
"Halo selamat malam Bapak dan Ibu."
"Ya. Apa yang membuat kamu memanggil kami untuk bertemu malam-malam begini.?"
"Jadi sebelumnya saya minta maaf sama Bapak dan Ibu, barangkali saya terlalu ingin untuk bicara banyak hal, sampai lupa waktu sehingga meminta untuk bertemu malam-malam begini, yang seharusnya menjadi waktu istirahat."
"Oh, saya pikir kamu sudah lupa aturan."
"Papi...!"
Shasmita mulai khawatir arah pembicaraan ini melihat sikap ayahnya.
"Haahhh..! Maafkan soal itu. Mungkin kami merasa sedikit diabaikan, sehingga terlahir ucapan begitu.
Saya ingin bertanya satu hal, apa yang menjadi tujuan nak Haris mendekati putri saya.?"
"Soal itu, saya tidak bermaksud apa-apa pak.
Hanya saja..."
"Jadi maksudmu kamu hanya bermain-main dan tidak punya tujuan sama sekali.?"
Ayah dr. Shasmita memotong pembicaraan Haris yang belum selesai.
"Pi biarkan nak Haris menyelesaikan apa yang ingin nak Haris sampaikan."
Haris merasakan kalau pembicaraan itu mulai semakin tidak sehat, sesuatu yang tentunya sangat tidak dia harapkan sama sekali, apalagi hal semacam itu justru datang, di saat begitu banyak masalah yang dia hadapi.
Ingin rasanya Haris menghentikan pembicaraan yang mana sejak awal dia memang merasa tidak mengejar Shasmita.
"Papi jangan begitu dong, Nak Haris sudah sengaja mencari dan menyempatkan waktu untuk bicara dengan kita."
Ibu Shasmita lebih tahu membaca diri dan juga membaca keadaan. Dia sangat paham bahwa putri merekalah yang lebih menginginkan Haris dibandingkan sebaliknya.
Dia merasa pembicaraan suaminya itu, dapat mengganggu apa yang putrinya inginkan dan ibu
Shasmita bisa melihat sedikit kebingungan dan juga rasa jengah sebagai tanda perasaan tidak nyaman atas situasi yang dihadapinya, yang terpancar jelas di wajah Haris.
"Papi..! Kok bicaranya jadi begitu sih Pi.
Bang Haris sedang banyak masalah, kenapa kita tidak ciptakan pembicaraan yang lebih mempererat tali silaturahmi."
Shasmita juga semakin khawatir dengan sikap ayahnya.
"Ah maaf saya haturkan banyak permintaan maaf kepada bapak dan juga Ibu, yang barangkali kedatangan bapak dan ibu saat ini. bersamaan dengan situasi sekarang yang memang sangat tidak nyaman, sehingga saya tidak bisa menyambut bapak beserta ibu sebagaimana mestinya.
Jelas kesalahan itu ada pada saya, jadi bapak dan ibu benar, kalau sekarang ini saya dekat dengan putri Bapak dan Ibu juga sedikit tambahan, kedua istri saya sendiripun sangat dekat dengan adik Shasmita, sehingga bahkan merekalah yang mendorong segala sesuatunya sampai di titik ini.
Kalau saya sendiri pada prinsipnya sangat tahu diri, karenanya saya tidak akan berani untuk terlalu maju apalagi memaksa. Kalau memang dari pihak ibu atau bapak, tidak begitu suka dengan diri saya atau keadaan yang saya begini, saya siap untuk memilih bersikap yang terbaik buat semuanya.
Bahkan sekali lagi saya ucapkan, saya akan sangat sadar diri tentang hal itu."
Mendengar ucapan Haris Shasmita langsung berlinangan air mata, dia merasa seolah telah pupus sudah segala harapannya.
Dia merasa Haris sudah siap melepaskannya.
Melihat itu Haris sedikit menjadi kasihan dan memang juga tidak berharap segala sesuatunya, berada sampai ke titik itu.
"Tok..tok..tok.."
[Suara pintu diketuk]
"Tuan, ini Wilson."
"Ada apa Wilson..?"
"Ini tadi saya di hubungi oleh pak Wira, dari Kaya dan jaya bersama group Tuan.
Katanya ada sesuatu yang sangat penting akan beliau sampaikan soal kepemilikan saham di Kaya dan jaya bersama group."
"Hmmm...masalah apa lagi itu.? Wilson saat ini saya sedang bicara dengan sosok penting yang merupakan orang tua saya."
