
Setelah tiba waktu di pagi hari, Haris bersama dengan kedua istrinya dan seluruh keluarga yang memang telah tahu tujuan dan rencana perjalanan mereka ke kota K, segera bersiap-siap untuk berangkat bersama-sama.
"Darman....!
Karena istrimu masih dalam masa pemulihaan, juga urusan membantu warga desa dan keluarga Jhon termasuk Jhon yang masih dirawat, juga masih perlu .
Kamu tinggal aja bagaimana teman?"
"Ah tidak masalah Ris, tapi aku bukan ditinggal di sinikan?"
"Ha..hah ya di kota P lah teman, di hotel kita."
"Oke baik kalau begitu teman...!"
"Nando, kau bawa abangmu Darman dengan mobil ini ke hotel kita dan parkirkan nanti di garasi hotel.
Kamu beli mobil yang sama dengan mobil yang dibawa Very, uangnya akan abang transfer ke rekeningmu, biar kamu ada kenderaan memantau pembangunan Villa kita di dua desa."
"Siap tuan."
"Ya sudah, kalau begitu kita berangkat sekarang."
Haris dan rombongan kemudian berangkat dan 8 jam kemudian mereka tiba di lokasi tujuan.
"Ahhh... Akhirnya setelah menempuh jarak perjalanan yang cukup jauh, kita tiba juga di kota K ini, Wah hotel ini diberi nama Kirana hotel, nama istriku dong...!"
Haris mengoceh pada kedua istrinya.
Melewati Lobby hotel beberapa Receptionis yang memang kenal dengan Kirana mendatanginya.
Kirana yang cukup hafal wajah wajah mereka, bersapa salam dan berbicara sejenak, serta bercanda tawa.
Saat itu Kirana menjelaskan kalau semua rombongan ini adalah keluarganya dan yang membuat karyawati hotel itu tertegun adalah, bahwa nona putri pemilik hotel itu, ternyata telah menikah tanpa mereka ketahui kabarnya.
Kirana bersama rombongan, lalu pergi dari sana dan menuju kamar khusus milik ayah dan ibunya di hotel tersebut.
"Assalamualaikum....!
Mama ... papa....!
Kirana datang sama semuanya."
"Wa 'alaikum salam warahmatulloh."
"Ehh.... ada kejutan, mari masuk, kok mama sama papa nggak diberitahukan sih Kirana, kalau kamu dan keluarga kita bakalan mau datang, ayo duduk ayo duduk semuanya."
"Pa..ma ...!"
Haris menyalami kedua mertuanya dan mencium tangan keduanya.
"Oh ya, papa senang dikunjungi begini oleh semua keluarga papa.
Silakan duduk silakan duduk semuanya ayo..ayo....!"
Ayah Kirana mempersilahkan semua orang masuk kedalam ruangan dan duduk di sofa yang ada di kamar paling mewah, di hotel itu.
"Lho kok di bawah duduknya pak?
Ini ada sofa buat kita semua duduk, muat kok."
"Ah biarkan saya duduk disini saja pak, agar bisa selonjoran, soalnya sudah pegel juga 8 jam perjalanan duduk di kursi mobil terus"
"Oh begitu ya..! He..he ..
Ya sudah kalau begitu, kita duduk di bawah aja semua."
Semua orang jadi duduk di bawah mengikuti ayah Diana, yang memang sudah merasa lelah duduk di mobil, setelah berkendara jauh dengan jarak tempuh 8 jam perjalanan tersebut.
Apalagi mobil yang mereka naiki milik Andri, adalah mobil kecil untuk kawula muda yang terbilang sempit.
Ayah Kirana kemudian menghubungi pihak manajemen hotel miliknya, untuk menyiapkan beberapa kamar atau ruangan bagi tamunya.
Setelah sejenak beramah tamah, ayah dan ibu Kirana mempersilahkan semua tamu, yang juga sudah merupakan bahagian dari keluarganya itu, untuk beristirahat sejenak, sebelum nantinya akan bercerita tentang banyak hal, layaknya sebuah keluarga yang sedang berkumpul dan berjumpa.
