Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _122 : makanan yang dibubuhi racun


__ADS_3

Haris kemudian menjumpai kerabat-kerabatnya yang telah berkumpul di ruangan yang ada di lantai bawah dan menceritakan secara detail pada mereka, tentang apa yang menimpa dokter Shasmita dan bagaimana Agus telah menangani hal itu.


Sementara itu di kamarnya, baik Diana dan juga Kirana sedang begitu bahagianya bersama Shasmita yang sudah mereka anggap sebagai calon istri Haris berikutnya.


Shasmita si dokter cantik merasakan kehangatan dari dua sosok istri Haris yang sangat menerima kehadirannya itu. Malam kembali menyelimuti suasana desa dengan kegelapan dan keheningannya.


Semua orang yang berada di Villa Haris sudah beranjak ke peraduannya masing-masing, Haris sendiri memilih untuk tidur di kamar yang lain, untuk menjaga agar tidak terjadi fitnah.


Malam terasa cepat berlalu, hari belum terlalu terang, saat suasana di hunian Haris itu tiba-tiba sudah menjadi gaduh.


"Bang...Bang...!"


"Ya ada apa Puspa..?"


"Kakak Bang..! Kakak Kirana muntah darah."


"Apa..?


Muntah darah."


"Iya, Abang di panggil oleh Kak Diana."


Mendengar berita yang disampaikan oleh Puspa, salah seorang pengawal utama istri Haris.


Haris langsung melompat dari tempat tidurnya dan berlari menuju ruangan khusus milik mereka, di mana malam itu Kirana, Diana dan juga Shasmita tidur bersama.


"Ada apa..?


Apa yang terjadi..?"


"Adek tidak apa-apa Bang, cuma batuk darah saja sedikit."


Kirana menyahut dan menjawab pertanyaan Haris.


"Itu bukan sedikit lagi lho Kak. Bang kita harus bawa Kakak Kirana ke Rumah sakit, agar diperiksa secara intensif."


Shasmita menyanggah ucapan Kirana yang terkesan lebih mementingkan pikiran Haris dan mengabaikan kesehatannya.


Dan Diana juga menguatkan ucapan Shasmita.


"Iya Bang Adek Kirana harus dirawat, darah yang keluar itu adalah darah segar dan kental lho Bang."


Diana yang begitu khawatir melihat keadaan Kirana, menguatkan agar Kirana dilarikan ke Rumah Sakit, untuk mendapatkan penanganan medis secepatnya, karena saat itu Shasmita sendiri tidak membawa obat apa-apa.


Haris langsung mengangguk setuju dan dengan penuh kasih sayang dia dengan lembut dan perlahan, menggendong Kirana ke bawah dan menyuruh Puspa untuk mengatakan kepada Nando agar segera menyiapkan mobil dan para pengawal yang akan mengiringi mereka.


"Bagaimana..? Apakah kamu sudah mengatakannya Puspa..? ini mendesak lho."


"Sudah Bang, sudah. Nando sudah menyiapkan mobil, Pak Wilson dan yang lainnya juga sudah bersiap-siap dan menunggu dibawah."


"Ya sudah kamu dan juga bersama lima orang lainnya, silakan ikut Puspa bawa mobil sendiri."


"Iya Bang, siap Bang."


"Bang, Kirana tidak apa-apa lho Bang, Abang jangan terlalu khawatir."


Kirana yang sudah semakin lemah dan tampak pucat, masih memikirkan Haris. Dia takut kalau Haris menjadi begitu khawatir melihat keadaannya.


"Tidak. Ini bukan sesuatu hal yang biasa lagi lho sayang.


Adek harus dirawat."


Haris mencium Kirana dan membelai rambutnya penuh kasih sayang, sesaat setelah memasuki mobil.


Haris yang mengendarai mobil di depan, di iringi 6 mobil lainnya segera meluncur ke Desa P, menuju Rumah sakit milik mereka.


Sesampainya di Rumah sakit, Kirana langsung diperiksa dan di berikan penanganan pertama.


Baru saja pikiran semua orang sudah mulai tenang, tiba-tiba Diana juga terbatuk-batuk karena terlalu lelah buru-buru berlari, saat ikut mengiringi dokter yang membawa Kirana.


