
"Abang sudah pulang, bagaimana belanjanya lancar tidak..?
Lumayan lama juga nih Abang dan Dek Shasmita perginya."
"Iya, tadi kita juga sekalian ngajak anak-anak untuk bermain-main, ya hitung-hitung untuk membahagiakan mereka Dek."
"Oh begitu, bagaimana anak-anak senang tidak Bang..?"
"Senang dong. Mereka sangat senang malah, apalagi si kecil Syawal. Hampir semua jenis permainan dia mainkan, Abang dan Dek Shasmita juga jadi ikut-ikutan hehe."
"Seru dong berarti. Kami juga jadi tadi berdua dengan Dek Kirana naik ke atas. Pemandangannya memang betul-betul seru banget ternyata Bang.
Apalagi saat senja hari tiba tadi, wah enak deh pokoknya."
"Hmm... Kalau begitu nantinya, kita buat saja taman yang sama di hotel kita yang ada di perbukitan."
"Hotel yang mana Bang..?"
"Abang rencananya mau membangun hotel di lokasi yang dekat dengan kedai bang Edi, yang ada di perbukitan pinggir kota P ini Dek."
"Makin seru dong nantinya Bang, kalau memandang dari sana tentu lebih tinggi bukan.?"
"Jelas dong, justru karena itu Dek. Bahkan dari sana nantinya kita akan bisa memandang jauh ke laut yang ada di wilayah pantai Timur, karena dari bukit itu ke arah lurusan laut di wilayah Timur, tidak ada gunung yang cukup tinggi yang bisa menghalangi pandangan."
"Masa sih Bang..? Seru juga ya Bang, Diana jadi pengen Hotel itu cepat selesai. Berarti kita juga bakalan tinggal di sana dong Bang..?"
"Ya seperti biasalah Dek, kita perganti-gantikan saja. Kalau ingin suasana kota ya kita di hotel ini dan di hotel kita yang satu lagi, kalau ingin suasana Desa kita ke desa P dan desa S, kalau kita ingin suasana perkebunan kan kita juga ada Villa di wilayah Timur dan kalau ingin suasana laut kita tinggal pergi ke hotel kita yang di Kota S, nah untuk melengkapinya tinggal kita bangun hotel baru yang suasananya di perbukitan, yaitu hotel yang akan kita bangun berikutnya."
"Terima kasih deh Bang, sudah melengkapi kebahagian kami dengan semua hotel itu."
"Lho Abang jadi semangat nih kalau memang kalian bahagia dengan apa yang akan Abang kerjakan."
"Iya dong Bang, tentu sudah seharusnya kita senang dan kita harus bersyukur untuk itu.
Teringatnya Abang sudah jadi tidak mengobati Bang Nurdin."
"Belum Dek tapi pasti jadilah. Rencananya nanti saja selesai makan malam. Bagaimanapun pengobatan itu penting dan harus dilanjutkan, supaya Bang Nurdin lebih sehat.
Kalau dia sehat, maka Kak Darmilawati sebagai istrinya juga akan lebih bahagia, begitu pula dengan anak-anak akan lebih bersemangat kalau ayah mereka sehat.
Oh ya kalian sudah jadi tidak, mengabari ayah dan ibu .?"
"Sudah. Papa, Mama dan Papi serta Mami juga sudah kami kabari. hanya saja tadi katanya kita jangan terlalu lama-lama di sini karena kalau lama-lama nanti mereka rindu sama cucunya."
"Iya tidak lama kok, selesai malam ini besok juga sudah pengobatan terakhir. Kalaupun kita harus bermalam satu malam lagi, besoknya sudah bisa kok pulang ke desa."
"Kalau hanya menunggu sampai lusa begitu, berarti tidak termasuk lama sih Bang, yang para orang tua kita takutkan itu tadinya adalah kalau kita sampai berminggu-minggu di sini."
"Ya enggaklah Dek, kalian sebaiknya besok berbelanja ya untuk pakaian ke Jepang itu. Sepertinya kita jadi deh berangkatnya minggu depan."
"Lalu soal para pengganggu itu bagaimana, apa Abang sudah dapat kabar dan informasinya..?"