"Aduh saya mohon maaf Tuan, saya benar-benar tidak tahu hal ini. Lagi pula teman-teman tadi tidak ada yang memberitahukan soal pertemuan Tuan ini, mereka hanya mengatakan kalau Tuan sedang ada di ruangan ini dan beberapa pengawal wanita juga mengatakan, kalau tadinya mereka hanya melihat tuan sendiri di sini, jadi saya berpikir Tuan hanya sedang ingin sendiri."
"Ya sudahlah tidak apa-apa Wilson, kamu juga sudah terlanjur ada di sini, coba berikan handphonenya."
"Wilson lalu memberikan handphone miliknya pada Haris."
"Saya mohon izin bicara sebentar Bapak juga Ibu."
"Iya silakan, silakan Nak Haris, ibu dan Bapak akan menunggu disini."
Ibu Shasmita kini lebih dominan dalam menghadapi Haris dalam berdialogh, takut kalau suaminya akan salah bicara lagi.
Waktu yang dipakai oleh Haris untuk berbicara kepada Wira, dimanfaatkan oleh ibu Shasmita dan juga Shasmita untuk membahas, mengkritik dan memprotes sikap ayah Shasmita yang sepertinya sudah menyinggung Haris.
Pada prinsipnya ibu si Shasmita sangat paham, bahwa dalam hal ini merekalah yang lebih butuh kepada Haris, karena dia tahu seperti apa perasaan Putri tercintanya pada sosok Haris.
Ayah Shasmita berdalih dengan mengatakan, kalau dia hanya hendak menguji calon anak mantunya itu.
"Iya Papi tidak salah berbuat begitu, tapi waktunya memang sedang kurang tepat lho Pi."
"Ya sudah deh, Papi minta maaf, Papi tidak akan melakukan itu lagi."
"Tapi Bang Haris sudah mengatakan hal seperti itu Mi, bagaimana dong."
__ADS_1
"Tidak apa-apa sayang, nak Haris itu bukan orang yang seperti kamu takutkan, dia hanya menegaskan sikapnya bukan menolak atau membuang kamu.
Haris sedikit menjauh dari tiga orang anggota keluarga itu, Haris pergi ke posisi ruangan yang lainnya tapi pembicaraan Haris dan wira jelas masih bisa di dengar oleh keluarga Shasmita."
"Halo pak Wira..!"
"Halo Tuan Haris..!"
"Ada apa sampai menghubungi saya malam-malam begini..?"
"Pertama saya turut bersedih atas apa yang menimpa keluarga Tuan. Saya ingin sekali datang ke sana, tetapi jadwal kegiatan saya di sini begitu padat."
"Tidak perlu Pak Wira, anda tidak usah memaksakan diri, apalagi kalau memang disana sedang padat jadwal kegiatan.
Selain itu istri saya juga sekarang sudah lebih baik kok keadaanya, mereka tinggal hanya menjalani masa pemulihannya saja."
"Oh syukurlah kalau begitu Tuan. Kemudian hal kedua yang ingin saya sampaikan adalah terkait dengan Korporasi kita.
Saya juga semakin bingung ini Tuan.?"
"Memangnya kenapa Pak Wira.?"
Saya dan teman-teman petinggi maupun pengurus lainnya, sangat khawatir tentang kelanjutan korporasi kita ini Tuan, saat ini kita di sini sangat bingung soal konsorsium Maroko yang menjadi saingan kita, ternyata tidak hanya sekedar menyaingi segala fasilitas dan juga kualitas usaha perhotelan yang masuk ke dalam Group korporasi kita, tapi kali ini mereka juga menyerang kita dari dalam.
Tampaknya para pemegang saham kita banyak yang sudah lebih tertarik untuk menarik sahamnya dan memindahkan saham mereka di Konsorsium Maroko. Saat ini ada sejumlah pemegang saham kita itu yang sudah melakukan pengajuan untuk menarik sahamnya."
"Oh ya kenapa begitu..?"
"Itulah yang tidak saya pahami Tuan, seperti apa sepak terjang mereka.?"
"Lalu ada berapa nilai saham yang hendak ditarik itu pak Wira.?"
"Dari 20 triliun saham, korporasi milik kita, selain saham yang 5 triliun milik Tuan, pemegang saham lain yang totalnya bernilai 10 triliun ingin menarik diri Tuan dan tidak berminat bergabung dengan kita lagi.
Mungkin konsorsium Maroko adalah pilihan mereka berikutnya, artinya kalau mereka tetap pada niatnya yang hendak menarik saham mereka, maka saham kita hanya tinggal separuhnya Tuan, yakni tersisa 10 triliun lagi.
