
Haris beserta rombongannya kembali pulang ke desanya seperti pasukan yang pergi ke medan tempur mereka melewati jalanan yang penuh debu dan juga gelombang di sana sini.
"Darman!"
"Iya bos Haris ada apa Bos.?"
"Ha..hah bos..?
Sepertinya kalau si John sering kita bawa keluar, pikirannya akan lebih cepat sehat deh.
Daripada terus berkurung di dalam rumah seperti itu."
"Iya tapi apa bisa bos..?
Si Jhon kan kakinya masih sakit begitu..?
"Iya kita beli kursi roda aja untuk sementara, lalu kita bawa dia, begitu turun mobil pakai kursi roda lagi, gitukan mantap.
Sehingga dia bisa dibawa kemana-mana."
"Ya kita lihat nantilah bos, bagaimana keadaannya.
Tapi memang kasihan juga sih kalau si Jhon terus diam di sana, siapa tahu dengan sering-sering dibawa keluar beginikan, semangatnya untuk sembuh itu makin tinggi."
"Iya itulah yang aku maksud, bos Darman."
Haris mengikuti gaya Darman yang memanggilnya sebagai bos dan dia juga memanggil Darman sebagai Bos Darman.
Pengawal dan juga bawahan Haris tersenyum, melihat bagaimana Haris begitu menjaga perasaan sahabatnya itu.
Mereka juga berniat akan memanggil Darman dengan sebutan itu, karena mereka merasa secara tidak langsung, Haris sedang mengajari mereka, cara menyebut temannya.
Rombongan Haris terus melewati beberapa kebun sawit, termasuk sedikit kawasan hutan atau lahan tertinggal, yang dibiarkan oleh pemiliknya.
Setelah masuk ke jalan yang raya semua orang sudah bisa merasa lebih lega di dalam mobil.
Mobil terus melesat sampai ke pekan terdekat.
"Bagaimana tuan, kita singgah di sini atau langsung ke kampung saja tuan...?
Karena perut sudah terasa juga ini tuan.
Sepertinya kita singgahnya di lokasi wisata alam milik bang Mardan saja Nando.
Disana ada rumah makan bang milik teman abang bang Mardan namanya, dengan menu raja ikan sungainya yang lezat."
"Oh mantap bener itu tuan."
"Ya mantaplah Nando, Hari ini kita kerjanya jugakan udah mantap...?"
"Betul bos seperti bertempur ke medan perang aja jalan ke lokasinya wkwkwkwk."
"Oh ya Darman sampai lupa, untung kamu bilang seperti medan tempur hehe, coba kamu geser mobil kita kesana tuh agar di cuci di doorsmeer yang itu mobil kita.
Bilang juga sama Very supaya menggeser mobil supaya dicuci saja, sudah jorok betul ini."
"Oke bos, siap bos...!"
[Diana memanggil]
"Ya halo dek, ada apa dek...?"
"Orang abang belum pulang bang..?
Lama kali belum pulang sudah sore."
"Lho biasanya juga bermalam nggak sampai ditanyain, ini kok tumben ditanyain...?"
"Iya perasaan adek tadi sempat nggak enak sih bang satu harian ini, makanya adek nelepon.
Tadi mau nelpon takut ganggu abang, masih siangyakan...?
Inikan udah sore bang, masih nggak boleh abang di telepon bang...?"
"Oh boleh dong dek, jangan marah dong ahh.
Orang abang, sudah di kampung kok dek, ini sudah pulang kok, sudah lewat rumah kita yang di Pekan.
Rencana orang abang mau singgah di rumah makan bang Mardan nih, sudah lapar mau makan.
Adek mau dibawain gulai ikan...?"
"Adek mau ke sana aja bang..!"
"Hah mau datang kemari..?
Nggak dibawain aja...?"
"Nggak.!
Adek mau makan di sana aja, mau makan sama abang.
Adek datang ya bang, sama adek Kirana...?