Dan setelah batuk yang kesekian kali, darah segar yang kental sebesar kuning telur ayam, keluar dengan meluncur dari mulut Diana dan setelahnya menyusul darah cair yang menyembur.


Lantai menjadi merah dan mulut Diana juga penuh darah, seketika ruangan menjadi anyir bau darah.


Semua orang kembali menjadi panik.


"Adek kamu juga batuk darah..!"


Haris yang tadinya berada di dekat Kirana segera melompat menangkap istrinya Diana yang terlihat semakin lemah, Haris menggendong Diana dengan lembut dan penuh kasih sayang dan membaringkannya di tempat tidur yang berada di samping Kirana.


Tanpa sadar air mata Haris berjatuhan, menandakan betapa sakitnya apa yang dia rasa saat ini.


"Ayo istirahatlah sejenak agar diperiksa oleh dokter Dek."


"Sebenarnya ada apa Bang..? Kok Adek juga muntah darah..?"


Belum sempat Haris menjawab, kembali suasana menjadi gaduh ibu Kirana yang tidak kuat melihat darah yang menyembur dari mulut Dianapun segera pingsan


Shasmita yang membawa tim dokter spesialis segera datang, untuk memeriksa istri pemilik Rumah sakit tempat para dokter itu mengabdikan ilmunya pada masyarakat.


"Tuan biarkan kami memeriksa keadaan Nyonya, sebaiknya bapak dan ibu yang lain menunggu di luar saja, biarkan Tuan dan Ibu Direktur saja yang memantau disini."


Salah seorang tim dokter mengatakan hal itu pada Haris dan segera saja tanpa diminta oleh Haris, seliruh anggota keluarganya keluar dari ruangan itu dan menunggu di luar.


"Ada apa ini sebenarnya Dek Shasmita..?"


"Bang, biarkanlah tim dokter kita untuk memeriksa secara detail keadaan Kak Diana dan juga Kak Kirana, nanti juga kita akan tahu hasilnya seperti apa.


Selain itu Adek juga sudah mengarahkan salah seorang dokter untuk memeriksa keadaan Mama yang tadi sempat pingsan"


Melihat keadaan Haris yang terlihat mulai gelisah, dokter Shasmita lalu menggenggam tangan Haris yang sudah menjadi dingin karena cukup terguncang disebabkan, apa yang menimpa pada kedua istrinya pada hari yang bersamaan itu.


"Ya, apa yang kau ucapkan itu benar Dek, tapi Abang heran saja, kenapa hal ini menimpa mereka berdua secara tiba-tiba begini..?"


"Ya mudah-mudahan saja nanti tim Dokter kita bisa mendiagnosa dengan jelas, apa yang terjadi kepada kakak berdua bang.


Dokter Shasmita tetap menguatkan hati Haris, yang jauh di lubuk hatinya sudah dianggapnya sebagai suaminya itu.


Pemeriksaan menyeluruh yang memakan waktu berjam-jam itu, membuat para dokter heran tentang apa yang menimpa kedua istri Haris.


Mereka tidak bisa dengan jelas mendiagnosa apa yang menjadi sumber penyakit kedua istri Haris tersebut. Dari hasil yang mereka teliti selain adanya gejala batuk darah yang tidak normal itu, tidak ada kejanggalan lain dalam tubuh Diana maupun Kirana.


"Bagaimana hasilnya dokter..?"


"Aneh ini sangat aneh Tuan Haris, kami sama sekali tidak menemukan kejanggalan apa-apa dalam tubuh Nyonya berdua.


Selain darah yang mengucur deras keluar itu, tidak ada kejanggalan apapun yang bisa dideteksi dari tubuh Nyonya berdua.


Untuk sementara ini kita akan memberikan obat, agar meredakan darahnya sehingga berhenti keluar. Selain itu Nyonya berdua akan kita berikan infus."


"Kenapa bisa begitu dokter, ada apa ini sebenarnya..?"


Haris masih sulit dan belum bisa menerima penjelasan tim dokter yang memeriksa istrinya.


Salah seorang dokter yang merupakan profesor ahli paru dan merupakan dokter paling sepuh diantara semuanya mengatakan kepada teman-temannya yang memang sudah bekerja keras itu.


"Kalian semua pergilah lebih dahulu untuk beristirahat, aku akan tinggal di sini untuk berbicara kepada Tuan Haris."


