
"Kamu kenapa Very kok selalu menunduk nunduk begitu...?"
Hahaha mungkin dia takut bang ngelihat Diana sama adek Kirana.
Very sudah begitu sejak abang marah sama si Nando waktu di kampung, soalnya kalau adek melihat ke Very dia seolah buang muka begitu bawaannya...hahah."
"Iya Ver kau takut...?
Bagus kalau kau takut, memang tidak boleh melihat lihat wajah istriku.
Kalau kau mau melihat wajah wanita, itu lihat si Puspa sama si Wulan.
Kalau wajah istriku biar aku saja yang melihatnya, kamu jangan ikut-ikutan Faham...?"
"Pffhhh...."
Puspa dan Wulan yang memang sangat cantik, tertawa geli nama mereka ikut tersangkut
"Iya pak direktur, eh tuan."
"Hahaha...!
Bang jangan ditakut-takuti lagilah bang, bentar lagi dia juga akan jadi adik kita lho bang, jadi anggota keluarga kita."
"Oh ya! Kenapa begitu...?"
"Entah..!
Abang tanya aja sama adek Juli."
Juli yang namanya juga ikut terbawa-bawa dalam pembicaraan itu, merasa begitu malu, sehingga wajahnya menjadi merah.
Juli kemudian menunduk dalam, karena merasa malu kepada semua orang.
"Juli masih kecil, jangan memikirkan urusan yang lain-lain dulu, jangan main cinta cintaan.
Fokus dulu sama pekerjaan ya kan pak....?"
Haris menasehati Juli dan melibatkan ayah Juli dalam pembicaraan.
"Iya benar Juli, dengarkan abangmu....!"
Ayah Juli menyahut.
Very merasa ingin sekali sembunyi kedasar bumi saat itu juga, dia tidak tahu kalau sikap diam diamnya dalam mencari perhatian dan mendekati Juli, sudah terendus oleh nyonya besarnya.
"Mati aku...!
Kenapa jadi begini...?
Sebaiknya aku minta kembali kerja ke hotel saja kalau begini."
Very tidak tahu lagi bagaimana harus bersikap, dia ingin sekali acara itu segera selesai.
"Ha..ha...ha..ha...ha..hahah!"
Tawa Diana dan Kirana pecah.
"Santai saja Ver santai aja.
Ayo tambah makannya."
"Sudah kamu lihat saja wajah kakak seperti biasa, jangan dengarkan apa yang abangmu sebutkan?
Abangmu cuma bercanda kemarin, sama si Nando, karena Nando lama nggak datang.
Jadi Abangmu mau mengerjainya, kok malah kamu yang ketakutan sampai sekarang Ver...?
Udah kamu lihat aja wajah kakak seperti biasa, ketika diajak bicara.
Jangan takut, kakak nggak bakalan tergoda kok, nggak bakalan jadi lupa sama ketampanan abangmu, karena kamu lihat..Haha."
"Bang ngomong dong, si Very udah betul-betul takut ini sama abang.
Abang bilanglah seperti apa yang sebenarnya."
"Iya itu sudah yang sebenarnya.
Aku nggak suka kalau istriku dilihat lihat.
Takutnya jadi seperti cerita di Novel, dimana si Very nantinya jadi suka sama istriku.
Aku nggak mau itu terjadi....."
Semua orang tertawa melihat tingkah Very yang jadi serba salah.
Ayah Diana menepuk pundaknya.
"Kamu bersikap normal saja Very, nak Haris memang kalau bercanda sangat serius."
Untuk beberapa lamanya Very merasa sangat canggung, sampai kemudian Haris mengambil alih situasi.
"Baiklah semuanya..!
Karena kita sudah selesai dengan acara makan bersama ini.
Siapa yang ingin berkeliling di danau, itu ada layanan jasa penyewaan Perahu dayung dan juga kapal boat.
Siapa yang mau mencoba mumpung lagi di sini, silahkan dimanfaatkan aja, karena setelah ini mungkin kita akan pulang besok.
Oh ya pa....!
Mungkin besok kami akan pulang pa! ke desa.
