
"Ah yang bener kamu Linda..? Om dan Tante itu mengatakan begitu, kalau mereka akan menanggung semua biaya sekolahmu..?"
"Iya Bu. Linda tidak bohong, awalnya Linda tidak ada bicara apa-apa, Linda hanya mengantarkan kacang tanah yang Ibu suruh saja, Lalu Om itu minta wadah untuk merebusnya, jadi Linda ambil dari gubuk kita. Pada saat menyerahkan panci itulah Tante yang cantik itu menanyakan apakah Linda masih mau sekolah atau tidak, lalu Linda menjawab mau kalau memang ada biayanya.
Sebelumnya tidak ada kok Linda menyinggung soal itu, tapi Tante itu yang mengatakannya."
"Alhamdulillah, syukurlah ternyata satu persatu masalah kita akan terselesaikan. Om dan Tante itu juga telah mengatakan pada ibu kalau mereka akan mengobati ayahmu nak, Tante itu adalah seorang dokter dan Om itu juga katanya bisa mengobati penyakit, artinya sekarang tinggal kedua adikmu yang harus kita pikirkan biaya sekolahnya.
Mulkan dan adikmu Syawal juga harus kita pikirkan bagaimana sekolahnya kedepannya, tapi itu tidak terlalu masalah lagi, kalau ayahmu sudah sembuh Ayah dan Ibu pasti bisa menyekolahkan kedua adikmu. Ayo cepat segera selesaikan jangan biarkan Om dan Tante itu, menunggu terlalu lama.
Lebih cepat kita menyelesaikan ini, maka akan lebih cepat mereka bisa melihat keadaan ayahmu yang sakit, lagi pula kita tidak boleh terlalu lama meninggalkan Ayah sendiri di rumah."
"Iya Bu, ini juga sudah mau selesai, habis ini kita akan panen jagung juga kan bu.?"
Mulkan anak si wanita petani itu bertanya pada Ibunya.
"Kacangnya bagaimana Bu..? Apa kita panen juga hari ini.?"
"Iya Linda, Mulkan..!
Jagung dan kacang tanahnya juga akan kita panen, kita panen saja sekalian semua kacangnya, karena Ibu lihat Om dan Tante itu juga suka dengan kacangnya.
Tapi untuk kacang tanahnya biar saja nggak usah dibayar, kita berikan saja sebagai hadiah."
"Iya Bu." Ketiga anak wanita petani itu begitu bersungguh-sungguh. Mereka semakin mempercepat gerakannya, agar mereka bisa segera kembali pulang ke rumah, untuk melihat ayahnya.
Namun saat mereka masih memanen buah timun, dua mobil pick up segera terparkir persis di dekat sepeda motor milik Haris, yang diparkirakan di pinggiran jalan persawahan itu.
Enam orang pria turun dari mobil, ketiga anak dari wanita petani itu merasa takut dan berlari ke arah ibunya. Haris yang melihat gelagat ketakutan yang ditunjukkan oleh ketiga anak itu, segera berseru pada anak perempuan dari petani yang hanya itu satu-satunya dari ketiga anak petani itu yang sudah dia ketahui namanya.
"Linda tidak usah takut Nak..! Semua yang datang itu adalah teman Om, mereka yang akan membawa timun dan jagung itu nanti. Jadi kalian jangan takut, mereka datang karena Om yang panggil kok, untuk membawa dan juga membantu kalian bekerja."
"Iya Om..!" Linda menyahut seruan Haris dan perlahan-lahan sikap ketakutan yang tadi sempat menggerogoti hati mereka, mulai sirna dan hilang seolah tak pernah ada.
"Tuan..! Ternyata Tuan datang ke tempat ini.?"
"Iya kamu ikut datang juga rupanya Wilson.?"
"Iya Tuan. Saya dan Jamal tadi ini akan pergi ke kantor lalu tadi Albert menyampaikan isi pesan singkat Anda padanya di telepon."
"Oh ya sudah lah Wilson, padahal sengaja tadi aku tidak mengirimkan pesan itu padamu, karena aku kira kalian sedang pergi ke tempat lain, tapi ternyata kalian juga berada di markas.
