
"Kita mau kemana Bos malam ini.?"
"Huuhhh, sebenarnya aku ingin keluyuran malam ini Man, tapi tadi sudah dipesankan agar pulang jam setengah 10, ada acara keluargalah acara kecil-kecilan antara kami bertiga saja dengan istriku Diana dan Kirana."
"Wah kalau begitu kita tidak usah jauh-jauhlah Bos mainnya, aku juga tidak ingin kena getahnya nanti dikira jadi dalang yang membuat kita lupa waktu."
"Ya, kalau begitu kita mencari bandrek sajalah, sambil makan sate dan membelikan beberapa bungkus untuk dibawa pulang kepada anak dan juga orang rumah kita masing-masing."
"Hmmm..! Cocok juga itu Bos idenya. Terima kasih ya Bos buat semuanya, anak-anakku dan istriku sangat bahagia hari ini. Apalagi istriku bercerita kalau Nyonya Bos juga tidak menjaga jarak padanya dan menganggap dia sebagai teman yang satu level dengannya, meskipun pada hakikatnya sebenarnya tentu sangat jauh berbeda."
"Ah sudahlah temanku Darman, jangan membahas hal yang berat-berat begitu, aku membawamu keluar begini, justru untuk menyegarkan pikiran, bukannya untuk membahas hal-hal yang berat semacam itu, apalagi cerita-cerita yang akan mengundang air mata.
Sudahlah teman baikku. Siapa bilang kita jauh berbeda.? Aku sudah mengatakan kalau aku dan kamu itu sama saja. Kita berangkat dari level dan juga keadaan yang sama kok, berangkat dari keterpurukan yang sama, berangkat dari korban pembullyan dan penghinaan yang sama. Karenanya bersama pula kita akan tundukkan dunia ini, kita akan injak yang namanya kesombongan, kita akan sungkurkan manusia-manusia yang penuh dengan sikap keangkuhan terhadap kita."
"Terima kasih temanku Haris, kau adalah teman sejatiku. Kau adalah idola dan juga panutanku, aku akan selalu mengagumimu baik dulu maupun sekarang.
Aku sama sekali tidak mendapati perbedaan antara temanku Haris yang hari ini dan juga temanku Haris beberapa tahun yang lalu, sejak saat kita bukan apa-apa dan belum menjadi siapa-siapa."
"Ya sebagaimana kita dahulu sama-sama bukan apa-apa dan belum menjadi siapa-siapa, maka seperti itulah kita hari ini akan selalu sama.
Kalaupun akan menjadi siapa dan menjadi apa, tidak ada dan tidak boleh ada perbedaan sama sekali temanku Darman.
Oh ya teringatnya dengan perkebunan, sepertinya kita berikan saja pengelolaan perkebunan kepada adik kita Fauzan, biar dia jadi Bosnya disana.
Kamu dan juga teman kita si Jhon sebaiknya beralih pekerjaan saja, kalian berdua akan menjadi manager di dua hotel bintang lima milik kita saja, bagaimana Man.?"
"Ah aku mana tahu menahu, soal perhotelan Ris."
"Tidak apa-apa teman, seiring waktu kamu nanti akan paham dan tahu sendiri. Bukankah dahulu saat mengurus perkebunan kamu juga belum tahu apapun tentang hal itu..? Tapi ternyata kamu bisa belajar kok, aku sangat yakin temanku Bos Darman ini, adalah orang yang bisa berkembang dan beradaptasi.
Untuk apa kau terus terduduk di wilayah Timur, sementara tujuan awalku adalah untuk membuat kalian berdua sahabat sejatiku menjadi orang besar yang dikenal dunia. Jadi aku minta kau turuti saja permohonanku ini, kau akan menjadi Manajer hotel bintang 5 kita yang ada di kota P, tempat diadakannya pesta pernikahan Nando dan yang lainnya itu, seterusnya untuk Jhon aku akan membeli sebuah hotel bintang 5 di daerah pantai, tepatnya di kota S untuk Jhon yang akan menjadi manajernya di sana, sehingga disana hotel kita juga akan menjadi dua nantinya.
Kalian pasti bisa, aku yakin itu."
"Wah sebenarnya aku cukup gugup teman, kau angkat aku menjadi Manajer hotel begini, tapi karena kau begitu yakin dengan diriku, maka tidak ada alasan bagiku untuk meragukan diriku sendiri. Pasti dengan dukunganmu dan dengan bantuan orang-orang yang ada di sekitarku aku akan bisa belajar dan kemudian bisa paham segalanya."