Tentunya hal itu akan mempengaruhi kesehatan Korporasi kita, para anggota dewan komisaris kita juga sangat bingung dengan keadaan ini. Bagaimana mau menutupi kekurangan yang jumlahnya sebanyak itu.?"
"Oh itu masalah kecil Tuan Wira. Ya sudah muluskan saja mereka untuk memperoleh kembali uang mereka, Keluarkan uang yang 10 T itu, biar saya yang akan menggantikan posisi mereka, artinya biar saya yang membeli saham-saham mereka, sehingga seharusnya nanti saya akan menjadi pemegang saham sebanyak 75% dari saham yang ada.
Namun begitupun kalau mereka masih mau bertahan, ya pertahankan saja."
"Tidak Tuan. Mereka sudah tidak mau bertahan, segala cara sudah kita lakukan tetapi mereka tetap mau hengkang."
"Ya sudah kalau begitu serahkan saja uang mereka."
"Benar Tuan yang akan membeli saham mereka semua, yang senilai 10 triliun itu Tuan Haris.?"
"Ya saya yang akan membelinya? Saya saat ini sedang banyak masalah pak Wira, jadi saya tidak ingin adanya penambahan masalah lainnya, karenanya saya tidak mau terlalu pusing-pusing soal itu.
"Oh baiklah Tuan. Kalau memang begitu tidak ada masalah lagi. Saya akan urus segala sesuatunya, agar peralihan saham itu bisa berlangsung dengan cepat, kalau memang Tuan telah bersedia."
"Ya urus saja dengan cepat, lemparkan saja para pemegang saham yang begitu manja itu.
Mereka kira uang mereka itu adalah segalanya apa.?
Nanti pak Wira sampaikan pada Manager Hartono, bagaimana kelanjutannya."
"Baik Tuan, kalau begitu segala sesuatunya sudah clear dan semua akan aman saja Tuan."
"Ya bila perlu nanti sekaligus juga kita akan menambahkan saham kita senilai beberapa triliun lagi.
Katakan saya minta pada semua stakeholder kita yang tergabung dalam Korporasi agar semua lebih proaktif untuk memajukan korporasi kita, saya ingin target yang lebih tinggi dari apa yang sudah kita ajukan dalam hasil rapat pemegang saham, kalau soal bagaimana ekesekusi di lapangan itukan urusan direksi dan kebijakan dari dewan komisaris.
Jadi ya marilah bersama-sama kita majukan korporasi kita dan mari kita libas konsorsium Maroko itu, lakukan apapun yang perlu, bila memungkinkan goyang juga para pemilik saham mereka.
Tunjukkan kita sangat mampu menjadi yang terdepan dalam usaha ini.
Soal uang jangan terlalu pikirkan, saya yang akan maju terdepan. Saya mau lihat sampai di mana kekuatan keuangan mereka."
Di seberang telepon Wira yang merupakan salah seorang petinggi Kaya dan jaya bersama group, sangat tertegun dan menjadi semakin semangat dengan ucapan dan penjelasan dari pria bernama Haris yang dia sangat tahu, sehari-harinya sangat sederhana itu.
Ada begitu banyak rasa hormat yang tak terhingga, dalam diri Wira terhadap sosok Haris, yang selalu berada di luar ekspektasinya.
"Siap, siap Bos.
Kalau memang begitu saya akan bergerak lebih cepat."
"Ya baiklah kalau begitu. Pak Wira saya tidak bisa berlama-lama dalam panggilan ini. Saya sedang kedatangan tamu terhormat yang sangat saya hormati, sebab beliau-beliau ini adalah barisan orang tua saya."
Baik, baik Tuan, maafkan saya, yang ternyata sudah menelepon pada waktu yang kurang tepat mohon maaf Tuan."
"Tidak apa-apa toh akhirnya masalah ini jadi bisa ditemukan solusinya."
"Benar Tuan, kalau begitu saya tidak akan menyita waktu Tuan lebih banyak lagi, Selamat malam Tuan."
"Ya selamat malam Pak Wira."
[Panggilan berakhir[
"Wilson ini Hp-mu.!"
"Baik Tuan. Saya permisi pergi Tuan."
"Ya pergilah lebih dahulu Wilson, saya masih mau melanjutkan pembicaraan di sini."
__ADS_1
"Baik Tuan."
Ayah dan ibu Shasmita terkejut dengan begitu ringan dan garangnya Haris yang hendak mengeluarkan uang 10 triliun, bahkan akan menambah beberapa triliun lagi untuk membeli saham kaya dan Jaya Bersama grup.
Sebanyak apa uang pria yang ada di hadapan mereka ini.?
