
Saat jarum jam sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi, bel yang berada di depan gerbang Haris berbunyi dan satpam kemudian segera membuka pintu gerbang dengan mesin pendorong otomatis, setelah melihat dan memeriksa bahwa mobil itu dikendarai oleh Nando.
Nando segera memasukkan mobilnya yang membawa rombongan keluarga wanita, yang merupakan sosok wanita idamannya, yang sengaja dia jemput beserta kedua orang tua dan juga seorang Abang dan kakak dari wanita itu.
"Ayo Pak, Bu..! Kita sudah sampai, ini rumahnya."
"Wah ini rumah kamu Nando..?"
"Bukan Pak. Ini rumah bos saya, bos tempat saya bekerja. Saya ini adalah ajudannya, tapi memang saya dan kami semuanya yang bekerja pada beliau, sebenarnya sudah dianggap sebagai adik kandungnya sendiri.
Oleh karena itulah mereka sangat peduli, ketika tahu saya berteman dengan dek Rafika, jadi mereka ingin bertemu dengan Bapak dan keluarga. Mari Pak kita lanjutkan perbincangannya nanti di dalam saja."
"Iya mari kita temui Bos kamu itu Nando."
Kedua orang tua wanita yang merupakan pacar Nando, baik ayah maupun ibunya ketika telah memasuki area Villa milik Haris, merasa cukup gugup melihat besarnya bangunan Villa milik Haris tersebut, berikut kolam renang yang luas dan juga taman indah, serta beberapa pondok yang semuanya berada di atas lahan yang luas wilayahnya berkisar 2 hektar itu, dimana semua lokasinya dipagar dengan tembok yang cukup tinggi.
Nando turun dan membukakan pintu untuk calon Ayah mertua dan juga Ibu mertuanya.
Abang dari pacar Nando dan Kakaknya, juga sangat gugup, tidak terkecuali pacar Nando yang sangkin gugupnya terus berpegangan pada Nando.
"Ayo Pak mari Pak, Itu Bos dan juga beberapa anggota keluarga beliau sudah keluar, untuk menyambut kedatangan kita."
"Iya sepertinya ramai juga ya Nando.?"
Haris yang memang sudah tahu dan mendapat pemberitahuan dari Nando saat di jalan tadi, bawa mereka akan segera sampai telah keluar, bersama beberapa orang yang ada di villa itu, saat mendengar suara gerbang terbuka.
Dengan senyum yang begitu ramah, mereka yang keluar dari dalam Villa segera turun ke pelataran Villa, menyambut kedatangan calon mertua Haris.
"Mari Pak mari. Ayo masuk, selamat datang di tempat kami. saya Haris, saya ini adalah Abang dari Nando.
Apakah Nando sudah menceritakan tentang saya kepada bapak.?"
"Sudah, sudah nak Haris, Nando sudah bercerita sedikit mengenai Nak Haris yang merupakan bosnya."
"Wah dia hanya mengatakan aku bosnya.? Jadi dia tidak mengatakan kalau aku Ini abangnya.?"
"Ada..ada kok, Nando juga mengatakan hal itu, meski saya masih kurang percaya tadinya."
Mertua Nando cukup terkejut, dengan reaksi Haris yang seolah keberatan tidak disebut sebagai Abang itu, padahal sebelumnya Nando juga sudah menceritakan kalau Haris sudah menganggapnya sebagai adiknya.
"Tapi memang benar ya Pak.? Benar kalau dia sudah mengatakan kalau saya ini abangnya.? Awas saja kalau dia tidak mengatakan hal itu, aku akan menghukum dia."
"Benar nak Haris, dia juga mengatakan hal itu. Iyakan Bu.?"
"Iya Pak. Itu benar Nak Haris, nak Nando sudah menceritakan itu tadi sewaktu di jalan."
Ibu dari pacar Nando, yang ditanya oleh suaminya juga membenarkan ucapan suaminya, kalau memang Nando sudah mengatakan dan menyampaikan hal itu pada mereka, sehingga Haris menjadi lebih yakin.
"Oh ya sudah kalau begitu. Ibu, Bapak dan semuanya, mari kita masuk ke dalam."
Rombongan Nando segera memasuki ruang tamu, mereka sangat kagum dengan kemegahan dan gaya arsitektur serta penataan interior Villa yang sangat modern dan bergaya penuh kemewahan itu.