Sekarang sebaiknya kalian bantu kakak itu untuk memanen semua hasil ladangnya ini. Nanti semuanya ini, akan kita bayar dan kita bawa pulang.
Tapi sebelumnya apakah kalian mau jagung bakar..? Sebab ini ada jagung bakar yang sudah matang."
"Oh mau dong Bos." Dua orang pengawal segera menyahut ucapan Haris, tapi segera langkah mereka terhenti karena diberikan kode oleh Wilson lewat tatapan matanya, yang memandang mereka dengan sorot mata yang tajam.
"Ah.. itu, tidak usah Tuan. Ti..tidak jadi, kami nanti akan membakar sendiri saja, jagung untuk kami."
"Lho kenapa..?"
"Iya itu benar Tuan kami bisa membakarnya di sana nanti, atau di tempat lain, silakan Tuan dan Nyonya nikmati saja kebersamaannya di sini."
Wilson segera beranjak meninggalkan Haris dan Shasmita, setelah selesai mengucapkan hal itu.
Haris tersenyum memahami makna perkataan Wilson, yang tidak ingin dia dan istrinya merasa terganggu dengan kehadiran para pengawalnya itu.
Haris tahu Wilson sedang merasa perlu memberikan privasi khusus, buat Tuan mereka itu.
...*****...
"Lain kali kita harus membaca situasi Rudi Cahyadi dan juga kamu Bardan. Kalian kan tahu Tuan dan Nyonya baru saja sehari menikah, jadi beliau berdua itu pasti perlu waktu khusus untuk bersama.
Itulah sebabnya kenapa Tuan tadi memilih untuk melakukan perjalanan menelusuri daerah pinggiran kota P ini dengan sepeda motor, padahal kan kita bisa saja membawa beliau berkeliling dengan mobil. Tapi memang Tuan dan Nyonya hanya sedang ingin berdua saja.
Itu pula sebabnya kenapa tadi aku memberikan kode kepada kalian."
"Iya komandan Wilson. Saya kok tiba-tiba jadi tumpul pikirannya, tidak sadar tentang hal itu. Untung komandan tadi segera mengingatkan."
"Benar itu Komandan. Saya juga kok nggak biasanya, malah tumben-tumbennya mampet nih pikiran he..he ."
"Ya sudah, kalau kalian sudah paham. Kalian tidak perlu merasa tersinggung dan memasukkannya ke dalam hati."
"Tidak Komandan. Kami selalu siap berada dibawah komando Komandan Wilson. Kami tidak tersinggung sama sekali, malah yang ada kami merasa malu sekarang, bila mengingat kejadian tadi."
"Ya tidak apa-apa, yang penting kita sudah paham membaca situasi, kedepannya kita orang-orang terdekat yang merupakan pengawal Tuan ini, harus bisa membaca keadaan dan menempatkan diri dengan baik.
Tuan kita itu orangnya sangat pengertian, pasti Tuan juga maklum tentang itu."
"Iya komandan, karena selama ini Tuan begitu baik dan begitu dekatlah pada kita, sehingga saya sampai lupa hal sepenting itu dan malah sempat kelepasan tadi."
"Sudahlah Rudi cahyadi dan kamu juga Bardan, sebaiknya kita bantu ibu itu segera menyelesaikan pekerjaannya seperti arahan Tuan tadi."
Pengawal keluarga Haris itu pun segera menghampiri wanita petani yang sedang memanen timunnya
"Maaf Bu permisi, kami berenam ini adalah pengawal Tuan besar Haris. Tadi kami dihubungi oleh Tuan untuk ikut membantu Ibu dan yang lainnya.
Apa yang bisa kami bantu ibu."
"Oh iya pak. Bagaimana ya..? Sebenarnya ini tadi, Ummm.. Apa yang tadi Bapak katakan..? Beliau itu seorang Tuan besar.?"
"Oh iya apa Bu belum di beri tahu..? Beliau itu seorang Tuan besar, tepatnya Tuan besar Haris, pimpinan kita.
Kami ini adalah sebagian dari para pengawalnya, ada lebih 100 orang pengawal beliau.
Beliau itu aslinya orang kaya raya pemilik banyak Hotel bintang 5, perusahaan, perkebunan, usaha perkapalan dan lain sebagainya. Beliau itu bukan orang sembarangan."
