Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _132 : Meninjau SPBU di Kota P


__ADS_3

"Hei siapa yang mengizinkan kamu untuk masuk kemari.?


Ruangan ini khusus untuk para pekerja atau karyawan di tempat ini."


"Oh maaf Pak, saya mau bertemu dengan Bos Marwan. Saya mau melamar kerja di sini."


"Bos Marwan sedang tidak ada di sini, tempat ini sedang tidak menerima karyawan baru.


Sebelumnya saya sudah dipesankan untuk menolak langsung keberadaan siapapun, kalau ada yang mau melamar kerja.


Jadi sebaiknya kamu pergi saja.!"


"Tetapi saya disuruh seseorang bernama Bram kemari Pak. orang itu adalah pemilik lama dari SPBU ini dan juga orang yang meminta tolong kepada pemilik baru, agar semua pekerjanya disini tetap dipakai untuk bekerja."


Mendengar penjelasan Haris itu, petugas keamanan itu merasa terkesiap.


"Kenapa orang ini tahu tentang hal yang sebenarnya tidak banyak diketahui oleh orang lain itu.?"


Satpam itu bergumam dan merenung dalam hatinya.


Sesaat petugas keamanan itu menjadi ragu melihat sosok Haris.


Instingnya menangkap dan merasakan suatu potensi bahaya, jika tidak meladeni Haris dengan baik


"Jadi apa Bapak sudah punya janji dengan bos Marwan.?"


Satpam itu langsung merubah cara panggilan dan juga caranya bersikap serta berbicara dengan Haris.


"Saya tidak punya janji dengan Bos Marwan Pak, tapi saya punya janji dengan pemilik lama yang bernama Pak Bram itu, untuk dipekerjakan di sini.


Selebihnya saya hanya disuruh melapor kepada bos Marwan Pak."


"Oh kalau begitu silakan bapak kembali masuk dulu dan duduk disana ya Pak, maaf tadi saya tidak tahu sebelumnya, kalau memang begitu jalan ceritanya.


Hanya saja kalau mau menjumpai Bos Marwan, Bapak datangnya terlalu cepat, sebenarnya Bos Marwan, tidak akan bisa ditemui kalau sebelum selesai jam makan siang Pak."


"Kenapa begitu ya.?


Bukannya itu korupsi waktu jam kerja.?


"Ah kalau soal itu, saya tidak tahu sih Pak, namanya juga kita ini cuma bawahan.


Ngomong-ngomong siapa nama Bapak, saya belum tahu namanya dari tadi mengobrol terus."


"Nama saya Haris Pak.


"Oh Pak Haris, jadi begini Pak Haris, kalau boleh tahu Bapak ini mau bekerja di bagian apa.?


operator dispenser SPBU atau bagian sebelah mana.?"


"Itulah yang saya tidak tahu Pak. Makanya saya perlu menjumpai Bos Marwan dulu.


Memangnya kenapa Pak.? Apa bagian keamanan saat ini sedang membutuhkan tambahan petugas ya.?"


"Seharusnya sih begitu, tapi informasi ke kita, keadaan keuangan menurut Pak Marwan saat ini sedang tidak baik, sehingga mau tidak mau saya harus berjaga sendiri deh di sini."


Satpam yang ditugaskan untuk mengawasi keamanan di tempat itu, mengeluhkan tentang beban kerjanya yang cukup berat.


"Jadi kalau misalnya Pak Bram menunjuk saya sebagai pimpinan di sini menggantikan Marwan, kira-kira apa yang Bapak butuhkan.?"


"Memangnya ada harapan begitu ya Pak Haris.?"


"Iya siapa tahu, namanya juga pimpinan tentu mereka bebas untuk mengangkat atau menurunkan siapapun bukan.?"


"Hehe jangan panggil Pak dong, kalau begitu panggil saya Mas saja Pak Haris. Lagian saya juga belum tua-tua amat


Lagipula kalau memang Bapak nanti akan jadi pimpinannya nggak enak kalau saya dipanggil bapak juga.


Permintaan saya kalau bisa ya gaji dinaikkanlah Pak, terus saya punya teman juga untuk berganti shift biar jangan terlalu berat, itu saja sih barangkali Pak harapannya.


"Baik kalau begitu anggap saja hal itu sudah dikabulkan. Saya mungkin tidak akan menggantikan Marwan, tapi saya akan meminta Marwan untuk membenahi seluruh sistem kinerja yang ada di sini.


