Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _37 : Masih saja di rendahkan


__ADS_3

Haris telah sampai di kota M ibu kota provinsi tempat akan dilaksanakannya pertemuan seluruh pengusaha perhotelan seprovinsi.


Karena sibuk mengurus dan memesan kamar buat seluruh anggota keluarganya yang masih gagap tentang perhotelan Haris sedikit terlambat datang ke pertemuan itu.


Setelah mengurus proses check in yang dilayani dengan sangat sangat ramah di hotel tempatnya menginap dan setelah segala sesuatu keperluan keluarganya dihandle, barulah Haris bergerak ke lokasi pertemuan.


Dia sengaja memilih hotel lain sebagai tempat menginap keluarganya agar lebih dekat dengan rumah beberapa kerabat keluarganya di kota itu.


Haris yang memang agak cuek soal penampilan sebab latar belakangnya dari orang susah yang sudah di bombardir begitu banyak kepedihan hidup sebelumnya, membuat pria mantan pekerja upahan ini tidak banyak tahu soal gaya dan penampilan.


Ditambah lagi urusan keluarganya sebelumnya membuat dia terlambat, menyebabkannya sama sekali tidak punya waktu untuk memperbaiki penampilannya.


"Ah untung bukan cuma aku yang terlambat, ternyata masih ada orang lain lagi."


Haris bergumam dalam dirinya


Tampak disana telah tersusun mobil mobil mewah yang berharga satu setengah miliar ke atas bahkan ada yang sampai puluhan miliar.


Ini adalah moment bergensi yang pas untuk menunjukkan kelas dan pengaruh demi suatu pengakuan tidak tertulis dalam komunitas mereka, dan semua faham soal itu, sehingga semua saling berhias diri dan penampilan, mulai dari pakaian sampai kepada hal lainnya.


Semua itu membawa dampak pada segala hal, tidak terkecuali kenderaan juga menjadi bahagian penampilan dari tiap tiap orang, itulah yang memicu kenderaan kenderaan ber'bujet' miliaran ini bersusun di ruang parkir yang ada saat ini.


Karenanya pula ruang parkir ini di isi dengan beragam jenis dan type seperti mobil seperti ;


○Bugatti Veyron Super Sport Rp41,7 M


○Bugatti Veyron Vivere Rp 38,7 M


○Rolls Royce Phantom Rp Rp 20M


○Rolls Royce Ghost Rp 18 M


○Ferrari 599 GTO Rp14.5 M


○Lamborghini New Gallardo Rp 8 M


○Maserati Quattroporte Rp 5, 35 M


○Lexus LS Rp 3,74 M


○Ferrari F430 Rp 3,5 M


○Maserati GranCabrio Rp 3 M


○Maserati GranTurismo Rp 3 M


○Mecedes-Benz EQS 2,98 M


○BMW iX Rp 2 ,33 M


○Range Rover Velar Rp 2 M


○Porsche Cayman Rp 1,5 M


Mobil tunggangan Haris yang bahkan tidak mencapai harga 1 miliar itu, menjadi yang paling murah dari sejumlah kenderaan para direktur utama dan corporate owner hotel yang ada disana.


Panitia pelaksana mengatur tempat parkir sedemikian rupa, para tamu diarahkan pada tempat parkir yang berbeda beda.

__ADS_1


Para pihak eksekutif perusahaan perhotelan sebagai kalangan tertinggi dalam puncak kekuasaan maupun struktur organisasi perusahaan, tentunya harus mendapat perlakuan yang lebih dari pihak lainnya.


Sesaat Haris bertanya tanya akan parkir dimana, tapi salah seorang petugas ramah yang ditugasi mengurusi itu mengarahkan Haris agar parkir di barisan parkiran para asisten manager, dan Haris tidak banyak tahu soal itu lalu mengikuti arahan dengan memarkirkan mobilnya di tempat yang diarahkan.


Memasuki ruang acara, Haris langsung mencari bangku kosong yang ada di belakang.


Melihat penampilannya seseorang langsung menegurnya.


"Hei....! kamu berasal dari hotel mana?"


"Oh saya berasal dari hotel di daerah S namanya Diana Hotel Beach Resort."


"Berapa bintangnya ?


"Maksudnya?"


"Itu hotel bintang berapa?"


" Oh.. itu maksudnya..! Bintang tiga. itu hotel bintang tiga, kebanggaan di daerah kami."


"Tetapi kenapa penampilanmu bahkan kalah jauh, dari orag orang yang berasal dari hotel bintang satu?"


"Ah.... itu?


Aku kurang pandai bergaya."


"Hei teman, kalau kau tidak memperhatikan gaya dan penampilanmu,maka di komunitas ini, kamu hanya akan jadi bahan tertawaan dan hinaan orang lain."


"Kenapa begitu?"


"Kamu lihat penampilan orang yang ada disini? paling rendah yang datang ini adalah executive assistant manager, bahkan sekelas direktur personalia direktur keuangan atau manager boga tidak bisa hadir disini, bagaimana kau bisa hadir dengan penampilan seperti ini?"


"Ya sama seperti dosa besar yang tak tertulis."