"Waduh bagaimana ya, saya sudah terlanjur salah ngomong dong, saya tadi memanggilnya Adik Haris dan Adik Shasmita saja begitu, karena memang saya disuruhnya begitu tadi."
"Oh Ibu tidak perlu khawatir, kalau Tuan memang sudah mengatakan harus dipanggil dengan begitu, artinya itu sudah tidak masalah lagi.
Tuan itu orangnya baik kok Bu. Kami juga para pengawalnya sebenarnya dilarang memanggil Tuan, karena beliau juga sudah menganggap kami sebagai adik-adiknya. Tapi ya, namanya kami ini profesional kerjanya, tetap saja kami panggil Tuan.
Ibu nggak masalah kok manggil Adik atau yang lainnya, apalagi bila Tuan yang sudah mengatakannya begitu, jadi bagaimana nih Bu, apa yang bisa kami bantu kerjakan..?"
"Oh ini timunnya sudah hampir selesai Pak, kalau memang mau dibantu itu jagungnya saja bantu dipanen. Jagungnya semuanya juga sudah bisa dipanen itu, tadi katanya Tuan Haris juga mau jagungnya. Selain itu kami juga akan memanen kacang tanah nantinya."
"Oh jadi jagung itu tinggal panen saja tuh Bu, apa tidak perlu dipilih-pilih lagi dan sudah siap panen semua.?"
"Iya Pak, ya paling kalaupun mau dipilih, paling yang kecil-kecil lah, tidak usah ikut dimasukkan, karena kan nanti nggak enak begitu, kita menjual yang kurang bagus.?"
"Begitu ya Bu.? Kami sudah paham sekarang, kami kerjakan dulu ya Bu. Ini anak-anak, jangan takut ya sama Om semua.
__ADS_1
Jangan Takut seperti tadi. Sempat lari ya tadi, saat lihat kedatangan Om turun dari mobil..? Sampai Tuan Haris harus berteriak. Mana nih tadi Linda yang dipanggil sama Tuan.
Yang cewek ini ya, jangan takut lagi ya nak hehe."
"Iya Pak."
"Ya sudah panggil saja kami Om juga, karena nak Linda juga sudah memanggil Tuan sebagai Om, karena Tuan itu juga Abang kami jadi panggil juga kami ini Om. Jangan takut ya sayang..!"
"Iya Om..!" Nah gitu dong anak pintar hehe. Ayo teman-teman kita panen jagungnya."
"Siap komandan..!"
Tanpa mengulur waktu lagi ke-6 anggota satuan pengaman Haris, yang memang terbiasa bergerak cepat dan terampil itu, segera menyelesaikan panenan jagung yang menjadi tugas mereka, dalam waktu yang sangat singkat, sampai-sampai wanita petani itu dan ketiga anaknya juga menjadi bengong karenanya.
Tidak cukup sampai disitu, mereka semua secara bersama-sama juga dalam waktu yang relatif singkat telah mencabut semua tanaman kacang tanah dan lalu memisahkannya dari batangnya.
"Ah akhirnya selesai juga."
"Tadi jagungnya saya kupas satu dan saya gigit, rasanya sangat manis, sepertinya kita juga memang harus ikut membakar jagung-jagung ini, khusus untuk kita komandan."
"Ya saya juga mau, lagipula pasti jagung-jagung ini kalaupun dibeli Tuan, nantinya juga akan diberikan kepada kita. Bagaimana kalau kita bakar beberapa di sini komandan.?"
"Iya boleh-boleh saja teman-teman, lagi pula Tuan juga sudah mengatakannya tadi, tapi sepertinya kita dibawa pohon itu saja ya, biar jangan terlalu panas. Apalagi pohon itu juga dekat dengan sumber air, jadi kita mudah untuk membersihkan diri."
"Iya komandan benar, bagaimanapun tangan kita sudah berlumuran tanah, saat kita mencabuti pohon kacang tanah tadi."
"Oke mantap komandan, kalau begitu mari kita pergi ke bawah pohon itu untuk membakar beberapa dari jagung-jagung ini.
Nanti selesai membakar dan menikmati jagung ini, baru kita angkut ke mobil."