Kalau dia tidak sanggup saya bisa gantikan dia dengan orang lain.


Saya akan jadi pimpinan utama disini."


Mendengar penjelasan Haris, satpam yang bertugas di kantor SPBU itu, merasa begitu terkejut. Dia merasa beruntung feeling nya bekerja dengan benar, ketika memiliki perasaan harus mengambil sikap hormat kepada Haris.


"Oh ya saya juga belum tahu nama Masnya."


"Nama saya Sukri pak Haris."


"Ya, Mas Sukri rupanya.


Oh ya Mas Sukri..! Itu wanita yang menjaga mesin nomor 2 itu, siapa ya namanya.? Kok kelihatannya dia kerjanya begitu..? Cemberut saja begitu dan tidak ada sedikitpun senyum yang bisa dilihat darinya.!"


"Yang wanita disana itu ya Pak..?"


"Ya benar Mas Sukri."


"Itu namanya Marni Pak. Ya mungkin dia lagi kurang enak saja perasaannya Pak. Mungkin karena lagi ada masalah sama Pak Marwan barangkali Pak.


Saya dengar informasinya Marni itukan anggota keluarganya baru meninggal Pak, jadi dia minta cuti agar supaya beberapa hari ini nggak usah masuk dulu.


Nah oleh Pak Marwan tidak dibolehkan, karena alasannya tidak ada gantinya katanya sih, kecuali dia mau berhenti.


Jadi ya mau tak mau dia terpaksa kerja juga pak, tapi ya begitu jadinya, bawaannya cemberut.


Karena memang merasa terpaksa barangkali ya pak.?"


"Oh begitu ya.?

__ADS_1


Memangnya di sini tidak ada yang bisa menggantikan untuk sementara begitu, tugasnya Mbak Marninya..?"


"Sebenarnya ada sih Pak. Itu mas Totok yang ditugaskan oleh Pak Marwan untuk mengutip uang dari orang yang memakai kamar mandi itu, sebenarnya sering juga diperbantukan untuk mengoperasikan mesin pengisi bahan bakar kepada pengunjung yang datang itu, tapi nggak tahu kali ini kok Bos Marwan nggak membolehkannya."


"Kalau begitu coba panggilkan, siapa namanya tadi..? Mas yang bertugas di kamar mandi untuk memungut biaya kebersihan WC itu.?"


"Namanya Totok Pak."


"Coba panggilkan kemari Mas Sukri.:


"Siap Pak."


Totok pria yang sebelumnya menagih uang jasa pemakaian kamar mandi dan WC di SPBU itu segera dipanggil oleh Sukri, untuk menghadap Haris.


"Kita berjumpa lagi nih Mas Totok."


"Iya Mas, Masnya masih disini.? Sudah diterima kerja Mas.?"


"Hehehe pasti diterima.


Malah saya adalah pimpinannya disini.


Tadikan Mas Totok cerita kalau sudah lama nih pengen kerja. Nah sekarang begini, Mas Totoknya bisa nggak mengoperasikan mesin dispenser itu.?"


"Ya bisalah Mas, karena kadang-kadang kalau lagi sedang banyak pengunjung, terus pekerjanya capek, saya juga sering bantu-bantu juga kok."


"Mengembalikan uang kembalian pembeli bisa atau tahu nggak Masnya..?"


"Ya bisa dong Mas, masa nggak tahu sih mas.?


Mengembalikan uang saja kok nggak tahu, begini-begini saya juga lulusan sekolah menengah atas lho Mas, Lagipula saya juga sudah sering kok mengerjakan itu.


Malah dulukan pengennya juga ngelamar di bagian itu Mas, tapi ya belum ada katanya makanya harus nunggu ada yang resign kata Pak Marwan."


"Ya sudah mulai hari ini, saya tugaskan mas Totok bekerja di bagian operator mesin itu. Untuk kamar mandi dan WC itu, jangan dipungut lagi bayaran dari pengunjung, biarkan saja mereka gratis memakai itu.


Memang seharusnya itukan adalah bahagian dari pelayanan kita kepada pengunjung, bukannya malah memintai bayaran.


Kalau Mas Totok punya saudara yang mau bekerja disitu bekerja membersihkan semuanya menggantikan pekerjaan Mas Totok, akan saya gaji secara bulanan tidak seperti yang sekarang, mengutip-ngutip begitu.


Saya kasih gajinya satu bulan 3 juta setengah."


