
[Sistem]
Tuan sepertinya kedatangan master Lim dan Tuan Prawirawan ke hotel ini, diikuti oleh beberapa orang yang sengaja memata-matai mereka sampai ke tempat ini, harap Tuan memperketat pengamanan.
"Benarkah begitu sistem..?"
[Sistem]
Ya benar Tuan. Saat ini bisa saja orang-orang itu masih berada tidak jauh dari kita, mereka memakai alat penyadap sehingga sistem bisa lebih peka dengan gerak gerik mereka.
Seharusnya tadinya dengan alat yang mereka pakai bisa memungkinkan untuk mengetahui hasil pertemuan Tuan hari ini.
Tapi sistem tadi sudah memblokir seluruh sistem kerja alat mereka itu, sehingga tidak berfungsi sebagaimana mestinya dan mereka tidak mendapatkan apa-apa dari usahanya.
Tapi orang-orang itu juga cukup lihai, sehingga begitu menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres mereka segera mematikan sistemnya.
"Hmm.... Tampaknya hal ini akan berlarut-larut seperti orang yang bermain kucing-kucingan.
Baiklah sistem, kalau begitu kerjakan apa yang bisa engkau lakukan untuk menjaga kita dari segala sesuatu bentuk penyusupan pencurian data maupun hal-hal lainnya, yang sekiranya bisa merugikan kita.
Aku sendiri akan berkoordinasi dulu dengan seluruh satuan pengaman kita yang ada."
[Sistem]
"Baik Tuan. Tetapi Tuan tidak perlu terlalu khawatir, yang jelas kita
hanya harus terus waspada terhadap gerak gerik musuh. Oleh karenanya misi mendirikan satuan pengamanan itu harus lebih dipercepat Tuan."
"Ya kau benar sistem, kalau begitu aku akan mengurus segala sesuatunya hari ini juga.
Aku keluar dulu sistem."
[Sistem]
"Ya silakan Tuan kita bisa sudahi pembicaraan ini dan Tuan bisa menyampaikan semuanya kepada satuan pengaman kita yang ada."
"Kau selalu yang terbaik sistem, aku percaya padamu."
[Sistem]
"Jangan terlalu khawatir Tuan, ini hanyalah masalah biasa. Memiliki musuh itu adalah hal yang wajar apalagi dengan kapasitas Tuan saat ini hal itu tidak dapat dihindari dan itu biasa saja, tetapi memastikan musuh tidak bisa berkutik dan berbuat apa-apa, itulah yang luar biasa dan langkah itu yang harus kita ambil."
"Ya aku akan mengandalkanmu sistem. Kalau begitu aku akan keluar dari pembicaraan kita ini untuk mengurus segala sesuatunya."
[Sistem]
"Ya silakan Tuan."
Setelah mendapat pemberitahuan dari sistem Haris lebih paham langkah apa yang harus dia ambil.
"Riston..!"
"Ya Bos..!"
"Kamu kumpulkan beberapa orang dari teman-temanmu, lalu kalian awasi seluruh tempat yang ada di hotel kita ini dengan cermat, jangan terlalu mencolok.
Aku baru saja mendapat informasi, ada penyusup yang masuk ke lokasi hotel kita untuk memata-matai hasil pertemuanku dengan Tuan Prawirawan dan master Lim tadi dan saat ini mereka masih berada di hotel ini.
Kalau bisa tangkap dan amankan mereka di luar dari lokasi hotel kita ini, kemudian interogasi dan lakukan penyelidikan yang cukup tentang apa motif dan tujuan serta motif mereka.
Bawa mereka nantinya ke lokasi yang aman, untuk kepentingan interogasi."
"Baik Tuan."
"Riston..! Kau, Amanu dan juga Halim, sejak hari ini mulailah terapkan protokol keamanan yang ketat, karena kita sudah mulai dikelilingi oleh musuh.
