
"Oh ya Very hampir saja lupa."
"Ada apa ya tuan...?"
"Itu Ver si Fauzan, jugakan mau datang nanti bersama Pak Samsul dan rombongan di belakang kita.
Jadi kamu hubungi Fauzan katakan tentang rencana pertukaran posisi ini, supaya mereka itu bisa mengikuti keadaan dan suasananya nanti.
Jangan pula, mereka sampai memanggilku Haris nanti, sehingga penyamaran kita terbongkar, tetapi panggil aku Darman dan Panggil Darman itu sebagai Haris sebab kita sedang bertukar posisi dan sebutkan juga alasannya kenapa begitu.
"Baik tuan siap tuan."
"Ya sudah kalau begitu, hubungi langsung sekarang."
Very langsung menghubungi Fauzan dan menceritakan semuanya kepada mereka. Fauzan mengerti dan mengatakan siap melaksanakan hal itu.
"Sekarang aku akan turun dan membukakan pintu untuk Darman, sejak aku membukakan pintu nantinya, maka Darman adalah tuan Haris, Kalian faham...?"
"Faham tuan."
"Baik, aku turun sekarang."
Haris lalu turun dari mobilnya dan membukakan pintu buat Darman.
"Silahkan tuan Haris, kita sudah sampai tuan..!"
Darman sedikit tersenyum mendengar kalimat itu langsung dari lisan Haris, namun sorot tajam mata Haris, seperti memperingatkannya agar tidak bermain-main dalam penyamaran ini.
Darman terkesiap melihat sorotan tajam mata Haris dan keseriusannya kali ini, sehingga Darman pun bersikap kembali seperti seorang tuan.
"Terima kasih Darman...!"
"Siap tuan...!"
"Halo semuanya, apa kabar...?"
"Halo selamat datang tuan, kami telah lama menanti tuan di sini."
Seseorang yang bernama Erfan langsung maju dan menyambut kedatangan Darman yang sedang berperan sebagai Haris itu.
Perkenalkan tuan, nama saya adalah Erfan tuan.
Saya adalah bekas mandor pimpinan atau mandor kepala di tempat ini dahulunya, saat masih menjadi milik pemilik lama tuan."
"Oh begitu rupanya.
Lalu kalian yang ini, siapa...? Kenapa tidak memperkenalkan diri kalian."
"Kami sengaja menunggu supaya dipersilakan dulu tuan, baru bicara. Karena tuan sudah mempersilakannya, maka saya akan memperkenalkan diri.
Saya ini Balyan tuan? saya adalah mantan krani buah tuan.
Saya sebelumnya yang bertugas untuk memastikan data jumlah sawit yang masuk lalu menyesuaikannya dengan bukti fisiknya tuan, Selain itu teman-teman yang lain ini adalah para pemanen tuan.
Dahulunya kebun ini dibagi menjadi 5 lorong atau biasa kami sebut afdeling tuan, yakni Lorong 1-5.
Luas wilayah pada masing masing lorong adalah 100 hektar tuan."
"Apakah usia dari semua sawit kita itu semuanya sama Balyan....?"
"Sebenarnya tidak juga tuan.
Ada 4 jenis usia berbeda yang kita miliki saat ini tuan.
Pertama kebun kelapa sawit berumur 3 tahun, seluas 100 hektar yang masing-masing hektarnya menghasilkan panen tandan buah sawit (TBS) sebanyak 0.6 ton/hektar atau sekitar 600 kg/hektarnya tuan.
Kedua ada 100 hektar kelapa sawit berumur 4 tahun masa tanam, yang masing masing hektarnya standart panen TBS yang kita dapat : 0.8 ton/hektar atau sekitar 800 kg/hektarnya tuan
Yang ketiga kebun kelapa sawit berumur 5 tahun, yang juga berjumlah 100 hektar tuan.
Standart panen di luar musim buah dan juga musim trek berkisar sekitar 1.2 ton/hektar atau sekitar 1200 kg tuan
Yang terakhir atau yang ke-4, kita punya kebun Kelapa sawit berusia diatas 7 tahun masa tanam, yang keseluruhannya ada 200 hektar tuan.