"Bener nih Mas eh Pak, saya mulai hari ini mau kerja mengoperasikan mesin dispenser SPBU untuk mengisi bahan bakar pada para pelanggan itu..?"


"Iya benerlah masa nggak bener, tapi syaratnya


Masnya harus bisa cari orang yang mau bekerja di bagian pekerjaan Masnya yang lama dan mulai hari ini Masnya bertugas mengoperasikan mesin dispenser yang dipegang oleh Mbak Marni itu.


Tadi saya dapat informasi dari Mas Sukri nih satpam kita, katanya Mbak Marni itukan keluarganya baru saja kemalangan terus minta cuti tapi nggak dibolehkan, sehingga dia terpaksa bekerja dengan hati yang cukup sedih pastinys.


Jadi sekarang saya minta mas Totok pergi ke sana gantikan mbak Marninya dan suruh mbaknya datang kemari menghadap saya."


"Betarti saya sudah diterima jadi karyawan disini Bos..? Sebagai petugas operator mesin dispenser..?"


Saya tidak akan banyak berharap soal penghasilan dulu dari tempat ini, yang penting usaha ini jalan, karyawan/ti kita bisa cari nafkah disini dan modalnya tidak sampai termakan itu saja sudah syukur bagi saya."


"Oh ya siap-siap bos."


"Nah mas Sukrinya coba bantu jelaskan ke mbak marninya,agar mbak Marninya percaya untuk datang kemari."


Baik Totok maupun Sukri kemudian pergi menemui wanita yang bernama Marni, agar tidak lagi meladeni pelanggan yang akan mengisi bahan bakar saat itu.


Sukri menjelaskan kepadanya segala sesuatunya. Marni begitu bahagia dan dengan sedikit berlari Marni langsung datang menghadap Haris.


"Selamat siang Mbak Marni."


"Selamat siang Pak Haris."


Apa benar, alasan Mbak marninya cemberut tadi waktu saya mengisi BBM itu karena baru saja salah seorang anggota keluarganya ada yang kemalangan ya.?"


"Iya maaf. maaf Bapak saya masih terbawa perasaan, sedih rasanya masih merasa berduka Pak."


"Ya sudah begini saja Mbak Marni pulang saja dulu ke rumah, tidak usah masuk selama 1 minggu ini untuk menenangkan pikiran. Setelah selesai waktu satu minggu ini, persis hari yang sama dengan hari ini di Minggu depannya, baru Mbak Marninya masuk kembali.


Sekarang mbak Marni pulang dan istirahat temani orang tua di rumah, yang meninggal siapanya..?"


"Yang meninggal itu kakak saya Pak yang di atas saya."


"Saya dan kita semua turut berduka untuk kakaknya mbak Marni, semoga damai dan tenang dalam rahmat Tuhan Yang Maha kuasa. Kalau begitu mbak Marninya pulang, ini ada sedikit titipan dari saya buat keluarga, nilainya tidak banyak hanya sekitar 50 juta Rupiah.


Nanti kalau orang tuanya Mbak Marni bertanya, jawab saja ini adalah bantuan dari Bos tempat saya bekerja, semoga bermanfaat buat keluarga."


Begitu mendapatkan uang Rp50 juta dari Haris, tubuh Marni langsung terdiam seolah membeku, tidak lama setelahnya lututnya lemas lalu tersungkur bersimpuh di kaki Haris


Haris segera berjongkok dan menarik kembali tubuh Marni untuk kembali berdiri.


"Terima kasih Pak."


"Tidak apa-apa, mbak pantas mendapatkannya."


Marni kembali bermaksud ingin bersimpuh pada Haris.


"Eh nggak boleh begitu. Tidak boleh Mbak, tidak boleh bersujud kepada sesama manusia.


Mbak Marninya bisa pulang sendirian.? Enggak takut pulang sendirian.?"


"Tidak Pak, saya sudah biasa pulang sendiri."


"Ya sudah, kalau begitu disimpan uangnya baik-baik, jangan nanti sampai dilihat oleh orang jahat."


"Terima kasih Pak, saya belum begitu kenal dengan Bapak, tapi bapak begitu baik dan perhatian."

__ADS_1


"Sudah sewajarnya itu Mbak Marni. Sangat wajar kalau saya sebagai pimpinan usaha itu memperhatikan para pekerja dan karyawan juga karyawati saya.


