
"Bang Edi...!
Di sini bang....!"
Haris yang melihat kedatangan Edi, segera melambaikan tangannya.
Haris sengaja berdiri agar mudah dilihat oleh Edi, setelah menyeberangi jalan kemudian Edi datang dan menyalami Haris serta memeluknya.
"Sekian lama baru jumpa lagi sekarang, ya bang haha...?"
"Iya dek Haris, seperti yang aku sebut sebelumnya di telepon, abang kemari tadinya, niatnyakan mau mengurus pekerjaan anaklah dek Haris ceritanya.
Kalau tidak pastinya sudah jualan dan jaga kedai.
Kalau tidak begitu, rusaklah putaran ekonomi he he."
"Kalau urusan kerja sudah aman itu bang.
Apa belum diurus tadi oleh Manager Rossa abang lihat...?
Apa belum diajaknya tadi anak kita ke dalam...?
Biar kumarahi dia nanti...!"
"Sudah. Kalau itu sudah kok dek Haris, Manager itu baik dan ramah kok, malah anak kita sudah diajaknya untuk berganti pakaian yang dari Hotel katanya, sekaligus mau dibimbing beberapa penjelasanlah tentang pekerjaannya nanti.
Itulah dek Haris, senang kali anak kita. 'Enggak nyangka ya, Ayah punya teman orang sukses' katanya dek Haris, bangga kali dia karena kau dek Haris, pada ayahnya yang bukan siapa-siapa ini."
"Ha..ha..ha sukses bagaimanalah Bang...?
Ayolah Bang duduk Bang duduk Bang.!
Kak pesan satu lagi kopinya ya...!
"Iya pak bentar ya. agar disiapin."
"Oke Kak.!
Beginilah Bang, walaupun penjual kopi kalau masuk ke kedai kopi ya minum kopi jugalah yakan bang...?"
"Iyalah dek Haris, Abangpun kalau di kedai, kalau mau minum kopi, ya minum juga, namanya sudah sudah hobi he he...?"
"Iyalah bang....!
Jadi apa cerita yang berkembang ini Bang...?
Bagaimana keadaan abang...?
Kalau soal kerjaan, abang jangan pikirkan lagi.
Sudah bereslah itu, aman."
"Alhamdulillah.
Kalau soal keadaan ya seperti yang dek Haris lihatlah, sehat dek Haris tanpa kurang suatu apapun.
Keadan pun biasa saja, ya kurang lebihnya seperti pemilik di kedai inilah kesehariannya.
Menjaga kedai dan menunggu langganan.
Itulah abang sempat bertanya tanya juga, kenapa Haris dan kawan kita yang satu lagi nggak pernah datang lagi, semenjak adek Haris kasih uang yang 21 juta itu sama, abang...?
Ada jugalah sedikit perubahan di keuangkita sekarang dek Haris.
Abang benah-benahilah jugalah pakai uang itu."
"Oh udah mantap itu Bang.
Sebenarnya tadi kami mau berdua datang kemari, sama kawanku yang datang kemarin, yang namanya si Darman itu Bang.
Tapi ya ini, dia lagi ada urusan kerjaan Bang, ada kebun sawit yang baru kita beli kurang lebih ada 500 hektar, jadi dia yang mengurus segalanya disana.
__ADS_1
Yah mau tak mau terbilang sibukklah pastinya dia di awal awalnya ini Bang.
Lokasi kebun itu di daerah pantai timur Bang, cantik betullah kalau lokasi kebun kita itu Bang, karena langsung berbatasan dengan pantai timur.
Nanti kalau ada waktu main-mainlah kita ke sana Bang."
"Oke kalau ada waktu cocok juga kita pergi dek Haris.
Cocoknya bepergian begitu nantinya, maunya di hari sabtulah waktunya kita jalan dari sini."
"Iya sudah, mudah mudahan nantinya ada waktunya kita pergi Bang.
Jadi Abang nggak buka kedai hari ini...?"