"Mantap..Ayo..ayo semuanya..!"
Tidak hanya Haris dan Shasmita saja yang merasakan keseruan kegiatan di ladang itu, keenam para pengawalnya juga mulai merasakan suasana yang sama. Mereka seperti anak kecil yang telah selesai bermain, kemudian berlarian ke parit yang berasal dari sungai yang memang airnya jernih itu untuk membersihkan diri mereka masing-masing.
Namun diantaranya ada yang memilih menyalakan api untuk memanggang beberapa jagung yang telah mereka panen.
Sementara itu Haris memanggil wanita petani dan ketiga anaknya.
"Ayo Kak sini..! Kita makan kacang rebusnya sama-sama.
Biarkan saja timun-timun itu disitu nanti akan diangkat oleh saudara-saudara kita yang kuat-kuat itu hehe."
"I..Iya Tuan." Wanita petani itu mulai merubah panggilannya pada Haris.
"Eh... Kok berubah lagi..? Panggil saja Dek Haris."
"I..iya Dek Haris."
Haris paham sepertinya para pengawalnya, sudah menjelaskan sedikit banyak tentang jati dirinya.
"Nah Linda sini Nak, duduk di sini dekat Tante.
Ini yang berdua adiknya siapa namanya, kenalin dong sama Tante..!"
"Saya Mulkan Tante. Saya anak kedua dari Ayah dan Ibu..!" Mulkan dengan penuh semangat memperkenalkan dirinya dengan menyebutkan namanya.
"Oh Mulkan..! Nama yang bagus, artinya raja lho kalau Tante ingat dulu waktu belajar sekolah ngaji sore.
"Saya Syawal Tante, anak paling kecil. Saya lahir di bulan Syawal makanya diberi nama Syawal."
"Wuidih keren hi..hi. Jadi Linda, Mulkan dan Syawal sejak hari ini sudah menjadi keponakan dan seperti anak jugalah bagi Tante dan juga Om nya ya, ketiga-tiganya.
Mulai hari ini ketiganya harus kembali ke sekolah. Jangan pikirkan soal biaya lagi, Ibu juga tidak perlu harus ke ladang lagi, Ibu cukup fokus jaga kesehatan Ayah ya.
Tadi Om dan Tante juga sudah sepakat, akan memperhatikan semua kebutuhan Linda, Mulkan dan Syawal serta Ayah dan juga Ibunya.
Bagaimana, kalian senang tidak..?"
"Oh senang sekali Tante.
Hore Bang Mulkan kita juga akan sekolah seperti Kak Linda. Kita tidak akan diejek anak-anak lain lagi, karena kita tidak sekolah hore..!"
"Iya dek Syawal kita akan beli baju baru dan juga tas serta sepatu baru nanti."
Ketiga anak itu begitu bahagianya dan mereka tidak bisa menutupi kebahagiaan itu baik dihadapan Haris dan juga Shasmita.
Melihat hal itu wanita petani itu merasa tersentuh dan begitu terkejut, ternyata tidak hanya untuk urusan putrinya Linda saja, untuk biaya sekolah kedua anaknya juga sudah akan ditanggung oleh Haris dan Shasmita.
Dia tadinya masih antara percaya dengan tidak pada cerita putrinya, namun setelah mendengar langsung dari lisan Shasmita dia baru mulai semakin mantap meyakini hal itu.
Tapi lagi-lagi dia tidak pernah menyangka kalau kedua anaknya yang lain juga bakal ditanggung, bahkan termasuk keluarganya. Tanpa sadar wanita petani itu menangis dan hendak menyungkurkan kepalanya ketanah dihadapan Shasmita.
Shasmita yang tahu betul niat wanita itu segera menangkapnya dan memeluk wanita petani itu, tanpa sedikitpun merasa risih apalagi jijik.
"Kakak jangan menangis, ini sudah merupakan garis takdir. Kami sekarang ini adalah adik-adikmu, bahagian dari keluarga Kakak, maka selamanya Kami tidak akan membiarkan Kakak dan keluarga merasa kesusahan.
Jadi jangan menangis lagi ya Kak. Ayo dong jangan menangis, ini juga Anak-anak dan keponakan Om juga Tante, ketiganya jangan menangis ya...!