Kirana mengantarkan Haris dan Diana ke kamarnya, lalu permisi kepada Haris untuk menjumpai papa dan mamanya, secara khusus.
"Bang...!
Kirana pergi sebentar untuk bercerita soal tujuan kita kemari, yang untuk menyelesaikan masalah papa sama mama itu ya bang..!
Boleh nggak bang..?
Sekalian adek mau cerita kalau abang adalah pemegang saham di Kaya dan jaya bersama group. kalau boleh sih.
Agar papa dan mama tidak terlalu begitu risau lagi.
Soalnya tadi Kirana bisa melihat dan menangkap kerisauan papa sama mama, atas masalah ini bang, Kirana nggak tega."
"Pergilah dek, sampaikan kalau kita mampu menyelesaikan masalah ini dan sampaikan juga kalau abang titip pesan agar papa sama mama, jangan risau lagi.
Kalau ada pertemuan langsung dalam waktu dekat ini, bersama orang yang mengaku sebagai pihak dari Kaya dan jaya bersama group itu, biar abang semprot orang itu dan menghubungi pihak pengurus group dihadapan batang hidungnya.."
"Makasih ya bang, abang sangat perduli dengan masalah ini, adek cintaaaa banget sama abang...!"
"Apa baru sekarang cintaaaaaaaaaaaanya..?"
__ADS_1
"Nggak sih, tapi sudah sejak lama wkwkwwk.
Sudah.. ah, adek pergi dulu kasihan papa sama mama bang."
"Yahh... pergilah dek."
"Kak...! Adek pergi dulu ya, titip suami kita."
"Ha..hahahh serius mau dititipin ke kakak?
Nanti kakak habisin gimana...? wkwkwkwk"
"Jangan kak, Kirana masih butuh untuk seumur hidup haha."
"Sudah sana cepetan, kasihan papa mama kita, biar segera hilang risaunya."
"Iya kak."
Kirana lalu pergi mendatangi papa dan mamanya, untuk kemudian menjelaskan tentang alasan kedatangan mereka.
Setelah kepergian Kirana
Haris lalu mendatangi Diana dan memeluknya dengan lembut, dari belakang.
"Abaaaaaannng"
Diana menggeliat manja.
"Kenapa abang merasa kamu semakin menjauhi abang akhir akhir ini dek.?
Apa kamu sudah tidak ada rasa sayang lagi, sama suamimu ini?"
"Abang...! Jangan bilang begitu dong bang, cinta adek tidak pernah pudar sama abang, adek hanya memberi ruang yang lebih bagi dek Kirana.
Adek tahu bagaimana rasanya berada pada saat saat awal pernikahan begini.
Yang seorang istri tahu, itu hanyalah suaminya.
Cintanya pada suaminya, akan sangat menggebu gebu.
Fokusnya seorang istri itu seolah hanya akan ada pada suaminya saja, ingin dimanja diperhatikan dan disayangi, itulah yang Kirana rasakan saat ini bang..!
Karenanya adek tidak mau ego dalam diri adek, merusak perasaannya itu.
Jadi jangan sampai abang salah menilai adek, sehingga mengira adek tidak ada rasa sayang lagi, sama suami adek."
"Tapi semua yang adek sebutkan itu hanya tentang Kirana, lalu bagaimana dengan abang..?"
"Lho..! Adek justru lakukan ini semua, buat abang lho abang sayang...!
Biar abang senang, biar abang bahagia, mana ada coba pria yang nggak senang disuguhi wanita cantik, seperti dek Kirana?"
Mengurangi apa yang adek anggap sebagai beban, tapi jaaauh di lubuk hati abang, sebenarnya rasa sayang abang akan selalu sangat besar, kepada istri abang yang satu ini melebihi siapapun.
Pada sosok wanita cantik inilah, aku temukan kebahagiaan yang tak terlupakan untuk pertama kalinya.
Itu tidak akan bisa digantikan oleh wanita manapun.