"Bukalah Dek Haris, cuma ya Kakakmulah disana lagi menjaga, sama anak kita yang lajang itu."
"Oh begitu ya Bang.?
Soalnya Haris sama ada kawan kita juga yang pernah kami ceritakan dulu itu, rencana tadinya mau minum bersama ke kedai kita bang.
Saat ini dia masi kirnqg sehat, sedang dalam tahap pemulihan dari sakit yang di deritanya, kawan kita itu sekarang Bang.
Dia cuma bisa pakai kursi rodalah sekarang.
Jadi maksudku Bang, alasan kenapa aku membawanya ke warung kopi kita sana tidak lain adalah untuk menghiburnya Bang.
Di lokasi sanakan enak suasananya, biar meluas luaskan pikiran dulu teman kita y ag bernam si Jhon itu disana.
Memandang mandang kota ini dari ketinggian, agar dia kembali sadar dan ingat betapa luasnya dunia ini.
Selama ini hantaman dan tekanan cobaan serta kepahitan hidup, telah menutupi mata hatinya dari luasnya dunia ini, sehingga dia merasa dunia ini begitu sempit
Terus nanti Haris minta , agar kita hibur-hiburlah dia sedikit Bang, kasih semangat, nasehat kasih motivasi, bagaimana kira-kira Bang...?"
"Oh ya nggak apa-apa dek Haris, rencana yang baik itu.
Sebisanya ya kita doronglah nanti semangatnya."
"Betul Bang itu yang Haris maksud Bang, agar dia kembali pada keadaannya semula.
Oh ya Bang teringatnya karena si Julia sudah kerja di hotel kita, jadi biarkanlah dia Bangdi awal awal ini membaur bersama temannya para staff yang lain, yang tinggal di Hotel.
Atau abang punya rencana lain mau buat Julia pulang hari setiap selesai kerja misalnya atau bagaimana...?
Di tempat kita itukan memang sudah disediakan kamar para staff di situ, tapi ya semua itu terserah Abang jugalah kalau Abang maunya Julia pulang hari boleh, mau tinggal di situpun nanti, ada kok disitu tersedia kamar untuk mereka.
Tapi kalau menurutku, apalagi di awal-awal ini diakan masih perlu banyak belajar, jadi biarlah dia di sini dulu Bang.
Lagipula apa Julia masih diharapkan di rumah untuk membantu-bantu Bang...?"
"Oh enggak.
Enggak kok dek, selama inipun enggak diharapkan kakakmu kok dia, untuk membantu-bantu di rumah.
Kalau memang bisa di sini, ya sudah biar saja si Julia tinggal di sini.
Terima kasihlah sekali lagi abang ucapkan sebelumnya, dek Haris.
Memang agak risau jugalah abang dek Haris, kalau dia bolak-balik pulang ke rumah, sehabis kerja begitu."
"Iya bang makanya yang lain juga jarang itu yang ada bolak-balik apalagi dia masuk shift malam misalnya, jam berapa lagi pulang yakan...?
jadi ya udah aman itu bang, biar anak kita tinggal disitu aja.
Kalau soal kawan-kawannya, nanti kalau sudah Haris yang ngomong, aman itu.
Mana berani orang itu nanti macam-macam, yang ada malah nantinya orang itu akan berlomba mengambil hati itu sama si Julia anak kita.
Orang itu akan berpikir, oh anak ini yang langsung diterima dan dekat sama bos, pasti ini saudaranya gitu Bang.
Biasalah Bang hukum dunia..he he."
__ADS_1
"Iya dek.Haris."
Jadi kita tunggulah kawan kita itu ya dek Haris, baru balik ke kedai."
"Iya kita tunggu ajalah sebentar ya Bang.
Lagian Haris juga lagi bebas kok, nggak ada pekerjaan mendesak.
Istripun lagi perginya semua ha..ha..hah.