Tante dan Om tadinya datang kemari mau berhibur lho, mau bersenang-senang, mau keliling-keliling sama Om, eh ternyata takdir kita semua berjumpa disini, nah kalau semua pada menangis begini, Tante dan Om juga bakal ikut nangis dong nanti, gimana coba..?"
Perlahan ke tiga anak itu mengusap air mata yang ada di wajahnya dan kemudian mereka tersenyum. Haris mengusap ketiga kepala anak itu dan kemudian mulai menyendoki kacang rebus ke piring plastik yang tersedia di sana dan membagi-bagikannya ke semua orang.
"Apa yang dikatakan Tante itu benar, kita jangan isi hari-hari kita dengan tangisan. Ayo kita berbahagia.! Sekarang ayo kita lomba makan kacang. Siapa yang paling duluan habis kacang yang ada di piring nya, nanti akan diberikan hadiah uang Rp 100.000 sebagai jajan."
"Hore... Hore..Aku mau uang 100 ribu..!"
"Aku juga..! Kak Linda dan Bang Mulkan, harus bisa mengalahkan aku. Walau badanku paling kecil, tapi aku paling lahap makan.!"
Si syawal yang paling bungsu juga tidak mau kalah dengan kakak dan juga abangnya, untuk memperoleh hadiah yang dijanjikan oleh Haris.
Anak-anak itu setelah selesai saling berseru dengan celotehannya masing-masing, seperti mesin mulut mereka mulai mengguyah kacang itu dengan begitu bersemangat.
Shasmita dan Haris tertawa terkekeh-kekeh melihat tingkah anak-anak yang lucu dan masih polos-polos itu.
Setelah beberapa saat bertanding Syawal kemudian berteriak. "Hore..! aku yang menang. Aku yang menang..! Kacang di piringku sudah habis semuanya. Sudah aku katakan walau tubuhku kecil, tapi aku paling lahap makan. Aku menang...aku menang..! Aku akan mendapatkan hadiah100 ribu..hore..!"
"Ya.. kita kalah kak Linda..!"
"Iya Mulkan, Syawal makannya seperti mesin pemotong padi, kita kalah deh."
"Ha..ha..hah..hahahh."
Haris dan Shasmita tertawa terbahak-bahak, Shasmita bahkan sampai memegang perutnya yang terasa pegal karena sedikit kram menahan tawa sejak tadi, namun tetap tidak bisa dan akhirnya tak berhenti tertawa, melihat tingkah anak-anak polos yang ada di hadapan mereka.
__ADS_1
Segera saja Haris mengeluarkan 3 lembar uang kertas pecahan Rp 100.000 yang baru, dari ruang inventory sistemnya.
"Ya, ternyata yang keluar jadi pemenangnya adalah adik Syawal. Tapi karena Kak Linda dan juga Abang Mulkan juga begitu semangat lombanya, maka Om berikan penghargaan.
Jadi, ketiganya akan mendapat uang Rp100.000/orang."
Haris kemudian memberikan uang itu kepada ketiga anak petani yang sedang semangat-semangatnya itu dan ketiganya menyambutnya dengan berteriak gembira, lalu sambil berteriak mereka berlari membawa uang mereka berlari-lari di sekitar gubuk itu.
Mereka meneriakan kata yang sama "Hore.. aku mendapat uang..!"
Haris dan Shasmita tersenyum dan ikut merasakan, betapa bahagia dan riang gembira di hati mereka. Seolah kebahagiaan dari anak-anak itu memiliki saluran yang mengalirkan air kebahagiaan dengan deras ke hati mereka.
"Dek Haris dan Dek Shasmita, Saya minta maaf dengan kenakalan ketiga anak-anak saya itu. Mereka masih begitu polos dan lugu, belum tahu apa-apa.
mereka jarang mendapatkan kebahagiaan semacam itu selama ini, sehingga mereka begitu bahagia dan larut dalam kebahagiaannya."