"Oh ya udah bilang aja sama Puspa biar bawa adek kemari, tapi pelan-pelan aja di jalannya jangan buru-buru.
Kami tunggu kok di sini ya...!"
"Iya bang iya.
Udah ya adek tutup ya, kami segera ke sana."
"Iya abang tunggu di sini, pokoknya nggak usah buru-buru."
"Iya bang..
Wassalamu 'alaikum."
"Wa 'alaikum salam."
__ADS_1
"Ada apa bos?"
"Itu orang rumah bos Darman, mau datang kemari mau ikut makan di sini katanya.
Padahal tadi sudah kubilang biar dibawa aja lauknya.
"Nggak, kami mau ke sana aja katanya.
Oh ya sekalian bawa aja kemari orang rumahmu bos Darman, terakhir kalikan kita nggak jumpa, malam itukan kita menginap di desa...?"
"Tapi siapa yang mau menjemputnya bos Haris, aku enggak bisa jemput.."
"Segini banyaknya supir, jangan khawatirlah.
Ya sudah tenang, kita telepon adik kita si Andre."
"Ya sudah teleponlah bos, kalau aku sendiri, segan aku bilangnya."
"Ya udah ya aku telepon dulu ya
[Memanggil Andri]
Mana lagi si Andre nih kok nggak diangkat.
[panggilan terhubung]
"Halo Ndre."
"Iya bang halo bang, ini Andre bang."
"Ya, Andre lagi di rumah..?
"Iya bang, kenapa bang..?"
"Oh abang lagi di rumah makan bang Mardan di wisata alam ini, jadi kakakmu katanya mau datang kemari, mau makan bersama di sini.
Kakakmu enggak mau dibawain lauknya, jadi sekalianlah bawa ayah ke mari sama ibu andre.
Kalau bapak lagi di sana, enggak...?
Atau lagi di kampung yang satunya lagi...?"
Oh pas lagi di sini bang kenapa bang..?
"Cocok. Ya sudah ajak aja sekalian kemari, tapi tolong bilang sama si Nawir dia bawakan istri abangmu Darman ya, sama anak-anaknya ya bawa kemari."
"Oh sekarang bang..?
"Iya sekaranglah masa besok, sekalian kamu jemput istri bang Darman ya sudah ya kami tunggu ya."
Haris sengaja memanggil ayah mertuanya dan juga ayah angkatnya untuk turut serta makan bersama, dengan menu lauk seperti yang mereka makan saat pesta pernikahan Haris beberapa hari yang lewat bersama Kirana.
Rumah Makan Mardan di wisata alam itu merupakan termasuk rumah makan yang sangat laris tidak pernah berhenti.
Lauk yang disajikan juga termasuk lauk-lauk yang baru dan petugas memasaknya itu akan terus memasak, tidak seperti rumah makan lainnya di tempat itu, yang unumnya hanya sekali memasak.
"Nanti keluarga kita yang lain akan dibawa sama si Nawir bos Darman, termasuk orang rumahmu dan anak-anak.
Bebatuan itukan licin, mana orang rumah lagi hamil, nanti terpeleset atau gimana."
"Ya sudah tahan selera aja tunggu di sini ajalah bos, sebentar lagi juga sampai."
"Iya mau tak maulah."
Bagaimana Riston, Anumu dan Halim capek enggak kerjanya disini..?"
Waduh apanya yang capek bos...?
Yang ada itu seru tuan, kalau di kota wah kita bosan jemu tuan.
Kalau di sini enak tuan, enak kerjanya santai, lokasinya bagus makannya enak lagi."
"Benar tuh Riston, habis bos kita juga, asyik pengertian, ya nggak Lim..?"
"Iya benar Amanu, bos kita memang nomor satu, lama kali itu biar jumpa sama bos kita."
"Iya sih, tapi bagaimana lagi Halim, memang sudah begitu takdirnya.
Ya kita nikmati ajalah ya kan...?"
