Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _56 : Kesepakatan dua wanita


__ADS_3

Hari telah berganti pagi, aktifitas hotel di pagi hari itu kembali sibuk.


Di bawah semangat untuk menjadi pegawai paling baik, dengan harapan agar terpilih nantinya untuk mendapatkan posisi yang bagus di hotel yang kelasnya lebih tinggi, serta gaji yang sudah naik 100%, menjadikan pelayanan hotel meningkat menjadi lebih baik.


Tingkat hunian yang cukup baik dikisaran rata rata 60% dari 260 kamar di hotel Nurul Haris, membuat banyak kamar tidak terlalu sering kosong, berbanding hotel lainnya di wilayah yang sama.


"Bang, kita jenguk ibu yuk"


"Lho tapi mau menjumpai orang tuanya adik Kirana?"


"Oh abang belum dapat kabar dari dek Kirana?


"Kenapa?"


"Orang tuanya dek Kirana, tidak jadi datang karena ada saudaranya yang mendadak meninggal."


"Oh begitu ya?"


"Iya".


HP milik Haris berbunyi.


[Panggilan masuk]


"Ya Halo bu' dokter!"


"Pak direktur, maaf mengganggu aktivitas pagi anda, hari ini ada agenda acara peletakan batu pertama Rumah sakit yang akan kita bangun.


Bisakah bapak datang menghadirinya?"


"Ah itu, maaf bu dokter aku kurang suka acara seremonial yang begitu, ibu saja mewakili kita yah.


Ditambah jadwal saya hari ini juga ada, yakni melakukan pengalihan hak kepemilikan beberapa hotel bintang lima.


Itu sudah di jadwal sebelumnya, tidak apa apakan?"


"Oh kalau memang pak direktur tidak bisa, nanti akan saya sampaikan.


Tetapi banyak pejabat yang akan datang hari ini, seharusnya mereka bisa lebih mengenal bapak."


"Ah ngak usah bu' saya dari balik layar aja, biarkan mereka lebih kenal dengan ibu saja."


"Baik pak direktur, kalau begitu saya akan mewakili bapak nantinya.


oke ya pak saya tutup."


"Iya bu dokter terima kasih sebelumnya."


[Panggilan berakhir]


"Dari siapa bang?"


"Oh bu dokter, katanya mau peletakan batu pertama, hahha mending abang mancing."


"Kok gitu bang?"


"Takutnya habis peletakan batu pertama ada peletakan batu kedua dan ketiga lagi wkwkwk.


Ngaklah abang kurang suka yang resmi resmi begitu."


"Tok..tok..tok"


Mohon izin bu'."


"Ya silahkan masuk.


Sarapan datang bang."


"Oh Iya cocoklah sudah lapar."


Waiter/s  masuk dan menyajikan sarapan di meja makanan direktur hotel mereka.


Saat itu Kirana ikut masuk.


"Eh dek Kirana!


Ayo masuk ikut sarapan."


"Gak usah kak, nanti aja sarapannya."


"Ehhh nanti aja sarapannya, bagaimana?


Entar kamu sakit, ayo nih kakak buatin ya!"


Diana membuatkan sarapan Kirana


"Bang kalau di depan karyawan lain, abang jangan peluk Kirana ya, aku malu, sudah besar juga."


"Ahahhah malu apa takut jadi suka sama abangmu?"


"Uhuuuukkk"


Haris tersedak


"Ah kalian berdua ini lagi bicara apa sih?"

__ADS_1


"Kirana belum jawab kakak, malu atau takut jadi suka sama abangmu."


"Dua duanya hehe.


Bisa bisa jadi perawan tua kirana, kalau menunggu nunggu abang suka sama kirana, wkwkwkw."


"Ngak akan! nanti kakak paksa, tenang aja."


"Eh pada ngomongin apaan sih, sekarang hidupku sudah lengkap, ada istri dan adik perempuanku.


Jangan pikirin yang macam macam."


"Bang apakah sudah ada hotel bintang limanya?"