"Sudah. Abang sudah dikabari oleh Bang Gunawan, Jenderal polisi yang ayahnya Abang obati itu. Ternyata memang wanita itu adalah anggota keluarga dari salah satu pengusaha terkaya di negeri ini sih. Makanya dia berani bersikap serampangan begitu sikapnya. Tapi Abang tidak akan peduli, kalau memang mereka berniat mengganggu keluargaku, akan aku libas habis mereka dan aku tidak akan peduli siapapun di belakangnya.
Hanya saja memang yang membuat kita sedikit lega, kabar yang Abang dapat melalui Jendral Gunawan pihak keluarga si wanita itu sudah merasa menyesal dan meminta maaf atas perbuatan putri mereka.
Mereka sudah meminta maaf lewat Jendral Gunawan dan meminta beliau untuk membantu mempertemukan kita dengan pihak mereka.
Sepertinya mereka mau meminta maaf juga secara langsung.
Ya sudah kalau memang mereka tahu bahwa mereka salah lalu meminta maaf, ya kita terima saja. Abang pada prinsipnya sederhana saja, kalau dia mau perang ya kita layani tapi kalau dia mau berbaikan, mau berteman ya kita terima, tidak ada masalah soal itu, kalian sendiri bagaimana Dek..?
Adek maunya bagaimana, apa kita perangi saja orang-orang itu..? Tidak kita kasih ampun..?"
"Ah sudahlah Bang. kita jalankan saja sesuai prinsip hidup Abang selama ini. Kalau memang mereka sudah mengaku salah, berteman itu jauh lebih baik.
Berteman dengan 1000 orang itu rasanya masih kurang, tapi kalau punya musuh satu saja rasanya gerak kita sudah terbatas dan terbelenggu Bang. Pada prinsipnya kami sudah memaafkan wanita itu kok, lagipula tidak ada apa-apa yang sempat dia lakukan kecuali hanya berusaha hendak menarik kami, tapi tangannya sudah langsung ditepis kok oleh pengawal kita yang sigap membaca situasi.
Tapi kalau yang Abang maksud itu hanya sekedar untuk memberikan pelajaran, tentu kami juga tidak akan menolaknya.
Yang diberikan itu, ya semacam penekanan saja untuk jangan lagi bersikap semena-mena terhadap orang lain."
"Ya kalau begitu Abang sudah lebih bisa menggambarkan apa yang harus Abang lakukan nantinya, ketika bertemu dengan mereka.
Oh ya kita ada makanan nggak ya..? Laper banget nih rasanya."
"Lho Abang seharian keluar tapi kok malah kelaparan sih pulangnya..? Memangnya nggak makan ya tadinya di luaran.?"
"Ya bagaimana ya, kami sibuk bermain-main di Timezone sama anak-anak, jadi lupa waktu kalau ternyata belum makan.
Sampai di sini setelah melihat istriku bertiga yang cantik-cantik ini, baru rasanya lapar dan pengen makan aja."
__ADS_1
"Ah Abang lagi menggombal nih lagipula bukankah dek Shasmita ada kok bersama Abang, masa harus karena melihat kami semua yang katanya cantik baru lapar.
Tapi ya sudahlah, sebentar Diana siapkan."
"Shasmita tidak ada beli apa-apakah tadi Dek berupa makanan..?"
Kirana bertanya kepada Shasmita.
"Ada sih Kak, tapi ya cuma makanan ringan begini."
"Wah beginikan enak nih, jadi kita bisa ngemil sambil nonton dan bercerita-cerita nantinya."
Kirana dan Shasmita terus berbicara sambil membongkar makanan yang sebelumnya dibeli oleh Shasmita di Citra Buana Mall.
"Oh ya Dek Kirana, tadi kalian bertiga cerita apa sih waktu Abang tinggal saat pergi ke warung kedai Bang Edi.?"
"Rahasia dong, namanya juga ceritanya bertiga pasti ada rahasia yang memang tidak boleh diberitahukan di luar kami bertiga dong Bang.
Itu hanya akan jadi rahasia kami bertiga saja."
"Waduh, masa sih Abang juga tidak boleh tahu.?"