Mbak Marnikan kerja di sini, nah kalau nanti Mbak Marni juga punya saudara yang mau sama-sama bekerja di sini, boleh satu orang lagi. Nanti mesin dispensernya akan kita tambah lagi, bila perlu nanti area usahanya kita perluas, atau kita tambah stasiun pengisian lainnya.


Saya mau karyawan-karyawati saya itu semuanya bisa hidup sejahtera, tidak boleh lagi seperti yang selama ini."


Hati Marni begitu tersentuh dengan penjelasan dari Haris begitu juga dengan


Sukri turut merasa bahagia melihat sikap dan perilaku sosok yang berada di depannya, yang terbilang masih muda secara usia, tetapi sungguh bijaksana dan begitu dermawan juga peka terhadap perasaan orang lain.


"Kalau begitu saya permisi sekarang Pak Haris."


"Ya Pergilah mbak Marni, salam buat keluarga, sampaikan kalau saya juga turut berduka ya..!"


"Iya Pak sekali lagi terima kasih Pak.


Tapi saya tidak akan dimarahi Bos Marlon kan Pak..?"


"Tentu tidak. Saya akan bicara nanti dengannya, lagipula dia tidak bisa memarahi siapapun yang sudah saya beri izin bukan..?


Atau malah dia yang akan kita marahi nanti hehe.."


Marni akhirnya pulang ke rumahnya untuk menata perasaan dan pemikirannya, dia merasa sangat lega.


Sukri yang melihat Haris begitu mudah memberikan uang sebanyak itu kepada Marni, merasa kalau keadaan akan berubah dengan hadirnya sosok pemimpin yang dia mulai ragu, apakah Haris masih hanya sekedar pimpinan ditunjuk oleh pemilik baru SPBU itu, kalau sekedar pemimpin baru mustahil rasanya dia sedermawan itu.


Satu hal yang Sukri tidak sadari adalah, kalau Haris sebenarnya memang adalah pemiliknya yang asli.


Haris kemudian menghubungi 3 orang pengawalnya yang ada di Kota P dan meminta mereka datang sekalian membawa makan siang yang dibeli dari rumah makan, untuk sekitar 10 orang karyawan/ti yang bekerja di stasiun pengisian bahan bakar umum miliknya, semua karyawannya sangat senang dengan perhatian kecil dari Haris.


"Holmes, Zulham dan kamu Dodit, untuk hari ini kalian berjaga di sini sampai malam atau bagaimana, kemudian nanti kalian atur saja bagaimana jadwalnya untuk berganti dengan teman-teman kalian yang lain.


Mulai hari ini SPBU ini harus terus kita pantau, dengan kalian dan anggota kita lainnya secara bergantian ikut berjaga di sini. Tentukan dua orang setiap harinya, bergantian siang dan malam dari kalian, paham.?"


"Paham Tuan. Jadi ini juga sudah menjadi unit usaha kita juga Tuan..?"


"Ya kau benar Dodit, ini baru kita beli. Kedepannya tentunya kita harus jagalah aset-aset kita. Mungkin berikutnya nanti akan kita tambah stasiun pengisian bahan bakar semacam ini. Makanya jangan lupa, katakan pada teman-temanmu yang lain untuk mengatur jadwalnya."


"Iya siap Tuan. Kami akan mengaturnya Tuan."


"Oh ya, siapa yang mengambil cuti dari kalian, apakah sudah ada yang mengambil cuti.?"


"Belum ada Tuan. Semuanya merasa nyaman dan masih merasa enak bekerja Tuan, jadi belum ada yang minta cuti sampai hari ini."


"Haha luar biasa kalian memang luar biasa, pasti bonus akan menunggu kalian semua."


"Tuan..! Bisa bekerja dengan Tuan saja, sudah cukup bagi kami, Tuan telah memberikan kepada kami banyak hal.


Bekerja dengan Tuan adalah adalah impian lama bagi kami dan kami sangat senang menjalani profesi ini. Terima kasih Tuan mungkin sebagian dari kami selama ini tidak terlalu banyak punya kesempatan berbicara dengan Tuan, termasuk kami bertiga. Syukur hari ini kami dipanggil kemari."


"Hmmm.. begitu ya? Untuk itu saya minta maaf, itulah kekurangannya ada begitu banyak hal yang menyita waktu saya, sehingga mungkin kita atau beberapa dari kita ini kurang banyak berinteraksi, tapi hal itu tidak mengurangi rasa kebersamaan di hati kita semua. Percayalah saya pasti akan memperhatikan kalian semua.:


"Terima kasih Tuan."