Abang juga ingin mendatangi tempat pertama, yang telah lebih dahulu mengenalkan pada abang, apa makna keindahan seorang wanita dan apa arti kehangatan seorang istri dek.
Jadi abang mohon jangan jauhkan abang dari tempat, keindahan dan juga kehangatan itu.
Abang rindu lho dek, abang akan gila bila dijauhkan dari semua itu."
[Tiba - tiba]
"Lho...! Kamu kok nangis dek?
Abang sudah salah ngomong ya?
Maafkan abang ya dek kalau abang salah.
Maafkan kalau ucapan abang barusan melukai hati kamu, maaf ya adek abang tersayang.....!"
Haris membelai rambut dan wajah istrinya yang lembut dan cantik itu, sambil membujuk dan menenangkan hatinya.
Haris cukup bingung kenapa istrinya menangis, sampai berladung air mata, padahal dia merasa semestinya tidak ada yang salah dalam ucapannya.
"Abang nggak salah apa apa, adek hanya terharu, ternyata sedalam itu rupanya perasaan suamiku terhadapku bang."
Mendengar itu Haris kembali memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Aadeeeekk....!"
Haris mengecup ubun ubun di kepala istrinya dari atas, saat Haris berdiri dibelakang dan memeluk Diana yang duduk di kursi kamar hotelnya.
"Abang ternyata tidak lupa pada wanita jelek ini, bahkan setelah ada keindahan permata seperti dek Kirana, di depan abang.
Adek tidak akan menjauhkan, abang dari tempat yang abang sebut begitu abang sukai itu, abang bisa kapanpun mendekati dan memasukinya, karena memang tempat itu adalah milik abang seorang dan hanya akan abang yang boleh memasukinya."
Haris tersenyum manis lalu kembali ke hadapan Kirana yang masih duduk.
Haris membelai lembut wajah istrinya yang begitu dicintainya itu.
"Adek...!
__ADS_1
Pertama ; Abang mau ralat kalimat adek.
Abang protes kalau adek abang yang super cantik ini, yang bagi abang bahkan lebih cantik dari seluruh wanita di dunia ini, disebut wanita jelek.
Abang tidak akan pernah terima itu.
Kedua ; Amboi indahnya kalimat itu 'abang bisa kapanpun mendekati dan memasukinya, karena memang tempat itu adalah milik abang seorang dan hanya akan abang yang boleh memasukinya.'
Mendengar kalimat itu, abang merasa seolah telah menjadi raja yang sebenarnya, di dunia ini.
Ketiga ; Walau abang sudah merasa sebagai raja sebenarnya dan sekarang rasanya ingin sekali memasuki tempat kesukaan abang itu, tapi tetap saja masih ada yang kurang.
Abang masih belum merasakan kehangatan, yang membuat abang merasa menjadi pria paling ganteng sedunia, karena belum diajak seperti biasanya."
Diana tersenyum dan faham apa maksud suaminya, lalu dengan berbisik manja setelah menggigit pelan sedikit telinga Haris, dengan ******* manja dan nafas hangatnya dia berkata
"Adek pengen lho abang."
Seperti anak kecil yang mendapatkan mainan yang telah lama di idamkannya, Haris berteriak cihuyyy asyiiikkk sambil melompat ke Springbed empuk di kamar hotel tersebut.
Harispun melepaskan kegelisahan hatinya, yang merasa dijauhi selama beberapa hari ini, oleh sosok bidadari dalam hidupnya itu.
...*****...
"Jadi pa, ma..!
Tujuan kedatangan kami kemari itu adalah, karena permasalahan yang menimpa mama dan papa.
Sehingga hal itu telah menyusahkan pikiran kita semua.
Abang titip salam, agar mama dan papa jangan terlalu risau.
Korporasi Kaya dan jaya bersama group, yang orang itu andalkan untuk menekan mama dan papa,
ternyata abang adalah salah satu pemegang saham disana, jadi mama dan papa tidak usah khawatir, abang akan angkat bicara kali ini.