Setelah mereka memasuki ruangan tamu, makanan telah tersedia dan terhidang di atas meja-meja yang ada di ruang tamu. Makanan-makanan ringan dan berbagai jenis cemilan, serta beraneka ragam minuman, telah sejak awal terhidang menyambut kehadiran calon mertua Nando.
"Mari silakan duduk Bapak Ibu dan juga semuanya.
Ayo dong Nando persilakan."
"Iya Bang.
Bapak juga Ibu, mari duduk. Abang, Kakak dan dek Rafikah ayo duduk jangan sungkan."
__ADS_1
Calon mertua Nando beserta istri dan Putra bersama kedua putrinya kemudian duduk, di tempat duduk yang disediakan bagi mereka di ruang tamu itu.
"Pak, sebelumnya perkenalkan saya ini pak Wicaksono, salah seorang mertua nak Haris, tepatnya mertua dari istrinya yang kedua yang bernama Kirana.
Jadi memang benar kalau kita ini semuanya adalah keluarga besar, termasuk Nando di dalamnya.
Kita tidak membeda-bedakan siapapun disini, Nando sendiri adalah Adik bagi Haris dan juga sudah seperti Anak bagi kami seluruh barisan orang tua yang ada di keluarga Haris.
Jadi pada prinsipnya kita semua sangat perduli pada Nando dan juga yang lainnya, itulah sebabnya kita semua ingin mengenal keluarga Bapak dan ibu sehingga sampai menjadwalkan pertemuan di rumah ini, agar kita semua bisa lebih dekat sebagai satu keluarga."
Baik calon mertua Nando maupun Abang serta Kakak dari calon istrinya termasuk calon istrinya sendiri, begitu terkejut mengetahui kalau Haris punya dua istri.
Tapi mereka semua tampak begitu harmonis penuh rasa kekeluargaan yang begitu kental.
"Ya perkenalkan juga pak saya nama aslinya adalah Monang Syailendra tapi biasa dipanggil sebagai ayah Butet, saya mertua nak Haris dari istri pertamanya yang bernama Diana dan yang disebelah sana itu adalah calon mertua nak Haris dari istri ketiganya, dimana dua minggu kedepan kita semua sudah sepakat akan melangsungkan pernikahan dan juga pesta pernikahan dari nak Haris dengan putri kami dokter Shasmita."
"Ya. Saya Zuhandi beserta istri Widia khalijah adalah calon mertua nak Haris, seperti yang disampaikan oleh pak Monang tadinya."
"Saya sendiri adalah Om dan bibinya Diana, yang sudah menjadi ayah angkat nak Haris pak."
Setelah Ayah dari Kirana, Diana dan juga Shasmita berbicara, Ayah angkat Haris juga buka suara memperkenalkan dirinya.
Pada akhirnya seluruh barisan orang tua yang berada di villa itu kemudian telah selesai memperkenalkan diri mereka masing-masing, kepada sosok calon mertua dari Nando.
Ada begitu banyak rasa terkejut yang calon mertua Nando rasakan, selain fakta bahwa Haris memiliki dua istri dan satu lagi calon istri berikutnya. Ditambah lagi tentang keadaan dan juga sikap mereka yang begitu baik, hangat dan penuh rasa kekeluargaan dimana sedikitpun tidak tampak adanya rasa persaingan apalagi perpecahan, layaknya suatu hal yang lazim bisa dilihat dari berbagai contoh hubungan keluarga yang tidak harmonis.
"Perkenalkan juga pak saya Wilson dan ini ada sebahagian dari kami yang berjumlah 40 orang teman-teman pengawal dan juga petugas keamanan di lingkaran ring satu keluarga Tuan Haris."
Tak ketinggalan semua anggota pengawal dan pengamanan yang berkebetulan ada di tempat itu, saling memperkenalkan dirinya dengan penuh senyum dan keramahtamahan yang tulus tanpa dibuat-buat.
Mertua Nando juga secara bergantian kemudian memperkenalkan diri mereka semua yang datang dalam rombongan Nando.
Melihat semua sikap dan prilaku orang-orang yang berada di lingkaran keluarga Haris, calon mertua dari Nando, semakin merasa yakin untuk menyerahkan putrinya dipersunting oleh Nando, jika saja Nando memang benar-benar serius bermaksud untuk mengambil Putri mereka menjadi istrinya.
