
Hari telah berganti pagi.
Saat ini ayah Kirana sangat bersemangat.
Dia telah menantikan hari dimana dia akan merasakan hilangnya tekanan, yang menekan pikirannya beberapa bulan belakangan ini.
Ayah Kirana sudah siap melawan, bahkan jika hotelnya ini jadi taruhannya.
Memangnya kenapa kalau hotel ini hilang?
Toh sangat mudah saja bagi menantunya memberinya hotel bintang lima sekalipun, kalau dia mau sedikit saja mengeluh seperti apa yang putrinya sampaikan.
"Bang, abang sudah bersiap-siap?"
"Sudah..! Adek ngak lihat abang sudah tampan begini, kenapa rupanya dek..?
"Barusan papa nelpon katanya papa sedari tadi sudah ada di ruangan bang."
"Oh ya..?
Wah papa mertua abang, kelihatannya sangat semangat sekali hari ini..?"
"Iya bang, papa udah nggak sabar mau melihat bagaimana abang melibas orang-orang yang telah menekannya...."
He..heh ini sih perkara kecil? bukan masalah berarti bagi abang.
Mungkin papa sudah gerah dengan orang orang itu, baiklah abang tidak akan mengecewakan papa mertua abang, apalagi untuk yang pertama kalinya.
Kalau begitu sampaikan pada papa bahwa abang akan turun sekarang."
"Iya bang.
Dengan pakaian ini tampilan abang terkesan sangat santai.
Ini khasnya anak muda, penampilan abang tampak segar dan energik."
"He.he bagus ya baju pilihan kakak Kirana..?
"Iya kak jadi pengen nahan abang agar jangan pergi, tapi masalahnya papa sudah nunggu."
"Aura ketampanan suami kita terlihat jelas ya dek Kirana."
"Iya kak.."
'Sudah ah, papa mertua sudah menungu disana."
Dengan langkah yang gagah seolah pendekar yang siap bertarung, Haris melangkah memasuki lift dan turun untuk kemudian masuk kedalam ruangan yang telah disebutkan oleh Kirana.
"Pagi pa...!"
"Pagi nak Haris.
Bagaimana istirahatmu malam ini nak Haris..?
"Haris merasa sangat segar pagi ini pa! karena malam kemaren Haris cukup pulas tidurnya.
Mungkin karena perjalanan yang begitu jauh...he he
Oh ya Pa...!
Kapan orang-orang itu datang....?"
"Sebentar lagi nak, tadi mereka sudah menelepon, mengabarkan bahwa mereka sudah berangkat.
Dengan lantamnya orang orang itu mengatakan agar jangan sampai mereka menunggu nantinya.
Itu sebabnya tadi papa sampai menelpon Kirana, apa Kirana sudah ada ngomong sama kamu...?"
"Sudah pa, barusan aja dek Kirana mengatakan kalau papa sudah dari tadi menunggu.
Itu sebabnya kenapa Haris buru-buru kemari pa.
Kalau hanya orang orang itu, apalagi tipenya sombong begitu, sedikitpun tidak akan Haris pandang.
Apa katanya pa?
Jangan sampai mereka menunggu?
He.he..heh lucu sekali.
Kalau bukan karena papa, Orang orang itu tidak akan Haris temui, mereka sangat tidak layak.
Papalah yang Haris pandang dan hormati."
"Iya kamu harus tekan mereka Haris, kamu harus balas mereka."
"Tenang saja pa, Haris pastikan kedua orang itu akan merangkak meminta minta ampun pada papa.
Oh ya pa..! Kelihatannya hotel ini terlalu kecil kalau untuk dijaga begini pa, bagaimana kalau kita besarkan saja pa hotel ini..?
Kita rombak dan tingkatkan kualitasnya menjadi bintang lima pa."
"Papa sebenarnya ingin nak Haris, tapi kamu tahulah beberapa tahun belakangan ini, suasana ekonomi yang lesu sedang melanda negeri kita, jadi pendapatan hotel juga menurun dikarenakan tingkat hunian yang tidak mencapai standar yang seharusnya.