Ayah Shasmita mulai berpikir bahwa sosok Haris yang ada di depannya ini, bukanlah manusia yang bisa diperlakukan sebagaimana dia bersikap tadi, sejenak dia merasa malu atas sikapnya sebelumnya, yang hendak menguji kesabaran Haris dan kelayakannya sebagai menantunya, untuk bersanding dengan putrinya dokter Shasmita.
"Maaf bapak ibu mungkin tadi suara saya sedikit keras dan meninggi, terkadang memang hal itu diperlukan untuk menanamkan keyakinan kepada bawahan, sekaligus untuk menunjukkan ketegasan kita dalam bersikap."
"Memangnya ada apa Nak Haris.?" Ibu Shasmita yang sebenarnya sudah Mendengar pembicaraan itu hendak mencairkan suasana dengan berusaha beramah tamah, menanyakan hal itu."
"Ah soal itu tidak usah Ibu pikirkan, itu bukan apa-apa Bu. Tadi itu hanya soal adanya beberapa teman-teman pemegang saham yang kalau menurut saya sih cukup manja.
Yang namanya usaha tentu pasti selalu ada pasang surutnya yakan Bu.? Jadi kebetulan saat ini kita memiliki pesaing dalam usaha bisnis perhotelan, namanya konsorsium Maroko.
Pusatnya ada di luar negeri, di mana mereka itu jaringannya sangat kuat.
Mereka juga sangat kuat dalam hal permodalan, jadi teman-teman pemegang saham di Korporasi tertarik untuk ikut bergabung dengan konsorsium itu, lalu bermaksud menarik sahamnya dari korporasi milik bersama kita.
Ya sudahlah, saya beli saja sekalian saham mereka semuanya daripada harus pusing-pusing memikirkan itu haha.
Tapi sudahlah Bu, itu kita abaikan saja, mari fokus pada soal pembicaraan kita yang lebih penting dan sempat tertunda itu.
Jadi terkait dengan pembicaraan soal Adek Shasmita, saya mohon maaf sekali lagi saya mohon maaf Bapak dan Ibu. Saya paham betul dan juga saya sangat sadar, mungkin Bapak dan Ibu terlalu lama menunggu. Saya juga tadinya berpikir untuk menemu Ibu dan Bapak tetapi memang kondisi istri saya juga sedang butuh pendampingan, yang mana itu mengharuskan saya harus tetap bertahan di sana.
Hal itu barangkali yang membuat Bapak khususnya, kurang terima. Sehingga mungkin saya tanpa sengaja telah mengecewakan bapak dan ibu."
"Ah tidak, sebenarnya Bapak tidak terlalu kecewa karena hal itu nak Haris. Hanya saja ya Bapak minta maaf juga sih tadi Bapak mungkin kurang tahu situasi dan keadaan.
Bagaimanapun Nak Haris jugakan sedang menghadapi ujian atau musibah, Bapak terlalu terhanyut perasaan dalam berbicara.
Sebagai orang tua ya Bapak tadi hanya ingin melihat Seperti apa kesungguhnya Nak Haris terhadap Putri Bapak."
"Oh iya sebelumnya maaf Pak kalau memang Bapak merasa jawaban saya kesannya kurang serius atau malah seperti berlepas tangan.
Sebenarnya kalau Bapak tanya kesungguhan ya Haris itu adalah orang yang sangat memegang tanggung jawab Pak, jangankan kepada orang yang memang masuk dalam lingkaran keluarga Haris apalagi istri, bahkan pada keluarga karyawan pun Haris perhatikan.
Kalau soal Dek Shasmita, Bapak Ibu jangan ragu saya tulus saya akui 100% saya suka dan mencintainya dan lebih dari itu saya sangat serius dengan hubungan ini.
Hanya sajakan saya juga cukup realistis, sehingga cukup tahu diri. Status saya bukan anak muda lagi, itulah kenapa saya memilih narasi bahasa seperti tadi, tapi kalau ditanya secara keseluruhannya saya tentunya sangat serius jika bapak dan ibu mengizinkannya.
Saya akan bertanggung jawab, saya tidak akan menyia-nyiakan putri Bapak. Saya akan bersikap seadil-adilnya pada mereka bertiga, saya juga berjanji akan bersikap dengan baik, saya akan merawat, menyayangi Dek Shasmita sepenuh hati saya, sedaya mampu saya. Jadi Bapak dan Ibu tidak usah ragukan soal itu.
Jujur ini bukan karena kasihan atau apa, tapi memang murni seperti yang saya ucapkan dan perihal itu istri saya juga sudah sangat tahu, bahkan mereka yang mendorong hal itu pada awalnya.
