
"Halo Bang kami sudah sampai di tempat kita janji untuk bertemu. Abang di mana sekarang posisinya..?
"Kami masih berjarak sekitar beberapa ratus meter lagi tapi akan segera sampai ke sana kok Dek."
"Oh kami akan menunggu kalau begitu."
Haris yang berada satu mobil bersama Wilson, sesaat kemudian telah tiba di jalan yang merupakan tempat mereka berjanji, untuk berangkat bersama-sama, ke Mall yang ada di kota itu.
Haris kemudian berpindah tempat ke mobil yang membawa istrinya Shasmita, lalu lanjut menuju Mall kota P.
"Halo Linda..! Eh Mulkan, Syawal dan Kak Darmilawati serta Bang Nurdin ikut juga rupanya."
"Iya dek Haris. Tapi tadi diajak oleh Dek Shasmita. Dek Diana dan Dek Kirana juga tadi menyarankan agar Kakak dan Abang ikut saja."
"Sebenarnya memang lebih bagus begitu kok Kak Darmilawati.
Bagaimana Bang, apa Abang merasa lebih lega sekarang.?"
"Jauh sekali lebih lega Dek Haris, tapi memang masih ada sesekali kadang terasa sesak."
"Ya itu memang begitu karena pengobatannya juga belum selesai Bang. Masih juga sekali bukan..? Rencana Haris tadinya akan mengobati Abang selesai berbelanja ini."
"Wah bersyukur sekali Dek Haris, Abang juga khawatirnya tadi Dek Haris cukup sibuk, sehingga tidak punya untuk melakukan pengobatan kedua, sedangkan Abang sangat memerlukan kelanjutan pengobatan itu, tapi tidak berani kalau harus bertanya soal itu.
Ini juga karena Dek Haris yang bertanya duluan."
"He..he kok harus takut..? Apa wajah Haris sangat menakutkan..?
Haris sudah memprioritaskan hal itu kok, tadi Haris selesai dari mengantar Linda ke sekolah, Haris pergi melakukan pengobatan orang tua teman, ya sudah seperti orang tua angkat Haris juga sih Bang.
Jadi beliau juga sudah masuk pengobatan hari kedua untuk hari ini, sama persis seperti Abang dan selesainya nanti juga akan sama dengan Abang yakni besok."
"Oh syukurlah Dek Haris."
"Makanya Abang tidak usah khawatir. Oh ya Linda dan juga Kakak serta Abang nanti belanjanya tidak usah takut-takut atau segan, ambil saja apa-apa yang memang diperlukan.
Barang-barang yang ada di rumah Abang itu, mohon maaf ampun perkataan, itu sudah tidak layak pakai lagi Bang, Kak dan sepertinya memang harus diganti, jadi nanti kakak tahulah apa yang diperlukan, apalagi soal pakaian Abang dan Linda juga Syawal.
Lagi pula ada Adik Kakak kok, yang pasti tahu serta bisa memilih barang-barang berkualitas terbaik nantinya."
"Terima kasih sekali sebelumnya Dek Haris, sudah begitu banyak yang Dek Haris lakukan kepada Abang sekeluarga. Hanya saja kalau boleh Abang dan Kakak minta izin, nanti selesai pengobatan ini, kami tidak usah tinggal di hotel lagi, biarkan kami menyewa rumah saja di kampung, bolehkah..?
Maksud Abang hendak menyewa rumah di sekitaran rumah yang dibangun itu saja Dek Haris."
"Lho kenapa..? Apa di hotel tidak enak Bang..?"
"Bukannya tidak enak Dek Haris, enak kok, sangat enak malah. Hanya saja memang Abang tidak terbiasa saja tinggal di hotel, nanti kalau di kampung kan banyak tetangga, saudara, kerabat jadi bisa bercerita-cerita atau bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang bermacam-macamlah pokoknya. Tentunya memang akan sangat berbedalah suasananya Dek Haris, kalau di hotel cuma bisa di kamar, atau paling duduk dan jalan-jalan ke Lobby, melihat-lihat orang."
"Sebenarnya Abang bisa saja bermain ke wahana permaian yang ada di hotel, tapi mungkin Abang masih gamang dan belum terbiasa.
Begini saja, Abang bisa saja kok keluar dari hotel, lalu pergi mengunjungi keluarga di kampung, terserah mau berkegiatan apa saja di sana, tapi tidurnya tetap di hotel gitu lho Bang.