"Baiklah prof."

__ADS_1


Tim gabungan dokter yang menangani Diana dan Kirana, segera beranjak meninggalkan profesor, dokter ahli spesialis paru itu, bersama Haris dan juga Shasmita di ruangan kamar VVIP Rumah Sakit itu.


Setelah kepergian teman-teman sejawatnya sesama dokter, profesor yang merupakan dokter paling sepuh di rumah sakit itu, segera berbicara kepada Haris.


"Tuan..! Saya selain menjadi seorang dokter ahli atau dokter spesialis paru, juga banyak belajar tentang beberapa ilmu pengobatan alternatif lainnya, seperti pengobatan versi ketabiban, tetapi saya tidak cukup pandai untuk mengobati penyakit dengan sistem ketabiban itu.


Pengetahuan yang saya dalami itu lebih kepada wawasan untuk bisa mendeteksi dan mengetahui berbagai penyakit, khususnya yang terkait dengan paru-paru maupun saluran pernapasan.


Dari semua pengetahuan itu, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa, penyakit Nyonya berdua ini adalah disebabkan karena racun Tuan.


Bukan racun sintetis atau racun yang di buat berupa zat kimia, tapi ini lebih kepada racun alami dari berbagai jenis tanaman yang diramu sedemikian rupa, dimana racun semacam ini masih ada tersimpan dan diturunkan secara turun-temurun serta tersembunyi tentunya, diantara beberapa orang di kalangan masyarakat kita.


Saya sangat yakin dengan itu, tetapi sayangnya saya tidak bisa banyak membantu dalam hal pengobatannnya, sebab seperti yang saya katakan sejak awal, pengetahuan saya tentang itu lebih kepada mendiagnosis dan tidak terlalu mahir dalam hal pengobatan.


Kalau memang benar penyakit Nyonya berdua disebabkan oleh racun jenis yang kita bicarakan, maka percayalah Tuan semakin kita berikan obat-obatan dari medis, maka akan semakin parah keadaan Nyonya berdua.


Itulah sebabnya saya tadi ingin membicarakan hal ini kepada Tuan, tidak atau tanpa kehadiran teman dokter yang lainnya, karena hal ini pastinya akan cukup dianggap tabu dan tidak rasional dalam dunia kedokteran yang mereka pahami."


Haris cukup tertegun mendengar penjelasan yang panjang lebar disampaikan oleh dokter paling sepuh yang ada di rumah sakitnya itu, tetapi tidak bisa dia pungkiri Haris cukup percaya dengan semua penjelasan dari dokter spesialis paru yang ada di hadapannya.


"Lalu kenapa tidak bisa ditemukan tanda-tanda atau gejala penyakit apapun di Tubuh Istri saya dok.?"


"Oh itu memang begitu Tuan. Untuk orang yang baru saja terkena racun jenis yang kita sebutkan tadi, memang belum akan tampak kelihatan kerusakan apa-apa.


Kerusakan itu baru akan muncul nantinya pada paru-paru penderitanya, setelah berjalan beberapa hari atau beberapa saat sejak terpapar racun itu.


Itulah sebabnya seringkali terlambat untuk menangani pasien dengan kondisi seperti itu, karena biasanya ketika telah bisa dideteksi dan ditemukannya tanda-tanda kerusakan itu, racun itu sudah terlanjur menyebar dan menjalar ke seluruh tubuh sehingga sudah sangat terlambat untuk ditangani.


Dan baru pada saat itulah seandainya dibawa kepada pemeriksaan dokter, akan kelihatan kalau sudah ada penyakit paru-paru yang akut dan susah di obati."


"Kejam sekali orang yang tega meracuni orang lain itu. Dengan akibat yang sangat fatal begitu, kenapa dan untuk apa diciptakan racun semacam itu dokter.?


Apakah dokter juga mengetahui informasi tentang asal muasal racun itu.?"


"Tuan.! Sebenarnya tidak ada alasan yang cukup pasti tentang itu Tuan, hanya saja dari berbagai literatur yang pernah saya pelajari ditambah penjelasan yang saya terima dari para orang-orang tua kita terdahulu, sebenarnya dahulu katanya racun alami jenis yang kita bicarakan ini, adalah semacam senjata yang sering dipakai untuk melawan para penjajah dahulunya.