Keberadaan bisnis kita tidak lagi memungkinkan untuk kita bisa diam tenang tanpa ada gangguan dari orang-orang yang boleh saja merasa terganggu dan merasa dirugikan, meski tanpa alasan yang benar.
Mereka akan selalu mencoba memata-matai maupun mengawasi gerak-gerik kita, jadi usahakan kita lebih cepat mendeteksi keberadaan mereka, dibandingkan mereka mendapatkan hasil dari usaha yang mereka lakukan atas kita, kamu paham...?"
"Paham Bos..! Kalau begitu akan kami kerjakan semua apa yang Tuan sampaikan."
"Baik aku mempercayaimu Riston, sampaikan juga hal yang sama kepada Amanu dan juga Halim. kalian bentuk tim kalian masing-masing menjadi tiga tim untuk berbagi tugas mengerjakan segala sesuatunya.
Abang rasa seharusnya tidak perlu terlalu banyak mengarahkan, kalau soal pengamanan,q karena bagaimanapun kalian semua adalah orang yang profesional di bidang itu."
"Saya mengerti Tuan, kami akan kerjakan segala sesuatunya. Kami akan berusaha untuk menangkap orang itu dan segera memberitahukan kabarnya kepada Tuan."
"Ya baiklah pergilah sekarang, kalau nanti ada informasi terbaru tentang keberadaan mereka, aku juga akan segera menghubungi kalian.
Saat ini mereka sedang bersembunyi dan mematikan semua alat yang sekiranya bisa membuat mereka terdeteksi, mereka sudah menyadari ada yang tidak beres dan sudah tahu kalau mereka sedang diawasi, sehingga tentunya mereka akan lebih berhati-hati.
Kita harus lebih sabar menunggu dan mengawal segala sesuatunya.
Begitu mereka mulai bergerak maka kita akan langsung tahu posisi dan lokasinya, sebagaimana kita tahu tempat persembunyian Marlon kemarin.
Sampaikan kepada teman-temanmu untuk bersiaga, termasuk para pengawal wanita yang tersisa yang masih ada di hotel ini."
"Baik Tuan. siap kami akan laksankan Tuan."
Riston dan beberapa orang pengawal yang ikut serta di dalam ruangan pertemuan itu segera menemui teman-temannya sesama pengawal keamanan untuk menyampaikan pesan Haris.
Mereka kemudian berkoordinasi dan memusyawarahkan pengaturan dan pembagian kerja.
Haris sendiri segera memilih untuk menghubungi Wilson, guna membicarakan tambahan pengawal yang pernah dia tanyakan sebelumnya, sebagai langkah untuk melanjutkan misi yang telah ditentukan oleh sistem kepadanya.
[Memanggil Wilson]
"Halo Tuan Haris selamat siang Tuan. Bagaimana kabar Tuan di sana..?"
"Halo juga Wilson, kabar di sini baik-baik saja, kamu sendiri bagaimana kabarmu di sana, bersama keluarga..?"
"Kami semua juga baik Tuan, segala sesuatunya baik di sini."
"Oh syukurlah. Begini Wilson sebenarnya aku menghubungimu hendak menanyakan perihal petugas keamanan atau para pengawal yang pernah saya bicarakan dulu.
Bagaimana.? Apakah kau bisa menyediakan 100 orang anggota pengamanan yang trampil dan juga bisa bekerja dengan baik..?"
"Iya sudah ada Tuan. Jadi sejak terakhir kali kita berbicara kemarin itu, aku sudah mulai mendekati dan mencari orang-orang yang bersedia untuk dipekerjakan di bidang itu, karena terus terang saja tuan untuk orang-orang kita sendiri ini sudah sangat terbatas, karenanya saya kemarin itu mengambil beberapa orang dari luar tapi memang kemampuannya juga cukup baik di atas rata-rata.
Artinya saya juga tidak mau memberikan orang-orang sembarangan kepada Tuan."
