
Dengan berjalan terhuyung-huyung karena kondisi penyakitnya dan juga disebabkan keadaannya yang baru bangun dari tidur, Nurdin nama Ayah dari ketiga Anak yang telah dikenal Haris sebelumnya itu, segera mendatangi ruang tamu dengan perasaan heran, karena adanya begitu banyak orang.
Melihat kebingungan di benak suaminya itu, istrinya yang bernama Darmilawati segera berjalan ke arahnya dan memegang tangan suaminya itu, menuntunnya berjalan dan membantunya untuk duduk, sambil menceritakan secara singkat pertemuannya dengan Haris beserta istri dan rombongan pengawalnya.
"Terima kasih atas kebaikan hati dek Haris dan juga istri, bersama yang lainnya pada keluarga saya. Saya hanya bisa mendo'akan semoga Dek Haris dan istri sekeluarga, diberikan rahmat dan juga kesehatan serta kebahagiaan oleh Tuhan."
Nurdin dengan tertatih-tatih berbicara dengan pelan dan perlahan, menunjukkan rasa terima kasihnya atas segala apa yang Haris perbuat bagi keluarganya.
"Aamiin, jadi Abang sudah tahu nama saya. Lalu kalau boleh tahu, nama Abang sendiri siapa..?"
"Saya Nurdin dek Haris dan istri saya ini bernama Darmilawati."
"Oh ternyata Bang Nurdin dan juga Kak Darmilawati ya. Jadi begini Bang, Kakak tadi sudah bercerita tentang keadaan Abang yang sakit. Kebetulan Haris juga bisa mengobati beberapa macam penyakit dan kalau dari apa yang Haris lihat keadaan Abang ini masih bisa disembuhkan, walau memang telah cukup parah.
Nah selama 3 hari ke depannya ini, Haris akan melakukan pengobatan terhadap Abang. Pengobatan pertama akan segera kita lakukan di sini dan dua pengobatan lainnya akan kita lakukan di hotel milik kita yang ada di kota P, jadi Abang dan Kakak beserta ketiga anak kita sebaiknya mengungsi saja dulu untuk sementara waktu dari rumah ini, agar supaya rumah ini bisa kita runtuhkan dan bisa kita bangun kembali
Sehingga nantinya baik Abang maupun semua anggota keluarga, bisa hidup lebih nyaman.
Kalau begini, bahaya ini Bang, kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti gempa misalnya ini sudah langsung rubuh saja ini rumah. Jadi begitu rencananya bagaimana kira-kira..? Apakah Abang setuju..?"
"Saya setuju saja Dek Haris tadi istri saya sudah mengatakan, kalau Dek Haris ini orang baik dan saya percaya pada istri saya. Saya sendiri juga bisa melihat ketulusan di wajah Dek Haris."
"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Jadi jika keadaannya memang sudah begitu maka segala sesuatunya akan menjadi lebih mudah. Tanpa mengulur waktu, agar Abang tidak lagi terus-terusan merasakan sakit, sebaiknya segera saja Haris lakukan pengobatan."
"Baiklah Dek Haris."
Haris lalu meminta Nurdin membuka pakaiannya. Karena memang Nurdin kesulitan untuk tidur telungkup, maka pengobatan dilakukan dengan posisi duduk.
Haris segera mengeluarkan perangkat jarum akupuntur emas miliknya dan dengan sigap dia sudah menusukkan beberapa jarum akupuntur pada titik-titik akupuntur yang memang berhubungan dengan proses penyembuhan penyakit yang diderita oleh Nurdin.
Haris memutar-mutar jarum akupuntur yang halus itu di beberapa titik, lalu kemudian membiarkan jarum-jarum itu berada di titik-titik yang telah dia tusukkan untuk beberapa saat.
Setelahnya Haris kemudian menyalurkan energi berupa Hawa murni yang ia miliki, ke dalam tubuh Nurdin.
