Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _146 : Hasil pengobatan yang luar biasa


__ADS_3

"Bang nanti tidak usah bermalam di hotel ya, pulang saja kemari. Toh kami dan dek Kirana juga tidak mengganggu kok di sini."


"Bukan begitu lho dek, Abang tidak pernah menganggap apalagi mengatakan kalau Adek dan dek Kirana mengganggu kok, maksud Abang kan pengobatan orang tua Jendral Gunawan itu barangkali akan memakan waktu 2 atau sampai 3 kali pengobatan. Jadi ya biar praktis saja Abang berpikir tidak usah pulang balik, begitu lho."


"Iya Diana tahu maksud Abang, dek Kirana juga sudah mengatakannya. Tapi tetap saja Diana tidak ngizinin. Diana mau Abang nanti sama dek Shasmita pulang dan tidurnya di sini saja.


Lagipula kota P juga dekat kok dari sini, hanya satu atau satu setengah jam perjalanan. Jadi Abang pulang kemari saja nanti."


"Oh ya sudah deh, kalau begitu nanti Abang akan pulang kemari saja. Oh ya dek Diana dan dek Kirana mau dibawain apa..?"


"Tidak usah bawa apa-apa, yang penting Abang nanti dan dek Shasmita pulang, itu saja sudah cukup bagi kami."


"Baiklah kalau begitu. Kami pergi ya semuanya..!"


Haris segera bergegas beranjak dari ruangan Villa miliknya, karena khawatir Jenderal Gunawan terlalu lama menunggu, sebab terlambatnya Shasmita bangun pagi ini.


Shasmita juga kemudian mengekor di belakang Haris setelah pamit kepada dua istri Haris yang lainnya, setelah sebelumnya ketiganya saling berpelukan dan berciuman.


Bahkan pada saat yang singkat itupun Kirana masih menyempatkan diri berbisik dan menggoda Shasmita.


"Lihat kak Diana, dek Shasmita mempercepat langkahnya mengejar Bang Haris suami kita."


"Iya kelihatan sekali dia gugup dan malu, memangnya tadi kamu mengatakan apa dek Kirana.? Bukannya kamu tadi membisikkan sesuatu.?"


"Ha..ha..ha Aku hanya menggodanya Kak, ternyata begitu ya rasanya punya Adik. Aku mungkin akan terbiasa nakal begini kepada adik kita Shasmita."


"He..he.. Kamu inilah dek Kirana."


Diana tersenyum melihat sikap Kirana. Mobil yang dikendarai Haris kemudian keluar dari halaman Villa dan menuju gerbang yang telah terbuka. Persis saat mobil Haris akan keluar, mobil rombongan Nando dan yang lainnya juga baru saja tiba dan akan masuk ke Villa, sehingga kedua mobil itu berpapasan dan Haris menyempatkan diri sejenak menyapa mereka, kemudian melanjutkan perjalanannya.


"Ha..ha pasti mereka tadinya sudah tidak sabar ingin bercerita sebenarnya dengan Tuan, tetapi Tuan juga kebetulan sangat buru-buru ke tempat Jenderal Gunawan."


"Iya kamu benar Wilson. Tadi aku sempat menelpon Pak Gunawan, mengabarkan kepadanya kalau kita akan datang hari ini, katanya tadinya semestinya hari ini beliau juga punya kegiatan yang lain, jadi aku khawatir kedatangan kita akan menghambat aktivitasnya.


Itu sebabnya aku sangat buru-buru, berhubung ini juga sudah terlambat dari waktu yang tadi kita sampaikan sewaktu berbicara lewat telepon."


"Iya tapi kan kita memang tidak bersengaja menundanya Tuan. Memang begitulah langkahnya mau diapain lagi."


"Iya juga sih Wilson, namun namanya berteman apalagi teman kita saat ini sedang sangat membutuhkan, tidak enak juga sih rasanya datang terlambat."


"Maaf ya Bang gara-gara Shasmita semuanya jadi begini."


Shasmita yang mendengar percakapan Wilson dan Haris yang memang duduk bersamanya, jadi merasa sedikit bersalah.


"Ah tidak. Bukan begitu Dek, ini hal yang biasa saja kok, lagi pula bagaimanapun tetap saja keluarga adalah prioritas utama Abang. Adek tadinyakan memang masih tidur jadi tidak mungkin dong Abang ganggu, makanya Abang tunggu sampai bangun.