"Bagus sekali Wilson kerjamu sangat baik, kalau begitu mulai besok kau kirimkan saja mereka."
"Tuan apakah Tuan tidak akan memberi saya hadiah..?"
"Hadiah bukanlah sesuatu yang susah bagiku Wilson, aku akan memberikanmu hadiah.
Lalu hadiah apa yang kau inginkan Wilson..?"
Sebenarnya hal ini sudah saya inginkan sejak pertama kali mengirimkan Riston, Amanu dan juga Halim Tuan.
Saya selalu ingin menyampaikan ini tapi begitu takut untuk menyebutkannya kepada Tuan."
"Lho kenapa begitu..?
Apakah saya ini orang yang begitu menakutkan Wilson..?
Sehingga kau begitu takut untuk menyebutkannya."
"Tidak Tuan, hanya saja saya takut Tuan menolaknya."
Baiklah katakan saja apa itu, mungkin saja sebenarnya itu bukan masalah bagiku."
"Jadi begini Tuan.
Saya sebenarnya juga ingin bergabung di sana, intinya saya ingin masuk ke dalam bahagian Tim yang 100 orang itu.
Bagaimana kira-kira menurut Tuan.? Apa Tuan berkenan memberi saya hadiah dengan mengikutkan saya kesana..?"
__ADS_1
"Hahaha kamu ada-ada saja Wilson, bukankah itu artinya kamu akan keluar dari kaya dan Jaya Bersama group..?
Bukankah di sana lebih bagus baik secara fasilitas maupun finansialnya, dibandingkan berada bersama saya di tempat ini..?
Kita disini lebih sering di pedesaan lho Wilson. Nanti kamu terkejut melihat keadaannya karena sudah terbiasa di kota."
"Tidak Tuan. Tolonglah Tuan beri saya kesempatan menjadi salah satu pengawal Tuan. Saya sudah lama memikirkan hal ini, kalau soal kaya dan gaya bersama group, sebenarnya saya juga tidak serta merta keluar begitu saja.
Bukankah Tuan juga termasuk petinggi dan pemilik saham di korporasi kaya dan jaya bersama group..?"
"Lalu pekerjaanmu disana bagaimana Wilson.?"
"Kalau soal pekerjaan, ada banyak orang di sini Tuan yang siap menggantikan posisi maupun pekerjaan saya dan kita di sini tidak kekurangan orang untuk itu."
"Ya baiklah Wilson, kalau memang kamu sudah memikirkan dengan matang segala sesuatunya, aku menerimamu untuk bergabung di sini dengan catatan, kamu tidak perlu ragu untuk mengatakan kembali bila ternyata nanti kamu merasa tidak nyaman di sini."
"Terima kasih Tuan, saya sangat bahagia kalau begitu saya dan yang lainnya akan segera berangkat besok Tuan.
Sebab mungkin baru besok kami bisa secara keseluruhannya berkumpul dan berangkat ke sana."
"Ya baik terserah kau saja Wilson, tapi khusus untukmu aku sarankan bawalah keluargamu kemari, di sini banyak tempat tinggal jadi kamu juga bisa fokus dan nyaman dalam bekerja."
Baik Tuan. Terima kasih Tuan, kalau memang Tuan membolehkan begitu saya tidak akan ragu lagi membawa mereka ikut nantinya."
Ya baik. Wilson itu saja barangkali yang perlu saya sampaikan, kalau begitu sampai jumpa besok lusa di tempat ini."
"Ya terima kasih banyak Tuan."
"Sama-sama Wilson, kamu juga sudah banyak berbuat untuk kita disini."
"Baiklah Tuan.
Kalau begitu saya pamit undur diri Tuan Selamat siang."
"Ya selamat siang Wilson."
[Panggilan berakhir]
"Ahaii asyik....!! wah akhirnya aku juga bisa bergabung dengan Tuan Haris. Aku harus memberitahukannya kepada istri dan anak-anakku, agar mereka segera berkemas, selamat datang kemakmuran."