Haris juga tidak membatasi energi murni itu hanya masuk pada tubuh Nurdin, melainkan pada semua orang yang berada di rumah itu.
Mereka semua merasakan diri mereka tiba-tiba begitu segar dan merasakan betul, bagaimana energi itu masuk ke tubuh mereka dengan kondisi yang membuat mereka sangat nyaman.
"Dek Shasmita.! Ini apa yang terasa begitu nyaman dan segar masuk ke tubuh kita..?"
"Oh inilah yang namanya energi Hawa murni itu Kak. Energi yang memang disalurkan oleh adiknya Kakak dalam proses penyembuhan Abang. Tapi tampaknya memang kali ini Adik Kakak sengaja melepaskan energi Hawa murni ini, sehingga tidak hanya khusus bagi Abang tapi bagi kita semua.
Tujuannya tentu tidak lain adalah untuk mengembalikan kesegaran kita, setelah tadi kita semua telah lelah karena beraktivitas di ladang. Jadi Kakak pejamkan saja mata Kakak dan rasakan, jangan dilawan. Terima Hawa murni itu masuk dan edarkan saja ke seluruh tubuh, lewat pikiran.
Abang juga saat ini sedang merasakan hal yang sama, dengan kenyamanan yang kita rasakan saat ini."
"Oh begitu ya Dek Shasmita..? Luar biasa ya Dek Haris ini."
"Oh kalau itu Kakak jangan heran, saya saja dokter dan teman dokter lainnya, penyakit yang tidak bisa lagi kami tangani dan kami angkat tangan karenanya, oleh Adik Kakak masih bisa disembuhkan.
Jadi percayalah, Suami Kakak akan sembuh lagi dalam waktu beberapa saat ke depannya.
Ya sudah ya Kak, Kakak pejamkan saja mata Kakak, Saya juga mau menerima energi Hawa murni ini sebelum keburu habis."
"Iya Dek, kalau begitu Kakak juga akan mencoba melakukan apa yang Dek Shasmita sampaikan."
Para pengawal Haris yang mendengar percakapan Shasmita dan Darmilawati itu juga menjadi paham, alasan kenapa mereka merasakan Hawa sejuk di ruangan itu, yang berbeda dari sebelumnya.
Semua orang akhirnya memejamkan mata mereka dan melakukan apa yang tadi telah disampaikan oleh dokter Shasmita istri Haris.
Haris yang mendengar percakapan semua orang dan melihat mereka yang telah menutup matanya masing-masing, semakin memperbanyak aliran Hawa murni yang dia keluarkan dan menyebarkannya serta membantu mengedarkan ke tubuh setiap orang.
Cukup lama Haris melakukannya, karena ia juga fokus untuk mengalirkan Hawa murni itu ke tubuh istrinya, apalagi Darmilawati yang tubuhnya terlihat sangat lemah dan ringkih itu.
Setelah dirasa sudah optimal, Haris menghentikan penyaluran Hawa murni itu dan kemudian mulai menarik kembali, tiap-tiap jarum akupuntur emas yang telah ia pasang sebelumnya.
__ADS_1
"Nah sekarang Bang Nurdin sudah boleh membuka mata dan memakai kembali pakaiannya. Bagaimana, Apa yang Bang Nurdin rasakan..?"
"Wah ini luar biasa Dek Haris, saya tidak pernah mengira bahwa saya akan bisa merasakan lagi perasaan luar biasa seperti ini. Abang merasa sangat kuat sekarang, penuh energi dan mata Abang terasa begitu terang dan ringan tidak lagi berat dan mengantuk seperti biasanya, ini kok. bisa begini Dek Haris..?
Pernapasan Abang juga semakin lega, tenaga Abang terasa penuh dan tampaknya kalaupun harus bekerja keras, dengan keadaan sekarang, Abang rasa tanpa ragu sudah bisa melakukannya."