Sudahlah jangan terlalu dipikirkan, ini hanya masalah kecil saja, toh mereka akan mengerti kok nantinya. Dengan kita datang saja Jendral Gunawan sudah sangat bersyukur, apalagi kalau sampai kita bisa menyembuhkan penyakit orang tuanya.


Jendral Gunawan itu orang yang sangat pengertian kok, beliau orang yang baik dan pandai membalas budi."


"Terima kasih ya Bang, Abang sangat mengerti Shasmita."


"Ya. Tapi tidak perlu berterima kasih juga sih, itu memang sudah tugas Abang untuk memastikan kalian semua merasa nyaman, tercukupi kebutuhannya baik itu soal istirahat, makanan, minuman, pakaian tempat tinggal dan lain sebagainya. Jadi tidak ada yang harus dipikirkan soal itu."


Haris lalu memeluk istrinya dengan lembut penuh kehangatan.


Shasmita merasa tiba-tiba dunianya begitu indah, penuh warna dan lebih bermakna dari sebelumnya.


Mobil terus melaju dan setelah melewati kota P, mobil itu menuju lokasi yang masih terbilang merupakan bagian Pinggiran kota P. Mobil yang membawa Haris terus beranjak menuju lokasi rumah orang tua Jenderal Gunawan dan setelah beberapa saat melewati jalan yang meliuk-liuk dan berputar, akhirnya kenderaan milik Haris berhenti di depan sebuah rumah kayu yang tampak megah dengan halaman yang cukup luas.


Kemudian dua orang ajudan Jendral Gunawan datang untuk memastikan siapa yang ada di mobil.


"Ah maaf Pak kalau boleh tahu, Anda siapa dan ada urusan apa.?"


"Saya Wilson Mas, pengawal Tuan Haris. Kami sudah ada janji dengan Jenderal."


Haris segera menurunkan kaca mobil agar pengawal keluarga Jenderal Gunawan bisa melihatnya.


"Oh Tuan Haris rupanya..! Maaf..Maaf Tuan, saya tidak mengenali mobil Anda tadi. Mari..mari..Tuan. Saya sudah diperintahkan untuk menunggu Anda dari tadi. Silakan parkirkan mobil Anda di sana pak Wilson."


"Ya terimakasih Mas."


Setelah ajudan dan pengawal keluarga Jendral Gunawan mengkonfirmasi kedatangan Haris.


Mobil yang membawa Haris dan Wilson lalu dipersilakan masuk dan mobil mereka diarahkan ke area parkiran. Setelahnya Haris dibawa menemui Jendral Gunawan dan juga orang tuanya, sedangkan Wilson dan seorang pengawal lainnya yang membawa mobil diarahkan ke ruang tamu.


"Mari Tuan, tolong Ikuti saya Tuan."


"Ya terima kasih Mas. Mas nya siapa ya namanya..?"


"Saya Wisnu Tuan."


"Oh Mas Wisnu ya.!"


"Iya Tuan. Mari tuan sebelah sini Tuan."


"Ya baiklah."


Haris terus melangkah bersama istrinya Shasmita, mengikuti Wisnu dari belakang, melewati ruang tamu dan beberapa ruangan lainnya, lewat ruangan yang mirip lorong hingga kemudian mereka sampai di depan sebuah kamar bahagian belakang rumah itu, yang ternyata bahagian belakangnya terdiri dari bangunan beton, layaknya rumah biasa pada umumnya namun masih terhubung dan tersambung dengan rumah kayu yang berada di bahagian depan.


"Komandan, Tuan Haris sudah datang."


"Oh ya.? Kerja yang bagus Wisnu. Sekarang pergilah katakan pada asisten rumah tangga kita agar menyiapkan hidangan untuk menyambut Tuan dan Nyonya Haris.


Jangan lupa pengawal Tuan Haris juga diarahkan masuk ke ruang tamu dan sambut serta layani layaknya tamu terhormat kita seperti biasanya."


"Baik. Siap laksanakan Komandan. Saya tinggal sebentar ya Tuan..!"


"Ya. Terima kasih Mas Wisnu."


"Sama-sama Tuan."


Wisnu yang merupakan ajudan Jenderal Gunawan segera pergi untuk melaksanakan tugas yang diberikan Jenderal Gunawan kepadanya.


"Selamat datang Tuan Haris bersama Nyonya. Maaf kalau penyambutan kami kurang baik, beginilah keadaan rumah orang tua kita Tuan Haris, harap dimaklumi."