Maksudnya agar kesehatan Abang juga cepat meningkat, karena di hotel makanannya jugakan diatur. Haris juga sudah pesankan ke manajer hotel kita, agar makanan Abang diperhatikan.
Hal yang lebih penting lagi, agar kedepannya orang-orang tidak lagi memandang remeh kepada keluarga Abang, pada Syawal, Mulkan dan juga Linda. Abang tahu tidak, Linda itu sekarang sudah dipanggil Nona lho oleh semua para pengawal kita.
'Nona Linda', itu sekarang panggilannya begitukan Linda..?"
"Iya Om."
"Nah jadi nanti Syawal, juga Mulkan akan dikenal sebagai Tuan kecil atau Tuan muda kedepannya, biarkan hal itu melekat pada mereka, sehingga nanti derajat mereka akan naik dalam pandangan dunia ini maupun orang lain, teman-temannya juga tidak akan bisa lagi sembrono menganggap remeh pada mereka seperti hari-hari yang lalu."
"Oh begitu ya Dek Haris.? Jadi kami boleh saja pergi ke kampung untuk melihat-lihat pembangunan rumah itu, ataupun mengunjungi saudara ya.?"
"Boleh dong kenapa tidak..? Abang kan tidak sedang dipenjara, pergi saja kapanpun Abang mau. Ya sudah begini saja nanti Haris akan atur salah seorang petugas di hotel kita, yang akan mengantar jemput Abang dan keluarga kembali ke hotel.
Kalau Abang mau keluar atau mau pergi ke kampung atau kembali dari kampung ke hotel atau mau ke mana saja, Abang tinggal telepon dia dan petugas kita itu nantinya akan menyediakan mobil untuk mengantar jemput Abang.
Bahkan kalau Abang mau bermalam di kampung, satu malam atau dua malam juga tidak apa-apa, tapi tetap nanti kembalinya ke hotel, sampai rumah Abang dan Kakak selesai dibangun dan siap ditempati.
Bahkan setelah selesai pun nantinya pembangunan rumah itu, siapa tahu Abang rindu keadaan dan suasana di hotel kita, lalu pengen menginap Abang tinggal datang saja, tidak ada masalah."
"Oh begitu juga bagus Dek Haris, lalu barang-barang yang mau dibeli itu akan ditaruh di mana, kan bisa sempit nanti kalau di hotel."
"Oh kalau soal itu Abang tenang saja, ada kok ruang gudang di hotel kita, atau kalau memang Abang merasa lebih bagus barang-barang itu dibawa ke Kampung, kita sewa saja satu rumah untuk tempat sementara barang-barang itu, juga tidak apa-apa."
"Ah tidak usah begitu Bang, nanti ditaruh di rumah yang sering ditinggal-tinggal begitu, bukannya bisa hilang..?
Jadi masalah baru lagi dong Bang, apalagi kalau Abang Nurdin dan Kakak tidak tinggal di sana, kan sayang kalau barang-barang itu sampai hilang nantinya.
Begini saja, untuk barang-barang itu nanti belakangan saja kita beli, setelah rumah Bang Nurdin selesai.
Untuk saat ini kita beli barang-barang yang memang mendesak saja keperluannya, seperti pakaian sehari-hari.
__ADS_1
Atau pakaian-pakaian untuk pergi ke pesta dll."
"Iya, begitu lebih bagus Dek Shasmita, Kakak juga merasa itu lebih cocok."
Darmilawati merasa saran Shasmita itu lebih baik, daripada harus membeli semua barang-barang itu sekarang, namun kemudian harus kesulitan untuk menyimpannya di mana.
"Ya sudah deh, kalau memang hal itu lebih baik, lagipula untuk soal begituan memang ibu-ibu adalah jagonya.
Haris dan Bang Nurdin ikut apa kata istri aja deh, ya nggak bang Nurdin.?"
"Iya betul dek Haris ha..hah." Nurdin, Darwilawati beserta ketiga anaknya begitu bahagia bisa berkenalan dengan sosok Haris, yang merupakan orang kaya yang dermawan tapi juga di saat yang bersamaan Haris orangnya sangat rendah hati.
Mereka tidak pernah menyangka, jika pertemuan di ladang hari itu bersama Haris dan juga Shasmita istrinya, akan menjadi titik balik dari perjalanan kehidupan mereka, dari keterpurukan menuju kelapangan dan kesentosaan hidup.