Ditambah di sana juga, sudah menunggu segala urusan.
Haris baru beli kebun sawit seluas ±500 hektar, jadi masih perlu mengatur segala sesuatunya di sana.
Menempatkan orang yang akan tinggal di lokasi, merekrut dan mengatur pekerja panen, mandor dan segala macamnya.
Jadi Haris memang tidak bisa berlama-lama pa.!"
"Oh ya sudah.
Kalau begitu Haris dan keluarga kita, sudah bisa pulang besok, lagian masalah sudah selesai kok.
Papa juga mungkin kalau segala sesuatunya di sini sudah tenang, papa juga akan pulang dan mengunjungi kalian ke sana, toh kampung halaman papa juga di sana, rumah papa juga ada di sana.
"Iya pa..!
Papa jangan takut lagi, masalah izin dan lainnya papa udah tahukan orang nomor1 di daerah ini adalah teman kita, jadi sebenarnya papa sekarang udah bisa lebih bebas.
__ADS_1
Nanti Haris akan suruh orang-orang dari kaya dan jaya bersama grup, untuk senantiasa memantau dan melihat situasi hotel.
Begitu juga Haris nanti akan pesankan ke Pak Rahmad, supaya segala sesuatu urusan papa bisa lebih cepat di tanggapi.
"Iya nak, papa berterima kasih banyak sama Haris yang sudah menyelesaikan semuanya."
"Ah papa sama anak sendiri kok berterima kasih...?
Ini semua sudah kewajiban kami, sudah merupakan tanggung jawab kami, sebagai anak papa.
Malah kalau dek Kirana nggak ngasih tahu tadinya papa punya masalah, sehingga segala sesuatunya terlambat, pasti Haris akan marah sama dek Kirana.
Namun sekarangkan masalahnya sudah selesai."
"Iya Alhamdulillah."
"Jadi bagaimana ada yang mau ke danau nggak nih, sebelum kita pulang..?
Nawir sama Andri barangkali mau...?"
"Nggak ah bang Haris, takut tenggelam.
Mana udah kenyang juga, nanti naik perahu goyang goyang bikin muntah."
Tidak ada satupun orang yang ada di tempat itu, yang ingin untuk berkeliling memakai jasa perahu dayung maupun kapal boat untuk menelusuri danau.
"Ya sudah kalau memang tidak ada, kita pulang saja sekarang.
Semua orang silahkan istirahat yang cukup, karena besok kita akan segera kembali ke desa."
Setelah mengatakan itu Haris dan rombongan keluarganya kemudian pulang kembali ke hotel Kirana, mereka beristirahat yang cukup malam itu, sampai kemudian hari berganti pagi.
Pagi itu Haris dan keluarga kembali berkumpul di lobby hotel, lalu saling berpamitan kepada pak Wicaksono ayah dari Kirana dan juga mertua dari Haris.
"Pa kami berangkat sekarang pa...!"
"Iya hati-hati di jalan, tidak usah terlalu buru buru, sekarang jalanan agak licin, musim penghujan."
"Iya pa kami akan hati-hati di jalan, papa juga jaga kesehatan di sini sama mama juga ya mah...!"
"Iya nak Haris..!
Mama akan jaga, kesehatan mama."
"Kirana akan rindu lagi sama mama, baru aja jumpa sama mama udah mau pisah lagi."
"Ah kamu, tumben kamu bakalan rindu..?
Selama ini juga seringan ninggalin mama karena urusan kerja.
Lagian paling juga nggak sampai sebulan ini, papa dan mama akan balik ke kampung lagi.
Nanti di sana kita puas-puasin lagi jumpanya, ya nak...!
Hati-hati di jalan.
Pandai-pandai bersikap dan membawa diri."
"Iya ma....!"
"Jangan lupa cepat kasih mama cucu...!"
"Nggak apa apa dong, anggota keluarga semua kok.
Mama jugakan udah pengen punya cucu, dari putri mama yang nakal ini."
Ibu Kirana mencubit hidung putrinya sebagai tanda sayang dan gemasnya pada putri semata wayangnya itu.
