Sistem Yang Merubah Nasib

Sistem Yang Merubah Nasib
Chapter _45 : Pak Slamet yang baik


__ADS_3

Hari sudah mulai meninggi, matahari sudah mulai menyengat semua orang sudah merasa lega, walau badai masih meninggalkan bekas luka, tetapi luka relatif lebih mudah disembuhkan bila sumber penyakit dihati sudah di obati.


Haris dengan kemampuan keuangannya bisa saja melukai siapapun yang mengganggu dan menghalangi jalannya di tempat ini.


Mereka semua bukan lagi duri yang bisa menjangkau dagingnya, tetapi Haris sangat faham bila dia melakukan dorongan jahat dari sebuah kemarahan, pada akhirnya hatinya sendiri yang akan terluka setelah melihat hasil buah kemarahannya saat badai kemarahan itu reda


"Bapa ibu semua, kami pamit dulu ya, kami mau melanjutkan perjalanan, terima kasih buat semuanya.


Kalau ada hal apapun yang mau dibicarakan maka hubungi saja dek Fauzan, dia adalah wakilku di kampung ini.


Maaf kalau selama keberadaan kami di kampung ini membuat ada diantara kita yang tersinggung.


Kami sekeluarga minta maaf dan sangat berharap agar jangan lagi ada pro kontra antar warga.


Kalau masih ada rumahnya yang belum di data, lapor saja sama dek Fauzan.


Atau bila bapak ibu merasa kita perlu menata ulang kampung ini, semua rumah bisa ditata ulang, di atur dengan rapi jalan ini bisa dilebarkan sehingga mobil besar bisa masuk, lalu kita buat taman, kolam atau apalah yang bapak ibu rasa perlu


Segala sesuatunya musyawaratkan saja, soal biaya jangan risau, bukan sombong saat ini uang hanyalah angka bagi saya, hasil pendapatan hotel saya saja tidak sempat saya habiskan.


Tapi teman, keluarga, saudara rekan kerja dan sahabat adalah harta tak ternilai, dalam pandangan saya yang tentunya akan sangat saya perhatian.


Saya berharap tidak ada lagi yang merasa lebih mengenal saya, daripada saudara saudariku semua yang ada disini, sehingga ketika kelak ada orang yang hendak memecah belah kita dan menfitnah saya dan keluarga dengan hal hal yang tidak tidak, kita tidak lagi hancur dan terjebak dalam peperangan antar sesama warga seperti sekarang.


Kami pamit pulang, semuanya."


Saat Haris akan pulang, seorang pria dengan bibir yang pecah muka lebam dan mulut bengkak seperti batu juga kepala yang diperban datang tergopoh gopoh bersimpuh di kaki Haris.


Dia terlihat sangat ingin untuk bicara, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutnya melainkan cuma darah yang terus mengalir.


Haris merasa hatinya teriris, bagaimana fitnah bisa merusak hidup seseorang, dia kasihan pada teman sesama warga desanya yang termakan kebohongan.


Dia mengangkat tubuh orang itu perlahan dan hatinya sangat sakit melihat luka yang di derita pria yang saat ini beruraian air mata itu.


"Kita mulai dari awal ya bang...!


Abang harus di rawat sampai sembuh, jangan pikirkan soal biaya perobatan dan belanja keluarga abang, semua akan Haris tanggung dan perhatikan."


"Mmmm....mmmuummuuum"


Hanya suara gumaman itu yang bisa terdengar dari pria malang di depan Haris.


"Fauzan..!"


"Ya bang."


"Perhatikan semua kebutuhan keluarga abang ini, apapun yang perlu, kamu laporkan ke abang dan ingatkan ya."


"Iya bang, Fauzan akan urus bang."


"Ya sudah ya bang, Haris pergi dulu, saat berjumpa nanti abang sudah harus sehat.


Haris memerintahkan Nando menghubungi ambulance rumah sakit.


Pria itu dilarikan segera untuk mendapatkan perawatan intensif dan Nando ditugasi mendampingi juga mengurusi soal biayanya.


Pria itu adalah pemilik warung yang memfitnah Haris, suami wanita yang sebelumnya bersimpuh padanya dan juga ayah dari ketiga anak yang diberi makan oleh Haris.


Keluarga Haris pulang dan memasuki mobil diantar oleh kerumunan warga sampai ke jalan besar.


"Fauzan..! kalau ada apa apa hubungi abang ya, kamu juga ngak usah risau soal sawit itu lagi dan jangan risau soal kerja, sehinga kamu sibuk cari kerja lain.


Kamukan sekarang sudah resmi jadi ajudan abang hahah.


Mana si Evi?"


"Dirumah bang."