"Iya tapi kalian juga jangan sampai terlalu santai, jangan jadi kurang waspada terus berlatih tingkatkan kekuatan.
Walau kalian, sudah jadi praktisi ahi belada diri tapi berhadapan dengan master sepertiku, kalian bukan apa apa, bagaimana kalau kelak lawan kalian atau pengawal bos lain adalah master sepertiku...?
Ketika kita ada di rumah dan punya waktu luang, berlatihlah tingkatkan kemampuan kalian karena kita tidak tahu musuh kita ke depannya seperti apa, kerajaan bisnis kita akan terus berkembang maka otomatis kita akan menemukan orang-orang baru dengan kemampuan-kemampuan dan kekuatan baru.
Aku tidak ingin kelak para pengawalku kalah jauh dari pengawal bos-bos lain, kalian faham...?"
Kalau itu kami akan terus berlatih bos, walaupun terlihat santai sebenarnya kita tetap profesional kok bos."
"Bagus.!
Ya begitulah seharusnya, aku suka dengan kalian.
Kalau ada waktu aku akan tunjukkan sudut dalam beladiri yang mungkin tidak pernah kalian ketahui.
Ya sudah kalau kalian mau mandi, pergilah mandi saja kesana."
"Boleh ya bos...?"
"Ya bolehlah, sudah pergi sana, disini tidak ada potensi bahaya kok."
"Ah siap bos, tadi mau mandi di laut takut jumpa kerabat awak pulak dari golongan ikan hiu haha.
Kalau disinikan sedap nih bos."
"Ya sudah mandi sana."
"Baik bos. Ayo kamu Halim Roston..!"
__ADS_1
"Ok ayo Amanu."
Para pengawal Haris lalu berlari kegirangan, seperti anak kecil yang mendapatkan mainannya.
Mereka merasa sangat senang bekerja dengan Haris, di mana hidup mereka cukup santai, makan mereka terjamin dan juga gaji tinggi, serta fasilitas yang cukup.
Tetapi mereka tidak pernah menyangka, kalau bos mereka ini adalah seorang master bela diri.
"Tidak disangka ya teman-teman, kalau tuan adalah seorang Master bela diri, apakah menurut kalian itu benar...?"
Apakah kamu mengira tuan berbohong Amanu..?
Apa kamu kira tuan suka berbohong...?"
"Aku sih tidak mengira begitu Lim, makanya aku terkejut saja, kenapa tuan bisa sampai punya kemampuan tinggi menjadi seorang master seperti itu."
"Amanu dengan kenyataan tuan punya harta begitu banyak saja sebenarnya, sudah bisa menjawab alasan keterkejutan kita, kenapa tuan sampai bisa menjadi seorang master.
Artinya tuan memang bukan orang biasa, dan tidak bisa kita perhitungkan seperti orang biasa pada umumnya."
"Itu benar Halim, ya sudahlah kita mandi saja dulu."
"Tapi aku jadi penasaran Riston dan ingin segera mendapat bimbingan dari tuan."
Nanti bakal ada waktunya Amanu, kamu pikir aku tidak penasaran..?
Aku juga penasaran, tapi kita lupakan saja itu dulu, sekarang kita mandi saja ayo...!
Ketiga pengawal Haris lalu mengganti pakaian mereka, kemudian ketiganya melompat bercebur ke lubuk, di sungai yang ada pada lokasi wisata alam itu.
"Kau enggak mandi bos Darman...?"
"Sudahlah bos Haris, aku disini saja, daripada kamu enggak ada pula kawannya.
Nanti kalau aku tinggal jumpa pula kau sama cewek cantik yang suka sama kau, jadi tiga pulak binik kau nanti.... hehe."
"Ha..ha..hah ada aja kau Man, kau nggak merasakan sih dipaksa kawin lagi sama bini kau hahaha."
"Oh senang kalilah aku kalau disuruh begitu Ris."