A... Apa?
Haris pemegang saham di group itu?
Sekaya apa dia?
"Kekayaan abang berada di luar apa yang bisa kita bayangkan pa...!
Di grup kaya dan Jaya Bersama grup saja, abang punya saham sebesar 17% dengan nilai saham 1,7 triliun pa.
Artinya sesuai apa yang bang Haris katakan, seharusnya abang punya hak suara disana.
Abang juga mengatakan kalau dia tidak yakin, bahwa orang yang mengaku ngaku sebagai pihak Kaya dan jaya bersama group itu, merupakan seseorang yang punya kewenangan yang besar di korporasi itu, atau seorang pembesar disana.
Jadi abang ingin sekali berjumpa langsung dengan orang itu pa....!"
"Hmmm... begitu ya...?
Jadi ternyata si Hendrik itu bukan apa apa di grup kaya dan Jaya Bersama group...?"
"Iya menurut abang sih harusnya begitu pa, kalau memang dia orang yang besar di grup itu, dia nggak akan mengurusi hal hal kecil seperti hotel kita ini, apalagi berniat menyingkirkannya pa...!"
"Oh! papa jadi paham sekarang.
Kebetulan besok papa memang ada jadwal pertemuan lagi bersama orang-orang itu.
Rencananya papa akan
dimediasi oleh seorang oknum pejabat terkait perizinan Hotel, dengan orang yang mengaku-ngaku dari pihak kaya dan Jaya bersama group itu.
Kalau begitu seharusnya pertemuan itu sesuatu yang sangat seru besok.
Kamu sampaikan kalau papa minta Haris bersiap siap untuk ikut hadir dipertemuan besok, orang itu telah lama menekan papa selama ini, katakan pada Haris agar berikan Counter attack pada dia.
Papa mau lihat seperti apa Haris akan balik menekannya."
"Iya pa, jadi papa dan mama jangan risau lagi ya....!"
"Kirana putri papa dan mama kamu memang selalu saja tahu, bagaimana cara untuk melepaskan kita dari segala masalah.
Papa dan mama bangga dengan kamu.
Tapi papa penasaran dengan Haris menantu satu satunya papa itu, Kalau begitu Haris bukan orang yang biasa dong Kirana...?"
"Bagaimana mau biasa pa? Papa tahu nggak kalau abang Haris itu punya 14 Hotel yang keseluruhannya itu semuanya bintang lima.
Cuma hotel yang di kota P tempat Kirana jadi GM sebelumnya itu yang masih bintang 3
Papa tahu nggak ternyata hotel yang di kota S, hotel pantai yang ada di sana yang sangat terkenal dan kita pernah bermalam itu juga milik abang lho pa, tadinya itu juga bintang 3 tapi sekarang sudah bintang 5."
"Oh ya...! Kalau begitu papa bisa dong, belajar bagaimana caranya untuk membesarkan sebuah hotel pada Haris...?"
"He..he Kalau papa mau bicara tentang Hotel kepada abang, apalagi sedikit saja terkesan mengeluhkan keadaan hotel kita ini, papa yakin nggak? Kalau akhir dari pembicaraan itu nantinya, abang hanya akan mengatakan kalau hotel ini akan dirubah menjadi hotel bintang 5 atau akan dicarikan hotel bintang 5 lain atau dibangun hotel bintang 5 baru dan itu akan abang berikan cuma-cuma buat papa dan mama.
Abang itu begitu ma, pa..! Cara berpikirnya.
Sederhana tapi dia langsung bergerak ke inti masalah, kami saja yang berada di dekatnya itu sering dibuat terkejut olehnya.
Selain itu ternyata abang juga sekarang punya sawit ratusan hektar pa, kemudian juga punya apa namanya.? Tanah puluhan hektar di desanya.
__ADS_1
Abang juga punya 10 kapal penangkap ikan, kenderaan mewah Rumah sakit dan dua Villa yang sedang dibangun.
"Hmmm... Luar biasa menantu papa dan mama itu...!"