__ADS_1


"Ah iya, maaf jenderal kami mungkin terlambat dari waktu yang kita bicarakan tadi. Rumah ini bagus kok Jenderal terlihat gagah dan megah sekali."


"Ha..ha.. Tuan Haris bisa saja. Berkebetulan begitulah selera orang tua kita Tuan. Bagaimanapun saya ucapkan banyak terima kasih. Saya tidak menyangka kalau Tuan Haris malah bisa secepat ini datangnya, menemui kami di sini, padahal baru saja kemarin kita bercerita dan bertemu di hari pernikahan Tuan Haris."


"Iya saya merasa perlu untuk melakukan penanganan secepatnya, apalagi seperti yang Jenderal katakan penyakit beliau itu terindikasi sebagai penyakit jantung. Ya kita tahulah seperti apa penyakit jantung itu Jenderal, bagaimana mendesaknya untuk dilakukan pengobatan."


"Iya Tuan Haris benar sekali, jadi apakah kita akan langsung melihat beliau atau Tuan masih ingin beristirahat sejenak barangkali.?"


"Kita langsung saja Jenderal."


"Baik kalau begitu mari Tuan kita langsung saja ke kamar Ayah saya."


"Ya mari, silakan Jenderal Gunawan memimpin di depan."


Jenderal Gunawan segera membukakan pintu kamar orang tuanya. Setelah pintu dibuka, Haris kemudian masuk diiringi oleh dokter Shasmita istrinya.


Langsung saja ketika mereka masuk ke dalam ruangan itu, terlihat seorang pria tua yang tampak lemah telah terbaring di sebuah ranjang, di mana tubuhnya didukung oleh alat bantu pernapasan dan juga alat bantu lainnya yang memonitor aktifitas detak jantungnya, menjadi suasana yang menyambut pandangan mata yang terlihat di hadapan Haris dan juga istrinya.


Selain itu ada dua perawat yang duduk tidak jauh dari pria tua itu, yang terlihat sangat siap setiap saat untuk memantau dan memeriksa keadaannya.


'Mari silakan Tuan Haris."


"Iya tidak apa-apa jenderal."


"Oh ya Ayu, apakah Ayah sedang tidur..?


"Ya Anda benar Tuan Jenderal. Tuan besar telah tertidur sejak tadi setelah selesai meminum obatnya."


"Oh begitu ya.? Ya sudah tidak apa-apa. Perkenalkan ini adalah teman saya tuan Haris bersama istri beliau yang juga seorang dokter. Beliau berdua ini datang, untuk membantu mengobati penyakit ayah saya."


Tak lama kedua perawat itupun kemudian menyambut kedatangan Haris dan menyalami Shasmita yang merupakan istri Haris dengan senyum yang penuh keramahtamahan.


"Beginilah keadaannya Tuan Haris, bagaimana kira-kira..? Langkah apa yang akan kita lakukan.?"


"Setelah saya melihat langsung begini, saya bisa mengetahui kalau memang di jantung beliau ini terjadi semacam penyempitan, yang mana hal itu tentu akan menimbulkan rasa yang begitu sakit dan juga terganggunya kinerja jantung beliau, hal itu juga mengakibatkan beliau merasa kesulitan dan sakit untuk bernafas secara normal, seperti biasanya.


Selain itu terlihat juga ada ruam ruam luka pada saluran pernapasan beliau, sehingga penyakit ini sebenarnya cukup parah dan termasuk cukup sulit untuk diobati secara singkat melalui pengobatan medis. Tapi Jenderal tidak usah khawatir, saya akan melakukan pengobatan dengan cara alternatif lain, yang mana metode ini nantinya akan lebih cepat membuahkan hasil yang kita inginkan.


Pengobatan ini adalah pengobatan kuno yang merupakan pengobatan rahasia, yang sudah tidak banyak dikuasai oleh orang lain di zaman ini. Jenderal tidak usah khawatir, setelah saya melihat keadaan beliau, saya bisa memberikan jaminan kalau beliau akan sembuh total setelah kita melakukan pengobatan.


Nantinya pasti beliau akan merasakan perbedaan yang sangat signifikan dan akan merasakan peningkatan serta kemajuan yang sangat baik dalam hal kesehatannya."


