temannya Linda.


"Iya Tante."


"Ayo sini peluk Tante..!"


Linda kemudian berjalan ke arah Diana dan Diana dengan begitu tulus memeluk Linda layaknya putrinya sendiri, setelahnya Kirana juga tersenyum begitu manis kepada Linda dan mencium Linda kemudian memeluknya seperti yang dilakukan oleh Diana, begitu juga dengan Shasmita.


"Baiklah, jadi Linda akan berangkat bersama Om dan Tante Shasmita ya Nak, tapi Tante berdua tidak akan ikut, Tante berdua ada urusan lain. Enggak apa-apa ya sayang..?"


"Iya Tante enggak apa-apa."


"Ya sudah, lagipula ada Tante dan Om kok, tenang saja nanti semua bakal beres kok oke.!"


"Oke Tante."


"Nah ini siapa nih..? Ini yang namanya Mulkan dan Syawal ya..? Si Syawal yang Tante Shasmita bilang lucu itu.


Semua tingkah kocaknya sudah diceritakan oleh tante Shasmita sama Tante berdua."


"Iya Tante, nama saya Syawal."


Syawal dan Mulkan juga diperlakukan begitu baik oleh Diana, Kirana dan juga Shasmita. Selanjutnya ketiga istri Haris itu saling berkenalan dengan Nurdin dan Darmilawati yang merupakan orang tua Linda.


Setelah beberapa saat yang singkat mereka berkenalan, bercengkrama dan sedikit berbagi cerita,.Haris dan Shasmita pun berangkat.


Diana dan juga Kirana juga memasuki mobil mereka dan berangkat menuju Salon yang merupakan langganan tetap keduanya.


"Kita sudah sampai di sekolahnya Linda Tuan, apa kita akan langsung masuk saja Tuan..? Atau kita parkir di luar saja, sebab mungkin tidak semua orang bisa masuk."


Wilson yang berada di depan mobil Haris bertanya lewat telepon pada Haris.


"Kita langsung masuk saja Wilson, permisikan pada Satpam sekolah."


"Baik Tuan." Wilson segera mempermisikan kepada satpam dan meminta pintu gerbang sekolah agar dibukakan. Satpam yang melihat sosok Wilson, terlebih-lebih melihat mobil mewah milik Haris yang ada di belakang menjadi cukup gamang, untuk menolak kehadiran mereka. Segera saja dia membukakan pintu gerbang dan Haris bersama dua mobil pengawal yang mengiringinya di depan dan di belakang mobilnya segera memasuki area sekolah, yang memang memiliki lahan parkir yang luas itu.


"Ayo sayang, Tuan dan Nyonya sudah turun." Linda yang sebelumnya memang berada di mobil para pengawal wanita yakni para pengawal istri Haris karena mobil Haris hanya punya dua kursi, segera turun dari mobil dikawal oleh 5 pengawal wanita keluarga Haris.


Sekolah menjadi cukup gaduh melihat sosok Linda, siswi kelas 2 SMP yang selama ini terkenal miskin dan terpaksa putus sekolah karena kekurangan biaya itu datang dengan orang-orang yang tampil berpakaian rapi dan terlihat benar seperti orang yang sangat kaya.


"Eh teman-teman...! Lihat bukannya itu Linda anak kelas 2A yang berhenti sekolah itu.?"


"Iya benar, itu adalah si Linda yang selalu jadi bahan tertawaan di sekolah kita, khusudnya gengnya Salma si anak orang kaya itu."


"Wah bakal seru nih. Ada kabar apa ya gerangan..? Kok tiba-tiba Linda datang bersama orang kaya, apa jangan-jangan Linda itu selama ini, adalah orang kaya yang menyamar jadi orang miskin.?"


"Ah ngaco kamu. Ada-ada saja."


"Iya kamu terlalu banyak nonton sinetron Juwita. Linda itu jelas-jelas adalah anak orang miskin.