Jadi begini Pak, saya selaku katakanlah pimpinan atau Bos mereka, terlebih-lebih dalam kapasitas saya sebagai Abang dari Nando ini. Saya ingin memperjelas satu hal.
Karena saya tahu dan paham kalau adik saya Nando ini, orangnya itu cukup penyegan bahkan walau untuk mengatakan hal-hal yang dirasa penting sekalipun, saya akhirnya akan mengambil inisiatif untuk bicara.
Nando adik saya ini, memang sudah menjelaskan dan menceritakan secara pribadi kepada saya tentang semuanya, bagaimana kalau ternyata dia merasa begitu serius kepada putri Bapak yang bernama dek Rafikah ini.
Oleh karenanya saya sebagai Abang yang baik, mewakili orang tua kami ingin bertanya satu hal, mumpung kita lagi dalam momen pertemuan seperti ini. Kira-kira apakah Bapak dan Ibu berkenan untuk memberikan izin bagi dek Rafika untuk menikah kepada Nando adik kami ini.?"
"Ah Nak Haris, kalau soal itu saya sebagai orang tua pada prinsipnya setuju saja, kalau memang nak Nando ini serius untuk mempersunting Rafika sebagai istrinya, hanya saja saya tentu tidak bijak kalau menentukan sendiri tanpa menanyakan kepada Rafiqa.
Nah Rafika..! Kamu sendiri sudah mendengar nak bagaimana semuanya. Walaupun ini mungkin terkesan mendadak, walau mungkin sedikit tidak begitu formal, tapi Ayah dan semuanya juga ingin tahu, apakah kamu bersedia menjadi istri dari Nando.?"
Rafika yang ditanya itu, hanya bisa terdiam menundukkan wajahnya sambil menggangguk.
"Ah ya, seperti yang bisa kita lihat semua ternyata putri kami telah menjawabnya dengan isyarat yang menunjukkan kalau dia juga setuju atas rencana pernikahan ini.
Tapi terus terang ada hal lain yang membuat saya dan juga istri, masih merasa janggal untuk melangsungkan pernikahan ini dan itu terkait dengan kakaknya yang juga memang belum menikah.
Bagaimana ya, rasanya kasihan saja begitu kalau harus memberikan izin bagi Rafika untuk melangkah berumah tangga sementara kakaknya belum juga menemukan jodohnya."
Mendengar jawaban dari Herlambang itu Haris cukup paham situasi hati dari Pak Herlambang bersama istrinya.
Kemudian Haris menatap pada Riston, Amanu, Halim, Erik dan juga Anton dan beberapa pengawal lainnya yang juga turut dalam ruangan itu dan dalam pandangannya itu, Haris melihat ada jejak ketertarikan pada diri Erik terhadap kakak dari Rafika yang bernama Nawa.
Haris kemudian berbisik kepada Wilson untuk mempertanyakan hal itu langsung kepada Erik dan tak lama setelahnya, Wilson bergerak cepat menuju Erik mempertanyakan apa yang disampaikan oleh Haris dan setelah mendapat jawabannya dengan cepat Wilson kemudian kembali ke tempat Haris dan berbisik kepadanya, kalau memang Erik setuju dan siap untuk menikahi Nawa, yang merupakan Kakak dari Rafika calon istri Nando.
"Oh ya soal itu, maaf kalau sebelumnya saya tadi sempat berbisik di tengah-tengah pembicaraan dan di depan semuanya. Kalau soal Dek Nawa, jika memang bapak juga berkenan, saya juga memiliki Adik lain yang bernama Erik, dimana adik saya ini juga tertarik dan merasa suka kepada putri Bapak yang bernama Nawa ini. Jadi sekalian saja dalam momen bahagia ini, kalau memang apa yang menjadi hajat kami ini bisa diperkenankan oleh pihak Bapak, betapa bahagianya.
__ADS_1
Saya dalam kesempatan ini juga ingin melamar dek Nawa untuk adik saya yang bernama Erik.
Sekedar gambaran kepada Bapak dan Ibu, kalau adik saya Nando dan juga Erik ini adalah orang yang bertanggung jawab, masing-masing dari mereka ini sudah memiliki rumah sendiri dan juga mobil atau kendaraannya sendiri.