"Kakak tidak perlu minta maaf untuk itu, kami senang kok melihat mereka senang, kami merasa ikut bahagia melihat mereka begitu bahagia. Seolah impian masa kecilku yang sangat aku dambakan dan tidak pernah aku peroleh, hari ini bisa aku raih dengan melihat raut wajah dan juga cerminan kebahagiaan yang terpancar dalam senyuman-senyuman mereka. Aku ingin mempertahankan senyuman-senyuman itu sebisa dan sesanggup yang aku mampu. Jadi Kakak tidak perlu merasa bersalah, sehingga harus meminta maaf.
Wah, tak terasa sepertinya hari sudah siang. Sepertinya kita sudah harus memikirkan untuk mencari makan siang nih."
Haris lalu menghubungi Bardan yang berada cukup jauh dari mereka, meminta mereka untuk membeli makan siang, ternyata pengawal Haris sudah mewanti-wanti hal itu dan mereka ternyata sudah membawa hidangan makan siang dari hotel.
Mengetahui hal itu Haris lalu meminta agar makanan-makanan itu segera diturunkan dari mobil.
"Kalau memang sudah dibawa begitu, turunkan saja hidangan-hidangan itu kemari Dek Bardan.
Kalian datang saja kemari semuanya, kita akan makan bersama-sama di sini. Sepertinya makan beramai-ramai itu lebih enak deh."
"Baik Tuan siap Tuan. Kami akan segera berangkat ke sana dan mengambil hidangan makan siang kita."
Bardan dan Rudi Cahyadi kemudian segera pergi ke mobil untuk mengambil makanan-makanan itu. Sedangkan yang lainnya mengangkat seluruh timun ke dalam mobil pick up, setelah itu para pengawal Haris merapat ke gubuk dan mereka mengambil posisinya masing-masing, Mereka mengambil posisi duduk membentuk lingkaran.
Kemudian semua orang mulai mengambil makanannya dan menyantap hidangan makan siang, secara bersama-sama.
"Ayo tambah makannya Linda, Mulkan dan Syawal..! Jangan malu-malu. Ini masih banyak kok makanannya.
Ada daging, udang dan juga ikan."
"Iya Om, makanannya enak, Syawal tidak malu kok Om. Syawal juga berani menghabiskan semuanya..!"
"Syawal..! Tidak baik begitu Nak. Tidak sopan itu namanya."
"Ha..ha..ha..hahah." Semua orang tertawa oleh apa yang barusan saja diucapkan oleh Syawal tidak terkecuali para pengawal Haris.
"Tidak apa-apa Kak Biarkan saja Syawal dengan kebahagiaannya, biar badannya tumbuh besar ya Syawal. Ayo kalau masih kuat tambuh lagi."
"Iya Om, tadinya Syawal masih kuat, tapi karena Ibu melarang Syawal jadi tidak kuat lagi."
"Ha..ha..ha..ha..hahahhh."
Sekali lagi semua orang dibuat tertawa oleh celotehan Syawal, bahkan para pengawal Haris yang sedang mengunyah makanan, tanpa sadar kemudian menyemburkan makanan yang sedang ada dalam mulut mereka kemudian tertawa terbahak-bahak.
Acara makan bersama mereka yang sangat seru itu akhirnya selesai. Setelahnya semua orang beristirahat untuk beberapa menit lamanya, kemudian setelah merasa puas beristirahat, para pengawal Haris kemudian mengangkat jagung jagung dan kacang tanah yang telah mereka panen ke dalam mobil dan mereka semua berangkat dari sana menuju ke rumah Syawal di pinggiran kota P yang letaknya sudah berbatasan dengan wilayah kabupaten.
Setelah melakukan perjalanan sekitar 20 menit, mobil Haris dan rombongannya, segera tiba di depan halaman rumah keluarga petani itu.
Betapa terkejutnya Haris dan betapa pilu hatinya melihat rumah petani yang bahannya terdiri dari kayu dan papan itu, sudah tampak lapuk dan hampir rubuh yang bahkan tiangnya juga sudah miring ke sebelah kiri, seolah rumah itu akan sujud.
Atap rumah yang merupakan seng itu juga sudah banyak yang bocor kemudian lantai nya juga sudah banyak yang berlubang-lubang.
"Inilah rumah kami Dek Haris, beginilah keadaannya. Apa Dek Haris masih berkenan masuk..?"