Karenanya papa tambah pusing, apalagi dengan adanya masalah yang ditimbulkan oleh orang-orang ini."
"Kalau masalah biaya, papa jangan khawatir.
Papa cukup izinkan Haris, maka Haris akan membangun hotel ini dan menjadikannya bintang 5."
"Tapi lahan ini sudah mentok Ris, cuma bisa sampai yang ada ini saja, sudah habis tidak ada lagi."
"Sebenarnya lahan kosong yang di samping kanan dan kiri hotel ini sudah Haris beli pa, jadi lahan di kiri dan kanan hotel ini sekarang sudah menjadi milik kita.
Tanah ini nanti, akan Haris akan berikan suratnya kepada papa."
"Kapan kamu membeli lahannya Ris, bukannya kamu baru pertama kalinya datang kemari..?"
__ADS_1
"Iseng-iseng kemarin Haris keluar pa, jalan keliling-keliling, lalu tiba tiba pimpinan daerah disini menelpon Haris meminta izin untuk bertemu Haris.
Jadi ya mumpung lagi bertemu dan dia pula bertanya apa yang bisa dia bantu, sekalian aja Haris minta agar lahan di kiri dan kanan hotel ini bisa kita beli pa, dan hasilnya mereka mengurusnya he he.
Intinya Haris ingin hotel ini meningkat menjadi hotel bintang 5 pa.
Haris tidak ingin hotel
yang nama istri Haris ada disana, kualitasnya dibawah bintang 5 bahkan kalau ada hotel bintang 10, Haris akan buat hotel ini menjadi hotel bintang 10."
"Haris papa sungguh bangga dengan kamu nak.
Papa nggak tahu lagi mau mengatakan apa sama kamu, Kirana sudah banyak bercerita tentang kamu tapi papa nggak menyangka, kalau gerakan kamu itu begitu cepat.
Betul apa yang Kirana katakan kalau Haris itu seringkali membuat orang-orang yang di sekitar Haris terkejut."
"Cuma pekerjaan kecil pa, Haris hanya ingin berbuat sesuatu buat papa, Haris ingin berbakti dan membahagiakan papa dan mama beserta Kirana dan seluruh anggota keluarga kita."
"Tapi bagaimana kamu bisa kenal dengan pejabat nomor 1 di tempat ini, sehingga sampai meminta izin bertemu denganmu nak Haris...?"
"Ha...ha..hah Haris juga baru kenal pa, jadi pimpinan di daerah ini adalah adik dari salah seorang General manager (GM) hotel milik kita di kota M pa.
Adiknya ini yang paling kecil pa dan dia yang menyekolahkannya sejak kecil, karena orang tua mereka telah meninggal dan adiknya ini tinggal menumpang bersama abangnya, yang sudah menikah sejak pejabat ini masih kecil.
Kemaren GM itu hendak melaporkan sesuatu dan menanyakan dimana keberadaan Haris.
Jadi ya Haris sebutkan saja, eh ternyata pimpinan disini sekarang adalah adiknya GM kita itu.
Mungkin dia yang arahkan agar adiknya itu menjumpai Haris pa"
"Oh, begitu ceritanya..?
Nak Haris itu orang-orang itu, sudah mulai masuk."
Hendrik pengusaha nakal yang mengatasnamakan Kaya dan jaya bersama group, sebuah grup korporasi dimana Haris memiliki saham 1,7 triliun di sana masuk bersama oknum pejabat nakal yang hendak bermain kotor dan melaksanakan akal busuknya kepada ayah Kirana.
"Halo selamat pagi pak."
"Pagi, selamat pagi semuanya ayo silahkan duduk."
Ayah Kirana masih beramah tamah
"Iya baik terima kasih.
Jadi sepertinya kita tidak perlu berbasa-basi lagi, karena masalah ini sudah berlarut-larut sejak awal.
Sekarang di sini ada pak Hendrik dari Kaya dan jaya bersama group yang datang bersama saya kemari.
Saya sendiri ada disini adalah untuk memediasi dan mencari solusi terbaik, dari masalah ini kedepannya?"
Haris lalu ikut berbicara.
"Halo pak kalau boleh saya tahu siapa nama anda...?"
