Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _88 : Mandor 'tengil'


__ADS_3

"Kalau begitu kita akan membangun ulang pemukiman, untuk para karyawan dan pekerja kita, yang ada di kebun ini."


Darman berbicara pada Haris.


Haris yang sedang menyamar sebagai Darman itupun mengatakan pada para pekerja kebunnya.


"Baik bapak ibu semua, jadi ke depannya bapak ibu akan menghuni tempat tinggal yang baru.


Tempat tinggal lama ini akan kita robohkan secara bertahap ya, tidak sekaligus.


Adapun tujuannya agar supaya sebagiannya bisa tetap menempati tempat lama, sebelum pembangunan sampai ke gilirannya."


"Baik pak, terima kasih pak."


Haris tadinya akan mendekat kepada Darman, yang sedang menyamar sebagai dirinya, untuk memerintahkan agar Darman bisa menjauh dari Haris.


Sebab Haris melihat gelagat bahwa si mandor kepala itu akan mengatakan sesuatu kepadanya.


Namun hal itu urung dia lakukan, karena khawatir keberadaan Darman yang sudah dianggap benar-benar sebagai pemilik lahan itu, akan terbongkar.


"Aku harus tahu persis seperti apa manusia yang saat ini masih bernafsu menjadi mandor, seperti jabatan lamanya itu.


Apakah orang ini masih bisa diobati atau tidak lagi..?


Apakah masih bisa dibina, atau sudah harus dibinasakan karirnya, dari perkebunan yang sekarang sudah menjadi milikku ini."


Saat Haris memutuskan akan tetap menyuruh Darman untuk menjauh dari sosok mantan mandor tengil dari tempat itu, seseorang yang merupakan pemanen TBS di kebun yang kini jadi milik Haris itu, berbisik kepada Haris memohon izin untuk berbicara tentang hal yang penting.


Anehnya pemanen itu meminta, agar mandor kepala lama mereka, tidak ada di tempat itu


Merasa ada sesuatu yang penting, Haris berkata kepada Darman...


"Tuan sepertinya tuan Haris, perlu bicara banyak hal kepada pak mandor kepala, saya akan berada di sini dulu untuk menghitung dan mendata, kira-kira apakah hunian yang sudah ada di tempat ini perlu ditambah dari jumlah yang sudah ada, atau malah harus dikurangi, karena telah banyak yang berhenti bekerja."


"Baiklah Darman data yang baik semuanya, saya akan pergi ke sana sebentar, untuk menanyai para mantan mandor mandor yang lewat lalu saat kebun ini belum menjadi milik kita."


"Baik tuan silakan tuan."


Darman yang mendapati ucapan Haris begitu, tahu kalau ada sesuatu di balik makna ucapannya itu, karenanya dia mengajak mandor kepala itu untuk bertemu dengan mandor mandor lainnya, yang berada di bawah arahan dan perintahnya selama ini.


Setelah kepergian Darman dan mandor tengil, Haris lalu diajak masuk ke dalam rumah.


"Ada apa pak, kenapa anda sampai mengajak saya secara khusus kemari...?


Apakah ada sesuatu yang begitu penting...?


Begini, pak Darman ya pak namanya bapak...?"


"Iya pak, saya Darman ada apa pak...?


"Begini pak Darman, kalau bisa setelah pihak bapak yang mengurus perkebunan ini kedepannya, janganlah dipakai lagi pak, mandor kepala lama itu.!"


"Lho kenapa?


Bapak ada masalah apa sama mandor lama? Bapak ada dendamkah sama bapak itu...?"


Bukan masalah dendam pak, bagaimana ya pak menjelaskannya.


Saya nggak enak juga sebenarnya mau bongkar aib orang ini, tapi kalau tidak kita buka, nanti masalahnya akan terulang kembali yang kesalahan yang sama dari mandor itu."

__ADS_1


"Silahkan bapak jelaskan segalanya, saya akan sabar mendengar penjelasan bapak."


"Terima kasih pak sebelumnya.


Jujurnya kami sangat khawatir pak, kalau nantinya pihak bapak Haris sebagai pemilik perkebunan ini, akan menjual lagi kebunnya pada orang lain, karena rugi dan lalu terjadi lagi seperti ini berulang ulang.


Intinya, sebenarnya pak mandor kepala itu nggak baik pak.!"


"Maksud bapak bagaimana..?


Saya masih merasa kurang jelas, tentang apa yang akan bapak maksud ini."


"Pak mandor itu selama ini sering bermain curang pak, bersama dengan staf yang dipercayakan oleh pemilik lama, jadi hasil panen itu sering dicuri pak, dipanen tapi tidak dijual sebagai milik kebun ini namun malah dijual untuk kepentingan pribadi mereka, seolah hasil panen itu milik mereka sendiri dari kebun pribadinya.


Selain itu mereka juga sering mencuri pupuk pak.!


Pupuk-pupuk kebun ini mereka ambil untuk di jual sebagiannya dan diberikan kepada kebun-kebun yang caplok sebagai milik mereka.


Mereka setidaknya sudah mencaplok 100 hektar dari lahan kebun ini !aslinya menjadi milik mereka.


Tentu kami tahu betul lahan itu sejak awal dan sudah mereka ganti kepemilikannya, sekarang menjadi milik mereka.