Namun seiring waktu berjalan, penjajahan telah berakhir dan negeri kita sudah merdeka. Namun kemudian ilmu ini masih saja tersimpan rapi yang celakanya kemudian kemampuan untuk meramu racun semacam itu disalahgunakan untuk mencelakakan sesama warga sendiri.


Keadaan ini biasanya terjadi saat dimana orang yang memiliki racun ini, akan memakainya kepada orang-orang yang dia benci atau orang-orang yang dia anggap sebagai musuhnya, akan tetapi dia tidak cukup kuat untuk melawan dan menghadapi orang itu secara nyata dan terang-terangan Tuan.


Apakah Tuan memiliki musuh dalam waktu dekat ini..?"


Haris tampak melamun dan semakin terkejut serta semakin yakin atas penjelasan dokter, yang juga merupakan profesor itu.


"Tuan sebaiknya Tuan mengingat-ingat, apa saja yang Nyonya konsumsi beberapa saat belakangan ini. Apakah Tuan bisa mengingat di mana dan kapan Nyonya berdua merasa begitu sangat enak, melebihi dari yang biasanya pada saat memakan sesuatu atau mengkonsumsi suatu makanan baru-baru ini.?


Karena orang yang memakan makanan yang dicampurkan jenis racun alami seperti yang kita bicarakan ini, akan merasa kalau makanan yang di konsumsi itu sangat lezat dan terasa begitu enak di lidah.


Mendengar penjelasan dokter itu Haris kemudian teringat saat sarapan di pagi hari kemarin saat Haris membawakan ikan jurung dan juga udang Tiger, yang kemudian diolah oleh chef pribadi yang bekerja di villanya.


Melihat Haris yang tampak termenung memikirkan sesuatu, dokter itu kemudian berkata


"Baiklah Tuan, mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan. Saya permisi pamit undur diri, saran saya jika keadaan Nyonya berdua tidak berangsur membaik, sebaiknya Tuan menghentikan pengobatan medis dan berpikir untuk mencari pengobatan alternatif lainnya."


"Baik dokter terima kasih atas semua saran dan juga penjelasan dokter, kalau begitu saya akan memindahkan perawatan istri saya ke rumah saja, di desa ini saya juga memiliki Villa, agar tidak terlalu mencolok jika nantinya memang diperlukan pengobatan alternatif lainnya."


"Ya hal itu terserah Tuan saja, bagaimana baiknya.


Tuan bisa menghubungi saya melalui dokter Shasmita bila hendak menanyakan suatu hal.


Kalau begitu saya permisi dulu Tuan."


"Iya sekali lagi terima kasih dokter."


"Baik Tuan."


Kemudian dokter itupun pergi dan setelah kepergiannya, keluarga Haris kembali masuk ke dalam ruangan kamar itu dan menanyakan segala hal terkait pemeriksaan tim dokter yang sudah bekerja.


Haris kemudian meminta Shasmita untuk mengatur pemindahan Diana dan Kirana ke villanya, berikut membawa apa-apa saja yang diperlukan bagi kelanjutan perawatan kedua istrinya, sambil melihat dan memantau perkembangan yang yang dikatakan oleh Prof Rizal, dokter ahli paru yang sebelumnya berbicara dengan Haris.


"Riston kau dan yang lainnya pergilah menjemput koki atau chef kita beserta seluruh staf dan asistennya, satupun tidak boleh ada yang tidak datang.


Termasuk asisten rumah tangga untuk dibawa ke Villa kita yang berada di desa ini.


Ingat mereka kita bawa adalah untuk dimintai penjelasan, jangan beritahukan kepada mereka apapun sebelumnya."


"Baiklah Tuan kami akan segera melaksanakan perintah Tuan."


"Ya pergilah dan segera datang, bawa semua yang ada di sana, katakan saja kita akan menginap di desa P dan tidak usah bicara terlalu banyak hal, jangan sampai hal ini bocor dulu.


Rahasiakan ini sampai mereka tiba di tempat kita.


Setibanya nanti di sini kumpulkan nereka dalam satu ruangan dan introgasi semuanya, sampai orang yang membubuhi racun itu mengaku. Kalau tidak mengaku paksa bagaimanapun caranya supaya mengaku."


"Baik Tuan, kami sudah paham dan akan segera melaksanakannya."


