
Pagi telah menjelang, Haris dan istrinya masih merasa enggan untuk bangkit dari tempat tidur.
Namun sebuah panggilan telepon masuk.
[Panggilan masuk]
"Ya halo Very!"
"Pak direktur, saya dan pak Darman sudah akan berangkat, pak Darman menyuruh saya menghubungi bapak."
"Oh baik, abang sudah atur semuanya, katakan agar jangan khawatir."
"Baik, pak Darman sudah di samping saya ini pak, sudah ikut mendengar langsung ini pak."
"Ya halo Darman!"
"Ya bos."
"Ha.. ha..hah bas bos bas bos, pokoknyaa sudah aman, datanglah."
"Aku mau minta izin nih Ris, untuk jemput anakku, kasihan sudah ditinggal, pasti mereka sudah entah bagaimana disana pikirannya."
"Ya sudah ngak apa apa, biar di jemput sama, Very nanti.
Very jemput anak anak bang Darman nanti ya.!"
"Siap bos.!"
"Ok ya udah ya, nanti kita lanjutin bincang bincangnya."
"Ok pak siap pak."
"Terima kasih bos Haris."
"Haha...hahah Darman....!"
[Panggilan Berakhir]
[Sistem]
"Ding....!
Poin sistem misi pembangunan rumah baru, bagi semua warga yang terlibat membela dan menjaga harta keluarga tuan dan berusaha memadamkan api pada saat kejadian malam itu, sudah di dapatkan tuan
*Poin berupa Rp 999 miliar
*Point sistem (PS) 10 ribu PS.
*Sebuah mobil super sport
Seharga Rp 41,7 miliar
"Wah mobil lagi."
[Sistem]
"Apa tuan bahagia?"
"Sangat bahagia... hahaahhah
Kau memang yang terbaik sistem."
[Sistem]
Apa tuan ingin mobil itu disimpan di ruang inventory, atau di keluarkan tuan?"
"Simpan saja sistem, aku masih senang dengan yang pertama."
[Sistem]
"Baik tuan."
"Bagaimana dengan tata kelola keuangan di 4 hotel yang aku miliki sistem, kau masih mengawasinya bukan?"
[Sistem]
Tidak ada masalah tuan, sistem selalu memantau, mengirimkan pesan dan arahan secara berkala atas nama tuan.
"Baiklah sistem, aku ingin sekali tidur lagi, tapi temanku akan datang."
[Sistem]
"Tuan bisa beristirahat, semua sudah ada yang mengatur."
"Kenapa kau begitu perduli denganku sistem?"
[Sistem]
"Sebab fungsi dan keberadaan sistem, sejak awal memang adalah untuk menjaga dan membahagiakan tuan."
"Terima kasih sistem.
Aku akan mengurusi hal lain sekarang"
[Sistem]
"Silahkan tuan."
Haris bangkit dari springbed
dan pergi menuju kolam renang pribadi miliknya.
"Ah hidup ini terasa begitu indah, setelah bisa berbuat kebaikan bagi orang yang aku kenal, tapi ini seperti menjadi candu bagiku.
Kebaikan apalagi yang akan aku perbuat kedepannya?
Kenapa kok ide ide dan pemikiranku jadi buntu begini ya?
Ternyata ide itu lebih banyak datang saat susah saat lapar dan saat miskinnya aku dulu.
Haahhh
Semoga saja rumah sakit itu bisa segera terwujud."
Selesai menyegarkan tubuhnya di kolam renang yang airnya masih dingin itu, Haris mandi dan berendam air hangat di bathtub miliknya.
Tak lama kemudian sarapan pagi bos utama di hotel itupun tiba
Haris keluar dari kamar mandi, dalam keadaan yang segar bugar dan penuh dengan semangat positif.
"Bang!"
"Ya. Ada apa dek."
"Adek jadi malas pulang ke kampung, apalagi ingat rumah kita yang dibakar.
Kita tinggal disini aja gimana bang?"
__ADS_1
"Ide bagus."
"Boleh ngak? nanti orang yang di hotel ini heran pula lagi.
Lama kalipun pulang orang ini, sudah tahu kamarnya mau dipakai katanya pulak."