Jadi pembagiannya yang saya tahu 30 hektar untuk staff 30 hektar untuk mandor kepala dan 40 hektar kepada bosnya.


Saya nggak tahu siapa lagi Itu bos yang di atas mereka pak, yang jelas 100 hektar dari lahan Ini sudah diambil


Oh begitu ya..?


Bapak tahu seperti itu darimana...?"


"Ya tahulah pak saya dari lajang sudah berada di sini pak."


Lalu di mana letak kebun itu pak...?


Kebun itu letaknya ya sebelum kebun ini pak, lebih dahulu kebun mereka itu dapat baru kebun ini, namanya juga memang satu pemilik sebelumnya, ya jadi satu tempatlah enggak ada jaraknya pak.


Jadi kalau mereka menjatuhkan pupukpun udah memang mudah, terus kalau mereka panen ya udah tinggal geser saja hasil kebun dari sini, lalu di akui sebagai hasil kebun mereka.


Karena itulah kenapa selama ini pemilik kebun lama itu merugi pak, kasihan jadinya, tapi kitapun ya ikut juga kena sekarang imbasnya.


Saya buka ini karena sayakan udah tua, mungkin tidak lama lagi juga sudah pensiun kerja.


Harapannya saya anak-anak saya ini kedepannya yang akan bekerja di sini lagi, kalau sampai perkebunan ini rusak, mau cari kerja yang lain lagi susah pak."


"Bapak sebelumnya kerjaannya apa...?"


Saya sebelumnya pekerjaannya ya pemanen disini ajalah pak.


Saya termasuk orang yang ikut merintis di sini pak, saya asli orang desa dekat perkebunan ini.


Tanaman yang ada sekarang inipun sebenarnyakan sudah sudah tanaman baru pak, kalau tanaman lama yang kami rintis sejak pertama itu sudah ditumbang pak."


"Hmmm... Iya iya baik, itulah yang saya inginkan.


Kalau dapat informasi begini, jadikan saya bisa menyampaikan ke pak Haris gitu pak, soalnya saya lihat orang itu kelihatannyakan masih cukup bernafsu untuk jadi mandor."


Nah itulah yang kami khawatirkan pak, lalu kalau pak krani buah itu, bagaimana itu sifahnya pak..?


Pak siapa itu namanya...?"

__ADS_1


"Pak Balyan maksud bapak..?"


"Ya itu dia."


"Oh kalau pak Balyan itu, orangnya jujur itu pak.


Nggak mau neko neko, dia nggak mau itu menipu timbangan.


Orangnya jujur pak makanya ya karena enggak bisa diajak bermain, krani itu enggak dapat bagian apa-apa."


"Kalau bapak sendiri mau nggak jadi mandor...?"


"Ya maulah pak, masa jadi mandor nggak mau.. hehe...


Siapa sih pak kalau masih pekerja kebun sawit orangnya yang nggak mau, apalagi kita sudah puluhan tahun bekerja.


Kalau memang bapak bisa menyarankan ke Pak Haris agar saya ini jadi mandor, ya saya mau dong pak."


"Oh kalau sudah saya yang ngomong pak Haris situ hanya akan menerima itu pak.


Kalau begitu selamat bapak sudah sah jadi mandor sekarang. "


"Ah betul ini pak..?


Saya sudah tua pak bisa mati saya nanti jantungan, kalau ternyata ini nggak benar pak..!"


"Benar kalau sudah saya yang ngomong pasti benar."


"Aduhh... Alhamdulillah gusti..!


Terima kasih pak terima kasih banyak pak."


"Iya tapi nanti coba bapak, apa namanya...? coba cari informasi lebih banyak lagi ya pak, tapi yang jelas informasinya tentang siapa saja yang bermain selama ini.


Dan soal keberadaan bapak yang sudah jadi salah satu mandor kita, jangan dikasih tahu dulu ke mana-mana.


Soalnyakan kalau mandor itu gajinya lebi tinggi, jadi kalau bapak buka suara pasti nanti akan banyak yang iri.


Biar kita aja nanti yang mengumumkan semua nya.


Yang penting meski dalam pekerjaan nanti harus tegas sama pekerja, tapi bapak harus tetap rendari hati aja ya pak...!"


"Terima kasih pak kami sekeluarga mengucapkan terima kasih pak sebelumnya."


"Iya sama sama pak."


Setelah pembicaraan singkat itu Haris lalu keluar dari rumah bapak itu dan kemudian pergi hendak menyusul si Darman.


Namun saat hendak pergi ke tempat Darman, Haris berjumpa dengan mantan mandor yang kelihatan begitu marah sekali, dari sikapnya tampak seperti memang akan secara khusus menemui Haris di rumah bapak pemanen sawit, tempat Haris berbincang sebelumnya.


"Hei...! Kau mau kemana..?


Aku masih ada urusan denganmu.


Apa maksudmu menuduh aku bermain dengan staf kebun sebelumnya haahh bangs4t...?


Jangan macam macam kau...!


Nggak ditanggung keselamatan kau nanti di pantai timur ini.

__ADS_1


Apa perlu kusuruh pemuda setempat manghajarmu hahahh bangsa4**.....!!!!


__ADS_2