"Saya Johan, pak Johan.
"Oh dan yang satu lagi pak Hendrik berarti tadi ya...!
Kenalkan saya adalah Haris, saya adalah menantu dari mertua saya yang merupakan pemilik hotel ini.
Kalau boleh tahu, sebenarnya apa yang menjadi permasalahan dalam hotel ini pak.?
Saya juga orang perhotelan, jadi saya ikut bingung sebenarnya apa masalah dan dimana duduk permasalahan ini, yang sebenarnya.?"
"Wah pembicaraan ini akan berulang-ulang lagi kelihatannya.
Akan kembali lagi ke titik awal, semestinya ini tidak perlu dibahas lagi, tapi baiklah.
Hotel ini memilki banyak masalah, banyak laporan dan aduan di mana pelayanan dan segala hal yang terkait dengan standarisasi sesuai dengan perizinan yang dikeluarkan, tidak dipenuhi oleh pihak manajemen Hotel.
Termasuk oleh corporate owner itu sendiri barangkali.
Jadi kami dari pihak daerah yang membidangi ini, ingin mempertanyakan hal tersebut.
Sedangkan pak Hendrik adalah perwakilan korporasi besar di bidang perhotelan, yang mau tidak mau sebenarnya Ikut terkait pada permasalahan yang menimpa hotel Kirana ini."
"Oh begitu..?
Tapi tetap saja saya tidak faham, kenapa jadi anda berdua yang mengurusi masalah standart yang anda sebutkan tidak terpenuhi itu...?
Baiklah sebentar saya akan telepon Walikota K ini.
Sebab dia tentunya lebih tahu soal keadaan disini dan saya tidak sendiri kurang faham."
[ Memanggil Rahmad]
"Halo tuan Haris, saya walikota Rahmad disini."
"Halo pak Rahmad.
Pak Rahmad, apa pak Rahmad sedang sibuk sekarang..?"
"Oh tidak tuan Haris, apa ada yang bisa saya bantu tuan...?"
"Tadinya kalau pak Rahmad tidak sibuk, saya mau mengajak pak Rahmad untuk bertemu di hotel Kirana.
Ini hotel mertua saya pak Rahmad dan kebetulan nama hotel ini adalah nama istri saya sendiri."
"Oh bisa tuan, saya akan datang."
"Tapi kalau bisa, nggak usah ramai ramai ya pak heheh, biar jangan terlalu menyolok mungkin bapak bisa ajak bawahan bapak yang berada di bidang pariwisata saja bagaimana...?
"Cocok tuan, saya faham sekarang mungkin ini terkait niat anda yang mau membuat hotel Kirana menjadi hotel bintang 5 itu ya tuan..?"
"Wah pak Rahmad ini cepat sekali fahamnya.."
"He...he saya cuma menebak ternyata benar ya tuan.?
__ADS_1
Segera saya akan datang, lagian waktu saya kebetulan lapang tuan, seharusnya bawahan saya juga begitu."
"Baik Terima kasih pak Rahmad.!"
"Ah... tidak perlu begitu tuan Haris, baiklah mohon tunggu sebentar, kami akan segera berangkat."
Mendengar pembicaraan Haris dan orang nomor satu di kota K itu, membuat Johan sport jantung dan berkeringat dingin.
Suara dalam panggilan video itu jelas adalah orang nomor satu di kota K itu saat ini, ditambah dia akan membawa kabid pariwisata setempat.
"Waduhh mati aku...
kata Hendrik dia sudah mencari tahu semua data tentang pemilik hotel ini, yang tidak punya siapa siapa selain anak gadisnya, tapi sekarang apa...?
Menantunya dekat dengan walikota...?
Dan apa itu tadi?
Walikota memanggilnya tuan..?
Mampus aku, bagaimana ini..?
*Brengsek si Hendrik..!
Semoga dia punya solusinya*"
Johan sudah mulai mau menangis, ruangan sejuk ber-AC itu sudah mulai terasa panas baginya.
"Baik soal izin yang anda katakan tadi dan yang tidak saya fahami sama sekali itu, teman saya Walikota dari kota K ini akan datang pak Johan, mungkin saya bisa bertanya padanya langsung nanti."