Mobil yang dikendarai Haris segera memasuki area parkiran yang ada di Mall yang mereka kunjungi,diikuti dengan mobil para pengawalnya. Kemudian rombongan Haris dan istrinya Shasmita juga keluarga Nurdin, segera berjalan memasuki Mall yang memiliki tiga lantai itu.
"Ayo dari sini jalannya Syawal, Mulkan dan juga Linda, hati-hati jangan sampai terpisah. Kelihatannya sedang ramai juga Mall ini."
"Iya Om."
"Bagus, Om sangat suka sama anak-anak yang penurut dan mudah diatur.
Kita ke arah mana dek Shasmita..?"
"Kita ke lantai 2 saja Bang, lewat tangga liff yang ada di sana.
untuk pakaian memang ada di lantai 2, lantai pertama ini adalah untuk barang-barang elektronik dan juga perkakas-perkakas rumah tangga."
"Oh begitu, tapi Mall ini masih terbilang sangat ramai lho Dek, yang lewat-lewat saat Abang dan kakakmu yang dua itu pergi ke kota M, yang jelas-jelas merupakan ibukota provinsi, malah Mall dan Plaza Plaza yang ada di sana, begitu sepi pengunjung seperti tidak ada denyut kehidupan."
"Iya Bang, orang-orang sekarang memang lebih suka belanja online.
Apalagi orang-orang di kota besar begitu, memang lebih suka yang praktis. Mungkin karena kita masih termasuk di daerah saja ini Bang, sehingga masih suka berinteraksi, berkumpul begini, berjumpa bersama teman dan saudara, intinya warga kita masih suka keramaian.
Selain itu juga mungkin faktor penghasilan masyarakat yang masih lebih terjaga di daerah kita, karena di daerah kita banyak sumber daya alamnya, jadi penghasilan masyarakat itu masih terbilang stabil."
"Iya itu betul sekali Dek. Ya sudah sekarang bantu Kak Darmila, untuk memilih barang-barang yang bagus buat pakaian sehari-hari Linda, atau nona Linda hehe, Tuan muda Mulkan dan Tuan Muda Syawal.
Pasti bakal tambah cantik-cantik dan ganteng-ganteng nanti anak-anaknya Papa Nurdin."
"Pasti dong Bang...he.he." Shasmita menyambut candaan suaminya Haris.
Semua anggota keluarga Nurdin tersenyum manis penuh kebahagiaan, mendengar penuturan dari Haris yang bagi mereka sudah seperti malaikat penolong, yang begitu perhatian, penuh kasih sayang serta memuliakan mereka itu.
Shasmita yang merupakan wanita yang lembut dan juga baik, segera memilih dan memborong banyak pakaian bagi keluarga Nurdin, dari kualitas terbaik yang ada di tempat itu.
Tak lupa Shasmita juga membelikan jajanan berupa makanan-makanan ringan untuk keluarga mereka dan juga keluarga Nurdin, agar nanti punya 'cemilan' saat berada di hotel.
"Wilson..! Kalian semua juga, pergilah berbelanja, ambil saja apa yang kalian inginkan, selagi kita ada di sini.
Siapa yang mau beli celana, sepatu atau pakaian barangkali, ambil saja soalnya satu minggu dari sekarang mungkin kita akan pergi ke Jepang."
"Ah yang benar Tuan..?" Salah seorang pengawal yang berada di dekat Wilson, langsung menanggapi apa yang disebutkan oleh Haris, saat Wilson masih ragu-ragu untuk mengiyakannya.
"Tentu saja, mana mungkin aku berbohong." Para pengawal itu begitu senang dan begitu bahagia mendengar ucapan Haris, kemudian secara bergantian para pengawal yang diatur oleh Wilson, pergi berkeliling mencari apa yang mereka inginkan.
Setelah seluruh pakaian keluarga Nurdin selesai dibeli dan diantarkan ke mobil oleh para pengawal, Haris berencana membawa keluarga Nurdin ke lantai 3 yang merupakan zona permainan anak-anak.
"Nah sekarang ayo kita ke lantai 3, coba kita lihat apa permainan yang bisa menarik minat kita disana."
"Horeeeee...!"
"Eh Syawal jangan berteriak ini bukan di ladang."