"Kau bawalah mereka jalan jalan, jangan di peram di rumah terus, itu kereta abang yang kamu pakai, buat kamu aja seterusnya, selain itu kamu juga harus bisa bawa mobil nanti belajar sama Nando atau Very, semua ajudan abang harus bisa bawa mobil. oke...!"


"Oke bang..!"


"Yang keraslah bilangnya, lemas kalipun."


"Oke bang..!"


"Nah gitu dong.


Oke Pak Maklin , pak Samsul, bang Tono pak Herman dan semuanya kami pamit berangkat ya ."


Haris dan keluarganya pergi menuju rumah mertuanya di desa lain.


Setelah sampai disana keluarga itu, berpisah, adapun Haris pergi ke rumah tokonya yang ada di pekan dan semua kakaknya kembali kerumahnya masing masing.


"Nah, Very kamu antar mobil hotel sekalian bawa bapak dan ibu ke rumahnya di dekat kota P ya, ngak usah cari abang besok kalau ngak abang telpon, kamu bantu Nando aja memantau warga yang sakit, atau temani Fauzan memantau pembangunan Villa atau ajari dia bawa mobil atau apalah yang perlu."


"Siap bang...!"


"Ya sudah... ini uang masing masing kamu dan Nando Rp 10 juta, sebagai uang saku, jangan lupa berikan bagian Nando nanti."

__ADS_1


"Iya bang."


"Ibu masih ada uangnya bu?"


"Belum dipakai malah nak..!"


"Wah kok awet bu'....?"


"Makan gratis terus.... heheh."


"Ya udah, Very yang ngantar ya bu."


"Iya.."


"Pak...! Bilangin Nawir serius belajar bawa mobilnya biar kita beli mobil buat dia."


"Iya bapak kawal nanti nak Haris, bapak pulang ya nak..!"


"Iya pak, hati hati di jalan bawa mobilnya ya Ver...!"


"Siap bang kami berangkat sekarang ya bang."


"Ya."


Semua orang pulang dan Haris masuk ke rumahnya untuk beristirahat, hari ini begitu banyak emosi yang terkuras.


Diana sudah tertidur pulas di samping putri mereka yang cantik yang masih bermain main.


"Aduhhhh putri ayah, belum tidur ya nak, mamanya aja sudah tidur.


ayo tidur siang yuk, ayah juga udah ngantuk nih."


Di sore hari Diana terbangun karena lapar, mereka keluar untuk makan di warung.


"Bang, kita tidur di tempat mamak ajalah malam ini."


"Kenapa?"


"Lagi masih pengen aja ramai ramai."


"Nanti ibu terganggu lagi masih pengen dekat dekat sama ayah, tahu tahu kita nongol."


"Ayah ibu mana begitu, abang aja yang gitu."


"Ha...haha, adek pikir adek datang dari mana?"


"Ah udahlah bang, pokoknya kita kesana aja."


"Kan abang yang begitu?"


"Eh kadang juga abang ngak tahu apa apa, tiba tiba sudah ditarik aja, ada yang pengen katanya."


"Sstttttt..."


"Ha..ha...ha..ahhhh".


Mereka kembali ke rumah dan bermaksud menunggu malam hari tiba.


Selesai mandi setelah berolah raga khusus yang cukup menguras tenaga, Diana bersantai menonton di kamar atas sedangkan Haris mengeluarkan mobil Bugatti Veyronnya dari ruang Inventory di dalam teras tertutup rukonya yang cukup luas dan diatapi kanopi itu.


"Na... Diana....! berangkat sekarang yuk.."


Haris berteriak dari lantai bawah


Diana yang sejak awal memang sudah bersiap siap dan ingin pergi, langsung melompat. Hatinya masih terusik mengingat wanita yang sebelumnya bersimpuh dikaki Haris dan kakinya, apalagi suaminya yang penuh dengan darah di mulutnya, karenanya dia masih ingin suasana keramaian untuk melupakan semua itu.


Sambil menunggu, Haris mengeluarkan mobilnya dan menunggu di depan rumah



Melihat mobilnya Haris begitu takjub dan segera ingin langsung


menungganginya di jalanan.


Orang orang juga begitu takjub dan langsung saja mobil Haris menyedot perhatian khalayak ramai.


Diana berdiri dalam keadan bengong melihat Haris berada di mobil yang tidak dia kenali, Haris keluar mengunci rumah mereka dan Diana masih bergeming di tempatnya berdiri.


"Ayo dek... hallooo....! kok bengong?"


"I... ini mobil siapa bang?'


"Mobil kitalah, yang beberapa saat lalu abang pesan, baru ini sampai, ayolah dek, makin banyak orang tuh yang ngeliatin."


