Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _99 : Hidup terlalu indah untuk disia siakan.


__ADS_3

[Panggilan telepon]


"Ya halo pak Hartono, apa kabar...?"


"Tuan...! Saya saat ini sudah berada di ruangan rapat bersama aula pertemuan, Kaya dan jaya bersama group."


"Bagus, apa Pak Wira sudah bicara soal penambahan saham kita pak Manager Hartono...?"


"Sudah tuan.


Beliau juga sudah memberi saya beberapa nomor rekening untuk transfer uang para pemegang saham, seperti yang tuan minta saya juga sudah membawa uang cash sebanyak 1,3Triliun tuan."


"Bagus kalau begitu saya hanya akan mengirim 2 Triliun lagi ya, untuk 25%saham kita dari total nilai aset yang 20T itu...?"


"Benar tuan 25%saham berarti 5T sedangkan sebelumnya uang kita sudah ada 1,7 Triliun disana tuan, jadi tinggal setor 3,3 T lagi tuan."


"Baik kalau begitu,Oh ya pak Hartono, silahkan atur semuanya disana, jangan kecewakan saya, ingat saya tidak bisa mengampuni pengkhianat."


"Iya tuan, saya faham tuan, mana berani saya berkhianat tuan, lagian saya sudah sangat bersyukur dengan segala yang tuan berikan pada saya.


Tapi saya mau bertanya satu hal tuan, bolehkah saya memasukkan anggota keluarga atau kerabat saya untuk bekerja di hotel kita tuan..?"


"Kenapa tidak pak Hartono.?


Selama mereka bekerja profesional, itu bukan masalah, seperti yang pernah saya ucapkan, keluarga lebih utama pak Manager Hartono."


"Terima kasih Tuan, karena sudah lama beberapa kerabat termasuk anak saya, ingin sekali bekerja di sana, tapi selalu saya larang.


Saya sangat takut Tuan. Saya takut kalau Tuan merasa tidak suka pada saya karena hal itu, juga tidak berkenan dan tidak mengizinkannya.


Setelah mendapat izin dari Tuan begini, saya tidak akan sungkan lagi. Akan saya pastikan mereka harus bekerja profesional Tuan, sebab kalau tidak saya sendiri yang akan menghukum mereka nantinya."


"Ya baiklah kalau begitu tidak ada masalah untuk itu, aku percayakan semuanya kepada Pak Hartono.


Baiklah Pak Hartono saya masih ada urusan lain di sini, kalau begitu silakan lanjutkan ikuti semua sesi pertemuannya nanti, untuk bisa kita ambil manfaatnya, demi kemajuan dan kelancaran bisnis kita kedepannya."


"Baik Tuan, kalau begitu saya pamit undur diri Tuan."


"Ya baiklah pak Hartono. Selamat pagi."


"Selamat pagi juga tuan."


[Panggilan berakhir]


Persis setelah pangilan itu selesai Haris kemudian membayarkan tambahan dari 1,7 triliun atau 17% yang sudah dia miliki di group Kaya dan jaya bersama group.


Untuk memiliki 25% saham, Haris harus memberikan uang sejumlah 3,3 triliun lagi dan sistem super canggih miliknya, telah mengatur segalanya untuknya.


Setelah beberapa saat beristirahat di kamarnya masing masing, baik Haris Edi dan Jhon segera berangkat ke kedai milik Edi yang ada di puncak bukit pinggiran kota P.


Haris menaiki mobil bersama Jhon dan Edi yang dibawa oleh Very dan Nando bersama dengan para pengawal Haris.


Tidak perlu waktu lama bagi mereka untuk sampai ke tujuan.


"Ah akhirnya kita sampai juga. Ayo ayo mari turun semuanya, aku akan hidangkan kepada kalian kopi yang istimewa hari ini."


"Wah ada yang istimewa juga ya Bang Edi...?"


"Ada dong untuk orang-orang istimewa, kopinya juga harus istimewa dek Haris hahaha."


"Iya tapi ini kedainya sudah makin bagus ya Bang Edi...?"