Wilson begitu bahagia mendapati bahwa keinginannya untuk bergabung bersama Haris di amini dan dipersilakan oleh Haris.
Wilson segera menghubungi seluruh orang-orang yang akan diberangkatkan dan menyampaikan kabar gembira itu kepada istrinya.
Selama ini dia hanya bisa mendengar cerita-cerita yang baik dan juga kisah-kisah menarik tentang Haris, serta peningkatan kemampuan ekonomi mantan bawahannya setelah bekerja bersama Haris yang membuatnya merasa sangat ingin untuk ikut mengabdikan dirinya kepada Haris, sesuai bidang tugas yang bisa dia kuasai.
Bagaikan mimpi yang menjadi nyata ternyata akhirnya keinginan itupun tercapai, sehingga membuat Wilson begitu bahagia dan begitu riang.
Tidak lupa Wilson juga segera mengurus surat pengunduran dirinya dan sekaligus merekomendasikan calon pengganti dirinya.
Wilson tidak menutupi niatnya untuk bergabung dengan Haris, kepada Bobby pimpinannya di Kaya dan jaya bersama group, ketika menyatakan mundur dari pekerjaannya itu.
"Selamat ya Wilson, aku tidak mempermasalahkan hal itu, karena aku tahu betul tentunya siapapun akan ingin untuk ikut bekerja bersama dengan Tuan Haris, disebabkan sikap dan kepribadiannya yang baik serta wataknya yang sangat dermawan itu.
Bekerjalah dengan baik Wilson, jangan lupa dengan bekerja pada Tuan Haris, sebenarnya kau juga masih tetap merupakan bagian dari Kaya dan Jaya bersama group, tentunya bila ada apapun masalah di korporasi kita Tuan Haris juga akan melibatkanmu di sana."
"Baik Pak Bobby, saya merasa lega dengan dukungan Anda, benar apa yang Anda katakan, sebenarnya saya juga tidak merasa pergi kemana-mana melainkan hanya berkisar pada orang-orang dari Kaya dan Jaya Bersama group juga.
Kalau begitu saya akan tutup panggilan ini Pak Bobby, karena saya juga harus menyiapkan beberapa hal agar tidak ada lagi hambatan untuk rencana keberangkatan besok.
Secepatnya saya juga harus bisa menghubungi teman-teman semua, yang akan ikut berangkat agar besok mereka tidak terlalu terburu-buru ketika akan bersiap-siap berangkat."
"Baik. Senang bekerja bersamamu selama ini Wilson dan teruslah berbuat yang terbaik di sana selamat siang."
"Ya selamat siang juga pak Bobby."
Panggilan telepon antara Bobby dan Wilson berakhir, selanjutnya Bobby kemudian segera menghubungi semua anggota yang akan berangkat.
Urusan Haris pada hari itu selesai dengan tuntas, tiga orang penyusup yang berusaha memata-matai Prawirawan dan Master Lim juga akhirnya bisa ditangkap oleh satuan pengawal milik Haris.
Orang-orang itu kemudian segera di tangkap dan setelah di interogasi ternyata masih ada hubungannya dengan keluarga Marlon dan merupakan loyalis almarhum ayahnya.
"Nando ayo kita kembali ke desa S, sampaikan juga ke-5 pengawal wanita lainnya supaya ikut bersama kita kesana, karena di sini sudah cukup banyak orang.
Riston kamu dan 10 orang lainnya ikut bersama Abang dan 5 orang dari kalian nanti akan turun di di desa P dan tinggal di Villa kita yang ada disana.
Sedangkan lima lainnya akan terus lanjut ke desa S,10 orang akan tinggal untuk berjaga di hotel ini sementara 10 lainnya akan bertugas di kantor ekspedisi.
Apakah kau sudah mengingat semuanya..?"
"Siap Bos saya mengingat semuanya."