Setelan semua selesai berpamitan, mereka bersiap untuk pulang.
"Baik. Sudah semuanya? kalau begitu kita berangkat."
Haris dan keluarganya segera meninggalkan kota K dan kembali ke kota p pada pagi hari itu.
Setelah menempuh waktu perjalanan 8 jam perjalanan, Haris dan keluarganya kemudian sampai di kota P.
Mereka langsung menuju ke desa mertua Haris.
Adapun Yunita dan Butet kembali ke rumah mereka masing-masing.
Setelah sampai di desa S,
Darman yang tahu kedatangan Haris segera menemuinya di depan teras rumah mertuanya.
Haris menanyakan tentang keadaan istri Darman dan John serta warga desanya.
"Ris...!"
"Ya Man...!"
"Kami dan istri serta mertua udah kembali tinggal di kampung ini Ris, istriku merasa sudah cukup sehat, sudah gerah rasanya di hotel katanya.
Lagipula dia sudah bisa ternyata, untuk berkegiatan normal seperti biasanya.
Terima kasihlah ya Ris kalau tanpa bantuanmu, mungkin istriku udah lewat Ris."
"Ah jangan begitulah Man, itu sudah diatur sama yang kuasa, ya sudah jadi jangan terlalu dipikirkan lagi.
Oh ya bagaimana, keadaan perkembangan pembangunan rumahmu itu...?"
"Alhamdulillah lancar-lancar aja Ris, mungkin ya beberapa hari lagi akan selesai."
"Oh bagus kalau begitu, lalu si Jhon bagaimana Man....?"
"Si Jhon juga udah bisa pulang, lanjut rawat jalan katanya.
Nanti kau jenguklah dia Ris, dia pun selama ini udah banyak kali nanya-nanya soal kau.
Dia sudah dengar yang terjadi di kampung, tentang penangkapan si Feodal itu dan pembebasan mereka.
Dia sudah tahu tentang kabar kau yang udah jadi orang kaya itu Ris.
Dia tanya, kok ngak pernah ditengok si Haris aku ke Rumah sakit, apa dia nggak mau ya Man jumpai aku yang miskin ini, gitu katanya Ris apa nggak meleleh air mata awak dengarnya..?
Jadi biar dia nggak salah sangka, kujawablah sesuai jawabanmu, yang takut nggak akan bisa menahan diri, kalau melihat si John terluka gitu."
"Jadi apa katanya sesudah kau bilang gitu Man..?"
"Oh gitu ya Man..?
Jadi Haris masih setia kawan ya Man, masih ingat ya Man sama kita..?
__ADS_1
Ih makin rindu aku mau jumpa sama dia Man.!
Apa lagikan udah bertahun-tahun juga nggak jumpa sama dia.
Gitu katanya Ris.
Lagian kalau sekarang udah tahulah dia semua Ris, yang kau perbuat sama dia dan keluarganya, termasuk mertuanya.
Sudah diceritakan sama istri dan mertuanya semua.
Dia juga sudah tahu kalau rumah dia pun udah kita bangun, mertua diapun sudah kita bantu kasih uang yang kau suruh aku serahkan itu, kerabat diapun di desa sana udah kita bantu, supaya jangan bergantung lagi sama si tuan tanah feodal itu.
Jadi intinya udah tahulah dia semuanya, makanya kau jumpailah dia Ris.
Kasihan juga dia rindu kali dia udah."
"Iya nanti bakalan aku jumpai kok dia, akupun sebenarnyakan udah rindu juga nengok dia Man.
Lalu bagaimana dengan desanya ada masalah...?"
"Ada juga Ris, inilah pusing aku jadinya."
"Lho kenapa Man...?"
"Itu petani-petani yang kita bantu, lahan mereka itu kemarinkan sudah ditanami, jadi sudah dirusak pula tanamannya Ris.
Entah siapa yang merusak, tapi ya pasti orang-orang suruhan si tuan tanah itu jugalah itu.
Cuma karena nggak dilihat matakan nggak ada barang buktinya."