"Iya memang tidak boleh tahu, namanya juga rahasia.
"Dek Kirana kamu tidak memberitahukan pada suami kita bukan..?"
"Tidak bukannya memang Kakak sudah bilang jangan diberi tahu.?"
"Bagus, itu bagus he..he Abang tidak usah penasaran, itu hanya rahasia kami sebagai istri Abang saja kok, bukan yang lain-lain."
"Lho Kak Kirana, kok diberitahu sih.?"
"Nggak kok, nggak diberitahu cuma bilang gitu doang he..he.."
"Ya..ya..ya Akhirnya aku tahu juga, apa rahasianya." Haris yang melihat sedikit kepanikan di wajah Kirana, mulai bersikap seolah-olah dia telah tahu apa rahasia itu, untuk menggoda ketiga istrinya, sehingga membuat Kirana, Diana dan Shasmita saling pandang dengan ekspresi wajah yang bingung.
Haris meninggalkan ketiganya dalam keadaan yang masih bengong dan penuh pertanyaan itu.
Haris kemudian pergi ke kolam renang pribadi miliknya, yang ada di hotel itu untuk mandi.
Setelah selesai mandi dan beristirahat sejenak, kemudian Haris makan malam lalu Haris kembali turun dari kamar hotel Royal suite miliknya, menuju pos satuan pengaman yang ada di lantai bawah dan mendapati wilson telah ada di tempat itu.
"Wilson..! Coba kamu panggil atau perintahkan seseorang untuk memanggilkan Abang Nurdin kemari, sebab aku telah berjanji untuk melanjutkan pengobatannya hari ini
Oh ya Tuan, ternyata orang-orang kita dari kota K sudah berangkat tadi sore Tuan, maka malam ini juga mereka akan tiba di sini, kalau tidak ada halangan yang berarti di jalan."
"Oh itu berita yang bagus Wilson. Baiklah kau panggilkan saja dulu Bang Nurdin, nanti kita lanjutkan pembicaraan soal itu. Aku khawatir nanti pengobatannya terlalu malam."
"Siap Tuan, saya akan pergi sekarang."
Wilson kemudian meninggalkan meja dan tempat di mana dia dan Haris tadinya berada, di ruangan satuan pengawal yang ada di hotel Haris.
"Sistem, sejak peristiwa hari ini aku melihat kalau sebenarnya para pengawal yang aku miliki ini, masih begitu sangat lemah dan rentan. Bayangkan untuk pengawal di tingkat putrinya saja, orang yang berurusan denganku hari ini, sudah memiliki dua sosok Master bela diri di belakangnya, sehingga terpaksa aku sendiri yang harus turun tangan membela para anggotaku.
Aku membayangkan kalau pengawal Ayah dari wanita itu sendiri, tentu mungkin adalah seorang yang berada di level Grand Master. Artinya kemampuannya tentu berada di atasku."
[Sistem]
"Ya itu benar Tuan. Karenanya tidak ada jalan lain, Tuan harus meningkatkan kemampuan tempur anggota Tuan. Berikutnya peningkatan sistem itu adalah sesuatu yang sangat mendesak untuk Tuan segera lakukan.
Tapi Tuan tenang saja, bersamaan dengan suksesnya misi Tuan nantinya ke luar negeri, maka level sistem Tuan akan naik menjadi super mewah.
Dimana dengan level sistem baru itu, otomatis kemampuan Tuan juga akan ikut meningkat. Bersamaan dengan itu pula peluang untuk menjadi Grand Master juga akan terbuka sangat lebar bagi Tuan.
Tapi yang perlu Tuan ketahui, Grand Master itu mungkin sudah terbilang hebat di daerah kita ini, tapi untuk wilayah lain belum tentu itu sudah cukup, sebab nantinya Grand Master itu juga akan terbagi menjadi beberapa tingkatan.
Jadi memang tidak ada jalan mundur Tuan, kita harus berpacu dengan waktu dan terus maju lebih jauh selangkah demi selangkah untuk benar-benar bisa menjadikan Tuan sebagai sosok yang berada di puncak, sehingga bisa melindungi dan juga membahagiakan keluarga.