Dengan mengendarai dua mobil baik Amanu, Riston Wilson dan juga Halim segera bergerak menjemput apa yang diperintahkan oleh Haris untuk segera membawanya ke Villa yang ada di desa P.


Keadaan Diana maupun Kirana semakin memburuk, keduanya semakin pucat dan tampak semakin lemah serta tak sadarkan diri.


Dengan mengumpulkan segala tekad dan keberaniannya, Haris segera meminta dr. Shasmita untuk menghentikan sementara pengobatan medis yang telah diberikan dan juga melepaskan infus keduanya.


"Dek Shasmita..! Sesuai apa yang dikatakan oleh prof Rizal, sebaiknya kita hentikan saja dulu sementara segala macam pengobatan medis, yang sudah terlanjur diberikan.


Kita lihat seperti apa perkembangannya, apakah kakakmu akan semakin baik atau tidak."


"Baiklah Bang, semoga saja keadaan Kakak berdua benar-benar semakin membaik."


"Ya. Saat ini kita belum tahu pasti, namun terus terang Abang yakin Profesor juga tidak akan bicara sembarangan, semua itu diucapkan adalah demi kebaikan kita juga."


"Baiklah kalau begitu Bang."


Setelah beberapa saat melepas dan menghentikan seluruh bentuk pengobatan medis, baik Diana maupun Kirana tampak lebih segar, walaupun keadaan kedua istri Haris itu masih begitu lemah dan juga pucat, akan tetapi keduanya relatif lebih baik dari sebelumnya dan Kirana sendiri bahkan telah sadarkan diri.


"Bang..! Dimana kita saat ini..?"


"Alhamdulillah ya Allah.


Dek..! Syukurlah Adek sudah siuman, kita berada di rumah kita yang ada di desa P."


"Apakah sebelumnya Adek tidak sadarkan diri Bang..? Bukankah seharusnya kita berada di rumah sakit.?"


"Iya tadinya Adek sempat tidak sadarkan diri beberapa saat, sehingga tidak tahu kalau sudah dipindahkan kemari, kata dokter Adek bisa dirawat di rumah saja, kalau ada perawatan berikutnya yang harus dijalani, maka biar dokter saja yang datang kemari.


Toh dari Rumah sakit ke tempat kita ini juga cukup dekat, hanya sekitar 500-an meter."


"Oh begitu ya Bang..?


"Iya istirahatlah sayang jangan pikirkan apapun, kami semua ada disini."


Haris mencium kening istrinya yang masih tampak begitu pucat pasi, seolah tak memiliki darah itu. Tak terbendung air mata Harispun jatuh berderai, mengenai wajah Kirana yang telah sadar lebih dahulu itu.


"Abang menangis..? Kenapa Abang menangis.?


Abang pria yang kuat, jangan menangis, Abang harus kuat demi kami."


Ingin rasanya Haris berteriak sampai seluruh Villanya itu pecah, dengan tubuh yang bergetar Haris memalingkan wajahnya sambil mengusap air matanya agar tidak dilihat oleh istrinya yang begitu dicintainya itu.


Amarah dan juga rasa sedih yang bercampur padu menjadi satu begitu mendalam namun harus ditahan, membuat tubuh Haris terus bergetar hebat.

__ADS_1


"Bang kita bisa melewati ini."


Shasmita mendekap Haris dari belakang dan matanya yang telah berembun sejak tadi, meluahkan air mata hangat yang dia sembunyikan dengan membenamkan wajahnya ke tubuh Haris lalu menggenggam jemari Kirana yang terasa lebih dingin dari biasanya.


"Kakak bertahanlah, kami semua ada bersama kakak."


"Ya Kakak akan bertahan Shasmita, sekarang Kakak mengandalkanmu.


Panggilkan Papa dan mama kemari juga putra dan putri kita."


"Ya kak, akan Shasmita panggilkan."


Shasmita segera berlari keluar, untuk memanggil ayah dan ibu Kirana serta anak kembarnya.


Bersamaan dengan datangnya Ayah dan Ibu Kirana, semua anggota keluarga Haris dari Diana yang ada disitu juga ikut datang untuk melihat keadan Kirana.


"Abang...!"


"Sebentar ya sayang kakakmu juga sudah siuman."


Haris permisi kepada Kirana istrinya, untuk berbalik dan melihat keadaan Diana.