"Mana ada yang akan bilang begitu.
Hotel ini punya kita kok, Kamar ini dirancang khusus untuk kita sebagai pemilik."
"Jadi ngak akan ada yang keberatan ya bang?"
"Mana ada hahahahaahh lucunya kau dek.
Cuma apa ngak bosan disini terus?"
"Ngaklah bang, toh kita juga bisa bepergian."
[Panggilan telepon masuk]
"Bang ada telepon bang."
"Iya sebentar ya, abang angkat.
Nomor baru siapa ya?"
[Sistem]
"Angkat saja tuan, tidak ada potensi bahaya!"
"Halo...!"
"Halo.... Assalamu 'alaikum pak Haris."
"Wa 'alaikum salam warahmatulloh
Pak Tamam?"
"Apa saya mengganggu pak Haris?"
"Ah... ngak. Pak Tamam ini he he teman sendiri kok mau dibilang mengganggu, ada apa ya pak dari suara bapak sepertinya bapak sedang bersedih?"
"Iya pak, saya sedang gundah.
Saya punya kebun sawit dua hektar, yang berlokasi di daerah desa A yang, di daerah pantai timur itu lho pak Haris."
"Ya silahkan lanjut pak Tamam, saya menyimak."
"Sudah dua kali saya tidak bisa panen di kebun saya pak."
"Lho kenapa begitu pak Tamam? TBS (tandan buah sawit) bapak hilang?"
"Bukan pak Haris!
Kebun saya berada agak di ujung pak, jadi tidak ada jalan khusus ke kebun itu, selain jalan sawit milik orang kaya, pemllik lahan seluas 100 hektar yang mengelilingi kebun saya, sejak dari pangkal jalan besar.
Persis sebelum lokasi kebun milik saya, ada satu kebun lagi milik warga lain juga, yang mana warga itu saat ini dipercayai oleh pemilik kebun luas itu, untuk menjaga kebunnya.
Warga itulah kemudian yang menutup akses jalan ke kebun saya, yang memang harus melewati jalan kebun luas itu pak Haris.
Dia beralasan TBS kebun sawit yang di jaganya hilang, jadi saya yang memang menumpang di jalan itu tak boleh lagi lewat pak, bantu saya pak siapa tahu bapak ada kenalan yang bisa selesaikan urusan saya."
"Oh saya turut bersedih untuk bapak, tapi bapak tenang dulu...."
"Ngak bisa tenang lagi pak!"
"Kenapa ngak bisa pak."
"Pak! Minggu kemaren saya sudah berhutang sama orang lain, buat nutupi belanja karena ngak bisa panen.
Harapan saya panen kali ini bisa menutupi hutang dan punya sedikit uang lagi, agar bisa belanja kebutuhan mingguan di pekan pak."
"Ya sudah, bapak kirim nomor rekening bapak dulu nanti saya bantu sedikit uang buat keluarga bapak, bagaimanapun bapak adalah teman baik saya saat berjuang di sekolah dahulunya, saat ini saya ada sedikit kelebihan rezeky.
Masalah kebun sawit bapak, kalau boleh tahu siapa nama pemilik lahan sawit yang 100 hektar itu pak Tamam?"
"Aduh terima kasihlah pak Haris atas niat baiknya tapi saya juga ngak tega kalau harus menyusahkan bapak, harapan saya mana tahu bapak punya kenalan buat bilangin sama dokter Yunandi pemilik kebun itu, agar tolonglah gerbang jalannya dibuka waktu panen saja."
"Bapak Tamam jangan sungkan, saya bisa bantu walau sedikit, sekalian tolong nanti di bagi ke teman teman guru yang lain, sebenarnya mobil yang saya pakai ke sekolah kemaren adalah mobil saya pak.
Ekonomi saya lumayan cukup, jadi ngak usah merasa ngak enakan atau merasa menyusahkan.
Saya cukup mampu jadi tolong kirim nomornya sekarang dan bapak pergi ke pekan, untuk mengambil uangnya, ambil semua yang saya kirim ya, lalu bagikan!"