Syawal yang senang mendengar diajak untuk ke tempat permainan segera berteriak kencang, untuk anak seumurannya yang memang masih lagi senang-senangnya untuk bermain itu, apa yang di sebutkan Haris barusan adalah angin syurga baginya.
Teriakan itulah yang kemudian diprotes oleh Linda kakaknya.
"Tidak apa-apa Linda. Syawal sedang bahagia, biarkan saja dia. Lagi pula tidak akan ada kok, yang keberatan kalau Syawal berteriak di sini. Ayo kita ke atas ke Timezone."
Haris lalu mengajak semua orang, kemudian mereka membeli kartu Timezone atau Powercard untuk bisa memakai semua permainan di wahana permaian anak Timezone itu.
"Wilson, S
Sejak dari sini coba kamu bantu anak anak dan keluarga Bang Nurdin saja, biarkan aku dan istriku punya waktu berdua saja."
"Baik Tuan..!"
"Jangan lupa pastikan, semua pengawal kita sudah membeli apa yang mereka inginkan dan apa yang mereka perlukan, untuk nanti saat kita berangkat ke Jepang. Jangan lupa juga bahagian untuk dirimu sendiri, atau besok kalian secara khusus datang saja kemari, untuk berbelanja bersama keluarga.
Mungkin kalau untuk anak-anak, ibunya lebih pandai untuk memilih, sedangkan kita tidak tahu ukurannya, sebab Kakak dan anak-anak kan juga akan ikut nantinya bersama kita ke Jepang."
"Ya begitu juga lebih baik Tuan, tapi kalau untuk saya sendiri sepertinya saya bisa memilihnya sendiri Tuan."
__ADS_1
"Ya sudah, itu lebih baik. Kalau begitu bawa kartu ini untuk membayarnya nanti."
"Baik Tuan."
Haris yang paham tentang keadaan istrinya yang sebenanrya memang masih sedang berada pada masa Honeymoon nya itu, sangat paham keadaan Shasmita yang masih sangat ingin berdekatan menghabiskan waktu berdua menempel padanya, hal itu bisa dia baca dari sentuhan-sentuhan dan gestur tubuh serta gerakan tubuh Shasmita yang selalu ingin menempel pada Haris suaminya.
"Ayo sayang, kamu masih ingin berduaan dengan suamimu yang ganteng inikan..?"
Shasmita menatap wajah dan mata Haris, entah kenapa tiba-tiba dia merasa menyesal kenapa tidak memakai waktu khusus miliknya dan malah meminta diberlakukan keadaan normal pada Diana dan Kirana.
"Hei.. Adek kenapa..?"
"Ah tidak. Aku hanya suka saja menatap wajah suamiku yang tampan."
Haris dengan kemampuan dan kualitas pikirannya, sangat paham keadaan batin yang dirasakan oleh istrinya Shasmita, sehingga dia bisa ikut merasakan kesedihan istri mudanya itu dan dia bertekad untuk mengganti dan membayar segala sesuatunya, dengan lebih memanjakannya sejak hari ini.
"Eh apa yang Abang lakukan..? disini ramai lho Bang."
"Memangnya kenapa kalau ramai, aku hanya menggendong istriku yang cantik ini, memangnya ada yang keberatan..?"
Haris memeluk istrinya dan menggendongnya dari depan layaknya menggendong anak kecil. Shasmita sedikit malu tapi sangat menikmati hal itu.
"Sudahlah Dek, kedepannya jangan terlalu malu-malu, jangan terlalu memikirkan orang lain sehingga bahkan kamu kehilangan kebahagiaan dan kesempatanmu sendiri. Semua sudah ada porsi dan tempatnya kok."
"Iya Abang benar. Oh ya Bang, Shasmita sekarang merasa sedikit menyesal soal kesepakatan dengan Kak Diana dan Kak Kirana."
"Nah itu, jadi mau bagaimana lagi, itu sudah terlanjur kalian sepakati bersama dan tentunya tidak bisa dicabut lagi, sebab kalau dicabut dan dirubah lagi, seolah-olah nanti kita kesannya hanya mempermainkan mereka berdua saja.
Itu adalah pengalaman dan pengajaran untuk masa depan, bahwa apa yang menjadi hak kita tidak salah kok kalau kita menikmatinya, apalagi orang lain juga sudah paham soal itu."