Namun begitupun tentu untuk melangkah ke jenjang pernikahan saya belum bisa melaksanakannya sekarang, tentu harus menunggu mereka berdua sembuh dan pulih 100% terlebih dahulu dan itu juga bentuk tanggung jawab saya kepada mereka.
Bagaimana menurut bapak dan ibu..?"
Mendengar untaian kalimat-kalimat dari Haris, ketiga anggota keluarga yang berada di depannya seketika menjadi bahagia, beban yang sempat berada di atas pundak dan kepala mereka yang tadinya begitu terasa menghimpit, sudah lepas dan terbang menghilang entah ke mana.
Shasmita sudah mengembangkan senyum manisnya menandakan kalau dia sangat suka dengan arah pembicaraan kali kedua antara Haris pria pujaannya dengan ayah dan juga ibunya.
Kedua orang tua Shasmita bisa melihat kebahagiaan putrinya itu pada saat ini dan bisa menilai serta melihat kegelisahan hatinya pada saat sebelumnya.
"Alhamdulillah Nak Haris, bagaimanapun sebagai orang tua kami juga tentunya sangat menginginkan kebahagiaan bagi putri kami.
Kalau memang semua yang nak Haris ucapkan itu berangkat dari ketulusan dan juga kejernihan hati Nak Haris maka bapak dan ibu sebagai orang tua tidak lagi mempersoalkan segala macam hal.
Bagi kami semua yang Nak Haris sampaikan, sudah mewakili segalanya. Intinya Bapak juga percaya dengan Nak Haris, hanya saja yaitu tadi Bapak setelah semakin bertambahnya usia begini, kadang bawaannya sudah seperti anak-anak suka emosian merajuk dan segala macam.
Jadi Bapak juga minta Nak Haris maklumlah, soal pembicaraan kita di awal tadi yang kurang nyaman."
"Tidak Pak. Bapak tidak salah yang Bapak lakukan itu sudah benar, tidak ada yang salah dari itu sama sekali. Yang salah itu barangkali hanya keadaan Haris yang saat ini sedang begini saja sehingga suasana hati Haris menjadi sedikit tidak baik seperti biasanya, tapi begitupun hal itu tidak akan mengganggu cara berpikir Haris, sehingga menjadi rusak dan salah dalam menilai."
"Ya sudah kalau begitu, dari pembicaraan kita tadi Bapak sudah tahu kesimpulannya, artinya kalau putri bapak Diana dan Kirana sudah sehat, kita akan membicarakan hal ini lebih serius lagi."
"Ya begitulah Pak, terima kasih kalau Bapak dan Ibu bisa memakluminya."
Akhirnya pembicaraan yang cukup berat dan tegang itupun berakhir,
selanjutnya Haris dan kedua orang tua Shasmita mulai bicara tentang hal-hal yang ringan tentang tempat tinggal, kegiatan selama ini dan hal-hal yang berkaitan dengan kisah perjalanan hidup Shasmita, termasuk keadaannya sejak kecil.
Tidak jarang terdengar suara tawa kecil dari ruang pertemuan keluarga itu, karena keempat orang yang berbicara di sana terhanyut dalam situasi pembicaraan mereka.
"Rasanya tidak ada. bosannya bicara dengan Bapak dan ibu apalagi soal Adek Shasmita, tapi waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam, lagipula Bapak dan ibu butuh istirahat."
"Ya bapak juga belum bosan sebenarnya, tapi memang kita butuh istirahat selain itu Nak Diana dan Kirana juga tidak boleh ditinggalkan terlalu lama.
Jadi Nak Haris sudah punya ayah dan papa mertua kalau begitu melengkapinya panggil aku Papi mertua dan ibumu sebagai Mami mertua, sebab Kirana juga memanggil kami Papi dan Mami."
"Baiklah Papi dan Mami, kalau begitu Haris akan memangil dengan panggilan itu sejak malam ini."
"Ha..hahah Akhirnya aku akan jadi mertua Mi, benar-benar lama sekali putrimu ini membuat seseorang menjadi anak menantu Papi.
Pokoknya nanti aku harus cepat menjadi seorang opa."
"Papi, malu lho Pi."
"Ah kalau sudah resmi menikah nanti, kok masih malu sih Mi."
Sudah ah kita pergi, tidur saja Pi.!"
Haris dan Shasmita tertawa melihat kedua orang tua yang lagi-lagi sedang bersoal jawab itu.
__ADS_1
Haris, Shasmita dan juga kedua orang tuanya selesai dengan pembicaraan mereka dan mereka kembali ke kamarnya masing-masing.