"Baik. Ini saya kirim via SMS pak baca nanti ya pak Haris."
[Notifikasi SMS satu pesan masuk]
"Ok pak Tamam, SMS bapak sudah masuk, tunggu sebentar ya!"
"Sistem tolong kirimkan uang Rp 500 juta ke rekening teman ku yang ada di notifikasi SMS ku, harusnya itu sudah terkoneksi denganmu bukan sistem?"
[Sistem]
"Betul tuan, sebentar sistem proses tuan!"
"Ding...!
Proses transfer uang ke rekening nasabah, bernama Tamam di Bank Mutiara dengan nomor 18457209xxxxx sedang di proses..
Proses sedang berlangsung 10..20..30...40...50..60..70..80..90..100 %....sukses.
Ding...! Proses selesai tuan!"
"Baik terima kasih sitem kau yang terbaik."
[Sistem]
"Senang bisa membantu urusan anda tuan, silahkan tuan lanjutkan urusan tuan!"
"Pak Tamam, bapak masih disana?"
"Ya saya disini pak Haris."
"Silahkan ambil pak sudah saya kirim, bapak lagi istirahat?"
"Benar pak, ini saya sedang kosong sudah pergantian jam."
"Sempurna, kalau begitu bapak jemput sekarang bawa satu teman bapak? disana ada kenderaan inventaris bukan?"
"Iya pak ada warisan bapak he he."
"Oh hahhaahhhhaaa kereta itu masih ada ya pak Tamam.?
Haahaahahah jadi pengen naik kereta itu lagi, baiklah pak saya tutup dulu sementara."
"Ok pak Haris kami berangkat sekarang."
Haris berteriak keras Yes..yes.. berulang kali, sehingga membuat Diana istrinya merasa ikut senang melihat suaminya begitu bahagia.
__ADS_1
Diana tahu bahwa membantu orang lain, adalah hal yang menjadi candu bagi suaminya sejak dulu, walau itu hanya dengan berbagi sedikit makanan sekalipun.
"Ah ya siapa tadi?
Dokter Yunandi? Awas..! akan kujerat kau dengan kebaikan dokter tunggu saja.
Haris bergumam dalam hati.
Haris mengambil Handphone miliknya dan menghubungi seseorang.
[Memanggil dokter Sashmita]
"Halo
Pagi jelang siang dokter!"
"Oh pagi jelang siang pak direktur, ada apa pak?
Ada yang bisa saya bantu?"
"Ya maaf kalau saya mengganggu dokter, bu dokter kenal dengan pak dokter Yunandi?"
"Oh pak dokter spesialis ahli bedah itu ya pak direktur?"
"Saya kurang tahu kalau masalah itu tapi memang yang jelas itu namanya bu dokter, bisakah dokter bantu saya agar bisa berbicara dengan beliau.?"
"Ya hanya ada satu nama Yunandi di dunia kedokteran daerah kita pak.
Artinya seharusnya itu adalah beliau orangnya, apa bapak tertarik untuk memasukkan beliau ke Rumah sakit kita?
Saya akan hubungi dan bicara beberapa hal sebelum bapak berdua berkomunikasi langsung."
"Baik tolong ibu atur."
[Panggilan berakhir]
[Panggilan masuk]
"Ya Halo pak Tamam."
"Pa...pak..pak Haris, ngak salah pak Haris mengirim uang Rp 500 juta pak?"
"Oh iya itu tadi salah pencet nolnya pak, kelebihan satu, maaf."
"Hadeuuuhhh hampir saja saya dan pak Rinaldi copot jantung pak, ini banyak banget sampai Rp 500 juta heeheheh.
Jadi begini pak Haris, dimana alamat bapak sekarang?
Biar kami antar kelebihan yang Rp 450 juta lagi ini pak"
"Alamat pemilik uang itu adalah semua guru selain yayasan dan kepala sekolah di tempat saya mengajar dulu pak, tolong di bagi rata agar semuanya mendapat."
Tamam dan Rinaldi dua teman Haris membeku dan menggigil mendengar ucapan Haris.
"Pa...Pak Haris ngak lagi bercanda nih pak?
