
"Bos, apa yang terjadi...? Kenapa Anda berlari dan sangat ketakutan tadi...?"
"Dasar bodoh kau Arman...! Kau masih bertanya kenapa Aku lari...?
Apakah tidak kau lihat semua anggota-anggota bodoh Kalian itu, hampir mampus semuanya dihajar oleh para pengawal si badj!ngan itu."
"Lalu kemana kita akan pergi sekarang Bos...?"
"Tutup mulutmu dan teruslah memegang setir jangan banyak bicara, kau hanya membuat kepalaku bertambah pusing saja.
Albert...!"
"Ya Tuan...!"
"Hubungi Tommy...!"
"Baik Tuan..!"
Pria yang disebut Albert kemudian buru-buru mengambil HP-nya lalu dengan satu tombol panggilan cepat, dia menghubungi orang yang disebutkan oleh Marlon.
Tommy merupakan oknum aparat berwajib, yang selama ini merupakan sosok yang dipakai oleh Marlon, untuk bekerjasama demi kepentingannya, untuk mengamankan segala perbuatan kotornya, agar tidak terendus atau di ganggu oleh pihak yang berwajib."
"Ya Halo Albert..!"
"Halo Pak Tommy, ini Bos mau bicara dengan bapak."
"Baik Albert.
Silahkan berikan Handphonenya."
"Halo Tommy, Kau ini bagaimana sih...? Apa Kau tidak salurkan uang yang telah kuberikan...?
Kenapa Kau tidak menghalangi mereka agar jangan datang, kau malah tiba-tiba menghubungi Aku untuk mengatakan kalau aparat sudah meluncur ke lokasi tadi...?
Untung Aku mendengar panggilanmu, bagaimana kalau Aku tidak sempat mendengarnya...?
Apa sih yang kau kerjakan, Kenapa masih bisa terjadi begini...?"
"Dengarkan Aku Marlon, dengarkan aku dan jangan terlalu banyak bertanya.
Hari ini tampaknya kau salah dalam mencari lawan dan membaca keadaan.
Lawanmu kali ini bukanlah orang sembarangan dan tidak sesederhana yang Kau pikirkan.
Boleh jadi orang ini lebih kuat, lebih berpengaruh dan lebih kaya darimu, maka sebagai teman yang pernah bekerja sama, Aku memperingatkanmu agar kau berhati-hati.
Sejak saat ini Kau juga sedang dalam bahaya, dari apa yang aku dengar Kau sudah resmi menjadi target mereka.
Sosok ini juga dekat dengan Komandan, jadi Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi untuk membantumu.
Aku sendiri saat ini sedang dalam pengawasan internal institusi kami."
"Brengsek...! Setelah Kau banyak memakan uangku, sekarang Kau malah mengatakan omong kosong seperti itu....?
Apakah kau pikir bisa lepas begitu saja dariku dan Kau pula berani mengatakan hidupku dalam bahaya...?
Kurang ajar, apa Kau tidak tahu Aku tahu semua hal tentangmu..?
Apakah kau yakin bisa menjaga keluargamu setiap saat...?"
"Hei Marlon apakah Kau mencoba mengancamku...?
Jangan macam-macam kepada keluargaku...!
Aku juga banyak tahu segala hal tentang dirimu, kalau memang Aku mau berkhianat, Aku bisa saja sejak awal memberitahukan identitas dan segala hal tentangmu.
Namun Apakah Kau lihat, Aku melakukannya...?
__ADS_1
Aku tidak sebodoh itu, mengungkapmu sama saja artinya, dengan membuang peluang untuk menjadi kaya.
Menurutmu untuk apa aku memperingatkanmu...?
Aku mengatakan itu, adalah agar kau lebih berhati-hati hati dan mencari cara terbaik lepas dari masalah ini.
Kau harus tahu bahwa Kau bahkan tidak punya apa apa sebagai bukti, dimana Aku pernah bekerja sama denganmu, berbeda denganku yang memiliki semua dokumen tentang kejahatanmu.
Jadi jangan macam macam.