Ayahnya itu cuma seorang petani miskin yang sakit-sakitan lagi, selain itu bukannya kita sudah pernah ikut ke ladang dan ke rumahnya yang seperti kandang ayam yang mau rubuh itu..?"


"Iya juga ya Mer. Wah kita lihat saja deh ke depannya, bakal seperti apa."


Banyak sekali teman-teman sekolah Linda, baik itu adik kelas maupun kakak kelasnya yang saat ini sedang sibuk membicarakan dirinya.

__ADS_1


Mendengar semua pembicaraan orang-orang lewat telinga Haris yang memang sangat tajam itu, membuat Haris mengurungkan niatnya untuk ikut berjalan bersama Linda, sebaliknya meminta salah seorang pengawal wanita untuk menemani Linda ke kantin sekolah.


"Hanum, kamu temanilah Linda ke kantin sekolah. Abang ingin melihat seperti apa teman-temannya mau berbuat dan memperlakukannya."


Biarkan saja apa yang akan dilakukan oleh teman-temannya, selama itu tidak menyakiti fisik Linda.


Linda juga seperti biasanya saja sikapnya, banyak bersabar dulu ya Nak, karena Om ingin melihat secara langsung, siapa dan bagaimana perlakuan mereka, agar kita bisa melihat jalan keluarnya."


"Baik Tuan."


"Iya Om" Ucap Hanum pengawal wanita dan Linda pada saat yang hampir bersamaan.


"Ayo Dek Shasmita kita ke kantor sekolah, untuk menyelesaikan segala urusan administrasi sekolah Linda yang tertinggal selama ini."


"Baik Bang ayo..!" Shasmita tersenyum melihat Haris dan juga penampilannya yang sangat gagah dan karismatik itu, sama seperti seorang istri lainnya yang baru saja menikah, Shasmita tentunya sangat terobsesi dengan suaminya. Shasmita menggenggam tangan suaminya Haris, lalu berjalan melenggang dengan manja menuju kantor sekolah.


Sementara Hanum dan Linda yang berada di kantin bersikap secara normal masuk ke kantin dan memesan makanan kemudian menikmatinya.


"Wah lihat teman-teman siapa yang kita temukan di sini, ternyata benar yang dikatakan oleh teman-teman kita yang lain, kalau si Linda anak petani miskin yang melarat dan sakit-sakitan ini, rupanya sudah mau masuk sekolah lagi."


"Iya benar Juwita sepertinya si Linda ini baru saja mendapat belas kasihan orang kaya, sehingga sekarang dia punya uang untuk melunasi segala biaya-biayanya yang selama ini tidak mampu dia bayar."


Hanum yang mendengarkan ucapan teman Linda, kupingnya cukup panas tapi dia mengingat pesan Haris lalu dengan sorot mata yang penuh makna, dia menatap Linda.


Linda mengangguk memahami kalau Hanum sedang mengingatkan pesan Haris padanya, sehingga dia bersikap biasa saja seolah tak mendengar apa-apa.


Hei anak orang miskin kau mendengarku tidak..? Jangan mentang-mentang datang bersama orang kaya, kau sudah merasa ikut menjadi kaya ya..!


Kalau kau memang mau sekolah di sini lagi, bagaimanpun kau harus tunduk dan patuh pada perintah geng kami, seperti sebelumnya. Kau harus mengerjakan setiap kami memiliki tugas atau PR dan juga setiap hukuman kebersihan karena pelanggaran yang kami lakukan, juga harus kau yang mengerjakannya. Selain itu kau juga harus siap untuk kami suruh melakukan apapun yang kami mau."


Mendengar ucapan Juwita yang merupakan pimpinan kelompok yang menurut pendengaran Hanum disebut Geng itu, dan juga tangannya tadi yang sudah mencoba menyentuh tubuh Linda tapi dengan cepat di tepis oleh Hanum, membuat Hanum merasa omong kosong anak itu sudah cukup, Hanum kemudian membalas ucapan Juwita.