"Ya sudah, kalau begitu sekarang sampaikan kepada teman-temanmu, kalian bagi orang-orangnya agar kita berangkat. Katakan Saja bahwa Amanu dan timnya yang berada di hotel ini, kemudian Halim dan timnya di kantor ekspedisi.
Nantinya agar tidak terlalu membosankan, para pengawal ini akan kita ganti-ganti wilayah tugasnya secara berkala."
"Baik Tuan kalau begitu saya akan mempersiapkan tim saya sekaligus menyampaikan kepada Amanu dan juga Halim agar mereka tahu apa yang harus mereka lakukan Tuan."
"Ya segeralah Riston, agar kita sampai di desa tidak terlalu malam."
"Ya, baikTuan."
Setelah mengurus segala sesuatunya, iring-iringan mobil Haris dan para pengawalnya segera bergerak menuju ke desa S.
Haris yang berada satu mobil dengan Darman dan juga Jhon dengan mobil yang dikendarai oleh Nando melaju dengan kencang, sehingga mereka akhirnya sampai ke tujuan.
Setelah sampai di villanya yang berada di desa S rombongan Haris segera disambut oleh seluruh anggota keluarga dengan hangat, datangnya 10 orang tambahan pengawal yang terdiri dari pria dan wanita ditambah dengan Riston, menambah semakin ramainya orang yang berada di Villa tersebut."
"Baiklah Bos Haris, sepertinya aku akan pulang dahulu ke rumah sebab besok juga harus sudah bekerja, ada beberapa hal yang masih harus aku siapkan.
Ngomong-ngomong kapan Bos Haris sempat datang ke wilayah pantai Timur..? Warga desa disana sangat merindukan kedatangan Bos. Selain itu bukankah Bos juga belum pernah meninjau pabrik pengemasan ikan, juga proses pembangunan pabrik kelapa sawit kita yang sedang dibangun itu."
"Ya mungkin aku akan berangkat kesana dua atau tiga hari ke depan Darman, karena lusa kita akan kedatangan 100 orang personel petugas keamanan lagi.
Setelah itu baru mungkin aku pergi ke sana, sekalian membawa beberapa pengawal baru kita untuk bertugas menjaga disana."
"Baiklah Bos, kalau begitu aku sudah punya jawaban bila besok ada pertanyaan baik dari warga maupun kepala desa disana."
"Apa nggak masuk dulu Darman.?"
"Tidak seperti yang aku sebutkan tadi, aku akan ke rumah saja, karena ada beberapa hal juga yang ingin aku kerjakan, tapi kalau Jhon mungkin akan disini ya Jhon..?"
"Iya Darman aku di sini saja, bersama yang lainnya."
"Baiklah Man, kalau ada urusan pergilah tapi datanglah nanti pada malam hari, kita menginap disini saja."
"Ya aku akan datang nanti malam setelah mempersiapkan hal-hal yang aku butuhkan besok."
Haris tidak lagi menahan Darman temannya yang barangkali punya kepentingan itu, meskipun istri dan anak-anaknya masih berada di Villa bersama mertua John dan Darman.
Haris segera memasuki ruangan keluarga yang ada di bagian depan villanya, kemudian beberapa saat berkomunikasi dengan orang-orang yang ada di sana.
Untuk beberapa lama Haris menemani semua anggota keluarganya yang ada di sana, mendengarkan berbagai cerita mereka yang hadir di sana, tentang berbagai topik.
Setelahnya saat hari menjelang malam, Haris dan Diana juga Kirana pergi ke kamar mereka untuk beristirahat.
"Bang. Malam ini Adek nggak akan keluarlah."
"Kenapa.? Apa Adek lelah..?"
"Tidak. Beberapa hari ini Adek merasa kita terlalu sibuk dengan banyaknya orang, tak terasa Adek rasanya sudah jauh dari Abang, malam ini Adek ingin lebih dekat dan bermanja dengan Abang.
Jadi Abang juga nggak boleh keluar."