Dari 200 hektar lahan itu, menghasilkan sekitar 1.5 ton/hektar tandan buah segar (TBS) per hektarnya tuan atau 1500 kg."
"Darman....!"
"Siap tuan, coba kamu hitung semua yang disebutkan, baik tuan."
Haris lalu mulai berhitung dan dia mendapati hitungan.
"Tuan 1200 kg dikalikan dua kali pemanenan dalam sebulan menjadi 2400 kg/bulan di tiap hektarnya tuan.
Lalu ada 1500 kg yang juga dikalikan dua di dapati angka 3000 kg/bulan di tiap hektarnya tuan.
Kemudian ada 800 kg yang juga dikalikan dua di dapati angka 1600 kg/bulan di tiap hektarnya tuan.
Ditambah 600 kg dikalikan dua kali masa panen menjadi 1200 kg/bulan di tiap hektanya tuan.
__ADS_1
Maka 2400kg +1600kg + 1200kg \= 5200 kg/bulan di tiap hektarnya dan bila dikalikan 100 hektar akan menjadi 520 ribu kg atau 520 ton/bulan tuan.
Sedangkan yang 3000 kg/bulan dikalikan 200 hektar akan menjadi 600 ribu atau 600 ton/bulan tuan.
Bila di total 600 ton di tambah 520 ton akan menjadi 1120 ton/bulan tuan
bila di asumsikan dengan harga TBS/kg saat ini berkisar 1800/kg maka uang yang dihasilkan sekitar Rp 2.016.000.000 tuan.."
"Hmmm... jumlah yang lumayan juga."
"Ya, tapi anehnya sepertinya nilai ini tidak pernah dapat dicapai oleh pemilik lama tuan."
"Begitukah...?"
"Itu yang mereka katakan tuan."
"Baiklah, tampaknya ada yang tidak beres disini.
Apakah itu kesalahan di bidang perawatan..?
Apa masalahnya di krani gudang atau krani buah yang tidak jujur, ataukah pemanen yang kinerjanya kurang maksimal atau bagaimana...?
Dimana kira-kira letak permasalahan dan kekurangan kekurangan nya..?
Apakah pemupukan yang kurang maksimal atau bagaimana...?"
"Tuan saya pastikan kesalahan tidak ada di pihak krani tuan, karena saya yang langsung bertanggung jawab tuan..!"
"Kamu kelihatannya begitu yakin sekali Balyan..?"
"Saya harus yakin tuan, karena saya memang menyaksikan dan menuliskan seluruh data-datanya dengan detail dan baik tuan.
Tetapi memang pemilik kebun sebelumnya, adalah seseorang yang sudah tua tuan, beliau jarang datang kemari dan hanya mempercayakan itu kepada asisten kepala tuan dan asisten kepala juga jarang datang sehingga hanya menugaskan stafnya kemari tuan."
"Tuan Haris...!"
Haris yang sebenarnya bicara kepada Darman.
"Ya... Apakah kau punya pendapat lain Darman...?"
"Menurut saya kalaupun ada permainan, tidak mungkin seorang asisten kepala atau stafnya bermain sendiri tuan.
Pasti ada orang-orang lapangan yang membantunya, kalau krani buah tadi mengatakan mereka tidak ikut yang artinya bersih maka bagaimana dengan krani gudang krani divisi atau krani lain atau mandor tuan...?"
Haris yang di panggil sebagai Darman, lagi lagi menjawab pertanyaan dari Darman yang sebenarnya itu.
Si Mandor kepala yang selama ini terkenal galak dan suka berbuat sesukanya itupun, tidak bisa menyimpan lebih lama keaslian sifatnya.
Kau tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi di sini, jadi jangan terlalu lancang kau kalau bicara."
Mandor kepala mengamuk dan lupa siapa dirinya.
"Saya hanya mengatakan pendapat saya dan saya tidak menuduh anda, kan saya tidak menyebut nama, selain itu mandor juga bukan cuma anda saja bukan...?
Saya juga menyebut pemanen dan krani tadi tetapi mereka tidak bereaksi seperti kamu."
"Iya tapi kamu jangan ngomong sembarangan, mau merusak nama orang kamu...?"