"Ah syukurlah kalau begitu Tuan Haris, saya menjadi sangat lega mendengarnya, terus terang saya sangat percaya kepada Anda.


selain itu saya juga kasihan dan tidak tega melihat orang tua saya begitu tersiksa di saat usianya mulai senja begini.


Jadi metode pengobatan apa yang akan dilakukan ini Tuan Haris.?"


"Ini metode pengobatan akupuntur Jenderal, sekaligus juga saya akan bantu nanti dengan penyaluran energi murni, yang akan kita berikan kepada ayah Anda nantinya."


"Wah saya sangat bahagia tak terhingga sekali rasanya, saya sangat bersyukur kalau memang Tuan Haris bisa memberikan kesembuhan pada ayah saya. Saya akan sangat berterima kasih sekali kepada Tuan Haris."


"Ah tidak perlu begitu Jenderal. Bukankah kita ini berteman..? Jadi Anda tidak perlu sampai berterima kasih sebegitunya. Baiklah kalau begitu saya akan memulai proses pengobatannya."


"Ya baik silakan Tuan Haris."


Haris memulai pengobatan itu dengan menyalurkan hawa murni, setelah meminta istrinya dokter Shasmita untuk melepaskan alat bantu pernapasan orang tua itu.


"Tuan..! Apa hal itu tidak apa-apa..?"


"Tidak apa-apa. Tuan Haris ini adalah teman baik saya, beliau tidak akan mungkin melakukan hal-hal yang tidak baik kepada orang tua saya.


Kalian cukup memperhatikan saja prosesnya, jangan mengeluh apalagi sampai mendebat Tuan Haris, beserta dokter Shasmita istri beliau dan kalian bersiap-siap saja, bila sewaktu-waktu diperlukan untuk membantu."


"Baik Tuan."


Haris yang telah mulai mengedarkan Hawa murni ke seluruh tubuh Ayah Jenderal Gunawan, sambil menotok beberapa titik di tubuh pria tua itu, tampak santai dan penuh percaya diri masih melakukan proses pengobatan itu.


Perlahan-lahan orang tua itu membuka matanya dan melihat kepada Haris, dokter Shasmita dan juga Jenderal Gunawan yang merupakan Putra keduanya.


"Tidak apa-apa Pak. Bapak tenang saja, kami sedang berusaha untuk menyembuhkan bapak.


Bagaimana rasanya..?"


Haris membuka percakapan kepada ayah Jenderal Gunawan.


Saya merasakan ada sesuatu Hawa sejuk dan hangat bersamaan yang begitu segar, masuk ke dalam setiap pori-pori dan juga lapisan daging serta kulit saya. Saya merasa tubuh saya menjadi begitu ringan, pandangan saya semakin tajam dan pendengaran saya juga semakin jelas.


Sebenarnya apa yang terjadi nak.?"


"Ya maafkan kami sebelumnya Pak, kami tidak membicarakan hal ini kepada Bapak, karena tadi saat memasuki ruangan ini kami mendapati bapak masih tertidur. Saya ini adalah teman dari anak bapak Jenderal Gunawan.


Kami sudah berteman cukup lama dan merupakan teman baik malah, jadi saya sangat sedih ketika mendengar berita kalau bapak sedang sakit, makanya saya putuskan akan melakukan pengobatan kepada Bapak. Apa yang saya berikan ini dan yang Bapak rasakan tadi masuk melalui semua pori-pori itu adalah, sebuah Hawa murni, yang kalau dijelaskan secara sederhananya, itu merupakan Hawa kehidupan yang sangat kita butuhkan Pak. Itulah adalah Hawa yang mendukung kebutuhan kita selama ini, itu masih tergolong inti dari inti Oksigen yang kita hirup dan juga kandungan makanan yang di serap oleh tubuh kita, sehingga setelah ini Bapak tidak akan memerlukan bantuan tabung oksigen itu lagi kedepannya.


Apa Bapak akan merasa berat dan tidak suka terbebas dari tabung itu..hehe..?"


"Wah suka sekali Nak. Saya tentu akan sangat suka sekali dan sudah merindukan sekali malah untuk bisa lepas dari tabung itu. Rasanya seperti terikat sekali dengan benda itu selama ini. Terima kasih Nak sudah mau mengobati Bapak. kamu ini anak yang baik."


"Sama-sama Bapak. Bapak tidak usah berterima kasih begitu. Seperti yang saya katakan tadi Jenderal Gunawan putra Bapak ini adalah teman baik saya, walaupun memang secara umur selisih umur kami cukup terpaut jauh, Bapak juga bisa menganggap saya sebagai anak ke depannya, kalau memang mau."