"Ya begitulah dek, seperti yang abang ceritakan sebelumnya, adalah sedikit perubahan dari yang lama.


Ayo ayo masuk semuanya...!"


"Kami duduk di tempat biasa saja bang Edi."


"Oh begitu yah?


Ya sudah kalau begitu, aku saja yang masuk untuk menyiapkan kopinya."


Haris segera turun, lalu baik Very dan para pengawal, segera dengan sigap mengangkat Jhon ke kursi rodanya dan mendorong ketempat favorit Haris.


"Bagaimana menurutmu tempat ini John...?"


"Wah ini tempat yang luar biasa Haris, tampak seluruh sudut kota terlihat jelas dari bukit ini.


Ternyata dunia ini masih begitu indah ya Ris...?


Ternyata dunia ini begitu luas, aku saja yang selama ini merasa kalau dunia ini begitu sempit."


"Ya begitulah John, makanya aku dan Darman sudah sepakat untuk membawamu sering-sering keluar, agar pikiranmu itu kembali semangat.


Kalau kamu terus berada di rumah dan itupun di rumah mertua, tentu pikiranmu akan menjadi buntu.


Kami tidak akan meninggalkanmu dan kami akan terus memberikan dukungan, juga semangat untukmu agar segera bangkit."

__ADS_1


"Terima kasih ya temanku Haris, ternyata kau adalah teman yang begitu setia kawan. Persahabatan kita ternyata tidak lapuk dimakan oleh zaman, aku sangat bersyukur punya teman sepertimu Haris."


"Hey teman. Sesama teman itu tidak perlu berterima kasih, apa yang aku dan Darman lakukan saat ini padamu, adalah bentuk tanggung jawab dan kasih sayang kami sebagai teman.


Kalau kau merasa perlu untuk membalas, maka cukuplah kau balas semuanya, dengan bersemangat untuk kembali menata hidupmu.


Kedepannya kita tidak akan lagi dipandang sebagai pendatang melarat yang hina, kita akan menjadi orang yang cukup untuk disegani, sehingga tidak semua orang akan berani sembarangan bicara seperti selama ini pada kita.


Terus terang saja John, aku dan Darman sudah berniat akan memberikan urusan 10 kapal penangkap ikan yang kita miliki di laut, sebagai pekerjaan untukmu nantinya.


Kau tidak perlu ikut berlayar Jhon, kau cukup menunggu di darat dan mengatur segala sesuatunya dari sana, di samping itu kamu nantinya juga tidak akan terlalu jauh dari Darman, sebab Darman telah aku angkat menjadi semacam asisten kebun yang baru saja kita beli.


Lokasi kebun itu sendiri sangat dekat dengan dermaga kapal yang kita miliki."


"Senang rasanya memiliki sosok pendukung, yang merupakan dua sahabat dekat seperti kalian.


Doakan aku agar cepat sembuh ya Ris."


"Ya tentu.!


Kami selalu mendoakanmu Jhon.


Baiklah, tapi sebelum itu lupakan saja semuanya.


Saat ini kau hanya perlu menyegarkan pikiranmu, jangan terlalu terbebani dengan pekerjaan itu.


Itu hanya pekerjaan mudah, nantinya kamu juga akan punya bawahan yang akan mengatur segala sesuatunya.


Sekarang ayo kita nikmati pemandangan yang begitu tampak indah ini."


Saat Haris dan John masih asyik bercengkrama, Edi beserta istri dan anaknya datang ke tempat Haris, sambil membawa kopi yang disebutkannya sebagai kopi istimewa itu.


"Nah ini dia kopi istimewanya, ayo ayo coba dinikmati...!


Jangan-jangan kopi ini hanya istimewa menurutku saja, tapi ternyata tidak menurut Tuan Haris dan kawan-kawan he he."


"Eh bang Edi sudah datang rupanya.


Oh jadi ini kakak itu Bang...?"


"Iya dek Haris, inilah kakakmu, istri Abang.