"Oh ya..? Nanti Dek Kirana mau keluar, bagaimana..?
"Ah Kirana juga lagi malas keluar Bang, kami sudah sepakat dengan kak Diana, kami ingin dekat dan dimanja sama Abang."
"Oh begitu ya..? Tidak ada masalah kalau begitu, terus kita ngapain dong..?
__ADS_1
Apa kita akan begitu."
"Eh bukan dekat begitu maksudnya.
Kita nonton bersama saja. Menonton hal yang lucu lucu gitu bang, cari tontonan yang buat ketawa aja hehe."
Haris lalu mengatakan kesediaannya mengikuti keinginan kedua istrinya yang sedang ingin dimanja dan bermalas malasan di tempat tidur, sambil menonton televisi layar besar theater home miliknya.
Sebenarnya Haris tahu betul, bukan tanpa alasan kedua istrinya ingin seperti itu, pasti ada hal-hal khusus yang ingin mereka bicarakan.
Setelah selesai melaksanakan sholat maghrib kemudian Haris menuruti keinginan istrinya, untuk menonton bersama pada malam itu.
Setelah menonton beberapa saat lamanya, kedua istri Haris mulai menampakkan wajah serius dan menanyakan sesuatu padanya.
"Bang.?"
"Ya .?
"Abang sayang sama kami berdua nggak..?"
"Lho kok kalian berdua bertanya begitu..?
Hmm...Tidak aku tidak setuju kalau kalian berdua bermaksud hendak menyuruh aku mencari yang ketiga."
"Ishhh... Abang..!
Siapa juga yang berniat begitu..? bahkan kalau Abang berniat begitu kami akan marah dan tidak setuju."
"Lalu kenapa pembicaraan kalian berdua begitu aneh.? Sampai-sampai aku merasa film yang kita tonton ini tidak lagi menjadi lucu."
"Bang kami minta Abang jujur pada kami. Apakah saat ini kita punya musuh yang begitu berbahaya, sehingga pengawalan belakangan ini kami rasakan semakin begitu ketat..?
"Lalu bukankah Abang kemarin mengatakan kalau Marlon sudah tewas..? Apakah keadaan kita sekarang belum aman Bang..?
Jujurlah kepada kami Bang, kami juga ingin mengetahui segala sesuatunya dengan benar."
"Oh soal itu kalian tidak perlu khawatir, betul memang sekarang Abang terapkan protokol keamanan yang ketat, karena dengan kapasitas kekayaan yang kita miliki saat ini, tentu akan ada saja orang-orang yang tidak suka dengan kita.
Ya begitulah kehidupan, kalau kita memiliki sesuatu, akan menjadi salah bagi orang lain khususnya mereka para pendengki.
Dan kalaupun terjadi sebaliknya dimana kita juga tidak memiliki apa-apa sehingga untuk keperluan makan saja begitu sulit, para pendengki juga pasti akan benci dan menghina kita.
intinya bagaimanapun keadaan kita, tetap saja kita tidak akan bisa membuat semua orang suka kepada kita Dek.
Bukankah Dek Diana sudah tahu betul keadaan itu dan itulah yang kita lalui selama ini, kalian Tenang saja tidak ada masalah yang begitu serius kok.
Ini semua murni karena kehati-hatian saja, sengaja memang Abang tidak menjelaskannya agar kalian merasa tenang, tapi karena kalian sudah bertanya begini, agar kalian tidak panik maka Abang sudah jelaskan, begitulah keadaan kita saat ini.
Abang minta kedua istri Abang yang cantik ini, agar membiaskan diri saja kalau kemana-mana keluarga kita akan diberi pengawalan.
Ya mau bagaimana lagi..? Kehidupan ini memang begitu Dek, sama seperti pohon semakin tinggi maka akan semakin kencang dan semakin sering angin berhembus menerpa.