Ketika Darman dan Haris masih asyik dengan candaan mereka, lalu secara bersamaan baik Diana dan Kirana yang dibawa oleh Puspa dan Wulan telah sampai.
Nawir serta Andre yang membawa kedua orang tua mereka dan juga istri dan anak-anak Darman juga sudah sampai.
Tidak ketinggalan ternyata Butet yang merupakan kakak Diana dan juga Yunita, juga ikut mendapat dan mendengar informasi sehingga dengan mobilnya masing-masing, mereka juga datang ke tempat itu.
"Wah jadi rame nih, jadi kita sekeluarga semua di sini, keluarga besar...he he.."
"Jadi nggak boleh rupanya bang kita semua di sini...?"
"Aduh dek Diana istriku yang super cantik ini, kenapa sih kok bawaannya dari tadi marah terus abang dengar , sejak dari saat bertelepon tadi...?
Kenapa kok protes aja abang rasa nada ngomongnya...?"
"Entahlah bang, bawaan si kecil mungkin."
"Oh begitu ya? Ya sudah.
Abang senang aja lihat kita semua berkumpul, malah bukannya abang yang bilang supaya semua datang, jadi saat abang nanya keluarga kita semua berkumpul, itu bukan marah lho dek cantik."
"Abang maklum maklum ajalah, namanya ibu-ibu lagi berbadan dua, jadi kita bawaannya seperti lagi ngomong sama tukang kredit panci yang nagih tunggakan aja...hehehe, ya nggak kak Diana...?"
Kirana mencairkan suasana, lalu baik Kirana dan Diana pun tertawa terkekeh-kekeh di tempat itu, membuat orang lain bengong melihat keduanya.
"Ya udahlah abang ngalah aja..hmm."
"Mana makanannya bang, lama kali bang...?"
"Lho adekkan baru saja sampai dek, ya belum datanglah makanannya.
Sudah ini aja duluan makan, bahagian abang nih, belum di sentuh kok ini."
"Disentuh abang juga nggak apa apa, makin enak malah?
Adek duluan ya bang..!"
"Iya sudah makanlah duluan."
Diana lalu mengambil makanan yang tadinya dihidang untuk Haris, lalu membaginya kepada Kirana dan tanpa babibu, keduanya makan dengan lahap, disaksikan mata semua orang yang lagi-lagi heran, dengan tingkah laku mereka berdua."
Haris menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum kepada semua orang, meminta mereka untuk memakluminya.
Rata-rata mereka itu adalah keluarga Diana, tentu mereka sangat memaklumi tingkah dari wanita yang berasal dari keluarga mereka itu, apalagi Butet dan Yunita yang tersenyum melihat tingkah konyol, adik paling kecil atau paling bontot dari ketiga putri ayahnya itu.
"Dek kamu kok nggak nawari atau basa basi begitu, pada istri bos Darman."
"Eh Siti, kamu di sini juga...?"
"Iya Diana aku tadi dijemput sama adik Nawir."
"Oalah aku begitu lahap, jadi kurang memperhatikan.
Tapikan kamu juga ada tuh nasi di depanmu.
Ayo makan aja duluan..!
Nggak apa apa, di rumah makan ini emak-emak memang di didahulukan.
Hahaha Kirana dan Diana tertawa lepas yang membuat Siti istri Darman juga ikut tersenyum.
"Iya dek makanlah duluan, temani istri bos Haris makan."
"Tapi yang lainkan belum datang makanannya bang...?"
"Sudah nak Siti makan aja duluan, tuh yang berdua aja udah makan duluan."
Ayah Diana lalu mempersilahkan kepada Siti istri Darman, agar tidak lagi sungkan.
Kemudian istri Darmanpun yang sejak dari tadi menahan air liurnya, karena melihat kedua istri Haris makan dengan lahapnya, juga ikut menyendok makanannya dan mulai makan bersama anaknya.
__ADS_1
"Bang Mardan kemana ya, kok nggak keluar...?"
Haris mempertanyakan keberadaan Mardan dan anaknya.