Selain itu mereka juga punya cukup penghasilan yang besarnya di atas 20 jutaanlah sebulannya, ini hanya gambaran kasarnya saja, bagi dek Nawa barangkali ingin tahu seperti apa nantinya bentuk tanggung jawab dari adik saya yang bernama Erik ini.
Ayo Erik kamu datang mendekat kemari...!"
Erik yang dipanggil oleh Haris, tanpa ragu dengan wataknya yang selama ini merupakan seorang pria pemberani dan juga tegas tanpa tedeng aling-aling segera bergerak berjalan menuju ke sisi Haris. Dia berdiri tepat di sebelah kanan tempat duduk Haris sambil kemudian memperkenalkan dirinya pada Herlambang.
"Perkenalkan Pak, nama saya Erik. Saya juga merupakan salah seorang satuan petugas pengawal dan pengamanan di ring 1 keluarga abang saya ini.
Apa yang disampaikan oleh abang saya tadi benar Pak, saya memang menyukai Putri bapak dan tidak berhenti melihat dan mengaguminya sejak tadi datang kemari. Oleh karenanya kalau saya diizinkan dan diperkenankan, saya ingin melamar Putri bapak untuk menjadi istri saya."
Herlambang begitu terkejut dan begitu merasa puas dengan sikap Erik yang to the point dan menurutnya cukup pemberani itu.
Dia kemudian melirik istrinya, melihat bagaimana pendapat istrinya dan istrinya sendiri menunjukkan tanda-tanda bahwa dia juga suka dan setuju.
Setelah itu istri dari Pak Herlambang menatap putrinya yang bernama Nawa.
Nawa sejenak melihat pada Erik dan ketika keduanya saling beradu pandang, terus terang Nawa juga merasa cukup tertarik dengan Erik pada pandangan pertama mereka, sekaligus dia juga merasa kalau dia bukan lagi orang yang harus begitu pemilih di usianya yang sekarang terlebih menghadapi kenyataan kalau adiknya Rafika akan segera menikah.
Karenanya sama seperti sikap Rafika tadi Nawa juga kemudian menunduk dan menganggukkan kepalanya, menunjukkan rasa setuju, menjawab ayahnya sudah mempertanyakan pendapatnya.
"Alhamdulillah ternyata seperti yang nak Haris lihat, putri kami Nawa ini juga rupanya berkenan dan bersedia untuk menjadi istri dari nak Erik."
"Ya syukur Alhamdulillah Pak, kalau begitu tidak ada lagi masalah yang menghalanginya. Kalau begitu kita lanjut saja pada pembicaraan yang lebih serius, kira-kira apa yang Bapak harapkan dalam pernikahan ini, atau lebih tepatnya bagi Dek Nawa dan Dek Rafika sendiri, mahar apa yang kalian berdua inginkan.?"
Nawa dan Rafika menjadi gelagapan, mereka tidak menyangka kalau segala sesuatunya akan sangat begitu cepat dan mendesak seperti ini, tapi mereka juga paham kalau mereka tidak bisa bermain-main, sebab saat ini mata semua orang sedang tertuju kepada mereka dan orang-orang ini bukanlah sosok-sosok yang bisa dipermainkan dan diajak bergurau begitu saja.
Akhirnya baik Nawa maupun Rapika hanya bisa memandang kepada orang tuanya.
"Iya jawab apa yang ditanyakan oleh Abang kalian nak, apa yang kalian inginkan sebagai mahar kalian.? Karena mahar itu bukan lagi urusan bapak, urusan Bapak adalah memberikan Restu dan do'a serta juga mengurus pesta pernikahan kalian nantinya. soal mahar itu kalian sendiri yang menentukannya."
"Iya katakan saja Dek Nawa dan Dek Rafika, apa yang kalian inginkan menjadi mahar kalian..? Apakah kalian ingin perhiasan emas atau apa begitu sebutkan saja, tentu nanti baik Nando dan juga Erik akan memberikannya."
Melihat hal dan pembicaraan yang semakin berkembang jauh, baik Rapika maupun Nawa hanya bisa merenung dan bingung tentang apa yang mereka inginkan. Namun dengan meremas cari jemarinya Rafika akhirnya memberanikan diri dan berkata kalau dia menginginkan maharnya seperangkat alat sholat berikut perhiasan emas senilai 10 juta rupiah.