Yang perlu kita pikirkan saat ini adalah menguatkan akar pohon itu, sebab kita tidak akan bisa mengontrol apalagi melarang angin untuk berhembus, itulah yang Abang lakukan sehingga memperbanyak pengawalan.
Punya musuh itu adalah hal yang biasa yang tidak bisa kita hindari, tapi bagaimana kemudian musuh-musuh kita itu tidak bisa berbuat apa-apa tidak berkutik untuk melakukan apapun melaksanakan niat-niat jahatnya, itu yang perlu kita pastikan
Itu akan menjadi beban serta tanggung jawab Abang, sebagai kepala rumah tangga dan pelindung. Kalian tak perlu khawatir."
"Benarkah memang begitu Bang.? Bukan karena ada hal-hal lain..?"
"Ya Abang pastikan itu kalaupun kelak di kemudian hari kita memiliki musuh, percayalah kalau Abang tidak akan membiarkan musuh-musuh itu bisa menyakiti apalagi sampai membuat kedua istriku terluka."
"Terima kasih ya Bang, kalau begitu sekarang kami menjadi lebih tenang, dengan mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Jami tidak akan begitu gamang, takut atau begitu khawatir lagi, serta akan lebih pandai dalam bersikap, setelah Abang menceritakan keadaan yang terjadi sebenarnya di sekitar kita."
"Ya begitu seharusnya, itu lebih baik, itulah niat abang sejak awal, agar supaya kalian tenang dan merasa nyaman."
"Terima kasih ya bang, karena telah begitu perhatian pada kami."
"Tidak perlu berterima kasih, sebab itu adalah tugas dan tanggung jawab Abang. Ya sudahlah pembahasan soal itu kita hentikan sampai di sini.
Bagaimana dengan kandungan kalian, apakah tidak ada masalah..? Semua baik-baik saja bukan..?"
"Ya. Tidak ada masalah kok Bang, kami sehat, sewaktu di hotel kami juga sering cek ke dokter kita yang ada di klinik secara khusus, Dokter Shasmita juga begitu memperhatikan kesehatan kami baik itu soal gizi dan lain-lainnya.
Ngomong-ngomong dokter Shasmita cantik juga ya Bang..?"
"Cantik sih cantik tapi Abang juga sudah punya dua wanita yang cantik di sisi Abang."
Apa Abang tidak ingin kalau anak-anak abang, punya ibu yang salah satunya adalah dokter, apa tidak suka.?"
"Tadi kalian mengatakan tidak akan suka dan akan marah bila Abang begitu, tapi kenapa sekarang kalian berdua kok malah bersikap seperti mak comblang begini.?"
"Hahaha bukan mak comblang sih Bang, Kami cuma mengatakan kalau dokter Shasmita itu cantik itu saja, tapi kalau Diana sih kalau dokter Shasmita mau Diana mau kok Abang sama dokter.
Kamu sendiri bagaimana Dek Kirana..?"
"Aku sih ikut Kakak saja kalau Kakak bilang oke aku juga tidak masalah.
Nah dengar tuh Bang, Dek Kirana nggak masalah."
"Ah sudahlah, epalaku jadi pusing kalau harus memikirkan itu, ada begitu banyak masalah tentang pekerjaan dan urusan kantor kita yang harus aku pikirkan belakangan ini, membangun pabrik kelapa sawit juga sedang berjalan selain itu Abang juga baru-baru mendirikan sqtuan khusus pengaman dengan 100 orang pengawal, mungkin mereka akan datang lusa.
Jadi Abang nggak punya waktu untuk memikirkan hal-hal konyol seperti itu."
"Terima kasih ya Bang. Kalau begitu kami tidak akan mengganggu Abang lagi soal itu untuk sementara."
"Untuk sementara..?"
Haris pusing mendengar kalimat itu dan mengabaikan ocehan Diana istrinya.
Haris dan kedua istrinya kemudian menikmati kebersamaan mereka, sambil bercanda dan sesekali tertawa karena tontonan yang mereka saksikan bersama.