Ayah mertua Haris tersenyum melihat Johan yang wajahnya sudah terlihat mengenaskan seperti kambing yang terjepit lato latonya itu.
"Hendrik nama anda tadi Hendrik ya..?
Kalau boleh tahu apa jabatan anda, di group Kaya dan jaya bersama group..?
"Apakah kamu pantas untuk menanyakan jabatanku...?"
Hendrik masih menjaga gengsinya.
"Pantas atau tidak pantas, akan kita lihat nanti, sebab saya sendiri adalah orang di korporasi Kaya dan jaya bersama group.
Bagiku aneh saja kalau orang dari Kaya dan jaya bersama group mau mengurusi hal kecil seperti ini."
"Wah wah luar biasa....!
Saya kira hari ini adalah hari dimana selesainya permasalahan ini, ternyata bapak tidak punya itikad baik dan bapak justru melibatkan anak menantu dalam permasalahan ini.
Apa bapak kira bisa lepas dari ini...?
Anda mungkin dekat dengan pimpinan daerah disini, lalu apa....?
Kekuatan Kaya dan jaya bersama group kami tidak akan bisa anda bayangkan."
Semangat yang Hendrik tunjukkan membuat Johan sedikit tenang, namun membuat mertua Haris sedikit khawatir.
"Kami bisa membongkar hotel ini dan mencabut izinnya dengan kekuatan korporasi kami..."
"Begitukah...?"
Haris mulai dengan tampang seriusnya.
"Apakah kau mampu untuk membongkar hotel ini..?
Apa jabatanmu di daerah ini dan apa acuan untuk membongkar hotel ini...?
Apa kamu kira kami ini orang-orang bodoh Hendrik...?"
"Hati-hati menyebut Namaku. Siapa kau mau menyebut namaku sembarang....?
"Siapa aku akan kau ketahui setelah ini, sebentar aku akan melakukan panggilan ke pengurus Kaya dan jaya bersama group.
Kau dengarkan dan kau simak Hendrik, karena sebagai salah seorang yang berpengaruh di Kaya dan jaya bersama group, aku sama sekali tidak kenal denganmu."
Haris lalu menghubungi Wira dari Kaya dan jaya bersama group.
Sementara Haris menelepon Wira, Hendrik mengoceh, dia sangat yakin Haris bukan orang korporasi sebab tidak pernah mendengar namanya.
"Wah luar biasa..! luar biasa, kau pantas mendapatkan piala oscar kalau ikut dalam sebuah film, aktingmu cukup bagus anak muda.
Siapa yang mau kau hubungi..? Hubungilah segera.
Aku akan menantimu. Jangan katakan nanti orang yang kau panggil itu bukan siapa-siapa ya..Ha.hahah."
[Panggilan terhubung]
"Halo tuan Haris saya Wira. Lama tidak mendengar kabar anda.
Apa ada yang bisa saya lakukan untuk tuan...?"
"Begini pak Wira, apakah saya termasuk orang dari korporasi maju dan Jaya bersama group...?"
"Tuan kenapa anda mengatakan hal itu....?"
"Katakan saja dengan jelas, karena ada seseorang di sini yang meragukan kalau saya ini adalah orang dari Kaya dan jaya bersama group."
"Iya benar...! Tuan merupakan anggota utama bahkan adalah petinggi korporasi dan tuan Haris adalah pemegang saham 17% yang senilai 1,7 triliun."
Irama jantung Hendrik mulai rusak dan berdetak tak beraturan, lidahnya mulai kelu dan darahnya seolah terjun ke bawah tepatnya telapak kakinya.
Mukanya seketika pucat tubuhnya sudah mulai bergetar.
"Oh ya pak Wira saya saat ini berada di kota K tepatnya di hotel Kirana hotel yang merupakan milik mertua saya.
Kirana istri saya itu adalah satu-satunya putri dari pemilik hotel Kirana.
Saat ini ada seseorang yang akan membongkar hotel ini dengan mengatasnamakan Kaya dan jaya bersama group.
__ADS_1