"Wah masih bertingkah juga mereka berarti ya, kalau begitu....?
Apa memang harus dibuang semuanya dari kampung itu baru sadar...?
Kalau masih bercokol di situ, masih nyusahin aja nampaknya.
Jadi apa tanggapan saudara-saudara Si Jhon Man..?"
"Inilah lagi berembuk mereka Ris.
Malam ini mereka mau menyebar mau mengintip, siapa yang selama ini merusak tanaman mereka itu.
Kalau memang terbukti ada hubungannya dengan situan tanah itu bakal diusir katanya keluarganya dari situ.
Tapi ya akan terjadi bentrok lagilah dua kelompok itu."
"Parah memang orang orang itu, kalau orang minta bantuan modal, bakal mereka mereka tekan sampai orang enggak bisa bernapas.
Bahkan jual hasil kebun sendiripun tak boleh ke orang lain, harus sama mereka tapi harganya selalu jauh di bawah standart.
Sekarang setelah tidak pakai modal dan lahan orang itu, tanaman petani pulak dirusak, lama-lama nanti makin berani lagi orang itu kalau di diam-diamkan.
Mulai lagi mencelakai orang, memang harus dilawan itu kalau begitu modelnya."
"Iya Ris kalau warga kampung itu, memang sudah sepakat melawan.
Mungkin malam ini bergeraklah orang itu.
Bagaimana ke sana kita malam ini...?"
"Aduh masih capek kali kurasa Man. Lagian memang kalau ini udahlah biar ajalah orang itu yang urus.
Jalan hukum juga sudah kita tempuh ya kan...?
Padahal berapa rumahlah keluarga si feodal itu di sana.?"
"Iya kalau perhitungan kerabat si Jhon menangnya warga itu Ris, makanya udah mau bergerak terus, mereka ini."
"Ya sudahlah Man, biar ajalah seperti apa nantinya hasilnya."
"Iyalah Ris."
"Kau pernah ngak, pergi ke kampung kita sana, sama si Nando jalan-jalan gitu..?
"Pernahlah Ris Kemarin kami dari sana, di rumahpun tahulah kau Ris, rumah mertua mana enak duduk terus lama lama, berduri rasanya *@**** ini Ris...hahahah."
"Sttthhh... Nanti dengar mertuaku Man, kita lagi duduk di rumah mertua ini."
"Opst... Memanglah mulut ini nggak di sekolahin asal nyerocos aja, jadi bagaimana itu Ris...?"
"Kau disini Man, kok ngak masuk...?"
"Ha..aaaaaa...aahhh."
"Kau kenapa Man...?
Kok terkejut begitu...?"
"Nggak kok pak...Ughhhh."
" Ngak apanya?
Reaksimu seperti orang yang ketahuan maling aja...!"
"Ha....hahahhah, kami lagi cerita horor tadi yah, tiba tiba ayah datang, terkejut si Darman. "
"Ada ada saja, sebegitu banyaknya bahan obrolan, malah cerita horor."
Mertua Haris berlalu dan Haris tertawa terbahak bahak, melihat Darman yang wajahnya pucat.
"Sudah ah Ris nggak lucu lho, sampai jantungan aku tadi."
"Jadi bagaimana villa itu sudah bisa ditempati Man..?
Kalau ditempati sudahlah Ris udah paten kok, tinggal polesan akhir aja itu, tinggal ngerjain yang di luar-luar aja itu kata bapak-bapak itu."
Nggak bedalah sama di hotel."
"Oh ya udahlah kalau gitu, nanti malam ke sana ajalah kami menginap."
"Iya bersih kok semua, di sanakan ada yang jaga."
"Besok kita pergi ke daerah pantai timur Man, siap siap kau besok.
Ada lahan baru kita di situ ±600 hektar."
"Oh kalau begitu, aku ikut tidur di Villa ajalah Ris kamarnyakan banyak."
"Boleh."
Kedua sahabat itu akhirnya berpisah sebab Haris akan beristirahat sejenak sebelum pergi melihat keadan si Jhon sahabat mereka.
__ADS_1