"Syukurlah jika demikian. Itu artinya apa yang kita usahakan berbuah hasil yang baik dan itu baru satu kali, bagaimana pula kalau sudah diobati tiga kali, pasti akan lebih mantap lagi.
Besok akan Haris buatkan dan bawakan juga ramuan khusus buat Abang, untuk menetralisir kembali segala komposisi yang tidak berimbang dalam tubuh Abang, sehingga sampai memicu terjadinya penyakit ini.
Selama Abang mau makan obatnya dengan baik, terus kita lakukan pengobatan dua kali lagi ke depannya mudah-mudahan Abang Nurdin akan kembali sehat secara total dan kebih bugar serta lebih kuat lebih dari sebelumnya bahkan saat masih sehat dulu."
"Iya saya sangat percaya itu Dek Haris, melihat apa yang Abang rasakan hari ini, Abang sangat percaya kesembuhan itu akan segera didapatkan.
Terima kasih ya Dek Haris, sungguh kami tidak punya apa-apa untuk membalas kebaikan hati dek Haris. Bagaimana kami bisa membalas semua kebaikan ini..?"
"Ya tidak apa-apa Bang, tidak usah berterima kasih. Jangan juga pikirkan soal balas membalas kebaikan, segala sesuatunya telah diatur melalui garis takdir oleh Tuhan. Apa yang hari ini kita lakukan, itu memang sudah berjalan sesuai takdirnya.
Baiklah kalau begitu karena kami juga harus pulang ke desa P, sebenarnya istri saya bukan hanya Dek Shasmita saja, ada dua wanita lagi yang merupakan Adik Abang yang menunggu disana.
Tadinya saya sudah permisi untuk menginap di hotel saja selama proses pengobatan. Karena saya juga tujuan awal tadinya adalah mengobati orang tua teman, seorang jenderal polisi yang merupakan kepala Polisi daerah di provinsi.
Baliau itu orang tuanya sedang sakit jantung, namun tadi sudah kita lakukan pengobatan pertama dan telah lebih sehat sekarang.
Selanjutnya akan kita lakukan dua kali pengobatan lagi persis seperti Abang. Nah tadi Haris permisi minta izin nih untuk tidak pulang, tapi tidak dibolehkan tuh sama adik nya Abang, jadi ya mau tak mau harus pulang.
Tapi besok jugakan kita bakal bertemu lagi kok, jadi untuk malam ini sampai kedepannya Abang dan keluarga tinggal di hotel kita saja, jangan khawatirkan apa-apa, kalau ada hal-hal yang perlu, hubungi saja manajernya.
Apa saja yang Abang dan keluarga perlukan hubungi saja manajernya, selain itu nanti saya juga akan menghubunginya sendiri nanti, untuk memberitahukan kepadanya agar menyediakan segala keperluan yang Abang dan keluarga butuhkan."
Tanpa sadar untaian demi untaian kata yang Haris keluarkan, membawa dampak yang begitu besar bagi jiwa Nurdin. Tak sadar dia telah menumpahkan air matanya yang bercucuran karena merasakan campur aduknya perasaan di dalam hatinya, antara bahagia, terharu, senang dan juga sedih pada saat bersamaan.
"Hei kenapa Abang menangis..? Kita melakukan semuanya justru agar Abang dan seluruh keluarga bahagia dan bukannya untuk menangis."
"Ya baiklah. Abang cukup mensyukuri segala sesuatunya kepada Tuhan kita, kepadanya lah kita mengadukan segalanya. Segala keluh kesah dan juga harapan yang ingin kita raih. Tutuplah lembaran kesedihan, sambut dan jelanglah kehidupan kedepannya yang penuh dengan kebahagiaan, kemuliaan dan juga kehormatan."
"Sekali lagi terima kasih Dek Haris. Izinkan saya untuk memelukmu."
Nurdin segera memeluk Haris, pada saat yang bersamaan juga Darmilawati segera memeluk Shasmita.