"Iya Bang periksalah keadaan Kak Diana, aku juga bisa melihatnya dari sini."


"Terima kasih ya sayang."


Haris membelai istrinya Kirana, kemudian beralih kepada Diana.


"Bang Diana haus..!"


Segera saja ibu Diana yang kebetulan memegang tempat air minum yang dia bawa dari desa S, memberi air minum itu pada Haris.


Haris dengan perlahan lalu menuangkan air minum itu ke mulut istrinya sedikit demi sedikit


"Minumlah sayang."


Dengan lembut dan penuh perhatian, Haris terus memberi istrinya minum dengan sabar. Setelah Diana merasa puas Haris menggenggam tangan istrinya Diana, kemudian menciumnya berulang kali dan masih dengan air mata yang tak kuasa dia bendung, air mata Haris mengalir deras begitu saja.


Haris kemudian mencium Diana istrinya sama seperti yang dia lakukan pada Kirana.


"Adek tidak apa-apa. Abang jangan menangis."


Tangan Diana yang masih begitu lemah, berusaha menyentuh pipi Haris yang telah menjauh, melihat itu Haris kembali mendekatkan wajahnya dan Diana segera mengusap air mata Haris.


Kembali hal itu membuat tubuh Haris bergetar hebat. Haris begitu marah dengan dunia ini, sehingga dia Hampir saja tidak bisa mengawal dirinya.


"Bang..! Abang harus kuat, apa tadi yang Kirana katakan pada Abang..?"


Kirana yang melihat keadaan Haris yang kembali bergetar dan sebagai istri yang sangat paham dengan sifat suaminya itu, Kirana kemudian berusaha mengingatkan dengan memaksa bicara sedikit lebih keras, sehingga membuatnya sempat terbatuk-batuk."


Haris segera mendekati Kirana istrinya dan mengatakan kalau dia tidak apa-apa.


"Abang tidak apa-apa sayang, Abang tidak apa-apa, jangan terlalu khawatir. Adek tidak usah memaksa untuk banyak bicara yang keras dan berpikir yang macam-macam, Abang sudah tidak apa-apa."


"Iya Kirana percaya kepada Abang, suami kami orang yang kuat. Abang adalah orang yang kuat. Seperti yang tadi Adek Shasmita katakan, kita bisa melewati ini semua Bang."


Semua keluarga Haris mengalihkan wajahnya masing-masing dan berusaha mengusap air mata yang mengalir deras dipipi setiap orang, karena tidak ingin Kirana makin bersedih. Sementara disaat yang sama ucapan Kirana bagai anak panah yang begitu tajam menusuk ulu hati mereka.


"Dek Shasmita, apa yang Prof Rizal sebutkan ada benarnya, kamu melihatnya bukan..?"


"Iya Bang, Adek juga melihat hal itu."


"Kalau begitu yang perlu Adek Shasmita perhatikan sekarang, adalah gizi kakakmu berdua. Berikan mereka puding yang baik, agar sistem kekebalan tubuh mereka bisa melawan penyakit yang datang.


Sementara itu Abang akan mencoba mencari pengobatan alternatif lainnya."


"Baiklah Bang, Adek akan memperhatikan hal itu."


Haris segera permisi kepada Diana dan juga Kirana, untuk mencari orang yang bisa mengobati kedua istrinya.


Diana dan juga Kirana memberikan izin bagi Haris untuk pergi, karena semua anggota keluarga mereka juga ada disana bersama mereka.


"Iya, Abang pergilah tapi jangan lama-lama, cepatlah datang kembali kemari."


"Iya Bang, Abang adalah semangat dan kekuatan kami, jangan lama lama di luar sana."


Setelah Diana mengucapkan apa yang dia rasa perlu dia ucapkan. Kirana juga menambah dan menguatkan apa yang Diana ucapkan pada Haris.


"Tidak. Abang tidak akan berlama-lama ini hanya sebentar saja."


"Kalau begitu pergilah Bang."


Baru saja akan pergi, Riston telah berada dihadapan Haris dan membisikkan sesuatu padanya.


Haris memberi kode kepada Riston, agar segera keluar dari kamar itu. Riston yang memahami apa yang diperintahkan oleh Haris majikannya itu, tidak lagi melanjutkan apa yang dia bisikan dan dia mengikuti Haris keluar dari kamar paling depan yang berada di lantai pertama Villa miliknya itu.