"Oh ya kalian kenalkan ini, petugas keamanan internal dari SPBU kita ini, namanya Mas Sukri mungkin kedepannya kalian akan lebih sering bertemu dengannya."


"Iya Tuan, kami tadi sudah sempat mengobrol beberapa hal dan Mas Sukri ini enak diajak mengobrol Tuan, orangnya ramah kemudian selain itu juga cukup humoris."


"Ya senang rasanya kalau kalian mudah berbaur dan beradaptasi begini, baiklah Holmes dan juga Dodit serta Zulham mungkin saya akan pergi duluan, sepeninggal saya nanti apabila si Marwan datang, sampaikan padanya kalau masih ingin bekerja, bekerjalah dengan baik.


Jangan mencuri-curi waktu, datanglah seperti karyawan lainnya yang datang di pagi hari, atau dia akan diganti dengan yang lebih bisa bertanggung jawab.


Terus sampaikan juga perihal mas Totok, yang sudah saya tunjuk bekerja sebagai operator salah satu mesin dispenser SPBU kita dan tidak boleh lagi ada pungutan di kamar mandi dan WC itu.


Mungkin besok Mas Totok akan membawa saudaranya yang khusus untuk membersihkan tempat itu."


"Baik Tuan..!"


"Ya sudah kalau begitu saya pergi lebih dulu, selamat bekerja semuanya, sampai jumpa lagi."


"Sampai jumpa lagi Tuan."


Haris keluar dari ruangan itu hendak pergi meninggalkan semua orang, di bawah tatapan kagum para pekerja yang ada di SPBU itu. Kali ini mereka secara sah telah tahu bahwa Haris adalah pemilik aslinya, dari informasi yang diberikan oleh ketiga pengawalnya.


Sebenarnya mereka telah curiga dari bagaimana ketiga orang itu bersikap pada Haris, sehingga Sukri yang sudah lebih dekat berbicara kepada ketiganya memberanikan diri untuk bertanya dan dari pengawal Haris, Sukri kemudian tahu bahwa pemilik usaha yang sebenarnya adalah Haris dan Bram si pemilik sebelumnya, bahkan sudah menjadi pekerja Haris dan tidak lebih hanyalah anggota dan bawahan Haris saat ini sama seperti mereka.


Sesaat ketika hendak pergi dan memasuki mobilnya, Totok yang kebetulan berjaga saat yang lainnya bergantian makan siang, karena memang tidak sedang mengisi bahan bakar minyak kepada para pelanggan, berlari menuju kepada Haris.


"Pak saya mengucapkan banyak terima kasih atas diangkatnya saya bekerja disini dan saya juga minta maaf, kalau sebelumnya sama sekali tidak tahu kalau Anda adalah pemilik sebenarnya SPBU ini, sehingga sudah sempat meminta uang dari Anda di tempat Anda sendiri."


"Ha..ha..hah..Tidak apa-apa mas Totok, lagian itu juga cuma uang Rp3000, itu adalah perkenalan paling indah antara kita hahah.


Soal ucapan terima kasih, kedepannya bekerjalah dengan baik layani pelanggan kita dengan senyuman dengan keramah-tamahan, jangan sampai masalah-masalah di rumah membuat kita menjadi cemberut sehingga tidak enak dilihat oleh para pelanggan kita.


Tunjukkan rasa terima kasih Masnya melalui kinerja yang baik.


Kalau begitu saya tinggal dulu ya mas Totok."


"Iya Tuan sekali lagi terima kasih Tuan."


Sama-sama mas Totok. Oh ya jangan lupa besok carikan pengganti petugas kebersihannya dari saudara mas Totok, kalau tidak ada dari saudara karyawan-karyawan kita yang lain juga boleh, sampaikan pada mereka.


Yang jelas besok harus sudah ada petugas kebersihannya."


"Iya Tuan siap Tuan, ada kok Tuan. Saya punya saudara yang akan membersihkannya."


"Ya sudah aman, kalau begitu. Saya pergi ya mas Totok, selamat siang."


"Selamat siang Tuan."


Haris masuk ke dalam mobilnya kemudian memacu kendaraannya menuju puncak perbukitan ke tempat warung kopi milik Edi.

__ADS_1


Saat sore hari tiba Haris kemudian pulang bersama dengan Nando kembali ke Villa yang ada di desa P tempat Haris dan keluarganya saat ini bermukim.


__ADS_2