Berada di puncak itu sudah seperti menjadi sebuah keharusan dan menjadi jaminan atas segalanya, agar semua bisa berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan."
"Ya kau benar sistem. Kini aku melihat dunia ini dengan cara yang sangat berbeda sekali, ternyata dunia ini berjalan tidak sesederhana yang aku pikirkan selama ini.
Menurutmu apa yang harus aku lakukan sekarang sistem..?"
[Sistem]
"Tuan sistem paham mungkin Tuan sangat benci dengan sosok orang-orang yang telah berani mengganggu istri Tuan, akan tetapi berdamai dengan pihak mereka adalah jalan yang terbaik saat ini.
Sistem bisa tahu apa yang mereka pertimbangkan saat ini tentunya hanya dua hal, pertama kedekatan Tuan dengan Jenderal Gunawan dan yang kedua kekuatan finansial yang Tuan miliki.
Secara kekuatan kita masih jauh kalah di bawah mereka, jadi kita harus pandai-pandai bersikap pada orang-orang itu.
__ADS_1
Bagaimana caranya agar lawan ini tetap bisa merendahkan hatinya kepada kita, tapi di saat yang sama kita tidak boleh terlalu merendahkan mereka, karena bisa jadi hal itu justru menjadi pemicu bagi mereka untuk mengeluarkan potensinya.
Tuan tentunya paham bahwa selain apa yang sistem sebutkan sebagai keuntungan kita itu, sebenarnya itu juga menjadi kerugian pihak kita, sebab pasti orang-orang itu akan merasa tertarik dan lalu berusaha membalikkan keadaan, sehingga apa yang kita miliki hari ini bisa saja berubah menjadi milik mereka, atau paling tidak berada di bawah kendali mereka.
Pasti Tuan pahamlah apa yang sistem maksud."
"Ya aku sangat paham itu sistem, artinya memang kita harus punya kalkulasi perhitungan yang baik menghadapi orang-orang itu."
[Sistem]
"Ya itu benar Tuan."
"Lalu terkait metode pengobatan yang aku miliki apakah metode pengobatan ini, memang harus begini sistem..? dimana aku harus mengobatinya sampai tiga kali begini atau hal yang lebih praktis bisa aku dapat bersamaan dengan naiknya nanti level sistem..?"
[Sistem]
"Tentu saja Tuan. semakin tinggi level Tuan, maka metode pengobatannya pun akan lebih semakin praktis dan juga efisien nantinya. Metode pengobatannya mungkin tidak akan butuh sampai berhari-hari seperti sekarang.
Kemungkinan dalam sekali pengobatan pun untuk jenis penyakit Nurdin dan Pak Drajat saat ini sudah cukup, tapi untuk saat ini memang inilah yang terbaik Tuan.
Bahkan dalam dunia medis hal yang Tuan lakukan sekarang ini, sudah merupakan hal yang luar biasa yang tidak bisa dilakukan oleh para praktisi kesehatan."
"Begitu ternyata. Ya baiklah aku paham itu sistem, tapi kalau aku tidak salah kau juga pernah mengatakan bahwa aku harus menemukan seseorang untuk aku obati, dengan kemampuan yang ada sekarang ini di luar negeri, begitu kan sistem..?
[SIstem]
"Iya itu benar Tuan. Apa Tuan khawatir soal itu..?"
"Khawatir sih tidak sistem, hanya saja aku berpikir siapakah sosok itu nantinya..?"
[SIstem]
"Tuan tidak perlu berpikir sejauh itu Tuan.
Meskipun semakin meningkat kualitas pikiran Tuan, tapi sistem berpesan Tuan harus berpikir lebih sederhana, tidak usah berpikir terlalu jauh untuk hal-hal yang sifatnya semacam itu. Jalani saja apa yang ada di depan mata, akan ada masa untuk tiap-tiap sesuatu Tuan.
Bukankah sistem juga tetap akan mendampingi Tuan..? Bagaimanapun sistem tidak akan pernah membiarkan Tuan harus kehilangan segala kebahagiaan Tuan.