"Nah begitu dong itu baru temanku, kedepannya kalian bisa saja jadi Manager hotel super mewah kita yang berada di ibukota provinsi, dan berkarir pada jenjang yang lebih tinggi nantinya.
Kalian bisa saja menjadi pengawas dan pengendali yang akan mengatur semua unit usaha perhotelan kita nantinya, Tentu bila sudah cukup paham soal seluk beluk dunia perhotelan.
Ayo, sudah sampai tuh, mari kita turun dan mari kita nikmati minuman bandrek dan juga waktu yang singkat ini.
Ingat Man, jangan lupa setengah 10 kita harus sudah sampai di hotel."
"Ha..ha..ha..! Siap bos. Sepertinya semakin jadi orang besar begini, waktu kita malah semakin terbatasi."
"Ini hanya terkadang saja Man ha..ha..ha. Sebenarnya tidak harus selalu seperti ini temanku. Ini hanya soal pembagian waktu antar wanita.
Itulah biang kerok dari semua ini sehingga sampai begini.
Kau tahu tidak Darman, tadi istriku mengatakan karena minggu depan aku akan akan menikah dengan dokter Shasmita, artinya menurut mereka, kedua istriku akan menjauh dariku selama sebulan penuh untuk memberikan akses penuh kepada istri yang muda, jadi ya sejak sekarang mereka ingin lebih banyak waktu bersamaku. Kadang-kadang aku merasa kedua istriku ini sudah seperti anak kecil lagi saja Man, ha..hah."
"Ya itu wajar sih teman. Itu cukup beralasan. Sebenarnya mereka ingin dekat begitu bukan melulu tentang apa, tapi yang namanya wanita apalagi sudah jadi istri kita, tentu sangat ingin dimanja oleh suaminya.
Istriku juga begitu kok."
"Begitu ya Man..?
Jadi ternyata bukan hanya istriku yang begitu.?"
"Tidaklah temanku Haris, kalau ditanya sama semua istri yang ada di dunia ini pasti begitu, kecuali istri yang hatinya sudah berselingkuh kepada laki-laki lain."
"Wah jangan sampailah Man, surga dunia itu adalah hati istri yang selalu terpaut bersama kita suaminya, sedangkan neraka dunia itu tentu salah satunya adalah kebalikan dari hal itu."
"Iya kau benar temanku Haris."
"Ya sudahlah Man, mari kita turun dan minum."
Baik Haris maupun Darman kemudian turun dari mobil, saat telah tiba dan berada di lokasi pusat jajanan kuliner, yang merupakan pusat jajanan kuliner di malam hari, yang yang memang menawarkan beberapa jenis makanan dan minuman yang siap memanjakan lidah para pengunjung.
Haris kemudian memesan minuman bandrek yang ingin mereka nikmati dan memesan beberapa bungkus sate dari pedagang sate yang juga letaknya tidak jauh dari pedagang bandrek tempat mereka duduk itu, sehingga Haris bisa memesan dari tempat mereka berada.
Kedua sahabat sejati itu kemudian menikmati minuman mereka, sambil bercerita tentang berbagai hal.
"Man sekarang kita sudah memiliki unit usaha SPBU di kota P ini dan di beberapa kota lainnya yang ada di ibukota provinsi, juga kota yang berdekatan dengannya.
Selain itu, kita juga punya usaha galangan kapal yang berpusat di daerah Pelabuhan kota M ibukota provinsi itu, jadi aku punya niat untuk memperlebar usaha ekspedisi kita nantinya, agar tidak hanya terbatas di dalam negeri saja, tetapi merambah sampai kepada manca negara.
Dengan jalur laut dan udara tentunya, karenanya aku juga berniat akan membuka usaha penerbangan, di mana nantinya kita akan membeli beberapa pesawat komersil yang akan dipakai untuk mengangkut penumpang antar negara."
"Wah yang bener Ris..? berita ini sangat mengejutkanku teman. Hal ini benar-benar mengguncang pikiranku. Apakah kekuatan usaha kita sudah seperti itu.?"
"Makanya temanku Darman, Aku tidak ingin kalian terus hanya fokus berada di wilayah Timur, unit usaha kita ini akan semakin besar nantinya, sehingga boleh jadi nanti bisa saja kita akan membuka hotel di beberapa kota-kota besar yang ada di luar negeri.
Jadi kau pelajarilah baik-baik bisnis perhotelan ini, atau kalau kau ingin nanti berkecimpung dalam dunia penerbangan atau dunia perkapalan, bisa saja masuk ke sana.