Terima kasih Nak tentu saya mau dan merasa terhormat dengan itu. Lalu apakah pengobatannya hanya dengan metode ini saja Nak.?"


"Oh tidak Pak. Nanti Bapak akan kita berikan pengobatan akupuntur selama 3 hari ini, dimana dengan pengobatan itu, semua keluhan-keluhan berupa penyakit-penyakit dalam diri Bapak akan hilang nantinya.


Kita akan tata ulang kembali tubuh Bapak dari dalam dan kita betulkan apa-apa yang rusak."


"Baiklah, Bapak percaya pada Nak siapa namanya..?"


"Saya Haris Pak. Nama saya Haris."


"Ya saya percaya pada Nak Haris, saya tidak pernah merasakan tubuh saya sesehat ini, setelah begitu lama."


"Wah syukurlah kalau begitu Pak. Nah kalau begitu sekarang Bapak pejamkan mata, Bapak bayangkan kalau sekarang Bapak mengedarkan seluruh Hawa yang saya salurkan ini ke seluruh tubuh Bapak dan kebagian-bagian tubuh yang selama ini Bapak rasakan sakit."


"Baiklah, kalau begitu Bapak akan melakukannya."

__ADS_1


Mendengar percakapan Haris dengan ayahnya, Jenderal Gunawan sangat merasa takjub, begitu juga kedua perawat itu begitu terkejut dan terperanjat dari tempat duduknya.


Mereka tidak pernah merasakan pengalaman semacam ini sebelumnya, mereka tahu betul sedikit banyaknya tentang bagaimana tingkat keparahan penyakit yang diderita oleh Ayah dari majikan mereka itu lewat dokter keluarga Jenderal Gunawan, yang merupakan dokter pimpinan mereka.


Haris masih terus melakukan penyaluran energi berupa Hawa murni untuk beberapa saat kemudian, setelahnya Haris mulai memasang jarum akupuntur ke beberapa titik akupuntur di telapak kaki, di punggung, tengkuk dan juga beberapa titik di lengan Pria tua yang merupakan ayah dari Jendral Gunawan itu.


Baik dokter Shasmita, Jenderal Gunawan, maupun kedua perawat yang berada di ruangan itu, semuanya melihat proses itu dari dekat dengan mata kepala mereka sendiri.


Proses terus berjalan, sehingga setelah beberapa saat mendiamkan jarum-jarum akupuntur itu di titik yang Haris pasang, beberapa saat kemudian Haris selesai dan mulai menarik kembali jarum-jarum akupunturnya dan menyimpannya ke sebuah kotak yang terbuat dari kayu berkwalitas tinggi, untuk kemudian memasukkannya ke ruang Inventory khusus pengobatan miliknya, yang oleh pandangan orang-orang yang berada di tempat itu, melihat Haris memasukkannya ke dalam kantong bajunya.


"Alhamdulillah, sudah selesai prosesnya Pak. Sekarang Bapak boleh memakai bajunya kembali dan saya ingin melihat bapak bangkit berdiri, lalu meninggalkan ranjang ini.


Bagaimana, apakah bisa..?"


"Merasa begitu ringannya badan ini, saya mengira seharusnya itu bukanlah hal yang sulit nak Haris, tapi kalau mengingat lamanya Bapak sakit selama ini, Bapak juga jadi merasa ragu, apakah hal itu bisa dilakukan."


"Nah..! Karenanya jangan ragu-ragu Pak. Jangan berandai-andai, langsung saja gerakkan tubuh Bapak."


Ayah Jenderal Gunawan bersegera memakai pakaiannya yang sebelumnya dibuka karena hendak memasang jarum-jarum akupuntur itu. Setelahnya dia bangkit berdiri dengan cukup mudah dan dia merasa energi dalam tubuhnya begitu banyak seolah berlimpah, dia merasa dirinya cukup gagah dan dia melangkah dengan mantap, seolah-olah dia merasa lebih muda 30 tahun dari usianya yang sebenarnya saat ini.


"Bapak bisa. Bapak bisa ternyata Nak Haris.


Bapak bisa dengan mudah dan kaki Bapak cukup kuat untuk melangkah, tidak lemah dan juga tertatih-tatih seperti biasanya. Ini luar biasa, ini mukjizat. Terima kasih Nak."