"Kamu siapa..? Kamu tidak berhak memperlakukan orang lain sesuka hatimu. Linda ini bukan lagi seperti Linda yang kamu kenal dulu, jadi sebaiknya kamu menjaga sikap sejak sekarang."


"Eh Memangnya kamu siapa..? ikut-ikutan dalam pembicaraan kami.? Apa kamu orang yang dibayar untuk menakut-nakuti kami..? Jangan pikir kami akan takut ya dengan trik murahan seperti itu..!"


Hanum tersenyum mendengar jawaban Juwita, yang sepertinya sangat percaya diri itu.


"Wah hebat.. kau luar biasa..! Anak pegawai pemerintah kota yang sikapnya lebih hebat dari ayahnya.


Kau simak baik-baik ini Nak, dunia ini tidak sekecil yang kau bayangkan, jabatan kepala bagian di pemerintahan kota milik Ayahmu itu, belum bisa menjadi hal yang membuat kau harus begitu sombong dan bersikap seolah-olah kau adalah pemilik sekolah ini.


Kalau kau tidak berhenti, jangankan ayahmu walikotanya sendiri bisa aku berhentikan dari jabatannya. Linda ini adalah putriku dan aku adalah Omnya, dia tidaklah lebih miskin darimu justru jauh lebih kaya darimu, karenanya kau tak pantas untuk menyombongkan diri padanya, begitu juga kalian semua teman-temannya yang selama ini membullynya. Jangan kalian coba-coba lagi melakukan hal itu ke depannya."


"Wilson..!"


"Ya Tuan."


"Sebaiknya kau tugaskan dua orang pengawal kita, untuk menjaga dan memantau keadaan Linda setiap saat di sekolah ini, sampai Linda kembali ke rumah. Aku tidak ingin anak-anak nakal ini punya kesempatan untuk berbuat seenaknya seperti sebelumnya."


"Siap Tuan."


Haris yang sebelumnya telah pergi ke kantor menyelesaikan seluruh urusan administrasi sekolah Linda, telah menyusul Hanum dan Linda ke kantin.


Haris muncul serta bicara secara tiba-tiba, saat menjawab ucapan Juwita yang merupakan kepala geng murid di sekolah Linda itu, ketika berbicara kurang sopan terhadap Hanum pengawal istri Haris.


Juwita dan sekelompok anak yang berada dalam pengaruhnya, menundukkan kepala menyadari dan mengetahui bahwa Linda memang sudah merupakan sosok yang berbeda.


"Tuan..! Anda jangan khawatir sejak hari ini kami akan memperhatikan dan mengawasi Linda untuk memastikan dia tidak lagi di ganggu oleh teman-temannya."


Kepala Sekolah yang sebelumnya telah mendengar ucapan Haris dan telah mengetahui seluk-beluk permasalahan yang terjadi di sana, lewat informasi beberapa guru yang merupakan bawahannya, segera bergegas mendatangi Haris ke kantin, setelah mengetahui siapa sosok Haris yang sebenarnya.


"Anda siapa kalau boleh tahu..?"


"Saya Taufik kepala sekolah disini Tuan Haris. Tuan tentu tidak mengenal saya, tapi saya jelas mengenal sosok Tuan."


"Bagus kalau begitu aku harap kau bisa lebih pro aktif dalam menjaga lingkungan sekolah agar lebih kondusif bagi semua orang."


"Siap.. Siap Tuan."


"Tuan ada telepon dari Jenderal Gunawan."


"Ya halo ada apa jenderal.?"


"Ah maaf kalau saya mengganggu Tuan Haris. Apakah hari ini masih dilakukan pengobatan pada Ayah Tuan.?"


"Ya tentu saja Jenderal. Hari ini dan besok masih akan ada pengobatan, memangnya kenapa Jendral.?"


"Oh tidak ada apa-apa Tuan, kebetulan saya dan kepala polisi daerah lainnya, mendapat panggilan dari kepala Polisi Negara untuk datang ke pusat ibukota, sehingga mungkin hari ini saya tidak bisa menjumpai Tuan Haris dan saya akan bersiap-siap berangkat."


