
Saat rombongan Marlon dan juga seluruh bawahannya sedang mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyerang kantor dan pihak Haris.
Master Lim sudah sampai di kantor ekspedisi milik Haris itu dan meminta izin untuk bertemu dengan Haris.
Mengetahui Master Lim datang berkunjung, Riston yang datang melapor pada Haris untuk menyampaikan permintaan izin bertemu itu, oleh Haris dipersilahkan membawa Master Lim ke ruangannya.
"Selamat pagi jelang siang Master Haris."
"Ya selamat pagi jelang siang juga Master tua.
Tidak disangka kita kembali bertemu lagi di sini, ada apa gerangan yang membuat master sehingga datang mendadak, tanpa memberitahu seperti ini...?"
"Ah soal itu maafkan saya Master Haris.
Saya memang salah, karena tidak memberitahu terlebih dahulu. Tetapi memang hal ini saya lakukan karena sifatnya urgent.
Ada hal penting dan mendesak yang harus saya sampaikan kepada Master Haris."
"Apa itu kira-kira Master tua..?"
"Hal ini terkait informasi keponakan dari Tuan besar saya yang kabarnya siang ini, akan datang dengan beberapa puluh anggotanya untuk menyerang kemari, jadi saya diperintahkan oleh Tuan besar untuk memberitahukan hal itu kepada anda."
"Sungguh hal yang menarik, artinya berarti Tuan besar Master tua sudah menganggap kita ini sebagai sahabat..."
"Sudah saya katakan sebelumnya Master Haris, kalau Tuan saya itu juga tidak terlalu berpihak kepada keponakannya yang berandalan itu.
Selama ini Tuan mendiamkannya, hanya karena terpaksa, sebab tidak punya pilihan lain.
Tuan besar adalah orang yang realistis Master Haris, orang yang termasuk masih mau mendengar nasehat dari orang lain seperti saya ini.
Ketika Saya mengatakan kalau Saya sudah bersahabat dengan Master Haris, maka otomatis Tuan besar juga sudah merasa bersahabat dengan Master Haris.
Itulah sebabnya saya diutus kemari untuk memberitahukan hal yang sebenarnya masih rahasia itu.
Kami sendiri bisa mengetahui rencana itu adalah, karena memang ada beberapa orang yang disusupkan oleh Tuan besar masuk ke dalam kelompok keponakannya itu, untuk melihat gerak-geriknya dan melaporkannya ke Tuan besar, sebab sudah beberapa kali si Marlon ini melakukan hal-hal yang dapat membahayakan dan merugikan perusahaan.
Itulah kenapa Tuan, besar merasa berkepentingan untuk mengetahui lebih dahulu dari siapapun atas apapun yang akan diperbuat dan direncanakan oleh si berandal itù."
"Oh begitu ternyata.
Kalau begitu sampaikan salam hormat dan ucapan terima kasih dari saya.
Tapi saya masih penasaran Master tua, kira-kira hal apa yang membuat Tuan besar anda itu, Katakanlah tangannya menjadi seolah-olah terikat dan tidak bisa bertindak mendisiplinkan si Marlon putra abangnya itu, sehingga mendiamkan putra dari Abang kandungnya sendiri.
Padahal bukankah kalau secara tutur, beliau masih termasuk barisan orang tua dari si Marlon...?"
"Ya benar sekali.
Apa yang Master Haris katakan itu memang benar adanya, Tuan besar memang termasuk dari barisan orang tua, tetapi si Marlon ini memang dasarnya adalah anak yang semrawutan prilakunya, tidak tahu aturan, bandel dan bertindak semaunya.
Malah sebagian orang di kelompok kami berkeyakinan besar, kalau ayahnya sendiri itu justru dahulunya mati disebabkan oleh si Marlon ini, karena kematian ayahnya begitu mendadak dan sebelumnya juga tidak punya riwayat penyakit.
Itulah yang membuat kamipun banyak yang tidak suka kepadanya, termasuk Tuan besar.
Tetapi karena uang yang dimiliki oleh Abang tuan besar, yang merupakan ayah anak itu banyak tertanam sebagai saham di perusahaan tambang yang mereka miliki, sedangkan si Marlon adalah pewaris dari semua kekayaannya itu.