Tak terasa malam semakin larut, Haris dan kedua istrinya tertidur pulas, sehingga bukan lagi mereka yang menonton televisi tetapi televisilah yang menonton mereka.
Malam yang damai berlalu dengan tenang, hari yang baru datang menjelang. Suara-suara burung berkicau menandakan hari telah pagi, cuaca yang sejuk yang merupakan ciri khas pedesaan bisa dirasakan oleh seluruh penghuni desa itu.
Vila milik Haris yang kokoh megah dan besar, tampak lebih menonjol dari rumah-rumah penduduk lainnya, sekilas Haris tampak bagaikan raja di dalam sebuah daerah kekuasaan miliknya.
Siapapun yang datang atau sekedar melintasi Desa itu pasti matanya akan tertuju kepada Vila milik Haris yang seolah sudah menjadi Icon Desa itu.
"Aku selalu menantikan waktu dan saat untuk menghancurkan pemilik Villa ini dan juga menghabisi seluruh keluarganya."
"Sepertinya untuk mewujudkan hal itu sangat berat Paman. Orang itu sangat kaya dan juga punya pengaruh yang sangat besar, kita bahkan saat ini begitu terhimpit dan terdesak di desa yang kita bangun sendiri karena ulah pria itu."
Seorang pria pejabat yang keponakannya sampai mendekam di penjara dan di vonis hukuman mati, begitu benci dengan Haris bahkan ketika hanya melihat Villanya saja.
Pria itu adalah pejabat yang merupakan wakil rakyat yang masih menyimpan dendam kepada Haris, karena Ia merupakan kerabat langsung dari pria yang pernah memukuli John dan warga desa lainnya serta menyekap Jhon dan teman-temannya beberapa bulan yang lalu.
Putusan pengadilan yang telah menetapkan hukuman pada keponakannya, sebab telah terbukti menghilangkan nyawa orang lain itu, masih saja belum bisa membuatnya menerima keadaan.
Alih-alih melihat kesalahan keponakan itu, dia malah sepenuhnya menimpakan kesalahan kepada Haris.
"Ya kau benar.
Apa yang kau katakan itu semua memang benar Oyon. Orang itu sangat kaya dan juga punya pengaruh yang sangat besar, tapi namanya kehidupan terkadang bisa saja seperti membalikkan telapak tangan.
Kau lihat kita adalah contoh terbaik untuk itu, bagaimana dahulunya kita begitu terhormat? besar dan begitu di segani masyarakat.
Sekarang semua itu telah hancur, lalu apa kau tidak pernah berpikir kalau kehancuran yang sama bisa saja menimpa orang itu.? Pasti akan ada moment dimana kita nantinya bisa kembali bahagia dan terhormat saat orang itu nanti hancur dan akan menderita."
"Baiklah Paman, aku tidak lagi punya kekuatan bahkan untuk sekedar membayangkan itu, tapi jika Paman memang merasa yakin aku menjadi lebih percaya."
"Kau tenang saja Oyon, jika Putra Paman tertuamu nanti terpilih menjadi pemimpin kepala daerah pada pemilihan yang akan digelar beberapa bulan ke depan, hidup kita akan berubah kendali akan kembali berada di tangan kita.
Kita akan bisa merusak semua usaha-usaha miliknya yang ada di daerah ini, kalau hartanya sudah hilang maka orang tidak akan begitu hormat lagi kepadanya."
Pembicaraan dua orang yang berada di sebuah mobil yang melintasi Desa Haris terus berlanjut, setelah tadinya sosok pejabat yang merupakan kerabat dari orang yang pernah menyekap Jhon dan juga menganiaya mereka.
__ADS_1
Bangunan villa milik Haris yang megah dan tinggi serta luas itu, begitu membuat dada orang yang dengki kepada Haris itu terasa sesak dan serasa terbakar, karena masih menyimpan amarah dan dendam juga kedengkian yang begitu besar kepada sosok Haris.