"Sebenarnya apa tujuan pertemuan ini ?"


"Ini tentu adalah wadah yang sangat penting untuk saling sinergi, mempererat hubungan antar sesama komunitas penggiat usaha perhotelan, juga tentunya akan ada banyak lobi lobi, yang nantinya akan berjalan dalam proses berlangsungnya acara ini maupun setelahnya."


Haris mendengar lawan bicaranya yang semakin intens berbicara tentang banyak hal, yang menurutnya tidak begitu penting itu, karenanya dia hanya menyikapi dengan santai setiap ocehannya.


Begitu pula tentang pemaparan yang di ucapkan oleh para pembicara yang ada didepan, tidak begitu menarik perhatian juga minatnya.


Dia beranggapan semua yang di ucapkan ini hanyalah seremonial basa basi belaka dalam menyalurkan hobi dan bakat berbicara, namun bukankah pada akhirnya kebanyakan mereka yang berbicara ini tidakpun akan bisa membeli hotel dengan semua paparan omong kosong itu?


Tetap saja uang yang akan bicara dan adapun Haris sudah punya mesin uangnya sendiri, hotel hanyalah salah satu karya kecil sistem kekayaan miliknya, berikutnya kalau sistemnya telah diperbaharui bahkan poin sistem yang akan dia dapatkan bernilai trilyun, jadi dia tidak mau ambil pusing dengan semua yang dipaparkan.


"Hei kenapa kau tidak mendengarkanku?"


"Ah maafkan aku sobat, aku hanya terlalu lelah dalam perjalanan kemari, jadi aku sedikit tidak fokus."


"Kau harus mendengarkan ku teman, aku bersimpati padamu, sebab aku juga dulu sepertimu."


"Baiklah sobat aku hargai semua ucapanmu, tapi aku benar benar lelah."


Seorang pria tua yang tampak di dampingi oleh seorang wanita yang begitu cantik dan di kawal oleh dua orang di belakangnya, masuk ke dalam ruangan itu.


"Bobby "

__ADS_1


"Siap tuan."


"Kau dan asistenmu cukup sampai disini biar aku dan Jessica yang ke depan."


"Baik tuan."


Pria tua dan wanita cantik yang baru saja datang, berjalan terus ke depan, sementara kedua orang yang tadi mengawalnya, berhenti di belakang.


"Hei kau berdiri dari situ..!


Kursi itu akan di tempati oleh General manager Bobby."


"Kenapa harus begitu? Aku lebih dulu datang dan menempati kursi ini."


"Kau? Dasar tak tahu diri, pasti kau cuma supir, ayo berikan kursimu."


Assistant manager dari general manager bernama Bobby itu tampak hendak mengusir Haris dari kursinya namun Haris sedikitpun tidak bergeming.


"Orang ini pasti hanya mau 'angkat telor' dasar pecundang, dia hanya perlu meminta kursi yang lain lagi dari panitia, tapi dia lebih memilih berakting di depan majikannya.


Aku akan memberikan kursi ini jika saja pria tua tadi yang membutuhkan, tapi untuk orang itu? dia bahkan jauh lebih muda dariku."


Ucap Haris membatin.


Mata pria itu menjadi tajam dan seolah akan menelan Haris.


Pria teman Haris yang berbicara sejak awal tadi kepada Haris, berbisik pada Haris.


"Inilah yang kumaksud kalau kita tidak menjaga penampilan."


Baru saja pria itu berbisik demikian, terdengar lagi assistant manager berkata


"Hei gendut kau berdirilah, kursi itu akan dipakai oleh tuan Bobby."


Ucap pria itu dengan setengah berbisik.


"Oh... apakah maksudmu aku harus berdiri dari kursiku dan memberikannya padamu?"


Suaranya yang keras segera menarik perhatian orang banyak di tempat itu, semua mata kini melihat kepada mereka.


Pria tua yang tadi datang bersama mereka masuk keruangan ini dan lalu berjalan kedepan, juga ikut melihat dengan raut wajah yang jelek.


Melihat itu Bobby segera bereaksi


"Seharusnya kau pergi kepada panitia dan meminta dua kursi, bukan merampok kursi orang lain yang datang lebih dahulu.


Apakah kau masih sebodoh itu?"


Ucapan itu membuat asisten itu segera berjalan keluar dan mengambil dua kursi lagi.


"Ah.... maaf semuanya ....! atas insiden yang sebenarnya tidak perlu ini, panitia tolong perhatikan begitu ada tamu lain yang datang, segera sediakan kursinya."


MC berbicara penuh penekanan, sebab insiden ini telah membuat mereka malu sebagai pihak penyelenggara.


Maka tak lama setelahnya sepuluh kursi lagi datang ke tempat.


"Silahkan tuan"

__ADS_1


Si asisten arogan itu bicara kepada atasannya, lalu Bobbypun duduk di atas kursi itu, sebab pandangan mata tuan Wira, pria tua yang tadi datang bersamanya tidak pernah lepas darinya.


Sang asisten arogan juga duduk, namun matanya sudah dingin dan tajam seperti pisau, menatap ke arah Haris dan pria yang bersamanya.


__ADS_2