"Saya turut berbahagia untuk Bapak dan keluarga, cobalah bapak berjalan-jalan ke depan."


Ayah Jenderal Gunawan tersenyum puas, bahkan tertawa. Dia menendang-nendangkan kakinya, lalu melangkah menelusuri rumahnya.


Jenderal Gunawan awalnya begitu khawatir kalau Ayahnya akan terjatuh, tapi Haris menjelaskan kalau keadaan itu baik-baik saja dan mengatakan tidak apa-apa.


"Jangan khawatir Jenderal, tidak apa-apa. Tidak ada hal yang patut dikhawatirkan, keadaan ayah kita saat ini cukup kuat dan apa yang beliau katakan itu memang benar adanya, kekuatannya saat ini seolah-olah seperti beliau itu sudah lebih muda 30 tahun dari usianya yang sebenarnya, jadi tidak apa-apa jangan khawatir.


Hanya saja memang tidak ada salahnya kalau kedua Mbak perawat ini juga, mengikuti beliau."


"Iya, ayo ikuti Ayah kemana pergi Ayu dan Murni...! Siapa tahu nanti Ayah membutuhkan sesuatu."


"Baik Tuan." Kedua perawat itu dengan sigap langsung berjalan mengejar dan memantau Ayah dari majikan mereka itu.


"Wah ini luar biasa.. luar biasa Tuan Haris, Padahal kami tadinya akan membawa orang tua kami untuk melakukan operasi, dan memang di rumah kita ini, lewat dokter keluarga telah diatur dan diusahakan bagaimana caranya agar kondisi keadaannya segera memungkinkan untuk bisa dan layak melakukan operasi.


Tapi anehnya hanya sekali pengobatan dari Tuan Haris, sudah bisa membuat orang tua kami sampai begini kemajuannya."


"Ha..ha.. sudah saya katakan kepada Jenderal, bahwa akan ada kemajuan yang sangat cepat dalam peningkatan kesehatan beliau.


Alhamdulillah hasilnya sangat baik. Baiklah Jenderal, kalau begitu kami akan permisi pamit pulang, karena masih ada hal yang harus kami lakukan.


Besok sampai lusa kami akan datang kembali, melakukan pengobatan yang sama, sampai Ayah kita benar-benar sembuh total. Percayalah kedepannya kalau tidak karena luka benda tajam yang begitu dalam atau kecelakaan parah, maka dilihat dari segi kesehatan dengan kondisi beliau saat ini, beliau bisa hidup 100 tahun lagi dari sekarang."


"Wah seajaib itu Tuan Haris.? Lagi-lagi hal itu mengejutkan saya Tuan Haris. Tapi sayang sekali kalau Tuan ternyata sudah buru-buru mau pulang, padahal saya masih ingin bercerita beberapa hal pada Tuan Haris."


"Iya maaf sekali Jenderal, tiba-tiba saja saya tadi mendapat notif pesan untuk pergi ke suatu tempat. Tapi masih ada dua hari pengobatan lagi kok kedepannya dan kita bisa bercerita dengan puas berbagai topik besok sampai lusa. Selain itu saya juga cukup banyak tadi mengeluarkan Hawa murni, sehingga saya juga perlu untuk mencari udara segar di luar ruangan, seperti daerah perbukitan misalnya, tidak seperti sekarang ini."


"Baiklah, Baiklah kalau begitu Tuan Haris, saya tidak akan menahan Tuan lebih lama lagi. Terima kasih yang sebesar-besarnya saya ucapkan kepada Tuan Haris.


Oh ya Tuan, saya mendapat kabar, kalau anggota kami juga sudah mendengar informasi, kalau sebenarnya di hari pernikahan Tuan Haris ada sedikit keributan yang ditimbulkan oleh musuh-musuh Tuan Haris yang bermarkas di kota H dan juga di luar provinsi.


Saya sudah perintahkan pada jajaran saya, untuk ikut membantu memastikan keamanan Tuan Haris beserta keluarga dan juga usaha milik Tuan Haris.


Saya berjanji ke depannya saya akan bantu menggulung semua penjahat-penjahat itu dan memastikan mereka tidak bisa menjangkau apalagi sampai mengganggu keluarga maupun Tuan Haris."


"Terima kasih untuk hal itu Jenderal Gunawan, Jenderal ini merupakan kawan baik saya, termasuk yang paling baik dari semua yang baik ha.hah. Saya akan mengucapkan terima kasih yang banyak untuk itu."