Untuk urusan perkebunan maupun pabrik kelapa sawit, biarkanlah jadi bagian Fauzan dan juga pak Samsul nantinya, yang akan menjadi raja atau Bos besarnya di sana.
Itu juga sebagai bentuk ucapan terima kasih kita atas dedikasinya yang cukup besar selama ini, terhadap perkebunan."
"Ya itu benar temanku Haris, adik Fauzan itu adalah orang yang sangat bisa diandalkan. Selain itu orangnya juga cukup bertanggung jawab dan pemikirannya pula cerdas, sigap dan tidak santai, dia juga penurut pada atasan."
"Ya karenanya biarlah dia menjadi bos di sana, baginya itu mungkin sudah sangat besar. Selain itu tidak tertutup kemungkinan bukan, kalau kita nantinya juga akan membuka lahan perkebunan perkebunan sawit yang lebih luas di wilayah-wilayah lainnya, sehingga jenjang karirnya bisa lebih besar lagi menjadi bos yang akan mengendalikan semuanya nantinya."
"Ya terserah kau sajalah teman, aku pada prinsipnya hanya ikut ke mana saja kau arahkan dan aku percaya sepenuhnya padamu."
"Terima kasih temanku Darman, kepercayaanmu yang begitu dalam itu sangat aku hargai."
"Ini mas minumannya."
__ADS_1
"Oh iya Mas, terima kasih.
Ada berapa gelas lagi Mas bandreknya.?"
"Masih banyak sih Mas, kenapa Mas..?"
"Saya pesan semuanya Mas, tolong bungkuskan semua ya."
"Se...semuanya Mas..?
Masih banyak lho Mas, kita juga baru buka ini Mas, belum banyak lakunya."
"Iya semuanya bahkan kalau itu lebih dari 100 gelas pun tidak apa-apa, karena kami juga orangnya banyak Mas."
"Iya Mas..Iya Mas..! Terima kasih Mas dagangan kami sudah diborong, tapi kalau tidak sampai seratus apa saya bisa pesan ke teman pedagang bandrek lainnya Mas"
"Iya boleh saja Mas.
Terima kasih kembali."
Pedagang bandrek itu sangat terkejut dan begitu bersemangat ketika Haris memesan semua minuman bandrek yang ada, yang merupakan dagangan miliknya, sehingga pedagang itu akan bisa pulang lebih cepat dari biasanya, dibandingkan teman-temannya yang lain sesama pedagang bandrek di tempat itu.
Haris kemudian melakukan hal yang sama memesan semua sate yang tersisa dari pedagang sate yang dia pesan satenya sebelumnya, karena itu dirasa masih kurang Haris kemudian meminta pedagang sate itu juga memesan seluruh dagangan sate milik teman penjual sate yang berada di dekatnya.
Kedua pedagang sate itu menjadi sangat bahagia, senyum manis tampak jelas terpancar dari bibir keduanya yang membuat hati mereka sangat bahagia.
"Ayo Man diseruput bandreknya, kalau sudah dingin akan kurang enak nantinya."
Bandrek bersama dengan berbagai jenis roti yang telah terhidang di meja Haris dan Darman menemani kedua sahabat sejati itu saat bercerita.
Sementara pesanan sate mereka sedang dikerjakan oleh pedagang sate.
"Kalau di pikir-pikir sungguh tidak disangka ya Ris, kita akan sampai pada titik ini..!"
"Ya apa sih yang tidak bisa kalau Tuhan yang sudah menetapkannya temanku Darman."
"Iya kau benar teman.
Ha..hah..Aku sudah mulai terbayang akan penampilanku nantinya, yang akan memakai jas dan dasi lalu dikenal sebagai Manager Darman ha..ha.. lucunya."
"Apanya yng lucu teman.? Kau pantas mendapatkannya. Kelak kau akan jadi pimpinan dari Manager Sudharta dan Manager Hartono."
"Ha..hah aku yakin si Jhon juga bakal terbelalak mendengar kabar ini nantinya."
"Ini Tuan sate pesanan Anda, ada 130 bungkus semuanya."
"Oh ya terima kasih Mas, berapa semuanya Mas..?"
"Ya kali 20 ribulah tiap bungkusnya, jadi berapa itu ya Mas.?"
"Hmm.. berarti Rp 2.600.000 semuanya Mas.
Ini uangnya Mas tiga juta, ambil saja kembaliannya tapi dibagi dua ya Mas."
"Ya sama-sama."
Haris dan Darman terus menikmati waktu kebersamaan mereka malam itu dan mengisinya dengan berbagai topik pembicaraan, tentang rancangan masa depan.