Seketika lamunan Haris segera buyar, setelah mendengar wanita yang sudah dianggap sebagai kakaknya itu selesai berbicara.
"Ah kenapa Kakak mengatakan begitu..? Tentu saja Haris akan masuk. Bukankah niatnya sejak awal tadi adalah untuk melihat Abang..? Oh ya di mana Abang kok tidak kelihatan Kak.?"
"Mungkin abangmu tertidur Dek Haris, setelah mengidap penyakit gula ini, seringkali dia tertidur, matanya ngantuk berat terus katanya."
"Oh begitu..? Itu memang sudah bawaan penyakitnya begitu Kak, yuk kita masuk yuk biar kita periksa keadaannya Kak."
"Iya Dek Haris, Kakak malah sampai lupa untuk mengajak masuk, mari semuanya masuk..! beginilah keadaannya harap dimaklumi."
Haris dan yang lainnya segera masuk dan hati semua orang semakin teriris melihat keadaan di dalam rumah keluarga itu.
Linda terlihat menangis sesenggukan, sehingga Shasmita kemudian menenangkannya.
"Ada apa Nak..? Kenapa Linda menangis..? Kenapa Linda bersedih.?"
"Linda malu Tante, rumah Linda jelek. Teman-teman Linda selalu menghina Linda karena rumah Linda jelek katanya.
Linda tidak tahu Om dan Tante serta Om semuanya, bakalan duduk di mana. Lantainya juga sudah berlubang-lubang semua."
Tak sadar Shasmita kembali menitikkan air matanya, menyaksikan apa yang disebutkan oleh Linda tentang keadaan rumah mereka memang benar adanya. Kemudian Shasmita memeluk Linda dengan penuh kehangatan dan meraih dua anak yang lainnya, lalu memeluk mereka secara bersamaan.
"Linda jangan menangis, justru karena itulah Om dan Tante serta Om-Om yang lainnya ini, semuanya datang kemari untuk mengetahui persisnya, seperti apakah keadaan Linda dan apa yang Linda serta keluarga butuhkan.
Sudah jangan menangis lagi ya, rumah ini akan kita rubuhkan dan akan kita bangun kembali nantinya menjadi rumah gedung yang cantik dan berkilau.
Apakah kalian mau rumah cantik dan berkilau..?"
Mendengar ucapan Haris, kepala ketiga anak-anak itu, segera keluar dari pelukan Shasmita dan melongok melihat kepada Haris.
"Benar Om..? Rumah Syawal mau dibangun jadi cantik dan berkilau..?"
"Iya bener dong, masa Om bohong. Ya sudah sekarang Linda dan yang lainnya, bersiap-siap dan berkemas. Mulai malam ini dan beberapa malam kedepannya sampai pembangunan rumah Linda, mulkan dan Syawal ini selesai, semuanya menginap di hotel kita saja.
Di hotel Nurul Haris. Pernah dengar nggak nama hotel itu..?
Itu hotel besar bintang 5 milik kita, sejak hari ini kedepannya kalian boleh datang ke sana kapan saja kalian mau. Sebutkan saja kalau kalian itu adalah anaknya om Haris dan Tante, tidak akan ada yang berani menolak kalian. Bagaimana kalian senang tidak..?"
"Senang Om senang."
Anak-anak itu segera berhamburan memeluk Haris, karena begitu bahagia mendengar janji yang disebutkan oleh Haris dimana mereka sangat percaya dengan Haris.
"Bagus, begitu dong, jangan bersedih-sedih ya. Sudah sekarang pergi berkemas, setelah itu kalian jajan dulu dengan uang kemenangan lomba tadi, sambil menunggu Om dan Tante selesai berbicara dengan Ayah.
Bagaimana cocok tidak..?
"Cocok Om...!"
"Ha..ha..ha..hahhhh" Suara tawa yang sangat jarang terdengar dirumah itu, kembali pecah di rumah yang selama ini selalu dirundung oleh duka itu, saat mendengar ucapan lantang dari Syawal yang tidak pernah ragu untuk menjawab.
Suara tawa itu juga yang kemudian membangunkan Ayah dari ketiga anak itu, yang kemudian segera keluar dari kamarnya.
__ADS_1