"Baiklah saya yang salah maafkan saya..!"
Para pengawal Haris, sudah hampir naik pitam melihat tuannya, di bentak bentak seperti itu, tetapi Haris memberi kode kepada mereka agar menahan diri dengan terpaksa, para pengawal itu hanya bisa menghembuskan nafasnya, dengan kasar karena begitu kesal.
"Darman ini adalah orang kepercayaanku, siapa kau...? sehingga kau begitu berani mengatakan hal demikian padanya...?"
"Maafkan saya tuan saya hanya tidak suka saja, kalau ada orang sembarangan bicara tanpa tahu keadaan yang sebenarnya."
"Kau diam saja kalau tidak sedang aku tanya."
Darman lalu meninggalkan sosok mandor kepala yang bernama Erpan itu dan kemudian mendatangi para pemanen.
"Halo semuanya Jadi kalian ini adalah para pemanenkah...?"
"Sebagian di antara kami juga para pemuat tuan."
"Lalu berapa gaji kalian selama ini....?"
"Gaji kami, gaji pokok bersama tunjangan dan premi gaji lembur kalau di total dalam satu bulannya itu berkisar dua setengah juta tuan."
"Dua setengah juta per orang..?"
"Benar tuan...!"
"Darman! Apa menurutmu gaji pemanen dan pemuat sebanyak dua juta setengah itu sudah pantas...?"
"Menurut saya itu sangat kurang pantas tuan.
Seharusnya para pemanen dan juga pemuat itu, kita beri gaji pokok berikut semua tunjangan berupa premi lemburnya di Kisaran tiga juta setengahlah minimalnya dalam perbulan tuan."
"Kamu punya alasannya Darman...?"
__ADS_1
"Alasannya karena mereka tidak bisa lagi mencari sumber penghasilan lain tuan.
Mereka sudah bertahan di kebun ini, jadi sudah sewajarnya kita beri tambahanlah penghasilan mereka tuan, sehingga mereka tidak begitu bingung untuk menutupi kekurangan belanja harian rumah tangganya.
Maklumlah tuan, anda tahu sendiri bagaimana sekarang harga-harga pada naik, seolah-olah nilai uang itu tidak berarti lagi tuan."
Para pemanen dan juga pemuat, begitu senang dengan masukan dan ucapan dari Haris, yang mereka ketahui itu sebagai Darman sang penasehat dari pemilik perkebunan sawit ini.
Bagi mereka Haris yang merupakan Darman ini, adalah sosok yang bijaksana dan tahu keadaan para pemanen.
"Hei kali ini anda bicara Sembroro dan sembarangan lagi.
Hasil yang disebutkan dan yang dihitung tadi itu, tidak selamanya begitu.
Bagaimana kalau musim trek buah ketika buah menjadi sedikit dan langka, lalu dari mana ditutup gaji para karyawan atau pekerja kalau mematok gaji sampai tiga juta setengah perbulan itu...?
Kamu ini hanya bicara omong kosong, bicara sesuatu yang terdengar enak di telinga, tapi tidak bisa dijalankan di lapangan."
Erfan mulai memasukkan pola pikirnya, seperti yang selama ini dia tanamkan pada permanen dan pekerja.
Padahal hal yang dia inginkan sebenarnya adalah, agar para pemanen dan pekerja lainnya ini, terus berkekurangan sehingga mudah untuk dimasuki dan disogok, untuk bisa mengambil keuntungan pribadi seperti yang dia kerjakan selama ini.
Selama ini dia bersama asisten kebun dan juga asisten kepala yang dipercaya oleh pemlik sebelumnya bermain untuk memperkaya diri sendiri.
"Baiklah mungkin selama ini pemilik sebelumnya tidak begitu memperhatikan kebun ini.
Tetapi berbeda dengan dia aku sebagai pemilik kebun ini sekarang, setelah ini akan sering-sering datang.
Bisa jadi mungkin akan hampir di setiap saat, untuk memeriksa dan memantau serta memperhatikan kinerja kalian juga penghasilan kebun serta apa-apa yang terjadi di tempat ini.