Keduanya baru berhenti bercerita dan bersiap-siap untuk pulang, setelah hari telah menunjukkan pukul 21.00 Wib atau jam 9 malam.
"Nah hari telah menunjukkan pukul sembilan malam teman, sepertinya kita sudah harus beranjak pulang."
"Ya. Kau benar Man. ayo kita angkat semuanya ke mobil."
"Biar kami yang mengangkatnya Mas."
Pedagang sate dan juga pedagang bandrek yang dagangannya diborong habis oleh Haris, menawarkan diri untuk membantu mengangkat dagangan yang telah dibeli Haris dari mereka itu.
"Terima kasih ya Mas sudah bantu mengangkatnya."
"Iya Mas sama-sama Mas.
Lain kali datang lagi ya Mas mampir kemari."
"Iya kami akan datang kemari, bila nanti sedang berada di kota P ini lagi."
Haris dan Darman kemudian segera pulang ke hotel tempat mereka akan menginap, di mana Darman yang berperan membawa mobil itu.
"Kelihatannya kamu sudah Mahir Man membawa mobil ini.?"
"Ha..ha..ha..! Begitulah teman, kadang-kadang aku juga heran kapan ya aku mulai bisa membawa mobil seperti ini. Hah..! lagi-lagi hal-hal seperti ini akan mengingatkanku pada saat-saat di mana kita dulunya masih keluar masuk hutan untuk sekedar mencari makan."
"Sudahlah temanku Darman. Biarlah itu menjadi bahagian dari lembaran dalam kehidupan kita, agar membuat kita menjadi manusia yang lebih pandai bersyukur dan juga lebih peka terhadap penderitaan orang lain kedepannya.
Itu sebabnya aku selalu berusaha untuk membahagiakan orang lain, walau dengan usaha sekecil apapun, karena aku tahu betul bagaimana pahit getirnya berada dalam fase, di mana kita tidak punya apa-apa dan tidak punya siapa-siapa untuk mendukung kita."
"Ya kau benar teman.
Dalam hal itu aku juga sangat setuju.
Makanya aku juga sebenarnya sudah mulai berpikir dengan cara pikir yang kau miliki saat ini.
Ya walaupun tidak banyak, aku juga sudah semakin hobi dan suka untuk membantu dan menolong orang lain, ada kesenangan yang bagaimana ya menjelaskannya..? Ya walau mungkin lagi-lagi itu nilainya tidak seberapa sih. Tapi dari apa yang aku lihat bagi mereka yang menerimanya, itu sajapun sudah sangat membuat mereka bahagia dan bisa melapangkan kesempitan yang sebelumnya mereka terima."
"Memang begitulah seharusnya teman, sedikit apapun bantuan akan sangat bernilai bagi orang-orang yang memang membutuhkannya. Aku merasa sangat senang, kalau ternyata teman baikku sudah merasakan hal yang sama dan memiliki kebiasaan yang sama dengan apa yang telah aku mulai sejak awal.
Terus terang sampai hari ini, hal yang paling aku benci dari seseorang selain pengkhianatan adalah manusia yang pelit, yang begitu sulit untuk berbagi pada manusia di sekitanya, setelah Tuhan memberikan banyak pemberian padanya.
Entah kenapa aku sagat mudah memaafkan kesalahan orang lain, tapi kalau dengan penghianat dan orang-orang yang pelit, aku masih perlu banyak belajar bagaimana caranya memaafkan dan memaklumi sikap mereka."
__ADS_1
Mobil Haris segera merapat masuk ke halaman hotel dan masuk ke area parkir bawah.
Setelahnya pengawal Haris yang bertugas jaga malam itu segera mendatangi Haris dan Darman.
Ayo Man ambil sate dan juga bandrek yang akan kau bawa pada anak-anak dan orang rumahmu, aku juga akan mengambil beberapa bungkus dari bungkusan ini untuk orang rumahku."
"Ya, ini sudah Ris."
"Ya sudah kalau begitu kita akan pergi."
"Tuan.. Selamat malam Tuan."
"Malam juga, eh kalian tugas jaga malam ini Salman dan David..?"
"Benar Tuan."
Kalau begitu tolong kalian bagikan bungkusan sate dan juga bandrek ini kepada teman-teman kalian yang sedang bertugas jaga, bagikan jangan hanya pada petugas yang ada di hotel ini saja, tapi kirim juga ke markas kalian yang ada di sana, mungkin disana juga masih banyak teman-teman kalian yang masih terjaga."
"Baik Tuan siap Tuan." kedua pengawal Haris yang mendatangi mereka itu segera memindahkan seluruh bungkusan sate dan bandrek yang dibeli oleh Haris, kemudian menutup pintu mobil milik Darman dan setelahnya mereka pamit permisi untuk pergi membagikannya.