"Ha..hah Tidak begitu juga Tuan Haris, apa yang Tuan Haris lakukan itu lebih banyak dari apa yang saya lakukan. Karenanya saya masih merasa berhutang budi."


"Ah tidak usah sampai merasa begitu Jenderal Gunawan. Saya sudah menganggap bahwa orang tua Anda itu, juga sudah seperti Ayah bagi saya, jadi tidak ada hutang budi di antara kita."


"Baiklah Tuan Haris, ijinkan saya memeluk Anda sebelum kita berpisah."


Haris tersenyum, kemudian membuka kedua tangannya lalu Jendral Gunawan memeluknya dengan penuh keakraban dan rasa persahabatan yang bahkan sudah meningkat menjadi rasa kekeluargaan.


Akhirnya Haris dan Shasmita keluar dari ruangan itu, kemudian pergi keluar melewati lorong yang sama seperti saat mereka masuk tadinya.


"Apakah sudah selesai Tuan.? Apakah kita akan berangkat sekarang.?"


Wilson yang melihat kedatangan Haris dan juga Shasmita, segera menegur dan bertanya pada Haris


"Ya sudah selesai untuk hari ini Wilson. Mari kita berangkat pulang sekarang..! Besok kita akan kembali lagi ke tempat ini dan juga lusa, kebetulan hari ini kita masih punya kegiatan lain."


"Baik Tuan."


"Baiklah Jenderal, kalau begitu kami permisi pulang, tapi saya tidak melihat ayah kita di sini, apabila beliau sudah pergi berjalan-jalan.?"


"Iya saya juga belum tahu, hanya saja sepertinya Ayah pergi ke kebun belakang Tuan Haris, karena hal yang selalu beliau rindukan adalah bisa berjalan ke kebun belakang. Berhubung di sana ada kolam ikan dan juga kebun yang biasa beliau kerjakan, sebelum penyakitnya semakin parah seperti sekarang."


"Syukurlah kalau ternyata apa yang kita lakukan ini membawa kebahagiaan tersendiri bagi beliau. Kami akan berangkat sekarang Jenderal titip salam saja buat Ayah kita."


"Baik, Tuan Haris saya akan sampaikan nanti, silakan..!"


Haris lalu beranjak pergi bersama istrinya Shasmita dan juga Wilson, serta seorang pengawal lagi yang bernama Jamal yang bertugas membawa mobil.


Kendaraan yang membawa Haris meluncur ke hotel Nurul Diana Haris dan tiba di sana beberapa menit setelah melakukan perjalanan dari rumah orang tua jenderal Gunawan.


Wilson dan Jamal yang merupakan pengawal Haris, mengira bahwa Haris dan dokter Shasmita akan beristirahat di sana, tapi ternyata tidak.


"Wilson dan Jamal, kalian beristirahatlah di sini sampai sore, atau kalian boleh pergi berkeliling. Barangkali kalian ingin pergi ke markas pusat atau ke mana saja yang kalian mau. Namun sebelumnya coba kalian carikan sepeda motor untukku, aku akan pergi bersama istriku ke suatu tempat, menaiki sepeda motor.


Jangan lupa nanti sore kita akan pulang bersama dan kita akan bertemu di sini."


"Baik Tuan. Tapi kemana Tuan akan pergi Tuan, apa tidak bahaya Tuan pergi tanpa pengawalan..?"


"Tidak kemana-mana Wilson. Saya hanya akan berkeliling-keliling saja di pinggiran kota P ini, ya hitung-hitung melihat-lihat warga sekaligus mencari udara segar saja, karena ada begitu banyak energi yang harus aku keluarkan tadi waktu melakukan pengobatan."


"Baiklah kalau begitu Tuan. Saya akan mencari sepeda motor yang merupakan inventaris milik Hotel kita saja."


Wilson segera mengambil salah satu sepeda motor, yang merupakan inventaris hotel dan memberikannya kepada haris.

__ADS_1


Haris lalu pergi membawa istrinya Shasmita, untuk berkeliling di pinggiran kota P ke daerah yang dekat dengan perbukitan.


Sedangkan Wilson dan Jamal mempergunakan waktu yang sangat berharga itu, untuk pergi ke markas Pusat, memeriksa keadaan para tawanan mereka yang sebelumnya telah tertangkap.


__ADS_2