Aduh pak.....! Kita jadi hampir kebelet pipis nih pak, di candain terus sama bapak."
"Ha..ha..hahahah maka begitu aja mau kebelet pipis sih pak Tamam hehe, iya saya serius, maaf baru segitu dulu, tapi saya janji saya akan beli kebun sawit seluas 100 hektar dimana hasil panennya itu nanti semuanya akan dibagi rata untuk bapak dan ibu guru selaku teman saya dahulu saat berjuang di sekolah.
Ya sudah saya tutup dulu, ini ada teman saya sedang memanggil."
"Iya pak. Terima kasih banyak pak Haris, semoga umur dan rezeki bapak berkah.. terima kasih.."
[Panggilan berakhir]
Mendengar itu baik Tamam maupun Rinaldi langsung bersujud sukur di depan Bank Mutiara.
"Hu...u..huhu..u..huh...uuuu."
[Keduanya menangis]
Dengan cepat keduanya langsung pergi ke sekolah membagi dan mengabarkan tentang uang ini.
Suasana menjadi heboh dan gaduh.
teman teman Haris berteriak histeris, bersujud sukur, berdo'a dan berbagai reaksi lainnya muncul.
Masalah muncul pada bahagian akhir, saat seorang guru pemeran antagonis dalam kehidupan Haris, yang sangat benci dengan Haris tampa sebab itu datang.
Dia sudah mendengar segalanya dan sangat murung karenanya, dengan keadaannya.
Bukan saja sekedar tidak harmonis, tetapi guru yang di kenal bernama Zupen itu, malah mengambil sikap bermusuhan pada Haris selama ini.
Tamam bingung, uang Rp 25 juta masih tersisa, tapi dia tahu buruknya hubungan Haris dan Zupen selama ini, sehingga dia tidak berani bersikap sembarangan lalu dia putuskan menghubungi Haris kembali.
[Panggilan masuk]
Haris mengangkat HP-nya.
"Halo pak Tamam, apa sudah dibagikan?"
"Begini pak Haris, semua uangnya sudah saya bagikan, kecuali tersisia satu bahagian lagi.
Yang belum kebagian yakni pak Zupen pak, tadi beliau berada di luar sekolah dan baru sekarang hadir, apakah saya berikan sekarang pak?"
Haris faham tujuan pertanyaan sahabatnya Taman.
"Ya.Pak Tamam.
Bagikan apa yang menjadi bahagian pak Zupen, beliau teman saya juga yang begitu baik dan suka memberi kritik, juga masukan.
Sekalian kabarkan ini pak Tamam.
Alhamdulillah, pak dokter Yunandi bersedia menjual kebun sawitnya yang seluas 100 hektar itu, untuk kita.
Maka saya akan tetap pada niat awal, bahwa semua hasil dari kebun sawit itu, akan saya bagikan kepada bapak ibu yang berjumlah 20 orang, diluar biaya operasional kebun itu sendiri."
Mendengar kabar itu semua para guru kembali berteriak histeris dan menangis bersujud Syukur.
Tangisan mereka yang begiru keras, membuat para murid berlari ke kantor guru, dan mencari tahu apa yang terjadi.
Zupen tidak kalah kencang teriakannya, dia meraung seperti singa yang anaknya di ganggu oleh hewan lain.
Dia mendengar dengan jelas suara Haris, yang memang terdengar oleh semua orang di ruangan itu, karena loudspeaker dari HP milik Tamam.
"Terima kasih pak."
"Terima kasih pak."
"Terima kasih"
Berulang kali ucapan terimakasih pak, diucapkan semua orang.
Kini mereka tidak perlu khawatir dengan kekurangan honor, yang karenanya mereka harus berjibaku menutupinya dari berbagai arah berkat kemurahan hati Haris.
"Ya terima kasih buat do'a baik dari bapak ibu semuanya, itu tidak ternilai harganya bagi saya dan keluarga.
khusus buat bapak ibu dan keluarga kalau nanti sedang bepergian ke kota S dan kota P atau kota M ibukota propinsi, boleh singgah dan menginap di hotel kita, Diana dan Nurul Haris hotel
__ADS_1