Begitu Diana naik, Haris menginjak mobilnya dengan santai di jalanan yang cukup lengang itu, untuk beberapa saat kemudian mobil itu langsung melesat ringan, mengaspal dan membelah jalanan yang mulus dan lurus.


Sampai disebuah tempat lokasi wisata alam, Haris menepi dan berhenti di tepi jalan.


"Dek.... Singgah yuk di wisata alam ini."

__ADS_1


"Tapi kitakan baru makan bang."


"Ya kita duduk duduk aja di pondok sambil memandangi sungai yanb mengalir dan orang orang.


Eh... sungai?"


"Ada apa bang?"


"Kamu masih ingat, dahulu uang gaji kita pernah hanyut dek?"


"Iya bang..!"


"Itu abang pinjam dari warga desa sekitar sini lho dek, kok bisa lupa abang hal sepenting itu.?"


"Jadi bagaimana bang?"


"Ayo dek kita kunjungi bapak itu , kita lihat apa yang bisa kita bantu, bapak itu sangat berjasa lho dek sama kita, kalau ngak kita sama sekali ngak tahu mau makan apa saat itu."


"Ngak enaklah bang kita pergi begitu aja, kita beli oleh olehlah."


"Oh ya udah, abang putar bentar beli buah sama kue dan roti itu di seberang jalan banyak sepertinya tuh."


Haris memutar mobilnya dan masuk parkiran rumah makan yang luas, untuk membeli buah dan beberapa jenis roti yang berjejer, di jajakan pedagang kaki lima disana.


Yang Haris tidak tahu mobil seharga 38,7 M miliknya itu sudah sejak tadi menarik perhatian orang banyak di tempat itu, termasuk pemilik lokasi wisata alam, yang langsung datang keluar dari Rumah makannya ketika melihat mobil Haris masuk area parkirannya.


Begitu Haris keluar dari mobil.


"Eh.... Ris..! itu kau Ris?


"Eh bang Mardan..! lama ngak jumpa bang."


"Wah.. kupikir, pejabat mana tadi naik mobil ini, rupanya kau Ris."


"He he abang Mardan... ini si fadly anak abang yang paling besar itu ya bang?"


"Iya Ris, dia ini penggila mobil Ris, katanya mobilmu ini harganya puluhan M, yang bener Ris?"


"Iya bang harganya, 38,7 Miliar, tapi ini mobil saudara lho bang ha hah."


"Gila...! 38, 7 Miliar?


Beli kerupuk udah sebanyak apa itu Ris."


"Ya, paling sekecamatan bang, he he."


"Pa..pa..pa..! Minta sama om nya dong, Fadly mau numpang selfi pa..!"


"Oh Fadly mau selfy? Iya boleh aja.


Na, keluar bentar dek belikan buah sama rotinya, ini anak abang kita si Fadly namanya mau selfi katanya, masa dia mau bergaya ada ibu ibu di dalam hehe."


"Oh iya bang, sekalian adek mau beli buat kita nanti di rumah ibu."


"Iya beli aja yang banyak."


"Terima kasih ya Ris, jadi kelen sudah tinggal disini lagi Ris?"


" Iya bang di rumah pekan, tapi jarang sih disana bang, Haris seringan keluar, kerja sama pemilik mobil ini."


"Sering seringlah Ris singgah, makan ikan sungai kita."


"Iya bang nanti Haris usahakan."


"Kelen mau kemana ini Ris?"


"Mau kerumah ibu mertua bang."


"Oh iya mertuamu tinggal di desa dekat sini ya? Abang sampai lupa lagi."


"Iya bang sekalian mau singgah di rumah pak Slamet yang rumahnya lewat jembatan ini."


"Tapi bapak itu sudah pindah Ris, rupanya tanah itu milik saudara yang menjual tanah sama pak Slamet itu, jadi yang punya asli menggugatlah.


Wah rame kemaren itu, sempat ributlah, kasihan ibu itu kemaren sampai menjerit jerit?


Sekarang bapak itu sudah tinggal di kampung H, tiga desa dari sinilah kalau mau ke kota."


Oh terima kasih ya bang informasinya, kalau begitu kami ke rumah mertua aja malam ini, besok saja kesana."


"Iya Ris...!


Eh Fadly om sudah mau pulang, sudah siap nak?"


"Sudah pa, sudah banyak fhotonya


Om ...! Boleh ngak, Fadly upload ke medsos Fadly?"


"Boleh, tapi tutup nomornya ya..!"

__ADS_1


"Ok om, makasih ya om".


Setelah pembicaraan Haris selesai bersama pria yang juga tokoh paling berpengaruh di kampung itu, banyak tangan yang menyalami Haris, dari orang orang yang memang kenal dengan Haris saat masih mengajar disana.


__ADS_2