Akhirnya segala sesuatu hal yang perlu disampaikan telah selesai disampaikan, baik Nurdin maupun Darmilawati, kini sedang berkemas menyiapkan beberapa barang yang ingin mereka bawa dan menitipkan sebagian barang-barang mereka, ke tetangga mereka yang memang selama ini cukup baik pada keluarga Nurdin.
"Ayah, Ibu..! Syawal tadi beli jajan, pemilik kedainya bingung, uang kami bertiga 100 ribu semua, uang kami tidak diterima katanya tidak ada kembaliannya, besok saja dibayar."
"Lho memangnya kalian dapat uang dari mana..?"
"Itu tadi kami lomba, dikasih Om uangnya sebagai pemenang lomba."
"Lomba apa Wal..?"
"Lomba makan kacang rebus, kacang tanah yang direbus Yah. Syawal menang tadi Yah, Kakak dan Abang Mulkan kalah, tapi Om yang baik juga memberi mereka uang Rp100.000.
Jadi kami bertiga semuanya punya uang 100 ribu. Jadi waktu kami jajan, pemilik kedainya mengatakan bisa habis uang kembalian miliknya, kalau uang kami bertiga harus dikembalikan.
Baru kena dia sekali ini Yah, habis uangnya tidak ada untuk kembalian."
"Oalah Nak..Nak, bukan begitu maksudnya Nak. Tapi dia hanya merasa sayang kalau uang kembaliannya itu harus mengembalikan tiap-tiap uang kalian yang Rp100.000 itu.
Lagian juga kenapa uangnya tidak diberikan untuk disimpan ibu tadi.?"
"Tadi kan Om bilang uang ini memang untuk jajan kami Yah. Uang Om dan Tante banyak Ayah, sebaiknya Ayah juga minta uang sama Om dan Tante, nanti pasti diberikan."
"Hust.. Kamu ini ngomong apa sih..?"
"Ha..ha..hahh..!" Kembali para pengawal Haris harus mengguncang perut, setiap kali mendengar Syawal yang bicara selalu ceplas-ceplos. Sampai-sampai ayahnya Nurdin, dibuat malu karena anaknya yang masih begitu polos ini tapi selalu saja ingin berceloteh.
__ADS_1
"He..he..he bagaimana Syawal, keren tidak uang yang Om kasih..? Tuh kan sampai habis uang pemilik kedai itukan untuk mengembalikannya..?"
"Iya Om. Betul Om uang merah itu ternyata banyak Om. Walaupun dia satu kalau dibelikan jadi banyak Om."
"Nah itu dia, makanya Syawal yang rajin nanti sekolah, biar ke depannya kalau sudah besar punya banyak uang merah, ya..?"
"Iya Om. Syawal akan rajin nanti belajar, tadi teman-teman karena Syawal tidak sekolah mereka mengejek Syawal dan bilang bahwa Syawal."
"Lalu Syawal jawab apa..?
"Syawal bilang kalau kami bertiga akan sekolah karena Syawal punya Om dan Tante yang kaya juga baik hati, yang akan menyekolahkan Syawal dan Abang Mulkan serta Kak Linda. Tapi mereka tidak percaya, itu mereka di depan mengikuti untuk melihat apa benar Syawal punya Om yang kaya."
Benar saja saat menoleh keluar, baik Haris, Nurdin, Shasmita maupun dari Darmilawati serta beberapa pengawal lainnya, telah melihat ada begitu banyak anak-anak di luar yang mengintip dari pintu.
"Eh kalian semua, ini omku dan tanteku yang baik hati, banyak duit, kami akan di sekolahkan rumah kami akan dibuat cantik dan berkilau, tidak lagi jelek seperti ini.
Jadi kalian tidak akan bisa lagi menghina kami wek..wek.
Mulai hari ini kalian tidak bisa lagi mengejek aku dan mengejek abangku dan juga kakakku."
Haris tersenyum mendengar ocehan dari putra bungsu Nurdin dan Darmilawati, yang sudah dianggapnya sebagai Abang dan kakaknya itu.