Ini anak kita yang lajang, yang kuceritakan tadi jaga kedai ini."


"Oh iya..! Halo Kak, kenalin kak, saya Haris."


"Iya bu..!


Om kenalkan nama saya Gunawan Om."


"Gunawan ya, apa kegiatannya sekarang Gunawan...?"


"Ya di sini ajalah Om bantu-bantu Ayah sama mamak."


"Apa kamu tidak pengen kerja Gunawan...?"


"Ingin juga sih Om, tapi buat Gunawan yang cuma tamatan SMA ini, susah juga om cari kerja."


"Kamu mau bekerja di hotel...?"


"Memang bisa Om, sayakan cuma tamatan SMA...?"


"Bisa dong...!


Kan hotelnya punya kita, ya sudah kalau kamu mau nanti kamu kerja saja di hotel."


"Tapi saya enggak pandai om kerja hotel."


"Ya kamu bisa belajar di sana nantinya, banyak kok pekerjaan di sana, jadi waiter pengantar makanan, pengantar minuman atau jadi Bellboy yang tugasnya menunjukkan dan mengantarkan para tamu ke kamarnya, juga membawa barang-barangnya.


Gajinya lumayan juga sih, kalau Gunawan mau."


"Kalau memang diterima, saya mau juga Om kerjanya sambil banyak belajar disana nantinya."


"Ya sudah kalau begitu kamu siap-siap, nantinya kamu akan di didik oleh para seniormu disana.


Berhubung ini nantinya, sesuai rencana Om sama Abang, kita mau bermalam di hotel, jadi sekalian saja kamu memperhatikan di sana, bagaimana cara mereka bekerja dan lagi kakakmukan juga sudah di sana bekerja."


"Iya Om, jadi Kakak juga sudah diterima ya Om...?"


"Sudah dari dulu diterima, sebelum datang heheh Om kan teman dekat sama Abang atau Ayah Gunawan, jadi pasti diterima dong."


"Terima kasih ya Om."


Gunawan begitu bahagia senyumnya begitu lebar, dia sangat bahagia sekali.


"Terima kasih ya dek Haris, dek Haris sudah begitu banyak sekali membantu keluarga kami, sudah memberi uang sama abangmu, memberikan pekerjaan bagi anak gadis kakak, sekarang pula mau menerima Gunawan kerja di sana."

__ADS_1


"Hahaha biasa aja lho kak, namanya berteman ya begitulah, harus saling dukung.


Oh perkenalkan juga Kak, ini teman saya namanya John, jadi tujuan kami datang kemari itu sebenarnya mau membawa dia supaya dia jangan terlalu suntuk di rumah."


"Oh iya tadi abangmu juga sudah cerita soal itu, semoga lekas sembuh ya adek Jhon..!"


"Iya Kak terima kasih Kak doanya."


"Ya sudah ya dek Haris dek Jhon, Kakak mau ke belakang dulu, mau menyiapkan beberapa hal lagi.


Kalian cerita saja di sini bersama abangmu."


"Iya kak iya, terimakasih ya Kak."


"Kakak yang berterima kasih dek Haris."


"He he kalau begitu sama-sama mengucapkan terima kasih."


"Iya dek Haris, kakak pergi dulu ya."


"Iya kak silahkan kak silahkan..!


Kami akan disini untuk membicarakan beberapa hal."


Setelah kepergian istri Edi, Jhon mulai bicara pada Edi.


"Pemandangan di sini indah ya Bang Edi. sepertinya kita akan betah walau seharian memandang dari tempat ini."


"Iya betul sekali dek Jhon, tapi sebagian orang ada yang mengatakan, kalau memandang dari sini, lebih indah saat di malam hari, soalnya menurut mereka bisa melihat berbagai macam cahaya lampu yang ada di kota.


Tapi kalau Abang sih lebih senang melihat pemandangan di siang hari begini, hamparan sawah yang luas itu kemudian jalan yang terbentang memanjang lebih enak dan jelas dilihat saat siang hati begini, sih kalau menurut Abang."


