
"Bagaimana Pak Samsul suasana di sini, jauh ya dari desa kita...?"
"Ya lumayanlah dek Haris, jauh tapi ya, iya pulak kalau di desa kita, mana dapat lahan yang datar seluas ini.
Paling dapat di tempat kita lahan datar 4-5 hektar sudah lumayanlah itu, habis itu akan jumpa jurang atau Gunung.
Kalau disinikan datar semua nih seperti tikar begini..? Mantaplah pokoknya."
"Jadi bagaimana nih kira-kira Pak Samsul cocok nggak kerja di sini...?"
"He..he..he kalau sama dek Haris di mana pun cocoknya itu, betul nggak Fauzan...?"
"Betul tuh pak Samsul, pokoknya kalau bos kita adalah bos Haris aman itu, mau di ujung duniapun bakalan cocok ha..ha..hah."
"Iya syukurlah kalau memang cocok, jadi nanti pak Samsul kemarinya sama dek Fauzan aja ya..!
Nanti saya belikan mobillah sebagai inventaris."
"Hahaha apalagi begitu, makin mantaplah itu bos."
Samsul yang dahulu pernah menjual kebun sawit kepada Harispun, sudah ikut-ikutan memanggil bos pada Haris.
"Ha..ha..ha Pak Samsul manggil bos dek Fauzan."
"Sudah cocoklah itu bang.
Memang abangkan bos kami sekarang. "
"Aaah.... Bisa aja kamu Fauzan.
Oh iya pak Samsul, bagaimana kabar ibu pak Samsul yang kemarin di operasi itu..."
"Ya Alhamdulillah dek Haris, sekarang ya sudah lumayanlah, tidak lagi seperti dulu.
Istilahnya kalaupun masih sakit sudah mendingan, sudah bisa ditahankan oleh ibu kita."
"Oh begitu ya pak Samsul.
Alhamdulillah, jadi begini pak Samsul.
Pak Samsul inikan sudah bakalan kerja di sini nih, sebelumnyapun kitakan sudah saling kenal, satu kampung dan pasti masih ada pertalian keluargalah, kalau di runut runut dari pertuturan di kampung kita.
Jadi maksud saya begini pak Samsul, kalau memang ada yang diperlukan seputar biaya ibu kita tadi, apakah soal biaya lanjutan perobatannya misalnya, pak Samsul jangan segan-segan bilang saja sama saya, sampaikan aja apa adanya.
Kalaupun misalnya pak Samsul merasa segan ngomong langsung, sama saya sampaikan sama si Fauzan.
Ya Fauzan ya, coba kalau ada pak Samsul cerita soal apalah gitu yang diperlukan, segera sampaikan ke abang ya...!
Soalnya abangkan udah banyak urusan ini, jadi tidak bisa selalu memantau keadaan disini.
Sekarang nih sudah banyak yang mau diurus, masalah hotel, sekarang! masalah kebun, sebentar lagi mau ngurus kapal lagi.
Kapal penangkap ikan kitakan, sudah ada pula ini.
Jadi mau ngurus itu lagi, karena saat ini malah yang mau memimpinnyapun, masih sakit.
__ADS_1
Ada teman saya bernama si Jhon, paling hobby kalau soal ikan, rencana saya nanti ke-10 kapal penangkap ikan itu, mau berada dalam pengawasan dan pengurusannya."
"Iya..Iya bang siap bang.
Fauzan nanti akan pantau bang, tapi pak Samsul juga sepertinya nggak akan segan seganlah itu bang, kalau memang perlu, namanya kita sebelumnya semuanya jugakan sudah saling kenal kok, yakan pak Samsul...?"
"Iya betul itu Fauzan..!
Bapak kalau memang udah perlu nanti, nggak akan seganlah pokoknya."
"Iya kalau begitu sudah bagus itu pak, sudah amanlah berarti.
Memang kita inikan sudah jadi keluarga sekarang, jadi tidak perlulah segan-segan dan jangan juga ragu-ragu.
Ayo ayo..! tambah lagi makannya.
Ini sengaja dilebihkan tadi belinya, karena tahu Fauzan juga akan datang."
"Aman itu bang, jangan takut mubazir, bakal Fauzan sikat nanti semua sama kawan kawan, yakan wei....?"
"Iya..iya betul tuh Ris, kalau yang gratis jangan takut tidak punya tempat, muntahpun jadi ha..ha..ha...!!"
Kawan-kawan yang merupakan rombongan yang dibawa Haris, melanjutkan candaan yang dimulai oleh Haris.
"Ya sudah.
Jadi saya mau keliling-keliling sebentar, ke desa-desa terdekat dari sini lokasi kebun kita ini, sekalian mau silaturahmilah ceritanya.
Tolong nanti pak Samsul sama dek Fauzan, ya sama inilah rombongan kita ini, di bawa untuk berkeliling melihat lihat kebun kita.
Menemani membawa pak Samsul sama dek Fauzan untuk melihat lihat lahan kita ini.
Saya sendiri mungkin akan pergi sama pak Kusno, menyapa warga di sini jadi kita bagi tugaslah ini ceritanya."
"Oke bang siap bang."
"Ya udah kita istirahat sejenak, lagian baru makan juga lagi yakan...?"