Setelah berada cukup jauh dari kamar tempat kedua istrinya dirawat, Haris kemudian bertanya.


"Bagaimana hasilnya Riston..?"


"Tuan setelah Tuan memerintahkan kami untuk membawa chef dan seluruh stafnya berikut asisten rumah tangga kita yang ada di desa S sana.


Kami segera membawa mereka semua dan berikutnya kami kumpulkan mereka semua di aula ruang pertemuan keluarga. Seperti yang Tuan minta, kami telah menyelidiki semua orang.


Sebisanya kami paksa mereka agar mengaku siapa yang sudah membubuhkan racun ke makanan kedua Nyonya besar.


Awalnya tidak ada yang mengaku, sampai kami kemudian mendapatkan hasil, dari pemeriksaan HP milik mereka yang kami sita dan kami periksa satu persatu Tuan.


Kemudian kami menemukan pembicaraan salah seorang staff chef yang menurut chef itu sendiri, staffnya itu masih merupakan anggota baru.


Di dalam HP milik staf baru itu, kami menemukan pembicaraan. di mana staf itu melakukan chatingan kepada seorang pria, yang setelah kami meminta Albert untuk memeriksa dan menelusuri status orang itu, ternyata dia adalah paman dari orang yang dahulu pernah menyekap dan juga melukai Bos Jhon tuan."


"Brengsek, segera temukan orang itu dan tangkap dia hidup atau mati Riston."


"Tuan kami akan segera menemukan dan menangkap orang itu."


Haris merasa begitu geram begitu pula Riston Halim dan Amanu juga Wilson.


"Wilson kau perintahkan seluruh anggota kita yang ada di markas pusat, katakan siapa saja yang tidak sedang bertugas, atau jika tempat bertugasnya masih berada di wilayah kota P, perintahkan semuanya untuk mencari keberadaan pejabat keparat itu dan memburunya dan minta Albert untuk melacak keberadaannya.


Bila perlu culik pria brengsek itu lalu sampaikan kepada pak Agus, setelah kalian selesai menginterogasi serta memberinya pelajaran yang keras sampai orang itu mengaku.


Jelaskan semua tentang hal ini dan minta pak Agus untuk mencobloskannya ke dalam penjara."


"Tuan bukankah itu terlalu mudah baginya Tuan.? Apa tidak perlu kami selesaikan saja dia dari dunia ini Tuan.?"


"Riston dengarkan aku baik-baik, kita masih perlu menangkap dia hidup-hidup, kecuali dia melawan maka selesaikan saja di tempat.


Kenapa dia masih perlu sebab siapa tahu dia masih memiliki penawar dari racun yang dia suruh orang lain untuk memberikannya kepada istriku. Maka gali informasinya dan paksa bagaimana caranya agar dia mengaku.


Soal hal yang kau katakan terlalu mudah baginya itu, tentu tidak akan semudah yang kau bayangkan Riston, kalaupun dia kita cobloskan ke dalam penjara, jangankan di penjara di ujung dunia sekalipun aku akan bisa menemukan dan menghabisinya.


Tapi sebelum itu kita lihat dulu bagaimana keadaan istriku selanjutnya, kalau terjadi apa-apa pada kedua istriku, maka aku akan membuat kehidupan si brengsek itu lebih menyakitkan baginya daripada kematian, sehingga dia akan sangat berharap untuk mati saja, karena begitu sakitnya hal yang akan dia alami nantinya."


"Baiklah Tuan, kalau begitu kami akan bergerak sekarang."


Baik Wilson, Riston Amanu dan juga Halim berbagi tugas melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Haris.


Wilson segera mengatur orang-orang yang akan memburu dan menangkap pria yang memerintahkan staff chef yang baru, untuk membubuhkan racun pada makanan kedua istri Haris, sedangkan Riston Amanu dan juga Halim menginterogasi lebih lanjut staf brengsek yang sudah nekad membubuhkan racun itu.

__ADS_1


Adapun seluruh staf chef yang lainnya termasuk juga chef itu sendiri, beserta seluruh asisten rumah tangga milik Haris, diberhentikan sementara menunggu kabar lebih lanjut.


__ADS_2