Hal itulah yang kemudian menyebabkan tangan Tuan besar terikat, tidak dan belum bisa lepas dari si Marlon berandalan itu."
"Kalau hanya itu kenapa Tuan anda tidak berpikir untuk mencari, Mitra bisnis yang lain Master tua...?"
"Bukannya tidak terpikir Master Haris, bahkan Tuan selalu menjalin hubungan dengan beberapa orang yang merupakan rekanya sesama pengusaha dari kalangan berduit tentunya.
Namun tidak ada satupun dari mereka yang bersedia, rata rata mereka usahanya juga sedang menurun.
Disamping itu sebahagian dari rekanya memang ada juga yang tidak mau, karena takut berurusan dengan si Marlon, termasuk juga ada yang menganggap bisnis pertambangan itu kurang menarik Tuan.
Belum lagi jumlah uang yang harus di investasikan tentunya akan sangat besar dan bukanlah jumlah yang sedikit Tuan."
"Oh begitu rupanya, mencapai angka triliunan barangkali ya Master tua...?"
"Benar sekali tuan."
"Baiklah nanti kalau Saya merasa perlu untuk meluaskan bisnis, Saya akan bersedia menanamkan investasi senilai dua triliun di sana.
Namun saat ini saya sedang fokus membangun pabrik pengalengan ikan dan juga akan membangun pabrik kelapa sawit, kebetulan saya punya ±600 hektar kebun sawit.
Termasuk saya akan fokus dulu untuk menyelesaikan dan menghancurkan si Marlon ini Master tua.
__ADS_1
Saya akan membantu Tuan anda, mendisiplinkan si Marlon itu.
Terima kasih Master tua sudah memahamkan kepada Tuan besar anda, sehingga saya yakin Tuan besar anda tidak akan ikut-ikutan dalam masalah ini.
Saya berani menyimpulkan itu melihat dari sikap dan juga perilakunya yang justru memberitahukan kedatangan musuh yang akan menyerang."
"Ya begitulah Tuan Haris intinya memang Tuan besar lebih berpihak kepada Master Haris.
Mengenai keinginan Tuan untuk ikut menanamkan saham di group perusahaan Tuan besar, bolehkah nanti saya sampaikan...?
Saya rasa beliau akan sangat gembira mendengar kabar baik ini, mengingat bagaimana Tuan besar selama ini juga mencari Mitra bisnis strategis, untuk pengembangan bisnis pertambangan ini menjadi lebih besar.
Anda tidak sedang bergurau dengan angka yang anda sebut itukan Master Haris...?"
"Hahaha tentu tidak Master tua, apa Master masih ragu saya punya uang sebanyak itu...?
Saya tidak pernah bergurau kalau urusan bisnis, Saya juga punya saham senilai 25% di grup kaya dan Jaya Bersama group yang total nilai asetnya itu nilai 5 triliun.
Jadi buat apa saya mengatakan omong kosong kepada anda...?
Sejak awal sudah Saya katakan, Saya ini punya banyak uang tetapi barangkali Master tua ragu, melihat dari usia saya bukan...? Hahaha."
"Ah bukannya Saya meragukan Tuan Haris, hanya saja Saya harus akurat kalau berbicara pada tuan besar Tuan."
Tapi memang sungguh hebat, di usia anda sekarang sudah punya saham sebesar itu di korporasi Kaya dan Jaya bersama group, yang merupakan Grup raksasa itu."
"Oh ternyata Master tua juga pernah mendengar nama group itu ya...?"
"Tidak mungkin tidak mendengar Tuan Haris, itu adalah korporasi yang bergerak di bidang perhotelan super mewah.
Siapa yang tidak mengenali itu, tentu saja Saya pernah mendengar dan mengenalnya.
Ternyata Master Haris ini selain ahli beladiri, rupanya juga ahli ekonomi dan ahli mengembangkan uang.
Tidak terhitung lagi berapa kosong saya kalah kalau begitu Master Haris, tampaknya usia saya ini memang hanya sia-sia saja kalau harus dibandingkan dengan pencapaian Tuan."