Biasalah mamak-mamak perawatan salon, jadi rencananya kami nanti bakal menginap di sini bang.
Kalau abang mau, sambil bermalamlah Abang sama Kakak nanti di sini, menginap di hotel kita, biar dirasakan dulu kayak gimana rasanya menginap di hotel itu hahha."
"Nggak usahlah dek Haris, makin merepotkan kalilah abang nanti.
Sudahlah anak awak dimasukkan kerja, masuk kerja itu saja sudah syukur enggak bayar, enggak testing testing lagi, langsung masuk.
Ini malah mau menambahi pula jadi sewa batu yang gratisan di situ, hmmm nggak usahlah dek Haris."
"Nggak apa apa Bang.
Aman itu Bang. Enggak ada masalah sama sekali, itu enggak akan mengurangi apa yang ada Bang.
Lagian kamar hotel itu, enggak selalu penuh kok, mana bisa selalu penuh kamar banyak begitu.
Ya sudah pokoknya ini Haris yang minta, Abang nanti sama Kakak menginap di hotel kita saja.
Mau seminggu atau sebulan kek nggak ada masalah itu, nggak akan bisa abang sekeluarga memiskinkan Haris hahahaha, jadi jangan terlalu di hitung Bang.
Kalau Abang merasa enggak betah sebulan, seminggupun jadi.
Seminggu tidak tahan berapa harilah abang mau, tapi kalau tahan lanjut saja satu bulan, atau beberapa bulan juga enggak apa-apa...hehehe biar sering-sering kita jumpa.
Sekalian nanti Abang bisa nengok-tengok si Julia juga, bagaimana dia nantinya agar bisa semangat yakan....?"
"Ya sudahlah dek, Abang berterima kasihlah sebelumnya, entah bagaimana nasib Abang ini, kok bisalah jumpa sama manusia sebaik adek Haris ini."
"Bang... Bang.
Manusia biasanya kita bang, orang biasa yang sedang diberi kelapangan oleh Tuhan.
mungkin yang buat beda adalah, karena kita sudah biasa di lapangan.
Sudah merasakan susah dan pahitnya kehidupan, jadi nggak pandai kita mau meninggi-ninggi hati Bang."
"Abang salut sama Dek Haris."
"Ya sudah ayo Bang diminum kopinya Bang, ini lagi kue-kuenya dimakanin sambil sambil nunggu si Jhon Nanti baru kita ke kedai kita yang disana."
Selanjutnya baik Haris maupun Edi bercerita tentang banyak hal di kedai itu.
Tak lama kemudian Haris ditelepon oleh Very mengatakan bahwa mereka sudah tiba di hotel.
Haris dan Edipun meninggalkan kedai itu setelah membayar minuman dan makanan mereka lalu menjumpai Keluqrgaa Jhon.
"Halo John sahabatku."
"Jadi hotel yang besar ini milikmu ya temanku Haris..?"
"Teman kalau kau mau, ini bisa jadi Hotelmu Jhon.
jadi jangan bilang hotelku, bilang saja Hotel kita.
Yah sudah, aku mau mengajkamu ke suatu tempat nanti minum kopi di kedai abang ini, tapi sebelum itu istirahatlah dulu.
Very! katakan sama Rosa, supaya menyediakan dua kamar yang bagus, satu untuk Bos John dan yang kedua, untuk abang Edi ini."
"Siap Tuan..!"
Akhirnya baik Edi maupun John dan yang lainnya, mengikuti Haris menaiki lift khusus petinggi hotel.
__ADS_1
Haris hendak menunjukkan di mana kamar masing-masing orang untuk menginap.
Para staf dan karyawan hotel, yang memang sudah biasa melihat Haris begitu ramah dan dekat, kepada orang-orang yang mereka anggap sebagai orang biasa seperti mereka, sudah tidak lagi terkejut akan hal itu kerendahan hati dan sikap Humanis yang dimiliki oleh Haris sudah jamak mereka ketahui.