Ingat jangan coba-coba kau sentuh keluargaku, semua dokumen tentang kejahatanmu ada di tanganku Marlon dan itu ada di suatu tempat yang tak bisa kau duga di kantor Kepolisian.
Setiap saat polisi lain bisa saja membuka data data itu.
Jadi yang harus Kau pikirkan sekarang adalah, bagaimana caranya menaklukkan musuhmu.
Saat ini di dalam lingkaranmu ada pengkhianat.
Apakah Kau tidak heran, kenapa para sepupumu tidak datang memberikan bantuan, sesuai apa yang kalian bahas sebelumnya...?
Semestinya dari hal itu saja, Kau sudah tahu bahwa lawanmu kali ini, bukanlah orang sembarangan.
Dia adalah orang yang kuat, orang yang bahkan ditakuti oleh para saudara-saudaramu, lebih dari takutnya mereka padamu, sehingga mengabaikan dirimu.
Itu yang harus Kau pikirkan Marlon, bukan menargetkan keluargaku."
"Oh ya...!
Hmmm....Ternyata begitu
Aku hanya sedang kesal saja Tommy, jangan kau masukkan ke dalam hatimu.
Artinya untuk saat ini, kita adalah sosok yang tidak saling kenal, meski begitu kau harus tetap membantuku sebisamu, sebab Aku juga masih bisa bicara untuk melibatkanmu.
Selesai mengurusi hal ini kita akan kembali beraksi lagi, seperti yang Kau katakan Aku adalah peluangmu untuk menjadi seorang yang kaya, kalau kau setia aku akan membuatmu kaya raya Tommy camkan itu.."
"Kalau begitu Aku akan mengurus segala sesuatunya dengan tuntas sekarang, sampai jumpa lagi Tommy."
Marlon kemudian memutuskan panggilan telepon terhadap Tommy.
"Albert...!"
"Ya Tuan..."
Hubungi seseorang untuk mengurusi keluarga si Tommy ini.
"Tapi Tuan, bukankah baru saja Tuan mengatakan, kalau kita akan bekerja sama lagi seperti dulu...?"
"Sejak kapan kau mulai berani membantahku Albert...?
Pria itu telah berubah menjadi ular sekarang, tangkap seluruh anggota keluarganya dan sembunyikan di tempat aman.
Aku tidak percaya lagi pada si Tommy ini."
"Baik Tuan."
"Jangan lupa juga rekrut beberapa pembumuh bayaran dari dunia bawah tanah, untuk memusnahkan keluarga pemilik jaringan usaha ekspedisi itu."
"Baik Tuan."
Di sisi lain Tommy yang sudah kenal dan tahu betul seperti apa watak Marlon, segera mengungsikan seluruh anggota keluarga kecilnya.
Tommy menyembunyikan anggota keluarganya ke kota lain, yang merupakan tempat kerabat Tommy yang tidak pernah diketahui oleh Marlon.
Tommy tahu betul seperti apa kemampuan orang-orang yang dimiliki atau yang bisa digerakkan oleh Marlon, karenanya Tommy tidak mau menganggap remeh masalah ini dan mengabaikan keselamatan keluarganya.
Setelah lama berpikir bagaimana caranya untuk bisa lepas dari jeratan Marlon, akhirnya Tommy memloh dan memutuskan untuk merapat berada di pihak Haris.
__ADS_1
Selanjutnya Dia bergegas untuk menemui Haris dan memberikan segala data tentang Marlon.
Sementara itu Marlon terus meluncur menuju ke sebuah tempat persembunyian miliknya, Dia biasa lari dari suatu masalah ke sebuah ruang bawah tanah miliknya.
Tempat itu berada di daerah pelabuhan kota S.
Setelah tiba di suatu tempat yang merupakan jalanan yang berlokasi di hutan belantara, Marlon menyuruh Arman untuk berhenti dan membukakan pintu untuknya, dengan alasan akan membuang air kecil.
Setelah Arman berhenti dan turun untuk membukakan pintu bagi Marlon, tanpa diduga oleh Arman dan juga Albert, Marlon menembakkan pistol berperedam yang memuntahkan dua timah panas, menembus perut milik Arman yang langsung saja terkapar jatuh dan mati di tempat.