"Oh kemungkinan dalam minggu ini mereka akan datang untuk peralihan hak dan mengurus surat suratnya, memangnya kenapa Kirana..?"


"Kirana mau pindah ke hotel bintang lima aja bang!."


"Oh nanti sediakan satu kamar utamanya, buat kakak dan abang yah kirana?"


"Lho abang dan kakak mau kesana juga?"


"Iya dong, nanti setiap hotel yang kita miliki harus ada satu kamar paling mewah buat abang dan kakak."


"Yahh gagal dong?"


"Gagal kenapa dek Kirana?"


"Justru Kirana buru buru mau pindah agar, jangan sering sering bertemu abang dan kakak."


"Ha..ha..hah Pasti Kirana sudah sukakan sama abangnya, yakan ayo ngaku?"


"Ah kakak, ngak kok."


"Nggak usah takut.


Kalau Kirana kakak bolehkan kok, tapi kalau memaksa kakak sih ngak mau."


"Hmmmm..... masih saja ngomongin yang begituan?


Kirana itu adik abang titik."


"Eh Kirana kamu belajar bawa mobil sama Very atau Nando aja ya? keduanya ganteng orangnya, siapa tahu jadi jodoh yakan hehe.?"


"Oh iya orangnya baik lho dek Kirana.


Kalau kamu rasa jabatannya kurang tinggi nanti abangmu naikkan, gimana?"


"Ah kakak, Kirana gak mau punya hubungan dengan laki laki."


"Udah ah kak, kita bahas yang lain aja."


"Ya sudah kalau begitu.


Bang! Siti udah bagaimana?"


"Ngak tahu juga abang dek, seganlah menjenguknya, apalagi di kamar begitu, abangkan laki laki?"


"Iya sih bang, adek juga segan kalau mau bertamu ke kamarnya, nanti ajalah kalau dia sudah sehat."


"Iya udah nggak apa apa.


Hah.. abang sudah selesai sarapannya mau mandi bentar."


"Iya bang ngak usah buru buru, adek juga malas pergi cepat cepat, agak siangan aja piginya."


"Ya terserah adeklah."


"Kak!"


"Ya."


"Kakak ngerjain Kirana ya?"


"Soal apa?"


"Soal abang?"


"Tentang yang mana?"


"Tentang kakak setuju kalau Kirana jadi istri ke dua abang."


"Nggak, kakak memang setuju beneran."


"Kakak ada jatuhkah, beberapa hari ini?"


"Eh kau sama aja ya sama abangmu, kelen pikir aku ini sudah sarafkah?


Kirana kakak itu berpikir positif, abangmu itu sudah sangat kaya sekarang, dia bukan lagi suami kakak yang dulu, yang cuma kakak yang mau padanya.


Iya benar kalau soal setia abangmu itu sangat setia, kakak akui itu tapi dunia ini terlalu rumit Kirana, kakak tidak yakin dapat mengekangnya terus, daripada dia nanti terjebak dengan wanita yang tidak jelas di luar sana, lebih baik sama kamu yang kakak sudah kenal dan tahu latar belakangnya, berdua kita menjinakkan dan memenuhi kebutuhannya yang semakin meningkat akibat pola makan dan kwalitasnya yang makin baik itu."


Makanya kemaren kakak bilang sama abangmu.


Abang salah mengangkat Kirana sebagai adik angkat, abang seharusnya jadikan dia istri....hahahahh."

__ADS_1


"Terus apa kata abang, kak?


Seperti ucapanmu, apakah kepalaku terbentur sesuatu atau apakah aku jatuh. hehehehe."


"Memang pemikiran kakak agak aneh, Kirana saja tadinya begitu takut, kalau kakak sampai tahu Kirana punya perasan terhadap abang, tapi kakak malah blak blakan begitu, Kirana tadi sempat syook."


"Kenapa harus takut ?


Kakak tau perasaanmu dari sikapmu sejak kamu dipeluk abangmu, abangmu itu terlalu naif, dia pikir memeluk wanita begitu saja lalu menyebutnya adik bisa menghalangi orang merasa biasa saja, lalu tidak ada bekas atau tidak ada rasa suka padanya.