Selain itu, aku setuju masukan dari orang kepercayaanku untuk menaikkan gaji pokok dan premi sehingga kalian akan mendapatkan minimal tiga juta setengah/orang dalam setiap bulannya.
Itu adalah upah minimal yang kalian bisa terima, jadi bukan tidak mungkin kalian akan mendapatkan lebih, tetapi tentu saja aku akan menuntut kepada kalian peningkatan kinerja profesionalitas kerja dan juga kesungguhan dan kejujuran dalam melakukan pekerjaan ini kedepannya.
Bagaimana apakah kalian siap..?"
"Siap tuan."
"Baik kalau begitu sudah diputuskan."
"Tuan sebaiknya tuan mempertimbangkan lagi, itu tidak akan bisa dicapai tuan percayalah, saya sudah menjadi orang lama di sini tuan.
Saya tahu betul bagaimana keadaan di kebun ini tuan."
"Apakah aku meminta pendapatmu..?
Selain itu apakah kau sudah tahu pasti bahwa apakah aku akan memakai jasamu kembali seperti pemilik sebelumnya atau tidak...?"
"Maafkan saya tuan.
Saya tidak bermaksud untuk mengatur tuan sekali lagi saya minta maaf tuan."
Darman mengabaikan orang itu, kalaulah benar dia pemilik kebun sebenarnya, maka sudah pasti sejak tadi dia akan memecat sosok mandor kepala yang bernama Irfan ini.
Namun Darman tidak berani mengambil keputusan, terlebih lagi apa yang dia lakukan saat ini adalah berupa penyamaran, maka dia menyerahkan sepenuhnya kepada Haris untuk bertindak apa terhadap Irfan ini.
Tetapi kalau dia mengikuti kata hatinya, ingin sekali sebenarnya dia memberikan "bogem mentah" kepada si Irfan mantan mandor tengil yang sangat licik dan manipulatif ini.
"Tuan sebaiknya kita memeriksa keadaan kebun ini dengan berkeliling, tetapi sebelumnya kita pergi terlebih dahulu melihat mess atau rumah-rumah para karyawan dan pekerja kita tuan, siapa tahu banyak hal yang sebenarnya harus diperbaiki tuan."
Haris yang melihat Darman sudah mulai buntu dan mulai tidak merasa suka, terhadap mantan mandor kepala dan terlihat sekali sudah ingin memukul itu, lalu mengajak Darman untuk memeriksa tempat tinggal para pekerja mereka.
"Baiklah Darman usul yang bagus..!
Aku setuju kepadamu, barak atau tempat tinggal dari pekerja kita ini, harus kita pastikan agar mereka ini sejahtera, sehingga mereka bisa lebih fokus dalam bekerja."
"Itulah yang saya maksud tuan."
Lalu baik Haris Darman juga Ferry dan Nando beserta tiga pengawal, mengikuti Darman dari belakang saat pergi meninjau rumah-rumah tempat tinggal para karyawan kebun mereka.
Untuk hal ini Darman sengaja memajukan Haris kedepan, karena bagaimanapun Harislah yang akan mengambil keputusan, sebab dia adalah pemilik asli dari perkebunan ini.
"Darman.!
Coba kamu periksa rumah-rumah ini, dan pantau dari luar maupun dalamnya.
Periksa apakah rumah-rumah ini masih layak huni atau tidak."
"Baik tuan!
Bapak Ibu semuanya permisi, kami akan melihat bagaimana situasi rumah ini di dalam kalau memang rumah ini sudah tidak layak lagi, agar bapak Ibu nanti kita pindahkan ke tempat baru yang akan kita bangun, boleh ya bapak Ibu, saya permisi masuk...?"
"Silahkan pak tapi sedikit berantakan ini pak."
"Baik terima kasih."
Setelah meninjau dan melihat situasi yang sangat memprihatinkan di dalam, Haris langsung keluar dan mengambil keputusan kalau semua rumah-rumah ini harus dirubuhkan dan dibangun kembali.
"Bagaimana Darman..?"
__ADS_1
"Tuan sepertinya memang rumah-rumah ini sudah tak layak huni lagi tuan, kita harus membangun pemukiman baru bagi para karyawan kita tuan."
"Baiklah kalau begitu Darman."