Perhitungannya, jika ada sosok yang memang betul-betul bisa membuat kita berada pada situasi darurat dan sangat berbahaya , diman hal itu tidak lagi bisa Tuan hadapi, sekaligus tidak ada jalan menghindar darinya, daripada harus menghancurkan apa yang telah ada pada Tuan, maka sistem bisa melakukan mode pemusnahan diri sistem sendiri, sehingga bisa membawa orang itu musnah bersama sistem.
Itu adalah harga yang harus dibayar oleh orang yang coba-coba mengusik dan mengganggu segala pencapaian Tuan. Namun itu adalah jalan terakhir yang semoga saja tidak akan pernah kita hadapi Tuan."
"Jangan. Jangan sampai itu terjadi sistem. Bagaimanapun kau sudah menjadi bagian dari diri dan keluargaku sistem. Aku tidak akan bahagia mendengar dan menyaksikan hal itu terjadi. Kalau boleh aku akan lebih memilih biar aku yang selesai, tetapi kau terus membantu dan mengawal keluargaku, dengan memilih salah satu dari keturunanku kelak.
Jadi jangan pernah untuk berpikir mengaktifkan mode itu sistem."
[Sistem]
"Tuan, sistem merasa tersentuh dengan apa yang Tuan sebutkan. Tidak salah sistem memilih sosok Tuan sebagai Tuan yang mendampingi keberadaan sistem."
"Ya terima kasih atas pilihanmu sistem, maka atas segala pilihanmu itu, tentu aku harus pandai bersyukur dan berterima kasih, khususnya tentu untukmu sistem."
[Sistem]
"Tenang saja Tuan, mudah-mudahan kita tidak akan sampai bertemu pada hal itu, karenanya Tuan pastikan kita tidak sampai berada pada keadaan itu.
Sebaiknya kita hentikan pembicaraan ini Tuan, kembalilah memfokuskan diri pada keadaan di sekitar Tuan untuk melakukan pengobatan Nurdin, sebab sistem mendeteksi bahwa Wilson sudah dekat lewat keberadaan signal telepon selulernya."
"Baiklah sistem, kau yang terbaik sistem."
[Sistem]
Terima kasih Tuan, sistem mengucapkan terima kasih untuk itu."
Haris kemudian berhenti melakukan pembicaraan dengan sistemnya, sehingga dia mulai fokus memperhatikan keadaan di sekitarnya.
Melalui percakapan dengan sistemnya, Haris kini mengetahui informasi penting tentang sosok orang yang dihadapinya, berikut segala kemampuan dan orang-orang yang mendukung di belakangnya, sehingga Haris bisa mengambil kesimpulan bahwa keadan yang dia akan hadapi berikutnya merupakan ancaman yang sangat serius, karenanya Haris harus mengambil langkah yang cepat dan tepat.
Seperti ungkapan kata bijak yang mengatakan ; "Memahami siapa lawan yang sebenarnya, adalah seni dan strategi bertahan yang paling baik."
"Kami telah tiba Tuan. Bang Nurdin sudah saya bawa."
"Bagus. Terima kasih Wilson.
Wilson..! Setelah pengobatan ini selesai, kamu sudah harus berada di ballroom, panggil semua orang-orang kita dan kita akan melakukan pertemuan mendadak disana.
Ada satu hal yang sangat penting dan sangat mendesak untuk aku sampaikan kepada kalian semua, jadi selain mereka yang bertugas silakan kau panggil semua teman-temanmu yang lain untuk hadir dan tunggulah aku di ruangan ballroom itu."
"Baik Tuan."
Wilson merasa sangat penasaran kenapa mereka sampai dikumpulkan secara mendadak seperti itu. Suatu hal yang belum pernah dia rasakan terjadi sebelumnya, dimana hal itu terjadi secara tiba-tiba dan kelihatannya cukup serius melihat bahasa dan juga tatapan mata Haris padanya saat berbicara. Namun Wilson tetap fokus untuk mengumpulkan teman-temannya, sesuai apa yang diarahkan oleh Haris karenanya.
__ADS_1
Wilson mulai menghubungi Riston, Halim, Amanu, Anton, Erik dan yang lainnya, untuk segera membawa regu dan kelompok mereka ke ruangan ballroom hotel milik Haris.