"Tidak begitu juga Master tua, Sayapun juga adalah orang yang melarat sebelumnya, tapi garis takdirlah yang membawa saya seperti sekarang ini.
Jadi segala sesuatunya itu bukan karena kehebatan dan kemampuan kita, tapi karena memang suratan takdir yang kita semua tidak bisa lari daripadanya."
"Baiklah kalau begitu Master Haris saya barangkali tidak bisa berlama-lama juga untuk berbicara dengan anda, apalagi seperti yang saya katakan, kalau mereka akan datang siang ini artinya tentu Tuan juga perlu bersiap-siap.
Ya setidaknya saya bisa memukul beberapa orang bukan...?"
"Hahah...! Tidak mesti begitu Master Tua, meski terlihat sedikit begitu, para pengawal saya itu semuanya adalah ahli beladiri terlatih.
Saya sudah cukup merasa sangat bahagia, dengan datangnya Master tua memberitahukan informasi pasti tentang penyerangan hari ini, itu saja sudah cukup.
Saya merasa kami bisa mengatasi keadaan ini, yang kedua kalau Master tua terlihat di sini, justru ke depannya pihak si Marlon ini akan lebih berjaga-jaga lagi, sehingga informan anda yang ada di dalam itu bisa celaka dan tidak bisa lagi bekerja dengan efektif kedepannya.
Maka dengan segala hormat sepertinya pilihan agar Master tua tidak berada di sini, itu lebih baik."
'Baiklah Master Haris saya paham semua maksud dan tujuan master Haris, kalau begitu bolehkah saya menyampaikan ke Tuan besar saya hasil pembicaraan kita ini Master Haris"
"Ya silakan saja Master tua sampaikan saja segala sesuatunya.
Sampaikan juga ucapkan terima kasih saya, kepada Tuan besar anda atas perhatiannya, mudah-mudahan kedepannya setelah masalah ini selesai, Kita bisa menjalin kerjasama yang baik."
"Baik Master Haris, terima kasih Anda masih menyempatkan waktu untuk saya.
Sekarang saya pamit untuk pulang. "
"Ya silahkan Master."
Lalu pria tua itupun kembali pulang menuju rumah besar milik Tuannya yang berada di pusat kota.
Satu jam setelah kepergiannya, kemudian beberapa mobil berhenti tepat di depan kantor ekspedisi milik Haris.
Sejumlah 70 orang lebih turun dengan membawa alat pukul berupa kayu, mereka mencoba merangsek masuk ke dalam area kantor ekspedisi milik Haris.
'Bersiap semuanya...! Musuh telah datang."
Tanpa menunggu kelompok Marlon memasuki halaman kantor ekspedisi milik Haris, 28 orang bawahan Haris langsung keluar menerjang seluruh anggota Marlon yang ada.
Akhirnya baku hantam yang tak terelakkanpun terjadi di siang hari itu, tepat di pinggir bahkan tengah jalan raya.
"Ayo mari kita hancurkan semuanya, jangan kasih ampun.
__ADS_1
Ratakan semua kantor ini....!"
Marlon memberikan perintah kepada anak buahnya, seketika anak buahnyapun menjadi bertambah beringas."
"Ayo kita hajar semuanya kawan kawan...!
Mari kita tunjukkan kepada para berandalan ini, apa itu yang disebut dengan kekuatan."
Riston juga memberikan 'mantra' penyemangat bagi para pengawal di pihak Haris.
Meski sedikit, pengawal milik Haris bisa mendominasi keadaan.
Keberadan mereka yang merupakan para ahli beladiri itu, dimana bahkan beberapa orang dari mereka, merupakan mantan militer yang dipecat, karena indisipliner, itu menguntungkan pihak Haris.
Dengan mudah pihak Haris, bisa mendaratkan pukulan dan bogem mentah di sekujur tubuh perusuh dari pihak Marlon.
"Bam.. gedebuk.. plak...gedebam."
Berbagai suara, yang ditimbulkan akibat pukulan dan tendangan kearah perusuh di pihak Marlon, terus terdengar.