Setelah dirasa cukup beristirahat, Haris yang ditemani pak Kusno mandor yang telah diangkatnya secara langsung itu, pergi berkeliling ke desa-desa sekitarnya, untuk melihat-lihat keadaan di sekitar Desa itu.
Haris sengaja memakai metode pendekatan secara kekeluargaan, dalam bertemu bersapa, sekaligus bersilaturahmi pada warga sekitar.
Dia menaiki mobil yang dibawa oleh Nando dan dikawal oleh tiga pengawalnya.
Adapun Very bersama Fauzan dan yang lainnya, pergi memeriksa keadaan di kebun itu bersama dengan Balyan.
Seorang anggota lama yang merupakan krani buah, yang kini juga masih menjabat dengan jabatan krani, namun lebih tinggi sebab telah ditunjuk menjadi pimpinan semua krani yang nantinya ada di kebun itu, oleh Haris.
"Nah inilah desa saya pak Haris desa damai sejahtera, ya di sini terbilang kecil pak Haris sebab hanya dihuni oleh 400-an kepala keluarga.
Sehabis desa ini ada juga desa Pasir putih namanya pak, yang berada di ujung sana.
Itu warganya sedikit lebih banyak, karena di sana dihuni oleh 600-an kepala keluarga, kemudian kalau kita berjalan lagi ke daerah sebelah sana, di sana juga ada desa pak Haris, tapi di desa itu jumlah keluarga yang berdomisili itu relatif lebih sedikit karena terakhir di data hanya sekitar 200-an kepala keluarga Pak Haris.
Namun diluar tiga desa ini, ada juga warga yang tinggal cukup jauh dari sini secara berkumpul pak, kadang ada 10 rumah, 15 atau delapan, bahkan ada yang cuma 5 atau 3 buah rumah saja pak."
__ADS_1
"Oh begitu ya pak...?
Tapi kenapa ya, mereka begitu Pak...?
Maksud saya kenapa nggak tinggal di desa saja..? Gitu lho pak Kusno."
"Ya alasannya sih beragam pak Haris, tapi yang paling utama seperti mana yang pernah mereka sebutkan itu, adalah supaya mereka itu lebih dekat ke lahan perkebunannya, begitu kira-kira pak Haris."
"Oh begitu ternyata ya pak...?"
"Iya pak Haris."
"Oh ya sudah kalau begitu, jadi kita ke mana lagi nih pak..? kira-kira pak Kusno kenal nggak sama kepala desa yang di sini...?"
"Ya kenallah pak, namanya saya juga warga di sini pasti kenallah pak.
Kenapa ya pak..?
Kira-kira kalau jam jam segini beliau itu ada di tempat nggak tuh pak Kepala desanya...?"
"Ya itu saya nggak tahu pak, namanya di perkampungan begini.
Tapi sepertinya kalau jam begini lebih sering di ladangnya masing-masinglah saya rasa pak, sebab selain bertani sawit rata-rata warga desa di sini juga bertanaman muda pak.
Warga menanam beragam tanaman pak seperti jagung cabai bawang tomat dan lain-lain gitu, untuk keperluan sehari-hari sekaligus menambah penghasilan keluarga pak."
"Oh begitu ya,tadinya saya mau apa namanya pak..? Mau cerita saja sih tentang banyak hal, di desa ini kira-kira apa yang perlu dibantu.
Apakah perlu kita dirikan sekolah swasta barangkali atau mendirikan rumah ibadah atau ya macam-macamlah.
Banyak yang mau saya ceritakan, tapi nggak apa apa kalaupun saya nggak jumpa sekarang, nanti pak Kusno barangkali bisa bersengaja untuk menjumpai pak kepala desa.
Tolong nanti sampaikan maksud dan keinginan yang saya katakan ya pak...!"
"Oh iya pak.
Wah bapak ternyata orang baik ya pak, jauh sekali berbeda dengan pemilik kebun sebelumnya."
"Ah pak Kusno ini ada ada saja, saya hanya mau berbagilah namanya pak.
Berbagi kebahagiaan kepada sesama, terkadang kebahagiaan itu justru datang ketika kita menghadirkan kebahagiaan pada orang lain pak.
Kebahagiaan itu tidak mesti harus langsung kita yang menikmati sesuatu, baru bisa bahagia pak.
Dengan melihat orang lain bahagiapun, kita sudah ikut bahagia."
"Saya salut dengan pak Haris, tidak sia-sia saya bertahan selama ini di kebun itu, ternyata hari ini saya dipertemukan dengan sosok muda yang yang bijaksana, cerdas juga dermawan.
Selain itu Pak Haris juga, saya lihat rendah hati tidak sombong, ah sempurnalah pak pokoknya.
"Hahaha aduh pak Kusno ini benar-benar membuat saya jadi malu, kesempurnaan itu hanya milik tuhan pak, kita manusia ini penuh dengan kekurangan.
Ya sudah pak kita singgah dulu ke warung kopi itu yuk, sekalian bercerita kepada warga di sana."
"Oh ya mari pak mari Pak.
__ADS_1
Haris dan mandor barunya bersama tiga pengawal dan juga Nando yang dari tadi sudah berjalan dari pangkal desa, setelah mobil mereka parkir disana, kemudian memasuki salah satu kedai kopi yang ada di desa itu.