"Iya Bang kalau siangkan, semuanya jelas nampak kelihatan begini, apalagi itu gunung yang ada di sana itu, begitu indah megah dan kokoh.


Aku merasa pikiranku menjadi lebih terbuka setelah melihat semua ini."


"Wah bagus itu dek Jhon memang harus begitu, terkadang kita harus pergi ke ketinggian untuk bisa melihat yang ada di bawah, tetapi terkadang pula kita juga perlu berada di bawah, untuk melihat kepada tempat yang tinggi.


Dengan melihat semua hal ini, pikiran kita tidak hanya terhenti pada apa yang berada persis di depan mata kita saja, atau yang terbatas dan terhalang dinding dan jarak pandang yang dekat.


Hal yang menyebabkan kita merasa dunia ini seolah menjadi sempit, juga sering disebabkan oleh berbagai macam persoalan hidup dek Jhon.


Hidup ini terlalu indah kalau mau disia-siakan, kita harus bangkit dari keterpurukan, bukan begitu dek Jhon...?"


"Iya benar sekali bang, aku merasakan betul semua apa yang abang sampaikan.


Tapi beruntungnya aku punya sosok sahabat seperti bos Haris dan juga Darman.


Apalagi kali ini aku juga punya abang Edi sebagai teman, aku akan bangkit dan berjuang untuk segera pulih sekarang.


Seperti yang abang katakan, hidup ini terlalu indah untuk disia siakan. aku juga punya istri dan anak yang harus aku bahagiakan, karenanya aku harus segera bangkit dan membawa mereka pada kebahagiaan hidup itu."


John kelihatan begitu bersemangat dan tampak seolah cahaya yang terang tengah menyinari sorot matanya yang memandang pada kejauhan.


Haris begitu bahagia melihat perkembangan itu dan dia melemparkan senyuman yang indah kepada Edi, sebagai bentuk terima kasih yang dalam.


Edi yang melihat hal itu merasa dirinya menjadi sedikit lebih berarti, setelah bisa membangkitkan kembali semangat John, untuk bisa kembali berjuang.


Dia melihat Haris begitu tulus, terhadap teman juga begitu perhatian, sehingga bahkan usaha Edi yang sedikit ini, begitu berarti di matanya dan tampak jelas sekali dia begitu menghargainya dan menunjukan rasa terima kasih atas hal itu yang tercermin pada raut wajah yang Haris tunjukkan.


"Ayo sambil di minum kopinya, nanti kalau sudah dingin sudah tidak enak lagi lho."


"Eh iya bang, mari Jhon minum kopimu."


Haris menyeruput kopi yang ada di depanya dan menikmati cita rasa khas yang spesial berbeda dari yang biasa dia minum.


" Wah kopi ini memang spesial Bang Edi, cita rasanya berbeda, terasa lebih kuat dari yang biasa kita minum.


Semuanya menjadi lebih semakin indah sekarang, dengan adanya nikmat yang disuguhkan oleh kopi spesial ini."


"Iya benar Bang, aku juga penikmat kopi dan kopi yang Abang suguhkan kali ini, memang benar-benar spesial.


Wah beruntung sekali bisa diajak untuk minum kopi ini... he heh."


"Tenang saja kopinya masih ada kok tersedia, lain kali kita akan minum lagi ya dek John, yang penting sekarang mari kita menikmati hidup yang cuma sekali ini, betul nggak dek Haris...?"


"Iya betul sekali Bang Edi, aku setuju untuk itu.


Kedepannya kita akan berbenah untuk membenahi hidup kita ini, menjadi lebih indah.


Aku rasa warung kopi ini, juga harus semakin ditingkatkan lagi kualitasnya Bang, supaya pengunjung merasa lebih nyaman dan merasa lebih betah untuk minum di tempat ini, aku akan suntikkan dana tambahan."


Mendengar ucapan Haris itu, Edi menjadi tercengang.


[Sistem]


"Tuan..! ada misi tuan."

__ADS_1


__ADS_2