"Ampun Bang Ampun.."
"Bang maaf Bang Maafkan saya Bang."
"Tolong jangan bunuh saya Bang, saya masih punya istri Bang punya anak Bang."
"Akhhh.... tanganku patah.."
"Berbagai suara memelas, suara meminta ampun dan jeritan kesakitan, mulai terdengar dari pihak Marlon yang mulai tersudut.
Banyak diantara anggotanya yang sudah tidak sanggup melakukan pertarungan, karena sudah terkapar lemas dan kalah kekuatan.
Haris yang diberitahu oleh para pegawainya kalau di luar telah terjadi pertarunganpun telah keluar untuk ikut menyaksikan kejadian.
Haris kemudian menghubungi Ridwan yang segera membawa pihak aparat kepolisian.
"Bangsat...! kenapa Polisi masih datang...?
Apa bawahanku belum mengurus segalanya...?
Lalu dimana anggota yang di janjikan sepupuku untuk membantu, kenapa mereka bisa terlambat selama ini...?"
Marlon menjadi panik tentang keadaan yang terjadi di pihaknya, dia tidak menyangka rencana yang sudah begitu rapi dia susun, agar pihak berwajib tidak datang dan juga bantuan tenaga dari para bawahan sepupunyapun tidak tiba.
Melihat hal yang tidak menguntungkan itu, dengan pengecutnya Marlon yang sejak awal memang berada di belakang para anggotanya, lalu berlari masuk ke mobilnya dan menginjak pedal gas sekuat-kuatnya, pergi meninggalkan anak buahnya yang ada di sana.
Apa yang tidak dia fahami adalah, bahwa pamannya si Tuan besar, sudah meredam segala bantuan yang dia susun, dimana sedianya akan datang dan berasal dari para sepupunya.
Pamannya telah memilih untuk berpihak kepada Haris dan sangat yakin bahwa permasalahan keuangan di perusahaannya kelak dengan mudah akan bisa diatasi dengan investasi dari Haris, jika saja Marlon memilih untuk menarik seluruh investasi miliknya.
"Kalian lihat Bos kalian sudah lari terbirit-birit, si pengecut itu telah menipu dan meninggalkan kalian sendiri di sini dalam keadaan terluka.
Sementara polisi pula sudah akan tiba, menangkap kalian."
Haris merasa miris melihat orang-orang itu dan dia mengucapkan nasehat kepada para perusuh yang jumlahnya puluhan itu.
"Tuan tolonglah kami Tuan, lepaskan kami Tuan.
Kami berjanji tidak akan mengikuti orang itu lagi Tuan.
Kedepannya kami semua akan bekerja dengan baik baik Tuan.
Kami punya keluarga yang harus kami nafkahi Tuan.
Maafkan kami Tuan. Tolonglah bantu lepaskan kami Tuan."
"Baiklah, kali ini aku akan melepaskan kalian, tapi kalau aku masih melihat wajah-wajah kalian sekali lagi datang merusuh, maka aku tidak akan segan-segan mengirim nyawa kalian ke alam lain.
Jangan berpikir kalau kalian tidak dikenali, seluruh wajah kalian sudah kami ingat dan kamera CCTV yang ada di sini, sudah menyimpan bentuk wajah kalian semua.
Sekarang sebelum aparat berwajib tiba dan menangkap kalian, pergilah semuanya...!"
Mendengar izin telah diberikan, walaupun mereka dalam keadaan terluka, para perusuh itu kemudian berpencar berlari terseok-seok.
Ada yang memegang perutnya, sebahagian berlari dalam keadaan pincang, terus berlari untuk bersembunyi.
Tak lama setelah orang-orang itu menghilang dari pandangan, Ridwan dan petugas yang mengiringinya tiba di kantor itu.
__ADS_1
Para polisi itu kemudian menanyakan tentang apa yang terjadi disana.
Haris kemudian menjelaskan situasi penyerangan itu, serta mengatakan kalau para perusuh, semuanya telah pergi karena melihat pimpinannya sudah lebih dahulu berlari meninggalkan lokasi.