"Tuan, kenapa Anda membunuh Arman...?
Bukankah Dia adalah orang kita sendiri Tuan...?"
"Kau tenang saja Albert, Dia itu bukan lagi orang kita, Aku menduga Dia itu adalah seorang mata-mata dari keluargaku, sekarang Kau yang mengemudi agar kita akan terus menuju tempat yang biasa.
Sebaiknya Kau juga tidak pernah terpikir atau berpikir untuk mengkhianatiku Albert...!
Sebab siapapun yang mengkhianatiku akan mati seperti Arman."
"Baiklah Tuan.
Mana mungkin saya berkhianat kepada Tuan, saya bersama Tuan sudah begitu lama.
Apakah Tuan juga curiga kepada saya...?"
"Tidak. Aku tidak curiga kepadamu dan tidak pernah berharap akan curiga kepadamu Albert, karenanya jangan kecewakan aku."
"Baiklah Tuan.
Albert lalu pergi ke tempat kemudi dan membawa mobil itu melesat dari tempat itu dengan kencang.
Setiap waktu terasa begitu lambat berjalan bagi Albert, yang berada di depan seorang psikopat yang baru saja menembak orangnya sendiri.
Albert begitu khawatir dan jantungnya tidak bisa berdetak dengan tenang, karena begitu khawatir kalau peristiwa penembakan yang baru saja terjadi di depan matanya, sewaktu-waktu bisa terjadi kembali dimana dia yang akan menjadi sasarannya.
Setelah menempuh empat setengah jam perjalanan, Marlon dan juga Albert sampai di suatu tempat di daerah pinggiran Pelabuhan kota S.
Langsung saja Marlon pergi menuju ruang bawah tanah, yang merupakan semacam bunker tempat persembunyiannya.
"Albert...! Pergilah untuk membeli beberapa barang yang akan menjadi bekal dan juga segala hal yang kita perlukan.
Aku akan menghubungi orang-orang kita dari sini, jangan pernah katakan kepada orang-orang kita sekalipun kalau Aku sedang ada di sini.
Sebab Aku merasa Tommy tidak berbohong soal adanya pengkhianat yang berada di sekelilingku dan ingat Kau sendiri jangan pernah berkhianat.
"Tidak mungkin Tuan, saya ini adalah bawahan dari Tuan besar yakni ayah anda, yang telah mengikuti Tuan besar sampai beliau wafat dan sekarang mengikuti Tuan Muda, apakah mungkin bagi saya untuk berkhianat...?"
"Ya Aku juga berharap kau tidak begitu Albert, tapi tidak ada kepastian apapun yang ada di dunia ini bukan...?"
"Jangan khawatir Tuan.
Baiklah kalau begitu, Saya akan membeli beberapa barang yang kita butuhkan nantinya."
"Ya Pergilah, aku akan membuat penawaran kepada para pembunuh bayaran di situs gelap milik mereka, aku tidak akan diam sebelum pemilik usaha ekspedisi itu hancur berkeping keping.
Setelahnya Aku akan menarik semua dana dari group pertambangan yang dahulu ayahku menanamkan sahamnya disana, Aku rasa saudara-saudaraku ini juga sudah ikut-ikutan untuk menekanku."
"Baiklah Tuan.
Terserah Tuan saja, Saya akan pergi membeli perbekalan."
"Pergilah Albert, tapi perhatikan langkahmu. Periksa betul-betul, apakah ada orang yang mengintai atau mengikutimu.
Jangan datang kemari, kalau kamu mencurigai ada orang yang mengikutimu, sebab setidaknya aku masih punya perbekalan untuk tiga hari ke depan saat ini."
"Baik Tuan."
__ADS_1
Albertpun akhirnya pergi ke pusat kota dengan maksud untuk membeli keperluan mereka jangka panjang, karena ia yakin kali ini masalahnya sangat serius, terbukti bosnya sampai harus bersembunyi di tempat persembunyian yang hanya Dia dan bos serta Tuan besarnya yang tahu itu, ditambah lagi aksi bosnya menembak bawahannya sendiri, menunjukkan betapa seriusnya masalah itu.