"Saya hanya ingin seperangkat alat sholat dan juga perhiasan emas senilai 10 juta rupiah Pak." Kata Rafika kepada ayahnya.
"Ya nak Haris sudah mendengar, kalau Putri saya Rafika sudah mengatakan maharnya. Saya rasa putri saya Nawa juga tidak jauh-jauh dari itu keinginannya."
"Alhamdulillah. Baiklah Bapak dan juga Ibu kalau begitu karena dek Nando dan juga di Erik ini adalah adik kesayangan saya sama seperti adik saya yang lainnya, dimana sebenarnya mereka barisan pengawal ini, semuanya juga merupakan adik-adik kesayangan saya. Jadi karena memang gambaran keinginan kedua adik saya Rafika dan Nawa ini yang akan menikah lebih dulu dari yang lainnya, sudah bisa kami ketahui, tapi sebagai Abang maka maharnya saya naikkan saja, dimana saya akan menetapkan bagi kedua adik saya ini untuk memberikan mahar yakni seperangkat alat sholat dan perhiasan emas senilai masing-masing dari mereka ini 100 juta rupiah."
Mendengar hal itu baik Pak Herlambang maupun istrinya merasa terkejut begitu enteng bagi Haris mengucapkan kata itu. begitu juga Rapika dan juga Nawa terperanjat di tempat duduknya, tadinya Rafika telah cukup khawatir ketika menyebutkan nilai nominal perhiasan emas yang senilai 10 juta, karena khawatir kalau itu dianggap terlalu banyak, ternyata Haris dengan mudahnya malah menyebutkan nilai nominal yang 10 kali lipat lebih banyak dari itu.
Putra dari Pak Herlambang hanya bisa tersenyum bahagia, menyaksikan kedua saudari perempuannya kemudian sudah mendapatkan jodohnya yang baik.
"Tentunya Bapak sangat bahagia kalau memang nak Nando dan juga nak Erik bersedia memberikan mahar sejumlah dari yang nak Haris sebutkan itu, Lalu bagaimana dengan urusan pestanya nak Haris.?"
"Oh kalau soal pesta, itu sudah jadi komitmen kami Pak. Bapak dan ibu tidak perlu memikirkannya semua biaya 100% akan kami tanggung, selain itu kami juga akan menyerahkan pemberian khusus nantinya bagi Bapak dan Ibu ya katakanlah seperti ungkapan bakti dan rasa Terima kasih, dimana bapak dan ibu sudah bersusah payah selama ini mendidik dan membesarkan serta mengasuh juga mencukupi segala kebutuhan adik kami yang bernama Nawa dan Rafika ini. Kami akan memberikan pemberian khusus untuk Bapak dan juga Ibu walau tidak banyak hanya berkisar Rp 500 juta, jadi Bapak dan Ibu tidak perlu memikirkan soal biaya pesta dan lain sebagainya. Kami yang akan mengatur dan menanggung semua itu.
Bapak tinggal tenang saja, hanya cukup memberikan Restu dan juga doa tentunya kepada kedua pasangan adik kami ini."
"Alhamdulillah. Bapak tidak tahu bagaimana Harus menjawab semua itu nak Haris. Bapak merasa begitu dimuliakan dan begitu beruntung datang melangkah serta berkunjung ke tempat nak Haris ini."
"Syukurlah kalau Bapak merasa seperti itu, saya jadi ikut bahagia.
Mari pak sambil dinikmati hidangannya."
Seperti meminum minuman yang begitu segar dan begitu melegakan tenggorokan, Pak Herlambang merasakan nafasnya begitu plong dan lega. Dia juga merasakan beban yang selama ini dia rasakan, layaknya seperti orang tua-orang tua lainnya, yang merasa bahagia ketika putrinya bisa menikah dengan baik.
__ADS_1
Herlambang segera merasa cita-citanya sebagai ayah terpenuhi dan semua beban terlepas dari dirinya.
Selanjutnya pembicaraan di Villa itu menjadi lebih hangat, semua orang tampak begitu bahagia dan begitu senang, khususnya kepada Nando dan juga Erik yang akan menjadi pengantin kedepannya. Tak ketinggalan juga Verry dan Juli merasakan hal yang sama.