Tapi kalau dia sendiri memang tulus itu, benar benar ngak ada rasa atau istilah kata, mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Padahal orang sudah bagaimana bagaimana haahaahhha."


"Ah kakak.


Prinsip kakak yang begini, apakah tidak ditentang oleh orang tua?"


"Kalau yang begini itu tidak lagi urusan orang tua dek, tapi kita yang menjalaninya.


Sebenarnya kalau perjalanan hidup kakak sendiri sejak masih sekolah dulu sudah begini, dulu kakak punya sahabat karib namanya Lisa, kami itu sudah berjanji akan menikahi abangmu yang sekarang, sebagai suami kami bersama, tapi takdir berkata lain, dia sekarang sudah punya keluarga sendiri dan suami lain.


Syukurnya dia suka dengan hidupnya dan telah hidup dengan bahagia.


Jadi ya kalau secara pemikiran ini sudah biasa bagi kakak, sudah sejak dulu dan bukan hal yang baru.


Kalau kau suka dengan abangmu secara tulus, maka yakinkan dia.


Kakak persilahkan kau berusaha dengan baik, tapi jangan dengan cara kotor yang dilarang agama, abangmu sangat suka dengan ketulusan, maka taklukkan dia dengan itu.


Kakak yakin, kau punya ketulusan di dalam hatimu."


"Kakak..! Terima kasih kakak beri Kirana kesempatan, tapi Kirana belum yakin bisa menaklukkan abang, seolah abang tidak suka dengan wanita."


"Anak bodoh, kalau tidak suka lalu kau pikir si Nurul datang darimana?


dari magic com...?"


Jelas jelas tadi kakak bilang kebutuhannya meningkat."


"Berarti itu karena abang ngak suka aja ya berarti dengan Kirana."


"Hanya lelaki yang bodoh yang tidak suka denganmu, abangmu memang begitu sifatnya, dia berbeda dari pria lainnya, kalau pria lain suka pada sesuatu yang disukainya dia akan terus melihatnya, tapi kali dia akan berpaling, kalau dia nantinya berpaling atau tidak mau melihatmu, itu tanda dia sangat suka begitu suka.


Sudah ah sudah pegel."


"Terima kasih ya kak."


"Tunjukkan rasa terima kasihmu sampai halal...wkwkwkw


Jangan biarkan dirimu tersiksa, sehingga menggigil karena menahan rasa suka."


"Kok kakak tahu sih, kakak ngintip ya.?"


"Hahaha, ya tahulah kau tanpa sadar baru saja membuka dan mengakuinya."


"Ah kakak."


"Haaahhhahaha berarti kau sama dengan kakak, yang kakak sebutkan itu adalah pengalaman kakak."


"Udah ah."


"Iya kak. Kirana juga mau lanjut aktifitas."


"Oh ya dek, bilangin sama petugas sama water ya namanya.?"


Waiter/s lho kak kalau water itu air kakakku sayang."


"Oh itu ya?


Intinya pramu sajilah, bilangin bungkusin buat ibu dan adik di rumah, biar kakak bawa nanti."


"Iya kak nanti Kirana bilangin."


"Mana lagi abangmu ini?


Pasti sudah tertidur nih berendam air hangat."


"Abang bisa tertidur lagi mandi? hahahahahhh."


Keduanya lalu kembali dengan aktifitasnya masing masing.


Kirana merasa bahagia


Pertama :


Dia telah mendapat restu dan tidak harus takut lagi dengan stempel plakor.


Kedua :


Ternyata apa yang dia resahkan satu malam ini, karena sikap Haris yang membuang wajahnya dan terkesan menghindar, ternyata itu karena rasa sukanya yang ditunjukkan dengan cara berbeda, dari pria lainnya.


Dia bertekad sesusah apapun dan selama apapun perjuangannya, pria yang baginya adalah kulkas 4 pintu itu harus takluk.


Haris benar benar tertidur di Bathtub nya.

__ADS_1


Diana mengurusi putri semata wayangnya dengan penuh kasih sayang.


__ADS_2