Harus kemudian menghapus kepala Syawal dan tersenyum padanya, Haris kemudian berjalan keluar yang diikuti oleh Syawal.
"Ya itu benar Syawal akan sekolah, Syawal akan dibangun rumahnya jadi cantik, jadi sejak hari ini kalian tidak boleh lagi merendahkan Syawal kalian harus menghargainya ya..!
Lagipula sebagai manusia kita tidak boleh sombong, harus saling menghargai dan saling menyayangi.
Kalian paham tidak..?"
"Paham Om..!" Anak-Anak itu menjawab serentak.
"Nah sekarang pulang semuanya, nanti orang tua kalian mencari-cari kalian.
Syawal dan keluarga juga mau pergi mereka akan menginap di hotel untuk sementara, sampai pembangunan rumahnya selesai.
Ayo ucapkan sampai berjumpa lagi pada teman-temanmu Syawal."
"Sampai jumpa lagi teman-teman, kita jangan bermusuhan lagi ya. Syawal akan punya rumah yang cantik dan bagus, jadi kita berteman ya, kalian tidak akan malu lagi berteman dengan Syawal."
"Iya Syawal mulai hari ini kita akan berteman. Kami permisi pulang Om..!"
"Ya pulanglah Anak-Anak."
Syawal merasa hari ini dia keluar sebagai pemenang,
begitu juga Mulkan dan juga Linda yang selama ini selalu menjadi sasaran cemoohan serta cacian dan hinaan teman-temannya.
Tak terkecuali ayah mereka Nurdin dan juga ibunya Darmawati, sangat terharu dengan keadaan itu. Kehadiran Haris dalam hidup mereka benar-benar telah membawa kehormatan tersendiri bagi mereka.
"Abang dan juga Kakak..! Mungkin Haris tidak bisa mengantarkan Abang dan Kakak ke hotel, tetapi beberapa dari saudara kami ini, yang akan mengantarkan Abang ke sana dan mengatur segala sesuatunya.
Kita akan berjumpa lagi besok dan ini adalah pemberian dari Haris, tidak banyak hanya 100 juta rupiah, sebagai uang pembayaran hasil panen dari ladang dan selebihnya adalah uang pegangan bagi Abang dan Kakak.
Kedepannya Abang tidak perlu lagi bersusah payah bekerja seperti biasa, kalau memang Abang mau, kita juga punya banyak unit usaha. Abang bisa memilih mana yang Abang suka dari semua pilihan usaha yang ada sebab tanpa ada pekerjaan pun kita akan jemu sendiri jadinya."
"Dek Haris i..ini 100 juta banyak sekali..!" Tangan Nurdin bergetar menggenggam uang 100 juta yang diberikan oleh Haris.
"Tidak banyak. Itu hanya sekedar uang pegangan saja, jangan Abang hambur-hamburkan berikan ke kakak untuk disimpan dan dikelola pengeluarannya. Besok Haris akan datang ke hotel dan kami akan mengurus sekolah Linda terlebih dulu, baru pergi mengobati orang tua teman yang sakit. Adapun untuk Mulkan dan juga Syawal, kita akan lihat sekolah mana yang lebih baik bagi mereka."
"I..iya Dek Haris, nah ini Mak uang kita dari Dek Haris disimpan yang baik."
"Ya sudah. Kalau begitu kami akan pulang. Mobil kami juga sudah dijemput dari hotel dan mobil pick up yang satu itu akan mengantarkan Abang ke hotel, adapun mobil pick up yang satu lagi akan ikut ke desa P membawa hasil panen dari ladang."
Selesai mengatakan apa yang dirasa perlu, Haris kemudian segera memastikan Nurdin dan Darmilawati naik ke mobil yang akan membawa mereka dan mobil itu pun kemudian berangkat, yang diikuti oleh mobil Haris dan juga mobil yang membawa hasil panen ladang, pulang kembali ke desa P.
__ADS_1