"Kami permisi akan membagikannya sekarang Tuan."
"Ya pergilah. Katakan pada semua petugas kita yang sedang berjaga, agar semangat bekerjanya."
"Baik Tuan terima kasih Tuan."
"Tidak usah berterima kasih, pergilah."
Kedua pengawal yang bernama Salman dan David itupun, segera pergi meninggalkan lokasi parkir. Haris dan Darman juga segera memasuki hotel dan menaiki lift menuju ke lantai keberadaan kamarnya masing-masing.
"Selamat malam temanku Darman, aku akan naik ke lantai atas sampai berjumpa lagi besok hari."
"Selamat malam juga temanku Haris, yang semangat ya pestanya bersama istri."
"Ha..hah Darman..Darman..! Kau masih ingat saja hal itu. Kau juga punya kok hehe."
"Ha..ha aku hanya menggodamu teman, pergilah mereka pasti sudah menunggumu, sudah hampir setengah sepuluh lho."
"Ya baiklah teman."
Haris lalu memencet tombol paling atas, tempat dimana kamar paling mewah miliknya di hotel itu berada.
Setelah memasukkan kunci card miliknya Haris segera masuk ke kamarnya.
"Abang sudah pulang.?"
Kirana tersenyum menyambut kekasih hatinya yang datang tidak sampai jam 10 itu.
Kirana lalu menarik Haris, ke kamar yang spesial telah disiapkannya.
"Wah harum sekali ruangan ini dek.?"
"Abang suka aromanya.?"
"Ya. aromanya enak."
Kirana lalu mendekat dan bermanja pada Haris.
"Bang..!"
"Ya..?"
"Dari kami bertiga siapa sih, yang paling cantik Abang rasa.?"
"Waduh pertanyaan yang berat ini. Abang tidak mau mengatakan dek Kirana yang lebih cantik saat Adek bersama Abang dan mengatakan yang lainnya lebih cantik saat Abang bersama mereka.
Yang jelas kalian bertiga telah mewakili setiap kecantikan yang ada di dunia ini. Intinya kalian bertiga membawa kecantikannya masing-masing lho dek.
Apakah dek Kirana akan marah dengan jawaban Abang itu.?"
"Tidak Kirana cukup puas dengan jawaban itu, jangan sampai Abang membanding-bandingkan kami bertiga kedepannya sampai kapanpun."
"Tentu tidak, ketiga ratu dalam kehidupanku ini adalah wanita paling istimewa yang ada di dunia ini."
Kirana lalu semakin agresif dan mengambil inisiatif. Haris yang paham segera memanjakan istrinya yang sangat dicintainya itu.
Kirana heran dengan daya tahan yang dia miliki saat ini, yang jauh lebih dari biasanya, dia sangat menikmati hal itu, sehingga bermain sampai malam begitu larut .
Kirana baru tertidur, setelah cukup lelah bergerak begitu aktif dan terkesan buas dari biasanya ya sampai larut malam itu.
"Ah akhirnya tertidur juga dia."
Haris lalu pergi mandi ke kolam renang di lantai atas miliknya dan mengganti pakaiannya setelah merasakan tubuhnya terasa segar kembali.
Ketika menatap istrinya Diana, Haris merasa bersalah melihat istrinya itu telah terlelap tidur pulas, yang mungkin saja sejak tadi menunggu.
Haris segera mendekatinya dan baru menyadari, kalau ternyata Diana tidak tidur sejak tadi dan hanya berpura-pura, untuk menguji apakah Haris akan mendatanginya.
Haris tidak mengatakan kalau dia tahu Diana istrinya sedang tidur, tetapi dengan lembut dan penuh kasih sayang, dia mencumbui istri pertama itu.
"Ah Abang sudah datang.? Abang mau apa.?"
"Mau apalagi.? Ya mau mendekati istriku yang cantik ini dong."
"Ah memangnya Abang belum melakukannya bersama dek Kirana.?"
"Sudah, tapi aku juga masih ingin bersama istriku yang sangat cantik ini."
Diana tersenyum manis lalu meladeni suaminya dengan penuh cinta yang semakin membara.
__ADS_1
Diana juga semakin sadar perbedaan yang terjadi dalam dirinya, sejak saat Haris melakukan pengobatan padanya.
Waktu terus berjalan, sedangkan dua insan yang seperti baru kali itu saja pernah di mabuk asmara itu, masih sibuk dengan kegiatannya sampai hari menjelang pagi.