Shasmita merasakan apa yang disebutkan oleh Haris itu ada benarnya, oleh karenanya ke depannya dia berjanji untuk membahagiakan dirinya sendiri dan tidak akan merasa malu-malu lagi, sehingga untuk kebahagiaan orang lain dia harus mengorbankan kebahagiaan dirinya sendiri. Selama itu tidak mengganggu orang lain, tidak menyusahkan dan memang masih merupakan haknya, apa salahnya kalau dia memperjuangkannya.
Haris dan istrinya ikut bermain beberapa jenis permainan di wahana Timezone itu, seolah mereka masih berada pada masa anak-anak.
Mereka menjajal semua jenis permaianan yang ada mulai dari Virtual Rabbids, Bumper car, Bowling, Happy water war, balapan mobil Cruis N Blast dan wahana permainan lainnya.
Setelah cukup puas dengan semua ragam jenis permainan itu, Haris dan yang lainnya kemudian menutup kegiatan mereka dengan mengabadikan momen kebersamaan mereka saat berada di Timezone itu.
Setelah bersantai sejenak sebelumnya mereka semua lalu mengarahkan kaki ke Snapshot Timezone atau yang dikenal dengan nama Photobox Timezone, untuk menghadirkan photo booth yang dilengkapi dengan ragam background yang menarik.
"Nah sudah puas bukan..? Ayo sekarang kita pulang dan kembali ke hotel, sebab hari juga akan menjelang malam.
Bagaimana menurut Mulkan, Syawal dan juga Linda, Enak tidak permainannya..?"
"Enak Om."
"Hmm..m Berarti lain kali kita harus datang lagi tuh ke sini."
"Iya Om." Mulkan dan Syawal seperti paduan suara bersamaan menjawab pertanyaan Haris.
"Husssttt.. Tidak boleh begitu Nak."
Darmilawati berbisik melarang anak-anaknya
"Iya dong, kita akan sering-sering nantinya datang kemari, tapi mungkin setelah Om dan Tante nanti pulang dari Jepang ya, soalnya mungkin seminggu lagi ke depan Om dan Tante beserta yang lainnya, akan pergi ke Jepang untuk mengurus kerjasama rumah sakit kita dengan pihak Jepang.
Selama Om dan Tante pergi, Mulkan, Syawal dan juga Linda jangan nakal yan sekolah yang baik. Oh ya jadi Mulkan dan Syawal sekolahnya bagaimana, mau sekolah di mana jadinya..?"
"Menurut Abang di mana Bang.?" Shasmita malah bertanya kepada Haris.
"Kalau menurut Abang sih, karena memang mereka baru ini mau sekolah lagi, ya sudah sekalian saja di sekolahkan di sekolah yang memang merupakan sekolah unggulan. Sekolah terbaik yang ada di kota P ini.:
"Nah Shasmita juga tadinya niatnya begitu Bang, kalau begitu besok kita daftarkan saja mulkan dan Syawal ke sekolah bagaimana Bang..?"
"Ya itu ide yang baik Dek, lagipula pula besok juga Abang mungkin juga tidak ada kegiatan lain selain mengobati orang tua Jendral Gunawan.
Kecuali barangkali kalau para perusuh yang ada di salon itu datang."
"Ya kalau mereka mau datang pun katakan saja lusa mereka datangnya Bang, selesai kita mendaftarkan Mulkan dan juga Syawal ke sekolahnya."
"aiya begitu juga lebih bagus. Mulkan dan Syawal mau bukan untuk sekolah..?"
"Mau Om."
"Bagus kalian harus belajar dengan baik, harus jadi anak pintar. Kedepannya kalian akan menjadi orang-orang yang besar yang bekerja di perusahaan-perusahaan milik kita. Kalian harus membuat bangga Ayah dan Ibu."
"Iya Om." Mulkan dan Syawal selalu menjawab secara bersamaan, dengan ekspresi yang sama pula.
Hati Darmila begitu bahagia dan merasa hangat oleh perhatian dan juga kebaikan Haris, diam-diam dalam hatinya dia berdoa semoga tuhan senantiasa memberikan umur yang panjang, limpahan rezeki serta keberkahan hidup buat Haris dan seluruh keluarganya.
Setelah tiba di hotel baik Haris dan Shasmita maupun Nurdin dan istrinya beserta ketiga anaknya, segera pergi ke ruangan kamar mereka masing-masing.
Adapun barang-barang bawaan mereka, segera dibawa oleh para petugas hotel yang dipanggil oleh Wilson.
__ADS_1