"Oh ya tidak apa-apa. Tidak ada sesuatu yang harus Jendral khawatirkan, saya akan selesaikan pengobatan orang tua kita dengan tuntas."


"Saya senang mendengarnya Tuan. Kalau begitu maaf, jika saya tidak bisa menyambut Tuan Haris."


"Tidak apa-apa Jenderal."


"Baik kalau begitu saya pamit dan menutup panggilan ini Tuan Haris."


"Baiklah Jendral."


[Panggilan berakhir]


"Ya sudah ya Linda. Linda sekolah yang baik dan belajar yang rajin, jangan pikirkan yang lain-lain lagi. Kalau ada apa-apa laporkan saja sama bapak kepala sekolah ini, lagi pula sejak hari ini akan ada dua pengawal kita yang akan memantau keadaan Linda setiap saat ya Nak.."


"Iya Om."


"Tante dan Om pergi dulu ya Nak, nanti pulang sekolah Tante akan bawa Linda belanja segala hal yang Linda suka."


"Iya Tante." Shasmita memeluk dan mencium Linda dengan lembut, kemudian mengusap-usap kepalanya.


Haris beserta Shasmita dan juga Wilson segera meninggalkan lokasi kantin itu dan dua orang pengawal laki-laki, ditugaskan untuk memantau keadaan Linda.


Haris permisi kepada sosok kepala sekolah yang sejak awal sudah kelimpungan mengetahui kebesaran sosok Haris yang datang ke sekolahnya karena ada masalah.


Kepala sekolah itu terus mengiringi Haris sampai ke mobilnya dan menyaksikan rombongan Haris sampai berangkat keluar dari sekolah itu. Setelahnya kepala sekolah itu segera memanggil siapa saja yang selama ini terlibat membully mencaci dan menyakiti Linda.


"Pokoknya aku tidak mau tahu, sejak hari ini semua harus proaktif menjaga kenyamanan di sekolah kita ini. Adapun anak yang bernama si Juwita yang manja itu, jangan dibiarkan untuk terus berbuat sesukanya, jangan segan-segan menegur dan menghukumnya hanya karena Abang ayahnya merupakan kepala dinas pendidikan.


Apa kalian tahu sosok yang baru datang tadi..? Beliau adalah Tuan Haris, sosok besar yang boleh dikatakan orang paling berpengaruh saat ini di daerah kita dan sekitarnya.


Apa kalian dengar pembicaraan beliau dengan Jenderal Gunawan dan apakah kalian tahu siapa Jenderal Gunawan..? Beliau adalah kepala Polisi daerah dan Tuan Haris juga merupakan sponsor utama yang mendukung calon walikota Ridwan Ansori yang besar kemungkinan akan terpilih menjadi pemenang itu.


Kita semua harus menjaga nama baik sekolah ini, para guru harus cermat memantau semua murid khususnya di lingkungan sekolah dan harus adil dalam peraturan. Jangan berpihak apalagi menganak tirikan murid-murid yang berasal dari latar belakang keluarga yang tidak mampu, cukuplah sosok Linda ini menjadi contoh yang baik bagi kita semua.


Jangan sampai segala sesuatunya rusak di sini, apa kalian mengerti semuanya..?"

__ADS_1


"Mengerti pak kepala.!" Seluruh guru-guru mendapatkan pengarahan dan arahan langsung dari kepala sekolah yang tidak ingin bersinggungan dengan sosok Haris itu.


Akhirnya Linda bisa bernafas lega mengikuti pelajarannya dan ke depannya dia tidak lagi akan sama seperti sebelumnya yang selalu menjadi bahan cemoohan dan hinaan di sekolahnya, posisinya saat ini justru meroket menjadi bintang di sekolahnya, tapi hal itu juga membuat beban di hatinya agar menjadi murid terbaik agar supaya tidak mengecewakan Haris dan istrinya yang sudah seperti orang tua bagi Linda.


__ADS_2